Posts

Ketika Impian Suksesku Kandas

Oleh Sister*, Jakarta

Meski terlahir dengan kondisi Tuli, itu tidak menyurutkan semangatku untuk menggapai sukses dalam karierku. Aku memiliki beberapa teman yang mengalami Tuli sepertiku yang juga sedang berjuang meniti kariernya. Kisah pekerjaanku dimulai pada pertengahan Juli 2018, ketika seorang teman Tuli sepertiku mengirimkan informasi lowongan kerja kepadaku melalui WhatsApp chat.

Singkat cerita, aku melewati proses rekrutmen dan lulus. Selama tiga bulan pertama, aku mengikuti masa training sebelum nantinya bisa menjadi karyawan tetap. Dengan motto hidup ora et labora, aku bersemangat mengerjakan tiap tugas dari atasanku. Aku mempelajari semua produk obat untuk nantinya membuat konten di media sosial yang berisi informasi kesehatan yang berkaitan dengan produk obat tersebut. Setelah konten diunggah, aku perlu melakukan monitoring terhadap bagaimana performa konten tersebut.

Awalnya aku belum terbiasa dengan rutinitas pekerjaanku, tapi Puji Tuhan karena anugerah-Nya aku bisa melewati semuanya. Tuhan juga memberiku seorang teman baik yang mengerti dan menerima kekuranganku. Pelan-pelan aku jadi terbiasa karena teman-teman kantorku tetap membaur denganku, meskipun aku Tuli. Aku ingat janji Tuhan dalam Yesaya 41:3, bahwa Tuhanlah yang memegang tanganku dan menopangku. Yang perlu kulakukan hanyalah percaya dan tidak takut.

Suasana baik tersebut rupanya tidak berlangsung seterusnya. Menjelang akhir tahun 2019, sebelum pandemi merebak, aku merasa tidak nyaman. Atasanku memintaku untuk mengerjakan jobdesc yang berbeda. “Apa yang terjadi dengan semua ini? Maksudnya apakah ini?” Jobdesc yang diubah secara mendadak itu membuatku jadi bertanya-tanya: apa yang menyebabkannya?

Pekerjaan dengan jobdesc baru pun kukerjakan, tetapi hari-hariku bekerja menjadi terasa berbeda. Revisi berkali-kali kini kuhadapi, tapi aku tidak menyerah.

Di tengah merebaknya pandemi COVID-19 sebelum kejadiannya mendarat ke negeri kita, aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Di balik kesibukan dengan jobdesc-nya, tiba- tiba aku dipanggil oleh HRD ke ruangannya. Sangat mengejutkan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Berusaha untuk tenang dan tidak panik saat dipanggil.

Di ruangannya dia memulai percakapan mengenai masalah yang kurang menyenangkan terjadi selama di kantor hingga keputusan yang harus dilakukan. Mendengar penjelasan darinya, aku tidak bisa menjawab apa-apa dan langsung menunduk kepala dengan perasaan kecewa dan sedih hati. Setelah kejadian itu, tiga hari aku tidak bisa tidur dengan tenang karena membayangkan hal tersebut. Sejak itu, Mamaku menyadari apa yang terjadi padaku setelah aku menceritakan semuanya. Dan juga ke teman gerejaku.

Pandemi pun akhirnya merebak di negeri kita, dan per bulan Maret hampir semua karyawan di kantorku mengikuti kebijakan pemerintah untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Sembari WFH, aku menanti kabar baik. Semoga saja aku mendapat instruksi dari atasan kantor untuk segera berpindah ke jobdesc lain. Kudoakan harapan itu dan berserah. Namun, kenyataan ternyata berkata lain. Kantorku memberitahuku bahwa aku mendapatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk sementara waktu. Dengan segala usahaku untuk bekerja, aku merasa ini sangat tidak adil dan ini semua rasanya di luar dugaanku.

Pekerjaan ini adalah pekerjaan pertamaku setelah dua tahun mencari. Masa-masa tersebut adalah masa penuh perjuangan dan kesedihan, karena aku mengalami banyak penolakan. Namun bersyukurnya, Tuhan mengirim mamaku untuk selalu menghiburku. Mama bilang untukku sabar, meskipun kadang dia pun ikut kesal dengan orang-orang yang memperlakukanku dengan buruk. Bukan cuma Mamaku saja, aku juga dihibur oleh teman gerejaku saat setelah mendengar curhat dari aku.

Menanti harapan baru

Statusku saat ini masih bertahan menjadi karyawan, tetapi aku tidak melakukan pekerjaan apa pun di kantor. Aku merasa impianku untuk menjadi seorang karyawan yang baik dan sukses di tengah keterbatasanku sebagai Tuli menjadi pupus. Namun aku tahu bahwa Tuhan mengenal betul aku dan apa yang menjadi pergumulanku, Dia tetap hadir memberi kesabaran dan penghiburan bagiku.

Di masa-masaku tidak bekerja ini, aku mendapatkan waktu lebih leluasa untuk menemukan Tuhan lewat saat teduh dan doaku, juga di ibadah daring setiap Minggu. Meskipun saat ini keadaanku terasa sedang terombang-ambing, tetapi harapan dan doaku pada Tuhan tidaklah padam.

Tuhan tidak tidur, dan melalui kuasa-Nya yang tidak terbatas, Dia menerbitkan kembali sinar harapan yang telah padam kepada orang-orang yang terdampak pandemi. Terutama kepada teman- teman Tuli yang masih berjuang untuk mendapat kesetaraan dalam hal akses untuk Tuli, pekerjaan dan usaha bisnis karena mereka juga butuh uluran tangan kasih dari teman Dengar.

Semoga aku sebagai Tuli, juga kita yang mungkin bergumul dengan pekerjaan tetap semangat, sebab Tuhan memelihara kita dan memimpin kita pada pekerjaan yang baik.

*Bukan nama sebenarnya


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Teologi Kemakmuran, Kemiskinan, dan Kekristenan

Untuk ikut Kristus, kita harus tanggalkan segalanya. Tapi, apakah artinya semua orang Kristen diharuskan menjadi miskin? Apakah untuk menjadi orang Kristen yang sesungguhnya kita harus menjual segala kepemilikan kita dan memberikannya kepada gereja, orang miskin, atau misi gereja?

Janelle: Menghadapi Penyakit dengan Goresan Pena

janelle-menghadapi-rasa-sakit-dengan-goresan-pena

Oleh Jasmine Koh, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Janelle: Facing Pain with A Pen

Mungkin itu karena senyum hangat yang selalu terhias di wajah Janelle*. Atau, mungkin juga, karena kepribadiannya yang ramah sehingga orang-orang menyukai dia. Sulit rasanya membayangkan bahwa di balik senyum dan sikapnya yang lemah lembut, terdapat penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya.

Bagi Janelle yang saat ini sudah berusia 23 tahun, tidak ada hari yang dilaluinya tanpa rasa sakit. Semenjak usia enam tahun, dia memerangi sebuah penyakit auto-imun yang menyerang kulitnya. Penyakitnya itu diawali dengan demam selama berminggu-minggu, dan perlahan, bercak-bercak merah dan putih mulai timbul di kulitnya. Keluarganya memutuskan untuk mendatangi seorang dermatolog dan hasil diagnosis dokter membuat keluarga Janelle terkejut. Di usia yang masih belia itu, Janelle harus menghadapi kenyataan bahwa ia akan kesulitan tidur setiap malam dan akan terus menderita rasa sakit sepanjang hidupnya.

Semenjak diagnosis itu, hidup Janelle yang adalah seorang Sarjana Akuntasi tidak pernah lepas dari beragam upaya pengobatan.

Pada Oktober 2014, keadaan Janelle memburuk. Janelle selalu joging secara rutin. Namun, suatu hari setelah ia selesai joging, otot betisnya terasa sakit. Rasa sakit itu terus berlanjut selama beberapa hari hingga akhirnya Janelle memeriksakannya ke dokter. Ketakutan terbesar Janelle terungkap menjadi kenyataan. Selain masalah kesehatan yang sudah ia alami selama bertahun-tahun, ternyata Janelle juga menderita artritis (peradangan otot) pada kakinya. Kondisi ini perlahan-lahan akan menghancurkan persendian di tubuhnya. Janelle harus mengonsumsi lebih dari 180 pil penghilang rasa sakit dan imunosupresif (obat untuk menekan aktivitas imun) setiap bulannya. Namun, apabila sewaktu-waktu terjadi infeksi, ia harus mengonsumsi lebih banyak dari itu.

Janelle ingat bahwa ketika ia mendengar diagnosa tersebut, hatinya hancur dan ia hampir tidak dapat mempercayai apa yang didengarnya. Beban itu rasanya terlalu berat untuk ditanggung.

Seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang Janelle derita semakin menjadi-jadi. Sampai pada suatu titik, Janelle sadar bahwa ia tidak dapat lagi bergantung pada emosinya sebagai manusia semata. Ia dapat memilih antara: mengasihani diri sendiri atau melekat kepada Tuhan senantiasa.

Mengambil sebuah pena

Setelah dua bulan mencari-cari obat terbaik, ditemukanlah obat penghilang rasa sakit yang cocok dengan tubuh Janelle. Lambat laun keadaan Janelle membaik. Seiring ia berserah kepada Tuhan, imannya semakin bertumbuh dan ia mampu mengatasi ketakutan terbesarnya. Janelle menemukan sebuah hal baru yang bisa ia lakukan, yaitu: hand and brush lettering—seni menulis indah layaknya kaligrafi dengan menggunakan tangan. Janelle mulai menulis lirik-lirik pujian serta ayat-ayat Alkitab dengan seni menulis indahnya.

Sukacita rohani yang Janelle terima mampu mengalahkan rasa sakit yang harus dideritanya tiap kali proses pengobatan dan injeksi berlangsung.

Pada pertengahan tahun 2015, Janelle menciptakan “The Hope Letter”, yaitu sebuah akun hand-lettering di Instagram yang berisikan kata-kata mutiara dan ayat-ayat Alkitab. Saat ini, akun tersebut sudah memiliki sekitar 3.000 followers.

@thehopeletter

@thehopeletter

“Anugerah Tuhan yang menghidupi aku menjadi alasanku menekuni hal ini,” kata Janelle.

Ketika masih duduk di sekolah menengah, Janelle pertama kali menyadari bahwa dia bisa membagikan imannya lewat kartu-kartu ucapan. Di kartu-kartu yang dia bagikan kepada teman-temannya, Janelle menuliskan kata-kata inspiratif dan ayat Alkitab yang dia kemas dengan indah. Dukungan dari teman-temannya mendorong Janelle untuk terus merancang kartu-kartu baru demi proyek pengumpulan dana di universitasnya.

Tetapi, seiring waktu Janelle menyadari bahwa dia juga bisa menggunakan kartu-kartu itu sebagai sarana untuk membagikan “harapan” kepada banyak orang dan juga menginspirasi orang-orang lain yang memiliki pergumulan serupa dengannya. Tanpa meminta imbalan, Janelle bersedia membagikan ayat-ayat Alkitab dan kata-kata mutiara tentang berjuang dari penderitaan. “Sebagian besar dari karya-karyaku yang paling disukai adalah karya yang kubuat ketika aku sedang menghadapi masa-masa tersukar,” kata Janelle

Akun Instagram yang dibuat oleh Janelle membawanya mengenal Heather Baker, seorang wanita berusia 40-an yang mengidap kanker stadium 4. Heather, secara kebetulan melihat karya-karya Janelle di Instagram. Kemudian ia merasan penasaran dan akhirnya mengirim pesan langsung kepada akun Instagram Janelle di bulan Juli 2016. Heather menanyakan apakah Janelle juga sedang bergumul dengan penyakit atau sekadar menyemangati orang-orang yang sakit.

Ketika Janelle memberitahukan kondisi kesehatannya, Heather pun secara sukarela mengajukan diri untuk mendoakan Janelle. Mereka berdua akhirnya menjalin hubungan pertemanan yang erat. Mereka juga mulai saling bertukar pikiran, pokok doa, pergumulan, dan ucapan terima kasih. Lewat hubungan pertemanan ini, Janelle tahu pasti bahwa Tuhan hadir dan ada dalam kehidupannya.

@thehopeletter

@thehopeletter

Pergumulan yang terus-menerus

Seiring Janelle terus mengekspresikan imannya kepada Tuhan lewat karya-karya hand lettering-nya, bisul-bisul mulai muncul di lidah, amandel, dan tenggorokannya. Hal ini menyebabkan Janelle merasa mual, tidak nafsu makan, tidak nyaman pada perutnya, dan tubuh Janelle menjadi mudah letih.

Pada tahun 2016, peradangan yang dialami Janelle merambat ke tulang rusuk, leher, dan tulang belakang. Hasil ultrasound scan yang dilakukan pada lutut Janelle memastikan bahwa rutinitas pengobatan Janelle harus segera diubah. Selain pengobatan yang lebih intensif, penambahan dosis obat dan injeksi mandiri juga harus dilakukan. Dokter juga memperingatkan Janelle bahwa kemungkinan terjadinya kerusakan sendi akan semakin besar.

Injeksi pertama yang Janelle terima sungguh menyakitkan. “Aku meronta-ronta ketika injeksi dilakukan. Rasa sakit separah itu belum pernah aku rasakan sebelumnya.”

Pada suatu pagi di bulan September tahun 2016, Janelle kehilangan penglihatannya secara tiba-tiba. Walaupun pada saat itu dia sadarkan diri, namun semuanya terlihat gelap gulita. Beberapa waktu lalu sebelum hal ini terjadi, pandangan Janelle pernah seakan-akan berputar dan hal ini terus berlanjut walaupun tubuhnya sudah mendapat istirahat dan asupan cairan yang cukup. Janelle dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD), namun pihak UGD awalnya mendiagnosis bahwa itu hanyalah vertigo.

Seminggu setelah dia keluar dari UGD, seorang dokter ahli reumatologi yang biasa merawat Janelle meneleponnya. Dokter itu berkata bahwa apa yang terjadi pada Janelle mungkin lebih serius daripada sekadar sakit kepala biasa. Kemungkinan, terjadi demielinasi di dalam otak Janelle, yaitu kerusakan sistem saraf yang mengganggu kesadaran, pergerakan, dan sensasi yang dirasakan tubuh. Karena itu, MRI scan harus segera dilakukan.

Sembari menanti pengobatan dilakukan, Janelle teringat akan sebuah pasal di kitab Mazmur yang pernah Tuhan sampaikan kepadanya ketika ia bersaat teduh. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4).

@thehopeletter

@thehopeletter

Namun, Janelle pada waktu itu tidak tahu bahwa Heather Baker ternyata juga mengirimkan pesan berisi sebuah refleksi dari buku yang berjudul “Seorang gembala yang memandang Mazmur 23”, dengan harapan bahwa Janelle juga akan dikuatkan. Ketika dia mengecek waktu pesan itu dikirim di ponselnya, ternyata pesan itu dikirim tepat sebelum dilakukannya MRI scan. Janelle terkagum melihat cara Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya terhadap dirinya melalui Heather.

Kabar baikpun datang. Di akhir bulan Oktober, hasil dari MRI scan memastikan bahwa kondisi otak Janelle stabil. Namun, dokter ahli reumatologi mengambil kesimpulan bahwa proses pengobatan Janelle terlalu beresiko untuk dilanjutkan, karena memiliki efek samping yang mempengaruhi otak.

Menjalani hidup hari demi hari

Sekarang, Janelle mengonsumsi 450mg obat penghilang rasa sakit dan menerima dua injeksi setiap bulannya. Namun, seiring peradangan, kerusakan, pengobatan, dan infeksi telah menjadi sesuatu yang biasa bagi Janelle, dia juga jadi terbiasa untuk melekat kepada Tuhan. Janelle yakin bahwa dia dapat memuliakan Tuhan lewat kekurangannya. “Dari semenjak aku kecil, aku sudah menyadari bahwa setiap hari yang kulewati itu berharga… Itulah mengapa aku mau menjalani hidupku untuk memuliakan Penciptaku,” kata Janelle.

Di masa-masa tersukarnya, Janelle bergumul melawan tiga hal, yaitu dirinya sendiri, emosinya, dan kesehatannya.

Namun semua tantangan yang dia hadapi justru menjadi batu loncatan yang memperteguh keyakinannya kepada Tuhan. “Jika bukan karena Tuhan, aku pasti sudah berhenti sekolah. Dia menopangku secara fisik, emosional, dan rohani,” ungkap Janelle.

“Keseluruhan perjalanan hidupku ini mengajar aku untuk bergantung kepada Tuhan.”

Foto oleh Blake Wisz

Foto oleh Blake Wisz

Dukungan dari teman-teman dekat menjadi salah satu cara Janelle untuk mengingatkan dirinya agar dia selalu memandang kepada Tuhan. Janelle selalu mengabarkan kondisi kesehatannya serta meminta bantuan doa kepada teman-teman dekatnya dari waktu ke waktu lewat pesan singkat.

Saat ini, Janelle sedang mengambil masa istirahat selama beberapa waktu untuk fokus pada proses pemulihan dirinya dan mencari tahu kehendak Allah. Dia mengikuti sekolah Alkitab dan terus menulis karya-karya hand lettering untuk menyaksikan kesetiaan Tuhan di dalam hidupnya. Di waktu luangnya, Janelle biasanya mengunjungi toko kerajinan untuk membeli keperluan karya hand lettering-nya. Atau juga, betemu dengan saudari-saudari seiman di dalam Kristus untuk komsel.

Aku tidak bisa memprediksi kondisi tubuhku dan masa depanku, karena itulah aku selalu mengarahkan pandanganku kepada Yesus,” ungkap Janelle. “Aku yakin dan aku menyatakan, bahwa Yesus pasti akan menyembuhkan aku. Namun yang terpenting di atas segalanya bagiku adalah: kemenangan terbesar sudah kuraih ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib… bagi diriku.”

*Bukan nama sebenarnya.

@thehopeletter

@thehopeletter

Baca Juga:

Berkali-kali Gagal Mencari Pekerjaan, Tuhan Membawaku pada Rencana-Nya yang Tak Terduga

Satu hari setelah dinyatakan lulus sebagai Sarjana, aku pikir kehidupan akan menjadi lebih mudah. Aku tidak perlu lagi berpikir keras untuk merangkai kata-kata dalam skripsi, ataupun memikirkan tugas-tugas kuliah lainnya. Tapi, semua itu hanya sementara hingga sebuah pertanyaan menyergapku, “Habis lulus mau ngapain dan kerja di mana?”

Sekalipun Aku Tuli, Tetapi Tuhan Tidaklah Tuli

Sekalipun-Aku-Tuli,-Tetapi-Tuhan-Tidaklah-Tuli

Oleh Evant Christina, Jakarta

Pernahkah kalian bergumul karena kekurangan fisik yang kalian alami? Aku pernah mendapatkan perlakuan tidak baik, merasa dikucilkan, bahkan juga mengalami diskriminasi karena sebuah cacat fisik yang kualami sejak lahir. Hidup dengan keadaan disabilitas sejatinya tidaklah mudah buatku, namun karena penyertaan Tuhan sajalah aku bisa melewati hari-hariku.

Ketika aku masih berada dalam kandungan, virus menginfeksi janin dalam rahim ibuku. Virus itu kemudian menyerang indra pendengaran dan penglihatanku. Ketika janin itu genap berusia sembilan bulan, maka terlahirlah aku ke dunia dalam keadaan tuli dan mata yang juling. Ketika aku beranjak dewasa aku sempat bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan aku mengalami cacat fisik seperti ini? Bahkan, aku pernah menyalahkan Tuhan karena aku terlahir dalam keadaan cacat.

Di kala aku bertanya-tanya tentang apa maksud Tuhan dari cacat ini, aku menemukan sebuah video kesaksian yang diunggah di YouTube. Video itu diberi judul “Tuhan tidak tuli” dan bercerita tentang kesaksian dari Yahya Tioso, seorang penyandang tunarungu sejak lahir yang kini telah bekerja sebagai desainer. Yahya tidak menyerah sekalipun karena cacat fisiknya dia sempat tidak memiliki teman dan merasa dikucilkan. Di video itu, dia juga menyebutkan sebuah ayat yang diambil dari Yohanes 9:3, ketika murid-murid bertanya kepada Yesus mengapa ada seorang yang dilahirkan buta. Yesus menjawabnya demikian, “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Apa yang baru saja kusaksikan itu menyadarkanku bahwa aku tidak sendiri. Ada orang-orang lain di luar sana yang juga memiliki disabilitas tetapi bisa memuliakan Tuhan lewat kehidupan mereka.

Sejak masih kanak-kanak di sekolah Minggu dahulu, aku bercita-cita ingin menjadi saluran berkat buat orang lain lewat pelayanan. Aku melihat teman-teman di kelasku bisa menyanyi, menari, dan tampil di panggung di hadapan banyak orang. Aku ingin bisa seperti mereka, tetapi karena disabilitasku, aku tidak bisa melakukan seperti yang mereka lakukan. Ketika teman-temanku yang lain bernyanyi riang bersama-sama, aku hanya sekadar mengikuti irama mereka menyanyi. Kadang juga aku terdiam sambil menghayati lagu, atau bertepuk tangan.

Kerinduanku untuk melayani itu dijawab Tuhan. Dia memberiku sebuah kesempatan untuk mulai melayani-Nya. Karena aku tidak bisa bernyanyi, aku diberi kesempatan untuk menjadi seorang pembawa kantong persembahan. Aku bersukacita atas pelayanan sederhana yang bisa kulakukan saat itu. Seiring waktu beranjak, harapan dan semangatku untuk melayani tidak pudar hingga aku masuk ke komisi remaja.

Di masa remaja ini aku berharap bisa berbaur dengan teman-teman baru. Akan tetapi, harapanku untuk bisa berbaur dengan teman-teman itu tidak mudah. Banyak dari mereka tidak memahamiku sehingga aku merasa dikucilkan. Lama-kelamaan aku mulai undur diri dan jarang hadir dalam pelayanan di komisi remaja gerejaku.

Aku berdoa kepada Tuhan dan menceritakan segala keluh kesahku kepada-Nya. Tuhan tidak tertidur, Dia mendengar isi doaku. Tak lama kemudian, salah seorang teman senior di komisi remaja bertemu dan bertanya mengapa aku sudah jarang terlihat hadir. Aku bingung mau menjawab apa, akhirnya malah ibuku yang menjelaskan masalahku kepadanya. Setelah pertemuan itu, dia mengajakku untuk kembali bergabung dan melayani Tuhan bersama-sama di komisi remaja.

Kadang-kadang, setiap minggunya, aku diberi tugas pelayanan sebagai penerima tamu dan pembawa kantong persembahan. Aku tidak pernah menolak saat selalu diberi tugas yang sama. Tugas pelayanan inilah yang selalu aku lakukan dari sejak kanak-kanak di sekolah Minggu, remaja, hingga sekarang di komisi pemuda. Lalu, aku juga amat bersyukur karena Tuhan boleh mempercayakan tugas pelayanan lainnya kepadaku. Setelah beberapa kali diberi kesempatan menjadi panitia untuk suatu acara, aku pernah masuk kepengurusan komisi pemuda dan melayani di divisi marketing and communication selama dua tahun.

Akan tetapi, perjalanan pelayananku tidak sepenuhnya mulus. Tidak semua teman-temanku menerimaku apa adanya. Kadang, ada pula yang memandangku sebelah mata karena disabilitasku. Ada yang memandangku penuh keraguan, menganggapku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tuli.

Di tahun ini aku tidak diberikan lagi kesempatan untuk melayani sebagai pengurus di komisi pemuda setelah masa kepengurusan dua tahun selesai. Sejujurnya aku merasa sedih dan merasa Tuhan seolah tidak adil karena aku adalah seorang penyandang tunarungu, sedangkan orang lain bisa melayani-Nya dengan mudah sesuai dengan talenta masing-masing. Tapi, kemudian aku ingat sebuah ayat yang mengatakan bahwa rencana Tuhan tidak pernah salah, seperti tertulis demikian, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2).

Alih-alih menjadi kecewa dan terpuruk, aku mencoba untuk menggali potensi diriku dan menggunakannya untuk melayani Tuhan. Pahit manis kehidupan pelayananku, kehidupan sekolah hingga kuliahku, semuanya aku coba tuangkan dalam untaian kata. Aku menulis cerita-cerita dari pengalaman hidupku, mempublikasikannya di blog pribadiku, juga mengirimkannya ke beberapa situs rohani Kristen. Aku berharap bahwa kisah hidupku bisa menjadi kekuatan untuk orang lain yang membacanya.

Aku tahu, bukan aku saja yang memiliki pergumulan hidup. Tapi, hendaknya semangat kita tidak padam. Tuhan tidak tuli atapun juga tertidur. Dia selalu mendengar setiap doaku, entah itu yang kubisikkan ataupun hanya terlintas di hati. Dia memelukku setiap kali aku merasa lemah dan tak berdaya. Dia memberiku kekuatan untuk melewati setiap hari.

Untuk menutup kesaksian ini, aku berharap apabila kamu memiliki teman-teman penyandang disabilitas yang punya kerinduan untuk melayani dan berkarya, berilah kesempatan kepada mereka untuk melakukannya. Lalu, untuk teman-teman penyandang disabilitas, jangan pernah putus asa, tetap semangat melayani Tuhan dalam keadaan apapun. Tuhan memiliki rencana yang baik atas hidup setiap kita. Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Mengapa Aku Tidak Puas dengan Hidupku?

Pekerjaanku sebagai seorang dokter kadang membuatku stres. Setiap harinya aku harus mengambil keputusan yang berkaitan dengan nyawa manusia. Tanggung jawab yang kuemban ini pernah membuatku merasa tidak puas dengan diriku sendiri.

Menikmati Anugerah Tuhan dalam Cacat Fisik yang Kualami

Menikmati-Anugerah-Tuhan-dalam-Cacat-Fisik-yang-Kualami

Oleh Novianne Vebriani, Bandung

Terdiam sejenak aku menikmati dinginnya malam, ditemani oleh bunyi detik jam di kamarku. Aku sedang mempersiapkan tugas akhirku untuk mendapatkan gelar Sarjana Psikologi. Jika aku mengingat kembali bagaimana akhirnya aku bisa kuliah Psikologi, aku menyadari bahwa itu semua hanya karena anugerah Tuhan. Perjalananku untuk menggapai cita-cita ini tidaklah mudah, terlebih karena sebuah cacat fisik yang kupunya sejak lahir.

Aku terlahir dalam keadaan prematur dan mengalami gangguan otot pada bagian kaki yang pada akhirnya menjadikan aku tidak bisa berjalan normal apalagi berlari. Saat masih duduk di bangku sekolah dulu, teman-teman sering memanggilku “pincang”. Tapi, meskipun aku memiliki cacat fisik dan ada teman-teman yang menjadikan kekuranganku itu sebagai candaan, aku tetap memiliki cita-cita.

Sejak masa SMP aku sering membaca buku dan salah satu buku yang pernah kubaca itu berjudul “Sheila” yang ditulis oleh Torey L. Hayden. Buku ini begitu istimewa karena menceritakan perjalanan seorang guru yang membaktikan hidupnya untuk mengajar di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui buku ini aku mulai merasa tertarik terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Saat itu aku menceritakan hal-hal yang aku baca itu kepada guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolahku. Aku menceritakan kepadanya tentang cita-citaku ingin menjadi guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Beliau menjelaskan kepadaku kalau untuk menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus maka aku harus mendaftar kuliah di Jurusan Psikologi.

Waktu terus berjalan, aku tetap memiliki minat terhadap psikologi hingga saat aku memasuki masa SMA. Selain membaca buku-buku tentang psikologi, aku juga menyiapkan diriku untuk menjadi pendengar yang baik. Kemampuan itu semakin terasah ketika aku bisa menjadi tempat curhat bagi sahabat-sahabatku. Aku juga bergabung dengan sebuah persekutuan doa di gereja supaya bisa saling menguatkan satu sama lain.

Jika kelak aku bisa kuliah di Jurusan Psikologi, aku sangat ingin membantu anak-anak yang memiliki kekurangan fisik sepertiku. Aku ingin membantu mereka meringankan hari-hari mereka yang berat. Untuk menggapai cita-cita itu aku pun melatih diriku, salah satunya adalah dengan menjadi pendengar yang baik.

Perjuanganku untuk menjadi Sarjana Psikologi

Tetapi, jalanku untuk bisa kuliah ke jurusan Psikologi itu tidaklah mudah. Tuhan mengizinkanku melewati berbagai tantangan yang harus aku lalui. Kadang aku terjatuh dan merasa sulit untuk bangkit, salah satunya adalah ketika aku diperhadapkan dengan masalah keluarga. Sejak aku masih kecil orangtuaku telah bercerai dan aku lebih banyak diasuh oleh kakek dan nenekku.

Dilahirkan di keluarga yang broken-home membuatku khawatir akan masa depanku. Seringkali aku berdoa kepada Tuhan memohon supaya Dia memulihkan kembali keluargaku. Aku hanya menceritakan pergumulan ini kepada sahabatku yang juga memiliki masalah keluarga sepertiku. Persahabatan inilah yang akhirnya membantuku untuk terus kuat menjalani kehidupanku.

Sahabatku itu selalu mengajarku untuk berdoa dalam keadaan apapun. Dia juga mengatakan kalau untuk kelak menjadi seorang psikolog, aku harus menjadi perempuan yang tegar menghadapi setiap persoalan kehidupan. “Kelak pengalaman hidup yang kamu rasakan sekarang akan menguatkan orang-orang lain yang juga mengalami pergumulan seperti kamu,” kata dia kepadaku.

Saat ini di usiaku yang menginjak usia ke-23 tahun, perlahan tetapi pasti aku dapat melihat penyertaan Tuhan yang sempurna. Memang kedua orangtuaku tidak menjadi rujuk kembali, tapi aku tetap mengucap syukur atas semua yang terjadi dalam kehidupanku.

Ada satu ayat Alkitab dari 1 Korintus 10:13 yang menguatkanku. “Pencobaan–pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Kini tinggal selangkah lagi aku dapat mewujudkan mimpiku sebagai seorang Sarjana Psikologi dan memulai karierku selanjutnya sebagai seorang pengajar untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Apapun yang terjadi di dalam hidupku adalah rancangan Tuhan. Dia menenun kita dalam kandungan ibu kita. Memang setiap proses dalam kehidupan ini tidak selalu berjalan mulus. Kadang kita dihadapkan dengan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi, Tuhan menempatkan kita di dunia ini bukanlah suatu kebetulan. Kita memiliki tugas untuk memuliakan Tuhan dan menjadi kesaksian bagi orang di sekitar kita. Semoga kita selalu melibatkan Tuhan di dalam setiap langkah kehidupan kita.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Mazmur 23:4).

Baca Juga:

Kisahku sebagai Putri Seorang Penarik Becak yang Belajar Mengampuni

Ibuku meninggal saat aku duduk di kelas 2 SD karena penyakit kanker. Beberapa tahun kemudian, ayahku yang bekerja sebagai penarik becak pun dipanggil Tuhan karena penyakit darah tinggi. Di tengah kemiskinan dan kehidupanku sebagai yatim piatu, Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik untukku. Inilah sepenggal kisahku yang ingin kubagikan kepadamu.