#KamiTidakTakut—Benarkah?

Penulis: C.S. Puspita

Kami-tidak-takut

14 Januari 2016 adalah hari yang patut diingat dalam sejarah. Tidak lama setelah berita-berita mencekam terkait enam bom yang meledak di Jakarta Pusat beredar di berbagai media, muncul kampanye masif dari para netizen: Kami Tidak Takut, disusul pernyataan senada dari presiden sendiri. Masyarakat diajak untuk berpikir jernih dan tidak terintimidasi oleh aksi terorisme yang disebut-sebut didalangi oleh kelompok tertentu. Ajakan yang sangat positif!!! Bila kita membiarkan diri kita dikuasai oleh ketakutan, sangat mungkin kita melakukan hal-hal yang bodoh. Misalnya, menyebarluaskan berita yang keliru dan membesar-besarkan keresahan yang tidak perlu. Hal-hal penting yang seharusnya kita lakukan bisa jadi terhambat. Ketakutan yang dibiarkan menguasai pikiran akan sangat mudah melumpuhkan kemampuan kita untuk bertindak bijaksana.

Sebagai orang Indonesia, aku merasa sangat bangga dan ikut bersemangat. Seingatku, ketika aksi serupa melanda negara lain, tidak ada tanggapan yang semacam itu. Yang banyak beredar adalah reaksi emosional membenci kelompok tertentu dan keinginan balas dendam (yang sebenarnya membuat situasi tambah mencekam).

Ajakan ini mendapat respons yang luar biasa. Media sosial dipenuhi dengan hashtag #kamitidaktakut, #jakartaberani, dan sejenisnya. Saking semangatnya, ada yang bahkan mewanti-wanti agar jangan menggunakan hashtag #prayforjakarta atau menyebar ajakan berdoa bagi bangsa. Alasannya, nanti ekonomi bisa anjlok dan aksi teroris makin menjadi-jadi. Alasan yang menurutku agak membingungkan.

Sampai pada titik ini, aku jadi bertanya, “mengapa?” Apakah sikap tidak takut bertolak belakang dengan tindakan berdoa? Mungkinkah selama ini, doa dianggap sebagai tindakan yang lemah dan penakut?

Mungkinkah kita tidak ingin dunia melihat kita “berdoa” karena kita “takut” dianggap sebagai para “penakut”?

Bila demikian, apakah kita sedang jujur pada diri sendiri ketika memproklamasikan pada dunia “kami tidak takut”? Atau, jangan-jangan kita sebenarnya sedang menutupi ketakutan kita dengan topeng seorang pemberani?

Aku jadi teringat akan perkataan tegas Yesus ketika mengutus para murid memberitakan kebenaran, melawan yang jahat, menolong yang lemah, menyembuhkan yang sakit. Dia berkata,

“Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Matius 10:28-31).

Yesus tidak meminta para pengikut-Nya untuk menghilangkan rasa takut sama sekali. Bagi Yesus, rasa takut itu tidak salah bila objeknya benar, yaitu Allah sendiri. Hidup mati kita ada di tangan Allah, dan segala sesuatu yang kita lakukan kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sebab itu, sudah sepantasnya kita takut akan Dia. Justru bahaya kalau kita tidak lagi punya takut akan Allah di hati kita, lantas merasa berbuat dosa itu tidak apa-apa. Justru bahaya kalau kita merasa lebih hebat dari Allah dan tidak lagi membutuhkan pertolongan-Nya.

Sebaliknya, Yesus menegaskan bahwa para pengikut-Nya tidak perlu takut kepada orang-orang yang menghalangi mereka berbuat baik, yang akan membenci dan menganiaya mereka. Mengapa? Pertama, karena orang-orang itu adalah manusia biasa yang juga terbatas, dan bila mereka memilih berbuat jahat, mereka harus berurusan dengan Allah sendiri. Kedua, karena orang-orang itu bukan penentu hidup dan mati kita. Kalaupun sudah tiba waktu kita menghadap Allah, kita tidak perlu takut jika kita telah hidup di dalam jalan-Nya. Kita malah berbahagia karena bisa bebas dari orang-orang jahat itu selamanya.

Lirik lagu Panji Pragiwaksono, Kami Tidak Takut, sedikit banyak menyiratkan keyakinan akan hal yang sama:

Teroris yang berbahagia
Puas-puaskanlah kau tertawa
Atau bahkan kau simpan semua
Kenang-kenanganmu hidup di dunia

Karena kami bangsa Indonesia
Sudah muak dan kami tak takut
Kami maju dan kamu tersudut
Di neraka kavlingmu menunggu

Allah akan menegakkan keadilan pada waktu-Nya! Dengan jaminan ini, sebenarnya kita tidak perlu ragu menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang tidak takut akan aksi teror, dan pada saat yang sama kita juga adalah bangsa yang takut akan Allah.

Rasa takut itu manusiawi. Dalam batas tertentu rasa takut menolong kita untuk tidak congkak, menyadarkan kita akan keterbatasan kita. Namun, sebagai orang-orang yang takut akan Allah, kita tidak perlu dilumpuhkan oleh rasa takut. Yang perlu kita lakukan adalah mengarahkan rasa takut kita kepada Allah.

Kita tidak akan membiarkan rasa takut membuat kita berhenti untuk melawan kejahatan, untuk saling mengasihi, untuk saling menolong, bahkan untuk terus berbuat baik, berkarya bagi kesejahteraan kota kita, sebagaimana yang diperintahkan Allah. Dan pastinya, kita tidak akan membiarkan rasa takut membuat kita berhenti untuk berdoa. Doa adalah tindakan bijaksana yang mengarahkan rasa takut kita ke tempat yang seharusnya. Ketika kita menjalani hidup bersama Pribadi yang paling berkuasa di jagat raya, tidak ada lagi hal yang terlalu menakutkan di dunia ini.

Aksi teror bisa datang lagi, namun kita dapat menghadapinya bersama Allah, seperti kata pemazmur dalam Mazmur 56:12: “kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”

Bagikan Konten Ini
3 replies
  1. Anonim
    Anonim says:

    No offense, in my opinion, Itu semua cuman hashtag. bukan berarti menolak ajakan untuk berdoa. Cuman mengatakan jangan bikin hastag #prayforjakarta ga mesti karena mereka takut buat berdoa. Terlalu dini untuk menyimpulkan seperti itu.

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *