Ketakutan yang Salah

Oleh Nicholas, Jakarta 

Dalam menjalani hidup ini, tentu kita akan menghadapi peristiwa-peristiwa sulit—peristiwa yang membuat kita meneteskan air mata, atau membuat kita berteriak, “Tuhan, kenapa ini terjadi?” 

Tahun 2019 lalu, papaku terkena serangan strok. Peristiwa ini mengguncang keluargaku dan tak mudah untuk kami hadapi, apalagi papa selama ini menjadi tulang punggung. Selain kehidupan ekonomi keluarga kami bergejolak, wacana untuk bercerai pun muncul. Pada saat itu, aku bertanya pada Tuhan, “Kenapa papa harus terkena strok?” 

Pertanyaan itu lantas mengingatkanku pada peristiwa dalam Alkitab. Injil Markus 4:35-41 bercerita tentang murid-murid Yesus yang juga mengalami peristiwa sulit. Di ayat 37, mereka sedang menghadapi taufan yang sangat dahsyat, yang membuat mereka berada dalam situasi antara hidup dan mati. Kekalutan dalam taufan itu menjadi semakin jelas ketika murid-murid bertanya kepada Yesus, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (ayat 38). 

Alkitab tidak mencatat ada kalimat langsung yang Yesus ucapkan untuk menjawab pertanyaan para murid, tetapi Alkitab mencatat bahwa Yesus merespons dengan bangun lalu menghardik angin itu. Seketika danau pun menjadi tenang (ayat 39). Barulah di ayat 40 Yesus mengajukan pertanyaan, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” 

Ketakutan yang dialami para murid sejatinya adalah ketakutan yang juga dialami oleh kita semua sebagai manusia berdosa. Ketika menghadapi kesulitan, seringkali kita merasa takut. 

Namun, apakah takut itu salah? 

Menurutku, takut itu tidaklah salah karena takut adalah hal yang alamiah terjadi sebagai respons manusia. Sebelum Yesus menghadapi penyaliban, Yesus pun mengalami ketakutan. Matius 26:37 mencatat, “Mulailah Ia merasa sedih dan gentar”. 

Memang, takut adalah sikap yang tidak salah, akan tetapi jika ketakutan itu membawa kita untuk tidak mempercayai Allah, di situlah takut menjadi salah. Oleh karena itu, ketika Yesus melontarkan pertanyaan Dia tidak hanya berhenti di kata “takut” saja. Dia mengajukan pertanyaan lanjutan, “Mengapa kamu tidak percaya?” 

Jika kita melihat teks paralel, kita akan menemukan yang sama: Matius 8:26, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”; Lukas 8:25, “Di manakah kepercayaanmu?” 

Pada saat Yesus berada di taman Getsemani, Yesus memang merasa takut, tapi Dia tidak membiarkan ketakutan itu memimpin kehidupan-Nya. Yesus tetap percaya kepada Bapa dan menyerahkan semuanya kepada Bapa. Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Yesus menutup doanya dengan menyerahkan diri-Nya pada kehendak Bapa. 

Kembali pada kisahku, ketika aku diperhadapkan dengan peristiwa papa terkena strok, aku mengalami ketakutan seperti para murid. Aku meragukan kuasa Tuhan. Aku tidak percaya pada Allah. Namun, di dalam keraguan itu, Tuhan tidak meninggalkanku. Di dalam ketidakpercayaan murid-murid, Yesus tidak pernah meninggalkan mereka. Yesus tetap menolong murid-murid-Nya. 

Melalui peristiwa sulit, murid-murid jadi mengenal lagi siapa Yesus. Di dalam ayat 41 tertulis, “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Di dalam pertanyaan di atas terkandung juga pernyataan. Murid-murid mengakui bahwa Yesus juga berkuasa atas alam. Tuhan mengizinkan adanya taufan supaya murid-murid mengenal bahwa Yesus juga berkuasa atas alam semesta. 

Pasca papa terkena strok, emosinya menjadi tidak stabil. Dia jadi sering marah dan melontarkan kata-kata yang kurang enak didengar. Akibatnya, adikku jadi benci kepada papa. Dia tidak mau mengajak papa bicara, bahkan dia pun tak mau makan makanan yang papa belikan. Kebencian ini terjadi selama berbulan-bulan dan aku hanya bisa pasrah. Aku sudah menasihatinya, tapi tak digubris. Hingga pada suatu ketika, adikku berubah 180 derajat. Dia jadi peduli pada papa dan aku tak tahu apa yang menyebabkannya berubah. Yang aku tahu pasti, Tuhanlah yang mengubahkan sikap hati adikku. Melalui peristiwa papa terkena strok, aku mengenal bahwa Allah sanggup mengubah hati seseorang. 

Di akhir perenunganku ini, izinkan aku melontarkan dua pertanyaan:

Apakah peristiwa sulit yang kita alami membawa kita untuk tidak percaya pada Tuhan?

Allah seperti apakah yang kita temukan dalam peristiwa sulit yang kita alami? 

 

Bagikan Konten Ini
0 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *