Kado Awal Tahun

Oleh Sukma Sari, Jakarta
Foto oleh Aryanto Wijaya

Jakarta, 2 Januari 2020

Aku menulis artikel ini di sebuah restoran cepat saji tidak jauh dari rumah. Bukan tanpa alasan aku kemari dari jam 7 pagi di hari kedua tahun 2020. Ya, banjir di awal tahun di beberapa titik ibu kota membuat rumahku terkena pemadaman listrik dari PLN. Baterai telepon selulerku mati dari jam 3 subuh tadi. Untungnya aku sempat mendapat kabar kalau pagi ini, kantor diliburkan.

Memang bukan pertama kali Jakarta dan sekitarnya mengalami banjir, akan tetapi kita mungkin jengah jika setiap musim hujan selalu dilanda rasa was-was rumah kita kebanjiran atau tidak.

Pemadaman listrik di rumah membuat aku uring-uringan, bahkan Mama ku pun juga terkena dampak emosiku. Banyak pertanyaan “bagaimana jika” yang menumpuk di kepalaku.

Bagaimana jika lampu tidak menyala dan aku harus ke toilet?

Bagaimana jika sampai malam ini, listrik tetap padam dan aku kembali harus tidur dalam kegelapan total?

Dan masih banyak bagaimana jika lainnya. Baru hari kedua di tahun 2020 aku sudah dilanda ketakutan.

Aku lupa, bahwa pemadaman listrik PLN toh pasti akan berakhir, meskipun aku tidak tahu entah kapan waktunya. Listrik akan berfungsi normal seperti biasa. Aku lupa bahwa apa yang aku alami tidak separah orang-orang (atau bahkan teman-teman yang sedang membaca tulisanku saat ini) yang tempat tinggalnya kebanjiran. Harta benda dan pakaian sudah pasti basah, hidup dalam pengungsian sementara atau lebih parahnya, harus bertahan di tingkat atas rumah karena air telah naik. Kekhawatiran membuat aku tidak bisa berpikir dengan bijak.

Pagi ini, aku teringat akan kisah para murid Yesus yang perahunya terombang-ambing akibat badai. Mereka juga ketakutan ketika melihat sesosok orang berjalan di tengah badai yang dikira mereka hantu, padahal itu Yesus, Guru mereka yang berjalan diatas air menghampiri mereka. Sesudah Yesus menyatakan diri-Nya, Petrus berseru: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (Matius 14:28). Namun, tiupan angin membuat Petrus takut dan dia pun tenggelam (Matius 14:22-33).

Mungkin kita pernah berpikir “Para murid saja yang melihat Yesus dan menghabiskan waktu bersama-Nya masih takut, apalagi kita yang tidak pernah bertemu muka dengan-Nya? Wajar dong kalau kita merasa takut”.

Teman-teman, rasa takut adalah hal yang wajar. Tapi, Yesus sendiri sudah mengatakan untuk kita tidak perlu khawatir akan apa pun juga. Jika burung pipit dan bunga bakung yang hari ini ada, besok dibuang itu dipelihara Tuhan, apakah ada alasan bagi kita untuk terus-terusan khawatir? Yang Tuhan inginkan adalah supaya aku dan kamu, hari demi hari mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, dan yang lain akan mengikuti (Matius 6:25-34).

Mengawali tahun yang baru ini, bencana banjir yang menghadang rasanya seperti “kado” awal tahun yang tak diinginkan. Namun, aku ingin mengajak teman-teman untuk bersama-sama kita percaya. Percaya bahwa entah apa pun yang telah dan akan terjadi, suka dan duka di waktu ini dan mendatang nanti, Tuhan tetap ada bersama kita. Awal yang kelabu bukan berarti sepanjang tahun akan kelabu, bersama Tuhan yang beserta kita, kita tentu dibimbing-Nya melewati padang rumput maupun lembah kelam sekalipun. Tuhan telah ada sebelum dunia ada, dan akan terus ada sampai selamanya.

Jika kamu terdampak banjir di awal tahun ini, kiranya pertolongan Tuhan besertamu.

Baca Juga:

Sendirian di Tahun 2020?

Kisah-kisah pahit di tahun ini membuat kita getir. Kita pun tak tahu masalah apa yang akan menghadang, tragedi apa yang mungkin terjadi. Kita merasa sendiri dan gamang menghadapi tahun 2020 yang tinggal sejengkal lagi.

Pemilu 2019: Saatnya Lakukan Tanggung Jawab Kita

Oleh Bungaran Gultom, Jakarta

Guys, besok kita akan melaksanakan Pemilu loh. Mungkin ada sebagian dari kita yang pertama kali mengikuti pesta demokrasi yang diadakan tiap lima tahun sekali ini. Melalui tayangan televisi, baliho, atau spanduk-spanduk yang menampilkan sosok para politisi dan slogan partai-partai politik, euforia pemilu terasa sekali.

Meski begitu, kadang semua itu malah membuat kita bingung. Belum lagi jika kita mengikuti banyak perdebatan yang berujung caci maki di media sosial, mungkin kita jadi bertanya: pemilu kok begini banget sih?

Santai, guys. Proses untuk menjadi sebuah bangsa yang matang dalam berdemokrasi memang bukanlah proses yang sebentar. Untuk memahami bahwa demokrasi adalah dari, oleh, dan untuk rakyat itu sama sekali tidak mudah, apalagi dalam konteks Indonesia yang beragam. Namun, kematangan dalam berdemokrasi sangat diperlukan, karena kalau tidak setiap kelompok masyarakat akan menuntut agar kepentingan mereka yang harus didahulukan atau diprioritaskan. Bisa dibayangkan betapa chaos alias kacaunya kondisi bangsa ini jika hal itu sampai terjadi, kan? Nah, karena itulah kita perlu terlibat agar nantinya kita menjadi bangsa yang matang dalam berdemokrasi. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan ikut pemilu.

Ada dua jenis pemilihan. Pertama, pemilihan legislatif, kita memilih orang-orang yang akan mewakili kita di parlemen. Kedua, pemilihan presiden dan wakilnya. Dua orang ini kelak akan menentukan seperti apa bangsa kita. Bayangkanlah jika orang-orang yang terpilih kelak adalah orang yang tidak kompeten, mungkin sulit sekali bagi negeri kita untuk maju.

Setiap orang memiliki dua pilihan: menggunakan hak suara mereka, atau tidak. Keduanya adalah hak masing-masing individu. Tetapi, cobalah jujur: sebenarnya kita ingin bangsa ini dipimpin oleh orang yang kompeten atau tidak? Meski tiap kita punya preferensinya masing-masing, tetapi kita tentu berharap memiliki pemimpin yang jujur dan bertanggung jawab pada tugasnya.

Bagaimana caranya agar mereka yang kompeten dan jujur bisa muncul dan terpilih untuk mewakili kita di pemerintahan nanti? Cara paling sederhananya adalah dengan memilih atau mencoblos di bilik pemungutan suara nanti. Tapi, sebelum itu dilakukan, kita perlu rajin-rajin mencari tahu tentang orang-orang yang mencalonkan diri tersebut. Dan, tak kalah penting adalah kita mencari tahunya dari sumber yang terpercaya.

Bagaimana jika akhirnya upaya yang kita lakukan sia-sia dan orang yang terpilih adalah politisi-politisi yang tidak kompeten? Aku berharap hal itu dijauhkan dari kita, tetapi jika itu terjadi, maka kita tidak perlu tawar hati, karena Allah berdaulat dalam kehidupan bangsa-bangsa. Kedaulatan Allah berlaku atas semua pemerintahan yang dipilih-Nya (baca Roma 13:1). Kedaulatan Allah ini menjadi pengharapan yang kuat bagi kita, bahwa Allah yang tetap memegang kendali atas semua pemerintahan di bumi ini. Tanggung jawab kita adalah memilih anggota parlemen, presiden, dan wakilnya yang kompeten, jujur, dan mau mengabdi bagi bangsa ini. Inilah yang harus jadi karakteristik nomor satu, yang harus menjadi alasan kita dalam memilih mereka.

Masih tersisa satu hari lagi sebelum pemilu dilaksanakan besok. Bagi kamu yang belum tahu siapa yang hendak kamu pilih, masih ada kesempatan untukmu untuk menggali informasi yang valid tentang para kandidat yang kelak jika terpilih akan duduk di pemerintahan.

Selamat melaksanakan pesta demokrasi!

Baca Juga:

Belajar dari Nehemia dan Ester: Mencintai Bangsa melalui Doa dan Tindakan

“Seberapa greget kamu mencintai Indonesia?

Ketika mendengar pertanyaan itu, mungkin kamu akan menjawab dengan berbagai kalimat ala generasi millenial yang akhir-akhir ini sedang hits. Tapi, benarkah kamu segreget itu dalam mencintai Indonesia? Atau, jangan-jangan nama Indonesia tidak masuk dalam daftar sesuatu yang kamu cintai?”

2 Kontribusi Sederhana untuk Menolong Korban Bencana

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Di tahun 2015, aku mendapat kesempatan berkunjung ke beberapa kota di Aceh selama dua minggu. Sebelas tahun sebelumnya, kota Banda Aceh luluh lantak akibat dihantam gempa bumi dan gelombang tsunami. Meski waktu telah bergulir dan proses pemulihan pasca bencana digalakkan, sampai hari itu sisa-sisa kehancuran masih dapat ditemukan dengan jelas di beberapa sudut kota.

Perjalanan itu kemudian menyadarkanku bahwa pemulihan suatu tempat dari bencana itu bukanlah proses yang singkat. Tak hanya infrastruktur yang perlu dibangun ulang dan dibenahi, tetapi para korban pun perlu dipulihkan dari luka fisik, trauma psikis, serta kemiskinan yang menjerat akibat kehilangan mata pencaharian. Seorang temanku yang menjadi relawan di Banda Aceh mengatakan bahwa sudah lebih dari sepuluh tahun dia melayani di sana. Dia melayani warga lokal untuk pulih dengan cara mendirikan koperasi simpan pinjam dan serangkaian program lainnya.

Wow! Apa yang temanku lakukan itu sungguh luar biasa. Dia terjun langsung ke lokasi bencana dan melakukan sesuatu di sana. Tapi, pada kenyataannya tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Pun, tidak semua bentuk bantuan yang bisa kita salurkan kepada para korban adalah dengan datang terlibat secara langsung di lokasi bencana.

Ketika bencana alam terjadi dan meninggalkan kerusakan, seperti yang terjadi di akhir September 2018 di Sulawesi Tengah, dua hal inilah yang kupikir bisa kita lakukan untuk meringankan beban mereka.

1. Doakan orang-orang di sekitar lokasi bencana

Mungkin doa adalah langkah yang terdengar klise, tetapi sebagai orang Kristen kita percaya akan kuasa doa. Alkitab berkata, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16).

Kita berdoa karena kita tahu bahwa diri kita terbatas. Kita tidak bisa hadir sekaligus di banyak tempat untuk menolong para korban. Kita tidak benar-benar tahu apa kebutuhan yang paling dibutuhkan seseorang. Pun, kita sendiri tidak berdaya memberikan kesembuhan atau pemulihan secara penuh kepada orang lain. Kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan. Kita berdoa sebagai ungkapan percaya bahwa Tuhan akan membuat sesuatu yang baik dari kehidupan yang telah hancur tersebut.

Dalam doa, kita dapat memohon agar Tuhan mengaruniakan kedamaian hati kepada mereka yang sedih, berduka, dan trauma. Kiranya Tuhan menolong para relawan yang melayani di sana untuk melakukan evakuasi maupun proses pemulihan dengan efektif.

2. Salurkan bantuan atau donasi melalui organisasi yang terpercaya

Setelah berdoa, kita pun dapat menggerakkan hati untuk menyalurkan bantuan kita kepada organisasi-organisasi terpercaya yang bermisi untuk mendukung pemulihan pasca bencana.

Ketika kita menyalurkan uang kita ke organisasi tersebut, uang tersebut tidak hanya digunakan untuk memberikan bantuan jangka pendek berupa makanan dan sebagainya, tetapi juga menolong para korban untuk kelak dapat menjadi masyarakat yang mandiri. Ada edukasi yang perlu diberikan, ada pembinaan demi pembinaan yang dilakukan supaya mereka dapat menjadi masyarakat yang berdaya kembali. Seperti yang temanku lakukan di Banda Aceh, pasca tsunami banyak orang kehilangan pekerjaan. Sekadar memberi uang tanpa program pemberdayaan tidak bisa jadi solusi jangka panjang. Temanku bersama organisasi tempatnya bernaung kemudian mengadakan program pemberdayaan di bidang ekonomi. Masyarakat dibina untuk menemukan atau bahkan menciptakan lapangan kerja yang baru, yang dapat menggerakkan ekonomi daerah tersebut. Kaum ibu dibekali keterampilan untuk menghasilkan kerajinan dan benda-benda layak jual serta kaum bapak dibekali modal dan keterampilan budidaya ikan.

Memulihkan suatu kota yang hancur karena bencana bisa jadi sebuah proses yang rumit. Namun satu langkah sederhana yang kita lakukan bisa memberikan kontribusi untuk memulihkan keadaan di sana.

Mungkin kita tidak bisa hadir secara langsung di sana. Mungkin pula jumlah bantuan yang kita berikan tidak besar, tetapi seberapapun nilai yang kita berikan untuk sesama manusia, Tuhan melihat isi hati kita. Dukungan dan pemberian kita itulah yang menjadi wujud kasih kita kepada sesama, sebagaimana Alkitab mengatakan:

“Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5:14).

Baca Juga:

Ketika Seorang Teman Meninggalkan Imannya

Ketika seorang temanku sendiri yang meninggalkan imannya, aku merasa perlu melakukan sesuatu. Tapi, aku tidak tahu pasti bagaimana atau di mana aku harus memulainya.

Anthonius Gunawan Agung: Teladan Hidup dari Sang Pahlawan di Tengah Bencana

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Bencana alam menyisakan tangis dan pilu. Namun, kadang di balik kisah pilunya, lahir pula kisah-kisah teladan yang mengetuk pintu hati kita.

Ketika gempa bumi melanda kawasan Palu, Donggala, dan Mamuju di Sulawesi Tengah, Anthonius Gunawan Agung (22) sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang Air Traffic Controller (ATC) alias pemandu penerbangan pesawat di Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri, Palu. Kala itu Antonius bertugas memandu Kapten Ricosetta Mafella yang menerbangkan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6231 menuju Makassar.

Pukul 17:55 pintu pesawat telah ditutup. Pukul 18:02 Anthonius mengizinkan pesawat untuk lepas landas. Tapi, belum sempat pesawat itu mengangkasa, gempa bumi berkekuatan 7,7 skala richter mengguncang. Orang-orang segera bergegas menyelamatkan diri, tapi Anthonius bergeming meski sudah diteriaki untuk segera turun dari menara pengawas. Anthonius tidak menghiraukan guncangan gempa yang terjadi, dia fokus dengan tanggung jawabnya memandu pesawat hingga mengudara dengan sempurna.

Safe flight Batik Air, take care,” ucap Antonius untuk menutup komunikasinya dengan Kapten Mafella yang saat itu sudah dalam posisi aman di udara.

Namun, kemalangan pun menimpa Anthonius. Kalimat itu jugalah yang rupanya menjadi kalimat perpisahannya. Sejurus kemudian atap menara tempatnya bertugas ambruk. Anthonius tak punya lagi waktu menyelamatkan diri. Dia gugur dalam tugasnya sebagai seorang ATC.

Apa yang dilakukan oleh Anthonius Agung adalah tindakan yang heroik. Dedikasi Anthonius kala gempa terjadi memberikan kesempatan hidup kepada seluruh penumpang dan awak dalam pesawat. Dalam ungkapan dukacitanya kepada Anthonius, Kapten Mafella menuliskan, “Thank you for keeping me and guarding me till I’m safety airborne… Wing of honor for Anthonius Gunawan Agung as my guardian angel at Palu. Rest peacefully my wing man. God be with you.” Tak terbayangkan apabila saat itu Anthonius memilih lari menyelamatkan diri di saat roda pesawat masih berada di landasan, mungkin Kapten Mafella beserta seluruh awak dan penumpangnya tidak akan sampai mengudara dengan selamat.

Kisah Anthonius ini adalah sekelumit dari kisah-kisah heroik lainnya yang mengetuk pintu hati kita. Pun, kisah ini mengingatkan kita akan dedikasi dan pengorbanan yang juga dilakukan oleh Tuhan Yesus. Kematian Yesus di kayu salib memberikan kesempatan hidup tak hanya bagi satu jiwa, melainkan bagi semua manusia yang mau menerima Dia sebagai Tuhan. Sebagai anak Allah yang mengambil rupa manusia seutuhnya, Yesus bisa saja lari dari panggilan-Nya. Yesus mungkin takut akan apa yang harus Dia hadapi. Tapi, di taman Getsemani, Dia memilih untuk berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

Yesus memilih taat pada Bapa. Yesus tidak melarikan diri dari panggilan-Nya kendati Dia tahu ada penderitaan besar yang harus Dia hadapi. Hingga akhirnya, melalui kematian Yesus kita pun dibayar lunas dari dosa-dosa kita dan melalui kebangkitan-Nya, kita dan orang-orang yang percaya kepada-Nya beroleh jaminan keselamatan berupa kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Anthonius telah mengakhiri pertandingan imannya dengan baik. Dan bagi kita yang masih diberi kesempatan di dunia, inilah waktunya untuk kita menghidupi kehidupan dengan sebaik-sebaiknya, dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab sampai tiba waktunya ketika Tuhan memanggil kita pulang kembali kepada-Nya.

Selamat jalan Anthonius, kisah kepahlawananmu adalah setetes madu yang manis di tengah getirnya bencana.

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Aku Menunggu

Ketika segalanya menjadi lebih cepat, kita cenderung menganggap menunggu itu sebagai sebuah proses yang berat. Namun, bukankah sesungguhnya dalam hidup ini kita selalu menunggu sesuatu?

Doaku untuk Indonesia

Oleh Agustinus Ryanto, Jakarta

Tuhan, aku bersyukur atas bangsa Indonesia yang hari ini memperingati kemerdekaan-Nya.
Aku bersyukur atas segala kekayaan alam yang Kau limpahkan di negeri ini.
Pun, aku bersyukur atas segala keragaman yang Kau karuniakan di bangsa ini.

Namun, Tuhan, di balik segala hal baik yang tampak menghiasi negeriku, aku melihat ada banyak hal buruk yang tidak berkenan kepada-Mu terjadi di sini. Di balik kekayaan alamnya, ada orang-orang yang hidupnya terjerat dalam kemiskinan. Di balik keragaman yang menjadikan bangsa ini kaya, ada perseteruan-perseteruan yang meruncing karena tidak ada saling pengertian.

Tuhan, kadang aku merasa sedih dan ingin menutup mataku dari segala hal yang tampak buruk tersebut.

Tapi, ingatkan aku Tuhan, bahwa Engkau tidak pernah berhenti mengasihi Indonesia. Maka, sudah seharusnya pula aku terus belajar untuk mengasihi bangsaku.

Ajar aku untuk selalu mendoakan bangsaku, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanku (Yeremia 29:7).

Ajar aku untuk menghormati pemimpin-pemimpinku, sebab merekalah yang Engkau tetapkan untuk memerintah bangsa ini (Roma 13:1).

Aku percaya, Tuhan, bahwa ketika aku dan umat-Mu bersama-sama bertekun mencari wajah-Mu dan merendahkan diri di hadapan-Mu, serta berbalik dari jalan-jalan kami yang jahat, Engkau mendengar seruan kami dan kiranya Engkau berkenan untuk memulihkan negeri kami.

Terima kasih ya Tuhan. Dalam nama Yesus.

Amin.

Baca Juga:

Sekelumit Kisahku Ketika Menghadapi Depresi dalam Pekerjaan

Aku sadar bahwa tak peduli seberapa banyak uang yang bisa kuraih, atau seberapa potensial pekerjaan yang kugeluti, aku telah tiba di titik di mana kalau aku melanjutkannya, aku akan melukai kesehatan mentalku.

Pelajaran Berharga dari Penyelamatan 13 Pemain Bola di Thailand

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why I Was Captivated By The Thai Cave Rescue
Foto diambil dari Facebook Video

Seperti banyak orang lain di seluruh dunia, kemarin malam aku bersorak ketika membaca berita bahwa 12 anak lelaki Thailand dan pelatih sepak bola mereka yang berusia 25 tahun akhirnya bisa diselamatkan dari dalam gua di utara Thailand. Mereka sudah terperangkap di dalam sana selama dua minggu!

Sejak membaca berita tentang bagaimana mereka menghilang pada 23 Juni lalu, aku terpaku pada layar ponselku. Aku mencari tahu berita-berita lanjutan tentang penyelamatan mereka.

Hatiku tertuju kepada keluarga dan teman-teman mereka saat aku membaca kalau mereka sudah menghilang selama lebih dari seminggu. Padahal seharusnya perjalanan mereka ke Gua Tham Luang itu hanya berlangsung setengah hari. Dan, hatiku tergerak saat membaca kalau 1.000 orang (dari seluruh dunia, termasuk Australia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, dan Tiongkok) turut memberikan pertolongan dalam pencarian besar-besaran untuk menemukan mereka.

Ketika mereka ditemukan sembilan hari kemudian (3 Juli) di lokasi yang berjarak 4 kilometer dari mulut gua oleh sepasang penyelam Inggris, aku pun gembira. Tapi, sukacita itu dengan cepat berubah jadi kepedihan saat muncul berita tentang Saman Gunan, mantan Angkatan Laut Thailand yang berusia 38 tahun kehilangan kesadaran dan meninggal dunia Jumat lalu setelah menempatkan tangki-tangki cadangan di sepanjang rute evakuasi.

Misi penyelamatan yang dramatis dan berbahaya ini, yang dimulai pada Minggu pagi, membuatku duduk di kursi sambil merasa was-was, dan setiap notifikasi berita yang aku terima tentang anak lelaki lain yang bisa diselamatkan dari gua yang penuh air itu membuatku merasa lega dan bersukacita.

Aku tidak mengenal anak-anak lelaki itu, pun juga para penyelamat secara pribadi, tapi perasaanku tersentuh sejak dari awal berita ini muncul. Aku pernah mengunjungi sebuah gua di Korea Selatan beberapa bulan lalu. Kunjungan ke gua itu menolongku untuk berempati dan membayangkan seperti apa rasanya berada di dalam lingkungan yang dingin, basah, gelap, berbatu, dan suram seperti yang anak-anak Thailand itu rasakan.

Tapi, seperti yang lain, apa yang kemudian membuatku terperangah adalah cerita-cerita tentang pengorbanan dan tidak mementingkan diri sendiri yang dilakukan oleh banyak orang yang menolong proses evakuasi—mereka menolong atas kemauan dan biaya sendiri. Dari para tentara, insinyur, paramedis, penyelam, koki, dan bahkan relawan-relawan yang mencuci seragam para tim penyelamat itu, jelaslah bahwa penderitaan anak-anak itu tidak hanya menyita perhatian dunia, tapi menggugah komunitas internasional untuk bertindak.

Bahkan di dalam gua, kisah tidak mementingkan diri sendiri itu berlanjut. Asisten pelatih dilaporkan memberikan beberapa bagian dari pasokan makanannya yang sangat sedikit kepada anak-anak itu selama 10 hari. Ketika ditemukan oleh penyelam Inggris, anak-anak itu berada dalam kondisi yang sangat lemah. Juga terungkap bahwa seorang dokter dan tiga Angkatan Laut Thailand telah tinggal bersama anak-anak itu sejak kali pertama mereka ditemukan lebih dari seminggu lalu.

Tapi, mungkin pengorbanan terbesar yang memberi dampak terkuat adalah berita bahwa mantan penyelam Angkatan Laut Thailand, Saman Gunan yang meninggal dunia dalam usahanya menyelamatkan 12 anak dan pelatihnya.

Meskipun tahu bahwa operasi penyelamatan ini sangat berbahaya dan berisiko, itu tidak menghalangi Gunan untuk mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anak-anak itu. Beberapa hari sebelum kematiannya, dia bahkan merekam video mengharukan yang menunjukkan kalau dia sedang berdiri di dekat anak tangga pesawat dan bersumpah untuk “membawa anak-anak pulang”. Pola pikirnya mungkin mencerminkan apa yang juga dikatakan oleh seorang penyelam Belgia dalam cuplikan berita lain. “Jika kamu adalah seorang angkatan laut, ya, kamu akan mengorbankan dirimu.” Sebuah laporan dari BBC kemudian menyimpulkan kematian Gunan dengan pedih, “Dia mati supaya mereka mungkin hidup.”

Apa yang dikatakan itu terbukti jadi nyata. Tiga belas orang yang terperangkap itu akhirnya berhasil diselamatkan dalam upaya evakuasi yang melelahkan selama tiga hari dan melibatkan 13 penyelam internasional dan 5 Angkatan Laut Thailand. Kematian Gunan tidak hanya menyingkap betapa berbahayanya evakuasi ini, tapi pada akhirnya berkontribusi besar untuk memastikan tindakan keselamatan apa yang perlu diambil supaya tidak ada lagi nyawa yang hilang.

Pengorbanan seperti inilah yang membuat air mata kita menetes, karena melalui inilah kita dapat melihat dua hal: nilai kehidupan dan kemanusiaan yang terbaik—ditunjukkan dalam bentuk cinta dan pengorbanan. Seperti yang Alkitab katakan dalam Yohanes 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Aku tidak bisa memungkiri bahwa ada banyak kesamaan antara penyelamatan anak-anak di gua Thailand ini dengan rencana keselamatan Tuhan untuk umat manusia. Seperti 12 anak lelaki dan pelatihnya yang terperangkap dalam gua, tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dari keadaan yang sulit, kita juga terjerembap dalam dosa-dosa kita, tidak berdaya sama sekali dan tidak mampu untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dalam kedua kasus ini, satu-satunya hasil yang menanti kita adalah kematian.

Bantuan harus datang dari luar. Bantuan itu datang melalui penyelam-penyelam ahli yang sudah siap mengambil risiko nyawa dan menyelam ke dalam gua yang dipenuhi air di mana jarak pandang hampir mendekati nol demi menyelamatkan 13 orang. Sama seperti itu, Yesus Kristus harus masuk ke dalam dunia kita yang telah jatuh, tinggal di antara kita, kemudian mati untuk kita di kayu salib. Meski Dia tahu bahwa Dia harus mengorbankan segalanya, itu tidak menghentikannya, karena itulah satu-satunya cara supaya kita dapat hidup.

Jadi, saat kita bertepuk tangan dan mengenali para pahlawan yang telah mengorbankan waktu, usaha, sumber daya, dan bahkan hidup mereka, kiranya ini juga mengingatkan kita sekali lagi tentang pengorbanan terbesar yang pernah dilakukan untuk umat manusia: Yesus memberikan hidup-Nya bagi kita bukan hanya ketika masih menjadi orang asing, tapi ketika kita masih jadi seteru-Nya (Roma 5:8-10).

Marilah kita tidak berhenti hanya di ucapan syukur dan perasaan kagum. Seperti yang dikatakan oleh penulis CNN, Jay Parini, “Dan semua orang berutang budi pada Saman Gunan, penyelam Thailand yang kehilangan nyawanya beberapa hari lalu saat keluar dari kompleks Gua Tham Luang.” Sama seperti anak-anak lelaki yang akan selamanya berutang budi kepada Gunan dan yang hidupnya akan berubah selamanya setelah kejadian ini, demikianlah hidup kita pun harus berubah karena apa yang Kristus telah lakukan untuk kita.

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Korintus 5:15).

Baca Juga:

Papa Mama, Terima Kasih untuk Teladan Kalian

Kalau aku melihat kembali kisahku ke belakang, kusadari hidup itu tidak mudah. Tapi, aku bersyukur karena papa dan mamaku memberikan teladan yang baik, yang karenanya aku dapat percaya sepenuh hati kepada Tuhan.

Harapan di Tengah Dunia yang Penuh Teror

Oleh Aryanto Wijaya

Minggu, 13 Mei 2018. Tiga gereja di Surabaya mengalami serangan bom bunuh diri. Sebanyak 13 orang dilaporkan meninggal dunia dan 43 lainnya luka-luka.

Aku terkejut tatkala membuka ponsel dan menemukan pesan yang dikutip dari sebuah berita tersebut. Tak menyangka, juga tak terbayangkan olehku bagaimana hari Minggu pagi yang cerah berubah menjadi kelam. Orang-orang yang datang ke rumah Tuhan untuk memuji-Nya malah disambut dengan peristiwa pilu.

Serangan bom pagi itu menambah panjang daftar kekerasan, teror, dan duka di negeri kita. Sebelumnya, masih di tahun 2018, tragedi kekerasan terjadi di gereja St. Lidwina, di Sleman. Pelaku penyerangan melukai pastor dan jemaat dengan sebilah pedang. Lalu, di tahun 2017 serangan bom meledak di terminal bus Kampung Melayu di Jakarta, menewaskan setidaknya lima orang dan melukai 10 lainnya. Dua peristiwa ini hanyalah sekelumit dari riwayat kekerasan dan teror yang pernah terjadi.

Masihkah ada harapan di tengah dunia yang penuh teror? Mengetahui data dan fakta tersebut membuat pertanyaan ini kemudian muncul di benakku.

Tim Jackson, dalam bukunya yang berjudul When Tragedy Strikes, Finding Security in a Vulnerable World berkata bahwa tragedi menyerang kita hingga ke titik paling dalam saat kita tidak siap menghadapinya. Jika kita kembali pada Alkitab, sesungguhnya penderitaan dan aniaya bukanlah hal yang asing dalam kehidupan Kekristenan. Yesus sudah terlebih dahulu mengingatkan murid-murid-Nya akan bahaya yang akan mereka hadapi dan bagaimana seharusnya mereka meresponi bahaya tersebut.

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Aku tersentak. Pesan Yesus sungguh jelas. Yesus tidak mengatakan bahwa murid-murid-Nya, akan terbebas dari segala rupa penganiayaan sebab dunia ini memang telah jatuh dan rusak oleh dosa. Sepanjang sejarah Kekristenan bertumbuh, penganiayaan demi penganiayaan pernah terjadi dengan maksud untuk menggoyahkan iman orang-orang percaya. Namun, sejarah juga membuktikan bahwa ada orang-orang percaya yang imannya tidak goyah. Di mana ada penganiayaan, di situ ada rahmat berlimpah ruah.

Kitab Kisah Para Rasul memberikan kita gambaran bagaimana para rasul dan jemaat mula-mula menghadapi penganiayaan. Pada pasal ketujuh, diceritakan bahwa Stefanus mati dirajam batu karena imannya. Kematiannya bahkan disaksikan oleh Saulus, seorang yang sangat anti terhadap orang Kristen. Tapi, kisah itu tidak berhenti hanya di situ. Allah berkarya. Saulus yang tadinya menganiaya dan membunuhi orang-orang Kristen mendapatkan rahmat Allah dan berbalik menjadi murid Kristus, dari seorang pembunuh menjadi seorang yang diburu karena nama Kristus. Dan, melalui kegigihan para rasul dan jemaat mula-mula, Tuhan mengaruniakan mereka dengan lebih banyak orang-orang baru yang diselamatkan (Kisah Para Rasul 2:47).

Pesan yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya dalam Yohanes 16:33 adalah pesan yang juga Dia berikan kepada kita, murid-murid-Nya di masa sekarang. Inilah yang menjadi jawaban atas pertanyaan di pikiranku. Secara manusiawi keraguan yang timbul dalam pikiranku adalah respons yang wajar terhadap sesuatu yang memilukan. Namun, alih-alih takut dan meratap, kita bisa berharap sepenuhnya kepada Yesus, Pribadi yang tak pernah mengingkari janji.

Pasca peristiwa teror kemarin, kita dapat mengusir rasa takut dan menyalakan harapan dengan belajar untuk mempraktikkan teladan Yesus yang telah Dia ajarkan kepada kita: mengasihi dan mendoakan mereka yang telah menganiaya. Kita percaya bahwa Allah bekerja dalam cara-Nya yang tak terselami. Jika Saulus dapat Allah ubahkan menjadi Paulus, bukan tidak mungkin Allah sanggup melakukannya kembali di masa kini.

Peristiwa teror bukanlah alasan bagi kita untuk menjadi ciut hati, sebab harapan kita yang sejati terletak pada Kristus, yang telah menang dan berkuasa atas maut.

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Filipi 1:29).

* * *

Teruntuk keluarga korban, kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan.

Teruntuk aparat-aparat penegak hukum, kiranya Tuhan menyertai kalian agar dapat mengambil keputusan yang bijak.

Teruntuk para pelaku, kiranya kalian beroleh kemurahan Tuhan untuk berbalik dari jalan yang jahat.

Dan, teruntuk rekan-rekan orang percaya, kiranya kita tidak gentar, tetap mengasihi sesama manusia, dan percaya kepada Tuhan.

Baca Juga:

Pertolongan Pertama Ketika Kita Jatuh dalam Dosa

Ketika dosa meninggalkan kita dalam perasaan tak berdaya dan hancur, apa yang seharusnya kita lakukan? Adakah pertolongan pertama untuk menyelamatkan diri saat kita terjatuh ke dalam jurang dosa?

Ini Caraku Memberitakan Injil

Oleh Amy Ji, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Oh Dear, Am I Ashamed Of The Gospel?

Masa-masa itu datang lagi. Gerejaku menyebutnya sebagai “masa penginjilan”.

Pendetaku berkata kalau ini adalah momen yang tepat untuk membangkitkan kembali semangat penginjilan dengan mengundang teman atau kerabat datang ke gereja. Aku membuka daftar kontak di ponselku. Siapakah yang mungkin kuundang ke gereja kali ini? Semua temanku tahu cerita Paskah. Maksudku, hampir semua temanku dulu belajar di sekolah Methodist, apa lagi yang harus aku ceritakan kepada mereka?

Di persekutuan pemuda, aku malah merasa lebih buruk. Mereka mengatakan kalau kita bisa menggunakan media sosial untuk menyebarkan Injil kepada teman-teman kita. Ayat-ayat Alkitab ditulis dengan tipografi dan diletakkan di atas foto yang bagus. Isi caption-nya mungkin seperti ini: “Pernahkah kamu merasa hilang dan sendirian?”, atau kutipan-kutipan populer dari penulis Kristen: “Jangan sia-siakan hidupmu.” Aku terduduk di kursiku. Aku pernah mendengar teman-temanku mengeluh tentang orang-orang yang mengunggah konten inspirasional tapi tidak menghidupinya di keseharian mereka. Tidak otentik, kata mereka. Aku pun tidak mau kalau ada orang lain yang mengatakan demikian terhadapku.

Ketika aku mengajukan keberatanku kepada pemimpin persekutuan itu, dia dengan cepat menyimpulkan, “Kamu malu terhadap Injil.”

Aku berpikir kembali tentang pertobatanku dulu. Dua cara di atas tidak berefek kepadaku. Meski aku sudah mengikuti ibadah pra-paskah berkali-kali dan melihat ratusan konten Kristen seperti kutipan-kutipan Injil di media sosial, itu semua tidak meyakinkanku tentang kebenaran.

Di sisi lain, kekurangan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Alkitab dan juga orang-orang Kristen di sekitarkulah yang justru meyakinkanku akan kebenaran Injil. Jika Allah dapat menggunakan pembohong seperti Abraham untuk menjadi orang benar, dan seorang pezinah seperti Daud untuk menjadi seorang yang berkenan pada-Nya; jika Allah dapat menyelamatkan kakak kelasku di sekolah yang vulgar dan menjengkelkan, atau membawa seorang mantan pengedar narkoba menangis di altar-Nya; jika Allah menginginkan orang-orang berdosa seperti mereka, maka Dia pun mungkin juga menginginkanku.

Jangan salah sangka. Aku tidak ingin meremehkan acara-acara gereja ataupun pelayanan media sosial untuk menjangkau jiwa. Aku menyaksikan ada orang-orang yang diberkati melalui pesan-pesan yang dibagikan lewat cara-cara itu. Tapi, cara itu tidak berhasil buatku. Dan, mungkin juga tidak berhasil buatmu. Apa yang ingin aku katakan adalah kita tidak menjadi kurang Kristen jika tidak menggunakan cara-cara itu.

Jadi, bagaimana aku memberitakan Injil?

Aku tidak memberitakan Injil seperti yang gerejaku inginkan. Aku mengundang orang-orang untuk datang dan makan bersama di rumahku. Aku menjalin relasi yang dekat dan menjaga komunikasi dengan teman-temanku yang bukan Kristen. Seperti yang orang lain juga lakukan, aku menghadiri pernikahan mereka, upacara pemakaman orangtua mereka, dan juga pesta ulang tahun anak-anak mereka. Aku mendengar keluhan-keluhan mereka, dan mereka pun mendengarku. Ketika mereka bertanya kepadaku tentang bagaimana aku bisa mengatasi situasi yang sulit, dengan jujur aku mengatakan kalau aku mendapat kekuatan dan harapanku dalam Kristus. Ketika mereka harus menghadapi operasi atau anak-anak mereka sakit, dan mereka memintaku untuk berdoa buat mereka, dengan senang hati aku melakukannya, tapi dalam kondisi di mana mereka mengizinkanku untuk berdoa bersama mereka.

Beberapa temanku telah datang kepada Kristus, dan dua keluarga juga telah menghadiri ibadah di gerejaku. Tidak hanya itu, Allah menggunakan keterbukaan dan kebaikan yang kulakukan untuk melembutkan hati orang-orang yang berseteru dengan Kekristenan, dan Dia mengizinkanku untuk membangun relasi yang bertumbuh dan berarti dengan orang-orang yang berbeda iman dariku supaya berita Injil bisa disebarkan dan suatu saat juga diterima.

Kekuatan Injil itu jauh lebih besar daripada ayat-ayat Alkitab yang dikemas cantik atau kutipan-kutipan terkenal. Jangkauannya jauh lebih besar daripada pengkhotbah yang berkarisma dan berbagai strategi pemasaran. Kekuatan Allah dinyatakan melalui kelemahan dan keterbatasan kita, dan aku pun tidak malu untuk berbangga atasnya.

Ketika membagikan hidupku dengan orang-orang di sekitarku, aku membagikan ketakutanku sebagai seorang ibu atau pergumulanku dengan pelayanan pemuda. Di dalam kenyataan dan ketidaksempurnaan hidupku, biarlah orang lain dapat melihat kemuliaan Tuhan.

Baca Juga:

Ketika Aku Bertobat dari Menghakimi Orang Lain

Aku merasa malu. Aku hanya melihat orang dari luarnya saja, aku menghakiminya sejak dalam pikiranku. Aku selalu merasa kalau akulah yang paling rohani di antara yang lain.

Belajar dari Albert McMakin, Tokoh di Balik Transformasi Billy Graham

Oleh Melisa Chen, Jakarta

Baru-baru ini kita mendengar berita meninggalnya Billy Graham, seorang penginjil yang sangat giat melayani Tuhan hingga akhir hidupnya. Melalui pelayanan Billy, banyak orang di berbagai penjuru dunia dapat mendengar Kabar Baik tentang Yesus. Selain sebagai penginjil, sosok Billy Graham juga pernah mendapatkan kehormatan sebagai penasihat presiden Amerika Serikat, dari Presiden Harry S. Truman hingga Presiden Donald Trump yang menjabat saat ini.

Billy Graham memang dipakai Tuhan dengan luar biasa dan kita pun mengenalnya sebagai pribadi yang hebat. Namun, tidak banyak dari kita tahu bahwa di balik nama Billy Graham itu ada seseorang yang amat berjasa bagi hidup Billy. Orang itu hanyalah orang sederhana, namun dia mau dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya hingga dia pun dapat membawa Billy kepada Kristus.

Orang itu adalah Albert McMakin, seorang upahan yang bekerja di lahan pertanian milik ayah Billy. Kala itu, ayah Billy memiliki usaha peternakan yang pengelolaannya diserahkan kepada para pegawainya, dan Albert McMakin adalah salah satu dari pegawai itu. Waktu itu, Albert baru bertobat dan mengenal Kristus, semangatnya berkobar-kobar.

Suatu ketika, di kota tempat Albert dan Billy tinggal, ada seorang penginjil keliling yang rutin datang berkhotbah. Albert sering mengajak tetangga dan teman-temannya untuk datang dan mendengarkan khotbah dari si penginjil itu. Beberapa dari orang yang diajak itu akhirnya ada yang menerima Kristus.

Hari-hari pun berjalan, hingga suatu hari Albert ingat kepada Billy, anak sang majikannya yang belum percaya Yesus. Saat itu, Billy adalah seorang remaja yang nakal, suka minum-minum. Albert pun memberanikan diri untuk mengajak Billy mendengarkan khotbah yang dibawakan si penginjil keliling itu, namun Billy menolaknya. Albert tidak putus asa, dia terus mengajak Billy. Setelah ditolak beberapa kali, Albert pun berdoa supaya Billy mau menerima ajakannya tersebut.

Setelah berdoa, Albert mendapatkan ide. Karena Billy tak mau diajak mendengar khotbah secara langsung, Albert meminta Billy untuk menyetir mobil pikap dan menjemput para tetangga dan teman yang akan pergi mendengarkan khotbah. Billy mengiyakan ajakan Albert dan setibanya di tempat khotbah itu, Billy duduk di dalam mobil bersama Albert seraya menunggu khotbah selesai lalu mengantarkan orang-orang itu pulang. Kejadian ini berlangsung beberapa kali dan Albert terus berdoa supaya Billy mau turun dari mobil, duduk, dan mendengarkan khotbah.

Setelah beberapa waktu berselang, Billy pun tergerak hatinya dan mau turun dari mobil. Hari itu, di musim gugur tahun 1934, kuasa Tuhan bekerja dalam hidup Billy dan Billy pun menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Keputusan Billy hari itu pada akhirnya membawa Billy menjadi seorang pelayan Tuhan yang setia, menjadi penginjil yang selalu giat mewartakan Kabar Baik hingga akhir kehidupannya.

Kisah tentang Albert McMakin dan Billy Graham ini kudengar dalam sebuah khotbah, kemudian aku pun mencari-cari detail kisahnya lebih lanjut di Internet. Buatku pribadi, kisah ini begitu menarik, bagaimana Tuhan memakai orang-orang biasa seperti Albert McMakin untuk mengerjakan pekerjaan yang luar biasa. Ada seorang penulis mengatakan bahwa tidak semua orang dapat menjadi Billy Graham, namun semua orang bisa menjadi Albert McMakin, orang biasa yang melakukan hal luar biasa.

Melalui kegigihan dan doanya, Albert McMakin akhirnya memenangkan Billy Graham kecil kepada Kristus. Aku jadi beranda-andai, seandainya kala itu Albert McMakin tidak mau peduli dengan hidup Billy, mungkin Billy tidak akan menjadi Billy Graham yang seperti kita kenal saat ini. Atau, mungkin Billy tetap dapat menjadi seorang penginjil hebat seperti saat ini dengan cara yang lain karena Tuhan berkuasa dan bisa memakai siapa pun untuk tujuan-Nya. Namun, jika hal itu terjadi, berarti Albert telah menyia-nyiakan kesempatan melayani yang Tuhan telah berikan untuknya.

Belajar dari kegigihan Albert, selama 2,5 tahun belakangan ini aku pun selalu mendoakan orang yang kukasihi. Aku berdoa supaya dia bisa mengenal Kristus dan hidupnya diubahkan. Kadang, ada rasa putus asa saat melihat bahwa hasil doa tersebut belum terwujud. Namun, kembali aku dikuatkan dari ketekunan Albert McMakin. Jika Tuhan begitu sayang pada Billy Graham hingga memberinya kesempatan untuk percaya kepada-Nya, aku pun percaya bahwa Tuhan pun sama sayangnya kepada temanku. Aku masih berpengharapan bahwa Tuhan akan memberi kesempatan kepada temanku itu untuk percaya kepada-Nya.

Inilah sedikit sharing dariku tentang kisah Albert dan Billy yang menginspirasi hidupku. Kiranya melalui kisah ini, aku dan kamu semakin tekun mendoakan orang-orang yang kita kasihi yang belum mengenal Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Aku Pernah Jatuh dalam Pacaran yang Tidak Sehat, Namun Tuhan Memulihkanku

Hubungan pacaran yang tidak sepadan membuatku jatuh ke dalam dosa. Malam itu aku menangis sejadi-jadinya karena aku tahu bahwa apa yang telah terjadi itu tidak dapat diperbaiki kembali. Namun, aku bersyukur karena Tuhan tidak meninggalkanku, Dia menolongku bangkit dari keterpurukan ini.