Posts

Mematahkan Mitos ‘Dosen Killer’ Ala Mahasiswa

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Kami menerima surat penetapan dosen yang menjadi pembimbing skripsi kami di bulan Maret dua tahun lalu. Membaca dua nama yang tertera, semangatku yang telah terkumpul menciut begitu saja. Isu yang beredar dari mahasiswa-mahasiswa lain, dua dosen pembimbing ini sulit ditemui, mereka pun ‘perfeksionis’. Kesulitan-kesulitan itu menjadi momok tersendiri bagiku.

Ketakutanku akan sulitnya bimbingan dengan kedua dosen itu kujadikan alasan untuk menunda pengerjaan skripsiku. Aku berharap keajaiban agar ada pergantian dosen. Padahal, aku tahu kalau penggantian dosen pembimbing hanya bisa terjadi untuk alasan urgen seperti musibah atau kematian. Penggalan firman Tuhan yang kuingat dari Matius 7:7-8 dan 21:22 tentang bagaimana Allah akan memberikan hal-hal yang kuminta membuatku menjadikan doa seperti jurus ‘Sim Salabim’. Tuhan kujadikan layaknya ‘kantong doraemon’ yang harus menyediakan setiap hal yang kumau. Dengan persepsi yang salah, beragam alasan juga kuajukan pada-Nya seolah aku berhak komplain dengan rencana-Nya.

Aku seperti menyerah sebelum berperang. Ketakutan menghadapi dosen pembimbing dengan label ‘killer’ tidak kualami sendiri. Ada teman seangkatan lain yang sampai mengajukan pergantian dosen ke jurusan. Ada pula yang jadi lama wisuda dan stuck di revisi. Meski memang bukan satu-satunya faktor penentu kelulusan, dosen pembimbing skripsi juga berperan dalam proses mengakhiri masa studi mahasiswa. Dosen killer dianggap sulit untuk ditemui bimbingan, penliaiannya berstandar tinggi, dan kritik sana-sini. Maka tak ayal, menghindari dosen tipe ini dianggap pilihan yang tepat.

Sebulan pun berlalu. Dosen pembimbing pertamaku meminta kami menemuinya, itu pun karena ada temanku yang berinisiatif menghubunginya duluan. Walau dengan mental tempe, kuberanikan diri mengajukan garis besar penelitianku di bimbingan pertamaku. Di luar dugaanku, dia memberi banyak masukan agar di dua minggu berikutnya judulku bisa di-acc. Anak bimbingan dosen itu hanya diberi kesempatan revisi sekali dua minggu. Pertimbangannya, dengan durasi 14 hari, perbaikan akan lebih maksimal. Kesempatan bimbingan yang terbatas juga harus dimanfaatkan agar mahasiswa tidak asal-asalan menyerahkan revisi.

Kesan pertamaku malah berbanding terbalik dengan cerita yang kudengar. Asumsi ‘killer’ yang penuh kritik tidak masuk akal ternyata tidak sepenuhnya benar. Seolah menjadi amunisi untuk semangat yang sempat menipis, aku pun menemui dosen pembimbing keduaku. Aku menceritakan ide penelitian yang akan kukerjakan. Walau sedikit berbeda dalam beberapa hal, beliau yang sudah professor sekaligus guru besar itu tidak sepenuhnya keberatan. Dengan berbagai saran perbaikan di beberapa pertemuan, judul yang kuajukan disetujui.

Meski usaha tidak selalu berbuah manis, secara perlahan aku menemukan sudut pandang baru di pengerjaan tugas akhirku. Beragam stigma negatif yang terbangun karena mendengar opini lain terkikis secara perlahan. Selain karena memang tidak ada pilihan lain, sebisa mungkin aku memenuhi corat-coret perbaikan dari keduanya. Prinsipnya, mengabaikan saran perbaikan sama saja memperpanjang masa studiku. Tentu menjadi mahasiswa abadi atau ‘dropout’ karena tugas akhir tidak diinginkan siapa pun. Namun, dengan beberapa kondisi, ada teman-teman yang harus mengalaminya.

Dengan bantuan dari mereka yang kutemui di sepanjang proses, aku belajar bahwa benar Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya (Ibrani 13:5b). Ia memakai siapa saja sesuai kehendak-Nya (Yohanes 15:16) dalam setiap kondisi (Roma 8:28). Meski terkesan sepele, namun aku merasa tertolong dengan adanya adik-adik tingkat maupun petugas kebersihan yang biasanya kutanyai tentang keberadaan dua dosenku di kampus. “Pak, ada lihat bapak ini?”, “Dek, kamu ada kelas sama Prof hari ini?”. Dua pertanyaan pamungkas untuk menjawab ketidakpastian bimbingan. Terkadang dosen itu seperti PHP (Pemberi Harapan Palsu). Meski sudah ada jadwal, janji bimbingan tidak serta-merta berjalan mulus, biasanya terjadi jika ada rapat atau agenda lain yang lebih penting.

Bertemu dengan teman seperjuangan yang seangkatan atau orang baru dengan dosen yang sama juga sangat kusyukuri. Mereka menjadi teman melewati suka-duka perjalanan skripsweet. Sharing saran perbaikan, informasi jurnal, judul buku hingga menjadi momen saling menghibur. Kadang, karena ide sudah mandek atau sembari menunggu, kami sering usil dengan guyonan lama wisuda. Tidak hanya menghibur saat bisa menertawakan kondisi, gurauan atas nama solidaritas itu ternyata bisa jadi pelecut semangat.

Pengerjaan terus berlanjut. Revisi demi revisi kukerjakan seiring dengan semangat yang kadang on dan off tidak menentu. Sepanjang proses, ada saja lega yang bisa disyukuri atau kesal berujung tangis. Hingga dinyatakan lulus memperoleh gelar sarjana, pandangan dosen ‘killer’ untuk kedua dosenku ternyata tidak sepenuhnya benar. Anggapan itu tentu kusimpulkan dari pengalamanku. Kesulitan atau situasi yang dialami teman-teman bisa saja berbeda. Untuk itu, kita perlu berhati-hati merespon stigma yang ada.

Apalagi dengan kemudahan yang diberikan kemajuan teknologi. Dampaknya dalam berbagai sendi kehidupan tidak bisa diingkari. Tidak hanya bersifat membangun, efeknya juga ada yang negatif. Salah satunya mengenai tirani opini mayoritas. Tidak hanya di dunia nyata, kini melalui media sosial pandangan yang disampaikan secara daring pun mempengaruhi keputusan seseorang. Pandangan netizen melalui like, views dan comment seakan menjadi penentu dalam berkarya. Tanpa kita sadari, kita sering bertindak dengan memperhatikan atau bahkan mengikuti pendapat orang lain. Dari urusan menentukan sekolah, jurusan, tempat kuliah, memilih pacar hingga memutuskan jalur berkarir.

Pandangan yang beredar di masyarakat tentu ada yang bersifat positif, bisa dijadikan pedoman sebelum mengambil keputusan. Di sisi lain, kita juga harus menyadari ada stigma yang perlu diperbaiki. Sebagai manusia, tentu kita tidak bisa membatasi opini orang lain. Pendapat mereka tidak ada dalam kendali kita. Alih-alih nekat dengan dalih ingin mematahkan ‘mitos’, kita juga perlu mendengarkan pandangan itu sebagai nasihat agar bijak mengambil keputusan (Amsal 12: 15).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Kita Tak Bisa Memilih untuk Lahir di Keluarga Mana, Tapi Kita Bisa Memilih Berjalan Bersama-Nya

Tuhan mengirimku untuk lahir di dunia ini, di keluarga yang dirundung konflik. Mungkin sekarang aku belum tahu apa maksud Tuhan dari semua ini, namun sekelumit kesan di hari ulang tahun ini mengingatkanku bahwa dalam perjalanan hidupku, aku disertai-Nya.

Kehendak-Nya Tidak Selalu Tentang Mauku

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Doakan aku ya biar wisuda tahun ini,” begitu isi chat dari teman seangkatanku di kampus beberapa hari yang lalu. Dia adalah satu dari beberapa temanku yang belum berhasil menyelesaikan perkuliahannya walau tahun 2020 ini merupakan tahun keenam bagi angkatan kami. Selain karena ingin segera menjadi alumni, tekanan pertanyaan dari orang tua, beban keuangan karena harus membayar uang kuliah, jenuh dengan urusan revisi, malu dengan teman-teman seangkatan bahkan adik tingkat yang sudah selesai merupakan ha-hal lain yang juga ikut mendesaknya untuk menyelesaikan kuliah.

Menyelesaikan tugas akhir merupakan salah satu hal yang sering terasa sulit bagi mahasiswa tingkat akhir. Terbatasnya dana yang dimiliki untuk melakukan penelitian, bermasalah dengan hasil penelitian, kehabisan ide untuk judul penelitian, kesulitan memperbaiki revisi adalah beberapa contoh kesusahan yang dialami. Maka tidak heran jika ada mahasiswa yang putus asa dan tidak menyelesaikannya hingga drop out dari kampus atau bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya pada masa penyusunan tugas akhir.

Sebagian kita mungkin berpikir mereka bodoh sekali. Kok seperti tidak beriman? Kan masih banyak jalan lain, tugas akhir kan bukan segalanya. Namun bagi mereka yang sudah mengusahakannya tapi tidak kunjung berhasil, menyelesaikan studi tak semudah mengomentarinya. Kita memang sebaiknya tidak menghakimi sesama (Matius 7:1-2), kita juga harus mengingat bahwa tidak semua orang memiliki persepsi dan tingkat kerentanan yang sama walaupun berhadapan dengan hal yang sama.

“Kemarin katanya ini adalah bimbingan kami yang terakhir, aku sudah mengerjakan yang diminta, namun hari ini aku diminta lagi melakukan perbaikan di bagian lain, entah apa salahku bisa lama wisuda,” keluhnya disertai emotikon sedih.

“Kerjakanlah, He knows the best for you! Mungkin ini akan menjadi revisimu yang ke 20/25,” balasku sedikit jahil.

Ya, Tuhan tahu yang terbaik bagi setiap ciptaan-Nya (Yeremia 29:11). Dari Alkitab kita melihat bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi Ayub yang mengalami sakit penyakit serta kehilangan harta dan anaknya (Ayub 42:2). Tuhan juga yang mengutus Musa dengan setiap keterbatasannya untuk rencana-Nya atas bangsa Israel (Keluaran 3:11-12). Tuhan juga tahu yang terbaik untuk memelihara kehidupan umat-Nya (Kejadian 45:5) melalui Yusuf yang dijual saudara-saudaranya menjadi budak orang Mesir. Dan kita juga tahu bagaimana Yesus, anak-Nya yang tunggal melalui Via Dolorosa untuk menggenapi rencana-Nya bagi dunia yang dikasihi-Nya (Matius 26:39). Semua menceritakan bagaimana Tuhan dapat memakai setiap hal bahkan situasi yang kita anggap paling sulit sekalipun untuk menyatakan rencana-Nya.

Percaya pada Tuhan dan setiap rencana-Nya ketika semua terasa sulit akan terdengar klise apalagi ketika kita merasa sudah mengusahakannya, namun hasil tak jua maksimal. Sudah berdoa tapi rasanya Tuhan kok semakin terasa jauh, berserah namun merasa semakin tak berdaya. Alih-alih mencoba untuk mengerti dari sudut pandang Tuhan dan percaya dengan rencana-Nya, kita mungkin akan cenderung bertanya apa yang menjadi alasan Tuhan mengizinkan hal itu menjadi bagian dari cerita kita. Kita cenderung membombardir Allah dengan deretan pertanyaan. Mengapa harus aku yang kehilangan ibu? Mengapa aku yang harus lama wisuda? Apakah Engkau peduli? Mengapa Engkau membiarkan ini terjadi? Apakah maksud dari semuanya ini? Apa yang salah denganku dan pertanyaan mengapa lainnya yang mungkin sering malah membuat kita kurang peka untuk melihat bagaimana Allah akan bekerja lewat situasi tersebut.

Hal yang sama juga ditanyakan oleh murid Tuhan Yesus ketika Ia menyembuhkan orang yang buta sejak lahir (Yohannes 9:1-7).

“Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (ayat 2) Yesus menjawab dengan “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (ayat 3). Hal ini juga tak jarang kita alami, kita mengaitkan kesulitan yang kita alami sebagai akibat dari dosa di masa lampau, layaknya hukum tabur tuai. Namun lewat kisah orang buta tersebut kita belajar bahwa tak selamanya kesulitan yang kita alami adalah upah dosa, Tuhan juga bisa memakai penderitaan yang kita alami untuk menyatakan rencana-Nya seperti kesembuhan orang buta itu (ayat 11).

Kita juga melihat bagaimana Ayub, orang yang paling saleh di dalam Alkitab (Ayub 1:1,8) yang juga menanyakan apakah maksud Allah dengan penderitaan yang dialaminya (Ayub 10), walaupun Ayub merupakan tokoh Alkitab yang seringkali dihubungkan dengan ketabahan dalam menghadapi penderitaan (Yakobus 5:11). Melalui kesembuhan yang dialami orang buta itu, para tetangganya dan juga orang farisi mendapat kesempatan untuk melihat karya Allah dan meresponnya begitu juga dengan kisah Ayub yang dipakai Allah untuk memurnikan imannya.

Demikian juga dengan temanku yang sedang tidak mengerti dengan rencana Tuhan atasnya dalam pengerjaan skripsinya. Selain membantu memberi masukan untuk penelitiannya atau sekadar menghiburnya lewat media komunikasi, aku juga berdoa semoga dia semakin mengenal Tuhan dan bergantung pada-Nya dalam setiap proses yang ia lalui (Yesaya 40:31).

Mungkin kita juga sedang mengalami situasi-situasi yang menyulitkan kita dan membuat kita kehilangan sukacita, terlebih ditengah pandemi COVID-19 ini. Ketidakpastian akan rencana mendatang, kehilangan sahabat atau orang terdekat, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi serta kesulitan lain yang kita alami mungkin sering menyurutkan iman percaya kita, seperti kapal yang dihantam badai. Namun lagi-lagi kita harus mengingat bahwa dalam badai pun Tuhan tetap bisa menyatakan rencana-Nya (Mazmur 29; Markus 4: 35- 5:1).

Untuk setiap situasi kita selalu memegang janji Tuhan, bahwa Dia sekali-kali tidak akan membiarkan kita dan sekali-kali tidak akan meninggalkan kita (Ibrani 13:5) Dia tetaplah Allah yang menjadi sumber harapan ketika menghadapi setiap hal (2 Korintus 1:3). Kiranya kita terus meminta Tuhan untuk menuntun kita agar tetap percaya padaNya dan setiap rencana-Nya yang tidak selalu tentang kehendak dan kemauan kita (Amsal 3:5)

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Ketika Penolakan Menjadi Awal Baru Relasiku dengan Tuhan

Ketika sesuatu terjadi tak sesuai mau kita, kita mungkin membombardir Tuhan dengan deretan pertanyaan kenapa. Tapi, mengapa tidak menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk melihat dari sudut pandang-Nya?

Kedamaian di Tengah Ketidakpastian

Oleh Vika Vernanda, Depok

Sebuah dokumen berisi kalender akademis baru saja dikirim oleh temanku. Salah satu poinnya menyatakan bahwa batas akhir pengumpulan tugas akhir diundur hingga akhir bulan Juli. Aku mulai menghitung waktu yang kuperlukan untuk menyelesaikan penelitian tugas akhir, hinga kudapatkan kesimpulan bahwa aku harus memulai penelitian lagi di awal bulan Mei.

Pandemi yang menjangkiti dunia dan Indonesia berdampak besar pada semua bidang, salah satunya pendidikan. Semua jenjang pendidikan melakukan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sehingga setiap siswa dan mahasiswa bisa tetap mengerjakan bagiannya untuk menuntut ilmu, namun penerapan PJJ menjadi kesulitan tersendiri bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir. Mereka yang awalnya bisa melakukan penelitian langsung di laboratorium dan di lapangan, kali ini tidak bisa melakukannya. Akibatnya penulisan tugas akhir dan waktu kelulusan jadi terhambat. Aku adalah salah seorang di antara mereka.

Pengumpulan tugas akhir yang diundur merupakan kabar baik bagi beberapa temanku, namun tidak bagiku. Penelitian untuk tugas akhirku rencananya dilakukan di rumah sakit, tapi saat ini sangat berisiko untuk pergi kesana. Pihak universitas dan rumah sakit juga tidak memberikan izin untuk melakukan penelitian. Rencana penelitianku di awal bulan Mei jadi sangat tidak mungkin kulakukan. Padahal, aku sudah merencanakan dengan rapi studiku supaya aku bisa lulus tepat waktu. Sekarang, semua rencanaku terancam berantakan. Aku sangat khawatir jika aku tidak bisa lulus tepat waktu.

Ketika aku menyampaikan kekhawatiranku pada temanku, aku teringat pada firman yang dibahas dalam kelompok tumbuh bersama yang kuikuti kemarin.

Kami membahas tentang surat Paulus bagi jemaat Filipi yang berisi tentang permintaan agar sehati sepikir dalam Kristus. Pada Filipi 4:6-7 ditulis demikian:

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

David Sanford pada bukunya Journey Through Philippians, menuliskan bahwa berdoa dalam segala sesuatu dengan ucapan syukur memberikan implikasi seperti pada ayat 7, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita. Damai ini hadir bukan karena kita memiliki kontrol, punya rencana, atau tahu jelas berbagai pilihan yang ada dalam hidup kita. Damai ini juga bukan merupakan sesuatu yang kita pikirkan dan kehendaki. Itu semua adalah kedamaian Allah— kedamaian yang terjadi bukan karena kita mengetahui semua hal dengan pasti sesuai rencana, namun ketika kita mempercayakan setiap hal kepada Allah.

Kalimat itu sangat menegurku. Aku tahu, mungkin sulit bagi kita untuk berpegang pada damai sejahtera Allah di tengah kondisi yang sangat tidak sesuai harapan. Banyak harapan dan rencana yang gagal akibat pandemi yang sedang kita alami bersama. Aku mengalaminya, dan untuk sesaat, itu menjauhkanku dari damai-Nya.

Menikmati firman ini membuatku tenang. Namun terkadang perasaan khawatir itu kembali muncul, dan ketika itu datang aku mencoba mengingat lagi bahwa Allah memegang masa depanku. Bagianku saat ini adalah tetap mengerjakan tugas akhir yang bisa dikerjakan dari rumah, dengan perasaan damai sejahtera karena mengetahui bahwa Allah bekerja. Terkait lulus tepat waktu, saat ini aku sudah lebih tenang jika bukan itu yang Allah mau; tapi aku percaya bahwa aku akan lulus pada waktu-Nya.

Pemahaman akan damai sejahtera Allah yang tidak kita dapatkan karena pengertian kita, mengingatkanku untuk tetap berdoa dan meyerahkan kekhawatiranku kepada-Nya. Maka, mari tetap berpengharapan dan menyandarkan kekuatan kita pada Allah, yang sudah menyiapkan rencana terbaik dalam hidup kita.

Untukmu yang juga sedang harap-harap cemas menanti kebijakan terkait tugas akhir, mari percaya bahwa Allah tetap bekerja. Bahwa di tengah kondisi yang terjadi, Allah tetap menjaga, dan itu membuat kita menikmati kedamaian dari-Nya. Lulus pada waktu-Nya juga adalah hal yang indah bukan?

Baca Juga:

Tuhan, Alasanku Bersukacita di Dalam Penderitaan

Habakuk dengan jujur dan berani bertanya kepada Tuhan mengapa ada jurang yang begitu lebar antara apa yang dia percayai dengan situasi yang ada di sekelilingnya. Mungkin kita pun punya pertanyaan yang sama seperti Habakuk. Apakah jawaban Tuhan terhadapnya?

Yuk baca artikel ini.

Jadilah Tuhan, Kehendak-Mu

Oleh Tetti Manullang, Bekasi

Aku seorang mahasiswa S2 jurusan Science Accounting di Yogyakarta. Iklim belajar di kampus ini jauh berbeda dengan kampus S1-ku di Jakarta, sehingga tahun pertama studi master menjadi masa tersulit dalam hidupku.

Sebelum masuk kelas, kami diharuskan untuk memahami materi kuliah terlebih dahulu untuk bisa mengikuti proses diskusi di kelas. Resume perkuliahan, presentasi, serta review artikel dari jurnal internasional menjadi santapanku setiap minggu. Oh, masih ditambah lagi dengan tugas akhir berupa proposal untuk setiap mata kuliah yang ada.

Hasil studiku di semester pertama sangat jauh di bawah harapan. Aku sudah berupaya sekuat tenaga untuk mengikuti ritme perkuliahan, tetapi tetap saja aku tertinggal dari teman-temanku. Aku merasa gagal dan kecewa. Aku takut beasiswaku dicabut, mengingat ada standar nilai minimal yang harus dicapai di tiap semester.

Keadaan ini membuatku semakin giat dan semangat untuk memperbaiki nilaiku di semester berikutnya. Tidur pagi dan kembali bangun di pagi yang sama sudah menjadi suatu hal yang biasa bagiku. Aku menghabiskan akhir pekan dengan belajar di kamar atau perpustakaan. Kadang aku juga belajar kelompok bersama teman-temanku sampai malam di kampus.

Hubungan pribadiku dengan Tuhan masih terjaga, tetapi hanya secara kuantitas. Waktu untuk saat teduh dan berdoa selalu kusediakan, tetapi hanya menjadi rutinitas yang tidak terlalu berarti. Bahkan, aku terlibat dalam pelayanan sebagai BPH di Keluarga Mahasiswa Kristen Pascasarjana di kampusku. Namun, karena tuntutan perkuliahanku yang tinggi, aku hanya mengerjakan tugasku secara teknis tanpa merasakan pertumbuhan apapun. Aku sama sekali tidak menikmati pelayananku. Pergi ke gereja menjadi prioritas terakhir kala itu, mungkin hanya 4 atau 5 kali dalam setahun. Aku tidak mau membiarkan waktu belajarku terbuang sedikitpun. Hidupku hanya didedikasikan untuk kepentingan akademis.

Memasuki semester 4, tahap pengerjaan tesis dimulai. Berkat bimbingan seminggu sekali dengan dosen pembimbingku, Pak Ertambang Nahartyo yang disapa Pak Er, proposalku selesai dengan cepat.

Pada hari Kamis yang cukup santai, pikiranku melayang pada ketiak sebelah kananku bagian bawah yang sudah sebulan ini terasa sangat pegal. Awalnya, kukira rasa pegal itu akibat aku sering membawa buku dan laptop yang cukup berat. Namun, aku mulai curiga ketiga mendapati adanya benjolan di area tersebut. Aku pun browsing untuk mencari informasi, kutemukan banyak saran untuk memeriksakan diri ke dokter onkologi. Segera aku menelepon dokter onkologi di Yogya dan membuat janji konsultasi. Jadwalnya masih dua minggu lagi. Berjaga-jaga jika bukan kabar baik yang kuterima, aku memesan tiket ke Jakarta satu hari setelah jadwal konsultasiku agar bisa ditemani keluarga selama melakukan pengobatan.

Aku menarik napas dalam-dalam. Dadaku terasa sesak dan aku menangis dengan suara keras. Sudah kucoba menutup mulut dengan kedua tanganku, tetap saja tidak terbendung. Aku merasa sangat takut. Takut menghadapi vonis dokter, takut menerima kenyataan apabila benjolan di tubuhku ini adalah tumor ganas, dan takut tidak dapat menyelesaikan studiku tepat waktu. Belum lagi, aku memiliki mimpi untuk mengajukan beasiswa pendidikan doktoral dengan syarat lulus studi master tepat waktu. Bagaimana jika kesempatan itu menjauh dariku? Kucoba mengendalikan pikiranku untuk tetap tenang dan berpikir positif.

Kamis yang kutunggu pun tiba. Aku pergi ditemani Mbak Ida, teman kosku, untuk menemui dokter onkologi. Aku di-USG, dan hasilnya menunjukkan bahwa aku mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Untuk mengetahui struktur jaringannya, aku harus segera dioperasi.

Mendengar hal itu, duniaku terasa berhenti sejenak. Aku terdiam sambil berusaha menahan tangisku. Aku dikuasai penuh oleh rasa takutku. Mbak Ida banyak menanyakan kepada dokter seputar penyakitku. Ia bertanya apakah memungkinkan bagiku untuk dioperasi tahun depan setelah lulus kuliah, mengingat posisiku kala itu yang sedang dalam masa penulisan tesis. Namun, dokter menghimbauku untuk segera dioperasi secepatnya dan jangan ditunda.

Keesokan harinya, aku ditemani Mbak Ida untuk menghadap Pak Er. Beliau menyambutku dengan semangat, tetapi aku malah terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Saya mau pamit, Pak.” Aku melanjutkan kalimatku dengan tangisan. Mbak Ida yang menjelaskan kepada beliau bahwa aku akan pulang ke Jakarta untuk berobat.

It’s okay. Pastikan kamu akan sembuh. Kalau saya mengajar di Jakarta, kita janjian bertemu di sana, ya,” respon Pak Er seperti berusaha menenangkanku.

“Semua akan lulus pada waktunya. Cepat sembuh, Tet. Yang penting sembuh, tesis bisa menyusul.”

Ketika duduk manis di kereta dalam perjalanan pulang ke Jakarta, pikiranku melayang-layang. Hati ini gelisah. Sesekali aku menarik nafas panjang karena merasa sesak di dada. Aku begitu takut akan apa yang akan kuhadapi. Aku pun berdoa untuk menenangkan diri.

“Ya, Allah, rasanya sudah terlalu lama aku melupakan-Mu. Aku merasa terlalu kuat untuk menghadapi semuanya sendiri. Aku seperti tidak membutuhkan-Mu. Aku mengandalkan kekuatanku dan menjadi allah atas hidupku sendiri.

Siapakah aku? Aku bukan siapa-siapa, memandang kasut-Mu pun aku tak layak. Aku hanya hamba-Mu yang lemah dan tak berdaya. Ampuni aku, ya Allah. Terima kasih untuk teguran-Mu, terima kasih tidak membiarkanku berjalan semakin menjauh, terima kasih atas kesetiaan-Mu.

Saat ini aku datang, untuk menyerahkan segala kekhawatiranku, segala takutku, masa depanku, harapanku, cita-citaku. Ya Allah, jika engkau tak mengizinkan aku lulus tahun ini tak mengapa, jika aku harus mengubur mimpi doktorku tak mengapa, jika hasil buruk yang harus kuterima tentang penyakitku tak mengapa. Pegang tanganku selalu, jangan biarkan aku sendiri. Kuserahkan semuanya ke dalam tangan-Mu, jadilah seturut dengan kehendak-Mu. Amin.”

Aku menyanyikan lagu NKB No. 14 “Jadilah Tuhan Kehendak-Mu’’. Lagu ini semakin meneguhkanku untuk berserah kepada-Nya.

“Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Kaulah Penjunan, ku tanahnya.
Bentuklah aku sesuka-Mu, kan ku nantikan dan berserah.

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tiliklah aku dan ujilah.
Sucikan hati, pikiranku dan di depan-Mu, ku menyembah.

Jadilah, Tuhan kehendak-Mu!
Tolong, ya Tuhan, ku yang lemah!
S’gala kuasa di tangan-Mu; jamahlah aku, sembuhkanlah!”

Setelah berdoa dan mengangkat pujian, rasanya beban dan ketakutanku hilang. Kusadari selama ini aku lupa, bahwa beasiswa yang berusaha kupertahankan dan perkuliahan yang kuperjuangkan mati-matian itu berhasil kudapatkan hanya karena kemurahan-Nya. Musim kehidupan ini Tuhan pakai untuk menarikku kembali kepada-Nya.

Aku akhirnya menjalani operasi. Puji Tuhan, tidak ditemukan keganasan! Aku dapat kembali melanjutkan perkuliahan.

Selama kurang lebih dua bulan, aku belum bisa menggunakan tangan kananku dengan normal. Untuk melakukan beberapa aktivitas sehari-hari seperti mandi, mengganti perban, mencuci, membawa tas, atau mengendarai motor, aku masih harus dibantu oleh orang-orang di sekitarku. Aku semakin tersadar akan kebaikan Tuhan yang luar biasa lewat kehadiran keluarga yang selalu menopang dan menghiburku, teman-teman yang membantuku mengejar ketertinggalan di kampus, dan Pak Er yang membimbingku dengan sepenuh hati.

Atas penyertaan dan pertolongan Tuhan, aku berhasil menyelesaikan studi masterku dalam waktu 1 tahun 11 bulan. Dialah sang pemilik hidup kita. Terpujilah Tuhan kini dan selamanya.

Baca Juga:

5 Hal yang Bertumbuh Ketika Aku Memberi Diri Melayani

Salah satu pemberian terbaik yang bisa kulakukan adalah dengan memberi diriku melayani di gereja. Aku melayani sebagai pengiring nyanyian jemaat atau pemain musik. Sambil terus melayani dan belajar firman-Nya, ada lima hal dalam diriku yang bertumbuh:

Skripsi, Garis Akhir Perjuangan Kuliah yang Kulewati Bersama Tuhan

Oleh Yuanda Hemi, Tangerang

Aku adalah seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi di Kota Tangerang. Sebelum berkuliah, aku menjadi atlet bulutangkis selama enam tahun sehingga aku masuk sekolah hanya untuk mengikuti ujian.

Perjalananku sebagai atlet bulutangkis tidak berhasil membuatku menjadi atlet papan atas sehingga aku pun memutuskan untuk kembali ke jalur akademik. Sayangnya, aku belum benar-benar mengenal potensi diriku di luar dunia bulutangkis. Hal ini membuatku memilih jurusan yang disarankan keluarga dengan pertimbangan prospek kerja yang menjanjikan di era digital, yaitu Sistem Informasi.

Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu apa yang akan kupelajari di jurusan tersebut. Beberapa orang mengatakan bahwa keputusanku merupakan langkah yang berani. Tetapi apa boleh buat, jurusan Psikologi yang lebih menarik minatku tidak mendapatkan persetujuan orang tua.

Di masa awal perkuliahan, aku optimis bahwa aku akan bertahan dalam jurusan ini seiring berjalannya waktu. Aku berprinsip kuat untuk memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin, agar dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan belajar sungguh-sungguh dan dengan bantuan dari teman-teman, aku mampu melewati semua mata kuliah yang ada hingga tiba waktunya bagiku untuk membuat skripsi.

Proses menentukan judul dan membuat proposal berlangsung sangat lancar. Perjuangan yang sebenarnya dimulai ketika aku mulai mengerjakan skripsi itu sendiri. Ada saat-saat di mana aku merasa yakin dapat menyelesaikan semuanya tepat pada waktunya, tetapi ada kalanya juga aku merasa tidak sanggup melewati rintangan-rintangan yang ada. Aku mengerjakan skripsiku setiap hari dan rutin mengikuti bimbingan di luar jam kelas delapan SKS mata kuliah yang mengulang. Karena stres berlebihan dan tidak nafsu makan, berat badanku turun sebanyak enam kilogram dalam dua minggu.

Di tengah-tengah masa sulit itu, aku menemukan vlog dari Acha Sinaga yang muncul di beranda YouTube. Acha dan Andy Ambarita, suaminya, mengajak kita untuk senantiasa mengandalkan Tuhan apapun yang terjadi. Menonton video tersebut membuatku merasa dikuatkan kembali.

Sampailah pada hari pra-sidang, aku menerima pengumuman yang tidak siap kudengar dari salah satu dosenku.

“Kalau saya boleh jujur, skripsimu tidak layak untuk maju sidang.”

Aku tertegun, terdiam, sedih, dan bingung. Apakah aku harus menunggu lagi? Ataukah lebih baik bagiku untuk tetap maju dan mencoba, tentunya dengan kemungkinan terburuk yaitu ‘dibantai’ saat sidang dan akhirnya gagal? Beberapa temanku menyarankanku untuk maju sidang, karena ada kemungkinan bahwa aku akan diuji oleh dosen lain. Hatiku bergejolak. Aku tidak siap menerima tekanan, apalagi menghadapi kegagalan.

Aku menceritakan semuanya kepada mamaku. Di tengah-tengah pergumulanku, aku membulatkan tekadku untuk tetap maju sidang.

“Ma, aku mau berjuang. Aku mau mencoba. Aku percaya aku pasti lulus kalau itu memang rencana Tuhan, dan tidak ada seorangpun yang bisa menggagalkan.”

“Percaya dan berdoa saja, Nak. Tugasmu adalah melakukan yang terbaik, biar Tuhan yang membantu dan melancarkan.”

Aku merevisi setiap bagian yang diminta oleh dosen pembimbingku serta melengkapi semua berkas yang diminta sehingga aku dapat mengumpulkan skripsiku tepat waktu. Dalam keadaan yang masih penuh tekanan, aku meminta Tuhan untuk menjauhkanku dari dosen-dosen killer yang menurutku dapat menghambat kelulusanku. Sekarang aku baru tersadar, seharusnya aku meminta kekuatan dan kesiapan dari Tuhan untuk menghadapi siapapun dosen pengujinya.

Puji Tuhan, aku dinyatakan layak sidang! Namun, saat sidang aku tidak dinyatakan lulus, tidak juga dinyatakan tidak lulus, dan tidak pula diminta untuk sidang ulang. Keputusannya menggantung, dan aku harus merevisi hampir satu buku. Inilah masa-masa terberat dalam perkuliahanku—bertahan saat aku merasa tidak sanggup lagi, nyaris menyerah namun tak ingin mengulang.

Yang membuat perjuanganku semakin berat adalah fokusku yang tidak terpusat pada skripsi. Aku harus membagi waktu antara menyelesaikan revisi, mencari tanda tangan dari dosen penguji, mengurus bisnis, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan bulutangkis yang diselenggarakan dua minggu setelah sidang. Aku bersyukur Tuhan memberikanku tanggal sidang lebih awal dari teman-temanku, sehingga aku banyak mendapatkan bantuan mereka baik dalam mengerjakan revisi maupun dalam hal mental support.

Setiap harinya, aku beroleh kekuatan dari Tuhan melalui doa. Aku percaya bahwa Tuhan punya rencana yang terbaik untukku. Tuhan sendiri yang akan menguatkanku dalam melewati semua proses kelulusanku, dan Ia juga yang akan menggerakkan hati para dosen penguji. Tiga belas hari kulalui dengan penuh tangis, dan Tuhan memberiku kejutan di hari ke-14: aku mendapatkan tanda tangan dari ketiga dosen pengujiku. Aku lulus!

Sungguh indah rancangan Tuhan dalam hidupku, dan tentunya dalam hidup teman-teman semua. Ya, aku sempat merasa takut dan tidak percaya diri ketika mendengar pernyataan dari dosenku. Tetapi, aku bersyukur Tuhan menyertaiku dalam melewati setiap proses penyusunan skripsi. Ketika keadaan di depanku terasa menakutkan, aku hanya bisa bersandar pada karakter Tuhan. Ia adalah Bapa yang baik, yang sudah merancangkan masa depanku dengan luar biasa, lebih daripada apa yang aku pikirkan. Dalam Pengkhotbah 3:11 dikatakan bahwa, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Aku percaya, Tuhan memakai proses yang kualami dalam sidang skripsi untuk menguatkan teman-teman yang mengalami pergumulan yang sama. Puji Tuhan, aku sudah diwisuda pada 20 Juni 2019 yang lalu. Semua karena kasih karunia Tuhan semata, dan biarlah semua kemuliaan hanya bagi-Nya!

Baca Juga:

Yesus Kristus dan Celana Kolor

“Judul ini mungkin terasa aneh. Rasanya kok tidak sopan. Sepertinya kurang elok kalau menyandangkan Yesus Kristus dengan celana kolor.

Tetapi judul ini bukannya tanpa alasan. Inilah ceritanya:”

Bukan Cuma Soal Nilai, Inilah yang Kupelajari dari Proses Skripsiku yang Panjang

Oleh Ellen Vanesa, Sukoharjo

Sejak aku kecil, ibuku selalu mengajariku untuk menjadi yang “terbaik” di antara yang terbaik. Aku diminta untuk mendapat nilai ulangan minimal 90, tidak boleh kurang. Kalau nilaiku lebih rendah dari teman-teman yang lain, aku pasti akan dimarahi hingga terkadang aku pun takut untuk pulang ke rumah.

Seiring waktu berjalan, prinsip yang diajarkan oleh ibuku itu tertanam kuat hingga aku tumbuh menjadi seorang pemudi. “Aku harus mendapat nilai 100 atau IPK 4,00!” aku menanamkan hal ini dalam hatiku. Di satu sisi, obsesi untuk mendapat nilai sempurna itu merupakan motivasi supaya aku melakukan sesuatu sebaik-baiknya. Tapi, di sisi lain, aku jadi seorang yang mudah putus asa ketika melihat orang lain lebih berhasil dariku.

Satu peristiwa yang menegurku

Saat aku kuliah di semester-semester awal, aku mendapatkan IPK yang cukup memuaskan, di atas 3,5. Ketika pengambilan Kartu Hasil Studi (KHS), di sana juga terdapat KHS temanku yang lain. Kalau KHS temanku yang kulihat itu nilainya lebih rendah dariku, aku akan tersenyum dan berpuas diri. Tapi, kalau yang kulihat adalah KHS dengan nilai yang lebih tinggi dari nilaiku, aku akan merasa kecewa dan iri serta bertanya-tanya, “Kenapa ya nilaiku tidak bisa lebih tinggi daripada dia?”

Ketika masa-masa mengerjakan skripsi berlangsung, banyak temanku yang sudah lebih dulu seminar dan ujian. Aku merasa depresi, tertekan, dan gagal karena apa yang kulakukan hasilnya tidak sesuai dengan harapanku. Nilai-nilai yang kuraih pada semester sebelumnya tidak cukup tinggi daripada teman-temanku yang lain, sehingga ujian skripsiku pun tertunda. Selain itu, aku pun masih harus menyelesaikan beberapa revisi di skripsiku.

Buat teman-temanku yang lain, apa yang kualami mungkin sudah biasa terjadi bagi mereka. Bahkan, ada teman-temanku yang nilai di KHSnya lebih rendah dariku tetapi mereka tetap bersyukur dan menerima hasil tersebut. Sedangkan aku, tidak ada satupun hal yang dapat kusyukuri. Yang kulakukan hanyalah mengeluh dan mengeluh.

Selama beberapa minggu aku pun terpuruk. Aku bertanya pada Tuhan, “Mengapa hal ini terjadi padaku, Tuhan?” Aku berusaha menyegarkan pikiranku. Aku coba bermain game, hangout, dan tidak memikirkan skripsiku. Tapi, semuanya itu tidak benar-benar menghiburku. Aku mungkin bisa tertawa, tapi pikiranku tetap tertuju kepada skripsiku.

Hingga suatu ketika, aku datang ke persekutuan remaja dan pemuda di salah satu gereja di kota Solo. Biasanya setiap hari Sabtu aku memang selalu mengikuti acara ini. Tapi, hari itu sesuatu yang besar terjadi kepadaku. Kakak pembinaku membahas renungan tentang “Jaminan Kemenangan” dengan berlandaskan ayat dari 1 Korintus 10:13 yang isinya berbunyi:

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikanmu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Aku merasa tertampar mendengar ayat ini. Pencobaan-pencobaan yang aku alami ini merupakan pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatanku, lalu mengapa aku harus takut? Mengapa aku harus depresi? Aku pun menangis. Aku sadar akan kesalahanku dan meminta ampun pada Tuhan dengan berdoa.

Dalam doaku, aku mengakui bahwa aku lebih sering mengeluh daripada bersyukur. Aku lebih sering mengandalkan diriku sendiri daripada Tuhan. Aku percaya bahwa masalah yang kualami saat ini Tuhan izinkan terjadi bukan untuk mencelakakanku, tetapi untuk membentuk diriku. Aku pun belajar untuk mengubah pola pikirku. Jika sebelumnya aku mengeluh, merasa lelah dengan segala revisi, dan kecewa karena ujian skripsiku yang lebih lama daripada teman-temanku, sekarang aku mau belajar memahami bahwa proses panjang ini diizinkan Tuhan supaya aku menghasilkan skripsi yang lebih baik dan belajar untuk lebih bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupku. Sebelum aku menutup doaku, aku pun memohon kekuatan dan ketenangan dari Tuhan supaya aku bisa mempercayai-Nya seutuhnya.

Puji Tuhan, setelah berdoa, hatiku sungguh terasa plong dan pikiranku tenang. Di sinilah aku mulai bisa tersenyum kembali. Perlahan-lahan, aku mengumpulkan semangatku. Aku lebih tekun dan sabar untuk mencari setiap penyelesaian dari revisi-revisi yang dosenku ajukan. Skripsiku tidak tuntas dalam sekejap, tetapi puji Tuhan selama beberapa waktu, akhirnya skripsiku itu selesai. Saat ini skripsiku sudah mendapatkan “ACC” dari satu dosen pembimbingku. Aku masih butuh “ACC” dari satu dosen lainnya. Ketika revisi datang, aku sudah tidak lagi mengeluh. Malah, aku mengerjakan revisi-revisi itu dengan enjoy. Aku tidak lagi memandang skripsiku sebagai kegagalan, tetapi sebagai sarana untukku belajar bersyukur.

Tuhan mengizinkan masalah-masalah terjadi untuk memproses kita

Aku pernah menonton sebuah video motivasi di Youtube. Video itu bertutur bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri. Ada yang lulus kuliah di usia 22, ada pula yang di usia 25. Ada yang sehabis lulus langsung mendapat kerja, ada pula yang menganggur beberapa waktu. Ada yang sudah mendapat kerja, tapi dia tak bisa menikmati pekerjaannya.

Makna kehidupan ini tidak ditentukan dari cepat lambatnya seseorang dalam berproses. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk meraih kesuksesannya. Aku ingat kisah Thomas Alva Edison. Dia gagal sebanyak 999 kali sebelum akhirnya sukses menemukan penemuan bola lampu yang mengubah dunia. Aku merasa dikuatkan. Ya, aku percaya setiap orang punya waktunya sendiri. Tugasku adalah menikmati prosesnya dan tidak perlu iri atas pencapaian orang lain.

Aku percaya Tuhan akan memberikan jalan keluar atas permasalahan yang kita hadapi. Mungkin jalan keluar itu tidak berupa keadaan yang berubah 180 derajat. Tapi, seperti yang kualami, Tuhan bisa saja memakai hal-hal kecil untuk mengubah cara kita memandang suatu masalah. Lewat firman Tuhan di gereja, lewat video motivasi di YouTube, aku percaya itulah cara Tuhan menegur dan memberiku jalan keluar untuk tidak lagi memandang kegagalanku sebagai sebuah masalah yang begitu besar, melainkan sebagai sarana Tuhan membentuk diriku.

Tuhan bisa saja membuat perjalanan hidup kita selalu lancar. Tapi, melalui masalah yang terjadi, Tuhan ingin kita dibentuk menjadi pribadi yang lebih sabar, tekun, dan mampu memandang sesuatu dari sudut pandang-Nya.

Sekecil apapun masalah kita, bawalah itu ke dalam doa. Tuhan pasti mendengar dan menjawabnya sesuai waktu-Nya. Kiranya sharing dariku ini boleh menguatkan teman-teman untuk terus bersyukur dan percaya kepada Tuhan.

Baca Juga:

Ketika Aku Hampir Terjebak ke dalam Dosa Hawa Nafsu

Aku pernah membiarkan diriku berada dalam kondisi berduaan saja dengan lawan jenisku, hingga suatu ketika hal yang di luar ekspektasiku pun terjadi dan aku hampir saja terjerat ke dalam dosa hawa nafsu.

Pergumulanku Melawan Rasa Iri Hati

Oleh Peregrinus Roland Effendi, Cilacap

Apa yang kamu pikirkan jika kamu melihat temanmu lebih berhasil daripada dirimu? Mungkin jawabannya ada dua; kamu ikut berbahagia bersama temanmu dan termotivasi untuk berusaha lebih, atau kamu justru merasa iri hati dan curiga.

Siang hari itu, ketika aku sedang mengumpulkan berkas revisi skripsiku di ruangan dosen, aku tak sengaja melihat papan pengumuman jadwal ujian skripsi. Kebetulan, letak papan pengumuman itu tidak jauh dari ruangan dosen. Ketika aku mengamati tulisan-tulisan di sana, perhatianku tertuju pada nama seorang temanku yang ternyata akan segera melaksanakan ujian skripsi.

Setahuku, temanku itu baru empat bulan lalu memulai proses pengerjaan skripsinya. Namun, sangat mengherankan buatku karena dia sudah menyelesaikan skripsinya dan siap untuk mengikuti ujian. Dalam hatiku mulai timbul rasa iri hati dan marah melihat keberhasilan temanku itu. Aku merasa bahwa Tuhan seolah berlaku tidak adil terhadapku. Sudah lebih dari satu tahun aku berkutat dengan skripsiku, berusaha dengan tekun mengerjakannya, namun tak kunjung selesai. Selalu saja ada revisi demi revisi dan hambatan lain yang membuat skripsiku terasa begitu sulit untuk dikerjakan. Namun, temanku hanya dalam empat bulan bisa menyelesaikan skripisnya.

Melihat pencapaian temanku yang seolah tampak lebih berhasil itu membuatku curiga dan berprasangka buruk terhadapnya. Aku menebak-nebak bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan skripsinya begitu cepat. “Ah, dia sih dapat dosennya bukan killer. Topik penelitian dia gampang sih, jadi cepat.” pikirku dalam hati.

Sebenarnya, pada tahun 2016 aku sudah memulai proses pengerjaan skripsiku. Aku mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh kampus, mulai dari mencari topik penelitian hingga menentukan dosen pembimbing. Namun, perjalananku tidak mulus. Berkali-kali judulku ditolak, juga aku sempat dipindah ke dosen pembimbing yang lain. Kuakui bahwa aku bukanlah tipe seorang yang gigih dan cermat dalam mengatur waktu. Ketika kendala yang datang seolah tak kunjung usai, aku sempat merasa down hingga akhirnya membuat pengerjaan skripsiku sempat terbengkalai.

Malam itu aku mencoba untuk merenung, berdoa, dan membaca bacaan saat teduh. Di sini Tuhan menunjukkanku sebuah ayat:

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yakobus 3:16).

Ayat ini menamparku. Rasa iri hatiku pada dasarnya adalah perasaan yang jahat. Ketika aku memelihara rasa iri hati, aku merasa bahwa aku sedang membuka pintu bagi Iblis untuk masuk ke dalam kehidupanku. Lalu, iri hati kepada temanku yang maju ujian lebih dulu juga tidak akan membuat skripsiku tiba-tiba selesai. Yang seharusnya kulakukan adalah melepaskan iri hati itu, mengintrospeksi diri, dan menerima dengan lapang dada pencapaian yang telah diraih olehku sendiri.

Namun, meski aku sudah merasa tertegur dan tahu akan kebenaran bahwa iri hati adalah jahat, pikiranku masih bertanya-tanya mengapa temanku bisa begitu cepat dan begitu lama? Di tengah lamunanku, Tuhan kembali menegurku melalui ayat-ayat yang terlintas di benakku. “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Matius 20:15). “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8).

Kedua ayat ini kembali menamparku dan membuatku menyadari bahwa selama ini aku terlalu memaksakan ego dan kehendakku sendiri. Akhirnya malam itu aku memutuskan untuk membuat komitmen dengan Tuhan dan diriku sendiri. Aku mau belajar untuk tidak membandingkan-bandingkan diriku dengan orang lain, melainkan aku mau belajar bersyukur akan setiap tahap dan proses yang dapat aku lalui. Aku juga mau belajar untuk percaya, bahwa Tuhan memiliki rencana dan rancangan yang terbaik untuk masa depanku, janji-Nya selalu tepat pada waktu-Nya. Aku juga mau bersungguh-sungguh dalam mengerjakan skripsiku dan melakukan manajemen waktu dengan baik.

Sejak saat itu, alih-alih berprasangka buruk kepada temanku, aku menjadikan pencapaian temanku itu sebagai sebuah tamparan buatku sendiri. Aku mengintrospeksi apakah ada yang salah dari proses yang kulakukan dan bagaimana aku memperbaikinya. Kemudian, aku mulai menyusun strategi manajemen waktu dan juga mengucap syukur atas pencapaian yang telah diraih olehku sendiri. Setelah beberapa bulan, puji Tuhan karena saat ini proses pengerjaan skripsiku telah mengalami banyak kemajuan. Aku sedang menyelesaikan bab terakhir dan sedikit lagi siap untuk mengikuti ujian kelulusan.

Melalui tulisan ini aku ingin berbagi bahwa iri hati adalah kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita melihat pencapaian orang lain yang tampaknya lebih berhasil daripada kita, mudah bagi kita untuk merasa iri dan kecewa. Namun, sebagai anak Tuhan, kita bisa memilih apakah kita mau memelihara atau menolak rasa iri hati itu. Ketika kita memelihara rasa iri hati, itu berarti kita sedang mengundang Iblis untuk masuk dan menguasai kehidupan kita. Akan tetapi, ketika kita menolak iri hati, itu berarti kita sedang mengundang Tuhan untuk berkarya dan berdaulat dalam kehidupan kita.

“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Amsal 14:30).

Baca Juga:

Satu Hal yang Kulupakan Ketika Semua Impianku Tidak Terwujud

Setiap orang boleh memiliki keinginan dan cita-cita. Tetapi, pada kenyataannya, terlepas dari sekeras apapun upaya kita untuk mewujudkannya, tidak semua yang kita harapkan bisa terjadi sesuai keinginan kita. Inilah realita kehidupan. Pernahkah kamu mengalaminya? Aku pernah.

Pelajaran Berharga dari Skripsi yang Tak Kunjung Usai

Oleh Elleta Terti Gianina, Yogyakarta

Ketika aku masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, aku menganggap skripsi sebagai momok yang begitu menakutkan. Tatkala teman-teman seangkatanku begitu bersemangat untuk segera lulus, aku malah membiarkan waktuku selama satu semester pertama terbuang percuma tanpa hasil apapun.

Waktu itu, di samping kuliah aku juga bekerja sebagai seorang copywriter di sebuah agensi iklan. Jam kerja yang padat setiap harinya membuatku tak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan skripsiku. Selain itu, masalah lain karena aku putus dari pacarku pun turut memperburuk keadaan. Aku jadi larut dalam kesedihan dan sibuk mencari pelarian bersama teman-temanku. Ketika ada waktu senggang, bukannya menyelesaikan skripsi, aku pergi pelayanan dengan mengajar anak-anak desa di Gunungkidul atau jalan-jalan bersama teman-temanku.

Keadaan itu berlangsung selama beberapa bulan hingga akhirnya aku sadar bahwa skripsiku yang tak kunjung usai ini menyedihkan hati keluargaku. Kedua orangtuaku ingin aku segera lulus. Selain itu, karena skripsiku yang tak kunjung usai, teman-temanku memintaku untuk berhenti mengajar anak-anak di Gunungkidul. Kata mereka, aku harus fokus terhadap tanggung jawabku untuk menuntaskan skripisku terlebih dahulu. Teguran ini membuatku sadar bahwa apa yang kulakukan selama ini bukanlah sesuatu yang terbaik untukku.

Akhirnya, saat kuliahku memasuki semester ke-9, aku mulai menjalani bimbingan skripsi. Setiap kali usai bertemu dosen, aku membawa begitu banyak berkas revisi dan mengerjakannya di kafe dekat kampus. Revisi demi revisi itu membuatku ingin menangis dan aku pun mengeluh pada Tuhan. “Tuhan, kenapa gini sih. Aku capek. Kok skripsi aja harus kayak gini, banyak dramanya.”

Suatu ketika, saat aku sedang mengerjakan skripsi, secara tidak sengaja ponselku memutar lagu “Semua Baik”. Ketikan jari-jariku di keyboard terhenti sejenak. Penggalan lirik lagu ini membuatku merenung.

Dari semula telah Kau tetapkan
Hidupku dalam tangan-Mu, dalam rencana-Mu Tuhan
Rencana indah telah Kau siapkan
Bagi masa depanku yang penuh harapan

Lagu ini menegurku. Selama ini aku hanya mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi tiap masalah yang kualami. Aku lupa bahwa Tuhan sesungguhnya menjanjikan masa depan yang penuh harapan buatku, seperti firman-Nya yang berkata bahwa Dia merancangkan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11). Hanya saja, aku tidak mau mempercayai-Nya dan memilih caraku sendiri.

Sepulang dari kafe, aku berdoa pada Tuhan, memohon supaya Dia boleh menyertai dan memberkati proses pengerjaan skripsiku. Aku sadar bahwa doaku hanya akan jadi pepesan kosong jika aku tidak melakukan langkah nyata. Jadi, sejak saat itu aku mulai menyusun strategi membagi waktu antara pekerjaan, pelayanan, dan skripsiku. Setiap harinya aku tetap harus bekerja hingga jam 10 malam. Kemudian, mulai jam 11 malam hingga subuh, aku akan mengerjakan skripsi. Aktivitas ini memang membuat tenagaku terkuras. Namun, aku berdoa dan percaya bahwa Tuhan yang akan memberiku kekuatan untuk menyelesaikan semua ini. Ketika aku merasa lelah, aku mengingat apa yang pemazmur tuliskan: “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang” (Mazmur 37:5-6).

Akhirnya, setelah beberapa bulan berlalu, di semester ke-10 Tuhan menganugerahiku hasil yang memuaskan. Skripsiku selesai dan setelah menempuh ujian aku pun dinyatakan lulus sebagai seorang sarjana. Aku begitu bersyukur karena pertolongan Tuhan datang tepat pada waktunya.

Dari pengalamanku bergumul dengan skripsi, ada pelajaran berharga yang aku ingin bagikan kepada teman-teman. Ketika masalah menghampiri kita, yang harus kita lakukan bukanlah mengandalkan diri sendiri, tetapi andalkanlah Tuhan. Hanya bersama Tuhan sajalah kita mampu melewati setiap rintangan dan tantangan dalam hidup ini. Firman Tuhan dalam Yeremia 17:5 berkata: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan.”

Apakah hari ini kamu sedang bergumul karena skripsi atau masalahmu yang lain seolah tak kunjung usai? Berdoalah kepada-Nya, janganlah putus semangat, dan tetap lakukan bagianmu dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:

5 Hal Tentang Masturbasi yang Perlu Kamu Ketahui

Aku pernah terjerat dalam dosa seksual berupa masturbasi. Waktu aku masih kecil, tanganku tidak sengaja menyentuh bagian vital tubuhku dan sejak saat itu aku merasa ketagihan. Namun, Tuhan menyadarkanku bahwa perilaku ini adalah dosa. Seiring dengan perjalananku untuk pulih, inilah 5 hal yang ingin aku bagikan kepadamu.

Ketika Aku Berjuang untuk Jujur, Meski Harus Kehilangan Impianku

ketika-aku-berjuang-untuk-jujur-meski-harus-kehilangan-impianku

Oleh Christina Kurniawan, Bandung

Ketika memasuki dunia perkuliahan dulu, aku bersyukur karena bisa melaluinya dengan baik. Di semester pertama aku mendapat nilai A untuk semua mata kuliah sehingga aku meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 4.00. Di semester-semester selanjutnya aku sempat mengalami penurunan IPK, tetapi puji Tuhan karena aku masih boleh mendapatkan IPK di atas 3.50.

Semua berjalan dengan lancar dan tidak ada satu pun mata kuliah yang harus aku ulang. Tapi semua berubah ketika aku harus menyusun tugas akhir.

Sebagai seorang mahasiswa jurusan psikologi, tugas akhir yang harus kuselesaikan itu terdiri dari dua tahapan. Pertama adalah usulan penelitian, kedua adalah skripsi. Di tahap pertama aku harus menyusun bab 1 sampai 3, sedangkan di tahapan skripsi aku harus menyusun bab 4 dan 5.

Di tahap pertama aku mengalami kesulitan. Seharusnya tahap pertama ini selesai dalam waktu satu semester saja, tetapi aku butuh waktu empat semester! Sekitar dua tahun kuhabiskan hanya untuk berkutat di bab satu sampai tiga.

Berulang kali aku harus merombak isi bab pertamaku karena ternyata masalah yang ada di lapangan itu tidak relevan dengan judul penelitan yang aku ambil. Sulit bagiku untuk memahami apa yang diinginkan oleh dosen pembimbing, sehingga ini juga menjadi salah satu hambatan di balik lamanya proses bab satu itu. Lalu, waktuku pun terbatas karena aku melakukan penelitian ini di sebuah sekolah. Kalau sekolah itu sedang libur atau ujian, tentu penelitian itu tidak bisa kulakukan.

Setelah berkutat selama empat semester, akhirnya aku bisa melanjutkan ke tahap kedua, yaitu skripsi.

Saat aku merasa putus asa

Ternyata proses penyusunan skripsi ini juga tidak selalu berjalan mulus. Ada saja hal yang membuatku merasa putus asa dan tidak tahu harus bagaimana. Aku pikir skripsi ini akan lebih mudah karena tinggal menyusun hasil temuan data. Tapi, ternyata hasil temuan dataku bermasalah.

Metode penelitian yang kugunakan ternyata kurang lengkap sehingga aku tidak mendapatkan data yang maksimal. Lambat laun aku mulai merasa jenuh karena proses skripsi ini tidak kunjung selesai. Aku harus pergi bolak-balik menemui dosen pembimbingku yang lokasi rumahnya cukup jauh, bahkan sering juga dosenku itu lupa kalau ada jadwal pertemuan denganku.

Aku bertambah bingung ketika teman-temanku sering berkomentar, “Kok lama amat sih ga beres-beres, padahal IPK kamu kan lumayan.” Aku hanya bisa tertawa ketika teman-teman berkata seperti itu walau di dalam hatiku komentar itu terasa “menusuk”. Di tengah frustrasiku, ayahku bahkan sempat memintaku untuk “memberi amplop” pada dosen pembimbingku supaya proses skripsiku bisa dipermudah. Namun aku menolak usulan ayahku itu.

Di tengah kebingungan itu teman-temanku memberi saran untuk memanipulasi data. Si A dan si B juga dimanipulasi sedikit datanya supaya bisa cepat lulus. “Udahlah, zaman sekarang mah gak usah terlalu suci, susah kalau gitu mah, ya diubah sedikit hasil penelitiannya mah ga apa-apa dong,” kata teman-temanku.

Aku merasa malu, aku merasa percuma saja mendapatkan IPK tinggi tetapi tidak bisa lulus tepat waktu dan mendapatkan predikat cum laude. Aku menganggap cum laude itu sebagai sesuatu yang nantinya bisa aku banggakan. Aku senang jika ada orang-orang yang memujiku dan menganggapku hebat. Walaupun ketika dipuji aku tetap berusaha rendah hati, tapi harus kuakui kalau ada perasaan bangga dan aku ingin supaya orang-orang menilaiku sebagai orang yang berprestasi.

Hal-hal itulah yang membuatku berpikir kalau dengan meraih predikat cum laude maka aku akan “terkenal”, apalagi saat wisuda nanti ada ribuan orang yang hadir, termasuk juga para orang tua mahasiswa. Aku ingin mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari lingkungan sekitarku kalau aku adalah mahasiswa berprestasi.

Tantangan untuk berlaku jujur

Sejujurnya, perkataan teman-temanku itu sempat membuatku berpikir. “Apa iya aku harus sedikit curang supaya bisa lulus?” Aku merasa sangat bingung waktu itu, apalagi untuk mendapatkan predikat cum laude itu pun ada batasan masa kuliahnya. Aku benar-benar menghadapi dilema saat itu.

Ketika menghadapi dilema ini aku hanya bisa terus berdoa. Aku menceritakan segala keluh kesahku kepada Tuhan dan meminta hikmat tentang apa yang harus aku lakukan. Aku juga bersyukur karena mempunyai teman yang selalu mendukung dan menguatkan aku. Dia cukup sering memantau kemajuan tugas akhirku dan berusaha menyemangatiku.

Salah satu ayat yang menguatkan aku adalah “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5 : 37). Ayat ini menantang aku sekaligus mengingatkan aku untuk tetap berlaku jujur dan setia. Tuhan tidak berjanji kalau jalan yang harus kita lalui adalah jalan yang mulus, tetapi Tuhan menjanjikan kekuatan bagi orang-orang yang berharap padaNya.

Aku bersyukur walaupun dengan perjuangan yang berat sampai kadang aku pun menangis, Tuhan masih menjagaku sehingga aku bisa tetap jujur dalam menyusun skripsiku. Aku mencoba untuk menikmati proses penyelesaian skripsi itu. Sekalipun predikat cum laude gagal aku raih karena aku butuh waktu lebih lama, tapi aku mengucap syukur karena aku bisa lulus dengan jujur dan tanpa memanipulasi data.

Memang waktu studi yang harus kutempuh tidak sebentar. Total enam tahun harus kutempuh untuk mendapatkan gelar sebagai sarjana psikologi. Kadang aku merasa sedih, kecewa, kesal, merasa percuma saja punya IPK tinggi tapi tidak berhasil meraih cum laude hanya karena terhambat di tugas akhir. Tapi, lewat proses ini aku merasa Tuhan tidak ingin aku menyombongkan diri lewat semua nilai yang sudah kuperoleh.

Tuhan ingin mengasah kesetiaanku untuk tetap hidup benar di hadapan-Nya walaupun jalan yang kulalui seringkali banyak kerikil-kerikil yang menghambat.

Baca Juga:

Haruskah Aku Pindah Gereja?

Aku pernah bergumul tentang di gereja mana seharusnya aku bertumbuh dan melayani. Sekalipun aku sudah memiliki gereja tetap, tetapi aku merasa lebih bertumbuh di gereja sahabatku. Aku berada dalam sebuah dilema.