5 Hal yang Bertumbuh Ketika Aku Memberi Diri Melayani

Info

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Aku pernah merasa tidak layak untuk melayani Tuhan karena dosa-dosaku. Namun, aku bersyukur karena Yesus telah mati untuk menebus dosa-dosaku dan bangkit untuk memberiku jaminan akan hidup kekal. Ketika segala dosaku telah diampuni-Nya, aku rindu untuk memberikan yang terbaik sebagai ungkapan syukurku.

Salah satu pemberian terbaik yang bisa kulakukan adalah dengan memberi diriku melayani di gereja. Aku melayani sebagai pengiring nyanyian jemaat atau pemain musik. Sambil terus melayani dan belajar firman-Nya, ada lima hal dalam diriku yang bertumbuh:

1. Aku bertumbuh di dalam sukacita

Awalnya sulit bagiku untuk duduk di hadapan jemaat sambil mengiringi sejumlah nyanyian. Aku merasa kemampuanku tidaklah sehebat teman-teman pengiring lainnya. Akan tetapi, lewat seorang temanku, Tuhan menegurku bahwa yang dicari oleh-Nya bukanlah performa, melainkan sikap hati yang mau sungguh-sungguh melayani.

Lambat laun, saat aku menyadari hal itu, aku bisa merasakan sukacita dalam pelayananku. Aku melayani bukan untuk mendapatkan pengakuan dari manusia, melainkan untuk menyenangkan hati Tuhan. Dan, Tuhan mau aku melayani dengan bersukacita, sebab Dia sendirilah yang melayakkanku dengan sukacita.

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4).

2. Aku bertumbuh dalam kerendahan hati

Para murid pernah bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Dalam pelayanan, pertengkaran seperti itu seringkali tidak terelakkan. Kita merasa telah melakukan sesuatu hingga kita pun berpikir kita layak untuk memperoleh imbalan.

Aku belajar untuk merendahkan hatiku dalam melayani. Kuakui itu sulit. Saat jemaat melihat pelayananku baik, iringan musikku disukai, terkadang aku tergoda untuk merasa bangga dan menganggap semuanya itu layak kudapatkan karena usahaku sendiri. Aku lupa bahwa segala pujian dan kemuliaan hanyalah bagi Tuhan.

Yakobus 4:6 berkata, “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Sekarang aku berfokus kepada Sang Raja yan kulayani. Tuhan Yesus telah menjadi teladan yang sempurna dalam melayani. Dia mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba yang taat sampai mati di kayu salib. Seorang pelayan yang rendah hati disukai Tuhan.

3. Aku bertumbuh dalam ketulusan

Memberi diri melayani adalah sesuatu yang mulia. Tapi, kadang di balik pelayanan kita ada motivasi lain yang menyertainya.

Melayani Tuhan sejatinya memberikan yang terbaik bagi Tuhan, entah kita mendapatkan upah atau tidak. Namun, satu hal yang pasti adalah dalam melayani-Nya, Tuhan selalu mencukupkan segala kebutuhan kita. Bukan banyak sedikit pelayanan yang kita lakukan yang Tuhan lihat, tetapi Tuhan melihat ketulusan hati kita.

Di awal pelayananku di gereja, aku mendapatkan upah sebagai apresiasi dari jemaat. Namun kemudian aku bertekad untuk tidak menerimanya. Dengan sukacita aku mengembalikan upah itu sebagai ungkapan syukurku. Setiap kali aku mengingat pengorbanan Kristus dan memandang pada salib, aku merasa tidak pantas untuk diupah dalam pelayanan.

4. Aku bertumbuh dalam kesabaran

Aku pernah dikritik oleh seorang anggota jemaat. Katanya iringan musik yang kumainkan tidak bagus. Selain itu tata ibadah atau liturgi yang kuatur untuk kebaktian hari Minggu juga tak luput dari kritikan. Jujur, aku sempat berkecil hati dan patah semangat. Aku merasa pelayananku tidak dihargai, padahal aku sudah latihan berkali-kali dan melakukan persiapan yang maksimal.

Tapi, apa yang kualami itu benar-benar membentuk karakterku untuk bersabar dalam pelayanan. Aku butuh waktu yang lama untuk belajar memahami kritikan-kritikan dari anggota jemaat. Aku merenungkan setiap kata yang kuterima, hingga suatu hari aku ingat akan kisah pelayanan Yesus yang pernah ditolak di tempat asalnya, di Nazaret di saat Dia mengajar dalam rumah ibadat (Matius 13:53-58; Markus 6:1-6; Lukas 4:16-30).

Yesus pernah ditolak dan tidak dihargai, tetapi Yesus tetap bersemangat melanjutkn pelayanan-Nya. Aku pun harus tetap bersemangat dan bersukacita melanjutkan pelayananku. Aku tidak perlu sakit hati ketika ada orang yang mengkritikku, sebab tujuan pelayananku adalah untuk Tuhan. Kritik itu menjadi pendorongku untuk mengintrospeksi diri dan meningkatkan kemampuan bermain musikku. Aku berlatih lebih tekun lagi dan belajar kepada pemusik lain yang lebih berpengalaman.

“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan” (Amsal 14:29).

5. Aku bertumbuh dalam kesetiaan

Kadang masih sulit buatku untuk membagi waktu antara persiapan melayani dan pekerjaanku. Tapi, aku selalu berjuang untuk melakukan pelayananku secara maksimal.

Pernah suatu ketika aku dikecewakan oleh teman sepelayananku. Namun, aku belajar untuk mengampuni mereka dan tetap bertahan dalam pelayananku. Melayani tidaklah mudah, tetapi ketika kita memberi diri melayani-Nya, Tuhan sendiri yang akan menguatkan dan menyertai kita.

AKu bersyukur sebab dalam keterbatasanku, Tuhan menyambutku sebagai pekerja dalam bait-Nya. Melewati beragam proses, Tuhan membuatku bertumbuh. Tuhan mengajarkanku, memprosesku lewat tangan kasih-Nya. Sembari menjalankan dan menikmati pelayananku, aku juga terus bersemangat menjalankan disiplin rohani setiap hari.

Aku berdoa, kiranya siapapun yang memberi diri untuk melayani dalam pekerjaan Tuhan siap diproses.

Terpujilah nama Tuhan.

Baca Juga:

Menghadapi Sisi Gelap Pelayanan dalam Terang Tuhan

Melayani Tuhan bukan jaminan bebas dari depresi, pun bukan pelarian darinya. Ada momen-momen penuh pergumulan dan gelap. Melalui tulisan ini, kuharap pengalamanku menolongmu untuk melihat terang-Nya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 10 - Oktober 2019: Memberi Diri Melayani, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2019

7 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!