Pergumulanku Melawan Rasa Iri Hati

Info

Oleh Peregrinus Roland Effendi, Cilacap

Apa yang kamu pikirkan jika kamu melihat temanmu lebih berhasil daripada dirimu? Mungkin jawabannya ada dua; kamu ikut berbahagia bersama temanmu dan termotivasi untuk berusaha lebih, atau kamu justru merasa iri hati dan curiga.

Siang hari itu, ketika aku sedang mengumpulkan berkas revisi skripsiku di ruangan dosen, aku tak sengaja melihat papan pengumuman jadwal ujian skripsi. Kebetulan, letak papan pengumuman itu tidak jauh dari ruangan dosen. Ketika aku mengamati tulisan-tulisan di sana, perhatianku tertuju pada nama seorang temanku yang ternyata akan segera melaksanakan ujian skripsi.

Setahuku, temanku itu baru empat bulan lalu memulai proses pengerjaan skripsinya. Namun, sangat mengherankan buatku karena dia sudah menyelesaikan skripsinya dan siap untuk mengikuti ujian. Dalam hatiku mulai timbul rasa iri hati dan marah melihat keberhasilan temanku itu. Aku merasa bahwa Tuhan seolah berlaku tidak adil terhadapku. Sudah lebih dari satu tahun aku berkutat dengan skripsiku, berusaha dengan tekun mengerjakannya, namun tak kunjung selesai. Selalu saja ada revisi demi revisi dan hambatan lain yang membuat skripsiku terasa begitu sulit untuk dikerjakan. Namun, temanku hanya dalam empat bulan bisa menyelesaikan skripisnya.

Melihat pencapaian temanku yang seolah tampak lebih berhasil itu membuatku curiga dan berprasangka buruk terhadapnya. Aku menebak-nebak bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan skripsinya begitu cepat. “Ah, dia sih dapat dosennya bukan killer. Topik penelitian dia gampang sih, jadi cepat.” pikirku dalam hati.

Sebenarnya, pada tahun 2016 aku sudah memulai proses pengerjaan skripsiku. Aku mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh kampus, mulai dari mencari topik penelitian hingga menentukan dosen pembimbing. Namun, perjalananku tidak mulus. Berkali-kali judulku ditolak, juga aku sempat dipindah ke dosen pembimbing yang lain. Kuakui bahwa aku bukanlah tipe seorang yang gigih dan cermat dalam mengatur waktu. Ketika kendala yang datang seolah tak kunjung usai, aku sempat merasa down hingga akhirnya membuat pengerjaan skripsiku sempat terbengkalai.

Malam itu aku mencoba untuk merenung, berdoa, dan membaca bacaan saat teduh. Di sini Tuhan menunjukkanku sebuah ayat:

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yakobus 3:16).

Ayat ini menamparku. Rasa iri hatiku pada dasarnya adalah perasaan yang jahat. Ketika aku memelihara rasa iri hati, aku merasa bahwa aku sedang membuka pintu bagi Iblis untuk masuk ke dalam kehidupanku. Lalu, iri hati kepada temanku yang maju ujian lebih dulu juga tidak akan membuat skripsiku tiba-tiba selesai. Yang seharusnya kulakukan adalah melepaskan iri hati itu, mengintrospeksi diri, dan menerima dengan lapang dada pencapaian yang telah diraih olehku sendiri.

Namun, meski aku sudah merasa tertegur dan tahu akan kebenaran bahwa iri hati adalah jahat, pikiranku masih bertanya-tanya mengapa temanku bisa begitu cepat dan begitu lama? Di tengah lamunanku, Tuhan kembali menegurku melalui ayat-ayat yang terlintas di benakku. “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Matius 20:15). “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8).

Kedua ayat ini kembali menamparku dan membuatku menyadari bahwa selama ini aku terlalu memaksakan ego dan kehendakku sendiri. Akhirnya malam itu aku memutuskan untuk membuat komitmen dengan Tuhan dan diriku sendiri. Aku mau belajar untuk tidak membandingkan-bandingkan diriku dengan orang lain, melainkan aku mau belajar bersyukur akan setiap tahap dan proses yang dapat aku lalui. Aku juga mau belajar untuk percaya, bahwa Tuhan memiliki rencana dan rancangan yang terbaik untuk masa depanku, janji-Nya selalu tepat pada waktu-Nya. Aku juga mau bersungguh-sungguh dalam mengerjakan skripsiku dan melakukan manajemen waktu dengan baik.

Sejak saat itu, alih-alih berprasangka buruk kepada temanku, aku menjadikan pencapaian temanku itu sebagai sebuah tamparan buatku sendiri. Aku mengintrospeksi apakah ada yang salah dari proses yang kulakukan dan bagaimana aku memperbaikinya. Kemudian, aku mulai menyusun strategi manajemen waktu dan juga mengucap syukur atas pencapaian yang telah diraih olehku sendiri. Setelah beberapa bulan, puji Tuhan karena saat ini proses pengerjaan skripsiku telah mengalami banyak kemajuan. Aku sedang menyelesaikan bab terakhir dan sedikit lagi siap untuk mengikuti ujian kelulusan.

Melalui tulisan ini aku ingin berbagi bahwa iri hati adalah kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita melihat pencapaian orang lain yang tampaknya lebih berhasil daripada kita, mudah bagi kita untuk merasa iri dan kecewa. Namun, sebagai anak Tuhan, kita bisa memilih apakah kita mau memelihara atau menolak rasa iri hati itu. Ketika kita memelihara rasa iri hati, itu berarti kita sedang mengundang Iblis untuk masuk dan menguasai kehidupan kita. Akan tetapi, ketika kita menolak iri hati, itu berarti kita sedang mengundang Tuhan untuk berkarya dan berdaulat dalam kehidupan kita.

“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Amsal 14:30).

Baca Juga:

Satu Hal yang Kulupakan Ketika Semua Impianku Tidak Terwujud

Setiap orang boleh memiliki keinginan dan cita-cita. Tetapi, pada kenyataannya, terlepas dari sekeras apapun upaya kita untuk mewujudkannya, tidak semua yang kita harapkan bisa terjadi sesuai keinginan kita. Inilah realita kehidupan. Pernahkah kamu mengalaminya? Aku pernah.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

8 Komentar Kamu

  • Thanks.. Jesus Bless

  • aku sangat bersyukur untuk sharing diatas dimana saat ini juga saya sedang menyusun skripsi dan waktunya itu hanya 1 bulan dalam mengerjakannya dan menurut saya itu sanga-sangat tidak mungkin. tapi satu hal yang saya yakini mungkin bagiku atau menurut kemampuanku tidak bisa tapi dengan pertolongan Tuhan , saya pasti bisa ,, fighting….

  • Sangat pas sekali karena saya baru saja mengalaminya. Terimakasih… Tuhan Yesus memberkati.

  • Fransiska Indriyani

    Terima aksih untuk sharingnya . Semoga sharing ini bisa jadi tamparan buat saya yang sering menyimpan rasa iri terhadap orang lain. Tuhan Memberkati

  • sungguh membuat airmata menetes.. aku minta maaf sama Tuhan atas iri hati yang selalu ku tampilkan dalam duniaku.. melalui artikel ini semoga aku semakin bersyukur dan lebih giat lagi belajar. terimakasih

  • Yah.. begitulah adanya kita, tapi kalau bisa kita kalahin maka enak yang akan kita petik!

  • sangat memberkati! thanks for sharing

Bagikan Komentar Kamu!