Posts

Ketika Pekerjaanku Menjadi Tempat Tuhan Memproses Hidupku (Bagian 2)

Oleh Cana

“Wah, setelah 3 tahun tidak bekerja akhirnya aku dapat pekerjaan! Aku senang kegirangan karena namaku muncul di pengumuman final CPNS 2021.”

Sekitar tahun 2019, tepat tiga tahun yang lalu aku menulis artikel pertamaku di WarungSaTeKaMu dengan judul “Ketika Pekerjaanku Menjadi Tempat Tuhan Memproses Hidupku”. Jika menengok di masa itu, sungguh sulit untuk menerima semua hal yang tak sesuai harapan. Aku yang saat itu bekerja di sebuah universitas swasta ternama terpaksa tidak bisa mengajar hingga akhirnya bekerja dengan posisi staf administrasi. Aku sungguh merasa tertolak dan sempat berpikir mengakhiri hidup. Setahun kemudian, kontrak kerjaku pun tak dilanjutkan oleh pihak kampus. Aku pengangguran dan tak terasa tiga tahun sudah aku tidak bekerja pada suatu instansi atau lembaga (meskipun sekarang aku telah jadi ibu rumah tangga). Selama itu juga aku terus bergumul dan merenungkan apakah Tuhan akan memberikan kesempatan lagi untuk dapat bekerja? Dan apakah aku memang dipanggil bekerja sebagai dosen?

Melalui pengalaman sebelumnya yang sungguh sangat tidak mudah dilewati, Tuhan mengajariku tentang nilai diri yang sejati dan sebuah sikap rendah hati. Dengan latar belakang pendidikanku dan segala pencapaian yang telah aku peroleh, aku merasa sangat bernilai dan berharga. Bahkan saat diterima di universitas ternama ini aku merasa sangat bangga dengan diriku… namun Tuhan sungguh baik karena Dia memproses dan mengajariku bahwa nilai diriku tidaklah ditentukan dari pekerjaanku.

Perjalanan karierku mengharuskanku mengalami jatuh bangun dan penuh dengan air mata. Namun, dari sinilah aku belajar bahwa nilai diri yang sejati tidak seharusnya dilekatkan pada sebuah prestasi atau posisi. Sebelumnya, pekerjaan bagiku adalah sebuah prestasi dan pencapaian. Jika aku memiliki posisi di pekerjaan yang bagus maka aku merasa berharga, bernilai dan berguna. Akan tetapi, jika tidak maka sebaliknya—aku akan merasa tertolak. Melalui proses itu, aku belajar bahwa pekerjaan seharusnya dipandang sebagai sebuah “kendaraan” untuk membantu kita sampai ke tujuan yaitu melakukan visi atau panggilan-Nya bagi kita.

Aku pun akhirnya mengerti bahwa pekerjaan seharusnya bisa dipandang sebagai sebuah anugerah (pemberian dari Tuhan) sehingga aku tak perlu merasa minder atau super. Minder karena merasa tidak mampu dan tak layak mendapatkan pekerjaan ini atau super karena merasa sangat mampu dan arogan. Status pekerjaan nyatanya adalah sebuah kondisi yang bisa sangat mudah berubah dan dinamis. Mungkin karena pergantian atasan atau kondisi pandemi seperti sekarang ini. Jadi sudah selayaknya kita tidak melekatkan nilai diri kita padanya.

Setelah lama tidak bekerja, aku memberanikan diri untuk melamar sebagai dosen CPNS 2021. Tahapan dan seleksi demi seleksi kulalui. Tentu masih diwarnai dengan perasaan yang pesimis dan tak berani berharap banyak. Namun aku mencoba untuk berusaha semaksimal mungkin menggunakan waktu yang ada untuk belajar dan berserah pada-Nya. Pengumuman final pun keluar dan namaku adalah salah satu yang muncul.

Sungguh aku merasa terkejut, tak percaya, bingung, bersyukur dan senang. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa menjadi salah satu peserta yang diterima di seleksi CPNS kali ini. Mengingat sudah tiga kali aku mencoba tes CPNS, namun berakhir gagal. Namun, kali ini aku diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memiliki “kendaraan” agar bisa berjalan menuju panggilan-Nya bagiku—untuk mengajar orang lain, menanamkan nilai-nilai kehidupan yang sejalan dengan firman-Nya bagi peserta didik. Dengan pekerjaan di tempat baru ini pun, aku ingin terus belajar pada-Nya tentang nilai diri yang sejati dan rendah hati. Dan seperti yang dikatakan dalam firman-Nya “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).

4 Mitos Tentang Jadi Orang Pilihan Tuhan

Oleh Philip Roa, Filipina
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Myths About Being Chosen By God

Ketika aku pertama kali jadi pengikut Kristus, hidupku berubah total. Sebelumnya, aku kecanduan pornografi selama 7 tahun, namun oleh anugerah Tuhan sajalah aku bisa bertobat dan beriman pada Tuhan Yesus.

Dalam satu tahun hidup baruku, aku pindah ke gereja baru di mana aku melayani sebagai pemain drum, dimuridkan dalam kelompok sel, dan tak berselang lama jadi ketua komsel. Saat itu semangatku berapi-api. Aku merasa inilah jalan yang Tuhan telah tetapkan, bahwa Dia memilihku dan menolongku bertumbuh secara rohani.

Namun, tahun-tahun setelahnya kondisi kerohanianku mulai menurun. Kontrak kerjaku tidak diperpanjang, aku pun menganggur. Aku sempat salah mengelola perasaanku dengan seorang perempuan dari persekutuan pemuda. Waktu itu aku tidak paham betul apa yang jadi niatku. Dua kejadian ini menjatuhkanku dalam depresi yang akhirnya menarikku keluar dari pelayanan.

Saat itu yang kupikirkan hanyalah: Aku menyerahkan hidupku dan membiarkan Tuhan bekerja. Aku ikut tuntunan-Nya! Tapi, kenapa sekarang hidupku hancur?

Aku berharap aku tahu lebih banyak saat aku masih muda, tapi tidak ada kata terlambat. Inilah empat mitos tentang menjadi orang yang dipilih Tuhan. Mitos ini tentu harus kita buang.

Mitos 1: Saat ikut Tuhan, kamu pasti segera mencapai tujuanmu

Cerita bagaimana aku bisa bertobat adalah kisah yang indah dan emosional. Aku diajar untuk berserah pada Tuhan dan Dia akan membimbing kita pada “jalan terbaik”. Dari pengalamanku bergereja di awal, topik tentang penderitaan dan pencobaan tidak banyak dibahas (tentunya topik khotbah selalu berubah-ubah tiap tahunnya). Tapi, ketika kesaksian dari orang Kristen yang lebih senior hanya berfokus tentang kemenangan dan berkat-berkat dari Tuhan, rasanya seperti mereka sedang menanamkan pemahaman begini: Bertobat dan berikan semuanya buat Tuhan, dan Dia akan membuat semua jalanmu gampang! Gak bakalan stres, atau kekacauan!

Mitos ini perlahan pudar ketika aku membaca kisah Yusuf.

Yusuf berubah nasib, dari anak kesayangan menjadi budak yang dijual oleh kakak-kakaknya. Tapi dari situlah kisahnya dimulai. Yusuf jadi orang kepercayaan Potifar, lalu masuk penjara karena dituduh oleh istri tuannya. Kelak dia jadi kepala penjara dan akhirnya menjadi seorang pemimpin di Mesir sebagai orang kepercayaan Firaun.

Semua proses itu memakan waktu 13 tahun tanpa sedikit pun Yusuf tahu akhir dari penderitaannya. Ketika ayahnya meninggal dan saudara-saudaranya mengira Yusuf akan balas dendam, Yusuf malah berkata bahwa meskipun mereka melakukan yang jahat, Tuhan mengubahkan untuk kebaikan (Kejadian 50:18-21).

Kisah Musa adalah contoh lain. Ketika Musa dipanggil Allah untuk membawa umat-Nya keluar dari Mesir (Keluaran 3:7-10), dia berada ribuan kilometer jauhnya, bersembunyi di tanah asing, karena dia membunuh seorang prajurit Mesir. Dia berubah dari seorang pangeran menjadi gembala.

Meskipun Musa memang bersalah hingga dia pun melarikan diri, Tuhan tetap memeliharanya, dan kelak memangilnya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.

Dipilih Tuhan tidak selalu berarti kamu segera meraih apa yang kamu cita-citakan. Kadang, seperti Yusuf dan Musa, penurunan pangkat atau status diizinkan terjadi agar kita belajar rendah hati dan memahami bahwa hanya oleh kuasa Allah sajalah kita bisa melangkah maju.

Mitos 2: Keterampilanmu akan menentukan tugas panggilanmu

Kita berpikir bahwa dipilih Tuhan berarti menggunakan talenta yang Dia berikan pada kita untuk kemuliaan dan tujuan-Nya. Jadi, sangatlah masuk akal kita ingin memaksimalkan bakat atau talenta yang sudah Dia berikan untuk melayani-Nya.

Tapi, ada waktu-waktu ketika Tuhan memanggil kita untuk melakukan lebih jauh daripada kemampuan kita, semata-mata agar kemuliaan-Nya dipancarkan, bukan kita.

Kisah Gideon adalah contoh yang baik (Hakim-hakim 6:11-40;7). Gideon sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur—tugas yang dia lakukan selagi bersembunyi—ketika Tuhan memanggilnya untuk menjadi pemimpin Israel. Sebagai anak bungsu dari suku terkecil, Gideon tidak dilengkapi dengan skill kepemimpinan. Dia bahkan menguji Tuhan tiga kali untuk membuktikan itu perintah sungguhan. Namun, Gideon tetap taat dan Tuhan memberikan kemenangan pada Israel melalui Gideon.

Ketika Tuhan memanggil dengan jelas, percayalah Dia akan memberikan apa yang kamu butuhkan untuk melakukan pekerjaan-Nya.

Mitos 3: Kamu akan menyukai semua yang kamu lakukan

Menjadi orang yang dipilih Tuhan berarti kita akan menikmati semua yang kita lakukan, betul?

Ketika aku masih remaja, aku ingin kuliah di bidang seni, dan barulah di masa-masa kuliah aku tahu kalau yang aku inginkan itu keterampilan menulis. Kurasa itulah panggilanku karena aku merasa tertarik dan mendapat nilai bagus dari dosenku.

Namun, pengalaman di awal itu tidak banyak menolongku di karierku. Tempat kerjaku menyuguhkan realita pahit: gaji kecil, tidak banyak benefit, jam kerja yang berlebihan. Generasiku berkata, “Kejar apa yang jadi passionmu dan kamu tak perlu lagi bekerja satu hari pun di hidupmu.” Motto itu menyatu dengan gagasanku tentang bagaimana panggilan Tuhan bekerja. Kurasa, ya memang di sinilah aku dipanggil untuk mengejar impian dan panggilanku. Tapi, mengapa setiap hari terasa seperti siksaan?

Kisah Yunus, meskipun terjadi pada keadaan yang berbeda, mengajariku perspektif lain. Yunus ditugaskan untuk berkhotbah menyampaikan pertobatan pada Niniwe, yang mungkin bagi kita di masa kini terasa mudah untuk seorang nabi. Tapi, Yunus tahu betapa kejamnya Niniwe, jadi dia ingin mereka menderita dalam penghakiman Tuhan.

Bahkan setelah Yunus dengan enggan menuntaskan tugasnya, dia tetap saja tidak senang, dan kisahnya berakhir dengan sebuah pesan tegas dari Tuhan. Namun… hasil akhirnya adalah seisi kota Niniwe bertobat!

Kita mungkin salah jika kita percaya bahwa dipilih Tuhan berarti selera kita akan sejalan dengan rencana-Nya. Kebenarannya: Tuhan mengajar kita bahwa kehendak-Nya jauh di atas kehendak kita sendiri karena Dialah yang memilih kita, bukan sebaliknya.

Mitos 4: Kamu tidak akan mempunyai lawan

Salah paham keempat: kita tidak akan menghadapi penolakan dari orang lain jika kita adalah orang pilihan Tuhan.

Namun, Yesus sekalipun menghadapi penolakan. Pada masa awal pelayanan-Nya, bahkan para tetangganya menolak mendengarkan Dia, dan hendak melemparkan Yesus dari atas tebing! (Lukas 4:16-30).

Setelah Yesus mengutuk praktik korupsi orang Farisi, mereka terus berusaha melecehkan dan menjerat-Nya. Penolakan-penolakan inilah yang mengiringi langkah Yesus menuju penyaliban.

Secara pribadi aku juga mengalami penolakan ketika aku yakin akan panggilanku menulis. Yang membuat pedih adalah orang tuaku sendiri yang mendorongku untuk mencari karier lain yang lebih menjanjikan (jadi pengusaha seperti yang mereka lakukan). Aku berdiri mempertahankan pilihanku dengan keteguhan dan kasih, sampai akhirnya mereka mengerti bahwa panggilan Tuhan bagi anak-anak-Nya itu unik dan tidak selalu bergantung pada tradisi/kebiasaan.

***

Inilah mitos-mitos yang dulu kupercaya yang pelan-pelan memudar seiring aku menemukan kembali imanku yang sejati melalui firman Tuhan. Setelah aku absen lama dari pelayanan, aku menjadi seorang ketua komsel yang bertanggung jawab dan kesempatan pelayanan pun diberikan lagi buatku. Prosesnya lambat dan sakit untuk belajar dan melepas mitos-mitos yang kita percayai tentang kekristenan.
Tuhan telah mencelikkan mataku bahwa menjadi orang yang dipilih-Nya adalah tentang menyerahkan segalanya kepada Dia, percaya di mana pun dan bagaimana pun Dia memanggil kita, kebaikan dan kasih-Nya selalu ada.

Sebagai orang pilihan-Nya, kita harus membaharui pikiran kita tentang panggilan dengan melihat dari perspektif-Nya. Dalam anugerah dan belas kasih-Nya, Dia memanggil kita untuk memenuhi tujuan-Nya, bukan tujuan kita. Hanya ketika kita mengizinkan Dia menanamkan kebenaran dalam pikiran dan hati kita, kita bisa menjadi hamba-Nya yang setia.

3 Masalah Ketika Identitas Kita Ditentukan dari Pekerjaan yang Kita Lakukan

Oleh Andrew Laird
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Problems When We Tie Our Identity To Our Work

Pertanyaan apa yang biasanya kamu tanyakan ketika bertemu dengan seseorang pertama kali? Kutebak sih, biasanya setelah bertanya nama, satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah, “Kamu kerja apa?” 

Tapi, pernahkah kamu cermati bagaimana respons dari orang-orang? Biasanya, jawabannya bukan “Aku kerja sebagai pengacara,” tapi “Aku pengacara”. Kita hidup di dunia yang berpikir, “Aku adalah apa yang aku lakukan”, di mana identitas kita terikat pada apa yang kita kerjakan. 

Pemikiran ini mungkin rasanya cuma hal kecil, tapi setidaknya ada tiga masalah yang muncul dari pemikiran ini yang bisa berdampak hebat buat kita. 

Apa saja masalahnya? Dan yang lebih penting, apa solusinya?

  1. Itu membawa konsekuensi negatif dari individualisme

Titik awal dari pemikiran kalau “Aku adalah apa yang aku lakukan” adalah ciri khas dari budaya yang dibentuk oleh individualisme yang berkembang di Barat. 

Salah satu cara untuk mendefinisikan individualisme adalah dengan memikirkan diri sendiri, “diri sendiri adalah tujuannya.”[1]. Siapakah aku itu dimulai dan diakhiri olehku. Aku membentuk takdirku. Aku membentuk diriku. Generasi di atas kita mendefinisikan diri mereka dalam hubungan dengan komunitas mereka. Tapi, dalam konsep individualisme Barat, akulah yang membentuk identitasku sendiri. Nilai-nilai diriku ditentukan dari apa yang mampu aku raih dan selesaikan.

Apa artinya ini bagi pekerjaan kita? Itu menjadi identitas kita. Kalau pekerjaan kita bagus, tentu ini tidak jadi masalah. Tapi, ketika pekerjaan kita mengalami kemunduran, melekatkan nilai diri kita pada apa yang kita kerjakan menjadi beban yang menghancurkan diri kita. 

  1. Itu adalah cara hidup yang menghancurkan 

James Suzman dalam bukunya, Work: A History of How We Spend Our Time [2], menuliskan kisah pilu dari Prof. Vere Gordon Childe, seorang arkeolog yang mengakhiri hidupnya sendiri ketika dia menyimpulkan bahwa dia tidak memiliki “kontribusi lebih yang berguna” di pekerjaannya.

Tapi, bukan cuma Profesor Childe yang berpikir begitu. Ada kaitan yang tragis antara kekecewaan, kegagalan dalam kerja, pensiun, dan bunuh diri. Ketika pekerjaan menjadi nilai diri kita, itu akan menghancurkan kita ketika pekerjaan itu mengecewakan. 

Beban yang kita tempatkan pada diri sendiri ini dapat kita lihat dalam berbagai situasi. Aku ingat pernah menerima email dari seorang wanita yang sakit selama beberapa waktu. Isi emailnya terdapat kalimat, “Aku tidak berguna”, karena dia tidak bisa melakukan apa yang diminta, lantas dia menganggap dirinya tak berguna. 

Namun, jika seandainya yang terjadi sebaliknya—pekerjaan kita berjalan baik, yang ada malah membuat kita menjadi berbangga diri. Jika aku adalah tujuan dari hidupku sendiri, maka setiap sukses yang kuraih adalah suksesku sendiri. Kebanggaan yang berlebih akan membawa masalah sendiri. 

Timothy Keller merangkum dua bahaya yang bercabang dari meletakkan nilai diri kita pada pekerjaan: “Ketika pekerjaan adalah identitas kita, kesuksesan akan masuk ke kepalamu dan kegagalan akan masuk ke hatimu.” [3]. “Aku adalah apa yang kulakukan” adalah cara hidup yang menghancurkan.

  1. Meletakkan nilai diri kita pada komunitas, ini juga bukan solusi

Kita mungkin berpikir konsep individualisme ini begitu destruktif, jadi sepertinya melihat diri kita dengan cara pandang yang lebih komunal (kita meletakkan identitas kita pada keluarga atau komunitas yang jadi bagian kita) adalah solusinya. 

Dalam bukunya yang berjudul Selfie, Will Storr menelusuri akar individualisme Barat dan budaya komunal atau kebersamaan yang biasanya hadir dalam budaya Asia. Dia merangkum, “Diri orang-orang Asia itu meleleh [membaur] ke dalam diri orang-orang lain yang mengelilinginya.” Jadi, ketika bicara soal pekerjaan, tidaklah asing untuk mendefinisikan diri dalam kaitan dengan perusahaan atau tempat bekerja.” Contohnya, Will bertemu dengan seorang pria di Jepang yang mengenalkan dirinya bukan sebagai “David”, tapi “David yang kerja di Sony.” 

Identitas yang diletakkan pada korporat bukan pula jadi solusi. Angka bunuh diri di Asia Timur itu tinggi. Kenapa? Karena di budaya Asia, jika kamu gagal, maka kelompokmu juga gagal. Storr kembali menjelaskan, “Ketika satu individu mengakhiri hidupnya sendiri, kehormatan akan dikembalikan ke kelompoknya… seorang CEO yang bunuh diri terdengar masuk akal bagi orang-orang Jepang” [4]. 

Hanya Yesus jawabannya

Jadi, ketika individualisme Barat atau konsep komunalisme tidak bisa jadi solusi, ke mana kita harus berpaling? Hanya Injil yang membebaskan kita dari beban “aku adalah apa yang kulakukan”. Kebebasan itu tidak dimulai dari identitas kita, tapi dari identitas Yesus. 

Satu hal yang luar biasa, kebenaran mendasar dari iman Kristen adalah siapa yang “di dalam Kristus” mendapatkan identitas-Nya. Identitas Kristus adalah identitas kita. Kebenaran-Nya adalah kebenaran kita. Memahami identitas kita dimulai dengan memahami identitas Kristus. 

Seperti apakah identitas-Nya itu? Allah Bapa berkata ketika Kristus dibaptis, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17). Ketika Bapa melihat Anak, keputusan-Nya adalah kasih dan sukacita. Dan, itulah ketetapan yang Allah berikan untukmu, bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus. Prestasi dan pencapaian kita bukanlah sumber identitas kita. Status dan identitas kita dianugerahkan dari Seseorang di luar kita [5]. 

Apakah kamu melihat perubahan revolusioner yang dibawa dari konsep ini kepada caramu memandang pekerjaan dan dirimu sendiri? Dengan percaya diri yang teguh dalam Kristus, pekerjaan kita tidak lagi menjadi sumber identitas, tapi menjadi ekspresi dari identitas kita. Menghidupi kepercayaan dari kasih dan anugerah Allah, alih-alih berupaya keras melakukan pembuktian kepada orang lain, kamu menjadikan pekerjaanmu sebagai ladang untuk menunjukkan identitasmu dalam Kristus. Inilah perubahan radikal yang dibawa oleh Injil dalam kehidupan dan pekerjaan kita. 

Apa salah satu cara praktis agar kita dapat mengubah cara pandang yang salah dan menerima identitas yang kita miliki dalam Kristus?

Kita bisa memulai dengan bertanya, “Bagaimana aku merespons ketika pekerjaanku dikritisi?” 

Tidak ada kritik yang menyenangkan, tapi dari kritik ini kita bisa melihat bagaimana cara pandang kita. Jika kritik itu membuat kita merasa gagal dan kalah, atau kritik itu membangkitkan amarah dan kita mencari cara untuk membela diri, bisa jadi itu petunjuk kalau kita mengaitkan identitas kita pada apa yang kita kerjakan (kadang kritik itu tidak cuma mengkritik pekerjaannya, tapi orangnya juga). Mengetahui bagaimana kita merespons dapat menolong kita untuk berhenti dan memikirkan ulang di mana kita meletakkan identtias kita. Jika kita meletakkannya pada tempat yang salah, perbaikilah itu dengan meletakkannya pada Kristus. 

 

Catatan kaki:

[1] LucFerry, A Brief History of Thoughts, 122

[2] James Suzman, A Work History on How We Spend Our Time, 177

[3] twitter.com/timkellernyc/status/510539614818680832

[4] Will Store, How the West Become Self-Obsessed, 81

[5] Dikutip dari course bertema “I Am What I Do? A Theology of Work and Personal Identity”.

Berkat di Balik Tirai Kesuraman

Oleh Antonius Martono, Jakarta

Baru saja Ianuel pulang memimpin sebuah kelompok pendalaman Alkitab, Benu sudah menunggunya di taman tempat mereka biasa mengobrol. Benu bilang penting, ingin bicara. Segera Ian beranjak dari kamarnya menuju teras. Setelah berpamitan dengan Ibu, Ian menyalakan motornya.

“Baru pulang sudah pergi lagi. Mau ke mana kamu?”

“Hmm… pelayanan, Pah. Tadi sudah pamit Ibu,” kata Ian ragu.

“Pelayanan mulu. Waktu buat keluarga kapan? Ini, kan, weekend.”

“Sebentar, kok, Pah. Ke taman biasa,” Ianuel berusaha menenangkan ayahnya.

“Sebentar tapi, sampai malam. Pulang cepet. Kalau sudah pada tidur, tidak ada yang akan bukain pintu,” ayah Ian memunggunginya menuju ruang TV.

Telah satu tahun Ian tidak mendengar ayahnya berbicara seperti itu. Terakhir kali, pada hari Ian terkunci di luar rumah karena pulang hampir tengah malam. Sejak saat itu Ian mulai mengatur waktu kegiatannya dengan teliti. Dia tahu, jika ayahnya mengucapkannya lagi, berarti sang ayah benar-benar memaksudkannya. Mengganjal. Namun, Ian harus pergi.

Bagi Ian bertemu Benu adalah sebuah bagian dari panggilannya. Panggilan yang dimulai dari keputusan Ian satu setengah tahun lalu untuk bekerja di suatu lembaga Kristen yang melayani kaum muda. Lembaga ini baru saja membuka pos rintisan di kota kecil tempat Ian tinggal. Sedangkan pusat lembaganya berada 2 jam jauhnya dari kota ini. Capek, kehabisan ide, tertekan, sedih adalah teman pelayanan Ianuel, sebab belum ada orang yang bersedia menemani pelayanannya. Ian melayani seorang diri di pos kecil tersebut. Meskipun begitu, dia mengerti bahwa lewat pos pelayanan inilah dia mengabdi kepada Tuhan.

Ayahnya sendiri sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Ian. Dia tidak bisa memahami pekerjaan Ian dan pertimbangannya. Ayahnya hanya tahu kalau anaknya suka kerja sebar-sebar ajaran Alkitab. Namun, menurut hemat ayahnya, pekerjaan tersebut sulit untuk membeli sebuah rumah untuk anak istri Ian kelak. Terang-terangan atau sindiran halus sudah dilakukannya tapi, Ian tetap tidak mengubah pilihan pekerjaanya.

Sesampainnya di taman, Ianuel menemui Benu di bangku taman. Dari bangku itulah Benu bercerita bahwa ia baru saja berkonflik hebat dengan ayahnya yang dominan lantaran ia kelupaan mematikan lampu kamar. Keduanya terlibat adu mulut dan saling merendahkan satu sama lain. Ketika konflik semakin menegang, Benu mengakhirinya dengan keluar rumah. Sambil menghisap rokoknya, Benu mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi pulang ke rumah.

Hari itu malam Minggu dan matahari sudah semakin gelap. Taman semakin dipenuhi pengunjung dan para penjaja makanan mulai membuka lapaknya.

“Makan, yuk. Gue traktir,” ajak Ian.

Ian sudah biasa melakukan hal ini kepada para pemuda tanggung yang dilayaninya. Hanya ingin berbagi dan meringankan beban mereka yang dia layani. Mereka melipir ke tenda pecel ayam tak jauh dari taman itu. Percakapan terus mengalir tanpa ujung bersamaan dengan perut mereka yang semakin penuh. Waktu berlalu hingga pukul delapan lewat. Dalam hatinya Ian bertekad untuk pulang sebelum jam sembilan malam, sebab ia teringat pesan ayahnya. Percakapan masih berlanjut beberapa menit sebelum akhirnya Ian memberikan saran-saran praktis untuk masalah Benu dengan ayahnya.

“Memang sih, Ben, disalah mengerti oleh orang yang kita harapkan sebagai yang pertama kali memahami kita itu menyakitkan. Tapi, lari dari tanggung jawab untuk saling mencari pengertian justru akan melahirkan kesalahpahaman lainnya. Usahakan tidak mengoleksi luka sebab semua luka sudah ditanggung Yesus di atas kayu salib, Ben,” kata Ian.

“Jadi, kalau menurut Abang. Sebaiknya kamu pulang dan meminta maaf. Siapa tau dengan begitu terjadi rekonsiliasi. Abang yakin Tuhan akan bekerja. Soalnya Dia yang paling mau relasi kalian membaik. Jadi segera balik, yak, tidak perlu kelayapan lagi,” bujuk Ian sambil menepuk pundak Benu.

Benu merasa pita suaranya kusut. Dia tidak menjawab bujukan Ian yang telah pulang dengan motornya. Di taman itu Benu masih mempertimbangkan saran dari Ian sebelum akhirnya dia memutuskan pulang pada dini hari.

Di tengah perjalanan Ian terus bertanya mengapa ia perlu mengurusi anak orang lain jika relasinya sendiri dengan orang tuanya masih berjarak. Ian merasa jago bicara tapi, gagal dalam praktiknya. Dia juga ingin agar Tuhan memperbaiki relasinya dengan sang ayah. Itulah mengapa Ian memacu motornya secepat mungkin supaya sampai tepat sebelum jam 9. Dia berharap agar tidak terjadi lagi konflik pada hari ini. Namun, di jalan motornya malah menabrak sebuah roda truk.

Truk tersebut sedang menepi mengganti salah satu roda kanannya. Badan truk menghalangi lampu penerangan jalan sehingga Ian tak dapat melihat sebuah roda besar di sisi kanan truk. Ianl tak sempat lagi mengelak dan hantaman itu terjadi.

“Brakk!”

Setang motornya bengkok dan sebagian lampu depannya pecah. Ian sendiri terlempar dari motornya. Tulang tangan kirinya patah dan dahinya berdarah. Banyak orang langsung berkerumun dan segera melarikannya ke rumah sakit.

Tiga hari lamanya Ian berada di rumah sakit sebelum ia pulang diantarkan sang ibu. Keningnya dijahit dua kali dan tangannya telah dirawat dengan tepat. Untuk beberapa hari Ian perlu beristirahat menunggu luka-lukanya untuk pulih. Ayahnya tidak menyalahkan Ian atas kecelakaan tersebut. Dia hanya masih belum mengerti masa depan seperti apa yang sedang dibangun oleh anaknya. Dari ambang pintu kamar Ian sang ayah memperhatikan keadaan anaknya.

“Memang kamu kerja untuk apa, sih? Bukan apa-apa, papa cuma pikirin masa depan kamu. Kamu kan kelak jadi kepala keluarga.”

Di tempat tidur Ianuel hanya mendengarkan tegang.

“Nanti kalau sudah sembuh kamu kerja aja sama anak teman papa. Bilang ke bos kamu mau keluar. Mau cari pengalaman baru.”

Ian diam saja. Ian tahu komitmennya sedang diuji kembali. Hanya saja kali ini Ian tidak bisa menjawab. Kejadian ini membuat Ian merasa seperti kalah perang. Berkorban nyawa untuk sebuah negara yang kalah.

“Kamu keluar biaya berapa? Ditanggung sama tempat kerjamu?”

“Sekitar enam jutaan, Pah.”

Ian berhenti sampai situ dan tidak berniat menjawab pertanyaan kedua.

“Itu diganti semua?”

“Tidak tahu, Pah. Kantor juga masih kurang bulan ini.”

Ayah Ian menghela napas, semakin prihatin dengan masa depan anaknya.

“Ya, sudah kamu pikirin deh, nanti kalau kamu mau papa telepon temen papa, biar kamu kerja di tempat anaknya. Papa keluar dulu ketemu mama.”

Selonjoran di dipan, Ian masih memproses kata-kata ayahnya. Ada benarnya maksud sang ayah. Memang bujukan itu belum pernah berhasil membuat Ian mencari pekerjaan lain, tapi bukan berarti tidak pernah membuat dia ragu. Dari celah pintu, Ian dapat mengintip kedua orang tuanya sedang berdiskusi.

Tak lama kemudian ibunya melangkah menuju kamar. Nampaknya ayah Ianuel masih mencoba membujuknya kali ini lewat sang ibu. Ia lelah untuk berdiskusi tapi, sekali lagi dia harus berusaha menguatkan tekadnya kembali.

“Ian ini ada parsel. Tadi ada ojek online yang kirim.”

Ianuel tak menduga sama sekali ibunya datang hanya untuk mengantarkan parsel buah segar. Di atas keranjang anyaman bambu buah-buah tersebut disusun. Ian menerimanya. Wajahnya masih kaget tapi, hatinya tersenyum.

“Itu dari siapa ?”

“Gak tau, Mah. Tapi ini kayaknya ada suratnya deh.”

“Coba dibaca dulu.”

Ianuel membaca surat itu dan tahulah ia bahwa parsel itu berasal dari adik-adik pemuda yang selama ini dilayaninya.

“Semoga Tuhan memulihkan kondisi kak Ian seperti kami yang dipulihkan Tuhan lewat kak Ian. Kak, kami sudah urunan dan transfer. Tidak seberapa tapi semoga dapat meringankan beban Kak Ian.”

Kemudian dalam surat itu mereka mengutip penggalan ayat dari Mazmur 23. Ianuel tak tahu dari mana anak-anak itu mendapatkan dana yang jumlahnya cukup untuk mengganti biaya perawatannya dan perbaikan motornya, tapi ini menghibur hatinya. Memang perjalanan pelayanan Ian cukup terjal. Namun, dia semakin yakin bahwa dia tidak pernah ditinggal sendiri. Kekuatan dan penghiburan diberikan di saat perlu. Mengimbangi duka dengan suka. Di dalam pengabdian untuk nama Tuhan.

Baca Juga:

Mengerjakan Misi Allah melalui Pekerjaan Kita

Kita tidak dipanggil dalam kenyamanan dan kemudahan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil ke dalam dunia yang rusak karena dosa yang merajalela. Kita diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala.

Dilema Memutuskan Keluar Kerja di Tengah Pandemi

Oleh Leah Koh
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Quit My Job In The Midst Of The Pandemic

Di akhir tahun kemarin aku meninggalkan pekerjaanku sebagai guru yang sudah kutekuni selama 15 tahun—sebuah pekerjaan yang memberiku keseimbangan di tengah tuntutan antara kerja dan keluarga.

Dua tahun ke belakang, aku putus asa dan kelelahan karena kelas-kelas yang kuampu tidak berjalan dengan baik. Meskipun aku sering berdoa agar dikuatkan dan aku merasakan sukacita membangun relasi dengan murid-muridku dan menolong mereka belajar dan bertumbuh setiap hari, bekerja dengan bos yang suka mengkritik dan minim empati sungguh menghancurkan semangatku. Ditambah lagi lingkungan kerjaku yang toksik. Aku sangat takut jika membuat kesalahan, hingga kala malam aku pun susah tidur dan sesak nafas.

Ketika akhirnya pandemi datang dan lockdown diberlakukan, aku merasa lebih lega bisa bekerja di rumah, jauh dari lingkungan yang toksik. Namun, ketika sekolah kembali dibuka, aku takut. Aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi semua tuntutan kerjaku.

Suatu hari, ketika aku sedang sendiri di kamar mandi, kutanya Tuhan apakah aku sebaiknya keluar dari pekerjaan ini. Hatiku berbeban berat dan aku sangat ingin keluar, tapi aku tak mau jika alasanku keluar adalah karena ketakutanku dan rasa putus asaku.

Tuhan menjawab doaku. Dari Juli sampai September, aku mengalami gejolak emosi, mulai dari dibentak-bentak bosku hanya karena hal sepele, yang kemudian merembet ke hal lain. Ini saatnya, kubilang pada diriku sendiri; ini tandanya. Ini waktu untuk keluar. Jadi, dengan nasihat dari teman gerejaku dulu yang menjadi direktur HR, aku mendapat keberanian untuk mengakhiri relasiku dengan bosku di bulan September.

Menghadapi masa depan yang tak pasti

Namun, keluar kerja tidak sebebas apa yang kupikirkan dulu. Kekhawatiran mulai masuk. Aku tidak punya rencana cadangan dan tak tahu berapa lama uangku akan cukup. Masa depanku terasa suram.

Tuhan mengingatkanku dengan firman-Nya, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu” (Mazmur 32:8). “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yesaya 43:18-19).

Setelah keluar kerja, aku membuat diriku sibuk dengan melakukan riset online dan membaca banyak buku, berharap mendapatkan pekerjaan di bidang pengembangan belajar tapi dalam lingkup korporat. Passion-ku adalah desain dan mengajar, jadi kupikir aku bisa mencari pekerjaan di dua bidang ini.

Tapi, berpindah bidang kerja terkhusus di masa pandemi ini susah. Aku kewalahan bagaimana belajar membuat cover-letter dan memperbaiki resume-ku, merapikan profil LinkedIn, belajar bagaimana lolos wawancara, dan lain sebagainya. Aku baru bisa tidur larut malam karena selalu khawatir akan masa depan.

Janji Allah yang memberi penghiburan

Suatu malam aku bermimpi. Aku sedang menyetir dan tersesat. Aku sangat takut hingga aku berseru pada Tuhan, memohon agar dia menolongku. Tak disangka, Tuhan hadir! Tapi, dia tidak menggantikan posisiku mengemudi. Dia hanya duduk di sampingku dan mulai mengajakku mengobrol. Anehnya rasa takutku hilang dan aku bisa mengemudi dengan tenang. Meskipun aku masih tersesat, aku tidak lagi takut karena Tuhan di sampingku. Aku tidak sendiri. Dia ada bersamaku dan aku tahu aku akan kembali ke jalan yang benar.

Meskipun itu cuma mimpi, aku merasa kembali hidup dan bersemangat saat kuceritakan kembali mimpiku ke suami dan anakku. Melalui mimpi, Allah berjanji tidak akan meninggalkanku.

Aku mulai membaca lebih banyak buku-buku Kristen dan mendengarkan khotbah untuk mengingatkanku akan siapa diriku di dalam Kristus–bahwa aku adalah anak yang disayang-Nya. Tuhan menampakkan kehadiran-Nya dalam cara yang berbeda. Dia memberiku teman-teman yang menguatkanku. Dia memberiku ketekunan untuk tetap mencari kerja, meskipun aku tidak menerima respons apa pun dari email-email yang kukirim. Aku tahu Tuhan berkarya sekalipun aku tidak melihat apa yang sedang terjadi.

Mengalami pemeliharaan Allah

Sebelum aku keluar di bulan November, aku mendaftar ke Design Education Summit yang diselenggarakan pada Februari. Di acara ini, aku menemukan sebuah organisasi yang membuatku tertarik untuk bergabung sebagai relawan fasilitator. Direktur dari organisasi itu malah menanyaiku apakah aku tertarik untuk bergabung di bidang manajerial di mana tugasku adalah mendesain program untuk anak-anak. Aku tertarik lalu mendaftar.

Prosedur setelahnya adalah aku melalui dua wawancara yang berjalan sangat lancar. Namun, di malam setelah wawancara keduaku, direktur memberi tahu bahwa organisasi itu tidak bisa mendapatkan dana hibah dari pemerintah sebelum Februari. Tanpa dana hibah itu, aku tidak bisa mendapatkan gaji yang sesuai dengan keinginanku. Tapi, tidak ada jalan lain bagiku jika aku harus menunggu sampai Februari karena di November adalah bulan terakhirku bekerja.

Aku merasa hancur. Aku pikir inilah pintu yang Tuhan telah bukakan buatku. Teman gerejaku menasihatiku untuk berdoa agar dana hibah itu bisa turun lebih cepat. Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan saat itu selain menunggu dan berdoa. Lewat khotbah yang kutonton online, Tuhan menegaskan kembali janji penyertaan-Nya. Yang kuperlukan adalah meletakkan kepercayaanku pada-Nya dan memuliakan-Nya di dalam segala hal yang kulakukan.

Sekitar seminggu setelahnya, sang direktur menjadwalkan sesi Zoom denganku. Pekerjaan yang dia tawarkan tidak sesuai harapanku karena aku akan mendapatkan potongan gaji yang lumayan besar. Aku dilema antara menerima tawaran kerja dengan gaji kecil atau berusaha lagi bernegosiasi hingga menemukan titik sepakat.

Esoknya aku bertemu kembali dengan direktur. Aku teringat kisah tentang bangsa Israel ketika mereka di padang gurun–bagaimana Allah mengubah arah angin yang menyebabkan burung-burung puyuh terbang di atas kemah-kemah (Keluaran 16:12-13; Mazmur 105:40). Tuhan tentu menyediakan apa pun yang orang-orang butuhkan, sekalipun itu di tengah padang gurun, dan Dia pun tentu dapat melakukan yang sama untukku.

Temanku juga menyemangatiku untuk memilih jalan setapak yang membutuhkan iman untuk melangkah di atasnya. Dua jam sebelum pertemuanku, aku membaca kisah Daud dan Goliat. Meskipun Daud berperawakan kecil dan cuma bersenjata umban batu, dia meletakkan imannya pada Allah.

Momen-momen ini mengingatkanku akan kesetiaan-Nya dan bagaimana Dia telah menyertaiku di sepanjang perjalanan yang kulalui. ‘

Dengan berani aku pun mengikuti meeting final dengan direktur itu. Tawaran yang dia berikan sesuai dengan harapanku. Aku bahkan tidak perlu meminta! Dia berkata kalau pemerintah telah melonggarkan dana hibah tersebut selama enam bulan, sehingga itu memungkinkan bagi mereka untuk merekrutku. Aku menerima tawaran itu dengan damai di hati, meyakini bahwa Tuhanlah yang telah membawaku tiba sampai ke titik ini.

Tuhan telah mengajariku banyak hal dalam perjalanan ini. Dia menunjukkanku bahwa Dia hadir secara nyata dan mengasihiku dengan sungguh. Dia memberikan anugerah-Nya di dalam kelemahanku.

Aku harap kisahku bisa menguatkan orang-orang yang mengalami pergumulan yang sama sepertiku. Seperti Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Kisahmu mungkin akan berbeda dari kisahku, tapi satu jaminan yang selalu dapat kita pegang: ketika kita bersandar pada Allah, kita bisa percaya bahwa Dia setia dan Dia selalu menyediakan. Dialah Bapa kita, dan kitalah anak-anak-Nya.

Baca Juga:

Menikmati Bumi Pemberian Allah Bersama Makhluk Lain

Kita perlu menyadari kembali bahwa penduduk yang hidup di bumi bukan hanya manusia, pun pemilik bumi juga bukan manusia. Tetapi kenyataannya, sebagian manusia suka “mendadak lupa” atau justru sengaja mengabaikan keberadaan penduduk bumi lainnya.

3 Janji akan Harapan di Tengah Ketidakpastian

Oleh Ruth Lawrence
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Verses That Give Me Hope Amidst Uncertainty

Rasanya tidaklah berlebihan jika kita berkata tahun 2020 itu mengerikan. Jutaan orang di seluruh dunia merasakan dampak dari pandemi, entah mereka terinfeksi atau mengalami efek domino lainnya yang diakibatkan kebijakan-kebijakan untuk meredam laju penyebaran virus.

Kita semua pun mungkin sepakat bahwa tahun 2020 sangat tidak biasa—tahun yang dipenuhi dengan banyak kesulitan! Namun, jika seandainya pandemi Covid-19 tidak terjadi pun, kita tetap akan mengalami hari-hari yang buruk—rencana yang gagal, kehilangan, sakit, juga kesedihan.

Terlepas dari kesulitan yang mendera kita, satu hal lain yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Tidak ada yang tahu akan apa yang terjadi besok, sebagaimana kita pun tak tahu di Januari 2020 akan seperti apa pandemi ini merebak.

Ketidakpastian bukanlah keadaan yang nyaman. Aku tak suka mengalami kejutan. Aku ingin bisa mengendalikan sesuatu dan memprediksi keadaan. Tapi faktanya, aku tidak piawai dalam mengendalikan situasi yang tak terduga. Aku malah berpura-pura seolah itu tak pernah terjadi, seolah hidupku baik-baik saja. Tapi, aku mendapati bahwa itu bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi ketidakpastian.

Seiring aku merefleksikan bagaimana caraku menanggapi dunia yang penuh ketidakpastian, aku menemukan tiga ayat yang mengandung janji Allah, yang menolong kita menemukan kedamaian dari-Nya:

1. Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Tahun lalu, ketika aku sedang mempelajari Injil Yohanes, aku tersentak oleh diskusi antara Yesus dengan murid-murid-Nya menjelang waktu penyaliban. Yesus akan segera mengalami penderitaan yang tak terkatakan, tapi Dia masih meluangkan waktu untuk meyakinkan para murid dengan kata-kata-Nya yang penuh belas kasih.

Yesus tidak berkata kalau hidup para murid akan mudah. Faktanya, Yesus berkata bahwa mereka (juga kita) akan menghadapi kesengsaraan. Hal-hal buruk terjadi sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup, dan sebagai orang Kristen, kita telah diberi tahu bahwa kita akan mengalaminya. Namun, kita punya alasan untuk berharap karena Yesus berkata, “kuatkanlah hatimu”. Ketika hati kita menjadi kelu karena kita merasa tak mampu menghadapi penderitaan—entah itu kesepian, kesakitan, atau kehilangan—Yesus berkata, “Jangan patah arang, kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.

Dengan Yesus di sisi kita, kita dapat berdiri teguh meskipun gelombang besar mendera kita. Yesus adalah kawan yang tidak sekadar berjalan di samping kita, Dia turut merasakan apa yang kita rasakan. Dia bukanlah Allah yang jauh, yang tak mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang sahabat atau dikhianati. Dia turun ke dunia dan menghidupi kehidupan yang dipenuhi sukacita sekaligus juga kesakitan. Yesus mengerti keadaan kita karena Dia sendiri telah melaluinya sebelum kita.

Kadang, ketika kita menghadapi masa-masa yang tidak pasti, emosi kita—takut, khawatir, bingung—bisa menenggelamkan kita dan membuat kita sulit berdoa. Ketika aku kehilangan kata-kata untuk berdoa pada Allah, aku bisa memulainya dengan mengakui keadaan yang tengah kulalui. Jujur di hadapan Allah menolongku untuk melihat keadaanku dalam terang yang baru—aku bisa mengarungi lautan yang bergelora karena Bapa Surgawi menyertaiku.

2. Jangan kamu menjadi lemah dan putus asa

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa” (Ibrani 12:3).

Ketika Yesus mendekati momen-momen penyaliban-Nya, Dia tidak menganggap remeh apa yang akan dilalui-Nya. Dia berkata jujur akan betapa hati-Nya pedih. Tapi, lebih dari itu, Dia juga berbicara akan hal-hal baik yang akan terjadi setelah kematian-Nya. Dia memberitahu para murid bahwa Dia akan pergi tetapi datang kembali agar mereka mendapatkan sukacita yang kekal. Kepergian-Nya berarti Roh Kudus akan datang dan menolong, dan terutama, dari kematian-Nya kita dapat didamaikan dengan Allah.

Aku mendapati Ibrani 12 itu menarik dan menguatkan karena pasal tersebut menceritakan alasan mengapa Yesus menderita bagi kita. Kita diundang untuk melihat kehidupan Yesus dan bagaimana Dia membawa kita pada Allah Bapa, agar kita tidak tawar hati.

Sebagai manusia kita cenderung berfokus pada hal-hal negatif yang tampak di depan kita. Ketakutanku akan virus Covid-19 dan aturan pembatasan sosial adalah nyata. Tapi, kita bisa memilih agar ketakutan itu tidak jadi fokus pikiran kita. Kita bisa melihat hal-hal baik lainnya yang mendorong kita mengucap syukur.

Satu aktivitas yang memberi dampak positif bagiku adalah sebelum hari berakhir, aku akan mengingat kembali setidaknya tiga kebaikan yang terjadi sepanjang hari itu. Aku lalu mengucap syukur kepada Allah. Ketika aku melakukan ini, aku mendapati ternyata aku punya lebih dari tiga hal untuk kusyukuri. Tujuanku adalah agar fokusku bergeser, dari pikiran tentang “seandainya Tuhan berbuat ini dan itu”, menjadi kepada berkat-berkat apa saja yang Dia telah berikan dan janjikan bagiku.

3. Bedakan antara mana yang baik dan buruk

“Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan’. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (1 Korintus 10:23).

Ayat terakhir yang kutemukan ini lebih dari sekadar pengingat. Di suratnya, Paulus menulis kepada jemaat Korintus tentang sikap mereka terhadap satu sama lain. Paulus mengingatkan, meskipun mereka tidak lagi terpisah oleh sekat aturan makan orang Yahudi, bertindak semena-mena untuk melakukan apa pun mereka yang inginkan bukanlah hal yang terbaik untuk dilakukan bagi saudara seiman.

Ayat ini membuatku berpikir bagaimana aku menyikapi orang lain ketika aku sedang bertemu teman-temanku. Saat ini, ketika pembatasan sosial gencar dilakukan, mungkin banyak orang akan menerima perintah ini. Tetapi, ketika kebijakan ini dilonggarkan, aku perlu berpikir matang bagaimana tindakanku nanti dapat berdampak bagi orang-orang di sekitarku. Aku mungkin tidak masalah untuk menjumpai teman-temanku secara tatap muka, tapi bagaimana jika tindakanku itu membuat orang lain khawatir? Aku perlu memikirkannya dengan bijak. Atau, semisal ketika aku berbelanja di supermarket, aku perlu memberi jarak fisik antara aku dengan antrean di depanku. Meskipun aku bukan termasuk orang yang parno, tetapi tidak dengan orang lain. Aku perlu juga menghargai mereka.

Aku perlu mengerjakan apa yang baik bagiku dan menghindari apa yang membawa keburukan. Bukan hanya untuk kesehatan mentalku, tetapi juga bagi perjalanan imanku. Apakah menghabiskan waktu bermedia sosial selalu lebih baik daripada membaca firman-Nya? Bagaimana jika aku menyerahkan kekhawatiranku kepada Tuhan daripada terus-menerus melihat tayangan berita?

Seiring aku berusaha mengubah kebiasaanku, aku terdorong untuk menyadari hal-hal kecil yang patut disyukuri, dan aku pun merasa diriku lebih positif.

Kesulitan dan ketidakpastian adalah bagian dari hidup setiap orang. Menyadari bahwa hal buruk terjadi dan kita merasa sedih karenanya adalah sikap yang wajar, tetapi kita juga bisa melihat pada hal-hal baik yang Tuhan izinkan terjadi. Tidak selalu mudah untuk mengubah pikiran kita kepada kasih dan berkat dari Allah, tetapi ketika kita bisa melakukannya, kita menemukan penghiburan dan harapan yang kekal.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Memaafkan yang Tak Termaafkan

Memaafkan adalah sebuah tindakan yang melibatkan proses rumit, yang untuk mengucapkannya kita perlu mengorek kembali segala memori dan luka hati. Lantas, bagaimana bisa kita memaafkan orang yang rasanya tidak termaafkan?

Keluar dari Pekerjaan Lama, Tuhan Memberiku Pengalaman Baru

Oleh Handiani, Semarang

Tahun 2020 adalah tahun yang penuh turbulensi bagiku. Selain pandemi yang merebak, nasib pekerjaan yang kutekuni selama tiga tahun ke belakang pun berada di ujung tanduk. Ada kabar yang beredar bahwa kantorku tidak akan memperpanjang kontrak kerjaku. Kabar ini—kendati belum diketahui kepastiannya—membuat hatiku tidak tenang. Keluar dan mencari pekerjaan baru rasanya jadi pilihan yang sulit.

Aku ingat momen-momen ketika dulu aku masih menjadi seorang job-seeker. Proses mengirim berkas lamaran, mengikuti psikotes, dan wawancara adalah proses yang menyita waktu, tenaga, dan juga uang, apalagi jika itu semua harus dilakukan di luar kota. Atas dasar pengalaman itulah aku merasa ragu. Keluar dan mencari pekerjaan baru berarti mengulangi semua proses itu dari nol. Itu pun belum ditambah dengan proses beradaptasi di kantor baru.

Tetapi, keputusan mau tidak mau harus dibuat. Sembari menanti jawaban final dari kantorku mengenai status pekerjaanku, orang-orang terdekatku memberiku beberapa saran. Tetap bersemangat mencari lowongan pekerjaan baru, atau mencoba hal baru, yaitu wirausaha. Opsi kedua terdengar baik, tetapi menantang. Aku tidak punya pengalaman berjualan sebelumnya, tetapi keluargaku malah mendukung opsi ini. Mereka beralasan, jika aku bisa membuka usaha di kotaku sendiri, aku bisa tetap dekat dengan orang tuaku.

Dalam doa, kututurkan pada Tuhan dua opsi tersebut, sebab aku sendiri tidak tahu mana yang paling tepat buatku. Aku masih mengupayakan opsi pertama. Aku mengirimkan banyak lamaran di banyak kota. Pergi dari satu kantor ke kantor lain untuk memenuhi panggilan tes dan wawancara. Hingga akhirnya, jawaban final dari kantorku pun diumumkan: kontrakku tidak dilanjutkan. Kecewa juga khawatir muncul dalam hatiku karena saat itu aku masih belum mendapatkan pekerjaan baru. Tetapi, syukur kepada Allah, dalam momen-momen penuh ketidakpastian itu, Dia menganugerahiku ketenangan dan optimisme. Aku yakin tiga tahun pekerjaanku di situ tentu ada pengalaman yang bisa kupetik, dan pengalaman itu bisa jadi bekal untukku melangkah selanjutnya.

Dituntun ke dalam pengalaman baru

Setelah berdoa dan berdiskusi dengan keluargaku, aku memutuskan untuk tidak mencari pekerjaan baru, tetapi menciptakan lapangan kerja baru dengan berwirausaha. Aku tahu bahwa ide ini terasa menantang. Bagaimana caranya seorang pengangguran bermimpi menciptakan lapangan kerja bagi orang lain di saat dia sendiri membutuhkan pekerjaan? Tetapi, di sinilah Tuhan pelan-pelan menuntunku masuk ke dalam pekerjaan-Nya yang ajaib.

Berbekal tabunganku dan dukungan dari keluarga, aku memulai sebuah bisnis kuliner skala mikro. Segala persiapan dilakukan, mulai dari menentukan tempat, membeli alat-alat, hingga merekrut karyawan. Karena modal yang tidak besar, di awal-awal usaha ini dirintis aku sendiri ikut terjun melayani pembeli. Suasana yang berbeda drastis. Jika dahulu aku bekerja menikmati dinginnya udara AC, kini ditemani gerah dan udara panas dari penggorengan. Aku belajar menggoreng ayam, menyapa pembeli, mengatur strategi promosi, hingga mendaftarkan produk kulinerku ke aplikasi ojek daring.

Sempat ada momen ketika aku merasa takut gagal. Dengan modal serta pengalamanku yang terbatas, aku ragu apakah usahaku ini bisa survive dan meraih untung. Tapi kemudian aku ingat, bahwasannya sekalipun aku gagal, Tuhan tidak pernah gagal. Dia tentu tetap mencukupkan kebutuhanku dan menuntunku ke dalam rencana-Nya. Yang perlu kulakukan adalah melakukan pekerjaan tangan yang tersedia di depanku dengan sepenuh hati.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan berlalu, bisnis kulinerku rupanya bertahan. Pelan-pelan mulai ada keuntungan yang meskipun secara nominal tidak fantastis, tetapi membuatku bersyukur dalam hati. Tuhan sungguh mencukupkan segala kebutuhanku. Bisnis ini pun menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk memberkati orang lain. Di saat pandemi yang mengakibatkan banyak orang kehilangan pekerjaan, aku dapat mempekaryakan karyawan-karyawan baru meskipun jumlah mereka hanya hitungan jari.

Hari ini aku menyadari bahwa inilah pekerjaan baru yang Tuhan inginkan untukku. Tuhan tidak menjawab ketakutanku dengan mengabulkan keinginan hatiku, karena Dia tentu lebih tahu mana yang lebih baik bagiku. Dia menuntunku melewati jalan setapak yang dipenuhi kekhawatiran, dan tuntunan-Nya itulah yang memberiku ketenangan.

Rencana Tuhan itu selalu baik dan indah pada waktu-Nya jika kita percaya kepada-Nya seperti yang kitab Amsal tuliskan: “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Usaha pekerjaanku belumlah selesai. Bukan tidak mungkin pula akan ada badai yang menggoyahkan, tetapi kebenaran yang bisa aku pegang adalah: bersama Allah yang menyediakan, aku tidak perlu takut.

Jika kamu mengalami pergumulan serupa sepertiku, aku berdoa kiranya bimbingan Tuhan memberikan ketenangan dalam hatimu dan Dia menuntunmu menuju pekerjaan atau profesi yang membuatmu bertumbuh kepada tujuan-Nya yang mulia.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menghadapi Penderitaan Tidak dengan Tawar Hati

Profesiku sebagai dokter membuatku tidak asing dengan kesakitan dan penderitaan yang dialami para pasien. Tak cuma para pasien, setiap kita pun mengalami penderitaan. Bagaimana agar kita tegar menghadapinya?

Ketika Pekerjaan Tak Hanya Sebatas Cari Uang dan Kerja Kantoran

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Bagiku sukacita adalah ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan; semua keinginanku terpenuhi, semua ekspektasiku terjadi. Aku pikir, sukacita itu hanya identik dengan perasaan senang saja. Nyata, tidak selalu demikian. Termasuk dalam hal pekerjaan.

Aku memulai karierku sebagai marketing di sebuah bisnis restoran. Restoran tersebut merupakan tempat favoritku untuk nongkrong bersama teman-teman semasa kuliah. Ketika mengetahui bahwa aku diterima bekerja di sana, rasanya senang dan sangat bersyukur. Selain karena tempat itu adalah restoran favoritku, aku juga senang karena bisa merasakan bagaimana sensasi menjadi seorang pekerja setelah lulus dari universitas.

Awalnya semua terlihat menyenangkan. Aku juga berpikir bahwa aku akan bertahan sangat lama bekerja di bisnis restoran favoritku. Nyatanya, setelah melewati banyak pembelajaran, baik tentang tanggung jawab pekerjaanku, maupun tentang bagaimana menjalin kerjasama tim yang baik dengan orang-orang di sana, aku mengakhiri petualanganku dalam jangka waktu 2,5 tahun. Aku memutuskan resign karena aku takut terlalu nyaman. Aku takut kemampuanku tidak berkembang lebih banyak kalau terlalu lama bekerja di tempat itu. Ditambah lagi, sebagai lulusan dari ranah Ilmu Komunikasi, rasanya ada yang kurang jika aku tidak mencoba terjun ke dunia media. Akhirnya aku melamar ke salah satu perusahaan media besar di Indonesia, dan Tuhan menjawab doaku.

Lagi-lagi merasa sangat senang, bahagia, dan bersyukur bisa diterima di perusahaan media yang aku incar tersebut. Bahkan aku sempat merasa pekerjaan itu adalah panggilan hidupku di dunia berkarir. Di masa-masa awal bekerja, aku berekspektasi bahwa karierku akan sangat bagus di tempat ini. Dengan gaji yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari, nama baik perusahaan yang berpotensi meningkatkan harga diriku di mata orang lain, memiliki teman-teman yang seru, dan beberapa faktor menyenangkan lainnya membuatku sempat merasa bahwa ini adalah pekerjaan terbaikku. Aku yakin bisa bertahan lama di sini.

Namun, 7 bulan bekerja adalah realita yang terjadi. Aku kembali memutuskan untuk resign karena aku tidak suka dengan konten media yang harus aku produksi setiap harinya. Ada idealisme di dalam diriku yang memberontak ketika aku mengerjakan bagianku. Aku bertanya-tanya: apakah ini salahku? Atau salah tempat kerjaku? Ekspektasiku hancur. Aku kecewa. Waktu itu aku sangat bingung karena kekecewaan yang kualami campur aduk; antara aku kecewa dengan tempat kerja yang tidak memenuhi ekspektasi, atau aku kecewa dengan diriku sendiri karena memiliki ekspektasi yang berlebihan. Aku sedih sekali harus berpisah dengan teman-teman yang seru dan tidak bisa bertahan lama bekerja di sana. Aku merasa tidak berguna dan gagal. Dengan kondisi ekspektasi yang hancur ini, aku memutuskan tidak melamar pekerjaan dulu selama 3 bulan.

Setelah 3 bulan, aku kembali membuka hati dan diriku untuk melamar bekerja. Kali ini, pilihanku kembali ke bisnis restoran karena aku merasa sepertinya aku memiliki minat di industri tersebut. Singkat cerita, aku kembali diterima di sebuah bisnis restoran sebagai Staf Media Sosial (Social Media Officer). Lagi-lagi merasa senang, bahagia, dan bersyukur, TAPI kali ini aku tidak merancang ekspektasi apapun. Aku belajar untuk menyerahkan karirku ke dalam tangan Tuhan dan belajar menikmati segala proses di pekerjaanku. Bisnis restoran kali ini cukup asing, karena aku belum mengetahui apa-apa tentang merek restoran ini sebelumnya. Sempat ada rasa takut gagal lagi, takut kecewa lagi, tapi aku mau belajar untuk selalu percaya bahwa Tuhan menyertai hari-hariku bekerja di sana.

Ketidaknyamanan mulai terasa kembali ketika aku mengenal karakter dari bosku yang, dalam pandanganku, memiliki karakter yang kurang baik dan kurang menjadi teladan, khususnya dalam hal bertutur kata. Ketakutanku saat itu adalah aku bisa terpengaruh, meskipun sebenarnya beliau memperlakukanku dengan baik dan profesional. Beliau juga mendukungku ketika aku bertanya-tanya soal job description yang menjadi tanggung jawabku. Hanya terkait tutur katanya saja yang membuatku tidak nyaman.

Sempat terpikir kembali untuk resign namun aku sudah terlalu lelah untuk menyerah. Akhirnya aku mencoba untuk menuangkan unek-unekku dengan cara bertemu salah satu abang seniorku yang adalah hamba Tuhan, Bang Alex Nanlohy. Meski sempat ragu, karena aku paham beliau pasti sibuk sekali, aku beranikan diri saja untuk mengontak dan puji Tuhan beliau mau menyempatkan waktu bertemu denganku sehabis membawakan khotbah di sebuah ibadah persekutuan mahasiswa.

Dari percakapan kami, aku belajar bahwa kita tidak akan pernah menemukan tempat kerja se-sempurna yang kita inginkan. Bahkan seorang petani pun harus turun menjejakkan kakinya di lumpur agar bisa bertani. Yang harus diperhatikan dalam aspek pekerjaan kita seharusnya adalah: Allah dimuliakan, pekerjaan tersebut tidak mengikat kita dalam dosa, orang lain terberkati, kebutuhan diri sendiri terpenuhi. Seusai pertemuan tersebut, aku merenungkan nasihat beliau, dan singkat cerita aku mengambil komitmen untuk bertahan sampai Tuhan sendiri yang benar-benar memberi sinyal bahwa aku harus berhenti bekerja di sana.

Dua minggu setelah pertemuanku dengan Bang Alex, bisnis restoran tempatku bekerja bangkrut. Restoran pun tutup, dan di situ aku sangat sedih. Sedih karena aku mulai menikmati apa yang kukerjakan, mulai belajar menerima karakter bosku yang sempat tidak membuatku nyaman, kembali berpisah dengan teman-teman baru, dan sedih karena aku hanya bertahan lebih singkat yaitu 6 bulan. Aku bertanya-tanya: Tuhan, Meista harus melamar ke mana lagi? Dengan kondisiku yang masih sedih, aku berniat melamar pekerjaan kembali di awal tahun 2020 (peristiwa tempat kerjaku bangkrut terjadi di awal Desember 2019).

Pertengahan Desember, mantan senior di tempat kerja lama menghubungiku. Beliau bertanya apakah aku memiliki teman yang bisa membantu timnya di bagian marketing dan media sosial untuk bantu promosikan sebuah perusahaan minuman teh. Berhubung aku sedang tidak bekerja, jadilah aku yang menawarkan diri untuk mengisi posisi tersebut. Singkat cerita, beberapa hari setelahnya aku diwawancara dan langsung diminta bekerja per 6 Januari 2020. Hingga tulisan ini dipublikasikan, aku masih bertahan bekerja di sana.

Jujur, akhirnya aku menemukan apa yang menjadi sukacitaku dalam bekerja: aku senang menolong orang lain. Aku tidak hanya senang dengan jenis perusahaan yang lagi-lagi di bidang kuliner, tidak hanya senang dengan jenis pekerjaanku yang kembali menekuni bidang pemasaran dan komunikasi, tapi aku juga senang membantu bosku memajukan produktivitas bisnisnya yang terbilang masih ada di tahap awal (startup). Tantangan, resiko, konflik antar pribadi tentu menjadi hal yang tak terhindarkan, karena aku bekerja di dalam sebuah tim, bukan seorang diri. Aku belajar bahwa berkarir tidak hanya tentang: uang, pengalaman, kebanggaan diri, atau status tidak menganggur, melainkan juga tentang kerjasama tim dan bagaimana berhadapan dengan karakter orang lain.

Aku juga belajar bahwa ternyata sukacita identik dengan rasa syukur. Rasa cukup. Aku tidak perlu lagi berekspektasi ini dan itu secara berlebihan karena aku yakin Tuhan menyediakan dan berikan yang terbaik buatku. Ini bukan berarti aku bisa bermalas-malasan dan tidak bijak dalam menggunakan waktu yang ada. Aku justru belajar bahwa melakukan bagianku dalam pekerjaan adalah hal terbaik yang bisa kulakukan. Membuat perencanaan dan memasang target itu sangat diperlukan, tapi melibatkan Tuhan di dalamnya itu jauh lebih penting. Ketika menyadari bahwa Tuhan terlibat dan Tuhan menyediakan, sukacita itu pun juga tersedia meskipun yang terjadi tidak selalu sama dengan yang kita harapkan atau inginkan.

Maukah kita selalu percaya pada-Nya? Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Kala Instagram Merenggut Sukacitaku

Gara-gara asyik main Instagram, aku jadi minder. Aku meletakkan kebahagiaanku pada apa yang tak kupunya.

Tuhan, Mengapa Engkau Mengirimku Ke Padang Gurun?

Oleh Marcella Leticia Salim, Bekasi

Bekasi, Juli 2015

Pengumuman SBMPTN dan Ujian Mandiri diumumkan. Hampir rata-rata teman-temanku diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diinginkan. Saat itu hanya aku sendiri yang tidak diterima di PTN. Sangat sedih mengucapkan selamat tinggal kepada impian dan jurusan yang diinginkan saat itu.

Akhirnya dengan berat hati harus melanjutkan di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan dengan jurusan yang tidak diinginkan pula. Aku tidak peduli akan kuliah walaupun seharusnya aku bersyukur masih bisa berkuliah.

“Tuhan, kenapa aku harus ke tempat ini?”

Sepertinya Tuhan hanya diam dan tidak mendengar umat-Nya ini. Ia seolah membiarkan apa yang terjadi kepadaku. Aku gagal di beberapa mata kuliah karena tidak bisa menguasainya. Sebagai orang yang memiliki kekurangan di bidang eksak namun “terpaksa” berkuliah di bidang eksak rasanya aku ini seperti “cari mati”. Perkuliahan yang kujalani rasanya seperti perjalanan di padang gurun. Melelahkan.

Keluhan demi keluhan kulontarkan kepada Tuhan. Mulai dari melihat teman yang melakukan kecurangan setiap ujian, teman kuliah yang menjatuhkan bahkan menjerumuskan, gagal di banyak mata kuliah hingga sampai di titik di mana aku ingin berhenti kuliah dan menyerah saja.

Hingga suatu hari, aku mencapai titik terendah selama berkuliah. Tepat saat itu, ada seorang teman mengajak ke acara conference oleh sebuah gereja di dekat kampus. Saat acara conference itu, ada satu ayat yang menyadarkanku bahwa saat kita berada di tempat yang tidak kita inginkan dan kita tidak mampu berbuat apa-apa, hanya Tuhan yang bisa kita andalkan.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. – 2 Korintus 12:9

Tuhan bisa saja memberikan jurusan dan perguruan tinggi yang aku inginkan saat itu, namun belum tentu menjamin bahwa apakah aku menjadi orang yang kuat dan lebih dewasa untuk diproses oleh-Nya. Tuhan bisa saja memberikan kemudahan, namun apakah itu menjadi jaminan bahwa aku akan semakin percaya dan mengandalkan Ia di saat susah maupun senang?

Penderitaan dan Proses-Nya

Waktu terus berjalan tanpa memberikan isyarat untuk berhenti. Sama seperti roda yang terus berputar kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Sakit, perih, dan berat. Perasaan itu awalnya sering kurasakan, aku pun menangis. Namun, lama-kelamaan aku menjadi kebal menghadapi apa yang di depan mataku: perkuliahan yang sebenarnya bukanlah dambaanku.

Melalui penderitaan, Tuhan mengujiku agar aku menjadi seorang pribadi yang lebih kuat dan mengandalkan-Nya di segala situasi. Sebagai orang yang cenderung terbiasa menggunakan rasio (logika) daripada perasaan, itu adalah hal yang sulit untuk berpasrah dan untuk percaya saja tanpa alasan. Namun, hal itu membuatku berproses untuk menjadi pribadi yang senantiasa mengandalkan Dia di setiap waktu.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13).

Dalam menjalankan perkuliahanku, aku disadarkan oleh Tuhan bahwa kuliahku sebenarnya bisa aku lalui, walaupun rumit. Namun, aku selalu lupa untuk berpegang teguh dan percaya kepada Tuhan. Aku disadarkan betul bahwa aku selalu mengandalkan kekuatanku sendiri bukan mengandalkan Dia. Melalui ketidakberdayaanku dan di kondisi serba mentok, aku mengubah doaku dari yang awalnya ingin cepat-cepat selesai saja dari perkuliahan menjadi supaya aku dimampukan menjalani setiap situasi selama aku berkuliah. Selain itu, aku belajar untuk memiliki pola pikir bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang mustahil selama kita bersama Tuhan dengan cara kita semakin intim dengan Tuhan.

Aku percaya bahwa ketika kita ditempatkan di jurusan yang kita tidak bisa atau tidak suka bukan berarti itu adalah akhir dari hidup kita. Tuhan sudah merencanakan semuanya itu dan kita ditempatkan di sana untuk berkarya dan memuliakan nama-Nya seperti di yang Paulus tuliskan dalam Kolose 3:23, “Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia” (versi BIMK).

Pada akhirnya juga, semua yang kita kerjakan adalah bentuk pelayanan kita di dunia untuk memuliakan nama Tuhan termasuk berkuliah. Memang kuliahnya bukan di jurusan yang kita tidak inginkan dan kita sukai tapi tetap jalankan itu, seperti kata salah seorang teman saya “semua orang berhak memiliki pendidikan yang layak, namun tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan itu”

Pada akhirnya, syukur kuucapkan

Sepanjang masa-masa kuliahku, Tuhan tak hanya menunjukkan kuasa-Nya. Dia juga menunjukkan kesetiaan-Nya bagiku dan tak pernah meninggalkanku. Ketika kita menjadi pengikut Kristus, itu bukan berarti hidup kita akan terbebas dari penderitaan dan pencobaan. Kedua hal itu dapat dipakai Tuhan untuk membentuk kita, seperti seorang penjunan yang membentuk bejana. Tuhan tak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Dia tahu sampai mana batas kekuatan kita. Kasih setia-Nyalah yang memampukan kita melewati penderitaan dan membuat kita menjadi seorang yang lebih baik.

Sekarang sudah 5 tahun berlalu, sangat bersyukur kuucapkan kepada Tuhan atas proses yang Dia berikan kepadaku, untuk dilalui saat itu. Mengalami gagal, sedih, penderitaan adalah hal yang wajar sebagai manusia namun Tuhan menjadikan hal itu menjadi sesuatu yang menguatkanku untuk tetap hidup di saat seperti ini. Oleh kegagalan inilah aku belajar untuk menghargai proses dan senantiasa mengandalkan Dia.

Kegagalan bukan berarti hidup kita berakhir di titik itu saja, kita masih hidup sampai saat ini dan kehidupan akan terus berjalan. Menangis, kesal, merasa tidak berdaya adalah reaksi yang wajar bila kita mengalami kegagalan, namun jangan sampai kita terus-terusan dihantui perasaan itu. Percayalah ini semua adalah atas izin Tuhan, kita sebagai ciptaan-Nya tetap percaya saja pada-Nya karena Dialah Sang Sumber Pemelihara Kehidupan dan masa depan sudah disiapkan oleh-Nya.

Baca Juga:

Menang Mengatasi Kesepian

Aku butuh ditolong, tapi aku takut meminta tolong. Aku sangat kesepian, karena merasa orang-orang lain tak mampu mengertiku. Tetapi, kasih karunia Tuhan sungguh berlimpah.