Posts

Di Mana Tuhan Ketika Aku Terpuruk Karena Menganggur?

Oleh Mikaila Bisson
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Where Was God in My Job-Hunting Struggles?

Tahun pertama setelah lulus kuliah, aku pernah magang dan mengambil pekerjaan sementara di kampus almamaterku. Pekerjaan ini memang sesuai rencanaku. Kupikir sebelum aku benar-benar memasuki dunia kerja, aku perlu menyesuaikan diri. Setelah kontrakku berakhir, aku makin tertantang untuk menemukan pekerjaan tetap. Saat itulah aku mulai sungguh-sungguh berdoa agar Tuhan membantuku menemukan pekerjaan tetap yang tepat.

Namun, setelah berbulan-bulan, aku masih menganggur, dan akhirnya pulang ke rumah orang tuaku—sesuatu yang aku janjikan tidak akan pernah kulakukan. Setiap hari aku mengirim lamaran tak peduli apa pun posisinya. Ketika ada perusahaan yang mengundangku wawancara, kebanyakan prosesnya tidak berjalan baik. Ada yang lebih memilih kandidat lain, atau tiba-tiba malah posisi yang kulamar hilang.

Akhirnya, aku mengambil langkah besar. Kutarik tabunganku dan pindah ke kota lain yang kuyakin di sana kesempatanku untuk mendapat kerja lebih besar.

Bulan demi bulan berlalu, saldo rekeningku kian menyusut… dan tidak ada tawaran pekerjaan yang datang. Aku kehilangan harapan untuk percaya kalau Tuhan akan memberikan apa yang sangat kubutuhkan—pekerjaan. Akhirnya, ketika tabunganku makin menipis, aku tenggelam dalam depresi. Di mana Tuhanku sekarang? Tidak bisakah Dia melihat aku menderita dan memanggil-Nya setiap jam?

Sebisa mungkin aku ingin mengatakan bahwa titik terendah ini membawaku lebih dekat kepada Tuhan, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Aku marah kepada Tuhan mulai dari aku bangun sampai kembali tidur. Aku berharap Dia menjagaku, atau setidaknya mendengarkanku… namun, setiap hari yang kudengar hanyalah jawaban “tidak”, atau keheningan yang lebih memekakkan telinga.

Berjalan dengan Tuhan dalam Kemarahan

Gereja dan imanku adalah satu-satunya yang tetap dalam hidupku. Sesulit apa pun kondisiku, terkadang dengan pergi ke gereja—terutama ketika khotbah tentang “panggilan” membuatku berjuang melawan air mata dan kekecewaan—aku masih dapat belajar sesuatu tentang Tuhan dan diriku sendiri di setiap ibadah Minggu.

Masa-masa prapaskah yang jatuh di bulan Februari (periode dalam kalender Kristen yang kusukai) secara istimewa sungguh membuka mataku. Momen-momen refleksi selama masa prapaskah memberiku ruang di tengah kemarahanku untuk berjalan bersama Tuhan. Aku menulis jurnal, mengikuti ibadah-ibadah, dan merenung. Aku mulai melihat betapa Tuhan telah memberkatiku. Mungkin aku memang belum mendapat pekerjaan, tapi Dia memeliharaku dengan memberiku support-system yang baik. Tuhan memberiku rumah untuk ditinggali, dan sebenarnya aku pun diberi-Nya rencana cadangan. Meski aku masih belum dapat kerja, orang tuaku tetap akan dengan senang hati menyambutku jika aku memutuskan untuk pulang.

Selama masa prapaskah ini aku terus memproses amarahku, hingga aku menemukan kisah Alkitab yang memberiku perspektif baru tentang pemeliharaan Tuhan.

Dalam Yohanes 11:1-16, Yesus tahu bahwa sahabat-Nya, Lazarus, sedang sakit parah. Dari interaksi mereka sebelumnya, kita tahu bahwa Yesus, Maria, Marta, dan Lazarus adalah teman. Tetapi ketika Maria dan Marta memanggil-Nya, Yesus malah menetap di tempat Dia berada dua hari lagi sebelum kembali ke Yudea. Dua hari lagi? Apa yang Yesus pikirkan? Teman baiknya sangat membutuhkan kuasa penyembuhan-Nya, namun Dia memilih untuk tinggal di Yudea sementara penyakit Lazarus berakhir fatal.

Melihat Kemuliaan Tuhan

Kisah itu selalu membuatku bingung. Mengapa Yesus tidak segera datang menemui sahabat-sahabat-Nya? Tetapi setelah membaca buku Waiting: A Bible Study on Patience, Hope, and Trust dari Sharla Fritz, aku mendapatkan perspektif yang lebih jelas tentang mengapa Yesus melakukan apa yang Dia lakukan.

Dalam Yohanes 11:5-6, kita membaca:

“Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada.”

Jadi, satu kata itu mengubah segalanya. Karena Yesus mengasihi orang-orang ini, Dia tinggal di tempat Dia berada.

Kemudian pada bagian berikutnya, kita membaca:

“Jawab Yesus: ”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” … berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh.” (Yohanes 11:40-44)

Mengapa Yesus tetap tinggal di tempat Dia berada? Untuk menunjukkan kebesaran kemuliaan-Nya dalam situasi ini, dengan membangkitkan Lazarus setelah empat hari dari kematiannya. Untuk menunjukkan bahwa meskipun semua tampak hilang, Dia dapat melakukan hal yang mustahil, dan Dia adalah pribadi yang layak kita percayai. Untuk mengingatkan kita bahwa Dia bertindak menurut gambaran besar yang tidak dapat kita lihat, atau bahkan bayangkan.

Bahkan Jika Kita Tidak Mengerti

Ketika aku terus memikirkan hal ini, aku menyadari bahwa Tuhan tidak berutang pekerjaan kepadaku. Alih-alih menuntut-Nya memberiku satu hal menurut rencana yang telah kubuat, aku bisa berbagi keinginan, frustrasi, dan doa-doa dengan-Nya, dan menyerahkan jawabannya pada rencana gambaran-Nya yang besar. Syukurlah, rencana besar-Nya buatku mencakup bagaimana dan di mana aku akan meraih pekerjaan tetap. Tuhan memberiku pekerjaan luar biasa pada sebuah lembaga pelayanan yang memberiku kesempatan untuk menumbuhkan skill profesional, juga imanku, lebih daripada apa yang kubayangkan.

Tuhan layak mendapatkan kepercayaan kita karena Dia selalu melakukan yang terbaik. Dalam situasi Maria dan Marta, yang terbaik yang Yesus lakukan adalah saudara laki-laki mereka dibangkitkan dari kematian dan tindakan ini menunjukkan dahsyatnya apa yang dapat Tuhan lakukan. Pada titik ini, aku belum mengerti mengapa menganggur dan susah payah mencari kerja adalah yang terbaik buatku. Meskipun pada akhirnya masa-masa penantian itu membangun imanku pada Tuhan dan rencana-Nya, aku masih tidak yakin bagaimana hal itu akan menunjukkan kemuliaan-Nya di masa depan. Tetapi meskipun aku tidak mengerti, aku tahu sekarang bahwa aku selalu dapat mempercayai Dia untuk memeliharaku—meskipun itu mungkin tidak terlihat seperti yang kuinginkan.

Meskipun aku masih merasa bahwa pengalamanku itu sedikit getir, aku tahu Yesus akan menyambutku. Dia akan merengkuhku, juga seluruh rasa bingung dan kecewaku, sebagaimana Dia menangis bersama Maria dan Marta karena kehilangan Lazarus, meskipun Dia tahu bahwa Lazarus kelak akan dibangkitkan-Nya.

Berhenti Mencari Tahu Apa yang Jadi “Panggilan” Hidupmu dan Mulailah Menghidupi Hidup itu Sendiri

Artikel ini ditulis oleh YMI

Momen ketika kamu berhasil menemukan panggilan hidupmu sering digambarkan sebagai momentum besar yang akan mengubah hidupmu selamanya. Jadi, kita pun terus mencarinya, menanti, dan berharap momen itu datang. Kita membayangkan kelak kita melakukan pekerjaan yang mengubah hidup–menulis cerita-cerita tentang kaum marjinal, membuka rumah singgah atau yayasan buat anak-anak yang rentan, atau pergi melakukan perjalanan misi.

Pengejaran kita yang tanpa henti untuk menemukan panggilan hidup sedikit banyak dipengaruhi juga oleh media yang kita konsumsi, yang bilang mimpi harus dikejar, dan suara hati yang berbisik harus didengar supaya kita tahu tujuan hidup kita yang lebih besar.

Lantas kita meminta kelompok komsel untuk mendoakan kita, membaca apa pun yang membuat kita tahu mana yang kehendak Tuhan supaya kita menemui panggilan-Nya… atau bisa juga ikut kuis-kuis tentang kepribadian supaya tahu apa sih yang sebenarnya jadi ‘panggilan’ kita.

Tapi…hari-hari berlalu… ‘panggilan’ itu masih entah di mana. Bos kita di tempat kerja masih saja toxic, teman kita sudah dipromosikan jabatannya… dan kita sendiri dengan tak sabar menanti kapan weekend karena sudah capek kerja.

Setiap hari kita terus memberi tahu diri kita kalau hidup akan berubah—perjalanan kita akan lebih mulus, minim masalah, pokoknya yang baik-baik—itulah yang kita deskripsikan sebagai menemukan ‘panggilan’.

Tapi… gimana kalau panggilan itu sebenarnya sudah ada di depan kita? Gimana kalau Tuhan sudah menunjukkanya dengan jelas? Gimana kalau kita coba menikmati hidup di tempat di mana Tuhan sudah letakkan kita, dengan rendah hati melayani orang-orang di sekitar kita, serta melakukan segala sesuatunya tanpa mengharap balasan?

Maukah kamu menghidupi panggilan semacam itu?

1. “Panggilan” kita adalah tentang melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, meskipun itu tidak menyenangkan

Kita bermimpi pekerjaan kita membuat suatu proyek yang mengubah dunia, tapi kenyataannya kita berdiri dua jam di depan mesin fotokopi, mencetak ratusan lembar laporan untuk rapat besok. “Hadeh, gak seharusnya aku kerja gini…” kita menggerutu sembari menendang mesin printer yang macet.

Dalam Alkitab, Yusuf dipanggil untuk menjadi pemimpin di Mesir, tetapi ada momen ketika dia harus melewatkan hari-harinya di penjara—yang ditafsirkan oleh para ahli sejarah selama 12 tahun!—atas tindakan yang tidak dia lakukan. Namun, Yusuf setia pada tempat di mana Tuhan menempatkan dia (Kej 39,40), dan pada waktu-Nya, dia menjadi orang kedua di Mesir setelah Firaun (Kej 41:37-43). Pada akhirnya, Yusuf bisa membawa keluarganya ke Mesir dan menyelamatkan mereka dari kelaparan (Kej 46).

Seperti Yusuf, apa yang kita lakukan sekarang mungkin terasa kurang berkesan dan seolah tidak mengubah dunia, tapi Tuhan telah menempatkan kita pada suatu peran untuk sebuah tujuan. Bisa jadi yang kita lakukan sekarang adalah batu loncatan untuk rencana-Nya kelak, dan masa-masa sekarang adalah momen terbaik untuk melatih diri kita.

Setialah pada tempat di mana kamu berada dan lakukan yang terbaik—meskipun tugasmu cuma sekadar memfotokopi ratusan lembar dokumen laporan untuk suatu rapat yang membosankan—dan izinkan Tuhan memimpinmu pada tahap selanjutnya sesuai waktu-Nya.

2. Panggilan kita adalah untuk menaati apa yang Tuhan telah perintahkan untuk kita lakukan

Rasanya keren membayangkan kelak ada begitu banyak orang yang terinspirasi oleh kita saat kita menghidupi ‘panggilan’ kita. “Bukan, itu bukan aku, itu Tuhan”, kata kita di depan ribuan orang yang mendengarkan cerita kesaksian kita.

Namun, dalam pencarian akbar kita akan panggilan, apakah kita telah melewatkan satu panggilan terbesar? Bagaimana jika pada akhirnya “panggilan” kita adalah untuk hidup menjadi serupa dengan Kristus dan menghidupi hidup yang membawa orang lain kepada-Nya.

Efesus 5:1 berkata kita adalah ‘penurut Allah’, dan kita dipanggil untuk hidup sebagai umat Allah yang kudus (Ef 5:3). Ssemua itu dimulai dengan melakukan apa yang Dia telah perintahkan kita untuk lakukan—saling mengasihi (1 Yoh 4:7), mengampuni yang telah menyakiti (Ef 4:32), peduli pada yang lemah dan terpinggirkan (Yak 1:27)—semua inilah panggilan-Nya bagi kita.

Jadi, bagaimana kita mau mengasihi teman kerja yang menyebalkan? Apakah kita menjauhinya, menyumpahi supaya semua yang menyakiti kita kena sial? Atau, apakah kita dengan murah hati memberi pada orang yang butuh?

Orang-orang di sekitar kita mengamati apa yang kita bicarakan, lakukan, cara kita menghadapi cobaan, stres, juga kepahitan hidup. Hal-hal yang kita lakukan (atau tidak) menunjukkan pada orang-orang siapa Tuhan yang kita sembah dan layani.

Kita mungkin gak akan pernah mendapat standing ovation dari melakukan semua hal di atas, tapi dalam banyak cara, mungkin apa yang kita perbuat menjadi cara-Nya untuk mengubah hidup seseorang. Kelak saat kita tiba di surga, kita mendengar Tuhan berbicara, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Mat 25:23).

3. “Panggilan” kita adalah menggunakan setiap kesempatan yang ada sebaik mungkin

Kita pernah mendengar kesaksian tentang orang-orang yang merasa mendapat ‘beban yang luar biasa’ yang Tuhan tanamkan di hati untuk melakukan ini dan itu. Dari situlah mereka tahu kalau itu panggilan mereka. Jadi, kita pun menanti ‘panggilan’ itu datang dengan cara yang sama.

Tapi di saat yang sama, kita menolak ikut serta jadi relawan. Kita bilang “aku doain dulu ya” pada orang yang telah mengajak.

Seiring Tuhan mengarahkan langkah kita (Amsal 16:9), kita akan menjumpai sesuatu yang menggugah hati ketika kita memberi diri untuk mengamil kesempatan yang ada. Contohnya, peduli pada hewan-hewan yang ditelantarkan bisa mendorong kita untuk kelak jadi aktivis yang menyuarakan tanggung jawab pada setiap orang yang berkeputusan memelihara hewan. Peduli yuang dimaksud itu tak cuma banyak cerita di medsos, tapi misalnya kamu ikut aktif merawat seekor anjing berkutu yang terlantar lama.

Panggilan kita mungkin tidak muncul dengan segera, tiba-tiba nongol setelah kita berdoa, atau setelah kita ikut tes kepribadian yang ke-100 kali… bisa jadi panggilan itu tersembunyi di pojokan jika kita memutuskan untuk menjelajahi setiap kesempatan yang datang pada kita.

Arti dari semua ini bukannya kita harus menyerah atas impian dan hasrat yang kita ingin raih (Tuhan menempatkan dua hal itu tentu dengan alasan), tapi kita bisa berhenti mencarinya dengan cara yang serampangan. Kita bisa menemukan panggilan dengan mulai hidup di sini, di saat ini dan melakukan apa yang Tuhan telah berikan pada kita. Saat kita sungguh merenungkan apa yang Tuhan mau kita lakukan, inilah sebenarnya panggilan-Nya juga.

Begini Rasanya Kesepian di Usia yang Masih Muda

Oleh Sandyakala Senandika

Di umurku yang masih di angka 20-an, kesepian adalah pil pahit yang harus kutelan setiap hari. Bukannya aku tak punya teman. Temanku banyak. Tetapi, fase kehidupan yang telah berubah turut mempengaruhi aspek relasiku dengan teman-temanku.

Izinkan kuceritakan sekelumit kisahku. Sebenarnya, kesepian bukanlah hal baru di hidupku. Aku lahir di luar pernikahan yang sah. Bisa dibilang, ayah ibuku tidak secara intensional menginginkan kelahiranku. Saat tumbuh dewasa pun lingkunganku tidak suportif. Orang tuaku bertengkar setiap hari hingga akhirnya berpisah rumah. Sebagai anak bungsu dengan tiga kakak tiri, relasiku pun tidak terlalu dekat dengan mereka, menjadikanku tidak banyak bicara di rumah. Hingga akhirnya saat aku lulus sekolah, aku memutuskan merantau sampai hari ini.

Saat kuceritakan keluhan ini ke teman-teman kantor, gereja, atau sahabatku sejak zaman bocah, respons mereka kurang lebih sama.

“Makanya, udah deh sekarang cepetan cari pacar…”
“Masa sih se-kesepian itu lu? IG lu aktif banget loh…”
“Ah, kamu mah pasti bisa hadepin ini. Kan kamu suka petualangan. Keluyuran sendiri juga fine kan?”

Tidak ada yang salah dengan semua respons itu. Benar aku perlu mendoakan dan mencari pasangan hidup. Benar pula aku aktif di media sosial, juga aku rutin melakukan perjalanan ke alam dan ikut beragam komunitas.

Namun, kesepian adalah sebuah perasaan yang seringkali hadirnya tidak dipengaruhi oleh keadaan luar. Aku sadar, setelah lulus kuliah, aku tak lagi bisa sebebas dulu. Teman-temanku pun sama. Kami punya kesibukan masing-masing yang membuat perjumpaan fisik semakin susah. Semua ini tidak bisa dielakkan. Jadi, meskipun aku bisa saja menjumpai temanku, tapi perjumpaan itu tidak bisa lama dan rutin. Semakin terobsesi mencari teman justru membuat rasa sepi semakin nyata… dan diliputi banyak teman pun bukan jaminan rasa kesepian itu akan lenyap. Les Carter berkata: “Kesepian adalah perasaan terpisah, terisolasi, atau berjarak dari relasi antar manusia. Kesepian adalah luka emosional, perasaan kosong, dan hasrat untuk dimengerti dan diterima oleh seseorang.” Kamu bisa tetap merasa sepi meskipun ada di tengah-tengah kerumunan yang seru.

Kesepian, masa muda, dan kata Alkitab

Studi yang dilakukan oleh BBC Loneliness Experiment di Inggris Raya menunjukkan fakta mencengangkan. Jika biasanya kesepian sering diidentikkan kepada warga lansia yang sudah tak bisa melakukan banyak hal, temuan riset ini malah memaparkan bahwa 40% responden yang mengaku kesepian ada di kelompok usia 16-24 tahun. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang para lansia yang ada di angka 27%.

Fakta ini begitu kontras. Bagaimana bisa seorang muda dengan akses koneksi Internet, keluwesan berjejaring secara daring, bisa merasa sepi?

Meskipun masa muda memang adalah waktu penuh kebebasan dan petualangan, tak dipungkiri banyak transisi terjadi di masa ini. Merantau, memulai kuliah, meraih pekerjaan baru, akan mencabut kita dari pertemanan yang dibangun selama masa-masa kita tumbuh besar.

Teman yang kita temukan pasca usia 25 akan berbeda taraf keakrabannya dengan mereka yang kita jumpai di dekade sebelumnya. Alasannya simpel: dengan teman lama kita melewati proses pertumbuhan dan banyak fase transisi—dari sekolah ke kuliah, remaja ke dewasa. Sedangkan pada teman yang kita jumpai di usia dewasa, tak banyak waktu dan proses yang kita lewati bersama. Umumnya kesempatan bersama itu sekadar hang-out atau urusan kerja saja sehingga ikatan emosional yang terbentuk tidak begitu kuat.

Jika kita membuka Alkitab, kita pun akan disuguhi oleh kisah tentang orang pilihan Tuhan yang mengalami kesepian. Ini membuktikan kesepian adalah perasaan manusiawi yang dialami oleh siapapun, bahkan nabi sekalipun.

Yeremia dalam Perjanjian Lama dipanggil Allah untuk menjalani panggilan yang berat—mewartakan firman Allah kepada bangsa yang bebal dan menyimpang. Kabar yang dibawa Yeremia pun bukanlah kabar gembira, melainkan kabar penghakiman bahwa jika tidak ada pertobatan yang sungguh-sungguh, murka Allah akan datang. Maka, jelaslah bahwa Yeremia akan dibenci oleh bangsanya sendiri. Yeremia pun meratap, “Celaka aku, ya ibuku, bahwa engkau melahirkan aku, seorang yang menjadi buah perbantahan dan buah percederaan bagi seluruh negeri” (Yer 15:10). Dalam kesukarannya itu, Allah pun melarangnya dari menikah dan memiliki keturunan (Yer 16:2). Dapat kita bayangkan akan beratnya pergumulan seorang Yeremia. Sendirian, pun dibenci oleh bangsanya sendiri.

Yeremia merupakan salah satu nabi yang tidak cuma menyampaikan nubuatannya, tapi juga mengalami itu. Pada tahun 586SM Yeremia masih hidup dan menyaksikan bagaimana Babel menyerbu Yehuda, menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci. Hukuman Tuhan berupa pembuangan Israel ke Babel pun tergenapi.

Menghadapi tugas berat itu, Yeremia sendiri sebenarnya bukanlah orang pemberani. Dia takut dan ada kalanya dia meragukan Allah. “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai” (Yer 15:18), tetapi Allah berjanji menyertainya (ayat 20).

Sisi yang menarik dari kisah Yeremia ialah: dalam kesepiannya, dia mengutarakan segenap perasaannya pada Allah. Apa yang dia luapkan merupakan perasaan campur aduk. Satu sisi dia mengeluh, tapi dia tidak melupakan kebaikan Allah, lalu meratap lagi. Hingga akhirnya Yeremia tuntas menunaikan tugas panggilannya, semua itu karena dia selalu kembali pada Allah dan mengingat janji-Nya (Yer 32:17).

Kisah kesepian yang aku, mungkin juga kamu alami pastilah berbeda dengan jenis kesepian nabi Yeremia karena dimusuhi oleh seisi bangsa. Tetapi, kita bisa meraih banyak pelajaran dari perjalanan Yeremia. Betul, dia merasa kesepian, tetapi dia tidak pernah kehilangan sosok teman sejati, yakni Allah sendiri. Yeremia mampu, hidup, bertahan, dan bertumbuh karena Allah hadir bersamanya. Dalam Yeremia 15:19 terselip pesan bagi setiap kita yang merasa kesepian, tidak berguna, atau surut imannya, sebab di sana Allah sedang memberi tahu Yeremia untuk kembali pada-Nya karena Dialah yang akan memulihkan sukacita keselamatannya.

Kesepian memang tidak terelakkan karena kejatuhan manusia dalam dosa menghancurkan persekutuan kita dengan Allah. Namun, kabar baiknya adalah Allah tidak membiarkan keterpisahan itu. Dia hadir dalam rupa Kristus untuk memulihkan kembali relasi yang hilang dengan anak-anak-Nya.

Selagi kita masih hidup dalam tubuh fana ini, kita tak bisa seratus persen tak pernah merasa sepi. Namun, janji dan kebenaran firman Tuhan menguatkan kita dan memampukan kita untuk menghidupi hari-hari yang sepi dengan cara-cara kreatif. Bukan dalam kemurungan dan semakin mengisolasi diri, tetapi dengan semangat baru bahwa kita disertai Allah dan ke dalam dunia inilah kita diutus (Yoh 17:18).

Sepanjang tahun ini aku telah belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa sepiku, sebab kutahu dalam hidup manusia di dunia, kesepian adalah buah dari kejatuhan manusia yang tetap harus kita tanggung dan dalam upaya kita menanggung itu, ada jaminan bahwa Allah senantiasa melindungi kita (Yoh 17:15). Namun, ini tidak berarti kita membiarkan diri saja dalam kesepian. Sebagai ciptaan yang dikarunia hikmat, kita bisa mengubah kesepian ataupun perasaan negatif lainnya menjadi tindakan-tindakan aktif yang bisa mendatangkan hasil positif baik bagi diri kita sendiri, maupun lingkungan di sekitar kita.

Ketika rasa kesepian itu datang, aku menuliskannya dalam jurnal doaku dan mencari cara-cara kreatif untuk melalui hari-hariku setelahnya. Aku mulai bergabung dengan komunitas gereja lokal dekat tempat kerjaku, menginisiasi akun YouTube yang mendokumentasikan perjalanan-perjalanan rutinku, juga mengontak kembali teman-teman lama yang dahulu pernah akrab. Semua cara ini kendati tidak seratus persen mengeyahkan rasa sepi, berhasil menolongku melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda: dalam kesendirianku, aku tidak pernah sendirian.

Jadi Orang Kristen, Tapi Ambisius… Memangnya Boleh?

Oleh Andrew Laird
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is It Okay For A Christian To Be Ambitious?

Ambisi.

Inilah kata yang menimbulkan diskusi di kalangan orang Kristen. Kita sering mengartikan ‘ambisi’ sebagai sifat yang ‘menghalalkan segala cara’, ‘tusuk lawanmu dari belakang’, terkhusus kalau kita bicara soal pekerjaan. Kita pasti tidak asing dengan sosok teman atau kenalan yang berwatak keras dan mati-matian demi mewujudkan apa yang mereka mau. Atau mungkin, kita pernah jadi orang seperti itu!

Tapi.. kalau kebalikan dari ambisius, bukannya itu juga tidak baik? Bayangkan kamu tidak punya gairah, semangat, tujuan. Hidup cuma sekadar hidup. Cara seperti ini juga rasanya bukan pilihan yang baik.

Jadi… apakah ada tempat bagi ambisi dalam hidup Kristen? Jika ada, seperti apa bentuknya? Dan kalau kita tidak punya ambisi, apakah itu sama buruknya seperti prinsip ambisius yang ‘menghalalkan segala cara’?

Syukurlah, Alkitab tidak meninggalkan kita sendirian dalam menggumuli pertanyaan ini.

Ada dua tipe ambisi

Pada tingkatan yang paling dasar, ambisi berarti berjuang keras untuk meraih sesuatu. Masalah muncul ketika pengejaran itu semata-mata hanya untuk tujuan dan kepuasan kita. Jenis ambisi ini seringkali mewujud ke dalam bentuk manipulasi dan menyerang siapa pun yang menghalangi keinginan kita (Yakobus 3:16).

Inilah tipe ambisi yang disebut Alkitab sebagai “ambisi egois”, dan ini sudah jelas salah bagi orang Kristen. Contohnya, dalam surat Rasul Paulus untuk jemaat Filipi, dia berbicara tentang beberapa orang yang mengotbahkan Kristus karena “ambisi yang mementingkan diri sendiri” (Filipi 1:17). Paulus tidak terkesan dengan motivasi mereka. Betul, mungkin mereka mengabarkan Kristus, tetapi mereka mengutamakan kepentingan pribadi, “…dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara” (ayat 17). Mereka ingin pujian manusia (mereka iri karena Paulus mendapatkannya), jadi rasa egoislah yang menggerakkan mereka.

Kemudian, di surat yang sama, Paulus mendorong pembacanya agar tidak membiarkan diri digerakkan oleh ‘ambisi egois’, tetapi mengejar kerendahan hati (Filipi 2:3).

Tetapi…semua ini tidak berarti ambisi itu salah. Jika ada satu orang dalam Alkitab yang sungguh ambisius, dialah Rasul Paulus! Ambisinya terlihat jelas ketika dia bicara tentang mengejar relasi yang lebih dalam dengan Kristus, menekankan dan berusaha keras untuk mengejar apa yang di depan (Filipi 3:12,13) untuk memperoleh ‘hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi 3:14). Ini bukanlah bahasa yang dituturkan oleh seorang dengan ambisi yang rendah! Kita bisa melihat semangat yang sama dalam surat-surat Paulus lainnya di mana dia mengupayakan segala cara memberitakan Injil, berapa pun harga yang harus dia bayar.

Mengejar ambisi yang benar

Jenis ambisi yang kita lihat dalam Paulus mungkin paling tepat kita sebut sebagai ‘ambisi yang saleh’. Tidak seperti ambisi egois, inilah jenis ambisi yang digerakkan atas kepentingan orang lain, dan juga Tuhan. Inilah ambisi yang rendah hati; dengan semangat bekerja keras untuk meraih sesuatu, tapi demi kepentingan orang lain, bukan diri sendiri. Mungkin inilah Paulus mengontraskan ambisi yang egois dalam Filipi 2:3 dengan kerendahan hati. Amy Dimarcangelo, seorang penulis menulis begini di artikelnya:

“Bagaimana aku bisa tahu kalau ambisiku itu ambisi yang benar dan saleh?” Tidak ada yang salah dengan berambisi, “selama keinginan dan tekad itu dibungkus dalam kemuliaan Tuhan, bukan kita sendiri.”

Apa artinya ini semua bagi orang Kristen di ladang pelayanannya masing-masing? Kita boleh berambisi…demi orang lain! Bekerja keras, belajar hal baru, mendengar podcast, membaca buku–lakukan semua itu bukan cuma untuk diri sendiri, tapi agar kita dapat meningkatkan kualitas diri untuk melayani Tuhan lewat pekerjaan kita, agar orang lain turut diberkati.

Cara pikir ini mungkin terkesan radikal, terkhusus apabila sebelumnya kita hanya berpikir melakukan semuanya hanya demi kepentingan kita sendiri.

Namun, Allah dalam hikmat-Nya yang besar memberi kita hasrat (juga kemampuan, talenta, dan pengetahuan) yang menjadi sukacita kita untuk menggunakannya demi kepentingan orang lain. Allah bukan pembunuh sukacita; Dia rindu kita bersukacita tetapi sukacita terbesar hanya kita temukan ketika kita menggunakan apa yang kita punya bagi orang lain, bukan diri sendiri. Mengapa Yesus mati di kayu salib (tindakan kasih terbesar dari ambisi yang tidak egois)? “Yang tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibrani 12:2). Inilah yang terdengar aneh, tetapi paradoks yang paling indah dalam iman Kristen—dalam memberi kita menemukan kepuasan dan sukacita.

Penting untuk kita ingat bahwa motivasi kita selalu campur aduk. Memang, tugas yang sama yang dapat dilakukan untuk kebaikan orang lain mungkin juga dilakukan karena mementingkan diri sendiri (perhatikan contoh yang diberikan Paulus tentang mereka yang mengkhotbahkan Kristus, “karena ambisi yang mementingkan diri”!).

Adalah baik jika kita waspada dan bertanya pada diri sendiri dari waktu ke waktu. “Apa yang menggerakkanku? Egoisme atau bukan? Tapi, hanya karena motivasi kita seringkali bercampur aduk dan tidak murni, ini tidak berarti kita tidak boleh memiliki ambisi.. melainkan berdoalah dengan tekun agar Tuhan menolongmu mengembangkan ambisimu menjadi sesuatu yang berfokus pada orang lain, bukan cuma diri sendiri.

Hindari hidup yang tidak berambisi

Tapi… bagaimana dengan pertanyaan final ini: Kalau aku gak punya ambisi, apakah itu seburuk orang yang punya prinsip ambisi ‘menghalalkan segala cara’?

Seringnya sih iya. Tapi kita butuh klarifikasi yang lebih penting. Apa yang orang lain lihat sebagai ‘kurang berambisi’ bisa jadi juga bentuk kepuasan atas apa yang Tuhan telah berikan dan tempatkan kita selama ini. Jika kita punya kepuasan seperti itu, puji Tuhan! Tapi, itu tidak berarti kita harus kekurangan ambisi. Kepuasan dan ambisi bisa (dan harus) berjalan bersandingan. Dalam kepuasanmu kamu bisa tetap berambisi untuk orang-orang di sekitarmu. Lihat apa yang jadi kebutuhan mereka dan lakukan sesuatu untuk mendukung mereka.

Namun, kekurangan ambisi dalam konteks Alkitab dapat juga dideskripsikan sebagai kemalasan. Si pemalas dalam Amsal sering dijadikan contoh cara hidup yang tidak patut kita tiru (Amsal 6:9; 13:4, 15:19, 26:15). Tak ada hal yang memuliakan Tuhan dari menyia-nyiakan kemampuan yang telah Dia berikan kepada kita, yang seharusnya bisa kita gunakan buat orang lain.

Di artikel yang sama, Amy Dimarcangelo juga menulis: “Orang yang pasif, yang menghindari berusaha sendiri karena mereka ‘percaya Tuhan’ mungkin terdengar rohani, tapi bisa jadi itu hanya dalih dari kemalasan dan kurang tanggung jawab. Mempercayai Tuhan untuk hasil panen yang baik tidak akan berarti apa pun kalau kamu tidak mau menyirami dan merawat benihmu.”

Maka jadilah ambisius bagi Allah! Pakai karunia, kemampuan, talenta, dan kesempatan yang Dia berikan padamu. Lalu, dengan cara kreatif dan bersemangat, gunakan itu semua untuk kebaikan orang lain dan kemuliaan-Nya.

Keterbatasan Bukan Halangan Untuk Menerima Panggilan-Nya

Oleh Jlo (Jessica Lowell), Tangerang

Apa yang kalian pikirkan mengenai keterbatasan?

Banyak orang memiliki pemikiran bahwa keterbatasan adalah orang yang cacat atau tidak lengkap tubuhnya (istilah bahasa Inggrisnya disable). Sedangkan dalam KBBI, keterbatasan berarti keadaan terbatas. Pemikiran awal di atas tidak ada salahnya, namun keterbatasan itu tidak hanya cacat fisik. Ada orang yang memiliki anggota tubuh lengkap, tapi ternyata memiliki keterbatasan dalam hal lain. Salah satunya seperti aku.

Aku memiliki anggota tubuh lengkap, tetapi memiliki keterbatasan yang tidak banyak orang tahu, yaitu disleksia. Disleksia adalah gangguan saraf di bagian batang otak.yang berfungsi memproses bahasa. Waktu kecil, aku mengalami kelambatan bicara yang disebut speak delay, dan ketika mulai menginjak sekolah dasar, bicaraku masih belum jelas, sehingga aku di-bully oleh orang-orang sekitarku.

Aku tidak akan menceritakan mengenai bullying. Aku akan menceritakan bagaimana aku yakin dan percaya bahwa keterbatasanku bukan halangan untuk menerima panggilan Tuhan.

Aku dilahirkan dalam keluarga Kristen. Tiap minggu, aku diajak untuk sekolah minggu. Ketika kelas 6 SD, aku mengikuti retret dan memberi diri untuk mengikut Yesus.

Kemudian memasuki fase remaja, aku belum menemukan hal yang membuatku tertarik. Aku sering ditanya, apa cita-citaku kelak, dan aku selalu menjawab mau menjadi hamba Tuhan. Aku mau membuktikan bahwa keterbatasanku (disleksia) bukan halangan bagi kita untuk melayani Tuhan. Aku pun mengambil pelayanan di sekolah Minggu dengan menjadi asisten guru. Salah satu alasan aku melayani di sekolah Minggu karena aku menyukai anak-anak.

Aku tahu, disleksia yang kualami tentu akan mempengaruhi tiap kegiatanku, di mana pun itu. Misalnya semasa kuliah, ketika ada kerja kelompok dan aku ditanya teman-teman, aku sulit mengutarakan pendapat (kata-kata), sehingga aku memilih diam saja. Begitupun dalam pelayanan yang k ambil, walaupun hanya terkadang. Karena saat ini aku hanya membantu dan lebih banyak bertugas dalam bidang multimedia. Namun tetap saja, aku harus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan teman sepelayananku. Dan aku memilih untuk tidak menyerah dalam melayani, walaupun disleksia mempengaruhi pelayananku.

Kita tahu bahwa dalam Alkitab, banyak sekali tokoh yang memiliki keterbatasan, namun dipakai oleh Tuhan. Salah satunya Musa yang tidak fasih berbicara. Tuhan memilih Musa untuk melakukan suatu pekerjaan besar, yaitu membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, tetapi Musa menolak panggilan Tuhan berkali-kali. Salah satu alasannya menolak karena mempermasalahkan kemampuan bicaranya yang buruk.

“Lalu kata Musa kepada TUHAN: ”Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Keluaran 4:10).

Tuhan sabar menghadapi Musa dan penolakannya. Dia pun berjanji menyertai lidah Musa dan mengajarinya apa yang harus dikatakan (Keluaran 4:12), hingga akhirnya Musa menerima panggilan tersebut. Dan Tuhan memegang janji-Nya. Dia senantiasa menyertai Musa dalam segala hal dan pergumulannya, hingga akhirnya bangsa Israel bebas dari Mesir.

Hal ini mengingatkanku pada kitab 2 Korintus 12 ayat 9 :

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Dalam kelemahankulah kuasa Tuhan menjadi sempurna

Tuhan tentu bisa menghapus kelemahan kita, karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Tapi justru dalam kelemahanlah, Tuhan mau kita bergantung pada kuasa-Nya.

Bisa dibilang, kesediaan aku melayani Tuhan mirip dengan satu nabi di Alkitab yang bernama Yesaya. Saat Nabi Yesaya ditanya oleh Tuhan, ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Yesaya menjawab, ”Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8).

Setiap kali aku ikut KKR dan retret, aku ditantang oleh pembicara, siapa yang mau menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu untuk menjadi pengajar. Hatiku selalu gemetar, tapi aku memilih melangkah maju sebab aku rindu dapat melayani Tuhan pada bidang itu.

Tuhan bisa memakai siapa saja yang dia mau untuk menjadi pelayan-Nya, baik laki laki atau perempuan, baik tua atau muda. Tuhan juga tidak melihat masa lalu. Ia pun tidak melihat dari ketidaksempurnaan, karena kita semua adalah manusia yang tidak sempurna. Tetapi, yang Tuhan lihat adalah hati yang mau melayani Dia dengan sungguh-sungguh.

Aku mau mengajak kita semua untuk tidak berkecil hati dan tidak takut menerima panggilan Tuhan. Kita pasti memiliki kelemahan yang berbeda-beda, entah terlihat atau tidak. Tapi ingatlah, dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna.

Jika kita Dia pilih untuk menjadi pelayan-Nya, Dia pasti akan memampukan kita dan menyertai kita untuk melakukan pekerjaan baik.

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

Sebagai penutup, aku mau memberikan satu ayat Alkitab yang bisa menjadi penguat bagi kita semua dalam melayani.

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Tuhan Utus, Tuhan Urus

Oleh Cristal Tarigan, NTT

Namaku Cristal Pagit Tarigan. Aku berasal dari Tigalingga, Dairi, Sumatera Utara. Sekarang aku adalah seorang guru pedalaman di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Kot’olin, Timor Tengah Selatan. Tidak pernah sedikit pun aku terpikir akan berada di pedalaman, bahkan menginjakkan kakiku di sini.

Tiga tahun lalu, tepatnya setelah aku wisuda, aku langsung bekerja di sebuah bimbel (bimbingan belajar) di kota Medan. Di sana aku mulai bertanya sungguh-sungguh kepada Tuhan tentang arti hidup yang lebih bermakna.

Awalnya ada ketidaknyamanan ketika merasa hari-hari berlalu begitu saja: aku mengajar tapi tak menikmatinya, karena merasa bimbel tempatku bekerja penuh dengan drama “ajang bisnis”. Selain itu, yang paling membuatku sedih adalah jam kerja dari sore sampai malam, membuatku tak bisa mengerjakan komitmen tanggung jawab pelayananku selama 1 tahun. Akhirnya, aku memutuskan keluar dari tempat kerja tersebut dan menjadi seorang freelancer yang mengajar privat dan bisnis online. Sejak saat itu aku lebih banyak merenungkan tujuan hidupku.

Sebagai freelancer, aku memiliki banyak waktu sela, sehingga aku bisa aktif dalam sebuah pelayanan penginjilan, pelayanan pemuridan, dan sebuah les gratis di sebuah desa di pinggiran Deli Serdang. Singkat cerita, pengalaman bertemu banyak orang dari berbagai lapisan sosial di sana membuatku semakin mengerti: apa tujuan Tuhan mengutusku di dunia ini dan melalui apa aku dapat berdampak untuk sekelilingku.

Sesungguhnya, tujuanku ke sini benar-benar ingin menjadi seseorang yang lebih berguna buat sesama, tapi rupanya itu tidak semudah yang aku bayangkan. Ada begitu banyak pergelutan pikiran dan hati yang kurasakan ketika sampai di sini. Di awal-awal, aku masih sering bertanya, Tuhan, benarkah aku di sini karena panggilanku? Begitu banyak hal yang terjadi di sini.

Awalnya mulai dari mengatasi kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan, khususnya makanan yang sangat berbeda dari kota, baik dari segi ketersediaan dan juga nilai gizinya. Bukan aku tidak mempersiapkan diri, tapi bagiku soal makanan ini lebih buruk dari yang aku bayangkan.

Minggu kedua berada di sini, aku jatuh sakit. Rasanya sedih sekali saat itu. Perasaan takut karena berada di pedalaman juga menambah kekhawatiran. Berat badan pun tiba-tiba turun. Tidak hanya fisikku yang sakit, tapi pikiranku juga. Aku menangis, berdoa, dan bergumul. Tiga hal itulah yang kulakukan berulang kali. Hingga seminggu lebih berlalu dengan kondisi seperti itu, membuatku menemukan sebuah kesimpulan yang sangat berharga. Ya, ada hal berharga yang aku petik dari kejadian tersebut, yang membuatku mengerti arti “Berserah Penuh”.

Selama ini arti berserah seakan hanya sebuah teori yang melekat di kepala dan selalu kuucapkan di saat pergumulanku kurasa tidak terlalu berat. Tapi saat itu aku benar-benar tidak punya pilihan, selain berdoa dan mengizinkan Tuhan yang ambil alih.

Dan saat itu yang terjadi adalah rumah sakit jauh, obat terbatas, dan kendaraan juga terbatas. Beberapa hari kemudian aku merasa jauh lebih baik dengan obat seadanya dan istirahat secukupnya.

Masih banyak hal lain yang aku alami di sini. Melewati masa-masa sulit sampai akhirnya beradaptasi, dan sekarang merasa seperti menemukan sebuah ladang emas yang sangat berharga, yang merupakan hal terutama bagiku, yaitu aku bisa mengeksplorasi banyak kualitas dalam diriku.

Aku belajar semakin dekat mengenal Tuhan, semakin berserah, dan semakin berbuat dengan hati. Hal itulah yang paling utama untuk bisa hidup di pedalaman. Selain hati, ada hal lain yang tidak kalah penting dan harus lahir dari hati serta melakukannya di sini, yaitu senyuman lebar dan sapaan. Itu adalah sebuah hal yang menjadi kebiasaanku di sini, karena itu adalah senjata ampuh untuk mereka yang masih merasa asing. Senyuman adalah awal untuk sebuah hubungan yang mampu menjadi sebuah obat bagi mereka, orang-orang yang bisa aku layani di sini.

Aku belajar bahwa ketika Tuhan berikan kita visi, Tuhan pasti kasih kita provision (bekal). Tuhan tidak pernah membiarkan kita begitu saja dan main-main dengan apa yang sedang Dia kerjakan. Dia peduli sekali, Dia tahu dan tidak akan pernah salah menempatkan kita, apalagi memberikan kesulitan di luar kemampuan kita. Sama seperti yang ditulis di 1 Korintus 10:13 :

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

So, jangan pernah mengeluh dengan berbagai kesulitan yang ada, karena mengeluh berarti tidak mensyukuri apa yang Tuhan berikan dan rencanakan.

Dimana pun dan apapun bagian kita, ingatlah bahwa dimana Tuhan mengutus kita, Dia pasti juga mengurus kita. Kita hanya perlu bersabar, belajar, dan semakin hari semakin rendah hati meminta hikmat tentang apa yang harus kita lakukan, serta menggunakan semua kesempatan yang ada.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11 ).

Tetaplah berpengharapan, teruslah berdoa, jadilah setia, dan mau dibentuk.

Apa yang Tuhan Lakukan Saat Aku Menantang-Nya?

Oleh Gabrielle Meiscova

“Ya Bapa, tolong.. Jika kau mengizinkan aku untuk menjadi seorang copywriter di sana, aku akan menulis kesaksian tentang kebaikan-Mu dalam hidupku.”

Itulah permintaanku pada Tuhan, alias aku menantang-Nya dengan sebuah jaminan. Menulis untuk Tuhan. Itulah intinya. Sesuatu yang sekarang ini menjadi tujuan hidupku.

Sudah hampir setahun aku berusaha keras mencari pekerjaan. Ratusan CV yang kutebarkan via email atau website tak kunjung mendapatkan jawaban. Segala harapan yang tertulis di dalam CV tersebut biasanya hanya diakhiri dengan balasan rejection letter. Seketika aku menyetujui ungkapan dunia yang mengatakan bahwa hidup itu keras. Boleh dibilang, aku berada di posisi terendah dalam hidup, alias depresi.

Saat itu, aku berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan permintaanku agar dapat diterima kerja di salah satu perusahaan digital agency. Mengapa aku memohon pada Bapaku seperti itu? Karena aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku menyerahkan tubuh, jiwa, raga, dan impianku ke dalam tangan-Nya. Aku tidak sanggup mengerjakan semua ini seorang diri. Saat aku berserah pada-Nya, Ia mendengar keluh kesahku. Sang Bapa berbisik lewat pikiranku, dan tiba-tiba aku mengingat ayat emas dari Alkitab, yang menjadi pedomanku saat katekisasi.

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kau minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11 : 24).

Iman! Itulah yang menjadi permasalahanku selama ini. Sebelum Markus 11:24 menegurku, jujur saja, aku ragu akan karya Bapa yang akan digenapkan dalam hidupku. Aku sering mengatur Tuhan agar Ia memberikan pekerjaan sesuai dengan apa yang aku inginkan, tanpa mempercayai dan mengimani kalau Tuhan akan memberikannya padaku di saat yang tepat, di waktu yang tepat. Saat itu, aku tidak ingat kalau keimananku pupus ditelan kebisingan dunia, karena terlalu banyak menghabiskan waktu di sosial media. Aku dibutakan oleh Iblis lewat quotes di media sosial, kalau hidup ini adalah milikku sendiri dan akulah yang harus mengatur hidupku akan berjalan ke arah mana. Aku tidak sadar kalau Tuhan yang rela mati di kayu salib untuk menebus dosaku adalah pemilik kehidupanku selama ini. Ia pun tidak akan meninggalkan anak-Nya berjalan sendirian.

Ada sebuah gambar yang kutemukan di explore Instagram, di mana ada seorang anak kecil yang sedang melukis sebuah tulisan PLAN bersama dengan Tuhan di sampingnya. Gambar itu memberikan kesadaran dalam diriku, kalau selama ini Tuhan bekerja dalam hidupku, dan aku sendiri memiliki tugas untuk membangun masa depanku bersama dengan-Nya. Selama ini, aku tidak melibatkan Tuhan dalam setiap rencana yang kubuat untukku dan masa depanku. Aku sungguh egois dan berpikiran sempit kala itu. Saat aku sadar akan kesalahanku selama ini, aku meminta pengampunan dari Tuhan, lalu Ia menjawabnya lewat sebuah ingatan dari kalimat yang pernah kubaca dalam sebuah buku, sebagai berikut. “Saat pertama kali main sepeda, kita pasti pernah terjatuh sehingga pengalaman saat terjatuh itulah yang membuat kita ingin terus mencoba mengayuh sepeda sampai berhasil mengendarainya.”

Tuhan mengampuni aku yang tidak beriman pada-Nya, dengan memberikan pemahaman bahwa tak apa jika kita terjatuh, sebab Ia sendiri yang akan menolong. Saat jatuh pun, Tuhan akan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk kita. Kadang manusia memang harus terjatuh, agar ia bisa menyadari kalau tangan Tuhan senantiasa terulur untuk orang yang meminta pertolongan-Nya.

Dalam Matius 14:22-33, diceritakan bahwa Petrus yang adalah salah satu dari ke-12 murid Yesus, pernah menantang-Nya agar ia bisa berjalan di atas air, saat para murid mengira bahwa Ia adalah hantu. Pada ayat 28 tertulis, “Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia : Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Tak disangka-sangka, Tuhan Yesus malah menyuruh Petrus untuk berjalan di atas air, walaupun pada akhirnya sang murid menjadi takut dan mulai tenggelam, hingga akhirnya Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menolong Petrus. Kisah ini mengingatkan aku pada diriku sendiri, saat aku menantang Tuhan untuk memberikan pekerjaan sebagai copywriter itu padaku.

Saat aku mengerti apa yang diinginkan Tuhan dalam hidupku, segalanya terasa lebih mudah. Aku jadi banyak mengucap syukur atas berkat yang Ia berikan, dan saat aku mempertaruhkan masa depan pekerjaanku kepada-Nya dengan jaminan akan menulis kesaksian tentang kebaikan-Nya, Ia memberikan pekerjaan itu padaku. Tuhan mengizinkan aku untuk melayani-Nya lewat tulisanku.

Aku masih harus banyak belajar, khususnya dalam menulis, tapi aku sudah sadar kalau pekerjaan yang kulakukan bersama dengan Tuhan akan berjalan secara maksimal, saat aku melibatkan-Nya dalam tiap tulisanku.

“Allah sanggup melakukan segala perkara. Dulu, sekarang, dan selamanya kuasa-Nya tidak berubah.”

Ya Tuhan, ajar aku memiliki kepekaan untuk mengerti apa yang Kau kehendaki dalam hidupku. Tetaplah bimbing anak-Mu ini untuk terus menjalani hidup ini sampai menuju kekekalan bersama dengan Engkau, ya Bapa.

Drama Skripsi dan Wajah-wajah yang Menopang

Oleh Alvianus Gama

“Alex!”, sahut mamaku dari arah kamarnya saat aku sedang bergegas menaiki tangga ke kamarku di lantai atas.

“Ya Ma, kenapa?”, jawabku pendek.

“Mama mau ngobrol dulu bentar”, jawab mama dengan muka yang terlihat serius.

Aku menoleh ke arahnya dengan penuh pertanyaan. Ada apa gerangan?

“Mama sama papa udah sebulan ini berdoa tiap malem buat kuliah kamu. Tapi setiap kali berdoa kok rasanya nggak damai ya, jadi mama mau nanya langsung aja ke kamu, sebenarnya kuliah kamu tuh gimana? Coba cerita dong…”, kata mamaku penuh harap.

Aku tertunduk diam. Ini adalah pertanyaan yang paling aku takutkan selama ini. Takut akan konsekuensi yang akan aku hadapi nanti.

Mamaku adalah seorang ahli hukum yang sukses dalam pekerjaannya. Ia seorang yang antusias dan penuh semangat, selalu memotivasi aku dan kakakku untuk maju dalam segala hal. Dalam kesibukannya bertemu dengan klien setiap hari, ia selalu bisa menyisihkan waktu untuk memperhatikan keluarga dan orang-orang yang dikasihinya. Sedangkan papaku adalah seorang yang berpendirian keras dan berkemauan kuat, yang mendidik anak-anaknya dengan caranya sendiri. Papa adalah sosok ayah yang selalu menemukan berbagai macam cara untuk memperbaiki peralatan rumah yang rusak, mulai dari meja yang patah kakinya, keran air yang bocor, hingga mobil yang mogok, atau motor yang rusak. Agaknya inilah yang membuatku lebih mudah untuk bercerita kepada mama untuk segala urusan, termasuk kuliahku. Cerita ke papa? Hmmm nanti dulu.

“Gimana Lex? Ayo cerita dong…”, ujar mamaku menantikan jawaban.

Aku menghela nafas panjang. Susah rasanya untuk membuka mulutku dan mulai cerita. Saat itu, aku seolah tak punya alasan lain untuk menghindar dari pertanyaannya selain menarik tangan mamaku dan mengajaknya ngobrol di kamarku. Di dalam kamar pun, aku tetap sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di kepalaku dalam kata-kata. Di momen-momen sunyi yang menyiksa itu, tanpa aku bisa kuasai, air mata mengalir begitu saja. Aku lihat mama menatapku heran, menyaksikan anak laki-lakinya terisak sambil menunggu penjelasan.

”Kenapa kamu nak? Coba jujur aja, cerita ke mama, gimana sebenarnya?” ujarnya lembut sambil memegang tanganku erat.

Jantungku berdegup kencang. Aku berusaha menenangkan hati dan emosiku. Dengan nafas yang tak beraturan, aku mulai menceritakan pada mamaku bahwa sebenarnya sudah 2 tahun ini aku menelantarkan kuliahku. Selama ini aku berbohong pada mamaku terkait kuliahku.

Aku tertunduk malu dan berusaha sebisa mungkin menghindari tatapan langsung mamaku. Perlahan aku bisa mendengar mamaku juga ikutan menangis. Ia tampak begitu terpukul dan nggak percaya kalau anak yang selama ini dia banggakan, yang punya IPK bagus dan di atas rata-rata teman kuliahnya, anak yang nyaris nggak pernah punya masalah, tiba-tiba membawa kabar yang tak pernah ia sangka-sangka, seperti mendengar suara geledek di siang bolong.

Sejak 2 tahun yang lalu, aku sebetulnya sudah masuk dalam semester akhir dari kuliahku dan menurut hitungan waktu, aku seharusnya sudah menyelesaikan skripsiku di paruh kedua tahun 2020. Tapi pada kenyataannya, alih-alih membereskan skripsi, untuk sekadar memilih topik dan menentukan judul pun belum aku lakukan. Sudah hampir 4 semester ini aku nggak bayar uang kuliahku. Parahnya lagi, kalau ditanya terkait uang kuliah, aku selalu menemukan cara untuk berbohong bahwa aku sudah membayarnya, padahal belum aku bayar dan ngga ada satu pun terkait skripsiku yang aku kerjakan. Entah kenapa, untuk urusan skripsi ini, aku ngerasa nggak bisa, aku frustasi. Aku merasa stuck di program studi yang aku pilih ini. Semua ini terasa mudah aku lakoni karena situasi pandemi Covid-19 yang memaksa semua perkuliahan dan tugas akhir dilakukan secara daring, sehingga tidak ada kecurigaan sedikitpun dari mamaku karena aku tidak perlu lagi pergi ke kampus, hanya diam di kamar seolah-olah sedang mengikuti perkuliahan secara daring.

Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku terdalam, aku sangat menyukai pelajaran bahasa lebih daripada program studi Akuntansi yang aku ambil sekarang. Bahkan dalam masa-masa awal perkuliahan, aku sudah membayangkan untuk menjadi ahli bahasa, bertemu, bernegosiasi dan berbincang-bincang dengan banyak orang. Dalam hati, aku pun bertekad untuk pindah jurusan ke program studi bahasa dan memulai dari awal. Setidaknya itu yang ada dalam pikiranku untuk aku lakukan ke depan.

Dan kalau aku ingat lagi, beberapa bulan sebelum mengikuti tes masuk perguruan tinggi, aku pernah mengikuti tes minat dan bakat untuk mengetahui program studi mana yang cocok buatku dan menurut hasil tes, aku cocok untuk masuk program studi Akuntansi karena aku terbukti jago dengan angka-angka. Entah kenapa, setelah 4 tahun aku jalani perkuliahan ini, aku benar-benar merasa telah salah memilih program studi. Bukan ini yang aku sukai. Bukan ini Tuhan.

“Selama ini mama pikir kalau kamu sedang nyelesain skripsi, karena kamu yang bilang gitu kan ke mama!” ujar mamaku melanjutkan. Hatiku hancur melihatnya. Aku terdiam membisu. Ia merasa gagal menjadi orangtua. Mama yang selama ini tegar dan bersemangat, saat itu kulihat menutupi mukanya dan berulang kali menyatakan ketidakpercayaannya akan berita yang ia terima. Ia mencoba membujukku untuk tetap meneruskan studiku karena sudah kepalang tanggung, tinggal menyelesaikan skripsi saja, tapi aku bersikukuh dengan keinginanku untuk pindah jurusan. Kami pun bersitegang mengenai masalah ini dan sore itu berlalu tanpa ada jalan keluar. Kami menyudahi pembicaraan tanpa ada keputusan apa-apa. Sore yang dingin.

Tanpa kusangka, keesokan sorenya, aku dikejutkan dengan berita yang aku terima. Tanpa sepengetahuanku, setelah berdiskusi dan meminta saran dari beberapa anggota keluarga, mamaku memberanikan diri untuk datang ke kampus dan berkonsultasi dengan ketua program studi. Ia mencoba untuk mengajukan permohonan agar skripsiku dapat diberi perpanjangan waktu. Mengetahui hal ini, tentu saja membuatku mengamuk. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa diatur ini dan itu. Aku merasa seolah-olah mamaku tidak mendengar sama sekali keluhanku selama 2 tahun ini. Aku sudah bilang aku nggak sanggup, tapi kenapa tetap memaksakan keinginan ini?

Mama mencoba meyakinkan aku kalau Tuhan yang kasih jalan untuk aku mendapat perpanjangan waktu, artinya Tuhan akan membantuku untuk menyelesaikannya. Di sisi yang lain, aku jadi bertanya-tanya, bukankah itu artinya Tuhan tidak mendengar doaku buat pindah program studi? Apa Tuhan pun nggak melihat kalau aku nggak sanggup? Aku speechless.

Keesokan harinya, mama kembali mendatangi kamarku untuk menanyakan keadaanku. Ia khawatir dengan reaksiku kemarin setelah aku meluapkan kekesalan dan amarah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Namun ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya agar aku dapat menyelesaikan kuliahku saat ini. Ia mengingatkanku akan semua perjuangan yang sudah aku lakukan, mulai dari awal perkuliahan hingga kerja praktek. Ia memintaku untuk belajar menjadi orang yang bertanggung jawab dan menyelesaikan apa yang sudah aku mulai.

Ada satu kalimat yang hingga saat ini aku ingat, yang berkata bahwa kalau Tuhan sudah menolongku hingga sejauh ini, Tuhan juga akan menolong menyelesaikan perjalanan ini. Agaknya Tuhan mulai melembutkan hatiku saat itu. Amarahku mereda dan aku mulai mencoba untuk melihat masalah yang kuhadapi dari sisi lain. Aku sadar aku begitu egois dan ingin menang sendiri. Aku pun tahu mama bukan orangtua yang memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Ia orang yang fair, berani mengakui kesalahannya dan selalu berterus terang kepada anak-anaknya.

Yang lebih membuatku semakin menyadari bahwa Tuhan mendengar doa dan usaha mamaku adalah ketika aku diberitahu bahwa pihak Fakultas akan berusaha sebisa mungkin agar aku bisa kembali mendapat kesempatan menyelesaikan skripsi yang sudah tertunda selama 2 tahun. Yang membuat terheran-heran, semua urusan itu bisa diselesaikan hanya dalam satu hari saja, padahal selama 2 tahun statusku tanpa kabar itu aku yakin akan berakhir dengan keputusan DO dari kampus.

Saat ini aku merasa senang dan bersemangat. Walaupun papa dan kakakku tidak mengutarakan perasaan mereka, tapi mereka menunjukkan sikap menopang. Tiap orang tampaknya ingin berbuat sesuatu untuk menyemangatiku, dengan cara mereka sendiri. Aku merasa didukung dan ini semakin membesarkan hatiku. Setiap babak baru dalam perjalanan hidup kita berisi tanda tanya dan ketidakpastian. Kita jadi ragu-ragu dan takut. Pada saat seperti ini aku ingat pemazmur yang berbisik meminta topangan dari Tuhan,”Topanglah aku sesuai dengan janji-Mu…” (Mazmur 119:16).

Saat tulisan ini dibuat, pihak fakultas memberiku 3 bulan waktu perpanjangan agar aku bisa menyelesaikan skripsiku. Berita baiknya lagi, aku bisa mendapat pembimbing skripsi yang aku idolakan selama ini, dosen yang sangat menolong dan memotivasi aku untuk menyelesaikan skripsiku. Aku merasa seperti seorang pendosa yang mendapat anugerah pengampunan yang besar dari Tuhan. Aku tahu ini memang saat-saat yang berat dan penuh perjuangan, tapi aku siap memulai kembali dan aku tahu Tuhan akan menyanggupkan aku. Mungkin perjuanganku dalam menyelesaikan skripsi ini hanya 3 bulan saja, tapi perjalanan hidupku masih puluhan tahun ke depan. Akan jadi apa aku nanti? Apa rencana Tuhan dengan hidupku?

Saat aku bingung, bimbang, dan takut, aku teringat wajah-wajah yang menopang aku. Wajah mama, wajah papa, wajah kakakku dan orang-orang yang mengasihiku. Aku semakin mantap. Terima kasih Tuhan untuk mereka. Terima kasih Tuhan untuk kasihmu.

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” –Mazmur 37:23-24.

Manisnya Kisah Hidup Maudy Ayunda: Jangan Lupa Kalau Hidupmu Juga Manis

Oleh Agustinus Ryanto

Warganet gempar. Bukan karena ada bencana atau peristiwa politik akbar, melainkan karena sosok selebriti tanah air, Maudy Ayunda, tahu-tahu menikah. Maudy secara tersirat sering dianggap sebagai role model kehidupan yang diidam-idamkan oleh banyak orang: berpenampilan menarik, wajah rupawan, seorang intelek, berbakat seni, dan yang teranyar dia menikahi seorang oppa.

Maudy yang lahir pada tahun 1994 memulai karier awalnya di dunia hiburan lewat film Untuk Rena pada tahun 2005. Setelahnya, Maudy tetap aktif membintangi sejumlah film sembari meneruskan studinya sampai lulus S-2 dari Universitas Stanford pada 2021. Di tahun yang sama, Maudy juga masuk ke dalam nominasi 30 orang di Asia yang berpengaruh di bawah usia 30 versi Forbes Asia.

Berita pernikahan Maudy yang bermula dari unggahan fotonya di Instagram dengan cepat menyulut skill investigasi netizen, terkhusus di Twitter. Maudy Ayunda segera menjadi trending topic dengan perhatian utama pada sosok siapa sebenarnya suami Maudy, bagaimana sepak terjangnya, agamanya, dan hal-hal personal lainnya. Tapi, tak sedikit pula yang mengungkapkan perbandingan: “Duh, enak banget ya jadi Maudy…”

Imaji kita akan sosok idaman nan ideal

Membanding-bandingkan diri adalah respons alamiah dari manusia. Setiap kita, secara sadar ataupun tidak, sering membanding-bandingkan diri. Meski komparasi pada level tertentu bisa mengubah cara pandang kita menjadi toxic, tetapi pada sisi lain perbandingan bisa mendorong kita berkompetisi atau meniru seseorang dengan tujuan meningkatkan kualitas diri.

Namun, kadang kita tak tahu atau tak sadar akan di titik mana perbandingan itu harus berhenti kita lakukan. Ketika membandingkan diri dengan seseorang, ada banyak sekali faktor yang menjadikan perbandingan kita tidak sepadan atau apple-to-apple. Sebagai contoh, jika kamu adalah seorang mahasiswa dengan uang saku kurang dari 1,5 juta setiap bulan, kuliah di kampus swasta biasa, menurut data dari Asian Development Bank mungkin kamu termasuk ke dalam kelompok penduduk kelas menengah yang secara posisi ada di tengah-tengah: tidak sekaya para pemilik modal, tetapi berkecukupan walau mungkin juga terasa banyak kurangnya. Imaji untuk membeli barang-barang mewah, studi di kampus beken luar negeri, sukses gemilang, dan hidup nyaman seperti para influencer, mungkin bisa juga terwujud dalam hidupmu, tetapi perlu effort yang besar (terlepas faktor hoki) yang belum tentu hasilnya akan sama dengan apa yang diidamkan.

Kita cenderung mengidolakan sosok yang menurut kita lebih daripada kita. Entah dalam hal karier, status sosial-ekonomi, atau bahkan kerohanian. Kecenderungan itu lantas membuat kita samar terhadap kelemahan yang juga dimiliki oleh sang idaman, yang jika kita tidak bijak bukannya membuat kita jadi terpacu semangatnya, malah jadi minder.

Membandingkan diri kita akan sosok lain yang menurut kita lebih ideal dan manis hidupnya bukanlah sebuah kesalahan, tetapi kita perlu selalu mengingat bahwa sosok yang kita bandingkan pun adalah manusia berdosa, sama seperti kita. Setiap manusia di bawah kolong langit diciptakan serupa dengan gambar Allah (Kejadian 1:26-27), namun kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan setiap orang kehilangan kemuliaan Allah dan menanggung banyak kelemahan. Hidup kita yang sekilas tidak seberuntung orang lain bukan berarti hidup kita penuh kepahitan. Kebenaran ini dapat menolong kita untuk melihat sosok idaman kita dari perspektif yang benar dan tidak mengagungkan mereka secara berlebihan.

Sukses kita adalah menggenapi panggilan-Nya

Lantas, jika hidup kita saat ini terasa biasa-biasa saja, apakah bisa menggapai yang namanya sukses?

Jawabannya: tergantung sukses seperti apa yang kita idamkan. Jika kita adalah seorang karyawan swasta dengan jabatan biasa tapi berambisi ingin jadi seperti influencer yang suka membikin es krim aneka rasa, yang kekayaannya sepertinya tak berseri, maka jawabannya: bisa-bisa saja! Tergantung usaha kita. Namun, ada pertanyaan yang lebih krusial daripada siapa dan seperti apa sukses yang ingin kita raih, yaitu: untuk apa segala kesuksesan itu nantinya jika berhasil kita raih?

Dalam Alkitab, kita mengenal kisah Musa yang diutus Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Ketika panggilan mulia ini datang, Musa menolak. “Ah, Tuhan. Aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Keluaran 4:10). Allah menjawab Musa dengan memberi pengertian bahwa Dialah yang berkuasa dalam melakukan perubahan. “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?” (ayat 11).

Musa merespons Allah dengan berkelit lagi, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus” (ayat 12). Allah murka terhadapnya dan memberikan penegasan bahwa Dia “akan menyertai lidahmu [Musa] dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan…” (ayat 13). Yang menarik dari kisah Musa adalah meskipun dia memang memiliki kekurangan dan minder, itu tidak menghalangi Allah dalam mengutusnya. Segala keterbatasan Musa bukanlah kesalahan Allah, tetapi dalam kelemahan Musa kuasa Allah pun dinyatakan. Kelemahan seseorang tidak menjadi penghalang bagi tergenapinya pekerjaan Tuhan. Nama Musa tetap dikenal sampai sekarang sebagai tokoh besar yang memimpin Israel keluar dari tanah Mesir.

Sebagai orang Kristen, panggilan kita adalah menerangi dunia dan memberi rasa di dalamnya, sebab kita adalah garam dan terang (Matius 5:16). Panggilan ini bisa kita wujudkan tanpa perlu menunggu saldo di rekening menjadi sekian digit, mendapatkan pasangan hidup yang rupawan dan hartawan, atau menunggu pengikut kita di Instagram jadi sekian ribu. Allah mungkin tidak berbicara secara langsung seperti Dia berkomunikasi dengan Musa, tetapi melalui Alkitab yang adalah firman-Nya, setiap kita dipanggil untuk menggenapi rencana-Nya dari aspek yang paling sederhana dalam hidup (Kolose 3:23). Dalam upaya dan panggilan tersebut, ada janji yang Tuhan pasti nyatakan bahwa kita dipelihara-Nya (Mazmur 23:1, Matius 6:34).