Posts

Lebar atau Sempit: Mana yang Kau Pilih?

Oleh Olivia Christa Yutrista

“(13) Masuklah melalui gerbang yang sempit, karena lebarlah gerbang dan lapanglah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan mereka yang masuk melaluinya adalah banyak. (14) Sebab, sempitlah gerbang dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan mereka yang mendapatkannya adalah sedikit.” (Matius 7:13-14, ILT)

Aku termenung seusai membaca dua ayat dengan perikop Jalan yang Benar (versi Indonesian Literal Translation) tersebut. Sebagian besar dari kita tentu tak asing lagi dengan nas di atas, yang bahkan sudah dinyanyikan sejak masa sekolah minggu. Namun, ternyata aku belum benar-benar memahami maknanya hingga aku membaca kembali pengajaran Yesus tersebut pada waktu teduhku. Tuhan, Sang Firman dan sumber dari segala hikmat (Yakobus 1:5) pun memberiku pemahaman.

Sempitnya Jalan Kehidupan

Ketika pertama kali memperhatikan nas tersebut, aku dengan pikiran manusia yang terbatas, sempat bertanya-tanya: Lho, kok jalan kehidupan dikatakan sempit dan jalan kebinasaan malah lebar? Apa nggak terbalik? Sekilas seakan-akan maknanya terdengar “negatif”, padahal tidak ada yang keliru dengan firman Tuhan. Manusia saja yang seringkali tidak bisa menyelami pikiran Tuhan, kalau tidak Roh Kudus sendiri yang menyingkapkannya. Dalam konteks ini, malam itu Tuhan menjawab kebingunganku: sempit pada nas tersebut merepresentasikan bagaimana manusia memposisikan firman dalam hidupnya. Firman Tuhan, yang isinya termasuk berbagai perintah dan jalan Tuhan, seringkali kita salah artikan sebagai sesuatu yang mengikat dan membatasi pilihan kita dalam hidup.

Sempit berbicara perihal pola pikir. Pilihannya: apakah firman Tuhan kita anggap sebagai sesuatu yang mengekang atau menghalangi langkah dan pilihan kita, sehingga kita merasa jalan kita “sempit” karena apa-apa “tidak boleh” atau ini-itu “salah” (memenjara kita) atau sebaliknya, perkataan yang membebaskan dan menyelamatkan jiwa kita? Kita yang memilih. Namun, faktanya ialah jika kita tetap tinggal dalam Firman─yang adalah kebenaran, kita justru adalah orang-orang yang merdeka (Yohanes 8:31-32).

Lebarnya Jalan Kebinasaan

Sembari merenungkan, Tuhan mengingatkanku pada sebuah postingan dari akun terverifikasi di Instagram. Ketika tengah berselancar di beranda, muncul unggahan akun tersebut bertajuk Moscow adalah Surga di Bumi. Ternyata, informasinya mengagetkanku. Ssurga” yang mereka maksud ialah dunia malam! Mereka membagikan potret demi potret berisi kegiatan anak-anak muda di Moscow pada malam hari yang lekat dengan minuman keras, narkoba, dan seks bebas─secara terang-terangan! Hatiku hancur rasanya. Bagaimana lebihnya dengan hati Tuhan?

“…lebarlah gerbang dan lapanglah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan mereka yang masuk melaluinya adalah banyak.” (ay. 13)

Tanpa firman, yang bagi dunia sangat “membatasi” ruang gerak mereka, itulah kebebasan. Kebebasan yang membawa kepada kebinasaan (Roma 6:23, Wahyu 21:8).

Sebelum Memilih, Fokus pada Akhir Cerita

Ketika kita memutuskan untuk mengikut Kristus, dua langkah yang harus kita ambil adalah menyangkal diri dan memikul salib. Kapan? Setiap hari (Lukas 9:23). Ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan, artinya kita bersedia menjadikan Dia Tuan/Pemimpin atas hidup kita seutuhnya, dan bukan hanya aspek-aspek tertentu. Kita berjalan dalam Roh dan bukan daging. Kristuslah yang duduk di takhta hidup kita (Galatia 2:19b-20).

Ketika rasanya sulit dan ingin menyerah terhadap dosa, mari arahkan kembali pandangan kita kepada Kristus—kepada hal-hal yang kekal dan bukan fana (Kolose 3:2). Kehidupan kita yang sesungguhnya adalah di surga, yaitu ketika kita bersatu dengan Bapa untuk selama-lamanya. Tidak lama lagi!

Dalam mengikut Kristus, mungkin pilihan kita seakan-akan terbatas atau jalan kita “sempit” karena kita harus sesuaikan dengan apa yang berkenan bagi-Nya, namun percayalah, rancangan dan jalan-jalan-Nyalah yang akan menyelamatkan kita dan bukan apa yang kita anggap baik atau penting. Ketika kita bersedia diatur oleh Tuhan, masa depan yang penuh harapan yang akan Ia berikan (Yeremia 29:11).

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.” (Ulangan 30:19)

Baca Juga:

Ketika Ketakutanku Direngkuh-Nya

Takut, cemas, dan stres sebenarnya adalah kondisi wajar yang pasti dialami setiap orang. Namun, beberapa waktu terakhir ini, ketakutan yang kualami rasanya tidak terkendali. Ketakutan itu tak cuma perasaan yang berkecamuk di hati, tetapi juga mempengaruhi apa yang kulakukan.

Buatlah Pilihan untuk Melakukan Perkara Surgawi

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Jika kamu pernah mengemudi sebuah motor, apalagi dengan kecepatan yang cukup tinggi, kamu tentu tahu bahwa hanya dengan satu kesalahan pilihan saja, sesuatu yang fatal dapat segera terjadi.

Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan yang kita ambil selalu memiliki konsekuensi yang harus kita tanggung.

Makanan apa yang kita makan? Pakaian seperti apa yang kita kenakan? Bagaimana cara kita tidur? Jika keputusan yang kita pilih terhadap hal-hal yang terlihat kecil seperti itu saja mengandung sebuah risiko yang serius jika diabaikan. Bagaimana dengan pilihanmu terkait sebuah profesi yang menantimu di masa depan?

Kita hidup dalam budaya yang cenderung mengagung-agungkan apa yang terlihat oleh mata dan mengabaikan apa yang ada di baliknya. Itu sebabnya di negara kita—jika tidak selalu—mungkin banyak kita temui orang tua yang lebih menginginkan anaknya bekerja untuk sebuah instansi yang “mewajibkan” pekerjanya menggunakan pakaian rapi. Mereka ingin anaknya terlihat “terhormat” dalam pandangan masyarakat umum.

Aku punya seorang teman yang dianggap remeh oleh orang lain termasuk beberapa keluarganya karena ia adalah seorang peternak yang selalu tampil kotor dengan pakaian khas ala gembala. Ejekan demi ejekan ia terima dari mereka yang tidak sadar bahwa temanku itu punya penghasilan pribadi yang berkali-kali lipat dari para pekerja berdasi yang aroma bajunya wangi. Tapi, aku juga punya banyak teman—baik pria maupun wanita—yang senang sekali menjalin hubungan serius dengan orang-orang berparas menawan tanpa menyelidiki karakternya. Mereka lupa bahwa kecantikan bukan melulu soal wajah dan tubuh.

Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan jenis pekerjaan orang dan mencari-cari kelemahannya. Aku juga tidak bermaksud untuk menjadi hakim atas baik buruknya sebuah selera akan pasangan hidup. Aku hanya sedang memastikan kita benar-benar menyadari bahwa kita sedang “menari” di dalam dunia yang menomorduakan atau bahkan menutup mata terhadap sesuatu yang “tak nampak”. Inilah yang membuat begitu banyak tipuan, yang mungkin kelak akan berujung pada penyesalan.

Di dalam mengambil sebuah pilihan, apa pun itu, ingatlah bahwa semuanya memiliki dampak yang signifikan dalam hidup kita, cepat atau lambat. Itu sebabnya sebagai seorang anak Tuhan berhati-hatilah dalam memilih.

Perhatikanlah apa motivasimu memilih sesuatu dan caramu menjalaninya. Rasul Paulus mengatakan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah” (Kolose 3:1). Di sini Paulus sedang mengingatkan kepada jemaat Kolose untuk menyadari identitas mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah dibangkitkan bersama Kristus. Dengan kata lain, mereka adalah warga kerajaan surga yang harus mencari perkara-perkara surgawi. Setiap pilihan dan keputusan yang mereka ambil serta setiap tindakan yang mereka jalankan harus sejalan dengan Kristus yang telah memberikan keselamatan dan status baru kepada mereka, yaitu anak-anak Allah. Demikian jugalah kita yang percaya kepada-Nya.

Sebagai orang-orang yang telah dibayar dengan darah Kristus, apa saja yang akan kita pilih dan bagaimana kita menjalaninya nanti, kita sama sekali tidak boleh melupakan tujuan dan cara kita adalah memuliakan Allah.

Jangan khawatir hanya pada apa yang terlihat oleh mata, karena dalam pengertian tertentu tidak ada yang “sekuler” dalam kekristenan. Jangan berpikir bahwa dengan menjadi seorang pengkhotbah, pemimpin pujian, ketua pemuda, dan semacamnya adalah sesuatu yang disebut “perkara di atas” atau “perkara surgawi” sedangkan menjadi seorang penjual kue, pilot, buruh bangunan dan sebagainya merupakan apa yang disebut “perkara di bumi” atau “perkara duniawi”.

Seperti yang telah aku singgung pada bagian awal, itu adalah pemikiran keliru yang tidak komprehensif. Fakta sedihnya ada beberapa orang yang berkhotbah dan memimpin pujian supaya dipuji-puji orang. Tetapi ada banyak sekali pula orang-orang yang mau menjual kue, menjadi pilot, bahkan buruh bangunan untuk melayani orang lain. Yang manakah perkara di atas dan yang manakah perkara di bumi? Sangat mudah ditebak bukan?

Beratus-ratus tahun sebelum Yesus dilahirkan di Betlehem, Ezra, Nehemia dan bangsa Israel diizinkan pulang ke tanah mereka setelah diangkut oleh bangsa Babilonia. Ketika mereka tiba di kampung halaman mereka, dibangunlah tembok Bait Allah oleh pimpinan Nehemia sang “insinyur”. Ezra sang imam mengajarkan kembali Taurat yang mungkin telah banyak dilupakan oleh bangsa ini semasa di pembuangan.

Di antara keduanya (Ezra dan Nehemia), siapa yang sedang melakukan perkara surgawi?

Apakah hanya Ezra karena ia yang mengajarkan Taurat? Apakah tembok Bait Allah yang dibangun oleh Nehemia bukan untuk kemuliaan Allah? Tentu tidak! Mereka berdua sedang melakukan perkara surgawi karena mereka memilih mengerjakan sesuatu sesuai dengan keahlian dan keterampilan mereka agar nama Tuhan dimuliakan. Allah memberikan keterampilan dan bakat yang berbeda-beda kepada setiap kita agar supaya kita saling melengkapi satu sama lain.

Coba bayangkan jika semua orang Israel yang pulang dari pembuangan hanya sibuk membangun Bait Allah dan temboknya. Taurat akan diabaikan. Sebaliknya, coba bayangkan jika Ezra dan Nehemia bersama mengajarkan Taurat dan membiarkan Bait Allah dan temboknya tidak dibangun.

Dalam konteks kita saat ini, aku sungguh tidak dapat membayangkan apabila semua orang (Kristen) menjadi pendeta, entah siapa yang akan membantu persalinan ibu hamil? Kita perlu orang Kristen yang mau menjadi bidan untuk kemuliaan Tuhan! Kita perlu dokter yang mau melayani Allah dan sesamanya! Dunia ini butuh orang-orang yang mau hidup dan mati bagi Kristus.

Jadi jika kamu mau memilih segala sesuatu untuk masa depanmu, entah itu pendidikanmu, pekerjaaanmu, pasangan hidupmu, terlebih dahulu engkau harus bertanya, “Apakah pilihan ini dapat menjadi perkara di atas bagiku? Apakah aku melakukannya untuk Kristus?”

Jangan lupa meminta nasihat dari orang-orang yang hidup dalam Tuhan.

Baca Juga:

Tuhan Lebih Tahu Sedalam-dalamnya Kita

Memilih berjalan bersama Tuhan dan mengikuti semua kehendak-Nya adalah pilihan yang harus kita ambil. Kadang kita tidak tahu apa rencana Tuhan atas hidup kita, padahal sebenarnya yang lebih tahu sedalam-dalamnya hidup kita adalah Tuhan, bukan diri kita sendiri.

Berkat di Balik Pilihan yang Tampaknya Salah

Oleh Vina Agustina Gultom, Taiwan

Diperhadapkan dengan dua pilihan biasanya jadi momen yang memusingkan, namun bisa juga menyenangkan. Memusingkan karena mau tidak mau harus pilih salah satu, tapi satu sisi bisa jadi menyenangkan karena kita masih punya pilihan. Contoh, pilih beasiswa A atau B? Pergi ke Raja Ampat atau Perth? Abang ini atau si mas itu?

23 Mei 2019 menjadi momen memusingkan untukku karena aku diperhadapkan pada dua pilihan: ikut ujian seleksi dosen atau ujian seleksi di industri otomotif? Dua bidang pekerjaan yang berbeda, tapi sama-sama di tempat yang bergengsi.

Kalau kulihat jalinan benang merah hidupku, aku punya passion dalam mengajar. Tapi, aku tak bisa hanya melihat dari satu sisi saja. Aku berpikir, kira-kira di ujian yang mana aku paling berpeluang lolos? Jika memang aku ikut ujian dosen dan lolos, apakah ini benar-benar kehendak Allah? Bagaimana jika ikut ujian di industri otomotif yang ternyata jadi kehendak-Nya? Atau, bagaimana kalau malah bukan keduanya?

Aku pun berdoa, memohon agar Tuhan membuatku peka akan pilihan mana yang paling baik untuk kuambil. Aku juga berdiskusi dengan orang tua, kakak, dan sahabatku. Aku yakin mereka dapat dipakai Tuhan untuk memberiku jawaban. Mereka menyarankan supaya aku ikut ujian seleksi dosen, tapi tetap mencoba bernegosiasi dengan industri otomotif apakah memungkinkan jika jadwal ujianku di sana diundur.

Waktu terus berjalan, pesan dalam bentuk posel (email)tak kunjung dibalas. Dengan iman, kuserahkan pilihan ini pada Tuhan. Kusiapkan diriku sebaik-baiknya sampai akhirnya pada hari pengumuman, ternyata aku dinyatakan gagal.

Sedih. Sangat sedih. Pikiran liar pun mulai menggerogoti, “Kenapa kemarin gak pilih ujian di industri otomotif aja!” Kalimat penyesalan dan kekecewaan yang sulit untuk tidak kupikirkan dan kuucapkan.

Berkat di balik pilihan yang tampaknya salah

Di tengah rasa sedihku, aku coba mengingat perkataan sahabatku, “Jangan lihat berkat Tuhan itu hanya dari ketika kamu mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, tapi lebih dari itu, berkat Tuhan sama indahnya di tengah kegagalanmu sekalipun. Walau kadang kamu baru menyadarinya setahun, dua tahun, atau bahkan 10 tahun setelah kegagalan itu terjadi.”

Perkataan sahabatku itu benar. Berbulan-bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 25 April 2020 aku merasa takjub. Meski aku tidak lolos ujian dan menjadi dosen di universitas itu, aku tetap diajak untuk mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) dengan komunitas pasca sarjana yang berasal dari kampus tersebut. Ceritanya, pada tanggal 28 Mei 2019, waktu sebelum aku mengikuti ujian seleksi, seniorku mengenalkanku dengan alumni pengurus persekutuan mahasiswa Kristen pasca sarjana. Alumni itu rupanya ikut ujian seleksi bersamaku. Beliau bertanya, apakah aku orang Kristen atau bukan? Aku kaget, menanyakan tentang iman seseorang agaknya jarang jadi pembuka obrolan. “Ya, aku Kristen,” jawabku. Dia lalu mengajakku ikut kelompok PA di daerah Dago. Karena aku butuh oase pasca ujian, aku mengiyakan ajakan itu.

Ketika PA berlangsung, kami saling berkenalan, membahas materi, berdoa, dan foto bersama. Kegiatan-kegiatan ini sudah biasa terjadi saat ber-PA dalam kelompok. Namun, yang jarang terjadi adalah aku diundang untuk langsung masuk ke dalam grup WhatsApp mereka. Pikirku, “Untuk apa? Aku hanya ikut kelompok PA ini sekali. Aku tidak bisa ikut pendalaman Alkitab lagi dengan kalian, karena terpaut oleh jarak. Aku di Bekasi dan kalian di Bandung”. Tapi sebagai bentuk penghormatanku, aku mengiyakan undangan itu.

Meski telah berbeda kota, aku tetap berkomunikasi dengan mereka. Sampai akhirnya pada tangggal 25 April 2020, aku kembali bisa ikut PA bersama mereka walau secara virtual dari tempat kami masing-masing akibat dampak dari pandemi. Bersyukur dengan pandemi ini juga, aku diajarkan bahwasanya jarak itu bukan penghalang kita untuk melakukan PA bersama.

Dari pengalaman sederhanaku ini, aku jadi mempunyai slogan, “Gagal ujiannya, dapatin komunitasnya.” Ya bagiku ini penting, karena setidaknya walau kita gagal untuk berkarya di tempat yang kita tuju, namun kita mendapatkan komunitas yang berlatar belakang sama, yang akhirnya dapat memahami dan mengerti keadaan kita, bahkan memberikan solusi dengan saling berbagi informasi mengenai lowongan mengajar lainnya.

Mengutip sebuah kalimat dari saat teduhku tanggal 27 Juli 2019, tertulis begini:

“If you’re discouraged by some failure today, remember that Jesus may use it to teach you and lead you forward in your service for Him”

“Jika kamu kecewa karena kegagalan hari ini, ingatlah bahwa Yesus dapat memakainya untuk mengajar dan memimpin kamu melangkah maju dalam pelayananmu kepada-Nya”

Ketika pilihan yang kita ambil mengantar kita pada kegagalan, cobalah untuk melihat dari sudut pandang Allah. Segala hal dapat dipakai-Nya untuk membawa kebaikan bagi kita, selama kita bersedia untuk percaya. Jadi, kalau kamu jadi aku, kamu pilih yang mana? Larut dalam kegagalan atau dapatin komunitasnya?

Selamat memilih untukmu yang sedang di rumah aja.

Baca Juga:

Kelulusan yang Tertunda: Momen untuk Memahami Kehendak Tuhan

Ketika studi S-3ku hampir selesai, dosen pembimbing memberiku opsi untuk menunda kelulusan. Opsi ini sulit, sungguhkah ini kehendak Tuhan? Tapi, dari momen inilah aku jadi belajar bagaimana dan seperti apakah itu kehendak Tuhan.

Kelulusan yang Tertunda: Momen untuk Memahami Kehendak Tuhan

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Bagaimana kalau kelulusan kamu ditunda satu semester?

Begitulah pertanyaan dari dosen pembimbingku di bulan Oktober tahun lalu. Beliau memberiku waktu 3 minggu untuk memutuskannya. Aku terdiam dan hanya bisa berpikir dalam hati. Rencanaku, aku akan lulus di Februari 2020, lalu mencari lowongan pekerjaan. Jika rencana ini lancar dan aku diterima kerja, maka itu akan jadi pekerjaan pertamaku setelah hampir 10 tahun aku duduk di bangku perkuliahan. Tapi, pertanyaan dosen pembimbingku itu mengejutkanku. Aku jadi berpikir, apakah Tuhan ingin aku menunda kelulusanku?

Dosen pembimbingku menilai bahwa aku perlu sedikit waktu untuk memikirkan apa tujuan hidupku: apakah aku mau lanjut berkarya di dunia akademik atau bekerja sebagai peneliti di institut penelitian? Beliau juga berpikir bahwa jika kelulusanku ditunda sedikit, aku bisa mengerjakan beberapa penelitian yang dapat menambah kualitas disertasiku.

Beliau lantas memberiku dua pilihan: menunda kelulusan atau tetap lulus di bulan Februari 2020 dan menetap di lab sebagai postdoctoral fellow sampai nanti aku mendapatkan pekerjaan tetap, seperti yang kebanyakan dilakukan para senior di labku.

Dalam masa-masa pergumulanku menentukan keputusan ini, kelompok kecil gerejaku membahas tentang memahami kehendak Tuhan. Melalui pembelajaran tersebut serta diskusi bersama mentor rohani dan keluargaku, aku memutuskan untuk menunda kelulusanku hingga Agustus 2020.

Prinsip mengambil keputusan

Kita bisa memahami dengan jelas kehendak Tuhan yang sangat jelas tertera di Alkitab. Contoh-contoh kehendak Tuhan yang terlihat jelas adalah: hidup kudus (1 Petrus 1:16), bersukacita senantiasa, berdoa, mengucap syukur dalam segala hal (1 Tesalonika 5:16-18), berbuat baik kepada orang lain (1 Petrus 2:15), dan masih banyak lagi jika kita mau mencarinya.

Tapi, bagaimana dengan kehendak Tuhan yang tidak tertulis di Alkitab? Pertanyaan-pertanyaan seperti jurusan apa yang harus kupilih, pekerjaan yang harus kulakukan, di mana nantinya aku tinggal, dengan siapa aku menikah, dan semacamnya, tidak memiliki jawaban secara eksplisit di Alkitab. Namun, Tuhan melalui firman-Nya tidak akan membiarkan anak-anak-Nya berada dalam kebingungannya sendiri. Tuhan berjanji kepada kita sebagai orang percaya bahwa Dia akan menunjukkan kepada kita jalan-jalan yang harus kita tempuh.

“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu” (Mazmur 32:8).

Untuk menumbuhkan sukacita yang sesungguhnya (JOY) di dalam mengambil keputusan, kita dapat menerapkan prinsip Jesus Others You (kalau disingkat menjadi JOY) sebagai urutan prioritas. Terkait dengan mendahulukan Yesus dalam mengambil keputusan, aku belajar tentang bagaimana firman Tuhan harus menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan berlandaskan firman Tuhan kepada diri kita masing-masing, seperti contoh di bawah ini:

  • Apakah dengan mengambil keputusan ini aku mendahulukan kepentingan kerajaan Allah dan kemuliaan-Nya daripada keinginanku sendiri? (Matius 6:33).
  • Apakah dengan mengambil keputusan ini aku bisa lebih mengasihi Kristus dan orang-orang di sekitarku? (Matius 22:37-39).
  • Apakah dengan mengambil keputusan ini menolongku menyampaikan berita Kristus kepada orang-orang yang belum percaya? (Matius 28:19-20).
  • Apakah keputusan ini bisa membantuku hidup dalam kekudusan? (1 Petrus 1:15).
  • Apakah keputusan ini bisa membuatku mengenal Kristus dan bertumbuh dalam kasih karunia-Nya? (2 Petrus 3:18).
  • Apakah yang aku lakukan ini menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekitarku? (1 Korintus 8:9).
  • Apakah ini bermanfaat bagi jiwaku dan tidak menjadi tuan dalam hidupku? (1 Korintus 6:12).
  • Apakah aku melakukan semuanya ini untuk kemuliaan Tuhan? (1 Korintus 10:31).

Dan masih banyak lagi firman Tuhan yang dapat kita temukan dan jadikan sebagai dasar untuk membedakan mana yang kehendak Tuhan atau bukan dalam kehidupan kita. Ketika kita melihat bahwa hal yang akan kita lakukan tidak sesuai dengan firman Tuhan, kita dapat menyimpulkan dengan pasti itu bukanlah kehendak Tuhan.

Kembali ke pengalamanku sendiri dalam mengambil keputusan untuk menunda kelulusanku, aku berusaha jujur terhadap diriku sendiri. Ada hasrat dalam diriku untuk lulus cepat supaya aku bisa bangga menyelesaikan studiku sedikit lebih cepat dari waktu normal. Aku pikir ini mungkin bisa membantuku mendapat pekerjaan yang aku inginkan nantinya.

Ketika aku melihat tujuanku dalam mencari pekerjaan dan membandingkannya dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Matius 6:33, aku mulai membuka hatiku terhadap kemungkinan untuk menunda kelulusanku.

Aku juga berpikir Tuhanlah yang menggerakkan hati dosen pembimbingku untuk menanyakan kepadaku tentang penundaan kelulusan. Jika beliau tidak bertanya itu sama sekali, dipastikan aku lulus di Februari 2020.

Taat pada kehendak Tuhan

Di dalam pembahasan mengenai kehendak Tuhan, aku diajarkan untuk taat kepada kehendak-Nya yang telah diberikan Alkitab. Tulisanku sebelumnya mengenai ketaatan yang benar di hadapan Tuhan bisa dibaca di sini.

Ketaatan kepada firman Tuhan dapat bertumbuh melalui saat teduh dan kehidupan doa kita sehari-hari. Bagaimana aku bisa peka terhadap arahan Tuhan dalam hidupku kalau aku tidak peka dengan suara-Nya dalam firman-Nya? Ketika firman Tuhan ada dalam hati kita, langkah hidup kita tidak akan goyah (Mazmur 37:31). Firman Tuhan akan menjadi pelita bagi kita dan terang bagi jalan kita (Mazmur 119:105), dan memberikan pengertian kepada kita (Mazmur 119:130).

Untuk mencari pimpinan Tuhan dalam kehidupan kita, kita bisa belajar dari doa Daud yang tertuang dalam Mazmur 25:4-5 dan Mazmur 143:8. Daud merindukan kasih setia Tuhan setiap pagi. Daud tahu dan percaya bahwa kasih setia Tuhan tidak berkesudahan, tidak habis, dan selalu baru setiap pagi (Ratapan 3:22-23). Kita juga bisa meneladani Daud dengan setia merenungkan firman Tuhan setiap pagi dan berdoa meminta bimbingan-Nya setiap hari.

Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku. (Mazmur 143:8)

Untuk mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupanku, aku melatih diriku untuk lebih giat berdoa. Salah satu caraku adalah dengan mendoabacakan Mazmur 25:4-5 setiap harinya. Terkadang di saatku berdoa, aku juga memparafrasekan ayat tersebut dengan bahasaku sendiri. Ini sangat membantuku untuk menikmati kasih setia Tuhan dan menunggu dengan setia jawaban dari Tuhan.

Membuka hati dan menerima bimbingan Tuhan

Jika kita memiliki hati yang bersedia untuk melakukan apa pun itu yang merupakan kehendak Allah dalam kehidupan kita, kita akan lebih mudah membedakan mana yang merupakan kehendak Allah atau bukan. Tuhan Yesus juga berkata apabila kita mau melakukan kehendak-Nya, kita bisa tahu apakah itu kehendak Allah atau tidak (Yohanes 7:17). Ketika kita membuka hati kita untuk taat terhadap apa pun kehendak-Nya dalam hidup kita, Tuhan akan membimbing langkah kaki kita.

Salah satu cara Tuhan membimbing langkahku adalah lewat berdiskusi dengan mentor rohaniku. Aku bersyukur memiliki mentor rohani yang pernah mengalami masa-masa sepertiku dan bersimpati terhadap keadaanku.

Dibandingkan lulus cepat, lebih baik lulus normal dan telah mendapat tawaran pekerjaan. Menetap sebagai postdoctoral fellow di lab yang sama bukanlah hal yang buruk, tapi itu dapat memberiku kesan kalau aku tidak mendapatkan tawaran dari luar sama sekali. Kurang lebih begitulah nasihat yang mentorku berikan.

Mentorku juga menyarankanku untuk lebih menyelidiki motivasiku dalam mencari pekerjaan. Apakah dengan uang yang aku peroleh dari pekerjaanku nantinya aku mau memakainya untuk memberkati orang lain? Apakah aku mau menyampaikan berita Kristus dan memuridkan orang lain terlepas dari apa pun pekerjaanku? Apabila Tuhan melihatku telah siap dipakai untuk memperluas kerajaan-Nya, aku yakin Tuhan akan memberikan aku pekerjaan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Setelah memutuskan untuk menunda kelulusanku, aku merasakan damai Kristus dalam hatiku. Tuhan Yesus juga membantuku dalam penelitianku yang aku lakukan di masa-masa penundaan kelulusanku. Melalui kasih karunia Tuhan, aku bisa mempublikasikan satu jurnal, dan satu lagi sedang dalam proses revisi.

Kondisi virus corona di seluruh dunia saat ini juga berdampak terhadap tersedianya lowongan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakatku. Mungkin aku harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapat pekerjaan pertamaku. Terlepas dari apapun kondisi nantinya, aku akan menantikan Tuhan bekerja pada waktu-Nya dan taat kepada kehendak-Nya karena aku tahu Penebusku hidup dan mengasihiku.

Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! (Yesaya 30:18)

Aku berharap teman-teman sekalian di dalam masa mencari tahu kehendak Tuhan dalam kehidupan, tetap taat dan berpedoman kepada Firman Tuhan. Biarlah kiranya kita semua selalu setia menanti bimbingan Tuhan dalam kehidupan kita.

Tuhan memberkati.

Baca Juga:

Menentukan Jurusan Kuliah: Pilihanku atau Pilihan Tuhan?

Menentukan jurusan kuliah adalah salah satu keputusan sulit yang kita ambil. Bagaimana kita bisa yakin pilihan yang kita ambil adalah pilihan yang terbaik buat kita?

Menentukan Jurusan Kuliah: Pilihanku atau Pilihan Tuhan?

Oleh Jefferson, Singapura

Ketika dulu masih berstatus mahasiswa jurusan Environmental Earth Systems Science (Ilmu Lingkungan Hidup) di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, ada sekumpulan pertanyaan yang sering dilontarkan kepadaku baik oleh kerabat maupun teman, “Kok bisa ambil jurusan itu? Apa saja yang dipelajari? Kalau sudah lulus bekerja jadi apa?” Awalnya aku jengkel karena terus ditanyakan hal yang sama, tapi lambat laun aku menyadari bahwa memang tidak banyak orang—terutama dari Indonesia—yang tahu tentang keberadaan bidang ini, apalagi mengambilnya.

Dalam tulisan ini, aku akan membahas dengan singkat mata kuliah apa saja yang kupelajari sambil menceritakan bagaimana dan mengapa aku bisa mengambil jurusan itu. Seperti yang bisa kamu duga dari judul di atas, keputusanku untuk belajar Ilmu Lingkungan Hidup sangat berkaitan dengan kehendak Tuhan, dalam artian aku memahami pilihanku sebagai pilihan yang Tuhan ingin aku ambil.

4 cara Tuhan berkehendak dan memimpin umat-Nya

Apa maksudnya? Sebelum menceritakan kisahku lebih lanjut, aku ingin mengajakmu untuk memahami terlebih dulu jenis-jenis kehendak Tuhan dalam Alkitab. Dalam artikelnya, John Piper membedakan empat macam kehendak Tuhan, yang kuringkas sebagai berikut:

  1. Decree / Ketetapan Allah yang berdaulat. Lewat jenis kehendak ini, Allah mengerjakan segala sesuatu yang telah Ia rencanakan tanpa sepengetahuan maupun andil kita sama sekali sehingga semua unsur ciptaan-Nya berada dan bekerja sesuai dengan desain-Nya. Contoh dari dekrit Allah adalah peristiwa pemenjaraan Paulus dan Silas yang menuntun kepada pertobatan kepala penjara Filipi dan seisi rumahnya (Kis. 16:23–24). Ketetapan Allah melibatkan ketiga jenis kehendak lainnya dan pasti terjadi (bdk. Ayb. 42:2).
  2. Direction / Arahan mencakup perintah-perintah dan ajaran-ajaran dari Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Jenis kehendak ini mengarahkan kita secara spesifik tentang apa yang (tidak) boleh kita lakukan, seperti dalam Sepuluh Perintah Allah (Kel. 20) maupun Khotbah di Bukit (Mat. 5–7).
  3. Discernment / Pemahaman berlaku untuk keputusan-keputusan yang harus kita buat yang tidak tercatat dengan spesifik dalam Alkitab seperti jurusan kuliah dan yayasan mana yang patut kita dukung selama wabah COVID-19. Mentaati jenis kehendak ini memerlukan kepekaan dalam mengaplikasikan kebenaran Alkitab untuk menanggapi situasi yang dihadapi dengan tepat. Paulus mendeskripsikannya dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna”. Terhadap banyak pilihan dalam kehidupan kita, Allah tidak memberikan arahan yang spesifik, tetapi oleh Roh Kudus memperbaharui budi kita melalui disiplin rohani—seperti saat teduh dan doa—sehingga kita dapat memahami dan membuat keputusan-keputusan yang paling memuliakan-Nya, memberikan kita sukacita-Nya, dan memberkati orang lain dan dunia ini.
  4. Declaration / Deklarasi adalah yang paling jarang ditemui di masa sekarang. Lewat jenis kehendak ini Allah mendeklarasikan langsung kepada kita apa yang harus kita lakukan, seperti yang dialami oleh Filipus dalam Kis. 8:26 dan 8:29.

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa “kehendak Tuhan” yang kumaksud di awal adalah jenis ketiga, discernment / pemahaman. Aplikasi praktis dari jenis kehendak Allah inilah yang akan kubahas untuk sisa artikel dalam konteks memilih jurusan kuliah. Dalam praktiknya, kamu akan menemukan bahwa langkah-langkah tersebut berlaku tidak hanya untuk memilih jurusan tapi juga dalam menentukan berbagai keputusan yang Tuhan tidak perintahkan secara spesifik dalam Alkitab.

Bisakah kamu menebak langkah pertamanya? Petunjuk: langkah itu sempat dibahas dalam penjelasan jenis kehendak ketiga.

#1: Dalami disiplin rohani hingga Roh Kudus memperbaharui akal budi kita

Kuharap kamu tidak bosan ketika aku sekali lagi membicarakan tentang disiplin rohani, terutama doa dan pembacaan Firman, sebagai salah satu poin dalam tulisan. Meskipun ada disiplin-disiplin rohani lain seperti penatalayanan dan puasa, doa dan merenungkan Firman adalah dua disiplin paling mendasar yang melaluinya kita dapat mengenal identitas TUHAN yang berdaulat atas hidup kita. Melalui perjumpaan dengan Allah setiap harinya, kita memberikan setiap inci diri kita untuk diperiksa, diajar, dan dikoreksi oleh Roh Kudus lewat Firman-Nya sehingga akal budi kita diperbaharui (Rm 12:2b). Kita tidak lagi ingin menjadi serupa dengan dunia (Rm. 12:2a); sebaliknya, kita ingin semakin menjadi serupa dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:29) yang dapat membedakan “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Rm. 12:2c). Dengan kata lain, hidup kita benar-benar diperbaharui oleh Roh Kudus sehingga kita mencerminkan Allah yang kudus dan baik dan sempurna dalam semua aspek kehidupan, termasuk pengambilan keputusan. Begitu radikalnya pembaharuan itu sehingga tidak ada satu inci pun dalam kehidupan kita yang tidak diperbaharui Roh Kudus.

Mengapa langkah ini sangat penting? John Piper dalam khotbahnya menjelaskan, “[K]arena 95% dari apa yang kamu lakukan sekarang kamu lakukan secara spontan [mengikuti kehendak daging yang berdosa]. Kalau kamu bukan ciptaan yang baru [yang akal budinya telah diperbaharui Roh Kudus], maka dari hati akan keluar hal-hal [keputusan-keputusan] yang salah.” Bagaimana kita dapat mengambil keputusan-keputusan besar yang sesuai dengan kehendak Allah? Dengan pertama-tama mengambil keputusan-keputusan kecil yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Aku percaya bahwa keputusanku untuk mengambil jurusan Ilmu Lingkungan Hidup di NTU dimulai sejak aku memutuskan untuk percaya kepada Yesus sebagai Tuhan atas hidupku. Kalau Tuhan tidak membawaku kembali kepadanya sejak kelas 10 dan mendidikku dalam disiplin-disiplin rohani, kurasa aku akan terus mengambil keputusan-keputusan yang salah dengan motivasi-motivasi yang salah: tidak ingin membantu teman-teman yang kesulitan dengan pelajaran, menjadi arogan ketika mewakili sekolah mengikuti olimpiade matematika tingkat provinsi, malas-malasan dan menggerutu saat mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk NTU yang materinya jauh lebih sulit dari Ujian Nasional, dan hal-hal lainnya yang serupa dengan dunia ini. Puji Tuhan, lewat perjumpaan dengan Tuhan Yesus dalam Firman-Nya, doa, kelompok kecil, dan pelayanan, Roh Kudus terus memperbaharui budiku sehingga aku dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Pembaharuan budi tidak hanya menolong kita untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tapi juga membantu kita untuk mengenal lebih dalam satu pihak penting dalam pengambilan keputusan kita.

#2: Diri sendiri juga perlu kita kenali

Dalam merenungkan berbagai implikasi dari kehendak discernment / pemahaman Tuhan, aku mengamati bahwa keputusan-keputusan yang berhubungan dengannya sedikit banyak didominasi oleh hal-hal yang bersifat pribadi. Di satu sisi, Tuhan telah memberikan panduan umum terhadap keputusan yang harus kita ambil dalam jenis kehendak ketiga ini: “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna”, yaitu prinsip-prinsip dalam Alkitab yang bisa kita temui dalam kehendak direction / arahan Allah. Di sisi lain, selama keputusan itu dibuat mengikuti panduan Firman, kita dibebaskan untuk membuat keputusan sesuai dengan preferensi kita masing-masing. Dengan kata lain, pengenalan yang baik akan diri sendiri merupakan kunci keberhasilan dari langkah ini.

Berkenaan dengan pilihan jurusan maupun karir, aku akan menanyakan dua pertanyaan di bawah kepada diriku sendiri dan orang-orang lain yang mengenalku dengan dekat sebelum mengambil keputusan:

  1. Kelebihan apa saja yang telah Tuhan berikan kepadaku yang bisa Dia pakai untuk paling memuliakan-Nya dan memberkati sesama dan dunia?
  2. Bidang studi atau topik apa yang paling membebani hati dan pikiranku?

Sebenarnya orangtuaku telah mengarahkanku sejak masuk SMA untuk mengambil jurusan Teknik Sipil dengan alasan minat dan bakatku yang (waktu itu) cukup besar di matematika. Karena masih tidak tahu menahu tentang dunia perkuliahan, aku mengiyakan saja. Tetapi begitu naik ke kelas 12 dan mulai mempersiapkan diri untuk tes masuk NTU, aku jadi mempertanyakan arahan itu. Benarkah kuliah di jurusan Teknik Sipil adalah keputusanku sendiri, atau keputusan orangtuaku? Aku mulai berdoa lebih keras kepada Tuhan tentang hal ini dan menanyakan dua pertanyaan di atas kepada diriku sendiri.

Aku tidak mencatat proses pencarian jawabanku waktu itu dengan terperinci, tapi kira-kira jawaban yang kudapat adalah demikian: aku ingin melihat dan memahami dunia yang lebih luas, gambaran besar dari proses-proses yang terjadi di dunia. Aku tidak puas hanya belajar tentang rumus-rumus IPA maupun menghafal teori-teori IPS di ruangan kelas. Aku ingin terjun ke dunia di luar sana, melihat apa yang terjadi, dan memberikan kontribusi unikku yang menyatakan kemuliaan dan kebenaran Allah kepada dunia. Memakai istilah yang baru kuketahui belakangan, jurusan idealku adalah jurusan yang interdisipliner.

Sayangnya, NTU tidak menawarkan jurusan yang demikian, pada awalnya. Sekitar sebulan setelah mengikuti tes masuk di pertengahan Januari 2014, NTU mengumumkan peluncuran jurusan Ilmu Lingkungan Hidup di tahun ajaran 2014/2015. Awalnya aku tidak berminat sama sekali, tapi setelah berkali-kali disuruh orangtua untuk melihat-lihat jurusan ini lebih lanjut, akhirnya aku membuka brosur elektronik yang NTU kirimkan. Aku langsung tertarik dengan jurusan ini. Di tiga semester pertama, kami mempelajari sains dasar lingkungan hidup—seperti Ekologi Dasar, Geologi, dan Antropologi Lingkungan—sebelum mengambil salah satu spesialisasi di semester keempat: Ekologi, Geosains, atau Society and the Environment (Masyarakat dan Lingkungan). Spesialisasi yang terakhir sangat cocok dengan minatku karena mendalami perkembangan dan dinamika yang terjadi antara komunitas manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah mendoakannya di hadapan Tuhan bersama dengan teman-teman di gereja dan keluarga, aku mengirimkan dokumen-dokumen tambahan kepada NTU untuk melamar ke jurusan Ilmu Lingkungan Hidup.

Dunia ini berkata, “Ikutilah hatimu,” tetapi Tuhan berkata, “Ikutilah hatimu ketika kamu telah mempersembahkan dirimu sepenuhnya sebagai persembahan yang hidup kepada-Ku” (Rm. 12:1). Sebab hanya orang-orang yang telah diselidiki dan hatinya telah dikenal oleh Tuhanlah yang akan dituntun-Nya di jalan yang kekal (Mzm. 139:23–24).

#3: Dalam doa, serahkan keputusan kita kepada Tuhan dan maju

Tanpa sengaja aku telah menyebutkan langkah terakhir ini di beberapa kalimat sebelumnya. Ya, kalau kita merasa sudah membuat keputusan yang sejalan dengan prinsip-prinsip dalam Firman Tuhan dan preferensi kita, serta meminta pendapat yang lebih objektif dari orang lain, tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain menyerahkan keputusan itu ke dalam tangan-Nya dan melangkah maju dalam doa. Dalam setiap langkah ke depan, janji Tuhan dalam Mazmur 32:8 adalah pilar penopang yang teguh, “Aku akan mengajar dan mengarahkanmu di jalan yang harus kamu jalani, Aku akan menasihatimu dengan mata-Ku yang tertuju kepadamu.” Sesederhana itu.

Itulah yang kulakukan dalam tahap-tahap berikutnya selama mengikuti proses penerimaan ke jurusan Ilmu Lingkungan Hidup. Setelah mengirimkan dokumen tambahan, kukira aku hanya perlu menunggu kabar tentang diterima atau ditolaknya aku dari NTU. Ternyata tidak sesederhana itu. Seminggu setelahnya, pihak fakultas memintaku untuk mengirimkan esai singkat yang menjelaskan ketertarikanku terhadap jurusan ini. Beberapa hari kemudian, aku diundang untuk mengikuti wawancara dengan beberapa dosen melalui Skype. Waktu itu adalah masa persiapan Ujian Sekolah, jadi aku disibukkan dengan tryout, ujian praktik, les, dan sekarang persiapan wawancara. Puji Tuhan, semuanya itu dapat kulalui dengan tenang dan baik, satu langkah setiap waktunya, hingga akhirnya aku melihat diriku diterima sebagai orang Indonesia satu-satunya dari angkatan pertama jurusan Ilmu Lingkungan Hidup di NTU.

Enam tahun telah berlalu sejak aku melalui seluruh proses itu. Setelah mempelajari Ilmu Lingkungan Hidup selama empat tahun dan bekerja sebagai konsultan lingkungan hidup selama satu setengah tahun, dengan yakin aku dapat berkata bahwa aku tidak memiliki penyesalan sama sekali. Sebaliknya, pengalaman-pengalaman seperti ini, yang semakin banyak kualami sejak pertobatanku, adalah mood-lifter-ku ketika sedang muram. Lewat mereka, aku terus diingatkan akan salib Tuhan Yesus yang menebus segala dosaku dan memberikan Roh Kudus untuk tinggal di dalamku serta memperbaharui akal budiku. Karya Roh Kudus inilah yang memampukanku untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Allah dan terus melangkah maju di jalan yang Tuhan kehendaki harus kujalani.

Hari-hariku sebagai mahasiswa Ilmu Lingkungan Hidup di NTU adalah sebuah pengucapan syukurku kepada Tuhan, yang pembelajaran daripadanya kurangkumkan di sini.

Penutup: kebebasan keputusan kita dalam kedaulatan Allah

Sebagai penutup, aku ingin mengajakmu membayangkan situasi berikut: Tuhan memberikan kita sebuah buku yang berisi setiap keputusan yang harus kita buat, yang pasti sesuai dengan kehendak-Nya. Bayangkan implikasinya: kita tidak perlu bergumul setiap kali ingin membuat keputusan, tidak perlu susah-susah mempelajari Alkitab dan memahami “apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya, dan yang sempurna”. Tinggal mengikuti apa yang tertulis dalam buku itu, maka keputusan kita pasti sesuai dengan kehendak-Nya. Apa yang akan menjadi reaksimu? Merasa sangat bersyukur, karena kehidupan ke depannya hanya perlu mengikuti isi buku? Atau merasa pemberian ini tidak konsisten dengan karakter Tuhan yang kita kenal?

Perhatikan kata kerja yang dipakai Tuhan dalam Mazmur 32:8—“mengajar”, “mengarahkan”, dan “menasihati”. Apa persamaan di antara ketiganya? Semuanya adalah kata kerja yang memberikan kita pilihan untuk memberi diri kita diajar, diarahkan, dan dinasihati oleh-Nya. Ilustrasi situasi di atas lebih mirip sebuah robot yang tidak punya pilihan kecuali melaksanakan apa yang sudah tertulis di dalam kodenya daripada kondisi manusia yang tetap bisa menjalankan kehendak bebasnya dalam kedaulatan Allah.

Layaknya orangtua yang ingin anak-anaknya memahami dan menimbang setiap alasan dan konsekuensi dari setiap pilihan yang ada serta mengambil keputusan terbaik tanpa perlu diberitahu terus menerus, Tuhan ingin kita benar-benar mengenal-Nya dan mengambil keputusan terbaik dalam ketaatan kepada-Nya. Tentu dari waktu ke waktu kita perlu menanyakan pendapat orang lain yang mengenal kita dekat, tapi pada akhirnya keputusan kita adalah milik kita sendiri di hadapan Tuhan.

Itulah salah satu alasan Dia mengirimkan Anak-Nya Yesus Kristus ke dalam dunia: agar Ia menjadi teladan ketaatan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya (bdk. Ibr. 5:8–9). Di mana buktinya? “Namun, bukan apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki,” kata Yesus seperti yang tercatat dalam Markus 14:36. Kristus memilih untuk taat kepada kehendak Bapa dan mati di kayu salib agar setiap keputusan yang kita ambil bukannya serupa dengan dunia melainkan sesuai dengan kehendak Bapa,.

Selamat bertekun dalam disiplin-disiplin rohani serta mengambil keputusan bersama-Nya!

Tuhan Yesus memberkati, soli Deo gloria.


Pertanyaan refleksi

  1. Sudahkah kamu bergaul dekat dengan Allah dan Firman-Nya?
  2. Apakah keputusan-keputusan yang kamu ambil telah dilandasi oleh prinsip-prinsip kebenaran Alkitab?
  3. Apakah kamu telah mengenal dirimu sendiri sehingga kamu mengetahui dengan jelas preferensi-preferensi dan pandangan-pandangan pribadimu?
  4. Sudahkah kamu menyerahkan segala keputusan yang kamu buat kepada Tuhan dalam doa?

Baca Juga:

Membuat Pilihan yang Berkenan pada Tuhan

Setiap hari dalam hidup kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan, dari yang sederhana sampai yang rumit. Bagaimana caranya supaya pilihan kita selaras dengan kehendak-Nya?

Membuat Pilihan yang Berkenan pada Tuhan

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Setiap hari dalam hidup kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan. Dimulai saat bangun tidur, kita punya pilihan mau tetap di kasur atau lanjut beraktivitas. Dari pilihan yang sederhana sampai rumit, hidup selalu dipenuhi dengan pilihan.

Jika pilihannya tampak sederhana, kita mungkin menanggapinya dengan santai. Tapi, ketika pilihan yang diambil berhubungan dengan masa depan, kita pun gusar. Bingung menentukan mana yang paling tepat. Salah satu pilihan yang menurutku sulit diambil adalah ketika aku melewati masa-masa pasca kuliah. Di mana aku akan tinggal setelah lulus? Lanjut studi apa kerja? Apakah aku harus pindah ke kota yang sama dengan pacarku? Dan sederet pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan kita, yang berpengaruh cukup besar adalah aspek emosi. Kalau terasa benar, lakukan saja. Kalau rasanya tidak enak, pasti tidak benar. Pikiran kita menyederhanakan demikian. Tapi, kita lupa, bahwa terkadang emosi dan keinginan hati kita seringkali menipu kita sebagaimana Alkitab berkata dalam Yeremia 17:9, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?”

Ketika emosi dan keinginan hati jadi faktor penggerak utama, bisa jadi keputusan yang kita ambil jauh dari apa yang Allah inginkan. Ada satu buku yang pernah kubaca, judulnya Gumulan Hidup Pascakuliah. Buku ini ditulis oleh Erica Young Reitz, pemimpin senior EXIT, sebuah program setahun yang bertujuan mempersiapkan alumni baru masuk ke fase hidup berikutnya. Dalam bukunya, sang penulis mengajak kita mengevaluasi bahwasanya ada pertimbangan dalam kita membuat keputusan.

Menyelaraskan diri dengan Allah

Keputusan yang bijak dan menghormati Allah hanya bisa diambil jika kita punya jalinan hubungan yang dekat dengan-Nya. Relasi yang dekat dengan-Nya akan menolong kita untuk mendengar dan melihat-Nya dalam keputusan yang akan kita ambil. Bagaimana caranya?

1. Carilah informasi yang detail

Sebelum membuat keputusan yang besar, penting bagi kita untuk memahami sebanyak mungkin hal yang ingin kita putuskan. Semisal, jika kita ingin mengambil pekerjaan di tempat yang baru atau di luar kampung halaman kita, maka kita bisa mencari informasi besarnya biaya hidup, pilihan transportasi dan pasar kerjanya. Allah mengaruniakan diri kita kemampuan otak yang dapat mengumpulkan informasi sehingga ketika kita diperhadapkan dengan dua pilihan yang tampaknya baik, pengumpulan informasi bisa menjadi langkah kunci dalam membantu kita memutuskan mana yang akan dipilih.

2. Carilah nasihat kepada orang yang kompeten

Amsal 15:22 berkata, “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak” (Amsal 15:22).

Minggu lalu, aku bergumul mau membeli HP atau laptop. Sebenarnya aku ingin membeli HP saja karena HPku sudah jadul dan susah digunakan. Tapi, aku juga butuh laptop, apalagi sekarang pekerjaan harus dilakukan dari rumah, dan kalau ada laptop, aku bisa lebih mudah menulis. Dua benda ini terlihat sama-sama penting, tapi kalau harus beli keduanya, aku tidak punya cukup uang.

Aku bergumul. Aku bertanya pada Tuhan benda manakah yang paling tepat kubeli. Lalu aku berdiskusi dengan pacarku karena dia adalah salah satu orang terdekatku yang mampu mengatur keuangan pribadinya dengan baik. Dia pun mengerti kesulitanku, sehingga dia menyarankanku untuk membeli laptop saja. Mungkin bagi beberapa orang perkara seperti ini adalah hal biasa yang tak perlu ditanggapi serius, tapi bagiku menggumuli ini sangatlah penting. Uang yang Tuhan percayakan kepadaku harus kugunakan dengan penuh tanggung jawab.

Dalam mengambil keputusan, kita perlu nasihat atau masukan dari orang lain yang kita anggap kompeten, yang punya pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk menolong kita. Orang itu bisa berupa orang tua, kakak rohani, senior kita, atau pun teman kita. Namun perlu kita perhatikan: meminta nasihat bukan berarti menjadikan merekalah yang mengambil keputusan bagi kita. Bayangkan jika kita meminta nasihat dari dua atau tiga orang yang masing-masing punya nasihat berbeda. Jika harus menjadikan nasihat mereka mentah-mentah sebagai keputusan kita, pastinya kita akan bingung. Olahlah segala masukan yang telah kita terima, doakanlah, hingga akhirnya kita mengambil keputusan.

Setelah keputusan diambil, serahkanlah kembali keputusan itu kepada Allah. Kalaupun keputusan yang kita ambil tak berjalan seperti yang kita rencanakan, ingatlah bahwa segala sesuatu terjadi dalam kendali Tuhan.

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Amsal 19:21).

Kegagalan mendengar suara-Nya saat kita menginginkannya adalah karena kita sebenarnya tidak ingin mendengarkan Dia. Kita menginginkannya hanya bila kita berpikir kita membutuhkannya – Dallas Willard, Hearing God.

Baca Juga:

Perjumpaan dengan-Nya, Mengubah Segalanya

Perjumpaan dengan Kristus sungguh-sungguh dapat mengubahkan siapa saja. Aku tidak berkata, setelah aku mengenalnya, aku lalu menjadi sempurna. Sama sekali tidak. Rasul Paulus pun tidak sempurna, apalagi aku. Aku berulang kali jatuh dan gagal. Tetapi, aku bisa bangkit.

Manakah yang Lebih Baik, Menikah atau Tetap Single?

manakah-yang-lebih-baik-menikah-atau-tetap-single

Oleh Poh Fang Chia, Singapura

Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is It Better To Be Married or To Stay Single?

Topik seputar pernikahan nampaknya menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan di mana-mana. Sebagai seorang single, kadang itu membuatku jadi penasaran dan bertanya. Hal apakah yang bisa mendorongku melepas status singleku untuk terikat dalam pernikahan dengan seseorang?

Coba kita berpikir realistis sejenak. Kita asumsikan bahwa umumnya hubungan pacaran itu berlangsung selama tiga tahun. Di tengah kehidupan yang sangat sibuk ini, jika sepasang kekasih itu bisa meluangkan waktu bertemu seminggu sekali saja sepertinya sudah bagus. Tapi, jika memang berlaku demikian, berarti dalam tiga tahun pacaran, pasangan itu hanya bertemu tatap muka dan saling mengenal selama 156 hari! Padahal seumur hidupku sendiri, aku telah menjalani 13.870 hari sebagai single.

Selain itu, aku juga memikirkan tentang bagaimana caranya dua orang dengan latar belakang, budaya, dan kehidupan yang berbeda itu menjadi satu. Memikirkan bagaimana caranya berubah dan menyesuaikan diri saja sudah cukup membuat kepalaku pusing.

Mungkin aku seorang yang ragu terhadap sebuah komitmen. Atau, mungkin juga seperti yang temanku pernah katakan, yaitu aku memang belum menemukan sosok pria yang tepat. Tapi, apapun alasannya, aku tahu bahwa Tuhan akan mengubah diriku apabila menikah memang adalah bagian dari rencana-Nya dalam hidupku. Tapi, semakin aku berpikir, semakin pula aku merasa bahwa pernikahan itu berasal dari surga.

Pendapatku tentang pernikahan

Terkadang, aku merasa bahwa pernikahan malah membuat kita kehilangan lebih banyak daripada apa yang seharusnya kita dapat. Rasa-rasanya pernikahan itu malah membatasi dunia kita.

Hal inilah yang kurasakan ketika ada pria-pria yang menyukaiku. Aku merasa jika aku menjalin hubungan dengan mereka, hidupku yang semula bebas dan penuh banyak kesempatan akan menyempit dan terbatas.

Aku menyadari bahwa setiap orang memiliki sisi dalam dirinya yang tidak dapat diubah. Ada komitmen pribadi dan visi kehidupan yang tidak dapat diingkari. Oleh karena itu, dalam memilih pasangan hidup aku perlu berhati-hati. Aku tidak mau menghabiskan hidupku bersama pasangan yang tidak dapat menerima bagian dari diriku yang tidak bisa kuubah. Aku juga tidak mau terjebak dalam situasi di mana aku dan pasanganku tinggal bersama, namun hati dan impian kami masih terpisah. Aku tidak ingin kehidupan kami nanti terpisah walaupun sejatinya sudah menikah.

Pemahamanku tentang pernikahan

Namun, aku juga percaya bahwa ada keajaiban dalam sebuah pernikahan, itulah yang disebut sebagai sebuah transformasi atau perubahan.

Dalam pernikahan, dua kehidupan yang berbeda akan membaur bersama. Dua insan dengan latar belakang berbeda akan hidup dan mengarungi masa depan bersama. Mereka tetaplah dua pribadi yang berbeda, tapi mereka telah menjadi satu. Pernikahan bukan membuat hidup mereka menjadi sempit dan penuh batas, melainkan dari pernikahan lahir sebuah pengertian dan kesadaran untuk saling mengerti satu sama lain.

Hanya dalam sebuah pernikahan, komitmen dua menjadi satu itu akan membawa mereka menyelami kehidupan lebih dalam. Ibarat roti dan ragi, dua kehidupan yang berbeda itu akan menjadi khamir, atau menyatu sempurna. Komitmen dalam pernikahan juga membuat perjalanan hidup seseorang jadi lebih kaya dan bermakna lewat segala kerumitan-kerumitan yang terjadi setiap harinya. Mereka juga belajar untuk tidak menjadi egois. Tidak ada relasi apapun di dunia ini selain pernikahan yang dapat menguji kesetiaan dan kepuasan sejati antar pasangan.

Kadang, pernikahan seolah tampak bukan sesuatu yang logis. Dua pribadi menjadi satu, namun mereka dapat menghasilkan karya yang jauh lebih besar daripada ketika mereka seorang diri.

Karena itu, temanku pun mengucapkan sebuah kalimat:

Pernikahan adalah sebuah keajaiban.
Secara ajaib, dua insan yang adalah laki-laki dan perempuan, berubah dan dikuduskan menjadi satu dalam hubungan suami istri.

Pengertian Alkitab tentang pernikahan

Surat Paulus kepada jemaatnya di Korintus adalah dasar dari pendapatku mengenai pernikahan dan masa single.

Dalam 1 Korintus 7:8-9, Paulus menasihati kita bahwa lebih baik untuk tidak menikah karena kita bisa mempunyai kesempatan lebih untuk melayani Kristus tanpa diliputi banyak kekhawatiran (7:32-35). Tapi, walaupun pernikahan seolah dianggap sulit, memilih untuk menikah dengan tulus jauh lebih baik dibandingkan hidup di dalam hawa nafsu.

Paulus memberikan tiga alasan umum mengapa orang yang belum menikah lebih baik untuk tetap tidak menikah.

Pertama, orang yang tidak menikah memiliki masalah sehari-hari yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang sudah menikah (1 Korintus 7:25-28).

Kedua, di akhir zaman ini, orang Kristen tidak boleh membiarkan hidupnya dikuasai oleh pernikahan maupun hal-hal duniawi. Fokus utama orang Kristen adalah Kristus dan kekekalan (1 Korintus 7:29-31).

Ketiga, pernikahan menghasilkan tanggung jawab duniawi dan membuat fokus seseorang terbagi-bagi. Tapi, mereka yang memilih untuk tidak menikah dapat mengabdikan hidup mereka seutuhnya untuk melayani Kristus (1 Korintus 7:32-35).

Tiga alasan itu membuat aku bertanya pada diriku sendiri: Mengapa Tuhan merancangkan sebuah pernikahan jika memang sudah jelas bahwa pernikahan itu membawa kerugian?

Tapi, aku menyadari bahwa sesungguhnya 1 Korintus 7 sedang membahas mengenai dunia dan manusia yang jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu, aku menarik kesimpulan bahhwa pernikahan Kristen adalah pernikahan yang dirancang untuk jadi kesaksian yang kuat tentang Yesus Kristus, sebagai wujud demonstrasi kasih Allah kepada dunia ini.

Pernikahan Kristen yang sejati bukan terjadi secara otomatis karena dua orang Kristen memilih untuk menikah, ataupun karena pernikahan itu diberkati di gereja. Pernikahan Kristen adalah sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mencari pasangan hidup yang sepadan.

Inilah pemahamanku yang baru tentang apa yang Paulus tuliskan dalam 1 Korintus 7.

Ya, orang yang tidak menikah memang memiliki masalah sehari-hari yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang menikah. Namun, fakta bahwa berdua lebih baik daripada seorang diri juga benar adanya. Pasangan yang hidup bersama dapat mengatasi masalah sehari-hari dengan lebih baik.

Ya, kita hidup di akhir zaman, orang Kristen tidak boleh membiarkan hal-hal duniawi menguasai hidupnya. Prioritas utama sebagai orang Kristen adalah Kristus dan kekekalan, dan kedua hal ini berlaku baik bagi orang yang menikah ataupun tidak.

Ya, pernikahan akan memberikan tanggung jawab duniawi dan membuat fokus seseorang terbagi-bagi. Mereka yang memilih untuk tidak menikah dapat membaktikan seluruh kehidupannya untuk melayani Kristus. Akan tetapi, adalah sesuatu yang juga benar apabila dua orang yang memutuskan menikah itu menghidupi misi ini bersama-bersama. Tentu hasil yang dihasilkan akan jadi lebih besar. Suami dan istri harus menghidupi hari-hari mereka untuk melayani Kristus. Pemahaman ini membawa kita pada pandangan yang lebih luas tentang ladang pelayanan. Sebagaimana dunia ini adalah ladang pelayanan, demikian juga rumah dan keluarga kita.

Kalimat penutup

Aku masih harus banyak belajar tentang pernikahan, masa single, dan juga tentang hubungan.

Baca Juga:

Pekerjaanku Bukanlah Passionku, Tapi Inilah Cara Tuhan Membentukku

Ketika aku diwisuda pada September 2015, kupikir itu adalah momen yang paling berbahagia dalam hidupku. Aku membayangkan akan masa depanku yang cerah setelah menyandang gelar sarjana. Aku bisa bekerja di perusahaan-perusahaan bonafide. Tapi, momen bahagia itu perlahan pudar menjadi hari-hari penuh perjuangan tatkala aku harus bergumul mencari pekerjaan selama hampir tujuh bulan.

Aku Melakukan Kesalahan Besar, Akankah Tuhan Mengampuniku?

aku-melakukan-kesalahan-besar

Oleh Ruth Lawrence, Inggris
Artikel asli dalam bahasa Inggris: We are Not the Sum of our Bad Choices

Kamu mungkin menemui mereka di jalanan. Orang-orang yang kesepian, tidak memiliki tempat tinggal, dan kecanduan. Dahulu, mereka mungkin sama seperti kita, tapi di suatu waktu dalam kehidupan mereka, satu atau lebih pilihan yang salah telah menghancurkan kehidupan mereka. Kini, mereka berpikir sudah terlambat untuk mencoba memperbaiki kesalahan mereka. Mereka berpikir Tuhan juga tidak ingin berelasi dengan mereka lagi.

Atau mungkin kamu mempunyai seorang teman atau mendengar seseorang yang berjuang untuk membesarkan bayinya seorang diri setelah beberapa pilihan yang buruk yang dibuatnya. Hidup menjadi sulit dan sepi baginya. “Bahkan jika Tuhan itu ada, Dia juga tidak tahu atau tidak peduli dengan kesulitanmu,” katanya.

Di sekitar kita, ada begitu banyak orang-orang yang seperti itu. Bahkan, beberapa tetanggaku juga memiliki pemikiran yang serupa dengan para tunawisma jalanan yang aku ceritakan di atas. Aku merasa sedih karena mereka membiarkan pilihan-pilihan mereka di masa lalu menjebak mereka ke dalam kehidupan yang hancur—karena sebenarnya mereka tidak seharusnya seperti itu.

Itulah yang aku pelajari ketika aku mendalami Nehemia 9. Di titik ini, orang Israel sedang melakukan perjalanan kembali ke Israel, setelah menghabiskan 70 tahun di pembuangan di Babel. Nehemia telah membangun kembali tembok Yerusalem meskipun ada banyak tentangan. Kini, mereka yang telah kembali lalu dikumpulkan bersama dan mereka dihadapkan pada sebuah pilihan: Akankah mereka mengikut Tuhan?

Jawabannya adalah ya—mereka ingin mengikut Tuhan. Kita dapat melihat doa pertobatan mereka di Nehemia 9. Itu adalah sebuah doa yang panjang dan berisi apa yang telah Tuhan lakukan bagi mereka sebagai sebuah bangsa dan juga semua kesalahan mereka. Sama seperti orang-orang yang kita lihat di sekitar kita, bangsa Israel membuat beberapa pilihan yang sangat buruk. Mereka menolak Tuhan dan melakukan apa yang mereka inginkan, bahkan setelah melihat Tuhan melakukan hal-hal yang luar biasa bagi mereka—seperti melepaskan mereka dari perbudakan.

Mereka tentunya dipenuhi rasa sesal dan rasa malu ketika mereka melihat kembali kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Tapi apa yang mengagetkan saya tentang doa mereka bukanlah tentang dosa-dosa mereka, tapi bagaimana Tuhan merespons mereka ketika mereka jatuh. Di dalam Nehemia 9 ada banyak kata-kata yang indah seperti berikut:

“Tetapi Engkaulah Allah yang sudi mengampuni, yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya. Engkau tidak meninggalkan mereka.” (Neh. 9:17)

“Engkau tidak meninggalkan mereka di padang gurun karena kasih sayang-Mu yang besar.” (Neh. 9:19)

“Dan pada waktu kesusahan mereka berteriak kepada-Mu, lalu Engkau mendengar dari langit dan karena kasih sayang-Mu yang besar Kauberikan kepada mereka orang-orang yang menyelamatkan mereka dari tangan lawan mereka.” (Neh. 9:27)

“Kembali mereka berteriak kepada-Mu, dan Engkau mendengar dari langit, lalu menolong mereka berulang kali, karena kasih sayang-Mu.” (Neh. 9:28)

“Tetapi karena kasih sayang-Mu yang besar Engkau tidak membinasakan mereka sama sekali dan tidak meninggalkan mereka, karena Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang.” (Neh. 9:31)

Wow! Betapa luar biasanya Tuhan kita, yang penuh kasih sayang dan masih mengasihi kita meskipun ketika kita mengabaikan Dia. Dalam hidupku sendiri, aku juga telah gagal menjalankan perintah-perintah Tuhan seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel. Dan salah satu yang begitu mengena untukku adalah ketika aku memilih untuk tidak menceritakan tentang Yesus kepada seseorang, karena aku takut dengan tanggapan yang mungkin diberikan oleh orang itu.

Di Inggris, orang-orang biasanya tidak mengenal atau tidak berbicara dengan tetangga-tetangga mereka. Di lingkunganku, kami mungkin mengucapkan salam kepada orang-orang ketika kami meninggalkan rumah pada waktu yang bersamaan, tapi percakapan kami tidak pernah lebih dari seputar cuaca. Jadi meskipun aku tahu tetangga-tetanggaku membutuhkan Yesus, aku tidak berkata lebih dari “halo” ketika aku melihat mereka, karena aku takut mereka akan berpikir bahwa aku gila.

Ketika aku memikirkan semua kesempatan yang telah aku lewatkan, aku merasa begitu bersalah. Aku tahu aku telah mengabaikan apa yang Tuhan perintahkan untuk aku lakukan: mengabarkan tentang Yesus kepada orang-orang. Dan itu membuatku berpikir bahwa Dia pastilah sangat marah denganku.

Jadi membaca ayat-ayat ini membuatku menjadi sangat lega. Itu terasa seperti seseorang mengangkat beban yang berat dari punggungku. Dan itulah yang Tuhan janjikan jika kita mengambil waktu untuk berdoa, mengaku dosa kita, dan meminta pengampunan-Nya; Dia akan membebaskan kita dari segala rasa bersalah dan membersihkan kita dari dosa-dosa kita. Tentu aku masih perlu bertanggung jawab untuk mengabarkan tentang Yesus kepada orang-orang, tapi aku dapat melakukan itu karena aku ingin taat kepada Tuhan dan bukan karena rasa bersalahku.

Jadi, inilah pesan yang ingin aku sampaikan. Mungkin kamu telah membuat beberapa pilihan yang buruk di masa lalu. Mungkin kamu pergi dengan teman-teman yang salah atau kamu melakukan hal yang seharusnya tidak kamu lakukan ketika pacaran dan kamu tahu bahwa tindakanmu tidak menyenangkan Tuhan. Atau mungkin pilihan-pilihan yang kamu buat membuatmu merasa kosong dan bersalah. Jika kamu merasa begitu hancur dan merasa Tuhan tidak mungkin mengampunimu, bacalah apa yang Tuhan katakan di dalam Alkitab. Ketahuilah tentang pribadi-Nya dan apa yang telah Dia lakukan bagimu di atas kayu salib. Akuilah dosamu dan mintalah pengampunan-Nya.

Kembalilah kepada Tuhan yang “pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya.” Dia takkan mengabaikanmu. Jangan terjebak dalam kesalahan yang kita buat di masa lalu. Bersama-Nya, kamu dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Baca Juga:

Ketika Aku Menyadari Bahwa Kerja Keras Bukanlah Segalanya

Dahulu, aku adalah seorang pekerja yang bekerja setiap hari tanpa mengenal waktu dan memberikan hati dan jiwaku bagi pekerjaan yang ada padaku. Tapi beberapa percakapan dengan temanku mengubah segalanya.

Allah di Balik Kabut Asap

Penulis: Markus Boone

kabut-asap-2015
Sumber foto: daerah.sindonews.com, 22 Oktober 2015

Kemarau panjang beberapa bulan kemarin mungkin membuat hati kecil kita bertanya-tanya, mengapa Allah tidak kunjung mendatangkan hujan; mengapa Dia membiarkan bencana asap melanda dan menyebabkan jutaan orang menderita sakit karena asap yang begitu pekat masuk dalam hidung, tenggorokan dan paru-paru mereka. Pertanyaan senada mungkin pernah (dan akan) terbersit di benak kita ketika hujan terus turun dan bencana banjir menyapa. Mengapa Allah membiarkan bencana datang? Apakah Allah kurang berkuasa? Ataukah mungkin Dia kurang peduli?

Setidaknya ada beberapa hal yang menurutku bisa kita renungkan tentang pribadi Allah di balik bencana kabut asap yang hampir setiap tahun terjadi.

1. Allah konsisten dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya

Bayangkanlah seorang guru yang membuat peraturan dalam kelas, tetapi sangat sering mengubah-ubah peraturan yang dibuatnya sendiri. “Hari ini peraturan nomor satu tidak berlaku ya, besok saja berlakunya.” Lalu seminggu kemudian ia berkata, “Minggu ini peraturan yang kemarin saya umumkan tidak jadi berlaku karena ada murid-murid yang tidak setuju.” Apa kesan kita terhadap guru yang demikian?

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika setiap kali kita berdoa Allah mengubah hukum-hukum alam yang dirancang-Nya sendiri. Kekacauan! Begitu gereja berdoa, Allah langsung memadamkan api di hutan. Orang-orang yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan tidak jadi dihukum. Pemerintah tidak merasa perlu berusaha keras memperbaiki sistem pengawasan dan pelestarian lingkungan. Penduduk tidak akan sadar betapa pentingnya menjaga alam yang dikaruniakan Allah. Apapun yang dilakukan orang dengan hutan setiap tahunnya, semua akan baik-baik saja. Tidak ada panggilan pertobatan.

Di balik kabut asap kita melihat Allah yang konsisten dengan apa yang sudah dirancang-Nya. Dia bukan Allah yang kebingungan dalam menegakkan aturan untuk alam ciptaan-Nya sendiri (Mazmur 119:89-91). Bencana kabut asap, sebagaimana halnya masalah lubang ozon dan pemanasan global, terjadi karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Tidak bisa dibereskan hanya dengan mengeluh dalam doa dan menuntut Allah melakukan “hal-hal ajaib”. Perlu ada refleksi sekaligus reformasi dalam kehidupan setiap kita, bagaimana kita menyikapi alam yang dikaruniakan Tuhan. Polisi, jaksa, dan hakim harus menegakkan keadilan bagi orang-orang yang merusak alam. Pemerintah harus membuat peraturan yang lebih jelas serta menciptakan infrastrukur yang dapat mencegah terulangnya kebakaran hutan dalam skala masif.

2. Allah baik dan panjang sabar terhadap umat manusia

Mengapa kita dan jutaan orang lainnya merasa prihatin sekaligus marah dengan munculnya kabut asap? Pertama-tama tentunya karena kabut asap membawa dampak yang buruk. Tiba-tiba kita merasa sangat terganggu karena ada begitu banyak hal baik yang direnggut dari kehidupan kita (atau sesama kita) oleh asap. Kebebasan beraktivitas, jarak pandang yang jauh ke depan, udara yang bersih dan segar, kesehatan, keindahan alam, bahkan nyawa orang-orang yang kita kasihi. Anugerah yang mungkin kerap kurang kita sadari dan syukuri ketika semua baik-baik saja.

Kedua, kita prihatin dan marah karena tahu bahwa bencana asap tidak tidak terjadi dengan sendirinya. Pepatah lama berkata, “di mana ada asap di situ ada api”. Memang ada faktor cuaca yang membuat bencana ini berkepanjangan. Namun, penyebab utamanya adalah ulah pihak-pihak tertentu yang sengaja merusak dan membakar hutan untuk kepentingan mereka.

Kalau kita saja prihatin dan marah, tidakkah Allah, Pemilik alam ini jauh lebih berhak untuk prihatin dan marah? Tidak hanya kepada para pembakar hutan, tetapi kepada setiap manusia yang tidak menghargai dan memelihara alam ciptaan-Nya dengan baik. Bencana asap terjadi bukan karena Allah mengabaikan manusia, melainkan karena manusia mengabaikan Allah dan tidak peduli kepada alam semesta yang dipercayakan-Nya kepada manusia.

Di balik kabut asap kita melihat Allah yang sesungguhnya telah mencurahkan banyak hal baik dalam hidup manusia, sekaligus yang sabar terhadap manusia yang tidak menghargai segala pemberian baik-Nya. Allah bukannya menutup mata terhadap dosa. Ada hari yang telah ditetapkan-Nya untuk menghakimi dan menghukum semua orang yang melawan Dia (Kisah Para Rasul 17:31). Namun, saat ini, Dia masih memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bertobat (2 Petrus 3:9).

3. Allah menyediakan pilihan bagi manusia dan pemulihan bagi seluruh ciptaan-Nya

Menyadari bahwa banyak bencana yang terjadi—termasuk bencana kabut asap—bersumber dari pilihan-pilihan yang diambil manusia sendiri, pertanyaan yang mungkin timbul adalah: mengapa sejak awal Allah memberikan manusia kebebasan untuk memilih? Bukankah Allah tahu kalau manusia kerap salah memilih? Tidakkah lebih baik bila manusia tidak diberi pilihan?

Bayangkanlah sebuah dunia tanpa pilihan. Mungkin tidak ada bencana kabut asap di sana. Tetapi tidak ada pula kegairahan mengeksplorasi alam dan mengembangkannya. Berbagai pengembangan varietas tanaman baru yang tahan hama dan kaya nutrisi kini bisa dinikmati dan mencukupkan kebutuhan pangan banyak orang di dunia. Hal-hal luar biasa ini terjadi ketika manusia memilih untuk menjadi rekan dan bukan musuh alam. Allah menciptakan manusia untuk menyatakan kehadiran, pemeliharaan, dan kebijakan-Nya kepada segenap ciptaan lainnya (Kejadian 1:26-28). Sebab itu kita diciptakan berbeda, punya akal budi, bisa memilih.

Benar bahwa pilihan-pilihan manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak lagi mencerminkan tujuan Sang Pencipta, dan justru kerap membawa bencana (seperti bencana kabut asap). Namun, Alkitab memberitahukan kita sebuah kabar baik. Allah menyediakan pemulihan bagi setiap orang yang mau bertobat (2 Tawarikh 7:14). Dan, pertobatan manusia akan membawa pemulihan juga bagi segenap alam, karena manusia yang bertobat kini kembali akan menjalankan perannya sebagai pengelola yang baik dari alam ciptaan Allah. Bahkan suatu hari kelak, ketika Kristus datang kembali, kita akan hidup bersama-Nya dalam langit dan bumi yang baru (Wahyu 21). Sebuah pemulihan total!

Di balik kabut asap, kita melihat Allah yang menciptakan kita secara istimewa di antara segenap ciptaan-Nya. Dia memberi kita kemampuan untuk berpikir, memilih, berkreasi, menyatakan kehebatan dan kebijaksanaan-Nya di tengah alam semesta. Kita juga melihat Allah yang pemurah, yang menyediakan pemulihan bagi setiap manusia yang mau bertobat, dan bagi segenap ciptaan-Nya.

Bagaimanakah kita akan menanggapi Allah di balik kabut asap?

 

Walau banyak mulut yang meratap
Karena siksaan dari serbuan asap
Janganlah berpikir Allah tidak mendekap
Oleh karena Dia tetap Allah yang mantap

Manusia jangan hanya meratap
Tapi pikir baik-baik kenapa ada asap
Yang tak bertobat jangan merasa mantap
Oleh karena penghukuman datang berderap