Ketika Peristiwa Nyaris Celaka Mengubahkan Pandanganku Tentang Kehidupan

Info

Ketika-Peristiwa-Nyaris-Celaka-Mengubahkan-Pandanganku-tentang-Kehidupan

Oleh Lydia Tan, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How (A Close Encounter With) Death Shaped My Perspective On Life

Pernahkah terpikir olehmu kapan kamu akan menghembuskan nafasmu yang terakhir?

Beberapa minggu yang lalu, aku hampir saja harus menghembuskan nafas terakhirku. Waktu itu aku sedang berdiri di atas trotoar di pinggir jalan ketika seseorang mengemudikan mobilnya secara ugal-ugalan dan nyaris menabrakku. Mobil itu hampir menaiki pembatas jalan dan hanya berjarak beberapa inci dariku.

Peristiwa yang hampir saja merenggut nyawaku itu sungguh membuatku kaget—namun di saat yang sama aku juga bersukacita karena aku masih hidup dan aku bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya. Sepanjang malam itu aku tidak bisa tidur, aku merenung tentang hidup dan apa yang benar-benar berarti bagiku. Manusia itu lucu, biasanya kita baru akan menghargai dan berpikir lebih mendalam tentang hidup ini ketika kematian mendekat.

Kematian.

Apa yang membuat kematian menakutkan bagi kita? Apakah karena itu sebuah akhir? Apakah karena itu tak terelakkan? Apakah karena itu tak terprediksi? Kematian adalah sebuah interupsi yang kasar, menghalangi kita mencapai berbagai mimpi, harapan, dan ambisi kita. Kematian adalah ibarat tamu yang tak diinginkan.

Bagi banyak orang, kematian adalah sesuatu yang tabu dan jarang dibicarakan atau dipikirkan, seolah-olah menyebutkan kata itu dapat mengundangnya untuk datang. Tapi, menghindari bicara tentang kematian itu bukanlah jawaban; kematian itu tak terelakkan.

Aku teringat kembali akan kenyataan akan kematian ketika aku bercakap-cakap dengan ibuku beberapa waktu lalu. Ibuku bercerita tentang apa yang terjadi kepada bibinya. Ketika aku mengunjungi bibi ibuku yang tinggal di luar negeri ini, aku kagum melihat suaminya yang begitu memperhatikan dia dengan luar biasa dan selalu berusaha memenuhi kebutuhannya. “Betapa terberkati hidupnya, memiliki seorang suami yang penuh kasih, begitu lemah lembut dan manis!” begitu pikirku. Namun, sebuah tragedi terjadi seminggu sebelum hari pernikahan anak mereka—suami bibi ibuku meninggal secara mendadak karena serangan jantung.

Dapatkah kamu bayangkan mereka harus mempersiapkan acara pernikahan dan pemakaman dalam waktu yang bersamaan? Aku tidak dapat membayangkan rasa duka dan kekalutan yang harus dihadapi oleh bibi ibuku dan keluarganya. Tapi, kenyataannya setiap hari banyak orang di seluruh dunia harus menghadapi kematian seperti ini.

Tragedi itu membuatku berpikir: Ketika kematian datang mendekat, kepada siapakah kita dapat berpaling? Bagaimana caranya kita menemukan harapan di tengah rasa takut dan duka? Alkitab memberi kita jawabannya: berpalinglah kepada Allah, penolong kita dan satu-satunya sumber keselamatan kita (Mazmur 42:6). Di tengah ketidakpastian hidup dan marabahaya, Allah adalah satu-satunya Jangkar kita yang teguh, Gunung Batu kita yang kuat, tempat kita berlindung (Mazmur 18:3).

Tapi, bagaimana itu mempengaruhi cara kita hidup? Sebagai orang Kristen, bagaimana seharusnya kita memandang kehidupan dari kacamata kekekalan? Lagi, Alkitab memberi kita beberapa jawabannya. Di satu sisi, Alkitab berkata bahwa hidup ini sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4:14). Di sisi lain, Alkitab juga mengingatkan kita bahwa meskipun hidup ini hanya sementara, hidup kita sangat berharga karena Tuhan yang menjadikan kita berharga. Dalam Matius 16:26, Yesus memberitahu kita bahwa nyawa kita jauh lebih berharga daripada seluruh dunia.

Ketika kita mengetahui betapa berharganya hidup kita, kita dapat menghargai hidup ini dan hidup seperti apa yang Pencipta kita inginkan—“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Itu berarti kita harus menggunakan waktu yang telah Tuhan berikan kepada kita sebaik mungkin bagi-Nya.

Apakah kamu pernah berpikir untuk menulis sebuah surat untuk menguatkan temanmu? Tulislah sekarang. Apakah kamu pernah berpikir untuk memperhatikan temanmu dan bertemu dengan mereka? Buatlah janji temu itu. Apakah kamu ingin orang yang kamu kasihi tahu bahwa kamu benar-benar mengasihi mereka? Jangan tunda lagi: beritahu mereka sekarang betapa kamu mengasihi mereka. Apakah kamu pernah mengabaikan apa yang Tuhan telah letakkan di dalam hatimu? Kejarlah itu dan mintalah kekuatan dari Tuhan agar kamu dapat melakukannya hingga selesai. Kamu tak pernah tahu apakah kesempatan itu akan datang lagi nanti.

Bagiku, pengalamanku selamat dari tabrakan sebuah mobil adalah sebuah pengingat bahwa tugasku di bumi ini belumlah selesai. Dalam beberapa bulan mendatang, aku akan bergabung dalam sebuah pekerjaan misi di luar negeriku, dan aku pun diyakinkan bahwa tiada sesuatu pun yang akan terjadi padaku kecuali Tuhan mengizinkannya (Roma 14:8).

Marilah kita hidup dengan melihat dari sudut pandang kekekalan, jadikan semua momen menjadi berarti untuk kekekalan. Mari belajar untuk mengucap syukur setiap hari kepada Tuhan atas anugerah-Nya yang menopang kita (yang seringkali tanpa kita sadari) dan hidupi hidup kita untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan yang layak menerima segala kemuliaan.

Seperti doa Musa, marilah kita juga meminta Tuhan untuk mengajari kita menghitung hari-hari kita sedemikian, hingga kita beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12).

Baca Juga:

Mengapa Aku Mengampuni Ayahku yang Adalah Seorang Penjudi

Aku pernah begitu membenci ayahku. Bagiku dia hanyalah seorang penjudi, munafik, dan sangat tidak layak disebut sebagai seorang ayah. Tetapi, karena suatu peristiwa yang tidak kusangka, aku belajar tentang apa arti mengampuni yang sesungguhnya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 04 - April 2017: Anugerah, Artikel, Pena Kamu, Tema 2017

6 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!