Posts

Gwan-hee Lee: Melalui Kanker, Kristus Nyata Hidup di Tubuhku

Oleh Yosheph Yang
Artikel ini ditulis berdasarkan film dan buku “Church Brother” (교회 오빠) yang mengisahkan perjuangan Gwan-hee melawan kanker.

*Spoiler alert

Segala sesuatu berjalan dengan baik di kehidupan Gwan-hee. Lulus dari salah satu universitas ternama di Korea Selatan, kerja sebagai peneliti di perusahaan besar di Korea, dan menikah dengan istri yang baik (Eun-joo Oh). Tidak sampai 100 hari setelah kelahiran anak pertama (So-yeon Lee), di bulan September 2015, Gwan-hee didiagnosis menderita kanker usus besar stadium empat. Tidak ada yang mengira bahwa ini adalah awal dari penderitaan lain yang menghampiri hidup Gwan-hee.

Hidupku adalah misi dari Tuhan

Di akhir tahun 2015, Gwan-hee dan keluarganya harus menelan pil pahit lain dalam kehidupannya. Ibunya Gwan-hee mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dikarenakan depresi melihat Gwan-hee yang menderita kanker. Eun-joo merasa bersalah tidak tahu bagaimana galaunya kehidupan ibu mertuanya setelah mengetahui berita kanker itu.

Melalui film dokumentasi tentang hidupnya melawan kanker, Gwan-hee sama sekali tidak berusaha menutupi masalah keluarganya. Gwan-hee menanggap apa yang ia alami berada di bawah pengaturan Tuhan, dan ia hanya menyampaikan kehidupannya yang terhempas ini apa adanya kepada orang-orang lain.

Walaupun kenyataannya pahit, Gwan-hee tetap mengasihi Tuhan dan percaya kepada kedaulatan Kristus dalam kehidupannya. Melihat sikap Gwan-hee yang seperti ini, banyak orang bertanya kepadanya. “Dengan kenyataan bahwa ibu kamu meninggal dengan bunuh diri, bagaimana kamu tetap bisa memuji Tuhan dan tidak membenci Tuhan sama sekali?”

Dan beginilah Gwan-hee menjawabnya. “Setelah menerima kenyataan pahit tentang ibuku, aku memulai doaku dengan menyalahkan Tuhan. Tuhan, kapan aku membenci Engkau dengan kanker yang aku terima? Tuhan tahu dengan jelas isi doa-doaku. Aku berdoa tolong Tuhan jaga hati ibuku yang lemah, berikan ibuku kekuatan terhadap berita kankerku. Apabila doa ini tidak didengar sama sekali, selanjutnya doa apakah yang bisa kupanjatkan kepada Engkau, ya Tuhanku?” Ketika Gwan-hee memulai doanya seperti itu, ia merasakan Roh Kudus memberikan penghiburan kepadanya. “Dukacita dan kesedihan yang aku terima tentang meninggal ibuku yang sangat kusayangi itu juga lebih dirasakan oleh Tuhan. Aku juga melihat di dalam hatiku Tuhan menangis ketika memeluk ibuku. Aku tidak bisa membenci Tuhan setelah itu.” Gwan-hee pun mengakhiri doanya saat itu dengan memuji Tuhan. Ia berkomitmen untuk tetap cinta Tuhan apapun kesengsaraan yang akhirnya akan muncul di dalam kehidupannya.

Empat bulan setelah meninggalnya sang ibu, Gwan-hee menerima kenyataan pahit lain dalam kehidupannya. Istrinya yang ia kasihi didiagnosis kanker darah stadium empat. Gwan-hee dalam kesaksiannya menceritakan walaupun kehidupannya tidak dapat dibandingkan dengan kisah Ayub di Alkitab, ia merasakan Tuhan sedang menguji imannya. Di dalam situasinya saat itu, Gwan-hee percaya misinya saat itu adalah tetap percaya kepada Tuhan. Mazmur 50:15 dan Yeremia 33:3 menjadi janji Firman Tuhan yang ia pegang dan percaya di dalam kesesakannya. Berseru dan berdoa kepada Tuhan dengan mengutarakan segala permasalahan dalam kehidupannya menjadi tanggapan Gwan-hee terhadap janji Tuhan yang ia pegang itu.

Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku. (Mazmur 50:15)

Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui. (Yeremia 33:3)

Perenungan melalui kanker

Di dalam masa pengobatan buat Gwan-hee dan istrinya yang sama-sama melawan kanker, mereka bersama-sama melakukan saat teduh di pagi hari. Di pagi itu, mereka membaca dari Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”.

Gwan-hee membimbing diskusi yang ia lakukan bersama istrinya. Mengapa Tuhan melihat kita sebagai orang berdosa? Kita perlu lebih jelas memahami makna dosa dalam kehidupan kita. Menurut Gwan-hee, dosa adalah walaupun tahu pentingnya percaya Kristus, manusia pada umumnya tidak percaya sepenuhnya kepada Kristus dan tidak memberikan Kristus hak milik seutuhnya dalam kehidupan kita. Selain itu bagi Gwan-hee, dosanya adalah walaupun Tuhan telah memilihnya sebagai bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah (1 Petrus 2:9) yang diciptakan untuk mengasihi orang lain dan menjadi murid Kristus, ia tidak melakukan panggilan tersebut sepenuhnya.

Melalui perenungan tentang relasi antara dosa dan mengasihi orang lain, terlebih di masa pengobatan kankernya, Gwan-hee diajarkan Tuhan tentang apakah dosa itu dan makna kasih yang sebenarnya. Inilah yang menjadi hal yang pertama dalam pertobatannya. “Sebelum kanker tiba, dibandingkan dengan orang lain, aku berpikir bahwa aku melakukan banyak hal-hal baik di dalam atau pun di luar gereja.” Namun, setelah sakit menerpa tubuhnya, Gwan-hee menyadari bahwa dia tidak sepenuhnya mencari kemuliaan Tuhan.

Gwan-hee juga berpikir apabila ia tetap membiarkan rasa kebencian dan akar pahit dalam kehidupannya, itu bisa berdampak terhadap penyebaran sel-sel kanker di dalam tubuhnya. Gwan-hee pun berdoa kepada Tuhan untuk bisa mengasihi, mengerti, dan mengampuni orang-orang tersebut. Tuhan pun memberikan kasih karunia bagi Gwan-hee untuk berubah. “Dengan asumsi bahwa hari yang diberikan adalah hari terakhir dalam hidupku, aku tidak ingin menghabiskan hari yang diberikan ini dengan membenci orang lain,” katanya.

Di dalam masa pengobatan kanker, selain berterima kasih atas pengobatan yang ia terima, Gwan-hee juga berterima kasih karena ia dibandingkan sebelumnya lebih bisa melihat dengan jelas keadaan pikiran dan jiwanya dan bisa bertumbuh lebih lagi secara rohani.

Hanya Kristus yang hidup

Empat belas bulan pasca operasi kanker pertama yang dilakukan oleh Gwan-hee, sel kanker di dalam tubuhnya bertumbuh kembali di tubuhnya. Setelah mendengar kabar itu, tidak ada sama sekali rasa putus asa dan kecewa yang keluar dari mulutnya kepada istrinya. Sebaliknya, ia berkata demikian.

“Akhir-akhir ini, pokok doa dalam kehidupanku adalah di dalam tubuhku aku mati dan hanya Kristus yang hidup. Jika dilihat baik-baik, ini ada perkataan yang keren dan sulit, tetapi bagi aku dan Eun-ju yang saat ini berada di antara hidup dan mati, ini adalah situasi yang bisa kita lakukan. Orang-orang yang sehat pada umumnya, sulit untuk bisa memahami makna ini. Tetapi saat ini, jika kita lihat baik-baik, kita diberikan kesempatan untuk benar-benar mengaplikasikan makna sesungguhnya dari aku mati dan Kristus hidup dalam kehidupan kita. Hidup yang hanya digerakkan oleh Kristus”

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20)

Banyak orang di sekitar Gwan-hee yang berpikir kalau ia bisa sembuh seutuhnya dari kanker ini adalah mukjizat Tuhan yang luar biasa. Tetapi Gwan-hee berpikir lain. “Melalui pengobatan kanker ini, satu hari untuk hidup yang diberikan oleh Tuhan, itu sendiri adalah mukjizat yang besar. Melalui kanker ini, aku bisa merasakan pentingnya satu hari. Walaupun kanker itu sendiri bukan berkat, kita bisa merasakan pentingnya satu hari. Inilah manfaat yang aku dapat,” katanya.

Gwan-hee menjalani hidupnya hari demi hari. Apabila hanya satu hari saja yang diberikan oleh Tuhan, Gwan-hee mau melalui masa yang singkat itu untuk menjadi orang yang lebih diutuhkan dan dewasa di dalam Kristus. Baginya, inilah alasan hidupnya.

Menghitung berkat dalam hidup

Salah satu alasan lain yang membuat Gwan-hee tidak bisa membenci Tuhan dikarenakan ia selalu menghitung berkat yang ia terima dari Kristus. Di acara perkumpulan bersama para penderita kanker lainnya, ia berkata, “Di dalam pikiranku, aku punya laporan untung dan rugi tentang kehidupanku. Jika aku melihat hidupku seutuhnya dan menghitung berkat yang aku terima dari Tuhan dan membandingkan dengan penderitaan yang aku alami, hasilnya selalu positif. Aku sama sekali tidak bisa membenci Tuhan.”

Terkadang Gwan-hee juga khawatir apakah ia bisa tetap menjaga imannya sampai akhir hidupnya, terlepas apapun masalah lain yang akan muncul. Melalui sakit yang dideritanya, Ia merasakan bahwa ia adalah orang yang lemah yang sangat memerlukan bantuan Roh Kudus untuk hidup hari demi hari. Dengan keyakinan penuh, Gwan-hee berkata, “Bagi kita yang percaya kepada Yesus Kristus, total laporan dalam kehidupan kita tidak akan pernah rugi dikarenakan di laporan keuntungan ada kasih Kristus di atas kayu salib yang menerima kita orang berdosa ini sebagai anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Kasih Allah yang di dalam Kristus lebih besar daripada masalah-masalah yang muncul di dalam kehidupan kita.”

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:38-39)

Banyak hal lain yang aku juga kagumi di hidupnya Gwan-hee. Di dalam masa pengobatan kankernya, ia lebih memilih tidak menggunakan morfin untuk mengurangi rasa sakitnya. Baginya, dengan morfin, saraf-sarafnya tidak berfungsi secara optimal dan tidak bisa menerima Firman Tuhan. Ia lebih memilih menderita bersama Kristus dibandingkan hidup tanpa Firman Tuhan. Sebagai ganti morfin, ia diberikan obat analgetik-antipiretik.

Masa-Masa terakhir hidup

Setelah operasi kanker keduanya gagal, Gwan-hee memakai waktunya untuk lebih bersama dengan orang-orang yang disayanginya. Gwan-hee sangat kecewa tidak bisa mendampingi anaknya bisa masuk ke hari pertama sekolah, yang merupakan misinya setelah menerima kanker. Terlepas dari kondisinya saat itu, Gwan-hee tetap percaya kepada kedaulatan Kristus. Dia berharap anaknya yang masih kecil itu bisa mencontoh imannya ketika dewasa nanti.

Menjelang akhir hidupnya, Gwan-hee berkata kepada istrinya, “Aku merasa takut. Setiap hari aku berdoa untuk belas kasihan Tuhan, pengampunan atas dosa-dosaku, keselamatan dari kesengsaraanku. Apabila penderitaanku ini kehendak Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menghadapinya. Aku terkadang merasakan Tuhan tidak mendengar doa-doaku dan menghempaskanku. Inilah ketakutanku.” Gwan-hee merasakan apa yang Yesus rasakan di atas kayu salib. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46b).

Dini hari tanggal 16 September 2018, Gwan-hee menyelesaikan pertandingan hidupnya dan berpulang ke rumah Bapa di surga. Istrinya berterima kasih kepada Tuhan karena sampai pada akhirnya Gwan-hee tetap beriman kepada Kristus dan percaya kepada pengaturan Kristus. Gwan-hee memberikan kepada keluarganya dan orang-orang di sekitar contoh hidup orang beriman.

Melihat kehidupan perjuangan Gwan-hee melawan kanker, banyak hal yang bisa kita pelajari. Beberapa pelajaran hidup yang aku pelajari dari hidupnya adalah:

  • Pentingnya mendalami kasih Kristus di atas kayu salib bagi kita.
  • Aku berusaha mempelajari kembali makna injil dalam kehidupan. Aku 100% orang berdosa yang diselamatkan oleh Allah melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.

  • Memiliki hubungan intim dengan Tuhan adalah cara orang beriman menanggapi kasih Kristus.
  • Gwan-hee di masa kesengsaraannya selalu berusaha mencari Tuhan melalui saat teduh dan doanya. Baginya keselamatannya hanya datang dari Tuhan. Sekalipun dagingnya dan tubuhnya habis lenyap, gunung batu dan bagiannya tetaplah Allah selama-lamanya (Mazmur 73:26).

  • Hidup dengan “fighting spirit” untuk memelihara iman sampai kita kembali bertemu Tuhan.
  • Sama seperti Gwan-hee, kita juga harus menjaga iman sampai garis akhir hidup kita. Apapun permasalahan muncul, kasih Kristus lebih besar dari pada masalah apapun juga. Kita juga bisa menanggap hari yang diberikan Tuhan hari ini adalah hari terakhir kita. Kita tidak mau mengakhiri pertandingan hidup kita dengan tidak taat atau lebih memilih dosa.

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (2 Timotius 4:7-8).

Sebagai penutup, aku ingin membagikan lagu yang dibuat berdasarkan renungan saat teduh Gwan-hee Lee. Tuhan memberkati.

Blessed Through Suffering (Lirik dari Note Saat Teduh Gwan-hee Lee)
(Pianis di video tersebut adalah Eun-joo, istri dari Gwan-hee)

I am flying the sky
Up and up I soar into the sky
My wings are strong and I need no more
I will continue and make it to the top

When my Lord broke my wings
And has brought me among the lowest
Now I see what I didn’t see before
My Lord let me see so many souls in pain

Now I know I am blessed through the suffering
My Lord turned my troubles into blessing
and made me kneel before the Cross
when people questioned where my Lord was
I am nowhere to be found now
Only my Lord appears in my humble life

“Who,” you ask me, “is my Jesus?”
Mourners’ Comforter is He
Light and Vision for the blind
He is healing for the ailing
For the dead, He is Resurrection
And in Him we find our life

Baca Juga:

Kebahagiaan Sejati Hanya di Dalam Yesus

Jika ditanya apa yang menjadi sumber kebahagiaan kita? Tentu jawabannya bisa beragam. Ada yang menjawab sumber kebahagiaannya adalah memiliki tabungan berlimpah, rumah, mobil, pekerjaan tetap, anak-anak yang sehat dan pintar, bahkan pensiun di masa tua dengan pemasukan yang terus berjalan.

Menulis Obituari di Masa Muda: Bagaimana Kamu Akan Dikenang Nanti?

Oleh Queenza Tivani, Jakarta

Beberapa minggu terakhir ini, aku dikejutkan dengan kabar kepergian figur yang aku tahu. Kabar pertama datang dari seorang pendeta di gerejaku tempatku berjemaat dahulu, dan juga kepergian seorang musisi Indonesia.

Ucapan belasungkawa dan testimoni singkat mengenai betapa baik hatinya orang-orang tersebut membanjiri timeline media sosialku. Aku membacanya dan tanpa sadar aku meneteskan air mata. “Tidak ada yang tahu tentang hari besok. Semua menjadi misteri.” Kata seorang temanku ketika aku berdiskusi dengannya mengenai kisah ini. Ya benar, Seperti dalam Yakobus 4:14 berkata “kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”

Kisah tersebut, mengingatkan aku pada pertanyaan, “Seperti apakah kamu ingin dikenang saat kamu telah tiada?”

Pertanyaan ini pertama kali ditanyakan ketika aku masih orientasi mahasiswa baru. Saat itu, kami dibagi per kelompok 10-15 orang dan dibimbing oleh 2 orang kakak pembimbing. Materi orientasi saat itu bertemakan “tujuan hidup”, dan aku terkejut ketika kakak pembimbing memberikan sebuah lembaran kertas bergambarkan sebuah batu nisan kosong. Tak hanya itu, aku semakin terkejut ketika dia menyuruh kami menuliskan nama kami masing-masing di gambar batu nisan tersebut, diiringi tanggal lahir dan tanggal kematian. Tanggal kematian ditulis dengan tanggal yang sama dengan hari itu, tetapi 2 tahun dari sekarang. Hatiku bertanya-tanya, “Untuk apa sih? Ini terlihat sangat menyeramkan. Aku baru saja jadi mahasiswa baru, kok malah disuruh merancang kematianku sendiri.” Tapi, aku tetap mengikuti arahannya.

Saat itu kami diminta untuk menuliskan obituari kami sendiri. Yang kutuliskan adalah: “Aku ingin dikenang sebagai seorang Kristen yang taat. Pribadi yang ceria dan menghormati orang tua. Pribadi yang selalu membawa sukacita bagi orang lain. Pribadi yang membuat orang tua bangga karena kegigihan dan semangatnya.” Setelah menuliskan ini, kami disuruh untuk memikirkan langkah-langkah konkrit untuk mewujudkannya. Sebuah hal kecil yang selalu kuingat hingga hari ini.

Sekarang, ketika aku flashback ke masa-masa itu, aku menyadari bahwa setelah hari aku “dipaksa” memikirkan kematianku, aku jadi hidup dengan sebuah tujuan. Tujuan untuk hidup sebagai seorang Kristen yang taat, menjadi pribadi yang baik dan membanggakan bagi orang tua. Perlahan-lahan kugapai semua angan-angan tersebut. Walau belum sempurna, kisah mahasiswa baru itu membuatku untuk tetap berada pada track yang benar.

Pernahkah kamu berpikir hal ini? Warisan rohani apa yang ingin kamu tinggalkan bagi keluarga dan kerabatmu?

Jika aku ingin dikenang menjadi seorang pribadi yang cinta Yesus dengan segenap hati dan jiwa, maka dalam hidupku saat ini ku juga harus sejalan dengan isi hati-Nya. Membaca Firman Tuhan untuk mengetahui isi hati-Nya dan terus berkomunikasi dengan Dia melalui doa. Aku belajar membuat list pokok-pokok doa mingguan untuk menolongku berdoa bagi sesama, bukan saja berdoa tentang pribadiku. Hari Senin, aku mendoakan keluarga besarku. Hari selasa, aku mendoakan komunitas di mana aku bergereja dan bertumbuh. Aku bahkan menyebut nama mereka satu per satu dalam doaku. Dilanjutkan dii Rabu, aku mendoakan bangsa dan negara. Begitu seterusnya. Aku pun mengatur reminder di HP untuk saat teduh. Konsisten melakukan ini tidak mudah, seringkali aku pun gagal. Adakalanya aku melewatkan itu berhari-hari. Namun ketika gagal, aku diingatkan kembali oleh Roh Kudus untuk bangkit dan bahwa tujuan hidupku adalah untuk memuliakan Dia.

Tidak seorang pun kelak bisa menghindar dari kematian. Namun, ketika kita sudah menerima Kristus, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Aku ingin mengajakmu yang membaca cerita ini untuk mulai berpikir akan akhir hidup kita di dunia. Kita perlu memikirkan sesuatu yang lebih jauh, tentang hari depan. Ketika kita memahami bahwa kita akan diperhadapkan dengan kematian, sudah seharusnya kita tidak menjalani hidup dengan cara yang sia-sia. Kita bisa menjadikan hidup kita berkat bagi orang lain. Kita harus menghidupi kehidupan saat ini dengan sesuatu yang baik, berguna dan memenuhi apa yang menjadi panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Bulan ini kita telah merayakan Jumat Agung dan Paskah, kematian dan kebangkitan Yesus Krisus. Ketika Dia telah menyerahkan seluruh hidupnya bahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia, maka apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa menolong sesama kita hari ini. Mulai dari hal sederhana, bertanya kabar dan mendoakannya. Juga jika hari ini kita diberikan pekerjaan dan tanggung jawab, lakukanlah itu dengan sepenuh hati.

Aku teringat akan Paulus, rasul yang pelayanannya memberkati banyak orang. Paulus yang dulunya penganiaya orang-orang percaya diubahkan Tuhan menjadi seorang Kristen yang taat dan berapi-api. Dia tak cuma mengabarkan Injil, tapi juga memberikan hidupnya bagi Injil. Satu hal yang aku pelajari dari hidup Paulus adalah ketika dia menerima Kristus, hidupnya mengalami perubahan. Pandangannya mengarah kepada rancangan Tuhan. Hidupnya hari demi hari berfokus pada bagaimana dia harus menjadi berkat bagi banyak orang.

Yuk ambil waktu sejenak untuk menuliskan obituari kamu sendiri. Jadikan apa yang akan kamu tulis di sana, sebagai sebuah komitmen bagaimana kamu akan menghidupi hari-harimu hari ini dan besok.

Baca Juga:

Surat untuk Sahabatku yang Sedang Berduka

Yang terkasih, sahabatku,

Tahun telah berganti, tetapi kamu tidak ingin melangkah sebab orang yang paling kamu kasihi, telah meninggalkanmu di tahun sebelumnya. Semarak pesta pergantian tahun tidak membuatmu terpesona. Kamu mungkin merasa lebih nyaman menghabiskan waktu di kamar. Dan, mungkin pula kamu berharap ada mesin waktu yang dapat membawamu kembali ke masa-masa dulu.

Kata Terakhir

Kamis, 5 September 2019

Kata Terakhir

Baca: 1 Korintus 15:12-19

15:12 Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?

15:13 Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.

15:14 Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.

15:15 Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus—padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan.

15:16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.

15:17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.

15:18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.

15:19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. —1 Korintus 15:19

Kata Terakhir

Nama perempuan itu Saralyn, dan saya sempat menaksirnya semasa sekolah dahulu. Tawanya menyenangkan. Saya tidak yakin ia mengetahui perasaan saya, tapi saya rasa ia tahu. Setelah lulus, saya putus kontak dengannya. Seperti yang sering terjadi dalam kehidupan ini, hidup kami berjalan ke arah yang berbeda.

Saya masih tetap berhubungan dengan teman-teman seangkatan saya di berbagai forum daring, dan merasa sangat sedih ketika mendengar kabar bahwa Saralyn sudah meninggal dunia. Saya sempat bertanya-tanya apa dan bagaimana kehidupannya selama ini. Seiring dengan bertambahnya usia, semakin sering saya kehilangan teman-teman dan anggota keluarga. Namun, banyak orang yang enggan membicarakan tentang kematian.

Meskipun masih bisa merasa dukacita, kita mempunyai pengharapan yang dikemukakan oleh Rasul Paulus: Maut bukanlah akhir segalanya (1Kor. 15:54-55), karena setelah itu ada kebangkitan. Paulus mendasarkan pengharapan itu pada kenyataan bahwa Kristus sudah bangkit (ay.12), dan berkata, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (ay.14). Jika pengharapan kita sebagai orang percaya hanya terbatas pada dunia ini, alangkah malangnya hidup kita (ay.19).

Suatu hari kelak, kita akan bertemu kembali dengan “orang-orang yang mati dalam Kristus” (ay.18)—kakek-nenek dan orangtua, kawan dan tetangga kita, atau mungkin juga mereka yang pernah menarik hati kita di masa sekolah.

Kebangkitan, bukan maut, yang akhirnya menang. —John Blase

WAWASAN
Pemberitaan Paulus dan tokoh Perjanjian Baru lain mengenai kebangkitan (1 Korintus 15:12) berdasar pada Perjanjian Lama (ay.3-4). Perkataan mereka mengikuti contoh pengajaran Yesus yang juga mengacu kepada Perjanjian Lama, di mana Dia menjelaskan kepada para murid yang terheran-heran mengenai kebangkitan-Nya. Dia berfirman, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. . . . Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” (Lukas 24:44-46). Dalam Kisah Para Rasul 2:23-28, Petrus berbicara tentang kebangkitan Kristus dan mengutip Mazmur 16:8-11 untuk menunjukkan bahwa Daud pun telah menubuatkannya. Kemudian Petrus mengutip Mazmur 110:1 untuk membuktikan bahwa Daud juga menubuatkan kenaikan dan kemuliaan Kristus (Kisah Para Rasul 2:34-36). —Arthur Jackson

Apa arti kebangkitan Kristus bagimu? Bagaimana kamu dapat menyatakan imanmu dan menuntun seseorang kepada pengharapan akan kebangkitan itu?

Tuhan Yesus, biarlah kuasa kebangkitan-Mu menjadi semakin nyata dalam hidupku. Kiranya itu nyata dalam perkataan dan perbuatanku, terutama ketika aku berinteraksi dengan orang-orang yang belum mengenal-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 146-147; 1 Korintus 15:1-28

Kasih dan Damai

Jumat, 8 Februari 2019

Kasih dan Damai

Baca: Mazmur 16

16:1 Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

16:2 Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”

16:3 Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.

16:4 Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.

16:5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

16:6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.

16:7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.

16:8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

16:9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;

16:10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, . . . Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. —Mazmur 16:10-11

Kasih dan Damai

Saya selalu takjub menyaksikan bagaimana damai—damai yang berkuasa dan melampai segala akal (Flp. 4:7)—dapat menguasai hati kita bahkan di tengah kedukaan yang mendalam. Baru-baru ini, saya mengalaminya dalam kebaktian penghiburan ayah saya. Ketika deretan kerabat mengungkapkan rasa dukacita mereka, saya merasa lega melihat seorang sahabat di SMA. Tanpa sepatah kata pun, ia memeluk saya dengan erat beberapa waktu lamanya. Bentuk perhatiannya yang tenang itu mengalirkan damai yang baru saya rasakan di tengah duka pada hari yang berat itu. Saya disadarkan bahwa saya tidak benar-benar sendirian.

Seperti kata Daud dalam Mazmur 16, damai dan sukacita yang Allah berikan bukanlah hasil dari pikiran kita yang sengaja mengabaikan rasa sakit. Damai tersebut merupakan pemberian yang kita terima dan alami saat berlindung pada Allah kita yang baik (ay.1-2).

Kita bisa saja menyikapi kesedihan karena kematian seseorang dengan cara mengalihkan perhatian. Kita pikir kepedihan takkan terasa jika kita mengabaikannya. Namun, cepat atau lambat kita akan sadar bahwa segala upaya untuk menghindari kepedihan justru membuat kita semakin menderita (ay.4).

Sebaliknya, kita dapat berpaling kepada Allah, dengan mempercayai bahwa hidup yang sudah Dia berikan itu—meski ada kepedihan—tetap baik dan indah, meski kita tidak mengerti sepenuhnya (ay.6-8). Kita bisa berserah kepada tangan kasih-Nya yang dengan lembut menopang kita di dalam kedukaan dan memberi kita damai serta sukacita yang tak bisa direnggut oleh maut sekalipun (ay.11). —Monica Brands

Bapa, terima kasih atas tangan-Mu yang selalu memeluk dan menopang kami di kala suka maupun duka. Tolong kami untuk mencari pemulihan kami di dalam Engkau.

Kasih Allah memampukan kita melewati kepedihan dan mengubahnya menjadi damai dan sukacita.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 4-5; Matius 24:29-51

Doa yang Sarat Pertanyaan

Jumat, 18 Januari 2019

Doa yang Sarat Pertanyaan

Baca: Mazmur 13

13:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.13:2 Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?

13:3 Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

13:4 Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,

13:5 supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

13:6a Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu.

13:6b Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. —Mazmur 13:6a

Doa yang Sarat Pertanyaan

Dalam perjalanan jarak jauh (bahkan jarak dekat), sering terdengar pertanyaan, “Sudah sampai belum?” atau “Berapa lama lagi?” Hal itu tidak jarang terlontar dari mulut anak-anak maupun orang dewasa yang ingin segera tiba di tujuan. Namun, orang-orang di segala zaman juga cenderung menanyakan hal itu saat mereka didera kelelahan karena menghadapi tantangan hidup yang tampaknya tak pernah usai.

Mazmur 13 menunjukkan perasaan serupa yang juga dialami Daud. Dalam dua ayat saja (ay.2-3), empat kali Daud meratap, “Berapa lama lagi?” Ia merasa dilupakan, telantar, dan terpuruk. Pada ayat 3, ia bertanya, ”Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?” Mazmur ratapan seperti ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita boleh menghadap Tuhan di dalam doa dengan membawa pertanyaan-pertanyaan kita. Lagipula, bukankah Dia adalah pribadi terbaik untuk diajak bicara di tengah tekanan dan kesesakan kita? Kita dapat membawa setiap pergumulan kita kepada-Nya—penyakit, dukacita, penyimpangan orang yang kita kasihi, dan hubungan yang sulit.

Penyembahan kita tak perlu terhenti ketika kita mempunyai banyak pertanyaan di dalam pikiran kita. Allah yang berdaulat penuh itu menerima kita yang datang kepada-Nya dengan segala pertanyaan yang menjadi sumber kekhawatiran kita. Mungkin saja, seperti Daud, akan tiba saatnya segala pertanyaan kita akan diubah menjadi permohonan, penyerahan diri, dan pujian kepada Tuhan (ay.4-6). —Arthur Jackson

Tuhan, terima kasih karena aku boleh tetap datang menyembah-Mu meski ada banyak pertanyaan di dalam pikiranku.

Nyatakanlah pertanyaan dan pergumulanmu kepada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43-45; Matius 12:24-50

Kebangkitan Agung

Selasa, 18 Desember 2018

Kebangkitan Agung

Baca: Ulangan 34:1-8

34:1 Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan,

34:2 seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat,

34:3 Tanah Negeb dan lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar.

34:4 Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.”

34:5 Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN.

34:6 Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.

34:7 Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang.

34:8 Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu.

Mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. —1 Tesalonika 4:14

Kebangkitan Agung

Ada kenangan berharga ketika berkunjung ke rumah sahabat keluarga kami sewaktu anak-anak masih kecil. Orang-orang dewasa seperti kami biasa berbincang-bincang sampai larut malam, sementara anak-anak yang kelelahan bermain meringkuk tertidur di sofa atau di kursi.

Ketika tiba waktunya pulang, saya akan menggendong anak-anak dalam pelukan, membawa mereka ke mobil, membaringkan mereka di kursi belakang, lalu pulang. Sesampainya di rumah, saya membopong mereka lagi, menaruh mereka di tempat tidur, memberi kecupan selamat malam, dan mematikan lampu. Mereka pun bangun keesokan harinya—di rumah mereka sendiri.

Bagi saya, pengalaman itu sarat akan metafora dari peristiwa kita yang “meninggal dalam Yesus” (1tes. 4:14). Kita hanya akan tertidur sejenak . . . lalu terbangun di kediaman abadi, suatu rumah yang akan memulihkan kita dari segala keletihan hidup yang pernah kita jalani.

Suatu hari, saya membaca teks dari Perjanjian Lama yang mengejutkan. Itu adalah kalimat dari bagian akhir kitab Ulangan: “Lalu matilah Musa, . . . di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman Tuhan” (ul. 34:5). Dalam bahasa Ibrani, secara harfiah ayat itu berbunyi, “Matilah Musa . . . dengan mulut Tuhan.“ Menurut tafsiran kuno para rabi, frasa itu bisa diartikan “dengan kecupan dari Tuhan.”

Rasanya tidak berlebihan untuk membayangkan bahwa Allah membungkuk, membaringkan kita, lalu memberi kecupan selamat malam pada saat-saat terakhir kita di bumi. Kemudian, seperti kata John Donne, “Berlalulah satu tidur yang singkat, dan kita pun bangun dalam kekekalan.” —David H. Roper

Bapa Surgawi, kami dapat tidur dengan damai karena tangan-Mu menggendong kami.

Kematian hanya memindahkan kita dari ikatan waktu ke dalam keabadian. —William Penn

Bacaan Alkitab Setahun: Obaja; Wahyu 9

Panggilan Terakhir

Senin, 28 Mei 2018

Panggilan Terakhir

Baca: 2 Samuel 1:17-27

1:17 Daud menyanyikan nyanyian ratapan ini karena Saul dan Yonatan, anaknya,

1:18 dan ia memberi perintah untuk mengajarkan nyanyian ini kepada bani Yehuda; itu ada tertulis dalam Kitab Orang Jujur.

1:19 Kepermaianmu, hai Israel, mati terbunuh di bukit-bukitmu! Betapa gugur para pahlawan!

1:20 Janganlah kabarkan itu di Gat, janganlah beritakan itu di lorong-lorong Askelon, supaya jangan bersukacita anak-anak perempuan orang Filistin, supaya jangan beria-ria anak-anak perempuan orang-orang yang tidak bersunat!

1:21 Hai gunung-gunung di Gilboa! jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.

1:22 Tanpa darah orang-orang yang mati terbunuh dan tanpa lemak para pahlawan panah Yonatan tidak pernah berpaling pulang, dan pedang Saul tidak kembali dengan hampa.

1:23 Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa.

1:24 Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu.

1:25 Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu.

1:26 Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan.

1:27 Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!

Telah gugur para pahlawan bangsa. —2 Samuel 1:27 BIS

Panggilan Terakhir

Setelah mengabdi bagi negaranya selama dua dekade sebagai pilot helikopter, James pulang ke kotanya untuk mengabdi sebagai guru. Namun, karena masih rindu menerbangkan helikopter, ia pun bekerja sebagai tenaga evakuasi medis melalui udara bagi rumah sakit setempat. Ia melakukan tugas itu sampai akhir hidupnya.

Sekarang, tiba saatnya untuk mengucap-kan perpisahan terakhir kepada James. Ketika teman-teman, keluarga, dan rekan kerjanya dalam seragam hadir di sekitar makam almarhum, seorang rekan melakukan panggilan via radio untuk satu misi terakhir. Segera setelah itu, terdengar suara khas baling-baling yang membelah udara. Sebuah helikopter terbang mengelilingi kompleks pemakaman, melayang sebentar memberikan penghormatan terakhir, lalu terbang kembali ke rumah sakit. Semua yang hadir di pemakaman, bahkan anggota militer sekalipun, tak bisa menahan air mata mereka.

Ketika Raja Saul dan putranya, Yonatan, terbunuh dalam pertempuran, Daud menuliskan sebuah elegi (syair dukacita) yang disebut sebagai “nyanyian ratapan” (2Sam. 1:17). “Israel, di bukit-bukitmu, nun di sana gugurlah pahlawan, para putra negara, runtuhlah mereka sebagai bunga bangsa” (ay.19 BIS). Yonatan adalah sahabat sekaligus saudara bagi Daud. Meskipun Daud dan Saul bermusuhan, Daud tetap menghormati Saul dan anaknya. “Ratapilah Saul,” tulis Daud. “Yonatan, hai saudaraku, hatiku pilu” (ay.24,26 BIS).

Mengucapkan salam perpisahan tentu tidak mudah. Namun, bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, kenangan itu terasa jauh lebih indah daripada menyedihkan, karena perpisahan tidak akan berlangsung selamanya. Alangkah baiknya bila kita dapat menghormati mereka yang telah melayani sesamanya! —Tim Gustafson

Tuhan, kami berterima kasih kepada-Mu untuk orang-orang yang melayani komunitas mereka di garis depan. Kami memohon kiranya Engkau senantiasa menjaga keselamatan mereka.

Kita menghormati Allah Sang Pencipta ketika kita mengenang jasa-jasa orang yang diciptakan-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 4-6; Yohanes 10:24-42

Saat Kehidupan Menjelang Kesudahannya

Oleh Kim Cheung, Tiongkok
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 清明特輯 | 在生命的盡頭,誰可以拉住你的手(有聲中文)

Nenekku terbaring tak berdaya di tempat tidur. Nafasnya terengah-engah dan sesekali dia mengerang karena merasa sakit dan tidak nyaman. Wajahnya yang keriput menunjukkan usianya yang tua.

Aku terduduk di sampingnya, tak sekalipun tatapanku lepas darinya. Dengan semua kekuatannya, Nenek membuka matanya dan menatap lurus ke arahku.

“Nenek lapar?” tanyaku. Nenek menjawabku dengan keheningan; dia tidak lagi punya kekuatan untuk berbicara.

Tiga minggu telah berlalu sejak Nenek pulang dari rumah sakit. Jika ditotal sejak hari pertama Nenek dirawat di rumah sakit, sudah 17 hari dia tidak memakan makanan keras apapun. Tidak pernah terpikirkan olehku kalau dia akan menjadi sangat lemah.

Terlepas dari fakta bahwa Nenek telah berusia 92 tahun dan pernah memiliki riwayat penyakit jantung, kesehatannya selalu prima. Dia tidak butuh banyak pertolongan dalam kesehariannya; dia makan dan tidur teratur setiap hari, dia pun tampak lebih sehat dan muda jika dibandingkan dengan para lansia lainnya yang bahkan usianya lebih muda dari dia. Selain itu, dia juga selalu memiliki pandangan yang positif tentang kehidupan (tidak seperti teman-temannya) dan sering mengatakan kalau dia harus hidup dengan baik supaya bisa terus mengikuti perkembangan dunia sekarang.

Namun, saat ini dia terbaring sekarat untuk menghadapi masa-masa terakhir dalam hidupnya. Dia terlihat sangat kesakitan. Di balik pembawaanku yang tenang, perasaanku jadi campur aduk, dan aku pun bertanya: Bagaimana aku bisa menghibur Nenek dan membuatnya merasa sedikit lega di tengah situasi ini?

Aku dengan cepat menemukan jawabannya—tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain berdoa.

Di titik ini, Nenek dengan lembut mengulurkan tangannya dan memegangku. Meski tangannya lemah, tapi terasa hangat. Aku berdoa di dalam hati: Tuhan, Engkau ada bersamanya. Tolong, berikanlah dia penghiburan dengan kehadiran-Mu. Hanya Engkau yang dapat memberinya penghiburan yang sejati… Setelah beberapa saat, Nenek sepertinya tertidur; wajahnya tampak damai. Perlahan-lahan aku melepaskan tanganku darinya dan berdoa supaya Tuhan sajalah yang memegang dan menguatkannya.

Ini adalah pengalaman pertamaku menyaksikan seseorang berjuang di momen terakhir kehidupannya. Kematian adalah peristiwa yang suatu saat nanti pasti akan kita alami, namun yang jadi pertanyaannya adalah: Siapakah yang akan menemani kita kelak di jalan yang panjang dan sepi ini?

Aku teringat akan sesuatu yang beberapa tahun lalu menegurku: Kita semua datang ke bumi ini sendirian dan suatu saat akan pergi dengan cara yang sama—sendirian. Meskipun terdengar pesimis, tapi itulah kenyataan yang harus benar-benar kita hadapi. Keluarga dan teman-teman kita hanya bisa menemani kita di saat-saat terakhir kita di bumi, dan tidak mungkin bagi siapa pun untuk menemani kita ke perjalanan setelah kematian.

Dan inilah yang membuat banyak orang putus asa. Kematian menjadi sesuatu yang paling ditakuti oleh banyak orang—pikiran bahwa kita harus menghadapi rasa takut yang paling dalam dan gelap itu sendirian!

Namun, puji Tuhan karena aku menemukan harapan di dalam Kristus. Karena Tuhan selalu beserta kita, tidak ada satu pun momen dalam hidup kita di mana kita sendirian. Tuhan ada bersama kita di gunung-gunung ataupun lembah-lembah kehidupan. Daud berkata dalam Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Dan, di atas segalanya, Yesus telah menang atas kematian, seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 15:55, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Kita tidak lagi menghadapi ketidaktahuan dan keputusasaan setelah kita mati, tetapi kita beroleh kehidupan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Inilah yang menunjukkan besarnya kasih Allah bagi kita—Dia selalu bersama kita dan Dia ingin membawa kita kepada kehidupan yang baru.

Semakin aku berpikir tentang hal ini, semakin aku menyadari bahwa kita baru dapat mengerti kehadiran Allah sepenuhnya ketika hidup kita hampir berakhir, karena di titik inilah kita tidak dapat bergantung kepada siapapun dan apapun lagi selain Allah. Hanya di kesepian kita yang paling dalamlah kita bisa menemukan bahwa hanya Tuhanlah yang pasti dan Dialah batu perlindungan di mana kita dapat menempatkan kepercayaan kita.

Hanya Dia yang dapat memberikan kita penghiburan sejati dan pertolongan di masa-masa tergelap. Hanya Allah yang akan bersama dengan kita selamanya—semua hal lainnya hanyalah sementara dan akan berlalu.

Aku mengucap syukur pada Allah karena aku tidak pernah sendirian dalam menyelesaikan perjalananku di dunia ini. Jadi, selama waktu-waktuku hidup, aku mau hidup dengan kepercayaan penuh pada kasih setia-Nya dan menyandarkan hidupku pada-Nya, batu perlindunganku yang kokoh.

Ya Tuhan Yesus, peganglah tanganku erat-erat.

Baca Juga:

Tetap Beriman di Tengah Kecelakaan

Brakk! Kereta yang kutumpangi mengalami kecelakaan. Suasana panik dan yang bisa kulakukan hanyalah tertunduk dan berdoa.

Sampai Bertemu Lagi

Rabu, 7 Maret 2018

Sampai Bertemu Lagi

Baca: 1 Tesalonika 4:13-18

4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.

4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.

4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.

4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;

4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.

4:18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

Kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. —1 Tesalonika 4:13

Sampai Bertemu Lagi

Saya dan cucu saya, Allyssa, memiliki kebiasaan yang kami lakukan saat kami berpisah. Kami akan berpelukan dan berpura-pura menangis terisak-isak selama kurang lebih 20 detik. Lalu kami pun memisahkan diri sambil berkata dengan santai, “Sampai jumpa!” Terlepas dari kebiasaan konyol itu, kami berharap bahwa kami akan segera bertemu kembali.

Namun, terkadang kepedihan yang dialami karena berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi dapat terasa menyesakkan. Ketika Rasul Paulus mengucapkan selamat tinggal kepada para tua-tua dari Efesus, “Menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus. . . . Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena [Paulus] katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi” (Kis. 20:37-38).

Akan tetapi, duka terdalam yang kita rasakan adalah saat kita dipisahkan oleh kematian dan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya dalam kehidupan ini. Perpisahan seperti itu rasanya tak terbayangkan. Kita berduka. Kita meratap. Bagaimana hati kita tidak hancur karena tidak lagi dapat memeluk orang yang kita cintai?

Meski demikian . . . janganlah kita berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Paulus menulis tentang pertemuan kembali di masa mendatang bagi mereka yang percaya “bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit” (1Tes. 4:13-18). Ia menyatakan, “Pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga,” dan mereka yang telah meninggal dunia, bersama mereka yang masih hidup, akan dipersatukan dengan Tuhan kita. Pertemuan kembali yang sangat indah!

Yang terbaik dari semuanya: kita akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan Yesus. Itulah pengharapan yang abadi. —Cindy Hess Kasper

Tuhan, terima kasih untuk jaminan bahwa dunia ini bukanlah segala-galanya, melainkan ada kekekalan terindah yang menanti semua yang percaya kepada-Mu.

Saat meninggal dunia, umat Allah tidak berkata, “Selamat tinggal,” tetapi “Sampai jumpa lagi.”

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 3-4; Markus 10:32-52

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Priska Sitepu