Pelajaran Berharga dari Penyelamatan 13 Pemain Bola di Thailand

Info

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why I Was Captivated By The Thai Cave Rescue
Foto diambil dari Facebook Video

Seperti banyak orang lain di seluruh dunia, kemarin malam aku bersorak ketika membaca berita bahwa 12 anak lelaki Thailand dan pelatih sepak bola mereka yang berusia 25 tahun akhirnya bisa diselamatkan dari dalam gua di utara Thailand. Mereka sudah terperangkap di dalam sana selama dua minggu!

Sejak membaca berita tentang bagaimana mereka menghilang pada 23 Juni lalu, aku terpaku pada layar ponselku. Aku mencari tahu berita-berita lanjutan tentang penyelamatan mereka.

Hatiku tertuju kepada keluarga dan teman-teman mereka saat aku membaca kalau mereka sudah menghilang selama lebih dari seminggu. Padahal seharusnya perjalanan mereka ke Gua Tham Luang itu hanya berlangsung setengah hari. Dan, hatiku tergerak saat membaca kalau 1.000 orang (dari seluruh dunia, termasuk Australia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, dan Tiongkok) turut memberikan pertolongan dalam pencarian besar-besaran untuk menemukan mereka.

Ketika mereka ditemukan sembilan hari kemudian (3 Juli) di lokasi yang berjarak 4 kilometer dari mulut gua oleh sepasang penyelam Inggris, aku pun gembira. Tapi, sukacita itu dengan cepat berubah jadi kepedihan saat muncul berita tentang Saman Gunan, mantan Angkatan Laut Thailand yang berusia 38 tahun kehilangan kesadaran dan meninggal dunia Jumat lalu setelah menempatkan tangki-tangki cadangan di sepanjang rute evakuasi.

Misi penyelamatan yang dramatis dan berbahaya ini, yang dimulai pada Minggu pagi, membuatku duduk di kursi sambil merasa was-was, dan setiap notifikasi berita yang aku terima tentang anak lelaki lain yang bisa diselamatkan dari gua yang penuh air itu membuatku merasa lega dan bersukacita.

Aku tidak mengenal anak-anak lelaki itu, pun juga para penyelamat secara pribadi, tapi perasaanku tersentuh sejak dari awal berita ini muncul. Aku pernah mengunjungi sebuah gua di Korea Selatan beberapa bulan lalu. Kunjungan ke gua itu menolongku untuk berempati dan membayangkan seperti apa rasanya berada di dalam lingkungan yang dingin, basah, gelap, berbatu, dan suram seperti yang anak-anak Thailand itu rasakan.

Tapi, seperti yang lain, apa yang kemudian membuatku terperangah adalah cerita-cerita tentang pengorbanan dan tidak mementingkan diri sendiri yang dilakukan oleh banyak orang yang menolong proses evakuasi—mereka menolong atas kemauan dan biaya sendiri. Dari para tentara, insinyur, paramedis, penyelam, koki, dan bahkan relawan-relawan yang mencuci seragam para tim penyelamat itu, jelaslah bahwa penderitaan anak-anak itu tidak hanya menyita perhatian dunia, tapi menggugah komunitas internasional untuk bertindak.

Bahkan di dalam gua, kisah tidak mementingkan diri sendiri itu berlanjut. Asisten pelatih dilaporkan memberikan beberapa bagian dari pasokan makanannya yang sangat sedikit kepada anak-anak itu selama 10 hari. Ketika ditemukan oleh penyelam Inggris, anak-anak itu berada dalam kondisi yang sangat lemah. Juga terungkap bahwa seorang dokter dan tiga Angkatan Laut Thailand telah tinggal bersama anak-anak itu sejak kali pertama mereka ditemukan lebih dari seminggu lalu.

Tapi, mungkin pengorbanan terbesar yang memberi dampak terkuat adalah berita bahwa mantan penyelam Angkatan Laut Thailand, Saman Gunan yang meninggal dunia dalam usahanya menyelamatkan 12 anak dan pelatihnya.

Meskipun tahu bahwa operasi penyelamatan ini sangat berbahaya dan berisiko, itu tidak menghalangi Gunan untuk mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anak-anak itu. Beberapa hari sebelum kematiannya, dia bahkan merekam video mengharukan yang menunjukkan kalau dia sedang berdiri di dekat anak tangga pesawat dan bersumpah untuk “membawa anak-anak pulang”. Pola pikirnya mungkin mencerminkan apa yang juga dikatakan oleh seorang penyelam Belgia dalam cuplikan berita lain. “Jika kamu adalah seorang angkatan laut, ya, kamu akan mengorbankan dirimu.” Sebuah laporan dari BBC kemudian menyimpulkan kematian Gunan dengan pedih, “Dia mati supaya mereka mungkin hidup.”

Apa yang dikatakan itu terbukti jadi nyata. Tiga belas orang yang terperangkap itu akhirnya berhasil diselamatkan dalam upaya evakuasi yang melelahkan selama tiga hari dan melibatkan 13 penyelam internasional dan 5 Angkatan Laut Thailand. Kematian Gunan tidak hanya menyingkap betapa berbahayanya evakuasi ini, tapi pada akhirnya berkontribusi besar untuk memastikan tindakan keselamatan apa yang perlu diambil supaya tidak ada lagi nyawa yang hilang.

Pengorbanan seperti inilah yang membuat air mata kita menetes, karena melalui inilah kita dapat melihat dua hal: nilai kehidupan dan kemanusiaan yang terbaik—ditunjukkan dalam bentuk cinta dan pengorbanan. Seperti yang Alkitab katakan dalam Yohanes 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Aku tidak bisa memungkiri bahwa ada banyak kesamaan antara penyelamatan anak-anak di gua Thailand ini dengan rencana keselamatan Tuhan untuk umat manusia. Seperti 12 anak lelaki dan pelatihnya yang terperangkap dalam gua, tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dari keadaan yang sulit, kita juga terjerembap dalam dosa-dosa kita, tidak berdaya sama sekali dan tidak mampu untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dalam kedua kasus ini, satu-satunya hasil yang menanti kita adalah kematian.

Bantuan harus datang dari luar. Bantuan itu datang melalui penyelam-penyelam ahli yang sudah siap mengambil risiko nyawa dan menyelam ke dalam gua yang dipenuhi air di mana jarak pandang hampir mendekati nol demi menyelamatkan 13 orang. Sama seperti itu, Yesus Kristus harus masuk ke dalam dunia kita yang telah jatuh, tinggal di antara kita, kemudian mati untuk kita di kayu salib. Meski Dia tahu bahwa Dia harus mengorbankan segalanya, itu tidak menghentikannya, karena itulah satu-satunya cara supaya kita dapat hidup.

Jadi, saat kita bertepuk tangan dan mengenali para pahlawan yang telah mengorbankan waktu, usaha, sumber daya, dan bahkan hidup mereka, kiranya ini juga mengingatkan kita sekali lagi tentang pengorbanan terbesar yang pernah dilakukan untuk umat manusia: Yesus memberikan hidup-Nya bagi kita bukan hanya ketika masih menjadi orang asing, tapi ketika kita masih jadi seteru-Nya (Roma 5:8-10).

Marilah kita tidak berhenti hanya di ucapan syukur dan perasaan kagum. Seperti yang dikatakan oleh penulis CNN, Jay Parini, “Dan semua orang berutang budi pada Saman Gunan, penyelam Thailand yang kehilangan nyawanya beberapa hari lalu saat keluar dari kompleks Gua Tham Luang.” Sama seperti anak-anak lelaki yang akan selamanya berutang budi kepada Gunan dan yang hidupnya akan berubah selamanya setelah kejadian ini, demikianlah hidup kita pun harus berubah karena apa yang Kristus telah lakukan untuk kita.

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Korintus 5:15).

Baca Juga:

Papa Mama, Terima Kasih untuk Teladan Kalian

Kalau aku melihat kembali kisahku ke belakang, kusadari hidup itu tidak mudah. Tapi, aku bersyukur karena papa dan mamaku memberikan teladan yang baik, yang karenanya aku dapat percaya sepenuh hati kepada Tuhan.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Diriku: Perjalanan untuk Mengenal Diri, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

1 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!