Mengampuni Musuh Kita, Mungkinkah?

mengasihi-musuh-kita-mungkinkah

Oleh Charmain S.
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is It Possible to Forgive Our Enemies?

Suatu sore di tahun 2015, seorang anak muda berjalan masuk ke dalam sebuah gereja. Para peserta rutin acara Pendalaman Alkitab mingguan gereja itu pun menyambutnya dan acara pun dimulai dan berjalan selama satu jam. Tiba-tiba, anak muda itu berdiri, mengambil sebuah pistol, dan menembaki semua orang di dalam ruangan itu. Dia menembaki setiap orang beberapa kali, mengeluarkan ungkapan rasisme, dan pergi meninggalkan gereja itu. Sembilan orang tewas malam itu, termasuk pendeta senior gereja itu.

Ini bukanlah adegan pembukaan dramatis dari sebuah film aksi. Ini adalah peristiwa nyata. Gereja itu adalah Gereja Emanuel African Methodist Episcopal di Charleston, South Carolina, Amerika Serikat. Sembilan orang yang terbunuh adalah para anggota gereja—dan seorang keturunan Amerika-Afrika. Anak muda itu adalah seorang anak muda berumur 21 tahun bernama Dylann Roof, seorang pria kulit putih yang kemudian mengaku bahwa dia melakukan aksi kejahatan itu dalam rangka memicu sebuah perang ras.

Kata-kata apa yang dapat mendeskripsikan tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan ini? Siapa yang dapat memahami kesedihan dan kemarahan yang dirasakan oleh keluarga dan teman-teman korban? Pastinya mereka mengharapkan keadilan, atau bahkan ganti rugi.

Namun tidak seperti yang banyak orang pikirkan, keluarga korban-korban itu ternyata memberikan sebuah tanggapan yang luar biasa. Meskipun mereka berlinang air mata dan sulit berkata-kata, mereka memilih untuk mengampuni. Dalam pernyataan resmi mereka kepada Roof di persidangan, para kerabat yang berduka berdiri satu demi satu, menyatakan bahwa mereka mengampuni Roof dan mereka mendoakan dia.

Wow.

Bayangkan itu. Bayangkan seorang yang sangat jahat atau yang tidak suka denganmu, menghancurkan mereka yang kamu kasihi. Bagaimana reaksimu? Apakah kamu, seperti orang-orang percaya di Charleston, memilih untuk tidak membalas namun malah menawarkan pengampunan kepada musuhmu?

Dengan kekuatan kita sendiri, kemungkinan kita tidak dapat melakukannya. Tapi yang dimiliki oleh orang-orang percaya di Charleston, dan kita semua, adalah iman; iman di dalam Tuhan yang tidak hanya mati bagi musuh-musuh-Nya tapi juga mengampuni mereka. Sebagai orang Kristen, kita tahu benar perintah yang Yesus berikan dalam Matius 5:44, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Itu terdengar sangat sederhana dan begitu jelas, tapi kenyataannya hampir mustahil untuk menaati perintah ini.

Membaca berita tentang Charleston ini membuatku merefleksikan pengalaman pribadiku. Lima tahun lalu, seorang temanku ditusuk hingga mati oleh seorang pelaku setelah sebuah percobaan pelecehan seksual. Meskipun kita tidak ada hubungan darah, namun dia aku anggap seperti saudaraku sendiri. Kehilangan dia adalah seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Aku benar-benar merasa kehilangan.

Pembunuhnya akhirnya ditangkap dan dihukum 26 tahun penjara. Ketika aku mendengar kabar tentang vonis hukuman tersebut, aku tidak merespons seperti yang dilakukan oleh orang-orang percaya di Charleston. “Itu tidak cukup,” temanku yang lain berkata, sama seperti yang aku juga pikirkan. Kami masih begitu marah. Aku begitu bergumul untuk dapat mengampuni.

Butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya aku mendengar dan mengerti panggilan Tuhan untuk mengampuni. Melalui kisah Raja Daud, Tuhan melembutkan hatiku.

Ini adalah rangkumannya. Sebelum Daud menjadi raja, dia menghabiskan sekitar delapan tahun untuk lari dari Saul, raja Israel yang pertama, yang begitu ingin menghabisi dia. Itu adalah sebuah masa yang penuh ketegangan, ketakutan, dan penderitaan. Namun, bahkan ketika Daud mendapatkan kesempatan untuk membunuh Saul, dia tidak melakukannya. Dia tahu bahwa Saul adalah orang pilihan Tuhan. Dan ketika Saul akhirnya mati, dia bahkan berduka untuk kematian musuhnya itu (lihat 2 Samuel 1:11-12).

Tentunya, ketaatan Daud kepada Tuhanlah yang membuatnya memilih untuk tidak membalas Saul. Dan aku percaya bahwa seperti Daud, para kerabat korban-korban di Charleston juga melakukan hal yang sama, karena mereka menyadari bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas Roof, sama seperti Dia juga berkuasa atas mereka. Hidup Roof ada di tangan Tuhan, bukan tangan mereka. Karena itu, mereka dapat berserah dalam ketaatan kepada Tuhan dan mengampuni musuh mereka.

Sama seperti itu, aku juga harus mengakui bahwa pembunuh temanku ada di tangan Tuhan, bukan di tanganku. Aku harus mengakui kuasa Tuhan atas diri pembunuh temanku. Jadi, meskipun terdengar aneh olehku saat itu, aku dapat mengucapkan pengampunan dan berdoa bagi pembunuh temanku itu. Hal itu tidak menghilangkan rasa duka yang kualami, namun tindakan pengampunan itu membebaskanku dari ilusi seolah-olah aku memiliki hak atas hidupnya—yang tadinya aku pikir aku berhak karena dia telah menyakitiku, karena dia adalah musuhku.

Aku percaya bahwa pengampunan adalah langkah pertama yang harus kita lakukan untuk mengasihi musuh-musuh kita.

Itu adalah sebuah langkah iman di dalam Tuhan yang Mahakuasa dan berdaulat. Dan tidak peduli apakah kita suka atau tidak, kita dahulu juga adalah musuh-musuh Tuhan. Namun Tuhan memilih untuk menyediakan jalan pengampunan bagi kita, sehingga “kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Roma 5:10). Karena kita telah menerima pengampunan dari Tuhan, marilah kita juga mengampuni orang lain—bahkan musuh-musuh kita.

Adakah seseorang yang perlu kita ampuni hari ini?

Baca Juga:

Rencana Tuhan di Balik Retaknya Keluargaku

Felicia dan adiknya lahir di tengah keluarga yang dulunya lengkap. Namun saat Felicia kelas 1 SD dan adiknya masih berumur 3 tahun, mereka sudah sering mendengar mama dan papa mereka bertengkar setiap hari.

Bagikan Konten Ini
8 replies
  1. El
    El says:

    Kita yang dosanya tak terhitung saja diampuni oleh Tuhan. Mengapa orang yang bersalah sepele saja tak dapat kita ampuni? :”) Tuhan ampuni aku karena selama ini telah menyimpan dendam terlalu lama pada orang lain. Artikel ini begitu menguatkan saya. Haleluya. Terima kasih Tuhan Yesus. Berkatilah orang yang telah menulis dan memuat artikel ini. Amin.

  2. Winnei
    Winnei says:

    Firmannya pas banget. Terimakasih Tuhan. Bantu kami orang percaya untuk mengasihi sesama kami yang pernah menyakiti kami. Tuhan Yesus memberkati

  3. surti siburian
    surti siburian says:

    Aku sangat terberkati dengan renungan rohani yang anda share.
    karena saat ini aku sedang bergumul mengenai sukar nya saya untuk mengampuni musuh ku. mereka yg sering menyakiti hati ku, membuat aku kesal dan marah. namun setelah aku membaca renungan ini, aku tertegun . aku harus minta Tuhan lembutkan hatiku dan berdoa untuk musuhku, karena Tuhanlah yg berkuasa atas musuhku.

    Terima kasih atas berkat renungan ini.

  4. Wini
    Wini says:

    Tuhan memakai penulis sebagai alat-Nya. Saya merasa tertampar ketika membaca renungan ini. Diberkatilah engkau penulis dan kita semua orang orang percaya. Amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *