5 Hal Baru yang Kupelajari dari Kisah Orang Samaria yang Murah Hati

Oleh: Tri Setia Kristiyani

5-pelajaran-dari-orang-samaria

Apa yang kamu pelajari dari “Kisah Orang Samaria yang Murah Hati” yang terkenal itu? Biasanya aku mendengar nasihat untuk berbuat baik tanpa membeda-bedakan latar belakang orang yang ditolong. Namun, ketika aku membaca sendiri catatan Alkitab tentang kisah tersebut (Lukas 10:25-37), ternyata ada banyak hal menarik yang bisa kupelajari.

1. Berbicara tentang kebenaran tidak menjamin seseorang memiliki hati yang benar.
Menarik untuk memperhatikan bahwa kisah ini ternyata merupakan sebuah perumpamaan yang diceritakan Yesus sebagai jawaban atas “pertanyaan tidak tulus” dari seorang ahli Taurat (Lukas 10:25). Pakar Kitab Suci itu sengaja hendak mencobai Yesus! Ia tidak benar-benar ingin tahu tentang kebenaran, ia hanya ingin menguji Yesus di depan banyak orang. Dalam catatan Lukas sebelumnya, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi memang bermaksud mencari-cari kesalahan Yesus (Lukas 6:7,11). Hari ini, kita pun bisa berdiskusi tentang kebenaran dengan motivasi keliru. Kita tidak sungguh-sungguh ingin tahu tentang kebenaran, tetapi hanya ingin memuaskan hasrat intelektual kita, menjebak lawan bicara kita, atau bahkan mempermalukannya di depan orang.

2. Khatam Kitab Suci tidak menjamin perubahan karakter
Dari percakapan yang dicatat Lukas, kita tahu bahwa sang ahli Taurat sangat menguasai isi Kitab Suci-nya. Ia bisa mengutip dengan benar hukum yang utama, yang merangkum semua hukum lainnya (lihat Matius 22:37-40). Namun, ketika ia diminta menerapkan apa yang diketahuinya, ia malah berkelit. “Siapakah sesamaku manusia?” katanya “untuk membenarkan diri” (ayat 29). Bisa jadi kita pun sudah mendengar kebenaran berkali-kali, namun terus mencari pembenaran diri untuk tidak melakukannya.

3. Aktif melayani tidak sama dengan menaati Firman Tuhan
Sang ahli Taurat mungkin terperangah dengan jawaban yang diberikan Yesus. Dua tokoh dalam perumpamaan Yesus adalah orang-orang terkemuka dalam komunitas Yahudi. Seorang imam, dan seorang Lewi, suku yang dikhususkan untuk melayani Bait Allah. Mereka tahu betul tentang hukum-hukum Allah, bahkan selalu memperkatakan kebenaran di depan umat Allah. Sayangnya, keterlibatan aktif dalam pelayanan tidak berarti seseorang menaati Firman Tuhan. Ketika diperhadapkan pada kebutuhan sesamanya, baik sang imam maupun orang Lewi, sama-sama tidak mau mempraktikkan kebenaran yang mereka ketahui dan beritakan. Mungkin mereka takut mengambil risiko menolong orang yang belum mereka kenal. Lagipula, mungkin mereka sangat sibuk dan sedang terburu-buru. Bukankah kita pun kerap demikian? Keaktifan kita melayani bukan jaminan bahwa kita selalu menaati Firman Tuhan.

4. Tuhan menghendaki kita mengasihi sesama manusia, bukan manusia yang sama dengan kita.
Perumpamaan ini adalah jawaban Yesus atas pertanyaan sang ahli Taurat: “Siapakah sesamaku manusia?” Ia mungkin berharap Yesus akan menyebutkan kriteria tertentu, yang kemudian bisa disanggahnya. Tetapi, Yesus malah memberikan perumpamaan yang mengejutkan. Orang Samaria adalah keturunan Yahudi yang sudah berdarah campuran, sehingga dihindari oleh orang Yahudi asli. Namun, ketika mendapati seorang Yahudi yang sekarat, justru orang Samaria yang memberikan pertolongan. Sungguh sebuah contoh yang dramatis! Orang yang ditolongnya bukan hanya berasal dari kaum yang berbeda, tetapi yang selama ini juga menghina dan mengasingkan kaumnya! Sebagai pengikut Kristus, kita pun dipanggil melakukan hal yang sama. Mengasihi sesama manusia bukan karena mereka sama dengan kita, atau berbuat baik kepada kita, tetapi karena Tuhan menghendaki kita menyatakan kasih-Nya kepada sesama kita. Dan, itu berarti termasuk orang-orang yang pernah menyakiti kita.

5. Kita membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk memampukan kita mengasihi orang lain.
Yesus meminta sang ahli Taurat meneladani perbuatan orang Samaria yang murah hati (ayat 37). Sebuah perintah yang tidak mudah. Jangankan mengasihi orang yang memandang kita sebelah mata, orang dari kelompok yang sama pun belum tentu mudah untuk dikasihi. Betapa kita semua butuh kasih karunia Tuhan untuk dapat menaati perintah-Nya. Kupikir, sulit untuk benar-benar mengasihi jika kita sendiri belum mengalami kasih Allah. Kita hanya akan baik kepada orang yang juga baik terhadap kita, atau karena kita punya kepentingan tertentu. Namun, ketika kita mengingat kasih Allah kepada kita yang berdosa—Kristus mati ganti kita yang seharusnya mendapat hukuman kekal—kita pun digerakkan dan dimampukan untuk mengasihi sesama dengan tidak tanggung-tanggung, termasuk mereka yang dalam pandangan dunia tidak layak untuk dikasihi.

Kisah “Orang Samaria yang Murah Hati” bukan sekadar kisah teladan menolong orang lain tanpa pamrih. Kisah ini seperti cermin yang menunjukkan tembok-tembok keangkuhan diri yang membuat kita cenderung mencari pembenaran diri, tidak menjalankan kebenaran yang sudah berkali-kali kita dengar, menutupi ketidaktaatan kita dengan berbagai aktivitas pelayanan, atau mendefinisikan perintah Tuhan sesuai dengan standar penilaian kita sendiri. Betapa perlu Tuhan menghancurkan tembok-tembok keangkuhan itu agar kita dapat benar-benar mengasihi sesama seperti diri sendiri, sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan.

Bagikan Konten Ini
45 replies
  1. melvin Tobondo
    melvin Tobondo says:

    Terima kasih atas renungan yg diberikan sebagai bacaan saya rutin di pagi hari, kiranya renungan ini dapat memyadarkan saya akan kasih setia Tuhan Yesus kepada saya dan dapat memperkokoh iman percayaku sebagai orang kristen pengikut Tuhan Yesus, Haleluya, terpujilah namamu bapa disurga, Amin

  2. Gabriel Antonius
    Gabriel Antonius says:

    harus ada perubahan dalam rasio kita dan perubahan dalam hidup kita melalui sikap dan kemauan untuk semakin menghidupi firman Tuhan

  3. Paulus Sigit Aris
    Paulus Sigit Aris says:

    amiiin…bersama Roh KudusNya kita akan dibimbing utk lebih lagi mengenal kasih dari Tuhan Yesus,damai sejahtera dari Allah Bapa dalam setiap hari2 kita bahkan dalam hal mengasihi siapapun,Haleluya,Terpujilah Tuhan

  4. bakti manullang
    bakti manullang says:

    Haleluya….
    Terimakasih kepada Tuhan kita Yesus yang telah memperlengkapi talenta kepada setiap orang yang bersedia menjadi saluran firman-Nya.

  5. Naomi Budi
    Naomi Budi says:

    Terimakasih. Artikel ini membantu saya untuk melihat sisi lain dr sekedar menolong sesama tanpa pilih2.
    Sebagai seorang yg senang didalam pelayanan artikel ini perlu dibaca. Krn bnyk dr kita tanpa disadari hanya tenggelam dlm pelayanan tp kmdn melupakan kebenaran firman yg sdh sering kita dengar atau bahkan yg kita sampaikan.
    Terimakasih, Tuhan memberkati.

  6. Wandy Leo P
    Wandy Leo P says:

    Sebelumnya….saya mengucapkan terimakasih. Saya sangat terkesan dengan kata ini “Keaktifan kita melayani….bukan jaminan bahwa kita menaati firman Tuhan”
    …saya melihat inilah hal yang paling tidak dikritisi oleh orang sekarang ini.

  7. jitron
    jitron says:

    Terima kasih atas artikel ini, karena bisa dpt membantu dalam khotbah sy yang disampaikan di jemaat. Amin

  8. jitron
    jitron says:

    Terima kasih atas Firman ini, karena bisa dpt membantu dalam khotbah sy yang disampaikan di jemaat. Amin

  9. Jesica ady
    Jesica ady says:

    Tuhan telah menyadarkan saya lewat firmannya kali ini, untuk bisa bersikap baik bukan pada orang yang menurut kita baik tapi pada mereka yang menurut dunia tak baik.

  10. asen
    asen says:

    Ketika kita baca alkitab apa yg kita pikirkan? Pribadi seseorang kah? Atau kita sibuk supya kita pnya karakter seoerti cerita dlm alkitab? Atau pribadi kristus yg kita dpt? Kisah seorg samaria adlh gambaran pribadi kristus.
    Alkitab isinya ttg pribadi yesus jd jgn fokus sama pribadi orang lain dlm alkitab.

  11. Dwi Budi
    Dwi Budi says:

    Trims artikelnya.
    Yang bisa mengubah pemikiran saya untuk mengasihi orang yang tidak mengasihi saya.

  12. Kumar keristay
    Kumar keristay says:

    Orang Samaria yang murah hati terhadap seorang yang terbaring di jalanan dan membawa ke tempat penginapan dan merawatnya.

  13. Boby
    Boby says:

    Amin…terimakasih Tuhan utk berkatMu yg dibrikan melalui refleksi ini. Tuhan trus mrmbrkti saudara (penulis) utk trus mjd brkat

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *