Posts

Berhasil atau Gagal, Ingatlah Bahwa Tuhanlah yang Menulis Cerita Hidupmu

Oleh Aryanto Wijaya

Kemarin (14/6), ungkapan bahagia muncul di beberapa Instagram story teman-temanku. Mereka lolos seleksi masuk perguruan tinggi. Tak ketinggalan, sekolah yang menjadi almamaterku juga membuat postingan yang berisi ucapan selamat atas siswa-siswinya yang berhasil menembus seleksi akbar tersebut.

Tatkala teman-teman yang berhasil menumpahkan haru bahagianya, ada pula teman-teman yang gagal dalam seleksi tersebut. Beberapa sanggup berlapang dada, tapi beberapa lainnya kecewa dan memilih untuk menyembunyikan diri untuk sejenak.

Euforia yang bercampur aduk dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri—was-was, takut, kecewa, senang, atau sedih—juga pernah kualami ketika aku jadi siswa SMA. Aku yang belajar di sekolah swasta pernah punya semangat membara untuk masuk ke perguruan tinggi negeri favorit. Semangat itu mewujud dalam upaya belajar pantang lelah, ikut bimbel yang konon katanya menambah peluang bisa diterima, dan lain-lainnya. Tapi, jalan hidupku pada akhirnya tidak mengantarku studi ke kampus negeri yang kudambakan. Aku kuliah di kampus swasta dan bekerja pula di sektor swasta sampai detik ini.

Namun, hal yang menarik dari impian yang gagal terwujud itu ialah, jalan hidup kita terlalu panjang untuk didefinisikan hanya oleh satu pertandingan. Bayangkanlah kamu diberi Tuhan usia selama 70 tahun. Apakah perjalanan hidup di seluruh usia tersebut suram hanya karena kegagalan di satu babak pada usia 18 tahun? Jika 70 dikurangi 18, maka ada sisa waktu sepanjang 52 tahun, waktu yang panjang untuk kita isi dengan banyak hal yang berarti.

Ada satu kisah menarik dari Alkitab yang pesannya tetap bergema dan relevan bagi kita di masa kini, meskipun memang kisah ini tidak bicara spesifik tentang gagal ujian masuk kuliah karena toh pada zaman Alkitab belum ada institusi perguruan tinggi.

Kita ingat dengan kisah Yusuf yang hidupnya dipenuhi kemalangan karena rasa iri hati saudara-saudaranya. Yusuf dilemparkan ke dalam sumur dan dijual kepada orang Mesir. Seorang anak yang paling disayang oleh ayahnya dipisahkan secara paksa. Jika kita membayangkan ada di posisi Yusuf, sangatlah pedih tentu hati ini. Bertahun-tahun setelah terusir dari keluarganya sendiri, Yusuf bekerja di rumah Potifar lalu dijebloskan ke penjara karena menolak ajakan bersetubuh dari istri sang tuan rumah. Dari kacamata manusia, kita melihat ini sebagai kemalangan yang bertubi-tubi bagi Yusuf.

Namun, ada hal yang menarik yang bisa kita cermati. Kejadian 39:21 menulis demikian:

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya…”

Kalimat “Tuhan menyertai” ini muncul di tengah kemalangan berat yang Yusuf hadapi. Tak hanya tertulis satu kali, pada ayat-ayat lainnya (Kej 39 ayat 2, 21, 23) juga tertulis demikian.

Hidup di dunia ini menawarkan kejutan demi kejutan, termasuk kegagalan, jadi anggaplah sebagai keindahan hidup yang harus kita nikmati ketika kita menghadapi kegagalan. Dengan begitu hidup menjadi tidak membosankan, kita tidak harus seperti robot yang harus selalu sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Bukankah hanya orang mati yang tidak akan pernah gagal? Karena ia tidak mencoba untuk melakukan apapun dan tidak menjadi apapun. Jadi kalau kita berkeinginan untuk tidak pernah gagal, kita sama saja dengan orang mati. Oleh karena itu, kegagalan yang kita alami hari ini sesederhana menunjukkan bahwa kita sedang berproses dalam hidup.

Ketika kegagalan menghadang, kita mungkin berpikir bahwa itu dihadirkan Allah sebagai hukuman atas perbuatan kita. Tetapi, bukan soal hukuman atau tidak yang seharusnya kita pusingkan, karena kita tahu bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), dan segala sesuatu diizinkan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

Tidak masalah apabila ada di antara kita yang ingin meluangkan waktu-waktunya sejenak untuk meratap dan kecewa atas kegagalan masuk di perguruan tinggi negeri, tetapi kembalilah tenang dan ingat bahwa dalam gagal atau berhasil, Tuhanlah yang menulis cerita hidup kita.

Gagal dalam masuk perguruan tinggi tidak mutlak karena kita kurang berusaha atau bodoh, karena perguruan tinggi negeri diminati oleh ratusan ribu hingga jutaan siswa, sedangkan kuota yang tersedia tidak sepadan dengan tingginya peminat. Alhasil, tentu ada orang-orang yang harus tersingkir dari kompetisi ini.

Janganlah kiranya kamu berkecil hati dan padam semangatmu. Kegagalan adalah bagian yang tak terelakkan dalam kehidupan. Cepat atau lambat, sengaja atau tidak, hidup akan mengantar kita untuk menjumpai kegagalan dalam aneka bentuk yang lain. Tetapi, sekali lagi, ingatlah bahwa dalam berhasil atau gagal, Tuhanlah yang menulis cerita hidup kita.

Teruntuk teman-teman yang gagal, damai dan ketenangan dari Tuhan kiranya mendekapmu dengan hangat agar esok kamu bisa bangkit kembali dan menikmati perjalananmu bersama Tuhan, sang penulis hidup.

Baca Juga:

Lebar atau Sempit: Mana yang Kau Pilih?

Jalan lebar dan sempit sering dianalogikan sebagai dua sikap dalam mengikut Yesus. Ketika kita harus memilih salah satu dari dua jalan ini, apa sih yang seharusnya kita ketahui dari keduanya?

Berkat di Balik Pilihan yang Tampaknya Salah

Oleh Vina Agustina Gultom, Taiwan

Diperhadapkan dengan dua pilihan biasanya jadi momen yang memusingkan, namun bisa juga menyenangkan. Memusingkan karena mau tidak mau harus pilih salah satu, tapi satu sisi bisa jadi menyenangkan karena kita masih punya pilihan. Contoh, pilih beasiswa A atau B? Pergi ke Raja Ampat atau Perth? Abang ini atau si mas itu?

23 Mei 2019 menjadi momen memusingkan untukku karena aku diperhadapkan pada dua pilihan: ikut ujian seleksi dosen atau ujian seleksi di industri otomotif? Dua bidang pekerjaan yang berbeda, tapi sama-sama di tempat yang bergengsi.

Kalau kulihat jalinan benang merah hidupku, aku punya passion dalam mengajar. Tapi, aku tak bisa hanya melihat dari satu sisi saja. Aku berpikir, kira-kira di ujian yang mana aku paling berpeluang lolos? Jika memang aku ikut ujian dosen dan lolos, apakah ini benar-benar kehendak Allah? Bagaimana jika ikut ujian di industri otomotif yang ternyata jadi kehendak-Nya? Atau, bagaimana kalau malah bukan keduanya?

Aku pun berdoa, memohon agar Tuhan membuatku peka akan pilihan mana yang paling baik untuk kuambil. Aku juga berdiskusi dengan orang tua, kakak, dan sahabatku. Aku yakin mereka dapat dipakai Tuhan untuk memberiku jawaban. Mereka menyarankan supaya aku ikut ujian seleksi dosen, tapi tetap mencoba bernegosiasi dengan industri otomotif apakah memungkinkan jika jadwal ujianku di sana diundur.

Waktu terus berjalan, pesan dalam bentuk posel (email)tak kunjung dibalas. Dengan iman, kuserahkan pilihan ini pada Tuhan. Kusiapkan diriku sebaik-baiknya sampai akhirnya pada hari pengumuman, ternyata aku dinyatakan gagal.

Sedih. Sangat sedih. Pikiran liar pun mulai menggerogoti, “Kenapa kemarin gak pilih ujian di industri otomotif aja!” Kalimat penyesalan dan kekecewaan yang sulit untuk tidak kupikirkan dan kuucapkan.

Berkat di balik pilihan yang tampaknya salah

Di tengah rasa sedihku, aku coba mengingat perkataan sahabatku, “Jangan lihat berkat Tuhan itu hanya dari ketika kamu mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, tapi lebih dari itu, berkat Tuhan sama indahnya di tengah kegagalanmu sekalipun. Walau kadang kamu baru menyadarinya setahun, dua tahun, atau bahkan 10 tahun setelah kegagalan itu terjadi.”

Perkataan sahabatku itu benar. Berbulan-bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 25 April 2020 aku merasa takjub. Meski aku tidak lolos ujian dan menjadi dosen di universitas itu, aku tetap diajak untuk mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) dengan komunitas pasca sarjana yang berasal dari kampus tersebut. Ceritanya, pada tanggal 28 Mei 2019, waktu sebelum aku mengikuti ujian seleksi, seniorku mengenalkanku dengan alumni pengurus persekutuan mahasiswa Kristen pasca sarjana. Alumni itu rupanya ikut ujian seleksi bersamaku. Beliau bertanya, apakah aku orang Kristen atau bukan? Aku kaget, menanyakan tentang iman seseorang agaknya jarang jadi pembuka obrolan. “Ya, aku Kristen,” jawabku. Dia lalu mengajakku ikut kelompok PA di daerah Dago. Karena aku butuh oase pasca ujian, aku mengiyakan ajakan itu.

Ketika PA berlangsung, kami saling berkenalan, membahas materi, berdoa, dan foto bersama. Kegiatan-kegiatan ini sudah biasa terjadi saat ber-PA dalam kelompok. Namun, yang jarang terjadi adalah aku diundang untuk langsung masuk ke dalam grup WhatsApp mereka. Pikirku, “Untuk apa? Aku hanya ikut kelompok PA ini sekali. Aku tidak bisa ikut pendalaman Alkitab lagi dengan kalian, karena terpaut oleh jarak. Aku di Bekasi dan kalian di Bandung”. Tapi sebagai bentuk penghormatanku, aku mengiyakan undangan itu.

Meski telah berbeda kota, aku tetap berkomunikasi dengan mereka. Sampai akhirnya pada tangggal 25 April 2020, aku kembali bisa ikut PA bersama mereka walau secara virtual dari tempat kami masing-masing akibat dampak dari pandemi. Bersyukur dengan pandemi ini juga, aku diajarkan bahwasanya jarak itu bukan penghalang kita untuk melakukan PA bersama.

Dari pengalaman sederhanaku ini, aku jadi mempunyai slogan, “Gagal ujiannya, dapatin komunitasnya.” Ya bagiku ini penting, karena setidaknya walau kita gagal untuk berkarya di tempat yang kita tuju, namun kita mendapatkan komunitas yang berlatar belakang sama, yang akhirnya dapat memahami dan mengerti keadaan kita, bahkan memberikan solusi dengan saling berbagi informasi mengenai lowongan mengajar lainnya.

Mengutip sebuah kalimat dari saat teduhku tanggal 27 Juli 2019, tertulis begini:

“If you’re discouraged by some failure today, remember that Jesus may use it to teach you and lead you forward in your service for Him”

“Jika kamu kecewa karena kegagalan hari ini, ingatlah bahwa Yesus dapat memakainya untuk mengajar dan memimpin kamu melangkah maju dalam pelayananmu kepada-Nya”

Ketika pilihan yang kita ambil mengantar kita pada kegagalan, cobalah untuk melihat dari sudut pandang Allah. Segala hal dapat dipakai-Nya untuk membawa kebaikan bagi kita, selama kita bersedia untuk percaya. Jadi, kalau kamu jadi aku, kamu pilih yang mana? Larut dalam kegagalan atau dapatin komunitasnya?

Selamat memilih untukmu yang sedang di rumah aja.

Baca Juga:

Kelulusan yang Tertunda: Momen untuk Memahami Kehendak Tuhan

Ketika studi S-3ku hampir selesai, dosen pembimbing memberiku opsi untuk menunda kelulusan. Opsi ini sulit, sungguhkah ini kehendak Tuhan? Tapi, dari momen inilah aku jadi belajar bagaimana dan seperti apakah itu kehendak Tuhan.

Aku Gagal Masuk SMA Favorit, Tapi Aku Belajar untuk Tidak Larut dalam Kekecewaan

Oleh Anatasya Patricia, Bontang

Saat aku naik ke kelas 9 SMP, aku mulai menyiapkan banyak hal yang bisa mendukung pembelajaranku supaya nanti aku mendapat nilai yang memuaskan di Ujian Nasional dan bisa diterima di SMA favorit yang kudambakan. Aku belajar mati-matian. Aku ikut bimbingan belajar di sekolah, dan juga les privat di rumah. Pun, aku selalu berdoa supaya Tuhan mengabulkan permintaanku.

Setelah Ujian Nasional usai, aku menunggu pengumuman hasilnya. Aku memikirkan kembali perjuangan-perjuangan yang sudah kulakukan sampai maksimal dan juga doa-doa yang kumohon pada Tuhan. Meski aku ingin mendapatkan nilai yang memuaskan, dalam hatiku aku berpikir: “Tidak perlu dapat nilai sempurna. Yang penting nilainya cukup untuk masuk ke sekolah yang aku inginkan. Itu sudah cukup memuaskan buatku.”

Tapi, hasil ujian yang kuterima menyentakku. Nilai yang kuperoleh ternyata lebih kecil dari yang kuharapkan. Dari total empat mata pelajaran diujikan, aku hanya mendapat nilai 20,15 dari nilai sempurna 40,0 sedangkan untuk bisa diterima di sekolah itu nilai yang kudapat seharusnya lebih dari 24,00. Aku tidak dapat diterima di SMA favorit itu.

Aku kecewa.

Untuk sesaat pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa Tuhan tidak mengabulkan permintaanku untuk aku mendapatkan nilai Ujian Nasional yang baik? Mengapa Tuhan memberikan temanku nilai yang bagus hingga bisa diterima di sekolah itu tetapi aku tidak? Aku sedih. Tak terbayangkan olehku ketika segala perjuanganku untuk menggapai nilai maksimal berbuah dengan hasil yang tak kuharapkan. Aku pun sempat marah kepada Tuhan karena terus memikirkan mengapa Dia tidak sepemikiran denganku.

Tapi, dalam keadaan itu aku coba untuk menenangkan diriku. Aku tidak ingin kecewa ini berlarut-larut. Aku berdoa dan menyerahkan kembali diriku pada Tuhan dengan cara membaca Alkitab dan artikel-artikel rohani.

Hingga tibalah waktunya untukku mendaftar ke SMA. Dengan berat hati aku pun masuk ke SMA yang menurutku biasa-biasa saja. Aku merasa terpaksa masuk di SMA itu. Tapi, aku harus berbesar hati karena kalau aku tidak mau sekolah di sini, orang tuaku akan memindahkanku ke kota lain. Jadi, aku berusaha menyesuaikan diriku dengan sekolah ini.

Saat awal-awal masuk, beberapa guru ternyata adalah alumni dari SMA itu. Mereka bercerita kepadaku kalau mereka juga pernah mengalami hal yang sama denganku. Mereka ingin masuk ke sekolah impian mereka, tapi mereka gagal. Akhirnya mereka pun bersekolah di sekolah yang bukan prioritas mereka waktu itu. Namun, mereka tidak mau dicap sebagai murid yang buruk hanya karena tidak masuk di sekolah favorit. Kualitas murid tidak diukur hanya berdasarkan dia sekolah di mana, juga keberhasilan tidak selalu bisa diukur berdasarkan lingkungan tempat dia dibesarkan. Mereka belajar dengan giat dan mengandalkan Tuhan hingga mereka menjadi siswa yang bisa dibilang berprestasi sangat baik dan tidak kalah dengan lulusan dari sekolah-sekolah favorit lainnya. Setelah menyelesaikan studi di perguruan tinggi, mereka pun memutuskan kembali mengajar di SMA yang dulu mereka pernah belajar di dalamnya.

Sejujurnya, kisah yang dituturkan guruku itu tidak begitu membuatku bersemangat buat rajin belajar. Namun, seiring waktu aku merasa tidak mau diperbudak terus-terusan oleh rasa pesimis, kecil hati, dan malas. Saat aku merenung, aku pun teringat firman Tuhan dari Amsal 1:7 yang berkata: “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Firman itu menegurku. Aku belajar untuk mempraktikkan firman itu dalam kehidupanku. Hingga akhirnya, aku bisa mengikuti proses belajar mengajar di sekolah itu. Aku merasa nyaman dengan lingkungan sekolahku yang bersahabat, bersama guru-guruku yang tak hentinya menasihati kami para murid untuk mengerti dan mempraktikkan firman Tuhan.

Sekarang aku sudah duduk di kelas XI SMA dan aku bisa mengatakan bahwa aku betah dengan sekolahku. Teman-temanku di sini sangat baik, juga guru-gurunya. Mereka menyenangkan dan tulus berteman denganku. Kupikir kelas seperti ini hanya aku dapatkan jika aku sekolah di sini.

Puji Tuhan, saat hasil ujian dibagikan, aku mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku bersyukur dan tak lagi merasa kecewa. Aku sadar bahwa apa yang kuinginkan belum tentu menjadi kehendak Tuhan. Tapi, semua hal yang Tuhan kehendaki adalah yang terbaik buat hidupku.

Aku percaya bahwa hal ini terjadi bukan secara kebetulan, tapi Tuhan sudah rencanakan supaya aku belajar bagaimana percaya kepada-Nya dalam setiap kejadian yang Dia izinkan terjadi dan juga tentang bagaimana aku bisa bersyukur meskipun aku mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai keinginanku. Dan, yang terpenting adalah aku belajar bahwa di balik setiap peristiwa yang terjadi atas diriku, Tuhan punya rencana besar.

Sobatku, setiap kita pasti punya keinginan untuk masa depan kita. Tapi, ingatlah satu hal bahwa keinginan kita belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan tetapi kehendak-Nya sudah pasti yang terbaik untuk kita. Karena Tuhan memberi apa yang kita benar-benar butuhkan, bukan apa yang kita inginkan semata.

Tuhan memiliki rencana untuk setiap pribadi kita di masa yang akan datang. Oleh karena itu, janganlah kita khawatir akan hari esok karena Tuhan yang menyiapkan semuanya, seperti yang tertulis dalam Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Allah berdaulat penuh atas kehidupan kita, jadi percayalah pada-Nya dengan segenap hati.

Baca Juga:

Tuhan Tidak Pernah Ingkar Janji, Dia Memelihara Keluargaku

Delapan tahun lalu keluargaku mengalami kesulitan ekonomi. Masalah demi masalah datang menghampiri kami, dan kami merasa berada di titik terendah dalam hidup, tapi Tuhan tidak pernah sedetik pun meninggalkan kami.

Satu Hal yang Kupelajari dari Kegagalanku di SNMPTN

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Aku masih ingat bagaimana campur aduknya perasaanku saat hasil seleksi masuk perguruan tinggi negeri diumumkan. Kecewa, sedih, juga takut bercampur menjadi satu di dalam diriku saat aku dinyatakan tidak lolos.

Peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu. Waktu itu aku bersama saudari kembarku mendaftar lewat jalur SNMPTN Bidikmisi. Tidak ada tes tertulis untuk jalur ini, kami hanya perlu menyiapkan segala berkas yang menjadi prasyarat, mengirimkannya, dan menunggu hasil. Salah satu alasan kami mendaftar ke jalur Bidikmisi adalah karena keluarga kami mengalami kesulitan finansial. Jika kami bisa kuliah dengan beasiswa, tentu itu akan meringankan beban finansial keluarga. Saudariku diterima, sedangkan aku tidak. Ini membuat nyaliku ciut. Aku takut apabila aku tidak bisa kuliah di tahun itu.

Ayahku berusaha menenangkanku. Dia menyarankanku untuk mengikuti SNMPTN jalur tertulis yang akan diselenggarakan dalam empat minggu ke depan. Hari-hari yang kulalui terasa menegangkan. Aku tidak mengikut les persiapan ujian seperti yang dilakukan teman-temanku. Kendala biaya membuatku hanya belajar lewat buku latihan soal. Kata Ayah kalau aku tidak lolos di jalur ini maka aku harus bekerja. Mendaftar di jalur mandiri akan sangat mahal biayanya. Aku mengerti maksud ayahku dan tidak bisa menyalahkannya apabila nantinya aku gagal dan harus bekerja.

Selama masa persiapan itu, aku dipenuhi keraguan. Aku merasa tidak cukup pintar karena aku tidak bisa mempertahankan nilai untuk masuk peringkat 5 di kelas. Aku sangat ingin kuliah, tapi ragu jika aku bisa lolos seleksi SBMPTN. Pernah suatu ketika, saking stresnya aku sampai menangis hingga Ayah memelukku untuk menenangkanku. Ayah mendukungku bahwa apapun hasilnya nanti, dia akan menerimanya.

Di saat-saat penuh keraguan itu, satu hal lainnya yang menguatkanku adalah doa. Ketika aku berdoa, aku belajar untuk mengandalkan Tuhan dan menyerahkan semua proses ini kepada-Nya.

Hari ujian tiba. Dari sekian banyak soal, hanya sedikit yang mampu kujawab dengan yakin. Soal-soal IPS di ujian itu berstandar SMA, dan sebagai siswi SMK aku merasa soal itu terlalu luas cakupannya dibandingkan dengan apa yang kupelajari. Aku ragu, tapi aku belajar untuk tenang. Di halaman terakhir buku soal latihan, aku menuliskan “Noni Elina Kristiani S.S, Universitas Negeri Jember 2015” sebagai ungkapan harapanku. Kemudian aku berdoa dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Yang penting aku telah berusaha semaksimal mungkin dan berlaku jujur.

Selang beberapa waktu, hasil ujian diumumkan. Waktu itu aku sedang retret di luar kota dan tidak bisa mengakses internet. Temanku membantuku untuk melihat hasil ujian itu. Hasilnya mengejutkanku, aku dinyatakan lolos dan siap menjadi mahasiswa di jurusan Televisi dan Film di Universitas Negeri Jember, universitas pilihan pertamaku.

Aku tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan. Jika diingat-ingat lagi, apa yang menjadi harapanku yang kutulis di halaman terakhir buku soal latihan SBMPTN itu telah Tuhan wujudkan. Di tahun 2015, aku menyelesaikan studiku, diwisuda, dan memperoleh gelar sarjana di belakang namaku. Apa yang dulu aku ragukan dijawab Tuhan dengan kepastian. Semuanya ini terjadi semata-mata karena kemurahan Tuhan.

Karena kemurahan-Nya pula, aku belajar memahami bahwa setiap proses yang terjadi dalam kehidupan ini bukanlah suatu kebetulan. Tuhan ingin supaya di dalam setiap proses itu kita boleh merasakan pengalaman bersama-Nya, sehingga kita mengenal-Nya tidak cuma berdasarkan apa kata orang, tapi benar-benar dari pengalaman kita sendiri, seperti Mazmur yang berkata: Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya (Mazmur 34:9). Pahit manis kehidupan boleh terjadi supaya kita sendiri dapat mengecap kebaikan Tuhan.

Tuhan itu sungguh baik dan Maha Pemurah. Tuhan baik bukan hanya karena Dia memberikan kesuksesan, tetapi juga melalui kegagalan yang dulu pernah kualami, Tuhan menggunakannya sebagai kesempatan untukku belajar mengenal karakter-Nya lebih dalam. Aku belajar untuk mengerti bahwa rancangan-Nya terkadang tidak dapat kuselami, tetapi dapat kuimani bahwa itulah yang terbaik.

Mungkin saat ini kita tidak menerima apa yang kita inginkan, tetapi Tuhan tahu apa yang sedang Dia lakukan. Tuhan ingin membentuk karakter kita dan Dia ingin kita tahu betapa kasih-Nya melimpah bagi kita semua.

TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia (Ratapan 3:25).

Baca Juga:

Doa yang Sulit

Kawan, sepanjang perjalananmu menjadi orang Kristen, adakah doa yang mudah kamu ucapkan tapi sulit untuk kamu lakukan?

Aku Tidak Lolos Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Haruskah Aku Kecewa?

aku-tidak-lolos-seleksi-masuk-perguruan-tinggi-negeri-haruskah-aku-kecewa

Oleh Louise Angelita Kemur, Jakarta

Jika aku mengingat kembali masa-masa ketika aku mulai kuliah, semua yang kudapatkan saat ini hanyalah anugerah. Aku pernah berharap bisa kuliah ke luar negeri untuk mendalami dunia seni dan desain, atau setidaknya masuk di perguruan tinggi negeri. Untuk mewujudkan impianku itu, sejak SMA aku berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tapi, ternyata Tuhan berkata lain. Setelah lulus SMA, aku tidak berhasil mendapatkan beasiswa studi ke luar negeri ataupun masuk ke perguruan tinggi negeri yang aku inginkan.

Dulu tidak pernah terbayang dalam pikiranku kalau jurusan kuliah yang kuambil sekarang ternyata bertolak belakang dengan jurusan yang kuambil di SMA. Sekarang aku belajar tentang Bisnis, sedangkan di SMA aku masuk jurusan IPA. Ibuku adalah seorang dokter sehingga awalnya aku sempat mengira kalau aku akan kuliah di kedokteran nantinya.

Orangtuaku ingin salah satu anaknya meneruskan karier sebagai dokter. Lalu, guru-guru dan teman-temanku di SMA juga mendorongku untuk masuk ke jurusan kedokteran karena mereka beralasan kalau nilai-nilaiku yang baik itu akan memudahkanku untuk diterima di jurusan kedokteran. Akhirnya aku mencoba mendaftarkan diriku ke Jurusan Kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri melalui jalur tanpa tes seraya berharap supaya prestasiku selama SMA bisa menolongku untuk diterima di sana.

Ketika aku harus kecewa

Tapi, ternyata Tuhan tidak membukakan jalan untukku berkuliah di perguruan tinggi negeri itu. Ketika mendaftar lewat jalur undangan (non-tes), aku gagal, lalu aku juga mencoba kembali di jalur tes namun hasilnya tetap sama.

Tidak berhenti sampai di situ, aku juga mencoba mendaftar di perguruan tinggi swasta. Aku coba untuk mendaftar di Jurusan Kedokteran, Arsitektur, dan Desain Interior di beberapa perguruan tinggi. Setelah mengikuti rangkaian seleksi, aku diterima di Jurusan Kedokteran di salah satu kampus di Jakarta. Tapi, ayahku tidak setuju karena takut apabila aku tidak menikmati kuliahku di sana, selain itu beliau juga kurang percaya dengan kualitas pendidikan di sana. Aku juga diterima di Jurusan Desain Interior di salah satu kampus di Tangerang, tapi setelah aku melakukan survei ke kampus itu, aku merasa kalau lingkungannya tidak nyaman untukku.

Waktu itu aku hanya bisa berserah kepada Tuhan. Jika Dia mengizinkanku untuk bisa kuliah di tahun itu, aku sungguh bersyukur. Tapi, jika tidak pun aku mau tetap percaya kepada-Nya. Aku telah beberapa kali gagal masuk ke perguruan tinggi yang kuingini, dan juga aku sendiri masih ragu dengan perguruan tinggi mana yang sebenarnya aku inginkan. Walaupun aku sudah mempersiapkan yang terbaik untuk mengikuti tes itu, tapi selalu saja ada pertanyaan yang menggantung di benakku, “Apakah ini yang benar-benar kamu inginkan?”

Ayahku mendorong anak-anaknya untuk kelak dapat berwirausaha dengan membuka bisnis sendiri. Kemudian aku berpikir mengapa tidak mencoba saja untuk belajar tentang kewirausahaan itu? Akhirnya aku mencoba mendaftar ke Jurusan Bisnis di perguruan tinggi tempat kakakku belajar.

Awalnya ayahku sempat meragukan keputusanku itu. Tapi, menurutku, perguruan tinggi tempat kakakku belajar itu sangat baik dan aku pernah mengikuti kompetisi di sana. Aku sempat pesimis karena aku mendaftar di gelombang kedua sebelum terakhir dan ternyata tes masuknya sangat sulit. Namun, syukur kepada Tuhan karena aku dinyatakan lolos untuk masuk ke Jurusan Bisnis dan keluargaku masih memiliki tabungan yang cukup untuk melunasi semua biaya masuknya.

Kekecewaan yang perlahan berbuah manis

Dulu aku pernah merasa khawatir kalau sehabis lulus SMA aku tidak bisa langsung kuliah di tahun itu. Aku juga khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan terhadapku, sampai-sampai aku juga menjadi ragu apakah Jurusan Bisnis yang kuambil ini adalah yang paling tepat buatku atau bukan. Pilihanku untuk kuliah di jurusan Bisnis membuat beberapa teman dan guru-guruku di SMA kecewa. Mereka berharap kalau aku seharusnya berusaha lebih untuk mendapatkan kuliah di Jurusan Kedokteran. Selama tahun pertama kuliahku aku merasa dihantui oleh pandangan mereka.

Tapi, ternyata setelah aku menjalani kuliah ini selama dua tahun, perlahan aku mulai menikmatinya. Tuhan memberiku berbagai kesempatan untuk berkarya di kampus, salah satunya dengan terlibat aktif dalam lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dari lembaga itu aku belajar tentang kepemimpinan. Salah satu anugerah Tuhan yang awalnya tak pernah aku pikirkan adalah aku mendapatkan kepercayaan untuk menjadi wakil ketua di kegiatan orientasi mahasiswa baru untuk angkatan 2016. Selain di BEM, aku juga aktif terlibat dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) orkestra sebagai seorang violist. Aku bersyukur karena aku bisa memaksimalkan talenta dan hobiku dalam kegiatan ini.

1 Korintus 2:9 mengatakan “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Ayat ini benar adanya. Apa yang dipikirkan oleh manusia ternyata berbeda dengan apa yang dirancangkan oleh Yang Mahakuasa. Pikiran-Nya jauh lebih rumit dan tinggi. Rencana-Nya jauh lebih besar dan indah.

Dari kampusku sekarang inilah aku belajar tentang kepemimpinan dalam organisasi yang kuikuti. Pengalaman yang aku dapatkan itu bisa kuterapkan dalam pelayananku sebagai ketua remaja di gereja. Aku belajar mengatur jadwal pelayanan dengan efektif, mendistribusikan tanggung jawab secara adil kepada masing-masing panita.

Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa memilih perguruan tinggi bukanlah semata-mata karena gengsi. Kita tidak boleh lupa cita-cita dan talenta apa yang kita miliki. Pilihlah jurusan yang membuat kita menikmati setiap prosesnya. Namun, jangan lupa juga untuk selalu libatkan Tuhan dan orangtua kita dalam membuat keputusan ini.

Sebuah anugerah dalam jawaban tidak

Aku belajar bahwa ketika Tuhan menjawabku dengan jawaban “tidak”, itu pun merupakan sebuah anugerah. Jawaban tidak itu memberi kita kesempatan untuk percaya kepada-Nya senantiasa dan percaya bahwa Dia memberikan sesuatu yang indah tepat pada waktu-Nya asalkan kita berani untuk mempercayai-Nya, mendengarkan-Nya, dan melakukan perintah-Nya.

Aku juga belajar bahwa apapun jawaban Tuhan untuk kita, yang wajib kita lakukan adalah percaya sepenuhnya dan berserah kepada Tuhan. Kita juga harus berani melakukan yang terbaik dalam kesempatan itu. Aku bersyukur Tuhan menyediakan orang-orang yang melengkapi setiap kebutuhanku.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN” (Yesaya 55:8).

Baca Juga:

Surat Kepada Diriku yang Dulu adalah Seorang Gay

Aku tahu kalau saat ini kamu tidak merasa kalau Tuhan benar-benar mengasihimu karena Dia memintamu untuk berhenti menjalin hubungan sebagai seorang gay. Kamu merasa bahwa satu-satunya kebahagiaanmu telah dihancurkan. Hatimu terasa sakit dan kamu pun mengeluh, “Bagaimana mungkin sesuatu yang kuanggap wajar ternyata salah?”

Badai Kehidupan

Jumat, 30 Oktober 2015

Badai Kehidupan

Baca: Markus 4:35-5:1

4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

5:1 Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.

Sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu . . . sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. —1 Petrus 1:6-7

Badai Kehidupan

Dalam Injil Markus, kita membaca tentang badai yang dahsyat. Waktu itu para murid sedang bersama Yesus di dalam perahu untuk menyeberangi Danau Galilea. Ketika “mengamuklah taufan yang sangat dahsyat,” para murid—di antaranya nelayan-nelayan yang sangat berpengalaman—merasa sangat ketakutan (4:37-38). Apakah Allah tidak peduli? Bukankah mereka dipilih langsung oleh Yesus sendiri dan paling dekat dengan Dia? Bukankah mereka sedang menaati Yesus yang meminta mereka “bertolak ke seberang” (ay.35)? Jika demikian, mengapa mereka harus mengalami keadaan sulit itu?

Tak seorang pun luput dari badai kehidupan. Namun seperti para murid yang awalnya takut terhadap badai itu tetapi yang kemudian lebih mengagumi Kristus, demikian juga badai yang kita hadapi pun dapat membawa kita pada pengenalan yang lebih mendalam akan Allah. “Siapa gerangan orang ini,” demikian para murid bertanya-tanya, “sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (ay.41). Lewat pencobaan yang kita alami, kita dapat belajar bahwa tak ada badai yang terlalu besar untuk dapat menghalangi Allah menggenapi kehendak-Nya (5:1).

Meskipun kita mungkin belum mengerti alasan Allah mengizinkan pencobaan itu menerpa hidup kita, kita bersyukur kepada-Nya karena melalui pencobaan-pencobaan tersebut kita bisa lebih mengenal Dia. Kita hidup untuk melayani Allah karena Dia telah memelihara hidup kita. —Albert Lee

Tuhan, aku tahu aku tak perlu takut terhadap badai kehidupan di sekitarku. Tolong aku untuk tetap tenang karena aku aman di dalam-Mu.

Badai kehidupan akan membuktikan kekuatan sauh kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 20-21; 2 Timotius 4

Untuk Inilah Aku Punya Yesus

Jumat, 23 Oktober 2015

Untuk Inilah Aku Punya Yesus

Baca: Yesaya 49:13-20

49:13 Bersorak-sorailah, hai langit, bersorak-soraklah, hai bumi, dan bergembiralah dengan sorak-sorai, hai gunung-gunung! Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas.

49:14 Sion berkata: “TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.”

49:15 Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

49:16 Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.

49:17 Orang-orang yang membangun engkau datang bersegera, tetapi orang-orang yang merombak dan merusak engkau meninggalkan engkau.

49:18 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua berhimpun datang kepadamu. Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, sungguh, mereka semua akan kaupakai sebagai perhiasan, dan mereka akan kaulilitkan, seperti yang dilakukan pengantin perempuan.

49:19 Sebab tempat-tempatmu yang tandus dan sunyi sepi dan negerimu yang dirombak, sungguh, sekarang terlalu sempit untuk sekian banyak pendudukmu dan orang-orang yang mau menelan engkau akan menjauh.

49:20 Malahan, anak-anakmu yang kausangka hilang akan berkata kepadamu: “Tempat itu terlalu sempit bagiku, menyisihlah, supaya aku dapat diam di situ!”

Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas. —Yesaya 49:13

Untuk Inilah Aku Punya Yesus

Dalam hidup kita, jarang sekali ada masa-masa yang bebas dari masalah, tetapi adakalanya masalah yang menerjang terasa begitu menakutkan.

Rose melihat seluruh keluarganya, kecuali dua putri kecilnya, dibantai dalam peristiwa genosida di Rwanda pada tahun 1994. Ia menjadi seorang janda di antara banyak janda yang jatuh miskin. Namun ia tak mau menyerah. Ia lalu mengadopsi dua anak yatim piatu dan semata-mata mempercayai Allah untuk menyediakan makan dan uang sekolah untuk keluarganya yang kini terdiri dari lima orang. Rose bekerja dengan menerjemahkan literatur Kristen ke dalam bahasa setempat dan mengatur penyelenggaraan pertemuan tahunan bagi sesama kaum janda. Ia menangis sambil menceritakan kisahnya kepada saya. Akan tetapi, untuk setiap masalah yang dialaminya, ia memiliki satu solusi sederhana. “Untuk semua inilah,” katanya, “aku punya Yesus.”

Allah tahu persis apa yang kamu hadapi saat ini. Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah mengenal kita dengan begitu lekat, sehingga seolah-olah nama kita terlukis di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16). Adakalanya kita mungkin lalai dalam menolong orang lain yang membutuhkan kita, bahkan kepada mereka yang dekat dengan kita, tetapi Allah memahami setiap seluk-beluk kehidupan kita. Dan Dia telah memberi kita Roh-Nya untuk membimbing, menghibur, dan menguatkan kita.

Tuliskanlah tantangan apa saja yang sedang kamu hadapi saat ini, kemudian tambahkanlah kata-kata berikut di sebelah tulisan tadi sebagai pengingat akan kesetiaan dan kepedulian-Nya: “Untuk semua inilah, aku punya Yesus.” —Marion Stroud

Terima kasih, ya Yesus, karena Engkau menyertaiku saat ini.
Aku bersyukur untuk kesetiaan-Mu.

Hidup itu mengambil perspektif dalam terang Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2; 1 Timotius 3

Photo credit: Foter / CC BY-SA

Jalan yang Berat

Sabtu, 17 Oktober 2015

Jalan yang Berat

Baca: Mazmur 25:4-11

25:4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.

25:5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

25:6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

25:7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.

25:8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

25:10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

25:11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.

Tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. —Yeremia 6:16

Jalan yang Berat

Seorang teman memancing menceritakan kepada saya tentang danau yang letaknya tinggi di lereng utara Gunung Jughandle di Idaho, Amerika Serikat. Ada kabar bahwa di sana terdapat sejenis ikan trout yang besar. Ia menggambarkan peta ke sana di selembar serbet kertas. Beberapa minggu kemudian, saya pun berangkat dengan truk mengikuti petunjuk yang diberikannya. Peta itu ternyata membawa saya melalui salah satu jalan terburuk yang pernah saya lalui! Jalan itu dahulu merupakan jalan tembus yang dibuka paksa oleh para penebang pohon dengan buldoser dan tidak pernah diperbaiki. Tanah yang becek, balok-balok kayu yang berserakan, alur-alur yang dalam, dan bebatuan yang besar telah menyiksa tulang punggung saya dan membengkokkan kerangka bawah truk saya. Butuh waktu sepanjang pagi untuk mencapai tujuan saya, dan ketika sudah tiba, saya berpikir, “Mengapa seorang teman tega memberi petunjuk untuk melalui jalan yang buruk seperti ini?”

Namun ternyata danau itu memang sangat indah dan ikannya sungguh sangat besar dan agresif! Teman saya telah membawa saya melalui jalan yang tepat—jalan yang juga akan saya pilih dan jalani dengan sabar apabila saya tahu seperti apa tujuan akhirnya.

Firman Allah berkata, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10). Ada jalan Allah yang terasa berat dan tidak mulus, sementara jalan yang lain terasa membosankan dan melelahkan, tetapi semuanya dipenuhi kasih setia dan kebenaran-Nya. Di ujung perjalanan, ketika kita menyadari apa yang telah terjadi, kita akan berkata, “Jalan Allah memang yang terbaik untukku.” —David Roper

Ya Bapa, kami tak melihat ujung jalannya, tetapi Engkau tahu. Kami mempercayai-Mu atas semua yang tak bisa kami lihat. Kami tahu Engkau memampukan kami untuk melaluinya.

Sekalipun jalan kita penuh rintangan, Allah tetap akan memimpin kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 50-52; 1 Tesalonika 5

Lagu Tema Hidup Kami

Jumat, 9 Oktober 2015

Lagu Tema Hidup Kami

Baca: Ayub 29:1-6;30:1-9

29:1 Maka Ayub melanjutkan uraiannya:

29:2 “Ah, kiranya aku seperti dalam bulan-bulan yang silam, seperti pada hari-hari, ketika Allah melindungi aku,

29:3 ketika pelita-Nya bersinar di atas kepalaku, dan di bawah terang-Nya aku berjalan dalam gelap;

29:4 seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku;

29:5 ketika Yang Mahakuasa masih beserta aku, dan anak-anakku ada di sekelilingku;

29:6 ketika langkah-langkahku bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak di dekatku.

30:1 “Tetapi sekarang aku ditertawakan mereka, yang umurnya lebih muda dari padaku, yang ayah-ayahnya kupandang terlalu hina untuk ditempatkan bersama-sama dengan anjing penjaga kambing dombaku.

30:2 Lagipula, apakah gunanya bagiku kekuatan tangan mereka? Mereka sudah kehabisan tenaga,

30:3 mereka merana karena kekurangan dan kelaparan, mengerumit tanah yang kering, belukar di gurun dan padang belantara;

30:4 mereka memetik gelang laut dari antara semak-semak, dan akar pohon arar menjadi makanan mereka.

30:5 Mereka diusir dari pergaulan hidup, dan orang berteriak-teriak terhadap mereka seperti terhadap pencuri.

30:6 Di lembah-lembah yang mengerikan mereka harus diam, di dalam celah-celah tanah dan sela-sela gunung;

30:7 di antara semak-semak mereka meraung-raung, mereka berkelompok di bawah jeruju;

30:8 mereka itulah orang-orang bebal yang tak dikenal, yang didepak dari negeri.

30:9 Tetapi sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka.

TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku. —Yesaya 12:2

Lagu Tema Hidup Kami

Setiap orang mendengar suatu karya musik dengan cara berbeda. Sang pencipta lagu mendengar musiknya dengan membayangkannya di dalam benaknya. Para penonton mendengar musik itu dengan indra dan perasaan mereka. Para anggota orkestra mendengar paling jelas suara alat musik yang terdekat dengan mereka.

Dalam beberapa segi, kita adalah anggota dalam orkestra Allah. Sering kali yang kita dengar hanyalah alat musik yang paling dekat dengan kita. Karena kita tidak mendengar seluruh lagunya, kita pun berseru seperti Ayub di tengah sengsaranya, “Sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka” (Ayb. 30:9).

Ayub ingat bagaimana para pembesar dan pejabat pernah menghormatinya. Hidupnya “bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak didekatnya” (29:6). Namun kini, ia telah menjadi objek penghinaan. Ayub mengeluh, “Permainan kecapiku menjadi ratapan” (30:31). Namun musik yang dimainkan Ayub bukanlah segala-galanya. Ia hanya tak bisa mendengar keseluruhan lagunya.

Mungkin hari ini kamu hanya dapat mendengar nada sendu dari musik yang kamu mainkan. Jangan putus asa. Setiap bagian dalam hidupmu mempunyai peran dalam musik gubahan Allah. Atau mungkin kamu sedang memainkan nada riang. Pujilah Allah untuk sukacita itu, dan bagikanlah sukacitamu dengan orang lain.

Karya agung penebusan Allah adalah simfoni yang sedang kita semua mainkan, dan pada akhirnya, segala sesuatu akan terjalin indah untuk mencapai maksud-Nya yang baik. Allah adalah penggubah agung kehidupan kita. Musik gubahan-Nya itu sempurna, dan kita dapat mempercayai-Nya. —Keila Ochoa

Ya Tuhan, tolong aku untuk mempercayai-Mu, terutama ketika hidupku tampaknya tidak harmonis dan bernada sendu. Aku bersyukur kepada-Mu, karena aku menjadi bagian dari simfoni-Mu dan gubahan-Mu itu sempurna.

Tatkala kita mengimani kebaikan Allah terdengarlah lagu pujian dalam hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 32-33; Kolose 1