Lebar atau Sempit: Mana yang Kau Pilih?

Info

Oleh Olivia Christa Yutrista

“(13) Masuklah melalui gerbang yang sempit, karena lebarlah gerbang dan lapanglah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan mereka yang masuk melaluinya adalah banyak. (14) Sebab, sempitlah gerbang dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan mereka yang mendapatkannya adalah sedikit.” (Matius 7:13-14, ILT)

Aku termenung seusai membaca dua ayat dengan perikop Jalan yang Benar (versi Indonesian Literal Translation) tersebut. Sebagian besar dari kita tentu tak asing lagi dengan nas di atas, yang bahkan sudah dinyanyikan sejak masa sekolah minggu. Namun, ternyata aku belum benar-benar memahami maknanya hingga aku membaca kembali pengajaran Yesus tersebut pada waktu teduhku. Tuhan, Sang Firman dan sumber dari segala hikmat (Yakobus 1:5) pun memberiku pemahaman.

Sempitnya Jalan Kehidupan

Ketika pertama kali memperhatikan nas tersebut, aku dengan pikiran manusia yang terbatas, sempat bertanya-tanya: Lho, kok jalan kehidupan dikatakan sempit dan jalan kebinasaan malah lebar? Apa nggak terbalik? Sekilas seakan-akan maknanya terdengar “negatif”, padahal tidak ada yang keliru dengan firman Tuhan. Manusia saja yang seringkali tidak bisa menyelami pikiran Tuhan, kalau tidak Roh Kudus sendiri yang menyingkapkannya. Dalam konteks ini, malam itu Tuhan menjawab kebingunganku: sempit pada nas tersebut merepresentasikan bagaimana manusia memposisikan firman dalam hidupnya. Firman Tuhan, yang isinya termasuk berbagai perintah dan jalan Tuhan, seringkali kita salah artikan sebagai sesuatu yang mengikat dan membatasi pilihan kita dalam hidup.

Sempit berbicara perihal pola pikir. Pilihannya: apakah firman Tuhan kita anggap sebagai sesuatu yang mengekang atau menghalangi langkah dan pilihan kita, sehingga kita merasa jalan kita “sempit” karena apa-apa “tidak boleh” atau ini-itu “salah” (memenjara kita) atau sebaliknya, perkataan yang membebaskan dan menyelamatkan jiwa kita? Kita yang memilih. Namun, faktanya ialah jika kita tetap tinggal dalam Firman─yang adalah kebenaran, kita justru adalah orang-orang yang merdeka (Yohanes 8:31-32).

Lebarnya Jalan Kebinasaan

Sembari merenungkan, Tuhan mengingatkanku pada sebuah postingan dari akun terverifikasi di Instagram. Ketika tengah berselancar di beranda, muncul unggahan akun tersebut bertajuk Moscow adalah Surga di Bumi. Ternyata, informasinya mengagetkanku. Ssurga” yang mereka maksud ialah dunia malam! Mereka membagikan potret demi potret berisi kegiatan anak-anak muda di Moscow pada malam hari yang lekat dengan minuman keras, narkoba, dan seks bebas─secara terang-terangan! Hatiku hancur rasanya. Bagaimana lebihnya dengan hati Tuhan?

“…lebarlah gerbang dan lapanglah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan mereka yang masuk melaluinya adalah banyak.” (ay. 13)

Tanpa firman, yang bagi dunia sangat “membatasi” ruang gerak mereka, itulah kebebasan. Kebebasan yang membawa kepada kebinasaan (Roma 6:23, Wahyu 21:8).

Sebelum Memilih, Fokus pada Akhir Cerita

Ketika kita memutuskan untuk mengikut Kristus, dua langkah yang harus kita ambil adalah menyangkal diri dan memikul salib. Kapan? Setiap hari (Lukas 9:23). Ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan, artinya kita bersedia menjadikan Dia Tuan/Pemimpin atas hidup kita seutuhnya, dan bukan hanya aspek-aspek tertentu. Kita berjalan dalam Roh dan bukan daging. Kristuslah yang duduk di takhta hidup kita (Galatia 2:19b-20).

Ketika rasanya sulit dan ingin menyerah terhadap dosa, mari arahkan kembali pandangan kita kepada Kristus—kepada hal-hal yang kekal dan bukan fana (Kolose 3:2). Kehidupan kita yang sesungguhnya adalah di surga, yaitu ketika kita bersatu dengan Bapa untuk selama-lamanya. Tidak lama lagi!

Dalam mengikut Kristus, mungkin pilihan kita seakan-akan terbatas atau jalan kita “sempit” karena kita harus sesuaikan dengan apa yang berkenan bagi-Nya, namun percayalah, rancangan dan jalan-jalan-Nyalah yang akan menyelamatkan kita dan bukan apa yang kita anggap baik atau penting. Ketika kita bersedia diatur oleh Tuhan, masa depan yang penuh harapan yang akan Ia berikan (Yeremia 29:11).

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.” (Ulangan 30:19)

Baca Juga:

Ketika Ketakutanku Direngkuh-Nya

Takut, cemas, dan stres sebenarnya adalah kondisi wajar yang pasti dialami setiap orang. Namun, beberapa waktu terakhir ini, ketakutan yang kualami rasanya tidak terkendali. Ketakutan itu tak cuma perasaan yang berkecamuk di hati, tetapi juga mempengaruhi apa yang kulakukan.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

8 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!