Posts

Untuk Inilah Aku Punya Yesus

Jumat, 23 Oktober 2015

Untuk Inilah Aku Punya Yesus

Baca: Yesaya 49:13-20

49:13 Bersorak-sorailah, hai langit, bersorak-soraklah, hai bumi, dan bergembiralah dengan sorak-sorai, hai gunung-gunung! Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas.

49:14 Sion berkata: “TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.”

49:15 Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

49:16 Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.

49:17 Orang-orang yang membangun engkau datang bersegera, tetapi orang-orang yang merombak dan merusak engkau meninggalkan engkau.

49:18 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua berhimpun datang kepadamu. Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, sungguh, mereka semua akan kaupakai sebagai perhiasan, dan mereka akan kaulilitkan, seperti yang dilakukan pengantin perempuan.

49:19 Sebab tempat-tempatmu yang tandus dan sunyi sepi dan negerimu yang dirombak, sungguh, sekarang terlalu sempit untuk sekian banyak pendudukmu dan orang-orang yang mau menelan engkau akan menjauh.

49:20 Malahan, anak-anakmu yang kausangka hilang akan berkata kepadamu: “Tempat itu terlalu sempit bagiku, menyisihlah, supaya aku dapat diam di situ!”

Sebab TUHAN menghibur umat-Nya dan menyayangi orang-orang-Nya yang tertindas. —Yesaya 49:13

Untuk Inilah Aku Punya Yesus

Dalam hidup kita, jarang sekali ada masa-masa yang bebas dari masalah, tetapi adakalanya masalah yang menerjang terasa begitu menakutkan.

Rose melihat seluruh keluarganya, kecuali dua putri kecilnya, dibantai dalam peristiwa genosida di Rwanda pada tahun 1994. Ia menjadi seorang janda di antara banyak janda yang jatuh miskin. Namun ia tak mau menyerah. Ia lalu mengadopsi dua anak yatim piatu dan semata-mata mempercayai Allah untuk menyediakan makan dan uang sekolah untuk keluarganya yang kini terdiri dari lima orang. Rose bekerja dengan menerjemahkan literatur Kristen ke dalam bahasa setempat dan mengatur penyelenggaraan pertemuan tahunan bagi sesama kaum janda. Ia menangis sambil menceritakan kisahnya kepada saya. Akan tetapi, untuk setiap masalah yang dialaminya, ia memiliki satu solusi sederhana. “Untuk semua inilah,” katanya, “aku punya Yesus.”

Allah tahu persis apa yang kamu hadapi saat ini. Yesaya mengingatkan kita bahwa Allah mengenal kita dengan begitu lekat, sehingga seolah-olah nama kita terlukis di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16). Adakalanya kita mungkin lalai dalam menolong orang lain yang membutuhkan kita, bahkan kepada mereka yang dekat dengan kita, tetapi Allah memahami setiap seluk-beluk kehidupan kita. Dan Dia telah memberi kita Roh-Nya untuk membimbing, menghibur, dan menguatkan kita.

Tuliskanlah tantangan apa saja yang sedang kamu hadapi saat ini, kemudian tambahkanlah kata-kata berikut di sebelah tulisan tadi sebagai pengingat akan kesetiaan dan kepedulian-Nya: “Untuk semua inilah, aku punya Yesus.” —Marion Stroud

Terima kasih, ya Yesus, karena Engkau menyertaiku saat ini.
Aku bersyukur untuk kesetiaan-Mu.

Hidup itu mengambil perspektif dalam terang Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2; 1 Timotius 3

Photo credit: Foter / CC BY-SA

Jalan yang Berat

Sabtu, 17 Oktober 2015

Jalan yang Berat

Baca: Mazmur 25:4-11

25:4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.

25:5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

25:6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

25:7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.

25:8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

25:10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

25:11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.

Tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. —Yeremia 6:16

Jalan yang Berat

Seorang teman memancing menceritakan kepada saya tentang danau yang letaknya tinggi di lereng utara Gunung Jughandle di Idaho, Amerika Serikat. Ada kabar bahwa di sana terdapat sejenis ikan trout yang besar. Ia menggambarkan peta ke sana di selembar serbet kertas. Beberapa minggu kemudian, saya pun berangkat dengan truk mengikuti petunjuk yang diberikannya. Peta itu ternyata membawa saya melalui salah satu jalan terburuk yang pernah saya lalui! Jalan itu dahulu merupakan jalan tembus yang dibuka paksa oleh para penebang pohon dengan buldoser dan tidak pernah diperbaiki. Tanah yang becek, balok-balok kayu yang berserakan, alur-alur yang dalam, dan bebatuan yang besar telah menyiksa tulang punggung saya dan membengkokkan kerangka bawah truk saya. Butuh waktu sepanjang pagi untuk mencapai tujuan saya, dan ketika sudah tiba, saya berpikir, “Mengapa seorang teman tega memberi petunjuk untuk melalui jalan yang buruk seperti ini?”

Namun ternyata danau itu memang sangat indah dan ikannya sungguh sangat besar dan agresif! Teman saya telah membawa saya melalui jalan yang tepat—jalan yang juga akan saya pilih dan jalani dengan sabar apabila saya tahu seperti apa tujuan akhirnya.

Firman Allah berkata, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10). Ada jalan Allah yang terasa berat dan tidak mulus, sementara jalan yang lain terasa membosankan dan melelahkan, tetapi semuanya dipenuhi kasih setia dan kebenaran-Nya. Di ujung perjalanan, ketika kita menyadari apa yang telah terjadi, kita akan berkata, “Jalan Allah memang yang terbaik untukku.” —David Roper

Ya Bapa, kami tak melihat ujung jalannya, tetapi Engkau tahu. Kami mempercayai-Mu atas semua yang tak bisa kami lihat. Kami tahu Engkau memampukan kami untuk melaluinya.

Sekalipun jalan kita penuh rintangan, Allah tetap akan memimpin kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 50-52; 1 Tesalonika 5

Lagu Tema Hidup Kami

Jumat, 9 Oktober 2015

Lagu Tema Hidup Kami

Baca: Ayub 29:1-6;30:1-9

29:1 Maka Ayub melanjutkan uraiannya:

29:2 “Ah, kiranya aku seperti dalam bulan-bulan yang silam, seperti pada hari-hari, ketika Allah melindungi aku,

29:3 ketika pelita-Nya bersinar di atas kepalaku, dan di bawah terang-Nya aku berjalan dalam gelap;

29:4 seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku;

29:5 ketika Yang Mahakuasa masih beserta aku, dan anak-anakku ada di sekelilingku;

29:6 ketika langkah-langkahku bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak di dekatku.

30:1 “Tetapi sekarang aku ditertawakan mereka, yang umurnya lebih muda dari padaku, yang ayah-ayahnya kupandang terlalu hina untuk ditempatkan bersama-sama dengan anjing penjaga kambing dombaku.

30:2 Lagipula, apakah gunanya bagiku kekuatan tangan mereka? Mereka sudah kehabisan tenaga,

30:3 mereka merana karena kekurangan dan kelaparan, mengerumit tanah yang kering, belukar di gurun dan padang belantara;

30:4 mereka memetik gelang laut dari antara semak-semak, dan akar pohon arar menjadi makanan mereka.

30:5 Mereka diusir dari pergaulan hidup, dan orang berteriak-teriak terhadap mereka seperti terhadap pencuri.

30:6 Di lembah-lembah yang mengerikan mereka harus diam, di dalam celah-celah tanah dan sela-sela gunung;

30:7 di antara semak-semak mereka meraung-raung, mereka berkelompok di bawah jeruju;

30:8 mereka itulah orang-orang bebal yang tak dikenal, yang didepak dari negeri.

30:9 Tetapi sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka.

TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku. —Yesaya 12:2

Lagu Tema Hidup Kami

Setiap orang mendengar suatu karya musik dengan cara berbeda. Sang pencipta lagu mendengar musiknya dengan membayangkannya di dalam benaknya. Para penonton mendengar musik itu dengan indra dan perasaan mereka. Para anggota orkestra mendengar paling jelas suara alat musik yang terdekat dengan mereka.

Dalam beberapa segi, kita adalah anggota dalam orkestra Allah. Sering kali yang kita dengar hanyalah alat musik yang paling dekat dengan kita. Karena kita tidak mendengar seluruh lagunya, kita pun berseru seperti Ayub di tengah sengsaranya, “Sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka” (Ayb. 30:9).

Ayub ingat bagaimana para pembesar dan pejabat pernah menghormatinya. Hidupnya “bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak didekatnya” (29:6). Namun kini, ia telah menjadi objek penghinaan. Ayub mengeluh, “Permainan kecapiku menjadi ratapan” (30:31). Namun musik yang dimainkan Ayub bukanlah segala-galanya. Ia hanya tak bisa mendengar keseluruhan lagunya.

Mungkin hari ini kamu hanya dapat mendengar nada sendu dari musik yang kamu mainkan. Jangan putus asa. Setiap bagian dalam hidupmu mempunyai peran dalam musik gubahan Allah. Atau mungkin kamu sedang memainkan nada riang. Pujilah Allah untuk sukacita itu, dan bagikanlah sukacitamu dengan orang lain.

Karya agung penebusan Allah adalah simfoni yang sedang kita semua mainkan, dan pada akhirnya, segala sesuatu akan terjalin indah untuk mencapai maksud-Nya yang baik. Allah adalah penggubah agung kehidupan kita. Musik gubahan-Nya itu sempurna, dan kita dapat mempercayai-Nya. —Keila Ochoa

Ya Tuhan, tolong aku untuk mempercayai-Mu, terutama ketika hidupku tampaknya tidak harmonis dan bernada sendu. Aku bersyukur kepada-Mu, karena aku menjadi bagian dari simfoni-Mu dan gubahan-Mu itu sempurna.

Tatkala kita mengimani kebaikan Allah terdengarlah lagu pujian dalam hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 32-33; Kolose 1

Sisi Positif Suatu Kemunduran

Kamis, 24 September 2015

Sisi Positif Suatu Kemunduran

Baca: Mazmur 27

27:1 Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?

27:2 Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.

27:3 Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya.

27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.

27:5 Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.

27:6 Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.

27:7 Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku!

27:8 Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.

27:9 Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!

27:10 Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.

27:11 Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.

27:12 Janganlah menyerahkan aku kepada nafsu lawanku, sebab telah bangkit menyerang aku saksi-saksi dusta, dan orang-orang yang bernafaskan kelaliman.

27:13 Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!

27:14 Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! —Mazmur 27:14

Sisi Positif Suatu Kemunduran

Perenang Amerika Serikat Dara Torres memiliki karier yang menakjubkan. Ia tercatat pernah berlomba dalam lima Olimpiade dari tahun 1984 hingga 2008. Di penghujung kariernya, Torres berhasil memecahkan rekor nasional untuk gaya bebas 50 meter—rekor yang pernah dibuatnya sendiri 25 tahun sebelumnya. Namun Torres tidak selalu berhasil. Ia pernah juga menemui hambatan dalam karier atletiknya: cedera, operasi, dan usia yang hampir dua kali lebih tua dari kebanyakan pesaingnya. Torres berkata, “Saya selalu ingin menang dalam segala hal, setiap hari, sejak saya kecil. . . . Saya juga sadar ternyata suatu kemunduran mempunyai sisi positif, karena kegagalan justru memacu saya mengejar impian-impian baru.”

“Suatu kemunduran mempunyai sisi positif” adalah pelajaran hidup yang sangat baik. Perjuangan Torres mendorongnya untuk meraih prestasi baru. Pencobaan juga memiliki manfaat rohani. Yakobus berkata, “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (YAK. 1:2-3).

Memang tidak mudah untuk melihat kesulitan hidup dari sudut pandang tersebut, tetapi kita juga yang akan menikmati buahnya. Pencobaan memberikan kesempatan untuk memperdalam hubungan kita dengan Allah. Pencobaan juga menjadi jalan bagi kita untuk menerima pelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh keberhasilan, yaitu terbentuknya kesabaran dalam diri kita untuk menantikan Allah dan percaya bahwa Dia akan memberi kita kekuatan untuk bertahan.

Pemazmur mengingatkan kita, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mzm. 27:14). —Bill Crowder

Ya Tuhan, saat aku dicobai, ajarku untuk menantikan-Mu. Namun lebih dari itu, ajarku untuk makin mempercayai kasih-Mu kepadaku. Dan saat aku melakukannya, ajarkanlah hikmat-Mu dan kesabaran untuk bertahan.

Kemunduran hidup dapat mengajar kita untuk menantikan pertolongan dan kekuatan Tuhan.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 4-5; Galatia 3

Photo credit: vironevaeh / Foter / CC BY-SA

Pelajaran dalam Penderitaan

Sabtu, 19 September 2015

Pelajaran dalam Penderitaan

Baca: 2 Korintus 11:21-30

11:21 Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah. Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka akupun–aku berkata dalam kebodohan–berani juga!

11:22 Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!

11:23 Apakah mereka pelayan Kristus? –aku berkata seperti orang gila–aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.

11:24 Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan,

11:25 tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.

11:26 Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.

11:27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,

11:28 dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.

11:29 Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?

11:30 Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. —2 Korintus 11:30

Pelajaran dalam Penderitaan

Gambar jarak dekat di layar raksasa itu begitu besar dan tajam, sehingga kami dapat melihat luka yang menganga pada tubuh orang tersebut. Seorang tentara memukulinya sementara kerumunan orang yang marah menertawakan pria yang mukanya sekarang berlumur darah itu. Adegan-adegan tersebut tampak begitu nyata sehingga, di tengah keheningan bioskop alam terbuka itu, saya bergidik dan meringis seakan-akan saya sendiri merasakan pedihnya penderitaan itu. Namun itu hanyalah tayangan reka ulang dari kesengsaraan yang ditanggung Yesus demi kita.

Ketika Petrus mengingatkan kita akan penderitaan Yesus, ia menulis, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1Ptr. 2:21). Meskipun penderitaan bisa datang dalam bentuk dan intensitas yang berbeda-beda, hal itu tidak terelakkan. Penderitaan kita mungkin tidak seburuk pengalaman Paulus, yang demi Kristus telah didera, dilempari batu, dan mengalami karam kapal. Ia dirampok, dan menanggung lapar serta dahaga (2Kor. 11:24-27). Demikian pula, kita mungkin tidak menderita seperti umat Tuhan di berbagai belahan dunia yang dianiaya begitu berat karena iman mereka.

Meskipun demikian, dalam berbagai bentuknya, penderitaan akan kita alami ketika kita menyangkal diri, tidak membalas pelecehan, menanggung hinaan, atau menolak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang tidak memuliakan Tuhan. Sikap kita yang panjang sabar, tidak membalas dendam, dan mengampuni sesama demi terpeliharanya hubungan yang baik adalah contoh perbuatan yang mengikuti jejak-Nya.

Dalam menghadapi penderitaan, ingatlah apa yang telah ditanggung Yesus demi kita. —Lawrence Darmani

Apa yang kamu pelajari tentang Allah melalui pencobaan-pencobaan yang kamu alami?

Penderitaan memberi kita pelajaran yang tidak akan dapat kita pelajari dengan cara lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 1-3; 2 Korintus 11:16-33

Pelayanan yang Setia

Senin, 20 Juli 2015

Pelayanan yang Setia

Baca: 2 Timotius 2:1-10

2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.

2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

2:4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.

2:5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.

2:6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.

2:8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.

2:9 Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.

2:10 Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. —2 Timotius 2:3

Pelayanan yang Setia

Karena pernah bertugas di Perang Dunia I, C. S. Lewis tidak asing lagi dengan tekanan dalam dinas militer. Dalam sebuah pidato pada khalayak umum semasa Perang Dunia II, ia dengan fasih melukiskan kesukaran yang harus dihadapi seorang prajurit: “Segala hal yang kita takutkan dari segala jenis penderitaan . . . ditemukan dalam kehidupan seorang prajurit yang sedang bertugas. Seperti penyakit yang menyebabkan penderitaan dan kematian. Seperti kemiskinan yang membuat seseorang tak mempunyai tempat berlindung, kedinginan, kepanasan, kehausan, dan kelaparan. Seperti perbudakan yang menyebabkan seseorang harus kerja paksa, menerima penghinaan, perlakuan tidak adil, dan peraturan yang sewenang-wenang. Seperti pengasingan yang memisahkan kita dari segala sesuatu yang kita kasihi.”

Paulus menggunakan analogi tentang seorang prajurit yang mengalami penderitaan untuk menggambarkan pencobaan yang dapat dialami seorang percaya dalam pelayanannya kepada Kristus. Paulus—di penghujung hidupnya—telah setia menderita demi Injil. Ia mendorong Timotius untuk melakukan hal yang sama: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2Tim. 2:3).

Melayani Kristus membutuhkan ketekunan. Kita mungkin menemui rintangan berupa kesehatan yang buruk, hubungan dengan sesama yang bermasalah, atau keadaan-keadaan yang sulit. Namun sebagai seorang prajurit yang baik, kita terus maju—dengan kekuatan Allah—karena kita melayani Raja dari segala raja dan Tuhan dari segala tuan yang bersedia menyerahkan diri-Nya bagi kita! —Dennis Fisher

Bapaku, tolonglah aku untuk setia dalam melayani-Mu. Terima kasih untuk kekuatan dari Engkau yang menolongku bertahan di tengah penderitaan.

Kasih Allah tidak menghindarkan kita dari beragam pencobaan, melainkan membimbing kita untuk melalui semua pencobaan itu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 26–28; Kisah Para Rasul 22

Melihat Melampaui Kehilangan

Minggu, 12 Juli 2015

Melihat Melampaui Kehilangan

Baca: Mazmur 77:2-16

77:2 Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, dengan nyaring kepada Allah, supaya Ia mendengarkan aku.

77:3 Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, jiwaku enggan dihiburkan.

77:4 Apabila aku mengingat Allah, maka aku mengerang, apabila aku merenung, makin lemah lesulah semangatku. Sela

77:5 Engkau membuat mataku tetap terbuka; aku gelisah, sehingga tidak dapat berkata-kata.

77:6 Aku memikir-mikir hari-hari zaman purbakala, tahun-tahun zaman dahulu aku ingat.

77:7 Aku sebut-sebut pada waktu malam dalam hatiku, aku merenung, dan rohku mencari-cari:

77:8 “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi?

77:9 Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun?

77:10 Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?” Sela

77:11 Maka kataku: “Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah.”

77:12 Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.

77:13 Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.

77:14 Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?

77:15 Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.

77:16 Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf. Sela

Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, . . . keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. —Mazmur 77:12

Melihat Melampaui Kehilangan

Penulis William Zinsser bercerita tentang kunjungan terakhirnya untuk melihat rumah tempat ia dibesarkan, suatu tempat yang sangat dicintainya di masa kecil. Ketika ia dan istri tiba di bukit di atas Teluk Manhasset dan Selat Long Island, mereka mendapati ternyata rumah itu sudah dirobohkan. Yang tersisa hanyalah sebuah lubang besar. Dengan sangat kecewa, mereka berjalan menuju ke tanggul laut terdekat. Zinsser memandangi teluk sambil menikmati pemandangan yang ada. Di kemudian hari, ia menuliskan tentang pengalamannya tersebut, “Aku merasa tenang dan tidak terlalu sedih. Pemandangannya lengkap: paduan unik dari daratan dan lautan yang begitu berkesan sampai-sampai aku masih memimpikannya.”

Pemazmur menulis tentang suatu masa yang sulit ketika jiwanya enggan dihiburkan dan lemah lesu semangatnya (Mzm. 77:3-4). Namun dalam kegelisahannya, ia mengalihkan perhatian dari kesedihan yang dirasakannya kepada Juruselamatnya, dengan berkata, “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala” (ay.12).

Ketika dirundung kekecewaan, kita dapat memilih untuk berfokus pada kehilangan kita atau kepada Allah saja. Tuhan mengundang kita untuk memandang kepada-Nya dan menikmati seluruh kebaikan-Nya, kehadiran-Nya, dan kasih-Nya yang kekal. —David McCasland

Bapa di surga, kehidupan ini bisa menjadi indah tetapi juga mengecewakan. Kami tahu bahwa keadaan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kekecewaan itu membawa kami kepada-Mu, karena hanya Engkaulah harapan sejati bagi dunia.

Pengharapan selalu terpelihara ketika kita meyakini kebaikan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 4–6; Kisah Para Rasul 17:16-34

Gurun yang Tandus

Sabtu, 11 Juli 2015

Gurun yang Tandus

Baca: Yesaya 48:16-22

48:16 Mendekatlah kepada-Ku, dengarlah ini: Dari dahulu tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi dan pada waktu hal itu terjadi Aku ada di situ.” Dan sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya.

48:17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.

48:18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,

48:19 maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku.”

48:20 Keluarlah dari Babel, larilah dari Kasdim! Beritahukanlah dengan suara sorak-sorai dan kabarkanlah hal ini! Siarkanlah itu sampai ke ujung bumi! Katakanlah: “TUHAN telah menebus Yakub, hamba-Nya!”

48:21 Mereka tidak menderita haus, ketika Ia memimpin mereka melalui tempat-tempat yang tandus; Ia mengeluarkan air dari gunung batu bagi mereka; Ia membelah gunung batu, maka memancarlah air.

48:22 “Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!” firman TUHAN.

Mereka tidak menderita haus, ketika Ia memimpin mereka melalui tempat-tempat yang tandus. —Yesaya 48:21

Gurun yang Tandus

Gersang, berdebu, berbahaya. Itulah padang gurun—suatu wilayah yang hanya memiliki sedikit air dan yang tidak bisa menunjang kehidupan. Gurun juga dipakai untuk melukiskan suatu tempat yang tak berpenghuni. Kehidupan di gurun memang keras dan tidak banyak orang yang mau hidup di sana. Namun, terkadang kita tak dapat menghindarinya.

Dalam Kitab Suci, umat Allah telah terbiasa dengan kehidupan gurun. Sebagian besar wilayah Timur Tengah, termasuk Israel, adalah padang gurun. Namun demikian, masih ada sejumlah daerah yang subur, seperti Lembah Yordan dan tanah di sekitar Danau Galilea. Allah memilih untuk “membesarkan keluarga-Nya” di tempat yang dikelilingi gurun, di mana Dia dapat menyatakan kebaikan-Nya kepada umat-Nya apabila mereka mempercayai Dia untuk melindungi dan memberi mereka makan sehari-hari (Yes. 48:17-19).

Di masa kini, kebanyakan dari kita tidak hidup di padang gurun secara harfiah, tetapi kita sering merasa seperti sedang berjalan melalui padang gurun. Terkadang kita melewatinya sebagai bentuk ketaatan kita. Di lain waktu, kita mendapati diri berada di padang gurun bukan oleh pilihan atau kesadaran kita. Ketika seseorang menelantarkan kita, atau penyakit menyerang tubuh kita, kita bagai terdampar di tengah padang gurun yang langka dengan sumber daya dan mengalami sulitnya bertahan hidup.

Akan tetapi, maksud utama dari pengalaman di padang gurun, baik dalam pengertian harfiah maupun kiasan, adalah untuk mengingatkan bahwa kita bergantung kepada Allah yang menopang kehidupan kita. Itulah pelajaran yang perlu kita ingat, bahkan ketika kita sedang hidup di dalam kelimpahan sekalipun. —Julie Ackerman Link

Apakah kamu sekarang hidup di dalam kelimpahan atau justru berkekurangan? Bagaimana cara Allah memelihara hidupmu? Gurun yang Tandus

Di setiap padang gurun, ada mata air anugerah yang disediakan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 1–3; Kisah Para Rasul 17:1-15

Meringankan Beban

Jumat, 10 Juli 2015

Meringankan Beban

Baca: Bilangan 11:4-17

11:4 Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?

11:5 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.

11:6 Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”

11:7 Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah.

11:8 Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa panganan yang digoreng.

11:9 Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.

11:10 Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka TUHAN dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa.

11:11 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?

11:12 Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya?

11:13 Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata: Berilah kami daging untuk dimakan.

11:14 Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku.

11:15 Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku.”

11:16 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Kumpulkanlah di hadapan-Ku dari antara para tua-tua Israel tujuh puluh orang, yang kauketahui menjadi tua-tua bangsa dan pengatur pasukannya, kemudian bawalah mereka ke Kemah Pertemuan, supaya mereka berdiri di sana bersama-sama dengan engkau.

11:17 Maka Aku akan turun dan berbicara dengan engkau di sana, lalu sebagian dari Roh yang hinggap padamu itu akan Kuambil dan Kutaruh atas mereka, maka mereka bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, jadi tidak usah lagi engkau seorang diri memikulnya.

[Para tua-tua Israel] bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, jadi tidak usah lagi engkau seorang diri memikulnya. —Bilangan 11:17

Meringankan Beban

Dengan sebuah sepeda, kamu dapat menarik beban yang luar biasa berat. Seorang dewasa dengan kereta gandeng khusus (dan ditambah sedikit tekad) dapat menggunakan sebuah sepeda untuk menarik beban hingga 135 kg dengan kecepatan sekitar 16 km/jam. Masalahnya: semakin berat beban yang ditarik, semakin lambat laju sepedanya. Seseorang yang menarik peralatan atau benda seberat 270 kg hanya mampu bergerak dengan kecepatan sekitar 13 km/jam.

Musa pernah memikul beban lain di tengah padang gurun, yakni beban emosional yang membuatnya kewalahan. Hasrat orang Israel untuk makan daging daripada manna telah membuat mereka menangis. Mendengar ratapan yang terus-menerus itu, Musa pun jengkel dan berkata kepada Allah, “Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku” (Bil. 11:14).

Seorang diri saja, Musa kekurangan sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Allah menanggapi masalah itu dengan meminta Musa memilih 70 orang tua-tua yang dapat bekerja sama dengannya dan meringankan beban yang dipikulnya. Allah berfirman kepada Musa, “[Para tua-tua Israel] bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, jadi tidak usah lagi engkau seorang diri memikulnya” (ay.17).

Sebagai murid Yesus, kita juga tidak perlu memikul beban kita seorang diri. Kita memiliki Yesus—Dia selalu rela dan sanggup menolong kita. Dia juga telah memberi kita saudara-saudari seiman di dalam Tuhan untuk meringankan beban kita. Pada saat kita menyerahkan kepada-Nya segala hal yang membebani kita, Dia akan memberi kita hikmat dan pertolongan-Nya. —Jennifer Benson Schuldt

Siapa sajakah yang selama ini telah mendampingimu? Sudahkah kamu berterima kasih kepada mereka?

Pertolongan Allah hanya sejauh doa.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 41–42; Kisah Para Rasul 16:22-40