Tersesat di Dunia yang Kosong

Oleh Rosi L. Simamora

“Aku… tersesat di dunia yang kosong.” Malam itu ucapan Lara tersebut terngiang di telingaku.

Kedatanganku di rumahnya siang tadi disambut potret hitam-putih yang membuat jantungku tergeragap. Selama satu-dua detik aku seolah lumpuh, terlalu syok untuk dapat mengalihkan pandangan.

Lara, si tuan rumah, menoleh dan langsung mengerti. “Itulah harga yang kubayar. Pengingat yang pahit, aku tahu,” ucapnya.

Kutatap potret itu: wajah Lara sengaja dibiarkan kabur, sepasang tangannya yang terulur ke kamera dihiasi garis melintang panjang bekas irisan. Tipis, namun tetap terlihat. Seperti jeritan tanpa suara yang memekakkan. Kerongkonganku tersekat. Aku… sama sekali tidak tahu. Dunia tidak tahu. Bahwa di balik Lara yang selalu tampil sempurna dan bahagia di medsos-nya, ada Lara yang ini.

“Apa yang terjadi?” bisikku.

“Aku… tersesat di dunia yang kosong,” jawab Lara.

Pelan, sesekali berhenti di tengah ucapannya, Lara mengisahkan perjalanannya hingga menjadi seleb medsos tersohor. “Awalnya sederhana. Aku hanya ingin didengar. Dilihat. Diakui. Aku ingin orang tahu siapa aku,” ucapnya. “Aku kepingin membuktikan, dengan menjadi diri sendiri, kita bakal bahagia.”

Dunia maya langsung menyambut Lara. Apa pun yang ia pasang di akun medsosnya, dunia langsung menyambarnya. Mengapa tidak? Lara tampil unik. Percaya diri. Bahagia. Cerdas. Sukses. Pokoknya sempurna, khas figur idaman dunia.

“Hanya butuh beberapa ratus hari, angka-angka, dan barisan kotak komentar, maka moto ‘jadilah diri sendiri’ yang kujunjung pun rontok,” ucapnya tersenyum kecut.

“Angka-angka?” tanyaku, tapi langsung mengerti. “Ah, angka-angka subscriber, follower, like, maksudmu?” Lara mengangguk. “Tapi kenapa harus begitu? Bukannya dunia memujamu?”

Lara menggeleng muram. “Tidak juga. Dunia rupanya tidak pernah puas sampai dia berhasil mengubahmu,” bisiknya. “Walaupun postinganku menuai puja-puji, selalu saja ada yang berkomentar miring. Mengkritik ini. Membahas itu. Mengomentari hal-hal remeh.” Lara menghela napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. “Tapi aku terobsesi dengan angka-angka itu. Dan aku membutuhkan restu dunia untuk menaikkan jumlahnya. Jadi ya… begitulah. Aku tak lagi bebas memasang konten yang ‘gue banget’. Karena salah konten sedikit saja, angka-angka itu langsung berkurang drastis. Dan kalau angka itu berkurang, aku cemas.”

Tanpa benar-benar menyadarinya, Lara pun mengunci kebahagiaannya pada angka-angka tersebut. “Akhirnya… angka-angka itulah yang menentukan citra diriku,” ujarnya.

“Kepuasan dan kebahagiaanku jadi semakin singkat dan dangkal, hanya dari satu konten ke konten.” Ia memandang ke dinding di belakangku, tempat potretnya tergantung. “Dan tidak berbeda dengan dunia, egoku juga tak kenal puas. Haus popularitas, haus perhatian, haus pengakuan…,” bisiknya pelan.

Lara ganti menatapku, dan salah satu ayat dalam Amsal 27 muncul begitu saja di benakku. “Di dunia orang mati, selalu ada tempat; begitu pula keinginan manusia tidak ada batasnya”(Amsal 27:20, BIS).

“Bayangkan, aku sampai rela tidak lagi menjadi diriku sendiri, dan ganti menjadi versi Lara yang dicintai dunia,” akunya. “Dengan penuh perhitungan, kususun ulang citra diriku. Kuatur sedemikian rupa, supaya cocok dengan kotak medsos tempat aku memasang potongan kehidupanku. Aku mulai memilah dan memoles sisi mana saja dari diriku yang ingin kutampilkan, menyesuaikannya dengan selera dan minat dunia.

“Tapi tahu tidak? Meski aku berhasil memperoleh semua yang kuinginkan, aku tidak bahagia.

Aku sudah mencoba menjadi diriku sendiri, tapi kepuasan yang kudapatkan hanya sebentar. Aku juga sudah mencoba menjadi versi yang dunia inginkan, tapi itu pun tidak mendatangkan sukacita. Semua yang kulakukan… seperti sia-sia,” bisiknya.

Hari lepas hari ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan menggerogoti Lara, menciptakan lubang besar yang semakin mengisapnya. Dunia masih gaduh dengan pendapatnya yang berubah-ubah dan cetek, tapi di tengah semua kebisingan itu, Lara merasa… Kosong. Tersesat.

Kosong. Tersesat.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang pernah kubaca di buletin gereja. Ingin rasanya aku berkata ke Lara, “Kalau saja kamu tahu, Ra, tidak ada satu pun pencapaian maupun harta kita yang bisa benar-benar mengisi kekosongan dalam hati kita. Kalau saja kamu tahu, bahwa kepuasan hati kita, nilai diri kita, dan makna hidup kita harus datang dari Allah. Kenapa? Karena sesungguhnya hanya Dia yang menciptakan kita yang tahu apa yang sejatinya kita butuhkan .” Tapi aku menahan diri dan tidak melontarkannya, aku ingin ia melanjutkan ceritanya.

“Dan malam itu aku merasa sangat sendirian. Kosong. Tersesat. Aku hanya melihat satu jalan keluar untuk mengakhiri penderitaanku…” bisik Lara, ujung jemarinya menyusuri garis di pergelangan tangannya. Sekujur tubuhku bergidik.

“Apa… persisnya yang terjadi malam itu, Ra? Apa yang akhirnya menyelamatkanmu?” tanyaku.

“Tuhan,” jawab Lara, matanya berlinang. “Tepat setelah aku melukai diriku dan terbaring di lantai, mataku menangkap poster berbingkai yang kamu kirim tahun lalu. Tulisan di poster itu membuatku marah waktu itu, karena berasa kamu menghakimiku.”

Tentu saja aku ingat. Poster itulah yang membuat Lara memutuskan persahabatan kami.

“Aku merasa aneh saat itu, karena seingatku poster itu sudah kusingkirkan di celah antara lemari dan dinding kamar. Namun pagi itu rupanya ART kami membersihkan celah itu dan lupa mengembalikannya ke tempat semula. Jadi di sanalah poster itu menatapku, seolah Tuhan memakainya untuk menyadarkanku.”

“Kamu tahu kan momen ketika kita mengalami Tuhan?” tanyanya. Aku mengangguk. “Nah, itulah yang terjadi padaku malam itu. Aku tiba-tiba sadar apa yang menjadi sumber ketidakbahagiaanku: aku mencoba mengandalkan diriku sendiri, padahal aku takkan mampu. Aku mengira dengan ‘jadilah diri sendiri’, semua akan beres dan aku bisa mengubah dunia. Padahal itu tidak benar. Dan malam itu, tulisan di poster itu memberiku harapan.

Ia tersenyum lebar sekarang. “Tuhan sungguh baik. Waktu kupikir aku sangat sendirian malam itu, aku keliru. Karena meski aku telah meninggalkan Tuhan, Tuhan tidak pernah meninggalkan aku. Dan meski aku telah berpaling dari-Nya untuk mencari kesukaan manusia dan bukan kesukaan-Nya, Dia tetaplah Allah yang maha pengasih.” Ia memelukku erat-erat sambil membisikkan terima kasih dan meminta maaf karena pernah menolak persahabatanku. “Kamu mau terus menolongku dengan jadi temanku, kan?” ia bertanya.

Aku mengangguk sepenuh hati, mataku menangkap poster yang terpajang jauh di dinding di belakangnya. Walaupun tulisan pada poster itu terlalu kecil untuk dapat kubaca, aku hafal setiap katanya, yang dikutip dari tulisan Greg Morse: “Don’t ‘ just be yourself’. Be something greater. Be the version of you that Jesus died to create”—“Jangan ‘jadilah dirimu sendiri’, tetapi lebih dari itu. Jadilah dirimu yang ingin diciptakan Kristus lewat kematian-Nya.

Malam ini, di kamarku yang senyap, akhirnya air mataku luruh. Sepotong tulisan C.S. Lewis di Mere Christianity terbit dalam ingatanku. “Cari dirimu sendiri, maka ujung-ujungnya kamu hanya akan menemukan kebencian, kesepian, keputusasaan, kemarahan, kehancuran, dan kebusukan. Namun, carilah Kristus, maka kamu akan menemukan Dia, dan bersama Kristus akan engkau temukan segalanya.”

Untuk pertama kali, aku bersyukur pernah mengirimkan poster itu kepada Lara. Meski persahabatan kami sempat terputus, kini aku tahu, Tuhan punya rencana-Nya sendiri. Perjalanan Lara selanjutnya pastinya bukan hal mudah. Namun, aku akan menemaninya. Dan aku akan memulainya dengan berdoa agar Lara terus mengizinkan Roh Kudus melepaskan dirinya dari pengaruh dunia. Dan agar Roh Kudus terus mengubahnya hingga menjadi versi dirinya yang ingin diciptakan Kristus melalui kematian-Nya.

Bagikan Konten Ini
17 replies
  1. Marianne Scipio
    Marianne Scipio says:

    Wow… sangat memberkati, menguatkan dan menginspirasi.
    Terima kasih Ito.
    Tuhan memberkati.

  2. Yohanes Rombe Paran
    Yohanes Rombe Paran says:

    Its true, terkadang kita merasa hebat dan tidak memerlukan Tuhan, terkadang kita mencari kebahagiaan didunia yg fana dan sementara ini, sedangkan kita lupa bahwa Tuhanlah sumber kebahagiaan dan kedamaian sejati itu. Terimakasih ka, tulisannya juga mengingatkan saya untuk selalu ingat Tuhan, meski hari ini juga saya sedang belajar menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari kemarin. Tuhan Yesus memberkati

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *