Posts

Bukan dengan Amarah, Ini Seharusnya Cara Kita Menghadapi Komentar Jahat di Media Sosial

Oleh Vika Vernanda

Hampir setiap platform media sosial mempunyai kolom komentar. Baik yang fungsinya untuk mengirim pesan, menuliskan cerita, atau mengunggah gambar, kolom komentar memberi kesempatan bagi pengguna media sosial untuk beropini terhadap suatu unggahan.

Aku mengamati komentar-komentar di media sosial. Pada unggahan seseorang terkait momen bahagia, banyak yang berkomentar “selamat ya”, pada unggahan sharing Firman Tuhan, banyak yang berkomentar “terima kasih atas sharingnya”, “sangat memberkati”, “God bless you”. Tidak jarang juga ada yang membuat komentar berisi promosi di setiap unggahan yang viral.

Nah, selain ketiga jenis komentar itu, ada satu lagi yang cukup menarik perhatianku, yaitu hate comment.

Berbeda dari komentar pada umumnya yang bernada positif, hate comment bertujuan menjatuhkan seseorang. Si pengunggah hate comment ingin agar penerima komentar maupun orang-orang yang membacanya jadi tersulut marah atau sedih.

Aku sering merasa kesal dan marah ketika melihat hate comment, baik pada unggahanku sendiri atau orang lain. Dalam hati aku mengumpat, “kok bodoh banget sih”. Mereka yang melontarkan komentar-komentar itu seolah tidak berpikir dengan benar sehingga dengan sadarnya menulis komentar-komentar jahat. Langkah berikutnya yang kulakukan adalah melakukan blokir pada akun sosial medianya, atau yang menurutku paling ekstrim adalah mengkonfrontasi langsung lewat DM. Intinya, aku marah, dan tidak ingin berinteraksi lagi dengan akun sosial media tersebut.

Namun hal tersebut bertentangan dengan apa yang kupelajari dari kisah Yunus.

Yunus adalah seorang nabi yang melarikan diri dari perintah Allah untuk memberitakan firman Tuhan ke Niniwe. Yunus lalu ditelan dalam perut ikan, setelah tiga hari dikeluarkan, dan melakukan perintah Allah. Masyarakat Niniwe menyadari kesalahannya dan mulai bertobat, namun Yunus malah marah.

Kitab Yunus pasal 4 menuliskan kemarahan Yunus; bahkan Yunus meminta Allah mencabut nyawanya (4:3). Pada kondisi Yunus yang seperti itu,

Tuhan menumbuhkan sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur. Yunus sangat bersukacita karenanya. Tetapi keesokan pagi ketika fajar menyingsing, Tuhan membuat seekor ulat menggerek pohon jarak itu sehingga layu. Sesudah matahari terbit, Allah membuat angin timur yang panas terik bertiup, sehingga menyakiti kepala Yunus, lalu ia rebah dan berharap supaya mati.
(Yunus 4 : 6-8 diparafrasekan)

Tuhan menjawab dengan

Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?
(Yunus 4 : 10 – 11)

Pada bagian firman itu, Allah bicara tentang orang Niniwe yang kafir dan kejam itu sebagai “manusia yang tak tahu membedakan tangan kanan dan kiri”.

Timothy Keller dalam bukunya The Prodigal Prophet menuliskan bahwa ini merupakan cara melihat Niniwe yang sangat murah hati! Pernyataan Allah itu merupakan bahasa kiasan yang berarti mereka [orang-orang Niniwe] buta secara rohani, telah tersesat, dan tidak tahu sumber masalah mereka atau apa yang harus diperbuat.

Dalam kondisi ini, bukannya menghukum mereka, Allah menunjukkan simpati dan sikap memahami yang luar biasa.

Media menjadi tempat banyak orang berekspresi secara bebas. Di antara “setiap orang” ini, terdapat juga orang-orang yang tersesat, tidak memiliki tuntunan untuk membedakan benar dan salah. Dalam benak “setiap orang” ini mungkin memang tidak terpikirkan dampak dari hate comment yang mereka sampaikan.

Pada kisah Yunus, Allah menunjukkan sikap simpati dan sikap memahami terhadap orang Niniwe. Bukannya marah karena hujatan mereka kepada-Nya, Ia malah menegur dengan belas kasih yang besar. Allah juga menunjukkan sikap yang sama pada Yunus; bukannya pergi atau memblokir relasinya dengan Yunus atau orang Niniwe, Ia malah hadir merengkuh mereka.

Aku tahu, hate comment seringkali memicu amarah dan bahkan menyakiti. Meski sulit, tapi mari kita belajar merengkuh mereka. Belajar seperti Allah dalam kisah ini, menyadari bahwa mereka tersesat dan tidak memiliki tuntunan.

Mari ambil waktu untuk berdoa. Berdoa meminta Allah menolong kita untuk mengampuni perbuatan mereka, serta juga secara pribadi mendoakan mereka agar mereka menyadari perbuatan tidak terpuji yang mereka lakukan dan bersedia untuk berubah.

Sulit memang. Tapi, yuk berjuang meneladani kasih Allah kepada orang yang sulit kita kasihi.

Baca Juga:

Ketika Perbuatan Baik Malah Disalahartikan

Tindakanku untuk berbuat baik hampir saja mengandaskan persahabatan kami. Kupikir aku sedang menolong temanku, tapi dia malah melihat hal sebaliknya.

4 Jurus Melawan Pikiran Negatif

Oleh Melissa Koh, Malaysia
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Truths To Guard Your Mind Against Destructive Thoughts

Hanya dengan scrolling di media sosial kepercayaan diri yang kita bangun bisa runtuh dalam sekejap. Kita memang tahu kalau media sosial tidak menampilkan realitas sesungguhnya, tapi terkadang kita pun terjatuh ke dalam perangkap ini.

Izinkan aku menggambarkan isi pikiranku ketika aku tidak melindunginya dari dampak destruktif media sosial:

Aku jadi sebal ketika ada orang lain yang kariernya lebih sukses dariku, dan yang mampu membeli banyak barang sementara aku cuma bisa melihat-lihat saja.

Aku iri atas jalan hidup yang dipilih orang lain, yang tampaknya lebih berbuah dan menjanjikan daripada hidupku. Dulu dan sekarang, aku takut kalau penghasilanku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhanku dan keinginanku. Jadi, aku mulai mendengarkan diskusi seputar investasi dan aku berpikir, “Ini bisa jadi terobosan di hidupku!”

Tapi, sekarang pun aku tetap jadi orang yang khawatir. Aku menenangkan saraf-sarafku dengan melihat-lihat Instagram…tapi cara ini malahan membuatku merasakan kekosongan yang semakin besar dalam hidupku. Aku terus berpikir, ‘seandainya saja…’, dan lingkaran setan pun terus berlanjut.

Selesai bermain Instagram, rasa kecewa dan tidak puas menghantui. Bagaimana caranya kita bisa tetap bersukacita dan merasa cukup sebagai orang Kristen di tengah dunia yang telah jatuh dalam dosa?

Bertentangan dengan apa yang dunia tawarkan, inilah empat kebenaran dari Alkitab yang meneguhkan kita di tengah tekanan dunia.

1. Kita diberkati melebihi harta-harta duniawi

Kapan pun aku merasa hidupku tidak berdampak, aku dihibur oleh kebenaran bahwa ketika kita memilih untuk percaya pada Yesus kita menjadi ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah (Roma 8:17).

Marshall Segal, penulis dari Amerika dalam artikelnya, “Live Like Sons and Daughters of the King” menuliskan demikian:

Pertama, ketika Allah menebus kita, Dia menjamin kita. Dia tidak pernah melupakan ataupun meninggalkan anak-anak-Nya. Bersama Kristus, kita punya jaminan yang kekal. Kedua, kita memiliki keintiman—relasi yang dalam dan memuaskan dengan Bapa Surgawi, yang mengasihi kita tanpa syarat, dan yang janji-Nya melindungi dan memelihara kita. Ketiga, bersama Kristus, kita menjadi ahli waris dari segalanya—perlindungan, keintiman, dan yang kekayaan yang sejati.

Apa yang Allah berikan pada kita tidaklah sama dengan apa yang dunia tawarkan. Di saat kita diminta untuk mendapat pengakuan dari orang-orang, Kristus menyerahkan hidup-Nya agar kita mendapatkan tempat dalam kerajaan-Nya.

Ketika aku berjalan dekat dengan-Nya dan mengikuti panduan Roh Kudus, aku tahu aku jauh diberkati melampaui apa yang dunia sanggup berikan. Daripada mengizinkan diriku habis digerogoti oleh rasa iri hati dan kepahitan, aku dapat bersandar pada Bapa Surgawi dan mengetahui bahwa Dia menyediakan segala yang kubutuhkan.

2. Kita dapat menyerahkan kekhawatiran kita pada Allah

Pilihan kita untuk mengikut Allah berarti mempercayai Dia sepenuhnya. Ketika ketakutan dan kekhawatiran muncul dalam hati kita, segeralah datang ke hadirat-Nya, seperti Filipi 4:6-7 mengingatkan kita:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Menjaga diri untuk tidak khawatir adalah suatu tantangan, terlebih ketika kita merasa terjebak dalam pekerjaan kita sekarang, atau ketika teman-teman kita tampaknya lebih sukses dalam karier mereka. Tapi, ketika kita mengingat bahwa Allah Sang Pencipta ada bersama kita dan kita memilih untuk tetap berada di dekat-Nya, kita dapat menyerahkan segala yang kita rasakan pada-Nya dalam doa.

3. Fokuslah kepada kasih Allah yang tidak terbatas

Setelah lulus dengan gelar sarjana hukum, aku menantang diriku untuk kerja ke kota besar. Aku melamar dengan semangat dan mendapat kerja di sebuah firma kecil yang mengurus registrasi properti intelektual, sebuah pekerjaan yang memang aku inginkan. Tapi, setelah dua bulan aku kewalahan, dan aku merasa kurang diapresiasi.

Aku keluar dari pekerjaan itu dan kembali lagi jadi job-seeker. Masa-masa ini kugunakan untuk merenung dan mencari tujuan Allah bagi hidupku. Memang berat kembali jadi pengangguran di saat teman-temanku lainnya telah bekerja di tempat yang membuat mereka bertumbuh, tapi aku yakin keputusanku untuk keluar itu tepat. Aku butuh pekerjaan yang memberikanku keseimbangan hidup.

Setelah beberapa waktu, aku diterima di tempat kerja yang lebih dekat dengan rumah dan memungkinkanku untuk pulang setiap hari tanpa merasa kewalahan. Aku juga bisa tetap melayani di gereja. Ketika teman-teman sebayaku pergi merantau dan meninggalkan gereja, tetap berada di kota asalku itu rasanya sangat berarti buatku.

Ketika aku mengingat kembali momen-momen itu, aku diteguhkan bahwa sekalipun kita tidak mengerti apa maksud Tuhan atas apa yang kita alami, kita dapat dengan setia menanti Dia (Mazmur 37:7).

Ketika kita terlalu fokus pada apa yang dunia tawarkan atau kepada apa yang tak kita punya, kita akan sulit melihat kasih Allah dan tujuan-Nya bagi hidup kita. Visi Allah bagi kita mungkin bukanlah tentang mewujudkan keinginan atau gaya hidup yang kita dambakan, tapi ketika kita mengikuti arahan-Nya, hidup kita akan berbuah kebenaran.

4. Berinvestasi pada kerajaan yang kekal

Akhirnya, sebagai pengikut Kristus, kita perlu menginvestasikan hidup kita lebih banyak dalam membangun kerajaan Allah. Matius 6:19-21,33 mengingatkan kita bahwa harta di bumi bisa hancur oleh ngengat dan karat atau raib oleh pencuri, tetapi harta di surga akan ada untuk selamanya.

Bagiku, menginvestasikan hidup dalam membangun kerajaan Allah salah satunya ialah menggunakan gaji yang Tuhan telah berikan dan berkati untukku, untuk mendukung rekan-rekan mahasiswa seminari, atau menggunakannya kepada lembaga yang menolong orang-orang yang berkekurangan, terkhusus yang terdampak karena pandemi.

Aku juga mengambil kesempatan untuk memberkati orang lain melalui hal-hal yang bersifat non-material, seperti memimpin kebaktian daring. Meskipun menyisihkan sedikit gajiku berarti aku tidak bisa membeli tas-tas baru atau peralatan kosmetik yang mahal, menggunakan uang itu untuk hal-hal yang lebih bernilai memberiku kepuasan lebih daripada kesenangan duniawi.

Meskipun kita merasa keadaan sedang mendorong kita melampaui batasan kita, sungguh suatu penghiburan untuk mengingat bahwa tidak ada satu hal pun yang terlalu sulit bagi Allah, dan kita bisa bersandar pada anugerah-Nya yang menguatkan kita setiap hari. Di dalam dunia yang terus memikat kita untuk hidup sesuka hati, marilah berdoa dan mencari hikmat-Nya dalam segala musim hidup kita, agar pondasi iman kita tertancap teguh.

Baca Juga:

Teruntuk Kamu yang Sedang Berbeban Berat

Menguatkan kembali pundak yang didera beban terlampau berat sungguh bukanlah pekerjaan yang mudah. Itu upaya yang akan melibatkan derai air mata, dan bukan tidak mungkin pula keputusasaan selalu mengetuk hati kita. Tetapi ingatlah…

Di Kala Aku Mundur Sejenak dari Media Sosial

Oleh Marcella Liem, Bekasi

Sejak tahun 2010 aku memiliki akun media sosial. Saat itu akun medsos pertama yang kumiliki adalah Friendster. Sebagai pribadi introver, hadirnya media sosial membantuku dalam berhubungan dengan orang lain karena tidak harus bertemu langsung.

Selain itu, media sosial juga memberiku manfaat lain. Perjalananku membuat hand-lettering diawali dengan melihat unggahan karya orang lain. Aku menyukainya lalu belajar meniru goresan-goresannya sampai aku bisa menghasilkan karya hand-letteringku sendiri. Setelah aku mengunggah karya-karyaku, aku berkenalan dengan para seniman hand-letterer yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri. Selain lettering, aku juga senang mengunggah foto-foto pribadiku saat berkegiatan, foto liburan, atau pun foto diri dengan baju yang fashionable. Ada rasa bahagia ketika unggahanku dibagikan kepada orang lain.

Namun, di balik manfaat itu, aku juga merasakan sisi negatifnya. Karena melihat unggahan teman-temanku yang berseliweran di linimasa, aku overthinking dan insecure. Unggahan tentang keberhasilan materi, bentuk tubuh yang ideal, traveling ke tempat-tempat tertentu, membuatku jadi membandingkan diri. Aku merasa rendah diri menghadapi dunia ini, yang berujung pada aku membenci diriku dan merasa aku adalah sebuah kegagalan di dunia.

Rasa insecure-ku bertambah parah karena aku semakin ingin terlihat ideal menurut standar medsos. Aku khawatir ketika jumlah likes dan followers kecil, sehingga aku pun impulsif mengunggah sesuatu demi impresi yang baik di medsos. Kecemasan kalau-kalau aku tidak punya teman juga mengusikku, sampai berbagai cara kulakukan supaya aku tetap bisa punya teman.

Efek jangka panjangnya adalah hidupku menjadi tidak tenang dari hari ke hari. Aku merasa sendirian dan tidak tahu harus berjalan ke mana. Bagiku saat itu medsos adalah cerminan hidup yang sesungguhnya.

Sampai suatu ketika, aku menonton film dokumenter yang berjudul “The Social Dilemma”. Film ini menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya di balik medsos, dan bagaimana dampaknya. Selama ini kita menggunakan medsos semudah membuka aplikasi dan melihat unggahan teman-teman kita. Namun, di balik proses yang tampaknya sederhana itu terdapat sistem artificial intelligence (AI) yang menghasilkan sebuah algoritma. Sistem AI merekam aktivitas kita untuk kemudian menyajikan kita konten-konten yang sesuai dengan preferensi kita. Tapi, sistem ini punya kelemahan. Ia tidak dirancang untuk mengetahui mana yang benar dan salah. Kita akan terus disuguhi oleh konten yang relevan dan sama dengan preferensi kita.

Media sosial yang sejatinya punya manfaat baik menjadi destruktif ketika aku membiarkan pikiranku dikuasai olehnya. Bermain medsos dengan tidak bijak membuatku lupa cara menilai diriku dengan benar. Citra diriku rusak oleh algoritma yang menyajikan konten-konten yang membuat hatiku menjadi iri, Sehingga secara tidak sadar aku menuntut diriku untuk menjadi sama seperti yang dilihat di medsos. Mengetahui bahwa aku telah salah dalam memaknai medsos, aku pun memutuskan untuk undur diri sejenak, atau istilah lainnya adalah social media detox. Inilah yang kudapatkan dari proses itu:

1. Kita semua berharga di mata Allah (Yesaya 43:4)

Kembali kepada masa penciptaan, Allah menciptakan kita seturut dan serupa gambar-Nya (Kejadian 1:27).

Mungkin kita terlahir berkulit sawo matang, mata sipit, rambut keriting, atau bertubuh kerdil. Apa pun keadaan fisik kita, kita tetaplah ciptaan-Nya yang berharga. Tuhan tidak menyayangi kita karena rupa kita, tetapi karena Dialah sumber kasih sayang itu. Dia mengasihi kita dalam segala keadaan, baik susah maupun senang, bahkan jika kita terpuruk sekalipun.

Di mata-Nya kita sangat berharga bahkan lebih dari ciptaan-Nya yang lain (Lukas 12:24). Kita pun ditebus dengan darah Kristus karena kasih-Nya kepada kita.

2. Kita diciptakan dengan tujuan

Tuhan sudah merencanakan penciptaan kita. Perencanaan-Nya tidak asal-asalan, melainkan rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11). Katekismus Westminster menambahkan pula bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan bersukacita di dalam Dia untuk selama-lamanya.

Tuhan memberkati kita sejak kita lahir (Yeremia 1:5) untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi dunia ini. Meskipun dosa membuat kita tidak sempurna, tetapi dalam kekurangan kita sekalipun, Allah dapat menggunakan kita agar pekerjaan-Nya dapat dinyatakan (Yohanes 9:3), dan melalui kekurangan kita jugalah kuasa-Nya dapat menjadi sempurna (2 Korintus 12:9).

3. Tuhanlah sumber penghiburan

It’s okay not to be okay. Ada kalanya kita harus mengakui bahwa tidak selamanya semua hal baik-baik saja. Insecure dan overthinking adalah hal wajar, tetapi harus dapat kita atasi. Namun di balik semuanya itu, kita memiliki Tuhan yang selalu ada untuk kita. Melalui datang kepada-Nyalah kita dihibur seperti yang dikatakan-Nya demikian:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11 : 28-30).

Mungkin beberapa dari kita sedang lelah akan beban pikiran kita terkait dengan overthinking dan insecure, namun datanglah kepada Tuhan ceritakanlah semua apa yang kamu alami kepadaNya maka ia akan memberikan hiburan berupa kelegaan untuk kita.

Media sosial memudahkan kita untuk berhubungan dengan orang lain, tetapi janganlah sampai membuat kita lupa akan citra diri kita yang sejati. Juga jangan sampai membuat kita menjauhi hubungan dengan Tuhan. Kitalah tuan atas media sosial, bukan sebaliknya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menangislah Dengan Orang yang Menangis

Kita takut untuk terlihat rapuh dan lemah, padahal Allah membuka ruang bagi kita ketika kita sedang lemah dan bersedih. Ia membuka diri-Nya untuk mendengar keluh kesah dan ratapan kita.

Kala Instagram Merenggut Sukacitaku

Oleh Minerva Siboro, Tangerang

Suatu ketika, aku melihat status temanku di Facebook. “Untuk saat ini tidak akan aktif dalam media sosial manapun. Seluruhnya telah menjadi racun bagiku dan mungkin hanya bisa menghubungiku lewat WA saja,” tulisnya. Dengan membaca status itu, aku menerka, mungkin saja temanku ini sedang bergumul karena ketergantungan pada media sosial. Aku lalu merefleksikan pada diriku sendiri, apakah aku mengalami yang sama?

Saat aku menjelajah Instagram, kulihat story teman-temanku berjejer. Ketika kubuka, kulihat betapa aktif dan banyaknya kegiatan yang mereka lakukan. Tiba-tiba, aku merasa kepercayaan diriku ambruk. “Kapan aku bisa seperti itu? Fotonya bagus banget! Kalau dibandingin denganku, aku sepertinya tidak ada apa-apanya. Aduh, kok aku gak seberuntung dia. Aku harus posting juga deh foto ini supaya kelihatan keren!” Tanpa kusadari, aku melewatkan waktu dua jam untuk melihat story teman-temanku dan membandingkannya dengan diriku sendiri, bahwa aku sepertinya selalu kurang jika dibandingkan dengan unggahan teman-temanku itu.

Segera kututup Instagramku dan berdoa, “Tuhan, ampunilah aku yang menganggap diriku tidak lebih baik dari orang lain, terlebih aku telah membuat Engkau terpojokkan. Engkau yang telah menciptakanku dengan sangat baik adanya, tapi aku tidak mensyukuri karya-Mu yang luar biasa dalam diriku ini.”

Aku ingat khotbah dari pendetaku saat kebaktian Minggu di gereja. Kira-kira beginilah kata-katanya, “Jikalau kamu merasa dirimu berharga (sebab Allah telah menciptakan kamu), maka hal-hal berharga lainnya (uang, jabatan, kemewahan) yang tidak kamu miliki bukanlah standar yang membuat dirimu berharga.” Jika saat ini kita tak punya baju bagus, rumah mewah, kendaraan yang keren, itu tidaklah masalah. Kepemilikan atas benda-benda tersebut bukanlah indikator seberapa berharganya diri kita. Kita berharga karena Allah yang telah menciptakan kita. “Untuk mencapai kepuasan diri, maka lihatlah betapa berharganya dirimu di hadapan Tuhan.” Dari perenungan itu, aku menyadari bahwa kunci kebahagiaan sejatinya bukanlah ada pada apa yang belum kita miliki atau apa yang ingin kita tambahkan, melainkan pada apa yang sudah kita miliki: talenta dan karunia yang telah Allah berikan.

Manusia adalah imago Dei, segambar dan serupa dengan Allah seperti tertulis dalam Kejadian 1:26a-27. Citra kita sebagai gambaran Allah adalah sebuah keistimewaan. Meski kita telah jatuh ke dalam dosa, Allah tetap menjadikan kita istimewa hingga Dia datang ke dunia dalam rupa Kristus untuk menyelamatkan kita.

Aku adalah satu-satunya di antara sekian banyak umat manusia di dunia ini. Saat aku belajar biologi, aku mengetahui bahwa tidak ada satu pun dari antara seluruh umat manusia memiliki DNA yang sama. Bahkan, dua orang yang kembar identik pun DNA-nya berbeda. Tak ada satu pun manusia yang tak berharga. Semuanya diberi talenta dan kemampuan yang berbeda-beda, supaya setiap dari kita bisa saling melengkapi di dalam persekutuan yang bertumbuh dalam Tuhan.

Aku sangat bersukacita membayangkan betapa beruntungnya aku memiliki Tuhan yang sangat besar dan menyayangiku dengan sangat istimewa. Terlebih lagi, Tuhan mengenali satu persatu umat-Nya, yang Dia bentuk dengan tangan-Nya sendiri (Yeremia 1:5). Aku masih terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Godaan memang selalu datang. Ilah-ilah palsu dunia ini merayuku dan menarikku untuk menjauh dari Tuhan dengan mengajakku untuk memercayai bahwa diriku kurang ataupun tidak berharga.

Menikmati media sosial dengan perspektif baru

Aku tidak menutup akun media sosialku. Menurutku, banyak hal positif yang aku dapatkan dari media sosial, seperti berita dan informasi, kondisi teman-teman lamaku, keluargaku yang jauh, bahkan bekerja pun lewat media sosial. Hal yang aku lakukan agar media sosial tidak lagi membuatku tidak bersukacita yaitu dengan cara menggunakannya sesuai porsi yang tepat. Aku juga belajar untuk mengatur waktu dan mengendalikan diriku sendiri saat bermain media sosial. Saat ini aku sangat bersukacita dengan apa yang sudah aku miliki dari Sang Pemilik itu sendiri.

Ravi Zacharias, penulis buku “The Grand Weaver” menyebut-Nya dengan istilah “Sang Penenun Agung”. Aku sangat menyukai sebutan itu. Tuhan telah “menenunku” sedemikian rupa dalam suatu tujuan dan ketetetapan yang kekal. Seperti yang dikatakan dalam Mazmur 139:13-17 “Engkaulah yang membuat bagian-bagian halus di dalam tubuhku dan menenunnya di dalam rahim ibuku. Terima kasih karena Engkau telah membuat aku dengan begitu menakjubkan! Sungguh mengagumkan kalau direnungkan! Buatan tangan-Mu sungguh ajaib—dan semua ini kusadari benar. Pada waktu aku dibentuk di tempat tersembunyi, Engkau ada di sana. Sebelum aku lahir, Engkau telah melihat aku. Sebelum aku mulai bernafas, Engkau telah merencanakan setiap hari hidupku. Setiap hariku tercantum dalam Kitab-Mu! Tuhan, sungguh indah dan menyenangkan bahwa Engkau selalu memikirkan aku. Tidak terhitung betapa seringnya pikiran-Mu tertuju kepadaku. Dan ketika aku bangun pada pagi hari, Engkau masih juga memikirkan aku.” (FAYH).

We are so precious, kita sungguh berharga.

Baca Juga:

4 Jurus untuk Mengatasi Kekhawatiran

Mengatasi khawatir itu susah-susah gampang. Kita tahu janji Tuhan, tapi hati ini kerap menolaknya. Yuk simak 4 jurus ini untuk mengatasinya.

Penginjilan lewat Media Sosial, Bagaimana Caranya?

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat, TikTok, Podcast di Spotify, ada banyak aplikasi dan media sosial yang saat ini digandrungi bukan hanya oleh kalangan remaja tetapi juga oleh orang dewasa. Aku juga merupakan pengguna media sosial yang cukup aktif, meskipun aku tidak punya akun di semua medsos tersebut. Di zaman post-modern ini, segala lini di media sosial dapat menjadi ladang yang subur untuk kita menuai benih firman Tuhan. Ada jutaan pengguna media sosial di Indonesia dan mereka selalu berpetualang di dunia maya. Bayangkan jika konten yang ada di media sosial kita dapat mengenalkan mereka tentang kasih Tuhan.

Perintah untuk memberitakan Injil bukan hanya untuk rohaniawan seperti misionaris atau pun pendeta, tetapi adalah tugas semua orang percaya (Matius 28:18-20). Sebagai seseorang yang belajar untuk memberitakan Injil melalui media sosial, aku ingin membagikan 5 tips untuk melakukannya:

1. Sebelum memulai menginjili orang lain, milikilah hubungan pribadi dengan Tuhan melalui merenungkan firman-Nya

2 Timotius 3:16-17 mengatakan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Alkitab adalah sumber dari segala hikmat dalam kita melakukan sesuatu. Ya, buku yang ditulis lebih dari 2000 tahun yang lalu itu masih sangat relevan untuk membimbing bagaimana cara kita hidup seharusnya. Alkitab mungkin tidak secara spesifik memberi arahan bermedia sosial, toh pada saat Alkitab ditulis, media sosial belum eksis. Tapi, Alkitab dengan jelas memberi arahan apa saja yang bisa kita bagi dan pelajari di sosial media.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4:8

Kita tidak bisa membagikan sesuatu yang tidak kita miliki, bukan? Ketika kita ingin memberitakan Injil, kita perlu melekat dan memiliki hubungan dengan Sang Sumber pemberi hikmat, yaitu Tuhan sendiri. Dengan setia membaca, merenungkan, dan melakukan firman Tuhan, kita akan memiliki hikmat untuk memberitakan kasih Allah kepada dunia melalui media sosial kita.

2. Jadi dirimu sendiri

Menjadi diri sendiri adalah cara terbaik bagi kita untuk melayani orang lain. David G. Benner dalam bukunya, The Gift of Being Yourself, mengatakan: “Saat kita menjadi semakin serupa dengan Kristus, maka kita akan menjadi semakin unik sebagai diri kita yang sejati.” Benner mengajak kita untuk menjalani kehidupan yang otentik di hadapan Allah dan dunia.

Menjadi diri sendiri akan mempengaruhi apa yang akan kita bagikan di media sosial kita. Mengetahui apa yang menjadi bakat dan minat kita, memaksimalkannya dan menunjukkannya kepada dunia adalah kombinasi yang sempurna untuk menyatakan kebaikan Allah. Misalnya, ketika kita hobi menulis maka kita akan menciptakan sebuah tulisan yang memuliakan Allah. Jika dirimu menyukai fashion, otomotif, menyanyi, menggambar, atau memiliki kepedulian di bidang kesehatan, semua hal itu dapat kita pakai untuk menyatakan kemuliaan Tuhan jika dibagikan.

Jadi mari mengenal diri kita sendiri di dalam Tuhan, melayani orang lain dengan bakat kita dapat kita lakukan dengan memberitakannya melalui media sosial.

3. Membaca lebih banyak, belajar lebih banyak

Mengetahui apa yang menjadi bakat kita saja tidaklah cukup, kita perlu terus berlatih dan belajar untuk memaksimalkannya menjadi lebih baik. Bisa dengan membaca buku, menonton video tutorial, dengan rendah hati mau belajar dari orang yang lebih berpengalaman, mengikuti kursus dan berbagai macam cara lainnya yang berkaitan dengan bakat dan minat kita itu.

Terkhusus jika kita ingin bersaksi di sosial media kita perlu belajar seperti bagaimana cara mengambil gambar dengan baik, mengedit foto, video, audio atau membuat desain tulisan menggunakan aplikasi di gawai kita masing-masing. Saat ini sudah ada banyak aplikasi di playstore yang dapat mendukung tampilan konten supaya lebih menarik.

Namun, tidak perlu menunggu menjadi profesional yang sempurna dalam membuat konten untuk memulai memberitakan kabar baik di sosial media. Langkah pertama perlu dilakukan, meski seringkali sulit. Kita akan diperhadapkan dengan rasa malu, kurang percaya diri, takut menerima kesan negatif dari orang lain, tapi jangan berkecil hati. Niat baik kita untuk memberitakan Injil akan senantiasa didukung oleh Allah. Mulailah saat ini dengan apa yang kita miliki sembari terus memperbaiki diri.

4. Tidak lupa menjadi berkat di dunia nyata

Craig Groeschel dalam bukunya #Struggles mengatakan bahwa “Hidup bukanlah tentang berapa banyak hitungan likes yang kamu dapatkan. Melainkan tentang seberapa banyak kasih yang kamu perlihatkan.” Dia juga menambahkan demikian “Mereka (followers kita di sosial media) takkan tahu kamu adalah murid-Nya dari berapa banyak followers-mu. Mereka takkan tahu kamu adalah murid-Nya dari berapa banyak hitungan likes yang kamu dapatkan. Mereka takkan tahu kamu adalah murid-Nya dari seberapa cepat kamu membalas email. Percaya atau tidak, mereka bahkan takkan tahu kamu adalah murid-Nya dari berapa banyak ayat Alkitab yang kamu posting. Tidak, mereka akan tahu kamu murid Yesus ketika mereka melihat kasih-Nya di dalammu lewat tindakan-tindakanmu.”

Jangan sampai keinginan kita untuk menjadi berkat di media sosial menghalangi hubungan kita dengan manusia di dunia nyata. Kita perlu hadir di tengah-tengah mereka sama seperti yang Yesus teladankan kepada kita. Dia Allah yang mau duduk dan makan bersama dengan orang-orang berdosa yang dipandang sebelah mata oleh dunia, yaitu kita. Menjalin hubungan dengan orang lain dan hadir dalam hidup mereka merupakan cara yang tidak akan pernah gagal untuk membangun Gereja.

Yang terpenting dari menjadi pemberita Injil di media sosial bukan seberapa banyak jumlah likes dan followers kita, tetapi apakah yang kita tuliskan di dunia maya juga kita lakukan di dunia nyata? Apa yang kita bagikan di dunia maya seharusnya selaras dengan sikap dan tindakan kita di kehidupan nyata, supaya kesaksian kita bukan kesaksian bohong atau munafik.

5. Memiliki fokus dan sikap hati yang benar

Ketika kita mulai menggunakan media sosial akan ada kemungkinan kita akan kecanduan. Memiliki hasrat untuk semakin terkenal, berpikir keras untuk memiliki banyak likes di setiap postingan, mendapatkan semakin banyak followers dan mungkin juga membandingkan diri dengan pengguna media sosial lainnya. Kita perlu berhati-hati karena manusia tidak ada yang kebal dengan dosa kesombongan dan iri hati.

Aku pun pernah mengalami kecanduan media sosial dan membandingkan diriku dengan orang lain. Tuhan menegurku dengan firman-Nya yang aku baca di Alkitab dan buku rohani. Ternyata untuk terus memiliki motivasi hati yang murni, kita perlu terus memelihara hubungan pribadi kita dengan Tuhan.

“Allah yang menciptakan segala sesuatu. Semuanya berasal dari Allah dan adalah untuk Allah. Terpujilah Allah untuk selama-lamanya! Amin.” Roma 11:36 (BIMK).

Dia terus bekerja membentuk karakter dan bakat kita hingga saat ini. Terkadang, Tuhan juga memakai orang lain untuk menegur kita. Diperlukan kerendahan hati untuk mau mengakui kesombongan dan motivasi kita yang salah. Tak mengapa kita sedang berproses bersama-sama, ketika menyadari kesalahan kita bisa segera bangkit dan bertobat. Akhir dari semuanya: kiranya hanya nama Tuhan saja yang dipermuliakan ketika kita menggunakan media sosial.

Baca Juga:

3 To-Do-List Saat Kita Melakukan Penginjilan

Memberitakan Injil adalah tugas semua orang percaya. Tapi, untuk melakukannya ada tiga hal yang harus kita siapkan lebih dulu.

3 Hal yang Kupikirkan Sebelum Memposting di Media Sosial

Oleh Michelle Lai, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Would Jesus Like Your Post On Social Media?

Kalau Tuhan memiliki akun di media sosial, apakah Dia akan menyukai postingan yang kamu buat?

Dulu aku adalah orang yang selalu memposting foto ke Instagram setiap hari. Di bawah foto itu aku menuliskan caption untuk memberitahu para followers-ku tentang apa yang kurasakan saat itu. Aku memposting cerita refleksi diri yang sedih, cerita lucu, dan bahkan kemarahan. Itulah caraku untuk mengekspresikan diriku, juga mengatasi kebosanan dan kesepianku. Aku bisa “bicara” kepada para followers-ku tanpa harus benar-benar berdiskusi atau bertemu langsung dengan mereka.

Namun, kemudian aku belajar satu kenyataan yang keras, bahwa meskipun kita punya kebebasan untuk mengekspresikan diri, kita juga seharusnya bertanggung jawab atas apa yang kita ekspresikan atau unggah di ruang publik.

Aku telah belajar bagaimana seharusnya aku bertindak di media sosial dengan cara yang sehat, dan inilah tiga pertanyaan yang seringkali kuajukan kepada diri sendiri sebelum aku memposting sesuatu:

1. Apakah postinganku bermanfaat buat temanku?

Aku suka mendengarkan lagu-lagu bernuansa sedih, dan sering memposting liriknya dengan atau tanpa maksud pribadi. Karena postingan itu bersifat emosional, temanku sering bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak. Aku tidak mau menjelaskan apapun kepada mereka, sebab aku cuma ingin mendapatkan respons dari mereka. Tapi, seringkali respons yang kudapat tidak seperti itu. Mereka yang bukan teman terdekatku malah mengomentari seputar hidup dan aktivitasku. Sedangkan teman-teman yang kuanggap paling dekat malahan menjadi orang yang paling akhir mengetahui masalah-masalah yang kualami karena mereka tidak melihat postinganku di Instagram.

Semuanya ini membuatku merasa rentan tapi aku ingin dikenal oleh dunia. Ini adalah dilema yang lucu. Di satu sisi aku merasa lega ketika mengungkapkan perasaanku di media sosial, tapi aku juga merasa kosong kalau tidak ada orang yang menanggapiku. Dan, di sisi lainnya, aku pun merasa kewalahan kalau semisal teman-temanku menanggapiku.

Aku tidak sedang memuliakan Tuhan dengan perkataan mulutku dan perenungan di hatiku (Mazmur 19:15). Kebiasaanku di media sosial itu tidak hanya menghadirkan masalah dalam relasiku dengan teman-temanku, itu juga membuatku menjadi seorang yang haus akan penerimaan, menjelaskan diriku, dan mencari kepuasan yang instan.

Jika dahulu aku memperlakukan media sosial seperti buku harianku, sekarang aku menggunakannya sebagai alat untukku terhubung dengan teman-teman dekatku. Sebagai contoh, aku memposting puisi-puisi Kristen untuk menguatkan teman-temanku, atau membagikan sedikit pencapaianku untuk merayakannya bersama teman-temanku dan menyemangati mereka. Aku juga berusaha untuk mengurangi intensitasku mengunggah sesuatu tentang kehidupan sehari-hariku, dan hanya memposting gambar bersama orang yang kukasihi. Aku mengingatkan diriku untuk tidak terus mengecek media sosialku setelah aku mengunggah sesuatu, menanti like demi like yang diberikan oleh followers-ku. Ketika aku melihat sesuatu yang menarik yang dibagikan temanku di media sosial, seperti foto-foto dari perjalanan mereka, aku coba untuk bertemu mereka secara langsung dan mengobrol lebih banyak tentang apa yang sudah mereka unggah.

2. Sudahkah aku mengambil waktu sejenak untuk memikirkan kembali apa yang mau kuposting?

Sekarang, aku tidak segera menuliskan status ketika aku merasa ingin melakukannya. Aku memberi waktu sejenak kepada diriku untuk berpikir apakah postingan ini diperlukan, apakah itu baik, dan apakah itu membuatku memanjakan diri

Aku belajar bahwa menceritakan perasaanku kepada seseorang—daripada mempostingnya di media sosial—memberikanku privasi untuk menjaga isu itu tetap pribadi dan profesional dalam situasi tertentu. Ketika aku membagikan pergumulanku kepada temanku atau pembimbingku, aku seringkali bisa mendapatkan perspektif yang lain. Ini memberikanku waktu untuk memproses pemikiranku. Aku menyadari ketika aku memberikan jeda beberapa saat untuk memikirkan apakah aku akan mengunggah sesuatu atau tidak, seringkali keinginan itu pudar dan kuanggap tidak lagi mendesak. Aku perlu berhati-hati dengan emosiku untuk tidak gegabah mengunggah sesuatu.

3. Apakah aku memuliakan Tuhan atau menjadi batu sandungan buat orang lain?

Aku pernah bekerja kelompok dengan seorang rekan sekelas. Ketika aku berselisih pendapat dengan salah satu dari mereka, aku mengirimkan emoji marah di grup chat kami. Akibatnya relasiku dengan seluruh kelompok jadi terganggu.

Media sosial memang diciptakan bukan untuk sekadar berbagi hal-hal yang membahagiakan, tapi sebagai pengikut Kristus kita tidak seharusnya mengunggah sesuatu yang dapat menjadi batu sandungan buat orang lain. Aku tidak seharusnya beraktivitas di media sosial tanpa mempertimbangkan bagaimana kata-kata yang kutulis nanti akan berdampak kepada orang lain.

Pemazmur dalam Alkitab tidak takut untuk menuliskan mazmur yang sedih dan marah, tetapi yang paling utama adalah segala tulisannya, pemazmur selalu berfokus kepada Tuhan. Meski aku tidak berpikir bahwa kita harus menahan diri dari memposting sesuatu tentang isu-isu seperti depresi, atau bahkan membagikan cerita pengalaman kita bahwa kita lelah atau merasa sedih pada suatu hari, aku belajar dari pemazmur bahwa postinganku harus selalu mengarahkan orang lain kembali pada Tuhan. Contohnya, ketika aku menuliskan puisi-puisi terkait depresi, aku menyertakan Tuhan di dalamnya. Aku juga menyertakan link yang ketika diklik akan mengarahkan pembacaku kepada lembaga yang mampu menolong mereka secara profesional. Aku memastikan untuk mengakhiri puisi-puisiku dengan harapan.

Meskipun tidak mudah untuk mengubah kebiasaanku bermedia sosial, aku belajar bahwa kita semua dipanggil untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita, dan menjaga kata-kata yang keluar dari mulut atau ketikan jari kita adalah permulaan yang baik.

Baca Juga:

Menjadi Pemimpin di Kelompok Kecil, Cara Tuhan Mengubahkan Hidupku

Aku pernah menolak panggilan untuk melayani sebagai pemimpin kelompok kecil. Aku merasa tidak layak dan dak mampu. Namun, Tuhan menggerakkan hatiku hingga akhirnya aku menjadi pemimpin dari kelompok kecil beranggotakan 8 orang, dan melalui inilah Tuhan mengubahkanku.

Media Sosial Bukanlah Tempat Curhat Terbaik

Oleh Christina Kurniawan, Bandung

Kita semua tentu mengenal Facebook. Lewat media sosial itu, kita bisa memposting foto, tulisan, dan berbagai info yang ingin kita sebarkan serta saling terhubung dengan teman-teman kita. Buatku sendiri Facebook punya satu fungsi lainnya, yaitu tempat untukku menceritakan segala keluh kesahku.

Hal itu persisnya terjadi beberapa tahun lalu. Ketika aku memiliki masalah atau mendapati hal-hal yang membuat aku sedih dan kesal, aku langsung mengambil ponselku dan meng-update status di Facebook. Bahkan masalah keluarga pun pernah aku utarakan di sana. Kadang, kalau aku terlibat konflik atau merasa tidak suka dengan seseorang, aku juga menuliskan kalimat-kalimat sindiran dalam status Facebookku.

Emank susah ya berurusan dengan orang yang pengennya terus menerus dimengerti, merasa dia yang paling benar. Coba kalau sama atasannya di tempat kerja, apa dia masih berani seperti itu?” tulisku di salah satu status Facebookku.

Melampiaskan segala keluhan serta menyindir orang lain di Facebook membuatku merasa puas. Kalau belum update, rasanya selalu tidak tenang. Dengan mencurahkan masalah-masalahku di sana, aku pikir orang lain jadi tahu akan pergumulanku dan mungkin saja mereka akan mendukungku atau ikut menyalahkan orang yang kusindir.

Hingga suatu ketika, aku meng-update status tentang kekesalanku pada pasanganku yang kuanggap tidak mau meluangkan waktu untukku. Ternyata status itu ditanggapi oleh banyak orang, mereka menyemangatiku. Tapi, aku malah menanggapi mereka dengan kembali mengeluh. Aku menceritakan masalah-masalah pribadi antara aku dan pasanganku di komentar. Kemudian, ada seorang kawan menegurku. Dia menuliskan di kolom komentar bahwa masalah pribadiku dengan pasanganku seharusnya tidak diumbar ke media sosial yang jelas-jelas adalah ruang publik, yang bisa dibaca banyak orang. Komentar-komentar keluh kesahku itu tidak akan mengatasi masalah, malah bisa jadi kelak memperbesar masalah.

Saat itu perasaanku campur aduk. Ada rasa kecewa karena tidak suka dikomentari seperti itu, tapi ada juga rasa malu dan menyesal. Aku malu karena ternyata apa yang aku lakukan dengan mencurahkan keluh kesahku di media sosial itu tidak sepenuhnya tepat dan bijak. Malah mungkin juga banyak orang yang melihatnya sebagai contoh yang tidak baik.

Sejak saat itu aku jadi lebih berusaha untuk lebih selektif ketika mau memposting sesuatu di Facebook. Aku malu dan tidak mau sampai ada yang menegurku lagi, aku tidak ingin kalau orang-orang menilai buruk diriku. Namun, kala itu motivasiku hanya sekadar supaya aku tidak dinilai buruk, tidak lebih. Sampai suatu ketika, saat aku sedang mengikuti kelas Alkitab, aku diingatkan bahwa aku harus berhati-hati dengan perkataanku bukan saja supaya aku tidak dicap buruk, tapi terlebih agar nama Tuhan tidak dipermalukan oleh kata-kataku yang tidak memberkati orang lain. Sebagai orang Kristen aku dipanggil untuk menjadi terang yang bercahaya, supaya orang-orang melihat perbuatanku yang baik dan memuliakan Bapa di surga (Matius 5:16).

Apabila kamu pernah mengalami pergumulan serupa denganku, aku mengajakmu untuk merenungkan dua ayat firman Tuhan ini.

1. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7).

Dulu, media sosial adalah tempat pertamaku untuk menceritakan segala keluh kesahku. Namun sekarang, aku belajar untuk mengungkapkan segala isi hatiku kepada Tuhan. Tuhan adalah Pribadi pertama yang aku cari ketika aku butuh untuk menceritakan sesuatu. Aku mencari Tuhan dengan menaikkan doa secara langsung kepada-Nya, atau menuliskannya di dalam buku catatan pribadiku. Aku merasa saat ini Tuhan adalah teman curhatku juga.

Menjadikan media sosial sebagai tempat pertama mencurahkan masalah mungkin terasa melegakan. Tetapi, itu tidak bisa menjadi solusi untuk mengatasi semua masalah-masalah kita. Bisa jadi kita malah menambah masalah baru dengan tindakan kita yang tidak bijak di sana. Firman Tuhan memberi janji demikian kepada kita: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7).

Tuhan selalu siap mendengar dan menyelamatkan kita. Tuhan tidak bosan dengan curahan hati kita. Tuhan pun tidak mengabaikan kita ketika kita berbicara kepada-Nya, Dia sanggup menyelamatkan kita dari permasalah-permasalahan yang menjerat kita.

2. “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Ketika masalah datang, respons hati kita mungkin merasa stres dan panik hingga kita butuh untuk mengungkapkannya dengan segera. Namun, meluapkan perasaan kita secara asal-asalan di media sosial yang adalah ruang publik bukanlah hal yang bijak, apalagi jika perkataan-perkataan yang kita kemukakan di sana adalah kata-kata yang negatif, yang menjelek-jelekkan orang lain, yang menyangkut privasi seseorang.

Kita bisa datang terlebih dahulu kepada Tuhan, memohon hikmat dan pertolongan-Nya. Kalaupun kita ingin mengungkapkan apa yang jadi pergumulan kita di media sosial, kita perlu melakukannya dengan cara yang bijak, dengan kesadaran penuh bahwa kita ingin menjadi berkat di sana. Kita bisa belajar untuk menuliskan sesuatu yang bermakna positif, yang ketika orang lain membacanya, itu bisa menguatkan mereka, menjadi berkat buat mereka. Sekarang, ketika aku hendak menuliskan sesuatu di media sosialku, aku akan berpikir dahulu apakah Tuhan berkenan dengan apa yang akan aku ungkapkan di sana? Selain itu, aku pun belajar untuk bisa menggunakan lidahku dan jariku untuk perkataan-perkataan yang baik, yang benar, yang membangun, yang bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang membaca atau mendengarnya.

Pada akhirnya, media sosial adalah sarana yang baik untuk kita berinteraksi dengan sesama kita, tetapi bukanlah tempat pertama dan terbaik untuk kita mengutarakan segala keluh kesah kita. Sebagai orang Kristen, kita memiliki Tuhan yang selalu mendengar kita dalam apapun keadaan kita.

Baca Juga:

SinemaKaMu: Searching—Sejauh Mana Kamu Akan Pergi untuk Menemukan Orang yang Kamu Kasihi?

Film Searching secara hampir sempurna mampu menunjukkan pengalaman online yang dialami oleh generasi millennial, dan juga mengingatkan kita akan satu nilai rohani, yaitu kasih Bapa Surgawi buat kita.

3 Hal yang Harus Orang Kristen Lakukan di Media Sosial

Oleh Jasmin Patterson, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Disagree on Facebook

Waktu kuliah dulu aku membantu pelayanan di kampus dengan menjadi ketua. Suatu ketika, aku berselisih pendapat dengan ketua lainnya. Entah bagaimana, aku kehilangan kendali dan berteriak padanya. Saat itu, rekan-rekan pelayanan kami dan mahasiswa lainnya menonton kami dari dalam ruangan. (Ya, aku tahu, ini tindakan yang buruk. Aku meminta maaf dan kami menyelesaikan masalah itu. Kami tetap berteman sampai hari ini.)

Aku membayangkan apa yang mahasiswa lainnya pikirkan. Mereka mungkin merasa aneh melihat dua orang berdebat di muka umum. Apa yang mereka pikirkan? Dan teladan apakah yang kami tunjukkan kepada mereka?

Aku pun berpikir hal yang sama ketika aku melihat bagaimana orang-orang Kristen bertindak di dunia maya.

Di dalam budaya kita yang dibuat jenuh oleh media sosial, kita kehilangan kemampuan untuk menyatakan ketidaksetujuan dengan cara yang sopan. Kita kehilangan kemampuan untuk dengan hormat menghargai setiap pendapat yang berbeda. Sebagian besar masyarakat kita tampaknya berpikir bahwa kita tidak bisa mengungkapkan ketidaksetujuan kita kepada seseorang tanpa menggunakan kata-kata dan sikap kita untuk menyerang mereka. Sebagai pengikut Kristus, kita pun bisa saja jatuh ke dalam pemikiran seperti itu.

Media sosial adalah alat dan wadah luar biasa untuk saling terhubung yang aku syukuri. Mungkin kamu pun sama. Media seperti Facebook dan Twitter menolongku tetap terhubung dengan teman-temanku, kelompok musik yang kusukai, dan konten-konten yang membangun imanku. Namun, dengan kita menggunakan media sosial, kita pun bertanggung jawab untuk memastikan bagaimana cara kita berinteraksi di dalamnya itu menghormati orang lain dan menunjukkan Kristus.

Di media sosial, sebuah pendapat publik antara pemimpin-pemimpin dapat disaksikan oleh lebih dari sekadar beberapa pengamat. Lewat apa yang kita lakukan di media sosial, kita mungkin sedang memberi contoh bagi seluruh dunia untuk melihat dan menarik kesimpulan tentang kita ataupun Juruselamat kita. Risikonya cukup tinggi.

Bagaimana kita menjaga karakter Kristen dan kesaksian kita di dalam dunia maya, terutama saat kita merasa tidak setuju? Inilah beberapa hal yang bisa membantu:

1. Hargailah lawan bicaramu

Setiap orang yang kita ajak bicara adalah orang-orang yang diciptakan Allah seturut rupa-Nya, yang dicintai oleh-Nya, dan yang sangat berharga bagi Allah hingga Dia mengutus Anak-Nya untuk mati bagi mereka, untuk memulihkan relasi mereka dengan-Nya.

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20).

Ketika kita berbicara dengan orang lain di dunia maya, apakah kita menghargai mereka seperti yang Tuhan lakukan? Apa yang Tuhan rasakan kalau Dia melihat cara kita memperlakukan orang lain yang juga adalah anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya? (Tuhan tentu melihat).

Kadang, berada di balik layar memberi kita keberanian untuk mengatakan hal-hal yang tidak akan kita katakan kepada seseorang secara pribadi dan langsung. Sebelum kita mengunggah sesuatu, kita bisa menanyakan diri kita sendiri apakah kita akan mengatakan ini kepada orang itu kalau kita bertemu muka dengannya? Akankah kita memanggil nama mereka? Akankah kita menganggap remeh pandangan mereka? Akankah kita bicara kasar dan merendahkannya?

Ingatlah ini: cara kita memperlakukan orang lain adalah ekspresi kasih kita kepada Tuhan, dan Tuhan dapat menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain melalui cara kita memperlakukan mereka. Berinteraksi secara baik dengan orang lain di dunia maya bisa menjadi salah satu tindakan penyembahan kita kepada Tuhan, serta menjadi suatu kesaksian yang berbicara kuat untuk orang lain.

2. Dengar dulu, bicara kemudian

Aku telah memperhatikan hal ini, mungkin kamu juga. Ketika seseorang memiliki pengalaman atau sudut pandang yang berbeda dari orang lain, mereka sering memulai percakapan dengan cara mempertahankan sudut pandang mereka sendiri. Mereka pun mungkin dapat meremehkan pendapat dan pengalaman orang lain bahkan sebelum mereka mendengarkannya.

Berulang kali kita melihat hal ini ketika orang berbicara tentang masalah ras, politik, teologi, dan lain-lain. Daftar ini terus berlanjut.

Alkitab memanggil pengikut Kristus untuk melakukan hal yang sangat berbeda.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yakobus 1:19-20).

Dengarkanlah dulu, bicara kemudian. Dengarkan orang-orang. Pikirkan yang terbaik tentang mereka. Dengarkanlah untuk memahami, bukan sekadar menanggapi. Dengarkanlah tanpa menyela mereka.

Di dalam budaya kita, kita cenderung memutuskan bahwa orang yang kita ajak bicara itu tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dibagikan kepada kita, bahkan sebelum kita mendengarkan mereka bicara. Kita segera menyimpulkan bahwa kita tidak peduli dengan mereka. Kita secara tidak sadar berpikir bahwa apa yang harus kita katakan itu lebih penting daripada apa yang mereka katakan. Tetapi, janganlah kita hidup menurut standar budaya kita—mari kita hidup menurut standar Alkitab.

Ketika aku memberikan komentar di dunia maya, aku suka menyebut nama mereka ketika aku membalas komentar-komentar mereka. Aku juga tidak sungkan untuk mengakui apabila aku setuju dengan apa yang mereka katakan atau malah jadi merasa tertantang untuk berpikir lebih lanjut. Aku tetap melakukan hal-hal ini meski kemudian aku mengutarakan apa yang jadi ketidaksetujuanku di komentar. Menjalin relasi secara personal dan memulai dengan meneguhkan orang lain adalah cara untuk menunjukkan kebaikan, kerendahan hati, dan bukti nyata bahwa kita benar-benar membaca dan menghargai komentar mereka.

Kita bisa menghindari banyak amarah di dalam masyarakat kita, di dalam percakapan kita, dan di media sosial kalau saja kita belajar untuk “cepat mendengar, lambat bicara.” Aku percaya Tuhan bisa memakai kita untuk membawa pemulihan dan kedamaian di media sosial jika kita mau belajar merendahkan diri, menghormati sesama kita, mendengarkan terlebih dulu dan berbicara kemudian.

3. Gunakanlah kata-kata yang membangun

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Sebelum kita berkomentar, berkicau di Twitter, atau meng-update status, kita bisa bertanya kepada diri kita: Apakah yang akan aku katakan itu bermanfaat untuk membangun orang lain dan sesuai dengan yang mereka butuh dengarkan? Apakah caraku mengatakannya dapat membawa manfaat buat mereka yang membacanya? Apakah kata-kata ini menunjukkan kualitas diriku bahkan ketika aku mengungkapkan ketidaksetujuanku?

Aku pernah menerima beberapa komentar kasar di postingan blog yang kutulis dan sesuatu yang aku pelajari dari ini adalah untuk memperkatakan hal-hal penuh kasih daripada membalasnya dengan amarah. Ketika seseorang memberi komentar dengan sarkas atau amarah, abaikan saja jika percakapan itu tidak bermanfaat, atau tanggapilah dengan semangat kebaikan. Kalau kita berhenti meletakkan kayu di atas api, api itu perlahan-lahan akan mati.

Sejalan dengan hal itu, ketahuilah juga kapan harus menarik diri dengan penuh kasih. Kadang percakapan kita di grup-grup media sosial melampaui batasan untuk disebut sebagai percakapan yang sehat dan menolong. Dalam kasus ini, cobalah untuk bercakap secara lebih personal, misalkan lewat chat personal atau berdiskusi tatap muka, atau dengan hormat undur diri dari grup itu.

Selama kita melakukan apa yang Alkitab katakan, kita bisa hadir di media sosial, memiliki percakapan bermakna, dan menjaga karakter Kristen kita. Mari kita jadikan kehadiran kita di dunia maya sebagai teladan buat orang lain. Aku siap. Bagaimana denganmu?

Baca Juga:

Doaku untuk Hari Ulang Tahunku

Terima kasih Tuhan untuk 24 tahun yang Kau percayakan kepadaku. Aku tidak tahu berapa tahun lagi yang Kau sediakan bagiku, tapi biarlah Tuhan sampai akhirnya nanti, Kau temukan aku tetap setia.

Ketika Aku Melepaskan Diri dari Kecanduan Media Sosial

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo

Di dalam bukunya, “Being Jesus Online”, Dennis Moles menulis bahwa kehadiran alat komunikasi yang luar biasa di masa sekarang ini tidak hanya mengubah cara kita berhubungan dan berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara kita menjalani hidup dalam komunitas.

Ya. Tidak dipungkiri kalau perubahan alat komunikasi dan fitur-fitur di dalamnya yang semakin canggih juga mempengaruhi perilaku penggunanya, termasuk aku. Sepuluh tahun lalu, aku masih jadi siswi SMP. Waktu itu ada media sosial yang sangat terkenal di kalangan generasi 90-an, Friendster namanya. Jika dibandingkan dengan Facebook di masa sekarang, Friendster adalah Facebooknya masa itu. Di Friendster aku bisa bertemu banyak orang, mengedit halaman profilku supaya bagus dan menarik perhatian, juga mendapatkan kabar-kabar terbaru dari teman-temanku.

Sekali dua kali menggunakan Friendster, aku semakin tertarik. Di rumah ataupun di luar, waktu-waktuku banyak tersita untuk asyik sendiri dengan ponselku. Banyak teman-teman baru yang kudapat dari Friendster. Tapi, meski daftar temanku di dunia maya itu semakin bertambah, di dunia nyata malah kebalikannya. Aku kehilangan komunikasi yang hangat dengan orang-orang di sekelilingku karena setiap kali bertemu mereka, aku lebih banyak tertunduk dan asyik sendiri dengan ponselku. Aku tidak lagi memedulikan komunikasi tatap muka karena kupikir komunikasi dengan layar ponsel inilah yang lebih mengasyikkan. Aku telah kecanduan media sosial.

Kecanduan ini terus berlangsung hingga aku duduk di bangku SMA. Waktu itu aku menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatku dan aku pun dibaptis. Tapi, aku tetap hidup seperti sedia kala. Aku masih asyik sendiri dengan dunia maya, bahkan saat ibadah di gereja pun aku tidak bisa fokus. Kadang bermain ponsel sendiri, atau pikiranku melayang-layang memikirkan teman-teman yang ada di media sosial.

Hingga suatu ketika, seorang hamba Tuhan di gereja menegurku. “Sudah dibaptis harusnya bertobat dan tidak mengulangi kebiasaan lama yang sia-sia,” katanya. Aku bingung. Apanya yang sia-sia? Apakah keasyikanku dengan media sosial ini adalah kesia-siaan? Ah, sepertinya tidak. Kupikir ini bukanlah dosa, lagipula tidak ada ayat di Alkitab yang mengatakan kalau keasyikanku dengan media sosial ini adalah dosa.

Hamba Tuhan itu tidak hanya sekali menegurku. Berulang kali dia terus mengingatkan dan membimbingku supaya aku bisa mengendalikan diriku dari media sosial, tapi aku selalu mengabaikannya.

Sebenarnya, saat itu aku tahu kalau terlalu asyik dengan media sosial bukanlah sesuatu yang baik. Tapi, aktivitas ini terasa nyaman buatku. Ini bukanlah sebuah anomali, pikirku, karena manusia memang pada dasarnya menyukai hal-hal yang membuatnya nyaman. Hanya, di sinilah sebenarnya masalah terjadi: nothing grows in the comfort zone. Kenyamanan ini membuatku tidak bertumbuh. Setelah menerima Kristus, alih-alih tumbuh berakar dan berbuah, aku malah begitu-begitu saja, atau mungkin tidak bertumbuh sama sekali. Selain kehilangan komunikasi yang hangat dengan manusia, aku pun kehilangan relasi dengan Tuhan. Aku jarang membaca Alkitab dan berdoa, kalau ke gereja pun tidak fokus. Dan, kupikir di sinilah pertanyaanku terjawab. Memang tidak ada ayat Alkitab yang secara langsung menyebutkan kalau keasyikan bermain medsos itu dosa, tapi bukankah Alkitab berkata:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).

Kemudian, di sebuah camp khusus perempuan yang kuikuti, Tuhan menegurku dengan keras. Dalam salah satu sesinya, seorang pembicara berkata bahwa Tuhan Yesus sudah membeli hidupku lewat pengorbanan di kayu salib, yang harganya teramat mahal. Pengorbanan Kristus itu tidak main-main, maka seharusnya aku pun tidak main-main dalam menerima anugerah itu. Aku harus hidup sepenuhnya untuk Tuhan, tidak lagi mengisinya dengan kesia-siaan.

Di akhir sesi itu, pembicara menantangku untuk membuat komitmen baru. Aku harus hidup sungguh-sungguh dalam Tuhan. Aku mau mengurangi keaktifanku di media sosial. Aku mau lebih fokus kepada orang-orang di dunia nyataku: keluarga dan teman-temanku. Aku mau membangun relasiku dengan-Nya melalui waktu bersaat teduh.

Aku bersemangat menghidupi komitmen itu. Sebagai langkah awal, aku mulai menerapkan pembatasan waktu bermedia sosial. Jika dulu aku bisa online hampir tiap saat, aku melatih diriku hanya online tiga kali seminggu. Menjalankan komitmen ini tidak mudah, sampai-sampai aku ingin menangis. Tapi, kakak mentor yang mendampingiku di camp itu selalu mendukungku. Dia mengingatkanku ayat dari 1 Korintus 10:13 bahwa Tuhan pasti memampukanku untuk melalui ini.

Latihan ini perlahan mulai membuahkan hasil. Aku tidak lagi sedih ketika tidak membuka media sosial. Malah, aku merasakan peningkatan kualitas komunikasi dengan orang-orang di dunia nyataku, juga dengan Tuhan. Aku bisa merasakan kehangatan keluarga saat makan malam bersama. Aku bisa ceria dan tertawa bersama dengan teman-temanku saat kumpul bersama. Dan, aku pun bisa memiliki waktu pribadi bersama Tuhan. Ya, pendek kata, aku merasa komunikasi yang kulakukan menjadi lebih hidup.

Sekarang, bertahun-tahun sudah berlalu sejak aku berkomitmen untuk melepaskan diri dari kecanduan media sosial. Aku tidak menjadi orang yang anti dengan media sosial, juga tidak anti dengan sesuatu yang membuatku nyaman. Hanya, aku perlu berhikmat dalam segala sesuatunya, dan hikmat itu bisa kudapat dari menjalani hidup yang takut akan Tuhan.

Baca Juga:

Satu Hal yang Kupelajari dari Kegagalanku di SNMPTN

Aku masih ingat bagaimana campur aduknya perasaanku saat hasil seleksi masuk perguruan tinggi negeri diumumkan. Kecewa, sedih, juga takut bercampur menjadi satu di dalam diriku saat aku dinyatakan tidak lolos.