Posts

Perjumpaan dengan-Nya, Mengubah Segalanya

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Bertahun-tahun lalu hiduplah seorang remaja yang sikapnya kasar dan tak punya tujuan hidup. Dia bukan hanya sering membentak dan menghina orang tuanya, dia bahkan tidak percaya kepada Tuhan. Ketika masih SMA, dia terkenal karena suka mengejek kepercayaan teman-temannya. Dia pernah juga menantang gurunya dengan cara yang tidak sopan untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Tak heran, dengan sikap demikian, dia seringkali mendengar kalimat keluhan bernada putus asa dari orang-orang di sekitarnya.

“Mau jadi apa anak ini?”

“Kelihatannya dia akan jadi seorang penjahat.”

“Tidak ada harapan untuk manusia seperti ini.”

Itulah beberapa “ramalan” yang paling santer mampir di telinga remaja itu. Tahukah kamu siapa dia? Akulah sang remaja itu.

Tak seorang pun menyangka, Tuhan yang selama bertahun-tahun kuhina menjadi Tuhan yang kini aku layani. Banyak orang terheran-heran, menggelengkan kepala seolah tak percaya ketika melihatku berdiri di sebuah mimbar dan berbicara tentang kasih Tuhan Yesus dan kuasa-Nya yang mampu mengubahkan manusia.

Begitulah kehidupan, penuh dengan kejutan. Manusia bisa menduga-duga, namun Allah mengetahui dengan jelas dan pasti masa depan seseorang.

Aku tidak akan menceritakan detail kisahku, namun seperti yang terjadi padaku, itu jugalah yang terjadi kepada seseorang bernama Paulus. Dahulu, Paulus adalah seorang yang membenci Yesus dan pengikut-Nya. Paulus adalah teror yang amat mengerikan bagi jemaat Tuhan. Mereka menghindari dan menjauhinya. Sebelum berjumpa dengan Tuhan Yesus seperti dikisahkan di Kisah Para Rasul 9, siapa yang menyangka Saulus akan menjadi salah satu pemberita Injil yang paling berani? Siapa yang mengira dia akan menjadi penulis kitab terbanyak dalam Perjanjian Baru?

Mungkin atas apa yang telah dilakukannya, Paulus bisa disebut sebagai “mantan penjahat”, sebuah istilah yang hari ini masih sering disematkan orang padaku. Jujur, mendengarnya membuatku malu dan menangis. Tapi, di balik semua itu, aku juga bersyukur karena saat ini aku dapat dengan yakin berteriak nyaring bahwa, “Tidak ada seorang pun yang terlalu kotor dan hancur yang tidak bisa diubahkan oleh Allah.”

Rasul Paulus, St. Agustinus, dan banyak lagi tokoh lainnya telah menjadi bukti nyata. Perjumpaan dengan Kristus sungguh-sungguh dapat mengubahkan siapa saja. Aku tidak berkata, setelah aku mengenalnya, aku lalu menjadi sempurna. Sama sekali tidak. Rasul Paulus pun tidak sempurna, apalagi aku. Aku berulang kali jatuh dan gagal. Tetapi, aku bisa bangkit. Bukan karena aku hebat, tetapi karena perjumpaanku dengan-Nya itu telah menyadarkanku bahwa aku berharga di mata-Nya. Jika Dia mau mati bagiku, maka aku mau hidup bagi-Nya. Dan dengan segala keterbatasanku, Dia terus memperbaharuiku hari demi hari dan menyembuhkan luka masa laluku. Itu jugalah yang akan terjadi padamu jika kamu mau menerima-Nya sebagai satu-satunya Tuhan dan Penyelamat pribadimu.

Setiap kita punya kelemahan dan kekurangan. Di antara kita, ada yang punya bercak-bercak masa lalu yang kelam, bahkan sangat memalukan dan mungkin tergolong menjijikkan. Kita pernah bertindak ceroboh dan memilih hal konyol yang akhirnya mencelakai kita. Kita pernah melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Mungkin sempat terpikir di benak kita, bahwa sudah terlambat bagi kita untuk memperbaiki semua yang rusak yang telah terjadi di masa lalu. Mungkin orang lain telah memasang stigma “hitam” atas diri kita. Mungkin sebuah julukan buruk telah mereka gantungkan di leher kita. Lalu dengan mengingat semuanya itu, kecewalah kita dan harapan kita pun meleleh bak lilin yang terbakar.

Kita lupa, bahwa terlepas dari segala perlakuan dan pandangan dunia atas segala kegagalan kita, ada satu kasih yang tak terbatas yang sepanjang hari berdiri menunggu di depan pintu hati kita. Jari jemari-Nya tak lelah mengetok pintu itu. Dia menanti dengan kesabaran yang tak terukur namun disertai kerinduan yang besar. Dialah Yesus Kristus. Dialah Tuhan yang pernah berkata kepada jemaat di Laodikia:

“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan mebukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Wahyu 3:19).

Cobalah diam sebentar. Dengarkan suara-Nya. Dia tepat berada di depan pintu hatimu. Suara ketokan-Nya semakin keras. Suara lembut-Nya memanggil namamu berkali-kali. Pergilah temui Dia.

Perjumpaanmu dengan-Nya akan mengubah segalanya.

Baca Juga:

Melihat Jelas Batas Antara Hidup dan Mati, Ini Kisahku Menjadi Perawat di Masa Pandemi Covid-19

Aku bertugas di ICU. Bersama timku kami merawat pasien-pasien yang terindikasi COVID-19. Pandemi virus corona ini hadir secara nyata di tengah kita, namun kita pun yakin bahwa Tuhan turut berkarya di tengah-tengah pandemi ini.

Kasih-Nya Merobohkan dan Membangun

Oleh Erick Mangapul Gultom, Jakarta

Aku memiliki seorang teman yang waktu SMA sering menyendiri. Pernah sekali waktu aku bersama teman-teman lainnya melihat dia menangis sendirian, kami pun menghiburnya supaya dia tidak sedih lagi. Setelah sekian lama tidak berjumpa dan berkomunikasi, tak disangka dia menemukan media sosialku dan mengirimiku pesan. Akhirnya pada suatu kesempatan kami pun berbicara lewat telepon.

Sekian lama mengobrol, dia pun mulai bercerita tentang kondisi kehidupan pribadi dan keluarganya. Dia sangat sulit untuk mengampuni, bahkan sering mendendam. Sanak saudaranya sering bertengkar dan dia tidak tahan dengan semuanya itu. Kudengarkan semua cerita kehidupannya dan tentang dirinya sendiri yang belum yakin akan imannya, terutama perihal keselamatan.

Aku tahu temanku membutuhkan Kristus, dalam hati aku berdoa memohon supaya Tuhan memimpinku untuk mewartakan Kabar Baik kepadanya. Aku mulai bercerita bahwa hal yang dia alami pernah juga menjadi bagian dalam hidupku. Keberdosaan membuat kita melihat segala hal dengan pola pikir kita sendiri dan kita sulit untuk menemukan hal baik dari segala yang terjadi.

Kuceritakan padanya tentang Tuhan Yesus yang meninggalkan takhta-Nya di surga. Dia yang mencipta segala yang ada, telah datang ke dalam dunia. Dia dilahirkan di kandang domba, difitnah, disiksa, dan mati di kayu salib. Dia ditolak karena keberdosaan kita yang lebih menyukai kegelapan daripada terang. Namun, di dalam keadaan sebagai seteru, Dia mengampuni kita. Kita yang sepantasnya dihukum karena dosa, namun karena kasih-Nya, Tuhan Yesus memberikan anugerah yang tidak terbayarkan itu secara cuma-cuma kepada kita.

Temanku mulai bertanya mengapa Yesus mau melakukan-Nya. Aku mengatakan karena begitu besar kasih-Nya kepada kita, Dia ingin kita kembali bersekutu dengan-Nya di dalam kekudusan. Siapa yang mau datang kepada-Nya diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Aku menjelaskan pada temanku itu ada dua hal yang akan terjadi ketika kita mengalami kasih Tuhan.

Kasih-Nya merobohkan

Ya, kasih-Nya telah merobohkan segala benteng yang memisahkan kita dari-Nya, segala kuasa dosa yang membelenggu yang membuat kita sangat sulit mengampuni seseorang dan pola pikir kita yang berpusat kepada diri sendiri.

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24).

Kasih-Nya membangun

Selanjutnya, Dia membuat jalan bahkan menjadi jalan yang baru dan yang memberikan kehidupan, bukan untuk sementara, tetapi selamanya.

“Karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri” (Ibrani 10:20).

Sebelumnya kita berdosa dan menjadi musuh Allah. Tetapi, ketika Tuhan menerima kita kembali, kita bukan lagi musuh, tetapi anak-anak-Nya. Perdamaian kita melalui Yesus Kristus membuat kita memiliki hidup yang melimpah di dalam anugerah, sehingga kita dapat berdamai dengan diri sendiri dan melihat setiap orang dengan kasih. Kita dimampukan mengampuni orang ang bersalah kepada kita, bahkan mengasihi mereka dan mengambil kebaikan dari segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, terus diproses setiap hari semakin serupa dengan-Nya. Di akhir telepon, aku mengajak dia untuk menyerahkan diri kepada Yesus Kristus, agar dia dipulihkan-Nya dan mengalami anugerah kasih-Nya.

* * *

Di kemudian hari, aku mendapat kabar dari temanku bahwa dia mulai rutin membaca Alkitab. Walaupun masih agak sulit untuk membaca di rumah, dia tetap berjuang dan memintaku untuk berbagi firman Tuhan lewat ponsel. Aku memberinya satu lagu karya John Newton, Amazing Grace. Lagu ini menjadi pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya yang menyelamatkan siapa pun yang mau datang dan berserah kepada-Nya. Aku sangat bersyukur Tuhan menyentuh hati temanku untuk dia kembali pada-Nya. Kukatakan pada temanku untuk membagikan kembali apa yang sudah di dapatkan dan terus belajar menerapkan firman Tuhan dalam hidupnya, dimulai dari hal-hal yang paling sederhana.

Barangkali pengalaman yang sama pernah teman-teman alami, sulit mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita. Ingatlah kembali bahwa Kristus telah mati bagi kita dan kita telah diubahkan menjadi manusia baru. Hanya kasih-Nya yang mampu merobohkan sekaligus membangun. Merobohkan manusia lama kita yang masih terbelenggu di dalam keberdosaan sehinga kita kembali dibangun di dalam kebenaran dan kasih Kristus.

Janganlah kasih itu hanya tinggal pada kita, beritakanlah perbuatan-Nya yan ajaib kepada setiap orang.

Soli Deo Gloria!

Amazing grace! How sweet the sound,
That saved a wretch like me
I once was lost, but now am found
Was blind but now I see.

Baca Juga:

Belajar Penginjilan dari Paulus (Pengajaran dari Kisah Para Rasul 17:16-34)

Bagaimana Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang di Athena? Apa yang kita bisa adopsi dan adaptasi ke dalam keadaan kita sekarang?

Ketika Aku Bersedia untuk Diproses Tuhan

Oleh: Risky Samuel

ketika-kubersedia-diproses-Tuhan

Lahir dalam keluarga Kristen, tinggal di kota dengan mayoritas penduduk Kristen, tidak membuat hidupku lebih mudah dijalani. Sama seperti kebanyakan anak muda, aku pun bergumul dengan berbagai masalah, terutama dalam proses pencarian jati diri. Keluargaku berantakan, dan sejak kecil aku kehilangan kasih sayang orangtua, khususnya papa. Aku tumbuh sebagai anak yang haus kasih sayang, dan dengan mudah aku dipengaruhi oleh teman-temanku untuk mencari kasih di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Kehausanku akan kasih seorang papa membawa aku kemudian terlibat dalam hubungan homoseksual.

Awalnya aku merasa baik-baik saja. Bukankah wajar kita mencari komunitas yang mau menerima kita, mengasihi kita, dan peduli pada kebutuhan kita? Pikiranku membela diri. Aku hanya berusaha mencari kasih sayang yang tidak kutemukan di dalam keluarga. Aku bersyukur untuk pasanganku. Aku yang tadinya sudah suam-suam kuku di gerejaku, bahkan diajak pasanganku untuk kembali mencari Tuhan. Aku mengikutinya ke gereja, dan dilayani hingga menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Kami aktif melayani. Aku bahkan merayakan Natal bersama dengan keluarganya. Tidak ada yang menegur kami, karena mereka tidak tahu bahwa kami adalah pasangan gay.

Pada akhirnya, firman Tuhan sendirilah yang menegurku. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa hubungan antara sesama jenis adalah dosa dan kekejian di mata Tuhan (Imamat 20:13; 1 Korintus 6:9-10). Namun, untuk keluar dari dunia yang telah kuhidupi selama bertahun-tahun lamanya, sangatlah sulit. Dengan berbagai cara aku berusaha membenarkan diri. Bukankah Tuhan yang menciptakan aku seperti ini? Bukankah aku tidak merugikan orang lain? Bukankah yang penting aku hidup dalam “kasih”?

Amsal 16:2 menegurku dengan keras, “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Tuhan tahu betul apa yang ada di dasar hatiku. Tuhan tahu kalau aku lebih percaya kata hatiku sendiri daripada percaya firman-Nya. Tuhan tahu kalau aku lebih mengasihi kenikmatan hubunganku dengan pasanganku daripada mengasihi-Nya. Aku sangat menyesal telah melangkah terlalu jauh dalam hubunganku dengan sesama jenis, namun aku juga merasa tidak punya harapan lagi untuk dapat dipulihkan.

Bersyukur bahwa Tuhan tidak meninggalkanku. Ketika aku bersungguh-sungguh mencari-Nya dengan segenap hati, Dia memampukanku untuk akhirnya bisa lepas dari pola hidup yang lama. Selama 3 tahun lebih aku berjuang melawan godaan untuk kembali berhubungan dengan sesama jenis. Teman-teman lamaku itu selalu baik dan siap menerimaku apa adanya. Sementara, keluarga dan teman-teman yang lain justru kerap merendahkan aku karena masa laluku. Jujur saja, hingga kini godaan yang sama masih kerap mengganggu, namun firman Tuhan menjadi benteng pertahananku. Tantangan itu juga menyadarkanku bahwa yang lebih penting adalah penilaian Tuhan, bukan manusia. Ketika aku merasa nyaris putus asa dan mulai menyalahkan situasi atau orang lain sebagai penyebab masalahku, firman Tuhan mengingatkan aku bahwa semua ini terjadi bukan karena salah siapa-siapa, tetapi “karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan” di dalam diriku (Yohanes 9:3). Aku pun dikuatkan untuk tetap bergantung kepada Tuhan saja. Aku menyadari bahwa hidup ini bukan sekadar untuk memuaskan keinginan hatiku belaka, tetapi untuk memuliakan Tuhan, Pencipta hidupku.

Dalam budaya serba instan di abad ini, kebanyakan kita menghendaki segala sesuatu bisa terwujud dengan cepat. Termasuk dalam perjalanan iman kita. Kita berharap begitu percaya kepada Yesus, semua masalah kita bisa langsung beres, semua orang mendukung kita, dan keberhasilan mengejar kita tanpa kita perlu berusaha. Faktanya, kita hidup dalam dunia yang tidak ideal, dan firman Tuhan memberitahu kita bahwa perjalanan kita tidak akan mulus-mulus saja.

Proses pembentukan Tuhan bagi setiap kita mungkin berbeda-beda. Apa yang kualami mungkin tidak sama dengan apa yang kamu alami. Tetapi satu hal yang pasti, kita perlu sabar dengan yang namanya proses. Perhiasan emas yang indah dan tinggi nilainya, dibentuk lewat proses pemurnian dan pembentukan yang panjang. Tidak terjadi begitu saja. Seringkali hidup kita tidak mengalami perubahan apa-apa karena kita tidak sabar dalam proses, takut untuk diproses, atau tidak mau diproses oleh Tuhan. Kita memilih kembali pada pola hidup kita yang lama. Amsal 16:32 menyemangati kita dalam menjalani proses pembentukan Tuhan, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”

Apapun yang teman-teman alami di masa lalu, yuk kita sama-sama berjuang menjalani hidup ini ke depan! Mari luangkan waktu untuk terus isi pikiran kita dengan kebenaran firman Tuhan, di manapun kita berada, agar kita tidak mudah terpengaruh oleh pola pikir dunia. Ada saatnya kita mungkin akan jatuh, tetapi Tuhan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita bangkit kembali. Dia Mahatahu dan memahami segala pergumulan kita, Dia tidak akan membiarkan kita sendirian.

Mengasihi Itu Tidak Mudah

Oleh: Deborah Tao
(artikel asli dalam bahasa Mandarin: 「愛」難,愛人更難)

Mengasihi-Itu-Tidak-Mudah

Kasih adalah konsep yang selalu sulit kumengerti. Dengan kondisi keluarga seperti yang kuhadapi, kasih adalah sesuatu yang terlalu indah untuk dibayangkan, terlalu jauh untuk diraih.

Ketika aku berusia 14 tahun, ibuku menikah lagi. Aku bersama ibu dan adikku lalu bermigrasi dari China ke Singapura untuk tinggal bersama ayah tiriku yang adalah warga negara Singapura. Saat itu aku bertanya-tanya dalam hati: Mengapa ibu menikah lagi? Mungkin ia sangat mencintai ayah tiriku itu.

Tetapi, ternyata ibuku malah sering bertengkar dengan ayah tiriku. Ibuku memang mudah naik darah dan keras kepala. Ketika konflik terjadi di antara mereka, barang-barang di rumah akan beterbangan, diikuti suara kaca yang pecah. Setiap kali mereka ribut, aku akan menyelinap keluar dari rumah untuk jalan-jalan sejenak. Namun, tetap saja suara-suara penuh kemarahan itu terdengar di seputar kompleks tempat kami tinggal. Perkelahian mereka kerap membekaskan luka di tubuh ayah tiriku dan mengundang kunjungan polisi. Sudah sering aku menangis dan berkata kepada ibuku bahwa aku rindu punya keluarga yang harmonis, tetapi jawabannya selalu meremukkan hati: “Itu tidak akan pernah terjadi”.

Parahnya lagi, hidup di Singapura tidaklah seperti yang kami bayangkan. Aku harus bisa mencukupkan diri dengan uang dua dolar sehari. Sebaik apa pun aku membaginya, tetap saja aku sering menahan lapar. Bisa punya cukup makan sehari sudah membuatku bahagia, sangat kontras dengan teman-temanku yang berusaha keras mengurangi makanan mereka demi menjaga bentuk tubuh. Kebiasaan mereka sangat menggangguku. Setiap kali aku melihat orang membuang-buang makanan, rasanya ingin sekali aku menggantikan mereka untuk memakannya sampai habis.

Demi mengisi perut, aku mulai bekerja paruh waktu pada umur 15 tahun. Pagi hingga siang hari aku sekolah, lalu malamnya aku bekerja sebagai seorang pelayan hotel. Sebagai konsekuensinya, aku hanya bisa beristirahat 4-5 jam setiap harinya. Namun, sekalipun sudah bekerja keras, aku tetap saja hampir tidak bisa memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Bisa dibilang tiga tahun itu adalah masa-masa tersulit dalam hidupku dan aku selalu merasa kelelahan.

Aku sangat sedih dengan kondisi hidupku, sekaligus sangat iri dan benci kepada mereka yang dilahirkan dalam keluarga bahagia. Aku bertekad suatu hari nanti akan meninggalkan keluargaku dan menjalani kehidupan yang kudambakan.

Demi mencapai tujuanku, aku mulai bekerja lebih keras agar bisa menabung. Bahkan pada hari sebelum ujian pun, aku tetap pergi bekerja seperti biasa. Aku belajar lebih giat agar dapat meraih apa yang kucita-citakan. Hidupku sarat dengan keletihan dan kemarahan. Aku berjalan tanpa arah dan kehilangan tujuan hidup.

Tak kuat lagi menanggung kesengsaraan dalam hidup, aku akhirnya memutuskan untuk menyerah. Namun, pada hari aku hendak mengakhiri hidupku, aku bertemu dengan seorang pendeta. Ia memberitahuku bahwa Tuhan mencintaiku. Saat itu aku berpikir, “Kalau benar Tuhan ada, Dia tidak mungkin membiarkan aku menderita seperti ini.”

Jadi aku bertanya kepada pendeta itu, “Bisakah Anda memberiku alasan mengapa aku harus tetap hidup?” Ia menjawab, “Jika kamu terus hidup, kamu dapat menolong banyak orang untuk hidup lebih baik.” Hatiku bergetar. Momen itu memperbarui tujuan hidupku, Tuhan memberiku alasan untuk tetap hidup.

Aku pun mulai menghadiri kebaktian di gereja dan mengenal banyak saudara-saudari seiman dalam Kristus. Kami saling mendukung seperti layaknya sebuah keluarga. Melalui proses membaca dan mendalami Alkitab, aku belajar apa artinya mengasihi diri sendiri, memaafkan diri sendiri, dan melepaskan beban masa lalu.

Dulu aku tidak tahu bagaimana cara menghargai hidupku sendiri, juga tidak tahu bagaimana bersikap sabar dan baik terhadap orang lain. Aku tidak bisa menerima kesalahan, aku seorang yang perfeksionis. Keangkuhanku seperti tembok yang tidak dapat ditembus—tebal dan keras.
Namun, setelah mengenal Yesus, karakterku mulai diproses dan diubahkan. Yesus mengajarku untuk mengasihi, untuk menerima perbedaan, dan untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, sembari memberi diriku sendiri waktu untuk belajar dan memperbaiki diri. Aku juga belajar untuk rendah hati, menanggalkan kesombonganku, dan melepaskan diri dari kepahitan masa lalu.

Setelah beberapa waktu berlalu, aku memberi diri menjadi volunter, dan bertemu banyak orang yang juga telah kehilangan tujuan hidup mereka. Atas kasih karunia Tuhan, kesaksian hidupku menguatkan mereka untuk memulai kehidupan yang baru.

Mengingat kehidupanku yang dulu, sungguh tidak pernah terpikir olehku bahwa Tuhan akan menyediakan sebuah keluarga lain (dalam Kristus) untukku (dan anggota keluarga besar ini terus bertambah!). Seiring aku bertumbuh makin dekat dengan Tuhan, aku juga belajar untuk mengampuni ibuku. Aku mulai bisa memahami bahwa ia sebenarnya juga menderita; ia menyakiti kami dengan tutur lakunya karena ia sendiri tidak mengenal Tuhan. Bila aku berada pada posisinya, mungkin aku juga akan memiliki sikap yang sama.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas damai dan sukacita yang telah Dia diberikan kepadaku sejak aku mengenal Dia secara pribadi. Kiranya Tuhan juga memberikan berkat yang sama bagi Saudara.

Kuasa Untuk Mengubah

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kuasa Untuk Mengubah

Baca: Roma 12:1-8

12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

12:4 Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,

12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.

12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.

12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;

12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. —Roma 12:2

Kuasa Untuk Mengubah

Tony Wagner, seorang pendidik dan penulis buku terlaris, adalah orang yang sangat meyakini bahwa “inovasi yang mendobrak” telah mengubah cara dunia berpikir dan bergerak maju. Dalam bukunya Creating Innovators: The Making of Young People Who Will Change the World (Menciptakan Inovator: Membentuk Generasi Muda yang Akan Mengubah Dunia), ia menulis: “Inovasi terjadi dalam setiap aspek dari usaha umat manusia,” dan “kebanyakan orang akan dapat menjadi lebih kreatif dan inovatif—apabila mereka diberi kesempatan dan lingkungan yang tepat.”

Paulus merupakan seorang inovator abad pertama yang mengelilingi wilayah Asia Kecil untuk memberitakan kepada orang-orang tentang perubahan hidup yang dapat mereka alami melalui iman kepada Yesus Kristus. Kepada jemaat Tuhan di Roma, Paulus menuliskan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Rm. 12:2). Ia mendorong mereka untuk mempersembahkan diri mereka sepenuhnya sebagai persembahan yang hidup kepada Allah (ay.1). Di tengah dunia yang tamak, rakus, dan mementingkan diri sendiri, Paulus mengasuh dan mengajarkan kepada mereka tentang cara menjalani hidup yang berpusat dan dipersembahkan kepada Kristus.

Dunia telah sangat jauh berubah sejak zaman Paulus. Akan tetapi, kerinduan manusia akan kasih, pengampunan, dan kuasa untuk mengalami perubahan tetaplah sama. Yesus, Sang Inovator Agung, menawarkan semuanya itu dan mengundang kita untuk mengalami hidup yang baru dan berbeda di dalam Dia. —DCM

Aku bersyukur untuk segala cara yang Engkau pakai untuk
mengubahku, ya Tuhan. Tolong aku untuk terbuka kepada-Mu
dan menerima pekerjaan tangan-Mu di dalam diriku.
Ubahlah aku untuk menjadi seperti-Mu.

Allah menerima kita apa adanya tetapi tidak pernah membiarkan kita tetap begitu-begitu saja.