Posts

Berkat di Balik Tirai Kesuraman

Oleh Antonius Martono, Jakarta

Baru saja Ianuel pulang memimpin sebuah kelompok pendalaman Alkitab, Benu sudah menunggunya di taman tempat mereka biasa mengobrol. Benu bilang penting, ingin bicara. Segera Ian beranjak dari kamarnya menuju teras. Setelah berpamitan dengan Ibu, Ian menyalakan motornya.

“Baru pulang sudah pergi lagi. Mau ke mana kamu?”

“Hmm… pelayanan, Pah. Tadi sudah pamit Ibu,” kata Ian ragu.

“Pelayanan mulu. Waktu buat keluarga kapan? Ini, kan, weekend.”

“Sebentar, kok, Pah. Ke taman biasa,” Ianuel berusaha menenangkan ayahnya.

“Sebentar tapi, sampai malam. Pulang cepet. Kalau sudah pada tidur, tidak ada yang akan bukain pintu,” ayah Ian memunggunginya menuju ruang TV.

Telah satu tahun Ian tidak mendengar ayahnya berbicara seperti itu. Terakhir kali, pada hari Ian terkunci di luar rumah karena pulang hampir tengah malam. Sejak saat itu Ian mulai mengatur waktu kegiatannya dengan teliti. Dia tahu, jika ayahnya mengucapkannya lagi, berarti sang ayah benar-benar memaksudkannya. Mengganjal. Namun, Ian harus pergi.

Bagi Ian bertemu Benu adalah sebuah bagian dari panggilannya. Panggilan yang dimulai dari keputusan Ian satu setengah tahun lalu untuk bekerja di suatu lembaga Kristen yang melayani kaum muda. Lembaga ini baru saja membuka pos rintisan di kota kecil tempat Ian tinggal. Sedangkan pusat lembaganya berada 2 jam jauhnya dari kota ini. Capek, kehabisan ide, tertekan, sedih adalah teman pelayanan Ianuel, sebab belum ada orang yang bersedia menemani pelayanannya. Ian melayani seorang diri di pos kecil tersebut. Meskipun begitu, dia mengerti bahwa lewat pos pelayanan inilah dia mengabdi kepada Tuhan.

Ayahnya sendiri sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Ian. Dia tidak bisa memahami pekerjaan Ian dan pertimbangannya. Ayahnya hanya tahu kalau anaknya suka kerja sebar-sebar ajaran Alkitab. Namun, menurut hemat ayahnya, pekerjaan tersebut sulit untuk membeli sebuah rumah untuk anak istri Ian kelak. Terang-terangan atau sindiran halus sudah dilakukannya tapi, Ian tetap tidak mengubah pilihan pekerjaanya.

Sesampainnya di taman, Ianuel menemui Benu di bangku taman. Dari bangku itulah Benu bercerita bahwa ia baru saja berkonflik hebat dengan ayahnya yang dominan lantaran ia kelupaan mematikan lampu kamar. Keduanya terlibat adu mulut dan saling merendahkan satu sama lain. Ketika konflik semakin menegang, Benu mengakhirinya dengan keluar rumah. Sambil menghisap rokoknya, Benu mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi pulang ke rumah.

Hari itu malam Minggu dan matahari sudah semakin gelap. Taman semakin dipenuhi pengunjung dan para penjaja makanan mulai membuka lapaknya.

“Makan, yuk. Gue traktir,” ajak Ian.

Ian sudah biasa melakukan hal ini kepada para pemuda tanggung yang dilayaninya. Hanya ingin berbagi dan meringankan beban mereka yang dia layani. Mereka melipir ke tenda pecel ayam tak jauh dari taman itu. Percakapan terus mengalir tanpa ujung bersamaan dengan perut mereka yang semakin penuh. Waktu berlalu hingga pukul delapan lewat. Dalam hatinya Ian bertekad untuk pulang sebelum jam sembilan malam, sebab ia teringat pesan ayahnya. Percakapan masih berlanjut beberapa menit sebelum akhirnya Ian memberikan saran-saran praktis untuk masalah Benu dengan ayahnya.

“Memang sih, Ben, disalah mengerti oleh orang yang kita harapkan sebagai yang pertama kali memahami kita itu menyakitkan. Tapi, lari dari tanggung jawab untuk saling mencari pengertian justru akan melahirkan kesalahpahaman lainnya. Usahakan tidak mengoleksi luka sebab semua luka sudah ditanggung Yesus di atas kayu salib, Ben,” kata Ian.

“Jadi, kalau menurut Abang. Sebaiknya kamu pulang dan meminta maaf. Siapa tau dengan begitu terjadi rekonsiliasi. Abang yakin Tuhan akan bekerja. Soalnya Dia yang paling mau relasi kalian membaik. Jadi segera balik, yak, tidak perlu kelayapan lagi,” bujuk Ian sambil menepuk pundak Benu.

Benu merasa pita suaranya kusut. Dia tidak menjawab bujukan Ian yang telah pulang dengan motornya. Di taman itu Benu masih mempertimbangkan saran dari Ian sebelum akhirnya dia memutuskan pulang pada dini hari.

Di tengah perjalanan Ian terus bertanya mengapa ia perlu mengurusi anak orang lain jika relasinya sendiri dengan orang tuanya masih berjarak. Ian merasa jago bicara tapi, gagal dalam praktiknya. Dia juga ingin agar Tuhan memperbaiki relasinya dengan sang ayah. Itulah mengapa Ian memacu motornya secepat mungkin supaya sampai tepat sebelum jam 9. Dia berharap agar tidak terjadi lagi konflik pada hari ini. Namun, di jalan motornya malah menabrak sebuah roda truk.

Truk tersebut sedang menepi mengganti salah satu roda kanannya. Badan truk menghalangi lampu penerangan jalan sehingga Ian tak dapat melihat sebuah roda besar di sisi kanan truk. Ianl tak sempat lagi mengelak dan hantaman itu terjadi.

“Brakk!”

Setang motornya bengkok dan sebagian lampu depannya pecah. Ian sendiri terlempar dari motornya. Tulang tangan kirinya patah dan dahinya berdarah. Banyak orang langsung berkerumun dan segera melarikannya ke rumah sakit.

Tiga hari lamanya Ian berada di rumah sakit sebelum ia pulang diantarkan sang ibu. Keningnya dijahit dua kali dan tangannya telah dirawat dengan tepat. Untuk beberapa hari Ian perlu beristirahat menunggu luka-lukanya untuk pulih. Ayahnya tidak menyalahkan Ian atas kecelakaan tersebut. Dia hanya masih belum mengerti masa depan seperti apa yang sedang dibangun oleh anaknya. Dari ambang pintu kamar Ian sang ayah memperhatikan keadaan anaknya.

“Memang kamu kerja untuk apa, sih? Bukan apa-apa, papa cuma pikirin masa depan kamu. Kamu kan kelak jadi kepala keluarga.”

Di tempat tidur Ianuel hanya mendengarkan tegang.

“Nanti kalau sudah sembuh kamu kerja aja sama anak teman papa. Bilang ke bos kamu mau keluar. Mau cari pengalaman baru.”

Ian diam saja. Ian tahu komitmennya sedang diuji kembali. Hanya saja kali ini Ian tidak bisa menjawab. Kejadian ini membuat Ian merasa seperti kalah perang. Berkorban nyawa untuk sebuah negara yang kalah.

“Kamu keluar biaya berapa? Ditanggung sama tempat kerjamu?”

“Sekitar enam jutaan, Pah.”

Ian berhenti sampai situ dan tidak berniat menjawab pertanyaan kedua.

“Itu diganti semua?”

“Tidak tahu, Pah. Kantor juga masih kurang bulan ini.”

Ayah Ian menghela napas, semakin prihatin dengan masa depan anaknya.

“Ya, sudah kamu pikirin deh, nanti kalau kamu mau papa telepon temen papa, biar kamu kerja di tempat anaknya. Papa keluar dulu ketemu mama.”

Selonjoran di dipan, Ian masih memproses kata-kata ayahnya. Ada benarnya maksud sang ayah. Memang bujukan itu belum pernah berhasil membuat Ian mencari pekerjaan lain, tapi bukan berarti tidak pernah membuat dia ragu. Dari celah pintu, Ian dapat mengintip kedua orang tuanya sedang berdiskusi.

Tak lama kemudian ibunya melangkah menuju kamar. Nampaknya ayah Ianuel masih mencoba membujuknya kali ini lewat sang ibu. Ia lelah untuk berdiskusi tapi, sekali lagi dia harus berusaha menguatkan tekadnya kembali.

“Ian ini ada parsel. Tadi ada ojek online yang kirim.”

Ianuel tak menduga sama sekali ibunya datang hanya untuk mengantarkan parsel buah segar. Di atas keranjang anyaman bambu buah-buah tersebut disusun. Ian menerimanya. Wajahnya masih kaget tapi, hatinya tersenyum.

“Itu dari siapa ?”

“Gak tau, Mah. Tapi ini kayaknya ada suratnya deh.”

“Coba dibaca dulu.”

Ianuel membaca surat itu dan tahulah ia bahwa parsel itu berasal dari adik-adik pemuda yang selama ini dilayaninya.

“Semoga Tuhan memulihkan kondisi kak Ian seperti kami yang dipulihkan Tuhan lewat kak Ian. Kak, kami sudah urunan dan transfer. Tidak seberapa tapi semoga dapat meringankan beban Kak Ian.”

Kemudian dalam surat itu mereka mengutip penggalan ayat dari Mazmur 23. Ianuel tak tahu dari mana anak-anak itu mendapatkan dana yang jumlahnya cukup untuk mengganti biaya perawatannya dan perbaikan motornya, tapi ini menghibur hatinya. Memang perjalanan pelayanan Ian cukup terjal. Namun, dia semakin yakin bahwa dia tidak pernah ditinggal sendiri. Kekuatan dan penghiburan diberikan di saat perlu. Mengimbangi duka dengan suka. Di dalam pengabdian untuk nama Tuhan.

Baca Juga:

Mengerjakan Misi Allah melalui Pekerjaan Kita

Kita tidak dipanggil dalam kenyamanan dan kemudahan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil ke dalam dunia yang rusak karena dosa yang merajalela. Kita diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala.

Lima, Dua, Satu

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Bulan mengambang dengan diam. Sinarnya memancarkan kelembutan yang memukau. Malam terasa hening dan damai. Namun, suasana hatiku gundah gulana. Beberapa kejadian siang ini terlintas kembali dalam benakku dengan sangat jelas.

Aku baru saja selesai membereskan catatan kehadiran anak, ketika merasa perutku mulai lapar. “Eh, ada Susan,” kataku ketika melihat keluar jendela.

“Hai, Susan, yuk, makan siang. Aku yang traktir.”

“Sorry, Bren. Aku tidak bisa. Aku mau persiapan pelayanan buat minggu depan. Lain kali ya.”

“Oh…OK, selamat persiapan.” Aku melambaikan tangan dan mencoba untuk tersenyum.

Sepulang dari kantin gereja, aku bertemu Lia di tengah jalan. “Sudah lama nggak ngobrol dengan Lia, aku ingin tahu bagaimana kabarnya,” pikirku.

“Lia, kamu lagi sibuk, ya?”

“Oh, hai, Bren. Iya, aku mau latihan paduan suara. Mengapa?”

“Oh, tidak apa-apa. Hanya ingin ngobrol saja dengan kamu. Tetapi kamu sepertinya sibuk. Kita ngobrol lain kali ya.”

“Iya, sorry ya, Bren. Akhir-akhir ini memang lagi sibuk persiapan buat acara bulan Agustus nanti.”

Aku mengangguk dan melangkah dengan gontai. “Semua orang sepertinya sibuk pelayanan. Hanya aku yang tidak.”

Aku sedang berdiri di pintu gerbang gereja ketika melihat Yunita berdiri juga di sana.

“Hai, Yun.”

“Hai, Bren. Apa kabar?”

“Kabar baik. Kamu sedang apa?”

“Aku sedang siap-siap menunggu jemputan. Mau pergi pembesukan ke rumah sakit. Hari ini adalah jadwal kelompokku.”

“Oh…kalau begitu, selamat membesuk ya.”

Aku melambaikan tangan kepada Yunita yang segera naik mobil jemputannya.

Aku menghela nafas. Sungguh sulit bertemu dengan teman-temanku sekarang. Sepertinya semua orang sangat sibuk dengan pelayanan. Susan, misalnya, selain aktif menjadi worship leader ibadah Minggu, dia juga aktif di perpustakaan gereja, dan Persekutuan Doa. Lia pun demikian, seorang penyanyi andalan di gereja, dan Ketua Komisi Anak. Yunita terlibat aktif di pelayanan rumah sakit, pemimpin kelompok kecil, sekaligus pemimpin kelompok Pemahaman Alkitab.

Sebuah perasaan asing menyelip di hatiku. Aku merasa begitu kecil dan sendiri. Merasa diriku tidak berharga, dan tidak diakui oleh orang lain. Aku hanya melayani di satu bidang, yaitu sie pemerhati untuk komisi anak. Tugasku hanya mencatat kehadiran anak-anak setiap hari Minggu, menelepon mereka bila ada yang sakit, mengucapkan selamat ulang tahun, dan mendoakan mereka. Hanya itu. Pelayanan yang sudah kulakukan selama hampir 1 tahun ini. Apakah Tuhan itu adil? Mengapa Dia tidak memberikanku pelayanan yang lain juga? Mengapa aku hanya melayani di satu bidang saja? Mengapa aku tidak bisa seperti Susan, Lia atau Yunita?

Persekutuan Doa berjalan seperti biasa. Tetapi aku sulit sekali berkonsentrasi, aku bernyanyi dengan setengah hati, dan merasa tidak bersemangat ketika renungan dimulai. Pembicara itu mengajak kami membuka bagian Alkitab dari kitab Matius 25:14-30.

“Ah…itu lagi,” kataku dalam hati.

“Aku sudah tahu bagian Alkitab itu. Tentang talenta. Ada yang diberi lima, dua dan satu.”

Beberapa kalimat pembuka tidak terdengar, karena aku sibuk dengan pemikiranku. Namun tiba-tiba, ada yang menarik perhatianku.

“Jika kita membaca bagian ini, banyak orang berpikir Tuhan tidak adil ketika dia memberikan talenta yang berbeda-beda. Mengapa tidak sama? Mengapa harus berbeda?”

“Iya, tentu saja tidak adil. Bukankah yang adil itu harus sama?”jawabku dalam hati.

“Nah, justru di sanalah letak kesalahpahaman kita. Bila kita menganggap Tuhan tidak adil hanya karena talenta yang diberi tidak sama, maka kita telah salah memahami keadilan Tuhan. Keadilan Tuhan tidak sama dengan keadilan manusia. Bagi kita manusia, yang disebut adil adalah setiap orang memiliki bagian yang sama.”

Aku memajukan dudukku. Sekarang perhatianku kembali penuh. Pembicara itu seolah-olah sedang membaca pikiranku.

Dia kemudian mengeluarkan sekotak kue dan menunjukkannya kepada kami. “Misalnya jika saya ingin membagikan kue ini kepada kalian, saya harus membagikannya secara sama, bukan? Yang adil adalah kalian masing-masing mendapatkan satu potong kue. Dan akan menjadi tidak adil, jika salah seorang dari antara kalian mendapatkan dua potong kue. Hasilnya kalian akan marah, dan tentu saya tidak ingin kena marah.” Dia menyengir lucu.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

“Tetapi jika kita berbicara keadilan Tuhan, yang berlaku tidak seperti itu. Talenta dalam perumpamaan ini adalah sesuatu yang dipercayakan tuan itu kepada hamba-hambanya. Besarnya memang tidak sama, tetapi apa yang dipercayakan itu sesuai dengan kemampuan masing-masing hamba. Jadi apakah tuan itu tidak adil? Tidak. Justru tuan itu sangat adil karena masing-masing diberikan sesuai dengan kemampuannya. Coba bayangkan bila hamba yang diberikan dua talenta itu diberikan lebih banyak dari kemampuannya, apa yang akan terjadi?”

Pembicara itu diam sejenak, menatap kami yang sedang memperhatikannya.

“Kemungkinan yang terjadi adalah hamba tersebut tidak akan dapat memberikan hasil yang maksimal karena kemampuannya hanya terbatas dua talenta. Dan lihatlah, ketika tuan itu memuji hamba-hambanya, dia tidak memuji jumlah yang mereka hasilkan. Tetapi yang dipuji justru kesetiaan para hamba tersebut menjalankan apa yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Bila kita setia pada apa yang dipercayakan pada kita, bukankah Tuhan pun akan menambahkan tanggung jawab yang lain?”

Aku mengulang dalam hati kalimat terakhir yang disampaikan pembicara itu, dan mencoba memikirkan kegelisahan hatiku selama beberapa hari ini.

“Ternyata yang diminta oleh Tuhan adalah kesetiaan untuk menjalankan pelayanan yang dipercayakan itu. Bukan berapa banyak pelayanan yang dilakukan.” Aku kembali teringat akan kesibukan pelayanan teman-temanku. Aku menetapkan hati untuk belajar setia pada pelayananku saat ini sama seperti mereka.

Langkah kakiku terasa ringan saat meninggalkan gereja. Mengucap syukur aku memiliki Tuhan yang adil, yang memberi sesuai dengan kemampuan setiap orang.

Baca Juga:

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain.

Belajar Mengasihi Mereka yang Tak Seiman

Oleh Irene, Surakarta

Kaget. Itulah perasaanku tatkala masuk ke dunia kerja pada tahun 2017 silam. Bukan hanya karena target-target yang harus dicapai, melainkan juga karena teman-teman sekantor yang tak seiman denganku.

Aku tumbuh di lingkungan Kristiani. Sejak kecil hingga kuliah, aku hidup bersama orang-orang seiman. Bak katak dalam tempurung, aku hampir tak pernah memiliki teman dari agama lain selain Protestan dan Katolik. Dan, hal inilah yang secara tidak langsung membuatku mengeksklusifkan diri dan memercayai stigma yang salah tentang agama lain, bahwa mereka mungkin tidak suka dengan orang Kristen

Aku takut saat masuk ke dunia kerja, karena di sini mau tidak mau aku harus bergaul dengan teman-teman baru yang 90 persen bukanlah orang Kristen. Jujur, pertama kali masuk, ada rasa takut akan diskriminasi dari mereka. “Bagaimana jika nanti aku dikucilkan dan tak punya teman? Bagaimana jika mereka tak mau menerima aku dan aku tidak bisa beradaptasi lalu dianggap aneh?” Pikiran-pikiran itu berkecamuk di dalam diriku.

Namun aku teringat bahwa sebagai seorang Kristen, aku harus berani menunjukkan kasih kepada sesama meskipun kami tak seiman, seperti dalam pesan Yohanes. Dalam suratnya, Yohanes mengatakan bahwa kita diutus untuk mengasihi karena kasih itu sendiri berasal dari Allah, Tuhan kita. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 4:7 dan 1 Yohanes 4:21)

Perlahan, aku pun mulai membuka diri. Sedikit demi sedikit, aku mulai berani menunjukkan identitasku sebagai seorang Kristen seperti berdoa sebelum makan di samping teman-teman kantorku. Ketika hari raya mereka tiba, aku menunjukkan kasih dalam rupa mengucapkan selamat lewat pesan singkat terlebih dahulu meskipun seringkali mereka tak melakukan hal yang sama kepadaku. Aku juga belajar menjadi pribadi yang ramah dan tidak menghakimi mereka lewat tindakan maupun dari dalam hatiku sendiri.

Berulangkali, aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku pun manusia biasa yang seringkali berbuat salah. Menjadi Kristen, tak berarti aku lepas begitu saja dari dosa dan lebih baik daripada mereka. Aku tak berhak menghakimi mereka dan melabeli mereka jahat, hanya karena mereka tak seiman denganku atau hanya karena penampilan mereka, seperti pesan Rasul Paulus (Roma 14: 4): “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.”

Ketika aku melakukan hal-hal baik, mereka pun mulai membuka diri. Teman-teman kantorku jadi mulai bertanya tentang imanku dan aku pun menjelaskannya dengan antusias. Bukan hanya itu saja. Mereka pun juga mulai ikut mengucapkan Selamat Natal dan Paskah kepadaku dan teman-teman Kristen lain yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kami pun saling belajar tentang arti toleransi yang sesungguhnya. Oleh karena kami bekerja di media yang harus masuk di tanggal merah, aku dan teman-teman Kristen pun berkorban masuk kantor di saat mereka merayakan hari raya. Begitu pula sebaliknya.

Kini setelah 3 tahun aku bekerja, aku memiliki banyak teman yang tak seiman denganku. Aku bersyukur, suasana kantor yang dulu menegangkan bagiku, kini menjadi semakin cair dari hari ke hari. Lewat mereka, aku juga belajar mengasihi, membuka diri, menghapus stigma negatif yang selama ini aku percayai serta bertoleransi dengan umat dari agama lain. Kami saling bertukar cerita, suka dan duka bahkan pergi bersama dan berbagi canda tawa di tengah-tengah perbedaan yang kini tak lagi menjadi tembok pembatas di antara kami.

Bagiku, inilah tantangan utama kita sebagai seorang Kristen di zaman ini. Memang begitu sulit untuk terlebih dahulu mengasihi mereka yang ‘berbeda’ dengan kita. Bahkan seringkali, kita merasa sebagai yang paling benar di antara umat agama lain. Namun Tuhan Yesus sendiri pernah menegur kita bahwa jika kita mengasihi mereka yang sudah mengasihi kita, apakah upah yang kita dapatkan? “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5: 46 – 48).

Oleh karena itu, seperti dalam hukum utama Kitab Suci dalam Surat Yakobus 2: 8-9, marilah kita mengamalkan kasih kepada siapapun yang kita temui. Tak peduli apapun agamanya, apapun ras dan sukunya, berusahalah memberikan kasih lewat salam, sapaan yang ramah dan tidak menghakimi demi terwujudnya nilai-nilai Kristiani:“Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri, kamu berbuat baik. Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.”


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Bertahan Adalah Sebuah Pergumulan

Bertahan dan memelihara komitmen untuk melayani di komunitasku sempat terasa begitu berat. Aku ingin menyerah dan keluar saja, tetapi Tuhan menguatkanku tetap bertahan, hingga sekarang aku melihat buahnya.

Ketika Bertahan Adalah Sebuah Pergumulan

Oleh Vika Vernanda, Bekasi

Saat sedang menggulir laman sosial media, aku melihat kiriman video dari suatu akun komunitas Kristen untuk publikasi sebuah ibadah. Impresi pertama ku adalah kagum karena desainnya sangat menarik, namun setelah selesai melihatnya, aku tertegun dan teringat sesuatu. Komunitas ini adalah tempatku melayani hingga sekarang. Tapi tepat satu tahun lalu, aku hampir meninggalkannya.

Pelayanan di tempat ini awalnya berjalan baik, relasiku dengan anggota komunitas lainnya pun sudah sangat dekat. Hingga suatu saat ada hal yang seakan memaksaku untuk meninggalkan komunitas ini.

Berat sekali rasanya. Sungguh sangat berat.

Hari demi hari berganti. Doaku terus terisi dengan pertanyaan “kenapa ini harus terjadi?”.

Aku menjadi takut. Takut untuk tetap hadir di komunitas ini. Takut memberi pengaruh buruk kepada anggota lainnya. Takut kalau jangan-jangan motivasiku berada di tengah mereka bukan karena kerinduan agar setiap mereka menikmati Allah, melainkan hanya karena aku menikmati penerimaan dari mereka. Perasaan dan pemikiran itu kemudian membuatku mengingat dan merenungkan kembali kerinduan awal aku melayani di komunitas ini.

Singkat cerita, dalam masa perenunganku, aku menemukan bahwa kerinduan awalku melayani komunitas ini adalah setiap anggota menikmati Tuhan yang sungguh mengasihi mereka melebihi apapun. Kerinduanku adalah setiap anggota komunitas akhirnya mempersembahkan setiap hal dalam kehidupan mereka kepada Tuhan.

Menemukan hal ini mulai membuatku untuk mau berjuang tetap bertahan.

Tepat di hari yang sama, aku menghadiri sebuah ibadah. Firman saat itu adalah dari Kisah Para Rasul 21:1-14, tentang keadaan yang seakan memaksa Paulus untuk tidak pergi ke Yerusalem karena penglihatan bahwa Paulus akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain (Kis 21:11). Jawaban Paulus tertulis pada ayat 13 bagian ini yang berkata “Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.” Aku menangis. Ketika doa tutup firman aku berkomitmen untuk tetap bertahan melayani di komunitas ini.

Aku tahu ada sesuatu yang seakan memaksaku berhenti, tapi aku lebih tau ada Allah yang terus berjalan bersamaku.

Sungguh bersyukur kepada Allah, saat ini aku bisa menyaksikan bahwa Allah memberi pertumbuhan bagi komunitas ini. Meski masih terlibat melayani di komunitas ini, aku sudah tidak banyak ambil bagian dalam persiapan ibadah. Melihat video video publikasi tersebut, membuatku tidak bisa tidak bersyukur. Bersyukur karena pilihan untuk bertahan satu tahun yang lalu, ternyata membawaku menyaksikan pertumbuhan yang Allah anugerahkan.

Untukmu yang sedang bergumul untuk tetap bertahan di suatu kondisi tertentu; bertahan tetap melayani sesama meski harus terus memutar otak mencari cara yang efektif, bertahan untuk berjuang mengasihi anggota keluarga meski mungkin setiap hari ada saja cara mereka membuatmu kesal, atau bahkan bertahan menahan rindu berjumpa dengan teman-teman karena kebijakan PSBB saat ini; kiranya kita semua boleh menyadari bahwa mungkin saja keputusan yang paling baik dan paling bernilai adalah tetap bertahan, bahkan ketika berpaling atau berjalan menjauh akan menjadi keputusan yang lebih sederhana. Karena kesetiaan (faithfulness), yakni tetap bertahan di tempat kita berada, terkadang adalah tindakan terbesar dari iman (faith).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Catatanku Menjadi Pengurus: 3 Kendala Pelayanan Pemuda di Gerejaku Sulit Berkembang

Jumlah pemuda yang hadir di tiap persekutuan hanya tiga orang. Membangun pelayanan pemuda pun terasa sulit karena beberapa kendala.

Bersukacita Karena Persekutuan Injil

Oleh Aldi Darmawan Sie, Jakarta

Aku adalah seorang yang pernah menikmati indahnya persekutuan Kristen di kampus. Di persekutuan itulah aku mulai menapaki perjalanan spiritualku bersama Tuhan. Pada tahun 2011, aku memulai studiku di salah satu kampus di Jakarta, dan di sana jugalah aku menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku melalui ibadah KKR penyambutan mahasiswa baru.

Perjalanan itu terus berlanjut. Setelah pertobatanku itu, ada seorang mentor rohani yang setia membimbingku supaya aku mengalami pertumbuhan rohani. Dari dialah aku mengenal apa artinya dan pentingnya bersaat teduh setiap hari. Dan, dari dia jugalah aku mengenal persekutuan kelompok kecil dan menikmati pengalaman memiliki teman yang sama-sama bertumbuh secara rohani. Singkat cerita, kehadiran mentorku ini menjadi salah satu bagian penting yang mewarnai keindahan persekutuan kampus yang pernah kualami.

Beberapa tahun setelahnya, aku mulai dipercayakan untuk melayani adik-adik tingkatku dalam suatu kelompok kecil. Awalnya, aku cukup bingung; apa yang harus kukerjakan untuk membimbing adik-adik tingkatku ini? Aku pernah hanya berkutat dengan bahan-bahan kelompok kecil yang mesti kusampaikan tanpa memberi perhatian yang cukup kepada mereka tiap harinya. Namun, di tengah perjalanan itu, mentorku kembali mengingatkan baik dengan perkataannya maupun juga dengan tindakannya yang dulu pernah dia perbuat kepadaku. “Kelompok kecil itu bukan hanya tentang membagikan pengetahuan bahan-bahan PA atau supaya adik-adik kita mengerti secara kognitif tentang Tuhan, tetapi tentang membagikan hidup kita yang terlebih dulu telah ditransformasi dan mengalami Kristus kepada mereka.”

Berawal dari perenungan itu, akhirnya aku menyadari bahwa sukacita terbesar dalam melayani seseorang adalah bukan hanya ketika mereka mengetahui tentang Tuhan, tetapi ketika melihat mereka mengalami pertumbuhan di dalam pengenalan dan kasih mereka kepada Tuhan. Ya, menyaksikan orang yang kita layani bertumbuh secara rohani, itulah hal yang membuatku paling bersukacita selama melayani. Aku teringat lantunan doa dan ucapan syukur Paulus kepada Tuhan atas jemaat di Filipi. Paulus berkata, “Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini” (Filipi 1:3-4). Di dalam kalimat ini, jelas dikatakan bahwa Paulus selalu berdoa dengan sukacita dan ucapan syukur. Paulus tentu saja mengenal betul bagaimana pertumbuhan rohani jemaat asuhannya ini sewaktu ia masih tinggal bersama di Filipi. Itu sebabnya, Paulus dapat bersukacita dan mengucap syukur kepada Allah ketika melihat jemaat asuhannya bukan saja menerima Injil, tetapi juga bertumbuh dalam persekutuan Injil yang ia beritakan.

Sukacita Paulus atas Jemaat Filipi tidak dapat dipadamkan oleh apapun, termasuk oleh kondisinya pada saat itu. Pada saat menulis surat Filipi, Paulus sedang terbelenggu di penjara. Namun, belenggu rantai-rantai penjara itu tidak dapat memudarkan sukacita Paulus, melainkan semakin mengokohkan keyakinannya atas pekerjaan Allah yang telah Dia mulai sebelumnya (ayat. 4). Paulus memiliki keteguhan hati bahwa meskipun saat itu dia tidak lagi bersama dengan Jemaat Filipi, tetapi dia yakin bahwa Allah yang memulai pekerjaan Injil itu, akan meneruskannya hingga pada kesudahannya. Itulah yang menjadi sumber sukacitanya.

Dari ucapan syukur dan doa Paulus ini, aku juga merefleksikan hal yang penting dalam caraku memandang suatu pelayanan. Ada atau tidak adanya kita, itu tidak akan membuat pekerjaan Tuhan hancur, karena Allah sendirilah yang menginisiasi pekerjaan baik-Nya dan Dia juga yang akan meneruskannya. Pertama, realita ini seharusnya tidak membuat diriku jemawa ketika adik-adik rohaniku mulai bertumbuh secara rohani. Sejatinya, itu semua bukanlah semata-mata karena kecakapanku dalam melayani. Namun, itu semua karena ada Allah yang telah memulai pekerjaan baik itu di dalam diri setiap orang yang kulayani. Kedua, kesadaran ini juga seharusnya tidak membuatku minder atau merasa bersalah yang berlebihan ketika orang-orang yang kulayani nampaknya tidak menghasilkan buah yang baik. Aku tetap bisa bersyukur dan bersukacita karena kita memiliki pengharapan bahwa pekerjaan baik Allah tetap ada di dalam diri mereka dan Dia akan tetap meneruskannya.

Kita dapat bersukacita karena kita tahu bahwa pertumbuhan rohani sesungguhnya bukan didasarkan kepada keberhasilan maupun kegagalan kita dalam melayani, bukan juga karena semata kecanggihan metode-metode yang kita gunakan. Namun, karena ada Allah yang memulai lebih dulu pekerjaan baik-Nya di dalam masing-masing umat pilihan-Nya sampai pada akhir zaman. Maka, ketika kita berhasil, kita sadar bahwa sesungguhnya tangan Tuhanlah yang pertama memulai pekerjaan baik itu. Apabila kita mengalami kegagalan, kita juga tidak larut dalam kesedihan, karena kita memiliki pengharapan bahwa Allah yang memegang kendali atas mereka.

Di tengah perjalanan pelayananku, terkadang aku dihantui banyak kegagalan di masa lalu. Aku merasa bahwa dulu tidak cukup bersungguh-sungguh di dalam melayani, sehingga orang-orang yang kulayani terhambat pertumbuhan rohaninya. Namun, Tuhan terus mengingatkanku untuk kembali berkomitmen dan giat melayani-Nya, karena aku tahu bahwa Allah telah memulai pekerjaan baik-Nya bagi orang-orang yang kulayani. Bukankah suatu kehormatan bagiku ketika aku dipakai Allah menjadi alat-Nya untuk meneruskan pekerjaan baik itu?

Namun, ada pula masanya ketika aku begitu giat dan semangat melayani. Doa Paulus ini tetap bisa kumaknai dan menjadi pengharapan, karena benih Injil yang pernah kutaburkan tidak akan pernah sia-sia. Pekerjaan baik yang telah Allah mulai tidak akan pernah terhalangi atau berhenti karena apapun. Sebaliknya, Dia akan meneruskan-Nya hingga sampai Kristus datang untuk kedua kalinya. Bukankah realita ini dapat menjadi pengharapan bagi kita di tengah pelayanan kita?

Kiranya teladan Paulus di dalam sukacitanya melayani dapat menjadi pembelajaran yang berharga buat kita yang juga saat ini sedang berjuang untuk membimbing jemaat, adik-adik rohani, dan keluarga kita. Sukacita Paulus tidak berasal dari luar dirinya, tetapi berasal dari Allah yang memulai pekerjaan baik di tengah kita. Sukacitanya juga berasal dari Injil Kristus itu sendiri yang dia yakini berkuasa mentransformasi kehidupan seseorang. Terakhir, sukacitanya bertumbuh karena kehadiran Roh Kudus yang terus menuntun setiap orang yang dilayaninya untuk semakin serupa dengan Kristus dari hari ke hari.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Mengalami Pelecehan Seksual, Aku Memilih untuk Mengampuni dan Dipulihkan

Ketika apa yang kujaga dinoadai oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, seketika aku merasa hancur. Aku merasa kotor dan tak layak di hadapan Tuhan. Aku pun trauma berelasi dengan lawan jenis, terlebih apabila terjadi sentuhan fisik.

Dalam Segala Situasi, Bersekutu Itu Selalu Perlu

Oleh Frida Oktavia Sianturi, Pekanbaru

Sudah dua bulan sejak pandemi menghampiri kota Pekanbaru, aku dan adik KTB-ku (Kelompok Tumbuh Bersama) tidak pernah bertemu untuk PA (Pendalaman Alkitab) bersama. Biasanya aku mengunjungi mereka, tetapi kali ini tidak bisa. Mereka memutuskan pulang kampung saja karena perkuliahan mereka dilaksanakan secara daring.

Berbeda denganku, aku harus tetap berada di Pekanbaru. Aku tidak bisa pulang ke rumahku di kabupaten Rokan Hilir karena tetap harus masuk kerja. Pandemi ini pun belum ada tanda-tanda akan berakhir. Pertanyaan terus menghampiri: Kapan ya ini akan berakhir? Kapan ya aku bisa bertemu lagi dengan adik KTB-ku? KTB teman-temanku yang lain kebanyakan dilakukan via online. Aku pun menawarkan kepada adik-adik KTB-ku untuk KTB online.

Namun, respon mereka membuatku sedih.

“Aku tidak bisa kak, jaringan internet di kampungku susah.”

“aku tidak bisa kak, memori HPku tidak cukup untuk download aplikasi yang baru.”

“aku tidak bisa kak, paket internetanku terbatas. Uang jajan tidak diberikan karena aku saat ini di rumah”

Respons mereka membuatku bergumul di hadapan Tuhan. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Awalnya, aku memutuskan agar kami saling berbagi pokok doa saja supaya kami bisa tetap saling mendoakan di tempat kami masing-masing sekaligus kami jadi saling mengetahui kondisi satu sama lain.

Namun aku masih gelisah. Aku merenung bagaimana caranya agar adik-adikku juga tetap diperlengkapi oleh Firman Tuhan selama masa-masa karantina ini. Aku berdiskusi dengan teman sekamarku. Dia lalu memberiku saran untuk KTB via telepon saja. Opsi ini baik meskipun aku perlu mengeluarkan uang lebih untuk membeli pulsa. Untuk menelepon empat orang adik dan biasanya kami KTB bisa lebih dari tiga jam, tentu aku harus mengeluarkan uang yang lebih untuk beli pulsa.

Sebenarnya sulit bagiku untuk mengeluarkan uang lebih di tengah kondisi ini. Work From Home membuat kebutuhanku meningkat. Cicilan juga tetap harus dibayar, tetapi kepada Tuhan kuserahkan semua kesulitanku ini.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menelepon mereka berempat dan mengajak mereka KTB via telepon. Tak hanya belajar firman, kami saling mengabari kondisi kami, berbagi pokok doa, dan saling menopang. Aku sangat bersyukur bisa kembali KTB bersama mereka meskipun kami tak bisa dekat secara fisik. Aku bersyukur kami bisa belajar firman Tuhan kembali. Dan aku jadi belajar, lewat kondisi ini sebenarnya tidak ada alasan bagi anak-anak Tuhan untuk tidak datang kepada-Nya. Kemajuan teknologi bisa dipakai-Nya sebagai sarana untuk kita tetap bertumbuh.

Aku teringat kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Ketika raja Nebukadnezar meminta mereka untuk menyembah patung emas dan memuja dewa, mereka menolaknya. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tetap memegang teguh kepercayaan mereka kepada Tuhan. Kesetiaan mereka berkenan kepada Tuhan, dan Tuhan meluputkan mereka dari panasnya perapian yang menyala-nyala (Daniel 3).

Kita mungkin tidak menghadapi ancaman seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, namun kita dapat meneladani kesetiaan mereka pada Tuhan. Dengan tetap terhubung bersama saudara seiman, kita dapat dikuatkan dalam menghadapi masa-masa sulit. Ibrani 10:24-25, berkata, “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

Pandemi ini mungkin tampak mengerikan bagi kita, tapi janganlah kiranya kepercayaan kita kepada Tuhan menjadi padam. Pandemi ini tidak lebih besar dari pada Tuhan kita. Dalam situasi ini, kita hanya butuh hati yang mau taat belajar firman-Nya. Apa pun persoalan yang saat ini kita hadapi, biar kiranya kita melakukannya di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita.

Jika kita kesulitan mengakses persekutuan secara online, tetaplah bangun persekutuan pribadi kita melalui doa dan saat teduh. Atau, jika kita memiliki materi-materi lain seperti buku rohani, kita bisa membacanya sebab itu pun baik untuk pertumbuhan iman kita.

Baca Juga:

Berkat di Balik Pilihan yang Tampaknya Salah

Ketika pilihan yang kita ambil mengantar kita pada kegagalan, cobalah untuk melihat dari sudut pandang Allah. Segala hal dapat dipakai-Nya untuk membawa kebaikan bagi kita, selama kita bersedia untuk percaya.

Kelemahan Bukanlah Alasan untuk Tidak Melayani

Oleh Priska Aprilia, Bandung

Beberapa waktu lalu, komunitas menulis yang kuikuti menghubungiku. Mereka hendak melakukan syuting salah satu proyek video di Bandung dan bertanya apakah aku dapat meminjamkan peralatan-peralatan syuting kepada mereka. Karena aku memiliki peralatan yang mereka butuhkan, aku pun menyanggupinya. Proses syuting ini pun kemudian jadi sebuah momen yang mengingatkanku kembali tentang hati yang melayani.

Ketika hari syuting tiba, aku membantu memasang peralatan dan mengikuti prosesnya. Awalnya kupikir ini akan jadi proses syuting yang biasa, tapi dugaanku salah. Meski tampaknya biasa saja ternyata orang-orang yang disyuting memiliki disabilitas. Mereka adalah rekan-rekan dari komunitas tunarungu di kota Bandung yang akan menampilkan nyanyian dalam bahasa isyarat.

Proses syuting berjalan lancar, meski sedikit alot karena ada beberapa kesalahan dan perbedaan cara komunikasi. Kesabaran, rasa respect dan rendah hati amat diperlukan selama proses syuting ini. Aku berusaha menangkap perkataan mereka meskipun lafalnya tidak terdengar jelas. Sedikit-sedikit, aku juga belajar bahasa isyarat sederhana. Ketika jeda berlangsung, komunitas tunarungu ini saling mengingatkan menggunakan bahasa isyarat, berulang-ulang sampai mereka bisa melakukan gerakan bahasa isyarat yang benar. Puji Tuhan, tiga minggu kemudian, proyek video ini pun ditayangkan di YouTube dan menuai hasil yang positif.

Cerita kedua yang ingin kubagikan adalah baru-baru ini komunitas pemuda di gerejaku melakukan ibadah bersama rekan-rekan dari pondok belajar yang beranggotakan anak-anak jalanan. Pendiri pondok belajar tersebut terpanggil untuk melayani anak-anak yang kurang mampu agar bisa mendapatkan akses pendidikan yang baik. Pelayanan ini tidaklah mudah. Seringkali dia bergumul karena dana operasional yang kurang. Tetapi, dia dan rekan-rekan pengurus tidak menyerah dan Tuhan pun selalu menolong mereka.

Dari dua pengalaman yang kutulis di atas, menurutmu apakah persamaannya?

Jawabanku adalah: kelemahan.

Rekan-rekan tunarungu memiliki kelemahan fisik. Sedangkan rekan-rekan dari pondok belajar mengalami kesulitan finansial. Tetapi, kendala-kendala tersebut tidak menjadikan mereka berhenti melayani.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia memiliki kelemahan yang bisa jadi disebabkan karena kondisi fisik ataupun keadaan yang dialami. 2 Korintus 12:7 berkata, “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” Perkataan Paulus tersebut menyiratkan bahwa meskipun ada kelemahan dan kendala yang harus dia alami dalam pelayanannya, itu menolong Paulus untuk lebih bergantung pada kasih karunia ilahi. Ini pun berlaku bagi kita, kelemahan diizinkan Tuhan terjadi supaya kita bersandar kepada-Nya.

Mungkin kita pernah berpikir bahwa untuk melayani haruslah sempurna dan tidak pernah gagal. Padahal, Tuhan seringkali memakai orang-orang yang memiliki kelemahan sebagai alat-Nya. Kita dapat datang pada Tuhan dan mengakui kelemahan-kelemahan yang kita miliki. Bahkan, Kristus dalam pelayanan-Nya di dunia juga sempat mengakui kelemahan-Nya ketika Dia meminta murid-murid untuk tinggal dan berjaga-jaga dengan-Nya seraya Dia berdoa. Kenalilah Kristus yang kita layani, juga diri kita sendiri, lalu dengan jujur terimalah apa yang jadi kelemahan kita. Izinkanlah Tuhan berkarya di dalam kelemahan kita.

Tuhan memberikan Roh Kudus sebagai penghibur dan penolong bagi kita. Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk melayani Tuhan di dalam kelemahan yang kita miliki.

Yuk mulai sekarang janganlah ragu, merasa tertuduh, atau terintimidasi atas kelemahan yang kita miliki.

Baca Juga:

Bertobat dari Kemalasan

Sejak lulus kuliah aku hidup bermalas-malasan tanpa ada niatan untuk memperbaiki diri. Hingga suatu ketika, Tuhan menegurku dengan keras.

Melangkah dalam Kesatuan

Hari ke-7 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 2:1-4

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Aku tumbuh besar di keluarga Kristen, jadi aku menghabiskan banyak hari Minggu pagiku di gereja. Namun aku tidak pernah memiliki keinginan untuk terlibat di dalamnya.

Bahkan, sepanjang masa kuliahku, aku datang tepat waktu untuk ibadah Minggu, lalu langsung menyelinap keluar setelah lagu terakhir selesai dinyanyikan. Hingga suatu hari, seorang teman bertanya padaku, “Tidakkah kamu ingin tinggal sejenak dan mengobrol bersama saudara-saudarimu dalam Kristus?

Nyatanya, jangankan menganggap mereka sebagai saudara dan saudariku, aku bahkan tidak pernah berpikir mengenai kesamaanku dengan orang-orang di gerejaku. Namun ketika temanku bertanya dengan terus terang, aku merasa bersalah karena tidak berusaha mengenal mereka.

Orang-orang di gereja bukanlah kumpulan orang-orang asing. Kita tidak dipersatukan oleh ketertarikan yang dangkal, atau kesamaan latar belakang belaka. Kita memiliki kesamaan yang jauh lebih dalam. Rasul Paulus, dalam suratnya pada jemaat Filipi, mengingatkan mereka bahwa orang-orang Kristen dipersatukan oleh penguatan yang sama-sama kita dapatkan melalui Kristus, penghiburan dalam kasih-Nya, persekutuan dalam Roh, oleh kasih mesra dan belas kasihan.

Pernahkah kamu merasakan karya Tuhan dalam hidupmu? Pernahkah kamu merasakan kedamaian ilahi yang Ia berikan setelah kamu menaikkan sebuah doa? Pernahkah kamu digerakkan pada belas kasih dan kelemahlembutan seperti Kristus? Pengalaman-pengalaman ini juga dirasakan oleh orang-orang yang duduk di sebelahmu di gereja. Hal itulah yang menyatukan kita semua.

Paulus mengatakan jika Kristus ada di dalam hidup kita, maka seharusnya kita “sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Mengapa kita harus sedemikian disatukan? agar kita dapat “sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil” (Filipi 1:27).

Jika kita tidak mengenal saudara-saudari kita di dalam Kristus, jika kita tidak memberi diri kita dalam kehidupan mereka, dan tidak mengizinkan mereka memberi diri dalam hidup kita, bagaimana mungkin kita dapat sehati sepikir berjuang bersama demi Berita Injil?

Alih-alih bertengkar atas perbedaan semu dan mencoba mengungguli satu sama lain, orang-orang Kristen seharusnya bekerja sama untuk menunjukkan keberagaman dan kesatuan yang indah, yang telah dikaruniakan oleh Kristus.

Secara praktis, bagaimana kita dapat menghidupi kesatuan ini? Paulus memberikan petunjuk yang jelas dalam ayat 3-4: “tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

Ketika aku langsung menyelinap keluar dari gereja setelah ibadah Minggu selesai, aku sedang memperhatikan kepentinganku saja. Namun Paulus mendorongku untuk menganggap orang lain lebih utama daripada diriku sendiri. Aku sedang mencoba untuk tinggal lebih lama setelah ibadah. Aku berusaha melakukan perbincangan yang berarti dan tidak basa-basi semata dengan saudara-saudariku, dengan menanyakan bagaimana Allah berkarya di hidup mereka minggu ini, atau jika ada suatu hal yang dapat kudoakan. Semakin aku berusaha mengenal mereka, semakin aku diberkati untuk menanggung beban sesamaku, dan juga bersuka dengan yang orang-orang lain.

Maukah kamu berusaha bersamaku untuk mengesampingkan kepentingan diri atau pujian yang sia-sia, dan memperhatikan kepentingan orang-orang di sekitar kita demi menjalankan tugas yang dipercayakan Allah pada kita? Tentunya hal ini tidaklah mudah, namun sebagaimana kita telah diselamatkan oleh pengorbanan Kristus, kita juga dapat percaya bahwa kasih dan penguatan-Nya akan memampukan kita untuk hidup bersama dalam kesatuan yang luar biasa, yang tidak dikenal dunia.—Christine Emmert, Amerika Serikat

Handlettering oleh Septianto Nugroho

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Apakah kamu sedang menjadi orang yang memikirkan diri sendiri atau orang lain? Bagaimana bacaan hari ini meyakinkan dan menguatkanmu?

2. Apakah kamu memiliki ambisi atau kepentingan pribadi yang menghalangimu untuk hidup dalam kesatuan? Apa langkah-langkah praktis yang dapat kamu lakukan untuk mengesampingkan hal-hal tersebut?

3. Bagaimana kamu telah mengalami Kristus minggu ini (Filipi 2:1)? Apakah ada orang percaya lainnya yang dapat kamu temui untuk kamu bagikan pengalamanmu tentang karya Kristus dalam hidupmu?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Christine Emmert, Amerika Serikat | Christine adalah seorang pengikut Kristus, kutu buku, dan penyuka makanan. Hidup ini indah, setiap hembusan nafas adalah pengingat bahwa apapun keadaannya, Tuhan itu baik.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Arti Sesungguhnya Mengasihi Seseorang

Hari ke-2 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:9-11

1:9 Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,

1:10 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,

1:11 penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Beberapa waktu lalu, seorang temanku mengirimiku chat yang panjang, ia sedang merasa frustrasi. Aku tidak nyaman dengan konflik—terutama ketika kondisinya tidak melibatkanku. Maka meskipun aku tahu aku harus menolong temanku itu, aku tidak tahu bagaimana caranya.

Suamiku mendorongku untuk meneleponnya, namun aku tidak menyukai pembicaraan melalui telepon. Aku tergoda untuk membiarkan perasaanku mengalahkan kepedulianku terhadap temanku, dan mengabaikannya begitu saja.

Namun, jika aku benar-benar mengasihi saudariku dalam Kristus, aku seharusnya memilih untuk berada di sampingnya. Aku pun memberanikan diri untuk meneleponnya, ternyata itu berdampak positif bagi kami berdua.

Menyatakan kasih dalam puji-pujian di hari Minggu atau melalui hashtag di Instagram memang mudah. Tetapi, cara tersebut bisa menjadi cara yang dangkal jika tidak disertai dengan tindakan nyata dari kasih tersebut. Terkadang kita memiliki niat yang baik, tapi kita tidak tahu bagaimana cara menyatakannya itu melalui tindakan.

Untungnya, Paulus meneladankan aplikasi praktis dari kasih ini. Dalam suratnya, ia mengekspresikan rasa syukurnya atas jemaat Filipi, dan menjelaskan bagaimana ia seringkali berdoa untuk mereka. Paulus membagikan detail doanya dalam ayat 9-11.

Dua frasa yang sangat menonjol bagiku adalah “pengetahuan” dan “segala macam pengertian”. Kata pengetahuan yang digunakan disini bukan hanya sekadar kumpulan fakta-fakta. Bahasa Yunaninya, “epignosis”, memiliki arti jenis pengetahuan yang berdampak pada pikiran dan hati, yang menuntun pada aplikasi yang personal dan relasional. Paulus menggunakan kata ini setiap kali ia mendorong para pembacanya untuk mengetahui/mengenal Tuhan (Efesus 1:17; Kolose 1:9-10; Filemon 6).

Istilah yang kedua, segala macam pengertian, dapat diartikan sebagai kearifan atau kebijaksanaan. Itu adalah kemampuan untuk melihat hal-hal yang benar-benar penting, dan mengetahui hal terbaik untuk dilakukan di setiap situasi.

Paulus mengatakan bahwa seiring kita mengenal Allah dengan lebih baik, kasih kita pada-Nya dan orang-orang lain akan semakin mendalam dengan sendirinya dan terwujudnyatakan dalam kehidupan. Kasih tersebut adalah kasih yang tanggap, dan sangat penting bagi perjalanan spiritual kita, hingga Paulus juga menyinggung perlunya bertumbuh dalam kasih ini dalam surat-suratnya yang lain (1 Tesalonika 3:12).

Kasih yang bijak tidak berhenti dalam pikiran. Kasih itu akan membentuk sikap dan perilaku kita. Kecenderungan alamiku adalah menjauh dari situasi yang sulit. Namun pengetahuanku akan perintah Kristus untuk mengasihi sebagaimana Ia mengasihi kita—dan mengetahui dengan jelas apa yang akan Kristus lakukan di dalam situasi tersebut—meyakinkanku untuk menelepon temanku.

Ketika kita mampu mengenali apa yang benar, kita akan mampu membuat keputusan yang “kudus dan tidak bercacat” yang sejalan dengan firman Tuhan dan sifat-Nya. Hidup seperti inilah yang akan menghasilkan buah-buah yang baik dan memuliakan Tuhan.

Aku lega karena mengetahui kitab Filipi menunjukkan pada kita bahwa ada cara untuk menumbuhkan kasih. Jika tidak, aku hanya akan mengandalkan pemahamanku sendiri tentang cara mengasihi—pemahaman yang aku tahu tidak cukup baik. Sebagai permulaan, kita dapat membudayakan kasih seperti yang Paulus tuliskan—kasih yang dibentuk melalui pengetahuan dan segala macam pengertian—dengan cara membaca dan merenungkan firman Tuhan, mengambil waktu untuk berdoa, belajar dari para mentor dan pemimpin, dan dengan menjadi pendengar dan pemerhati yang lebih baik bagi orang-orang di sekitar kita.

Mari izinkan diri kita untuk mengambil langkah untuk menumbuhkan kasih yang bijaksana. Mari kita berkomitmen untuk mengenal Tuhan lebih lagi, dan mengizinkan-Nya untuk mengubah kasih kita menjadi kasih yang tidak mudah digoyahkan oleh keadaan ataupun perasaan. Mari kita bertumbuh hari demi hari, bagi kemuliaan Allah.—Charmain Sim, Malaysia

Handlettering oleh Tora Tobing

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Pikirkan sesorang yang kamu kenal yang bijak dan penuh kasih. Pernahkah kamu mendapat nasihat yang didasari oleh “kasih” dan “pengetahuan”?

2. Hal-hal apa yang biasanya kamu doakan? Apakah kamu berdoa untuk nilai, kondisi finansial, dan relasi yang baik—atau kamu berdoa agar bertumbuh dalam kasih, kearifan, dan sifat-sifat yang benar?

3. Bagaimana doa Paulus dalam surat ini menantang caramu melihat hal yang penting dalam hidupmu?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Charmain Sim, Malaysia | Charmain menyuikai coklat, kue-kue, dan cerita-cerita luar biasa dari orang biasa. Charmain juga menyukai kejutan-kejutan kecil namun berarti yang Tuhan berikan untuknya setiap hari.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi