Jujur kepada Allah

Info

Rabu, 3 Juli 2019

Jujur kepada Allah

Baca: Yesaya 1:12-18

1:12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?

1:13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.

1:14 Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.

1:15 Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

1:16 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,

1:17 belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! —firman TUHAN—Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan. —Mazmur 32:5

Jujur kepada Allah

Cucu saya yang berusia tiga tahun mengawali harinya dengan uring-uringan. Ia tidak bisa menemukan kaus kesayangannya. Sepatu yang ingin dipakainya terlalu panas. Ia jengkel dan marah-marah kepada neneknya, lalu duduk dan menangis.

“Mengapa kamu marah-marah begitu tadi?” tanya saya. Kami mengobrol selama beberapa saat dan setelah ia tenang, saya bertanya dengan lembut, “Baikkah sikap kamu kepada Nenek tadi?” Ia diam dan menunduk, lalu menjawab, “Aku jahat kepada Nenek. Aku minta maaf.”

Luluh hati saya. Ia tidak menyangkali perbuatannya dan bersikap jujur. Kemudian kami berdoa, memohon agar Tuhan Yesus mengampuni kesalahan kami dan menolong kami bersikap lebih baik.

Dalam Yesaya 1, Allah menegur umat-Nya karena kesalahan dan kejahatan yang telah mereka perbuat. Suap dan ketidakadilan merajalela di pengadilan. Anak-anak yatim piatu dan janda-janda diperalat demi mendapatkan keuntungan materi. Namun, pada saat seperti itu pun Allah memberi tanggapan yang penuh belas kasihan, dengan meminta orang-orang Yehuda mengakui apa yang telah mereka lakukan dan berbalik dari dosa-dosa mereka: “Marilah, baiklah kita berperkara! —firman Tuhan—Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju” (Yes. 1:18).

Allah rindu kita terbuka di hadapan-Nya tentang dosa-dosa kita. Dia menyikapi kejujuran dan pertobatan kita dengan pengampunan yang indah: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9). Karena Allah kita penuh belas kasihan, awal yang baru pun menanti kita! —James Banks

WAWASAN
Nabi Yesaya—namanya berarti “Tuhan menyelamatkan”—memberi peringatan tentang penghakiman Allah yang akan datang kepada Yehuda yang tak mau bertobat (Yesaya 1-12) berupa pembuangan ke Babel (39:6-7). Ia berbicara tentang kasih karunia Allah (pasal 40-55) dan pemulihan yang akan datang bagi semua yang bertobat (pasal 11; 56-66). Dalam Yesaya 1, Allah memanggil umat-Nya untuk merenungkan dosa-dosa mereka dengan sungguh-sungguh (ay.2-15). Namun, Dia meyakinkan mereka bahwa meskipun mereka sudah berdosa dan penuh noda (ay. 18), Allah akan menyucikan, mengampuni, dan memberkati mereka bila mereka “menurut dan mau mendengar” (ay.19). Allah juga memperingatkan mereka tentang hukuman berat yang akan mereka terima bila tidak mau bertobat (ay.20). —K.T. Sim

Dosa-dosa apa yang belum kamu akui di hadapan Allah? Apa yang menghalangimu untuk mengakui semua itu kepada-Nya?

Abba, Bapa, tolonglah aku berpaling dari dosa dalam hidupku dan memulai awal yang baru dengan-Mu hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 25-27; Kisah Para Rasul 12

Handlettering oleh Marcella Liem

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

25 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!