Posts

Kulukai Orang Lain dengan Keegoisanku

Oleh Sari, Jakarta

Setiap tanggal 10 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Media sosial dipenuhi dengan twibbon untuk memperingati hari itu. Masa-masa sekarang yang dirasa sulit, ditambah dengan hadirnya pandemi, turut memberikan pengaruh besar pada kesehatan mental orang-orang di seluruh dunia.

Aku pribadi pun merasakan dampaknya. Makin hari, aku semakin menyadari bahwa bukan hanya kesehatan fisik dan rohani saja yang penting, melainkan kesehatan mental yang sering kuabaikan juga penting. Aku melihat orang-orang di sekitarku pun mulai aware. Mereka mulai melakukan konseling kepada konselor-konselor professional. Ketika aku dan kamu gagal menyadari pentingnya merawat kesehatan mental, maka saat kendala datang, bisa saja kita melakukan pengobatan atau pencegahan dengan cara yang tidak tepat. 

Saat kondisiku tidak stabil 

Pada suatu momen, aku menyadari bahwa kondisi mentalku sangat tidak stabil. Aku bekerja dengan gelisah, aku takut salah… dan ketika atasanku mendapati aku melakukan kesalahan, aku langsung panik. Tidak jarang aku menyalahkan orang lain. Aku tidak lagi menikmati apa yang aku kerjakan, fokusku saat itu adalah bagaimana pekerjaanku bisa cepat selesai, tidak ada yang salah dan berharap berakhir dengan pujian yang diberikan baik oleh rekan kerja dan atasanku. Tapi melakukan itu semua rasanya sangat melelahkan, hingga di kondisi yang ekstrem aku tidak menyukai ketika orang lain mengerjakan pekerjaan dengan baik dan dipuji oleh atasanku. Aku ingin berada di posisi yang paling baik dari semuanya, aku ingin hanya aku yang bisa diandalkan. Aku menjadi orang yang lebih suka dihargai dan dipandang lebih dari orang lain. Bukan dalam pekerjaan saja, ketika berinteraksi dengan teman sepermainan dan keluarga pun aku merasakan hal yang sama.

Di tengah kondisi itu, aku pun tidak lagi menikmati relasiku bersama Tuhan. Aku tetap bersaat teduh, namun seadanya. Aku tetap berdoa, namun tidak menikmati doa-doaku. Fokusku adalah hanya bagaimana aku bisa mendapatkan promosi di pekerjaanku. Tetapi, syukur kepada Allah yang mengaruniakan Roh Kudus yang pelan-pelan menggelisahkanku dan menolongku untuk melihat apa yang salah dengan diriku di tengah-tengah perjuangan menikmati doa, baca Alkitab dan ibadah yang kulakukan. 

Di ibadah Minggu yang aku ikuti secara daring, tema khotbah yang diangkat membahas bagaimana ambisi terhadap kedudukan merupakan musuh dan hal yang paling tidak disukai oleh Allah. 

Di awal khotbahnya, sang pendeta memulai dengan kalimat, “dosa pertama berhubungan dengan kuasa.” Allah membuang malaikat Lucifer dari kerajaan sorga karena kesombongannya (Yehezkiel 28:17-18). Kejatuhan manusia dalam dosa pun dimulai ketika Iblis menggoda Hawa, yang menyingkapkan sisi kesombongan manusia yang ingin menjadi seperti Allah dengan memakan buah pengetahuan baik dan buruk (Kejadian 3). 

Banyak orang melakukan berbagai cara agar mendapati posisi atau kedudukan yang diinginkannya, salah satunya aku. Aku melakukan banyak cara agar aku bisa dipromosi secepatnya sampai tidak menyadari bahwa aku sedang melukai diriku, sesama bahkan terlebih Tuhan. Hidupku dipenuhi dengan ketakutan-ketakutan, takut kalau posisi itu akhirnya diberikan kepada orang lain. 

Aku lantas teringat kepada sebuah kisah di Alkitab, yaitu kisah Saul dan Daud. Ketika Saul menjadi raja dan Daud yang baru saja mengalahkan Goliat. Orang-orang Israel merayakan kemenangan Daud mengalahkan Goliat dan ketika itu perempuan-perempuan yang hadir menari dan menyanyi, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa (1 Samuel 18:7).” Seketika itu juga, Saul menjadi marah dan benci kepada Daud hingga berencana untuk membunuhnya. Padahal kalau dipikir-pikir, Saul saat itu adalah raja Israel yang sah, dia telah dipilih dan diurapi, tetapi dia ketakutan bilamana suatu hari Daud merebut kedudukannya sebagai raja di Israel. Kisah ini menjadi salah satu bukti bahwa lagi-lagi manusia sangat ambisius terhadap kedudukan dan manusia berani melakukan banyak cara untuk mendapatkan serta mempertahankannya.

Di tengah dunia yang mendorong kita untuk memamerkan apa yang kita lakukan dan apa yang kita miliki, menjadi hal yang tak mudah untuk bijak memandang pencapaian dan kedudukan kita. Kita tergoda meletakkan identitas kita pada posisi, kekayaan, dan status. Ketika tidak mendapatkan apa yang orang lain punya kita menjadi minder bahkan dalam kondisi yang ekstrem menjadi depresi hingga mau mengakhiri hidup. Dalam kondisiku saat itu, satu hal yang aku sadari adalah semakin aku mengejar, semakin aku merasakan kekosongan. Dan lagi-lagi, aku diingatkan bahwa jiwa kita hanya dapat dipuaskan oleh Allah. Jika kita mengejar apa yang ada di tengah dunia ini akan tidak ada habis-habisnya dan itu sangat melelahkan.

Dan di ibadah Minggu yang kuikuti itu, aku juga diingatkan bahwa Allah selalu punya rencana buat anak-anak-Nya, bagian yang sudah ditentukan Allah untuk menjadi bagian kita akan tetap menjadi bagian kita sesusah dan semustahil apapun itu. Tetapi, kalau memang ketika kita sudah berjuang untuk mendapatkannya dan memang Allah tidak merencanakannya buat kita selelah apapun kita mengejarnya maka itu tidak akan menjadi bagian kita. Salah satu hamba Tuhan pernah mengatakan demikian, “teruslah berdoa sampai Tuhan menjawab. Asal doa itu sesuai kehendakNya, mustahil tidak dijawab.”

Teman-teman, kondisi ini bukanlah kondisi yang mudah untuk diatasi. Aku pun masih sangat bergumul hingga saat ini. Tetapi, aku jadi diingatkan kembali bahwa aku tetap berharga di mata-Nya sekalipun aku tidak memiliki apa yang sedang diperjuangkan oleh dunia. Aku merasakan lelahnya mengejar apa yang dikejar oleh dunia ini, dan aku merasakan jadi orang yang paling jahat ketika mulai melukai orang lain dengan keegoisanku. 

Kondisi apa yang sedang teman-teman alami yang membuat teman-teman merasa tidak berharga, tidak dihargai bahkan tidak dianggap oleh orang lain hingga berniat sampai mengakhiri hidup? Berdoa dan minta ampunlah kepada Tuhan, Dia tetap mengasihi kita. Kita berharga di mata-Nya dan Dia selalu mengerjakan bagian-Nya dengan sempurna dalam hidup kita.

Kala kucari damai
Hanya kudapat dalam Yesus
Kala kucari ketenangan
Hanya kutemui didalam Yesus

Tak satupun dapat menghiburku
Tak seorangpun dapat menolongku
Hanya Yesus jawaban hidupku

Bersama Dia hatiku damai
Walau dalam lembah kekelaman
Bersama Dia hatiku tenang
Walau hidup penuh tantangan

Podcast KaMu Episode-2: Lepas dari Jerat Dosa Seksual

Dosa seksual itu seperti jerat yang terus menarik kita untuk terbenam semakin dalam. Semakin kita berusaha lepas, semakin kuat pula godaannya. Atau, ketika kita telah terjebak terlalu dalam, mungkin kita pun merasa begitu kotor dan tak layak untuk dimaafkan Tuhan.

Apabila kamu sedang bergumul dengan dosa ini, yuk temukan inspirasi dari firman Tuhan yang akan menolongmu untuk hidup kudus bagi-Nya.

Bagaimana Merespons Teman yang Mengakui Dosanya pada Kita

Oleh Joanna Hor
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Respond When A Friend Confess Their Sin

Jam 1 dini hari. Seorang temanku mengirim chat panjang, meminta didoakan karena dia sedang bergumul dengan ketertarikan fisik dengan rekan kerjanya, padahal dia sendiri sudah terikat dalam relasi yang serius.

Beberapa minggu sebelumnya, seorang temanku yang lain bercerita dengan sedih tentang rasa bersalahnya pada Tuhan setelah dia melampaui batasan fisik yang wajar dalam relasi dengan pacarnya. Sebelum itu, temanku yang lainnya lagi juga bercerita tentang kurangnya sikap disiplin dan semangat untuk hadir ke gereja dan kelas Alkitab.

Mungkin kamu pun pernah menerima pesan berisikan pengakuan dan curhatan seperti di atas. Kita semua bergumul dengan pencobaan dan dosa setiap hari (Roma 3:23), dan kita tahu hal apa yang benar untuk dilakukan—mengakui dosa kita (1 Yoh 1:9), mematikan hal-hal duniawi, dan berpaling pada Allah (Yakobus 4:8). Tapi, mengucapkan itu semua lebih mudah daripada melakukannya. Seringkali, kita bergulat dengan dosa-dosa kita untuk waktu yang lama, menganggapnya enteng atau tidak mempermasalahkannya sama sekali. Mengakui dosa kita kepada orang lain mungkin jadi hal terakhir yang ada di pikiran.

Jadi, ketika kita seorang teman membagikan kisah dosanya pada kita, bisa jadi kita merasa gamang untuk merespons. Kita mungkin tidak merasa kompeten untuk menolongnya, apalagi kalau kita sendiri juga bergumul dengan dosa yang sama (Mat 7:3-5). Atau mungkin, kita memilih untuk pura-pura menutup mata karena kita tidak ingin terlihat benar sendiri, sombong, atau terlalu terlibat dalam kekacauan hidup orang lain.

Ibrani 3:12-13 dengan jelas mengatakan kita punya tanggung jawab sebagai komunitas untuk ‘menasihati seorang akan yang lain, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa’. Yakobus 5:19-20 juga mendorong kita semua untuk berperan aktif untuk ‘membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat’ karena tindakan itu ‘akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa’.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menghidupi instruksi dari ayat ini, ketika kita sendiri pun adalah orang berdosa?

1. Jangan merasa benar sendiri dan menghakimi

Mungkin naluri alami kita merespons teman yang terjatuh ke dalam dosa—terkhusus jika itu adalah dosa perzinahan, pembunuhan, atau pencurian—adalah mundur dan menghakimi mereka dalam diri kita sendiri. Alih-alih meratapi dosa dan menjangkau mereka, kita menarik diri, masuk ke dalam kelompok kecil yang beranggotakan teman-teman kita, lalu membicarakan si pendosa yang dari luar tampak baik tapi ternyata melakukan hal-hal buruk.

Aku sendiri pernah bersikap seperti itu pada beberapa kesempatan.

Salah satu cara yang baik untuk mengetahui apakah kita telah bersikap menghakimi atau sok benar sendiri adalah melihat bagaimana respons pertama kita ketika kita mendengar orang tersebut jatuh ke dalam dosa. Apakah kita segera memandang rendah dia, lalu buru-buru mengabari teman yang lain untuk menceritakan masalah ini? Atau, apakah kita berpaling pada Allah, berdoa memohon belas kasih dan anugerah-Nya—bukan cuma bagi orang itu, tapi bagi umat manusia, termasuk diri kita sendiri?

Sebelum kita jadi orang pertama yang melempar batu, ingatlah bahwa kita semua berdosa (Yoh 8:7). Upayakanlah untuk memberi sesuatu daripada menghakimi dan menghukum mereka (Lukas 6:37-38).

Satu cara yang baik untuk memulai adalah dengan mengajukan pertanyaan pada teman kita yang bisa menolong kita untuk mengerti bagaimana kisah mereka, dan alasan mengapa mereka melakukan itu. Pertanyaannya bisa berupa: ‘Bagaimana perasaanmu selama ini?’, ‘Bagaimana perjuanganmu untuk mengatasinya?’, ‘Apa yang membuatmu berpikir untuk melakukan itu?’

2. Marah dan sedihlah terhadap dosa

Kecenderungan lain yang muncul adalah aku mudah bersimpati kepada teman ketika mereka bercerita tentang pergumulan dosa—terkhusus apabila pergumulan itu mirip-mirip denganku (kesombongan dan ketamakan). Di saat seperti itu, aku mungkin meremehkan dampak buruk dosa dengan berpikir, “Ya, setidaknya semua orang bergumul dengan itu, dan dosa itu tidak lebih buruk daripada dosa yang [dosa-dosa lain].”

Ketika hal itu terjadi, aku tanpa sadar menilai dosa berdasarkan standar kesalahanku sendiri tentang benar dan salah daripada melihat dosa itu dari kacamata Tuhan.

Namun, dosa adalah dosa—tidak ada tingkatan di dalamnya—dan setiap dosa membangkitkan murka Allah. Jika kita mendapati diri kita pernah mengesampingkan dan meremehkan dosa, berdoalah pada Roh Kudus untuk menegur hati kita kembali dengan mengingat harga mahal yang Yesus bayarkan di atas kayu salib (Yesaya 53:5-6). Mari kita kembali pada Alkitab dan baca kembali ayat-ayat yang menyingkapkan tentang sifat-sifat dosa (Roma 6:23, Galatia 5:19-21, 1 Kor 6:9-10).

Hanya ketika kita menyadari apa itu dosa: ketidaktaatan kepada Allah (Roma 5:19), barulah kita mampu meratap dengan benar atasnya, dan menolong teman kita dengan cara yang benar pula agar mereka mampu bangkit dari keterpurukan dosanya.

3. Saling mendukung satu sama lain untuk bertobat

Ketika aku lebih muda, aku membayangkan Allah itu kaku, pemimpin totaliter yang segera menghukumku setiap kali aku tersandung. Pemahaman itu membuatku mengakui dosa setiap malam sebelum tidur (takut kalau-kalau aku mati saat tidur dan lupa mengakui dosa membuatku tidak bisa masuk surga). Syukurlah, pemahaman itu pudar seiring aku mengenal Dia semakin dalam dan mengerti tentang kecukupan anugerah Kristus dan kasih Allah.

Melihat ke belakang, aku pun menyadari bahwa ‘doa pengakuan dosaku’ dulu tidak berisi langkah nyata untuk berbalik dari dosa. Ketika kita mengakui dosa, mengakui apa yang kita lakukan adalah salah, kita didorong untuk bertobat (1 Yoh 1:9, Yak 5:19). Pertobatan inilah yang akan menghasilkan perubahan pada hati dan tindakan kita (Kis 26:20).

Mazmur 32:1-2 mengatakan orang yang dosanya diampuni sebagai orang yang ‘berbahagia’. Tim Chester, seorang pendeta dan penulis dari Inggris menyelidiki kata ‘berbahagia’ itu disematkan kepada orang yang telah bertobat, bukan untuk orang yang terbebas dari dosa, karena orang seperti itu tidaklah eksis. Dan, ini menjadi penting, karena seperti tertulis dalam bukunya yang berjudul Enjoying God, itu berarti “kamu tidak perlu menanti sampai kamu mencapai level kesalehan yang lebih tinggi supaya bisa menikmati berkat Ilahi”.

Marilah saling mendorong satu sama lain untuk tidak cuma mengakui dosa, tapi juga berpaling dari dosa itu. Inilah gerbang menuju berkat Ilahi. Seorang profesor teologi Amerika, Stephen Wellum menyimpulkan dengan indah pada sebuah artikel, “Ketika kita berdosa, kita kehilangan kesadaran akan pengampunan dan damai sejahtera Allah. Jadi, ketika kita mengakui dosa kita, dengan pertolongan Roh, kita disadarkan kembali pada apa yang Kristus telah lakukan bagi kita, dan Allah membangkitkan kepercayaan kita pada jaminan keselamatan-Nya.”

4. Berdoa untuk dan dengan teman kita

Alkitab mendesak kita untuk saling mengaku dosa (Yak 5:16). Kita sering berpikir ayat ini berbicara dalam konteks penyembuhan fisik, tapi ini juga berbicara tentang kesembuhan rohani dari dosa.

Ketika teman kita membagikan kisah dosanya, kita perlu berdoa seperti Yesus berdoa bagi para murid—agar Allah melindungi kita dari yang jahat (Yoh 17:15). Kita harus berdoa seperti ini baik saat teman kita hadir, atau pun dalam saat teduh pribadi kita. Kita bahkan bisa mengetik teks doa di chat lalu mengirimkannya pada mereka. Aku ingat betapa aku ditolong ketika aku tahu kalau keluarga dan teman-temanku mendoakanku setiap kali aku jatuh dalam dosa yang aku telah berkomitmen untuk lepas darinya.

Peperangan melawan dosa adalah pertempuran spiritual, jadi datanglah selalu pada Tuhan untuk mengakui perjuangan yang kita hadapi dan mohonlah kekuatan dari-Nya.

5. Arahkan satu sama lain kepada Kristus

Mungkin satu hal terpenting yang harus dilakukan ketika kita berdosa adalah membawa kembali diri kita kepada hati Kristus. Dane Ortlund, pendeta dan penulis Amerika mengingatkan kita dalam bukunya yang berjudul Gently and Lowly bahwa Yesus adalah kawan bagi para pendosa. Artinya, dalam ‘Yesus Kristus, kita diberikan seorang kawan yang selalu menikmati kehadiran kita daripada menolaknya.’

Bagi siapa pun kita yang (seperti aku pada waktu lebih muda) cenderung melihat Allah sebagai sosok yang kaku dan otoriter, yang selalu marah atau kecewa, penghiburan sejati kita terdapat pada kebenaran bahwa tak peduli seberapa banyak kita telah berdosa dan gagal, Yesus selalu siap menerima dan memulihkan kita jika kita berpaling pada-Nya.

Selama kita hidup di bumi, kita akan terus bergulat dengan dosa dan pencobaan setiap hari. Jangan pernah berpikir kalau kita telah menang atas dosa untuk selamanya. Alih-alih, marilah kita saling mendoakan, saling bertanggung jawab, dan menjadikan titik pertobatan kita saat ini untuk selalu mengingat Yesus.

Baca Juga:

Bolehkah Aku Mengakui Sesuatu?

Membuka diri untuk mengakui dosa memalukan yang pernah diperbuat itu susah. Ada rasa takut, juga malu. Bagaimana jika orang-orang malah jadi memandang rendah kita?

Bolehkah Aku Mengakui Sesuatu?

Oleh Jane Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can I Confess Something?

Sekitar lima tahun lalu, aku akhirnya menemukan kelompok studi Alkitab wanita di satu gereja. Sudah sekian lama memang aku tidak tergabung dengan komunitas rohani seperti itu. Di salah satu pertemuanku bersama mereka, sesi pembahasan Alkitab sudah selesai dan kami hendak membagikan pokok doa masing-masing. Seorang temanku lalu berkata:

“Tolong doakan aku, aku seperti kecanduan belanja. Rasanya aku menghabiskan terlalu banyak uang buat beli barang-barang yang sebenarnya nggak dibutuhin.”

Ketika mendengar itu, aku tercenung. Bukan karena ada yang salah dari pokok doa itu, tapi aku merasa aku tidak bisa sejujur itu mengakui dosaku sendiri. Bagaimana caranya beralih dari “tolong doakan aku, aku kecanduan belanja” ke “tolong doakan aku karena… aku kecanduan pornografi dan masturbasi”?

Dosa terhormat vs dosa yang tidak terhormat

Ada sebuah buku berjudul “Respectable Sins” yang ditulis oleh Jerry Bridges. Aku belum membaca bukunya, tapi aku selalu ingat judulnya karena rasanya itu sangat cocok untuk sebagian besar dosa-dosa yang kita akui—tidak sabar, membicarakan orang lain, menikmati software bajakan, kerja berlebihan—pada dasarnya adalah dosa-dosa yang dilakukan setiap orang.

Namun, ada hal lain yang terkait dengan mengakui dosa ‘terhormat’. Ketika aku merenungkan bagaimana mengaku dosa kepada orang lain, yang pasti aku lakukan adalah bagaimana menyusun kata-kata supaya pengakuan itu tidak membuatku tampak jelek. Jadi, alih-alih mengatakan, “Aku membentak mamaku tadi pagi”, aku akan berkata, “Aku sedikit bertengkar dengan mama.” Alih-alih berkata, “Kemarin malam aku nonton film porno”, aku berkata, “Aku bergumul dengan pikiran yang tidak murni.” Atau, kalaupun aku tidak menemukan kata-kata yang terasa pas, aku akan memilih dosa yang lebih ‘ringan’ untuk diakui. Atau, lebih baik tidak berkata apa-apa.

Terkadang, keengganan kita untuk jujur dalam pengakuan dosa kita merupakan tanda dari hal-hal berikut ini:

  • Kita terlalu bangga untuk mengakui kalau kita sungguh bercela dan sangat membutuhkan anugerah;
  • Kita lebih takut akan apa yang orang lain pikirkan daripada apa yang Allah pikirkan; atau,
  • Kita tidak sungguh-sungguh ingin mengakui kesalahan kita pada Allah, sehingga kita enggan mengakuinya pada sesama. Kita takut apabila tidak terlihat penyesalan atau rasa takut yang nyata dalam ucapan kita, sehingga kita pikir cukuplah ‘memberi tahu’ Tuhan saja.

Semua ini kukatakan bukan supaya kita mengakui dosa tanpa pandang bulu kepada siapa pun, tentang apa pun; hanya saja, ketika kita memikirkan dosa-dosa dan kita merasa butuh untuk mengakuinya, kita harus kembali kepada apa yang Alkitab katakan dan menguji hati kita. Apakah kita sedang mencoba merasionalisasi dosa-dosa kita dan berupaya menjaga muka kita agar tetap terlihat baik, atau kita sedang merendahkan diri untuk melihat apa yang sungguh jadi kebutuhan kita di hadapan Allah?

Manfaat mengakui dosa

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup sebagai ‘anak-anak terang’ agar segala sesuatu yang telah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak (Efesus 5:8-13).

Namun, bagi sebagian dari kita yang bergumul dengan dosa-dosa rahasia dan memalukan, kita tahu betapa sulitnya mengumpulkan keberanian untuk mengakuinya—meskipun kita tahu dampak buruk dari menyembunyikan dosa seperti tertulis dalam Mazmur 32:3-4:

Selama aku berdiam diri,
tulang-tulangku menjadi lesu
karena aku mengeluh sepanjang hari;
sebab siang malam
tangan-Mu menekan aku dengan berat,
sumsumku menjadi kering,
seperti oleh teriknya musim panas.

Ketika aku bergumul dengan kecanduanku akan pornografi, itu sungguh menguras energiku dan membuatku enggan melakukan hal lain, terkhusus melakukan hal-hal yang akan menusuk hatiku seperti membaca Alkitab, berdoa, mendengar khotbah.

Hari-hari yang kulalui kulakukan dengan upaya paling minimum—kerja, makan, dan mandi—lalu naik ke atas kasur bercengkrama dengan laptop, berharap aku bisa merasa lega. Tapi, tak peduli seberapa banyak upaya yang kulakukan untuk melegakan diri, aku selalu capek. Semakin lama kebiasaan buruk ini dipelihara, semakin susah ia dilepaskan. Semakin lama aku menjadikannya rahasia, semakin dosa itu berkuasa mengendalikanku.

Firman Tuhan berkata bahwa dalam pengakuan dosa yang sejati, kita mengakui dosa yang adalah tindakan melawan Allah dan konsekuensi dari menyembunyikannya, sehingga kita tidak menganggap enteng dosa itu. Kita menerima keburukan dalam diri kita, dan kita berhenti berusaha untuk membuat sikap atau diri kita tampak lebih baik daripada yang sebenarnya, karena kita tahu Tuhan melihat dan mengetahui segalanya. Lebih lagi, kita percaya bahwa hanya Tuhan sajalah yang bisa mengangkat kita dari jurang kelam dosa.

Selain mengakui dosa kepada Allah, Alkitab juga menunjukkan pada kita pentingnya mengakui dosa pada sesama. Sebagai anggota dari satu tubuh, itu menunjukkan kebergantungan satu sama lain. Ketika satu bagian tubuh sakit, sakit pulalah seluruh tubuh itu (1 Korintus 12:26). Yakobus 5:16 mengatakan. “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.”

1 Tesalonika 5:12-14 dan Galatia 6:1 mengingatkan kita bahwa saling mengakui dosa menolong kita membangun gereja, saling mengingatkan dan menuntun seseorang kembali ke jalan yang benar.

Bagaimana mengakui dosamu

Lalu, bagaimana kita bisa membentuk kebiasaan akan pengakuan dosa yang sehat dalam komunitas kita?

Pertama, kita perlu menemukan orang percaya yang dewasa dalam iman dan pengertiannya akan firman Tuhan, yang bisa menyampaikan kebenaran dalam kasih dan bertanggung jawab atas pengakuan kita.

Kedua, kita juga perlu berupaya untuk menjadi orang percaya yang dewasa, untuk menciptakan ruang aman dalam gereja kita, tempat bagi orang lain untuk juga mengakui dosanya. Kadang, itu berarti kita menjadi orang pertama yang berani untuk menjadi rentan. Di lain kesempatan, itu bisa berarti kita berhati-hati akan apa yang kita ucapkan atau penghakiman yang kita berikan pada orang lain. Dan yang paling pasti ialah kita menjadi rendah hati dan bersyukur, mengetahui bahwa kita telah diampuni dengan sangat besar.

Terakhir, pengakuan dosa yang alkitabiah tidak cuma berakhir di mengakui kesalahan, tapi bergerak menuju pertobatan. Satu bahaya dari tidak memahami pengakuan dosa yang alkitabiah adalah kita bisa berakhir jatuh ke dalam ritme yang tidak sehat: bersimpati dan berempati tanpa benar-benar mengupayakan pengampunan, penyembuhan, dan pemulihan.

Ketika kita mengakui dosa, kita harus menyiapkan diri kita ditegur. Kita harus berjuang melawan naluri untuk mempertahankan atau merasionalisasi dosa kita. Dalam prosesnya, kita juga perlu mengundang orang lain yang dipimpin Roh Kudus untuk menanyakan pada kita pertanyaan-pertanyaan sulit, untuk berdoa bersama kita dan menegur kita dengan firman Tuhan, untuk memantau kita sesuai kapasitas mereka.

Membuka diri untuk mengakui dosa

Kembali ke cerita di awal tulisan ini, aku memutuskan sejak aku bergabung dengan kelompok itu, rasanya kurang tepat membagikan pergumulan dosaku pada mereka. Namun, Roh Kudus terus mendorongku untuk mengakuinya kepada seseorang, membuatku memahami bahwa aku tak bisa melawan dosa ini sendirian secara diam-diam.

Jadi, aku melakukan dua hal:

Pertama, aku mengakuinya kepada sahabatku yang juga seorang percaya, yang mengerti pergumulanku. Aku bertanya apakah dia bisa menyimpan dan bertanggung jawab atas pengakuanku, dan dia bersedia. Sejak saat itu, kami lebih sering berkontak. Dia akan bertanya bagaimana prosesku, atau aku akan memberi tahu dia bilamana aku tergoda, dan dia segera juga berdoa buatku.

Kedua, aku mengikuti kelas tentang doa yang memulihkan di gerejaku, dan setelah beberapa sesi, aku menyadari kalau perjuanganku untuk pulih membutuhkan doa yang khusus. Setiap minggu, ketua dari kelompok doa itu mengundang orang-orang untuk membuat janji pertemuan jika memang mereka sungguh butuh didoakan. Aku memutuskan untuk ikut. Para fasilitator di pertemuan doa itu sungguh terlatih, mereka punya pengukuran yang pas untuk menciptakan zona aman bagi pengakuan dosa dan doa. Sesi-sesi itu menjadi sungguh berguna dan memulihkan buatku.

Mengakui dosa kepada sesama orang percaya menolongku melihat bahwa perjuangan melawan dosa bukanlah perjuangan seorang diri, atau perjuangan yang sia-sia. Meskipun masih ada hari-hari di mana aku jatuh dalam pencobaan dan berupaya menyembunyikan apa yang kulakukan, masa-masa rahasia itu menjadi lebih singkat seiring waktu karena aku tahu aku tak bisa menyembunyikannya lama-lama. Semakin segera aku mengakui dosa, semakin lekas pula aku didoakan dan ditarik kembali ke dalam terang.

Tidak semua cerita pengakuan dosa dan perjuangan lepas darinya memiliki proses yang sama, tapi kebutuhan akan pengakuan dosa yang sesuai Alkitab tetap menjadi dasar kita. Sebagai gereja, marilah kita berdoa untuk keberanian dan kerendahan hati agar kita bersedia mengakui dosa-dosa kita. Carilah juga kebijaksanaan dan kepekaan untuk memilah dan memilih, agar kita menjadi orang-orang percaya yang dewasa yang bisa menerima pengakuan dosa orang lain dan saling membangun satu sama lain dalam iman.

Baca Juga:

Berhasil atau Gagal, Ingatlah Bahwa Tuhanlah yang Menulis Cerita Hidupmu

Cepat atau lambat, sengaja atau tidak, hidup akan mengantar kita untuk menjumpai kegagalan dalam aneka bentuk. Tetapi, sekali lagi, ingatlah bahwa dalam berhasil atau gagal, Tuhanlah yang menulis cerita hidup kita.

Lebar atau Sempit: Mana yang Kau Pilih?

Oleh Olivia Christa Yutrista

“(13) Masuklah melalui gerbang yang sempit, karena lebarlah gerbang dan lapanglah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan mereka yang masuk melaluinya adalah banyak. (14) Sebab, sempitlah gerbang dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan mereka yang mendapatkannya adalah sedikit.” (Matius 7:13-14, ILT)

Aku termenung seusai membaca dua ayat dengan perikop Jalan yang Benar (versi Indonesian Literal Translation) tersebut. Sebagian besar dari kita tentu tak asing lagi dengan nas di atas, yang bahkan sudah dinyanyikan sejak masa sekolah minggu. Namun, ternyata aku belum benar-benar memahami maknanya hingga aku membaca kembali pengajaran Yesus tersebut pada waktu teduhku. Tuhan, Sang Firman dan sumber dari segala hikmat (Yakobus 1:5) pun memberiku pemahaman.

Sempitnya Jalan Kehidupan

Ketika pertama kali memperhatikan nas tersebut, aku dengan pikiran manusia yang terbatas, sempat bertanya-tanya: Lho, kok jalan kehidupan dikatakan sempit dan jalan kebinasaan malah lebar? Apa nggak terbalik? Sekilas seakan-akan maknanya terdengar “negatif”, padahal tidak ada yang keliru dengan firman Tuhan. Manusia saja yang seringkali tidak bisa menyelami pikiran Tuhan, kalau tidak Roh Kudus sendiri yang menyingkapkannya. Dalam konteks ini, malam itu Tuhan menjawab kebingunganku: sempit pada nas tersebut merepresentasikan bagaimana manusia memposisikan firman dalam hidupnya. Firman Tuhan, yang isinya termasuk berbagai perintah dan jalan Tuhan, seringkali kita salah artikan sebagai sesuatu yang mengikat dan membatasi pilihan kita dalam hidup.

Sempit berbicara perihal pola pikir. Pilihannya: apakah firman Tuhan kita anggap sebagai sesuatu yang mengekang atau menghalangi langkah dan pilihan kita, sehingga kita merasa jalan kita “sempit” karena apa-apa “tidak boleh” atau ini-itu “salah” (memenjara kita) atau sebaliknya, perkataan yang membebaskan dan menyelamatkan jiwa kita? Kita yang memilih. Namun, faktanya ialah jika kita tetap tinggal dalam Firman─yang adalah kebenaran, kita justru adalah orang-orang yang merdeka (Yohanes 8:31-32).

Lebarnya Jalan Kebinasaan

Sembari merenungkan, Tuhan mengingatkanku pada sebuah postingan dari akun terverifikasi di Instagram. Ketika tengah berselancar di beranda, muncul unggahan akun tersebut bertajuk Moscow adalah Surga di Bumi. Ternyata, informasinya mengagetkanku. Ssurga” yang mereka maksud ialah dunia malam! Mereka membagikan potret demi potret berisi kegiatan anak-anak muda di Moscow pada malam hari yang lekat dengan minuman keras, narkoba, dan seks bebas─secara terang-terangan! Hatiku hancur rasanya. Bagaimana lebihnya dengan hati Tuhan?

“…lebarlah gerbang dan lapanglah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan mereka yang masuk melaluinya adalah banyak.” (ay. 13)

Tanpa firman, yang bagi dunia sangat “membatasi” ruang gerak mereka, itulah kebebasan. Kebebasan yang membawa kepada kebinasaan (Roma 6:23, Wahyu 21:8).

Sebelum Memilih, Fokus pada Akhir Cerita

Ketika kita memutuskan untuk mengikut Kristus, dua langkah yang harus kita ambil adalah menyangkal diri dan memikul salib. Kapan? Setiap hari (Lukas 9:23). Ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan, artinya kita bersedia menjadikan Dia Tuan/Pemimpin atas hidup kita seutuhnya, dan bukan hanya aspek-aspek tertentu. Kita berjalan dalam Roh dan bukan daging. Kristuslah yang duduk di takhta hidup kita (Galatia 2:19b-20).

Ketika rasanya sulit dan ingin menyerah terhadap dosa, mari arahkan kembali pandangan kita kepada Kristus—kepada hal-hal yang kekal dan bukan fana (Kolose 3:2). Kehidupan kita yang sesungguhnya adalah di surga, yaitu ketika kita bersatu dengan Bapa untuk selama-lamanya. Tidak lama lagi!

Dalam mengikut Kristus, mungkin pilihan kita seakan-akan terbatas atau jalan kita “sempit” karena kita harus sesuaikan dengan apa yang berkenan bagi-Nya, namun percayalah, rancangan dan jalan-jalan-Nyalah yang akan menyelamatkan kita dan bukan apa yang kita anggap baik atau penting. Ketika kita bersedia diatur oleh Tuhan, masa depan yang penuh harapan yang akan Ia berikan (Yeremia 29:11).

“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.” (Ulangan 30:19)

Baca Juga:

Ketika Ketakutanku Direngkuh-Nya

Takut, cemas, dan stres sebenarnya adalah kondisi wajar yang pasti dialami setiap orang. Namun, beberapa waktu terakhir ini, ketakutan yang kualami rasanya tidak terkendali. Ketakutan itu tak cuma perasaan yang berkecamuk di hati, tetapi juga mempengaruhi apa yang kulakukan.

Duta Pengampunan di Tengah Budaya Pengenyahan

Oleh Antonius Martono

Bagi mereka yang sering berkelana dalam media sosial, pasti sudah tidak asing dengan fenomena para pelanggar yang mendadak diangkat menjadi seorang duta. Alih-alih mendapatkan sanksi mereka justru diminta berkampanye untuk bidang yang mereka langgar. Biasanya mereka diangkat oleh lembaga masyarakat atau lembaga formal lainnya. Fenomena ini tentu membuat kita garuk kepala kebingungan. Sebab idealnya seorang duta adalah seseorang yang secara konsisten memberi pengaruh positif dan telah menjadi teladan terhadap bidang yang disuarakannya. Sehingga adalah wajar jika kita curiga dan mempertanyakan keefektifitasan peran mereka. Selain itu, menjadikan seorang pelanggar sebagai duta cenderung tidak menimbulkan efek jera kepada pelaku dan calon pelaku.

Secara bersamaan di media sosial sedang berkembang juga budaya pengenyahan atau lebih dikenal dengan istilah cancel culture. Secara singkat, budaya pengenyahan adalah sebuah gagasan untuk “membatalkan” pengaruh orang tersebut di dunia maya ataupun nyata. Sehingga pendapatnya dan dirinya tidak lagi perlu diperhitungkan oleh masyarakat. Budaya ini digunakan sebagai sanksi atas tindak pelanggaran atau sekadar perkataan yang dianggap menyinggung opini populer. Siapapun dapat menjadi target sasaran budaya ini, baik figur publik ataupun orang biasa. Namun, umumnya figur publiklah yang paling merasakan dampaknya. Pembatalan semacam ini akan mempengaruhi banyak aspek si penerimanya. Baik dari segi karir dengan memboikot segala karyanya ataupun kesehatan mental si penerima karena dipermalukan oleh masyarakat.

Tentu itu adalah sebuah sanksi yang berat. Oleh sebab itu wajar jika akhirnya banyak bermunculan video klarifikasi, sebagai sebuah upaya pertanggungjawaban dan permintaan maaf kepada publik. Lantas bukankah sebaiknya mereka yang melanggar “dibatalkan” saja daripada menjadi seorang duta?

Di dalam Alkitab sendiri kita melihat banyak sekali tokoh-tokoh berpengaruh yang melakukan pelanggaran terhadap hukum Tuhan. Baik dari raja, nabi, bahkan sampai murid-murid Yesus sendiri. Dari kisah perzinahan Daud, pelarian Yunus, sampai kepada penyangkalan Petrus, adalah bukti bahwa tidak ada satu manusia pun yang tidak melakukan kesalahan. Oleh karena itu manusia layak untuk “dibatalkan” oleh Tuhan. Namun, Tuhan tidak melakukannya.

Contohnya, perjanjian Tuhan dengan Daud tidak dibatalkan sekalipun Daud harus menerima kematian anaknya sebagai konsekuensi dosanya. Yunus tidak dibiarkan tenggelam di lautan. Dia diselamatkan seekor ikan raksasa atas kehendak Tuhan dan diizinkan untuk melakukan misinya kembali. Petrus pun tidak dimaki Yesus atas tindakanya yang pengecut, justru Yesus mempercayakan kepadanya jemaat untuk digembalakan. Hal-hal tersebut mencerminkan isi hati Tuhan kepada para pelanggar. Dia rela mengampuni, mengasihi, dan memanggil mereka untuk melayani Dia kembali bahkan menjadikan mereka sebagai duta kasih pengampunan-Nya.

Tuhan tidak sedang naif ketika memberikan manusia kesempatan kedua. Dia melakukan hal itu bukan karena isi hati manusia dapat diandalkan. Melainkan, Tuhan memberikan kesempatan kedua karena kesetiaan-Nya. Justru ketika Tuhan memberikan kesempatan kedua, Dia sedang merisikokan hati-Nya untuk disakiti kembali atau misi-Nya untuk diabaikan lagi. Namun, Tuhan tidak memilih seorang duta kasih secara ceroboh. Tuhan tidak meninggalkan mereka sendiri dan membiarkan mereka melakukan kesalahan yang sama. Tuhan mengirimkan Roh-Nya yang kudus ke dalam hati setiap duta-Nya. Roh itu yang akan menginsafkan mereka dari dosa dan memimpin mereka melaksanakan misi Tuhan. Selain itu Tuhan juga memberikan komunitas tubuh Kristus yang bisa menopang mereka di kala susah. Nyatalah bahwa Tuhan yang penuh kasih memang serius memperlengkapi duta perwakilan-Nya.

Lantas bagaimana dengan kita? Kita pun juga tidak berbeda dengan tokoh-tokoh di Alkitab. Kita juga melakukan kesalahan. Meskipun begitu Tuhan tidak membuang kita. Dia mau menerima kita. Dia menunggu kita untuk datang menikmati kasih pengampunan-Nya. Lebih menakjubkannya lagi Dia menjadikan kita duta kasih pengampunan-Nya supaya semakin banyak orang yang dapat menikmati kasih pengampunan-Nya.

Menjadi duta pengampunan Tuhan adalah sebuah anugerah dan tanggung jawab yang besar. Ini berarti kita perlu mewakili hati Tuhan kepada setiap yang bersalah kepada kita. Kita perlu rela mengampuni mereka sekalipun mereka akan berkesempatan menyakiti kita kembali. Kita perlu sabar mendampingi mereka yang berulang kali gagal dalam komitmen. Kita perlu membangun komunitas pemberi kesempatan kedua, karena kita sedang melayani Tuhan pemberi kesempatan kedua, yang siap menandingi budaya pengenyahan di dekat kita. Ini bukan tugas yang mudah tapi, Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan akan memampukan kita.

Pada akhirnya budaya pengenyahan dapat menjadi saran keadilan jika terjadi pelanggaran pada taraf tertentu. Namun, praktiknya banyak disalahgunakan untuk mengintimidasi dan menyakiti hidup orang lain. Pada dua ribu tahun yang lalu, seorang Pribadi tak bercela dibatalkan sepihak oleh sekelompok pendosa. Pribadi itu dituduh telah menista Tuhan dan dijatuhi hukuman mati salib. Pribadi itu bernama Yesus Kristus, Anak Allah. Dia yang tidak bersalah dijadikan bersalah. Dia yang seharusnya layak diterima justru dibatalkan agar kita para pelanggar dapat diterima dan diampuni Tuhan yang kudus.

Sekarang Pribadi yang kudus itu mengajak kita untuk menjadi duta-Nya, Duta pengampunan kasih-Nya agar kasih-Nya semakin terang bersinar dalam dunia gelap ini.

Baca Juga:

3 Pelajaran Berharga Dariku, Seorang Penyintas Covid-19

Iman adalah hal penting dalam hidup orang percaya, namun bukan berarti itu meniadakan tindakan kita untuk mewaspadai supaya tidak terkena Covid-19. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

Apakah Kesepian itu Dosa?

Oleh Neri Morris
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is Loneliness A Sin?

Suatu hari aku berangkat kerja. Buku yang baru kuedit di malam sebelumnya muncul di pikiranku, aku berusaha memastikan lagi kalau apa yang kutulis di sana sudah benar secara biblikal. Jadi, kepada dua orang pendeta di ruanganku, aku mengajukan dua pertanyaan:

“Jika Taman Eden itu adalah representasi dari surga-”

“Iya, kah?” pendeta senior balik bertanya.

“Bukankah begitu?” jawabku.

“Apakah Taman Eden itu sungguh nyata?”

“Pertanyaan bagus, tapi mungkin ini lebih baik dijawab di sesi diskusi lain…dan untuk jawaban dari pertanyaan yang terakhir kuajukan, anggap saja Taman Eden itu nyata. Pertanyaanku ialah: jika Taman Eden sungguh nyata dan itu menjadi representasi dari surga, menjadi satu dengan Allah—apakah kesepian akan ada pula di surga karena itu ada di Taman Eden?”

Anak dari pendeta itu ikut menimpali, “Tidak, kesepian itu dosa.”

Aku terkejut, dan kutanya kembali, “Kok bisa?”

“Kesepian datang dari tempat di mana kamu mengalihkan pandanganmu dari Allah. Kamu tidak lagi bersandar pada-Nya,” jawab pendeta senior itu. “Pertanyaan sebenarnya adalah—apakah ada perbedaan antara menjadi sendiri dan merasa kesepian?” tambahnya lagi.

Pertanyaan ini membuatku berpikir.

Aku pernah menulis buku tentang masa lajang, dan di dalamnya aku meluangkan banyak waktu untuk bicara tentang kesepian, mengakui bahwa itu salah satu hal yang sering dialami oleh para lajang.

Tapi pemikiran baru yang menyatakan kesepian adalah dosa sungguh menggangguku. Aku bisa mengerti kenapa anak pendeta itu berkata demikian: apa pun yang menjauhkan kita dari Allah, yang menyebabkan kita meragukan Dia dan mencari kenyamanan di tempat lain, adalah dosa.

Tapi apakah merasa kesepian itu dosa? Atau, apakah dosa itu hanya berkaitan dengan apa yang kita lakukan untuk merespons kesepian itu? Dan, jika tidak baik bagi seorang pria atau wanita untuk sendiri, apakah dosa jika memang mereka memilih untuk hidup sendiri?

Kubukalah tab-tab di Google, dan kuketik, “Apakah kesepian itu dosa?”, dan kudapati kebanyakan artikel mengatakan kesepian bukanlah dosa. Aku sependapat dengan itu. Kesepian sejatinya adalah perasaan yang punya daya yang kuat. Kesepian adalah emosi yang bisa mendorong kita untuk mengambil aksi secara fisik. Kesepian itu tidak nyaman, menyakitkan, yang membuat kita melakukan sesuatu. Kupikir apa yang kita lakukanlah yang akan jadi titik penentunya.

Jika kesepian muncul dan menyelubungiku, aku punya banyak tempat untuk kupergi. Aku bisa pergi ke kafe, bioskop, rumah teman, nonton TV, dan sederet tempat lainnya. Di tempat-tempat itu aku akan menemukan sesuatu, seseorang, atau hal-hal lainnya yang bisa meringankan rasa sakit dari kesepian, dan untuk sementara waktu, aku tidak akan merasa sendirian.

Ada satu kata yang menjadi akar: sendirian.

Apakah kesepian dan menjadi sendiri itu dua hal berbeda?

Yesus sering memilih untuk sendiri. Dalam Matius 26:36-44, di malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus pergi sendirian untuk berdoa, memohon pada Allah agar “kiranya cawan ini lalu daripada-Ku”. Ada pula momen-momen lain yang tertulis di Alkitab bahwa Yesus pergi untuk menyendiri, mencari pertolongan dan ketenangan dalam waktu-waktu teduh bersama Allah.

Tapi, apakah Yesus pernah merasa kesepian?

Mungkin tidak pada saat Dia melayani, tapi aku pikir satu momen ketika Dia merasakan pedihnya kesepian adalah ketika Dia tergantung di kayu salib, Allah memalingkan wajah-Nya. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus berseru (Matius 27:45-46). Namun, meskipun dilanda kesepian hebat, Yesus tetap memenuhi kehendak Bapa.

“Mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus berseru. Di momen ini kita melihat Allah meninggalkan Yesus supaya kita tidak pernah lagi mengalami bagaimana pedihnya terpisah dari Allah.

Tapi sekarang, kita masih saja merasa kesepian.

Aku tinggal sendirian. Hari-hariku menyenangkan, tapi ada malam-malam ketika aku pulang setelah hari yang melelahkan dan aku hanya ingin ada seseorang duduk di sebelahku dan berkata, “Semua akan baik-baik saja.” Hidup sendirian berarti aku tidak mungkin pulang ke rumah dan mendapati ada seseorang yang akan memperlakukanku demikian ketika aku membutuhkan penguatan.

Apa yang kulakukan dengan kesepianku di momen-momen seperti itu?

Jawabanku, apa yang kulakukan akan menentukan apakah kesepian itu dosa atau tidak.

Jika kamu memikirkan tentang kesepian, itu adalah perasaan yang sama dengan perasaan lainnya yang juga kita rasakan. Contohnya, “Apa yang aku lakukan dengan marah/cemburu/frustrasi/sedih/penolakan di saat perasaan itu terasa sungguh menusuk?” Bagaimana kamu menjawab pertanyaan itu akan menentukan apakah hasilnya dosa atau tidak.

Merasa marah pada dasarnya tidaklah buruk, Allah menunjukkan kemarahan-Nya dalam Alkitab pada beberapa momen. Marah versi Allah adalah marah yang benar, dan Dia pun menciptakan kita untuk dapat merasakan marah. Allah mengizinkan kita untuk merasa marah, sebagaimana Dia juga mengizinkan kita untuk merasakan kasih.

Intinya adalah, emosi apa pun yang kita rasakan dapat mendorong kita kepada Kristus, yang telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita (Ulangan 31:6, Ibrani 13:5). Apa yang kita lakukan dalam merespons emosi itulah yang menentukan apakah itu akan menjadi dosa atau tidak.

Ketika aku merasakan sejumput kesepian, aku melakukan sesuatu yang kusuka. Aku pergi ke teman-temanku atau menikmati alam. Opsi pergi ke alam menolongku terhubung dengan Allah dan mengingatkanku akan kebaikan dan kebesaran-Nya, bahwa aku tidak pernah sendirian. Allah hadir dalam rupa Roh, tapi juga dalam keindahan-keindahan yang Dia izinkan mengelilingiku.

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan untuk merespons perasaan kesepianmu?


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Sulit Tidur Mengingatkanku akan Kesetiaan Tuhan

3 minggu berkutat dengan insomnia membuatku bergumul. Aku baru bisa tidur pulas sekitar jam 3 atau 5 subuh meskipun aku sudah mendengar musik, membaca, atau melupakan kepenatan sepanjang hari yang kualami.

Kecenderungan Buruk yang Hadir Saat Berbuat Baik

Oleh Antonius Martono

Ada dua kecenderungan buruk yang mungkin muncul saat manusia berbuat baik. Kecenderungan yang pertama adalah menyangka bahwa mereka adalah orang baik. Sedangkan kecenderungan kedua adalah menyangka bahwa mereka bukanlah orang jahat. Manusia sering terjebak di antara dua kecenderungan ini. Mereka bisa saja menolak disebutkan sebagai orang baik, tapi mereka juga tidak mau disebut sebagai orang jahat. Kondisi ini dapat menjebak manusia untuk puas dengan kebenaran moralnya sendiri.

Pada suatu hari terjadi konflik antara aku dan adikku. Dalam konflik itu dia berkata bahwa kakak yang baik adalah kakak yang mau mengalah pada adiknya. Mendengar hal itu, aku tersinggung dan merasa direndahkan, sebab selama ini rasanya aku telah menjadi kakak yang baik. Aku telah banyak bersikap sabar terhadap karakternya yang keras. Aku juga telah banyak mengalah, berkorban, dan berbuat baik untuknya. Memang ada kekurangan sedikit, tetapi timbangan moralku mengatakan bahwa lebih banyak hal baik yang telah dinikmatinya dariku. Aku mau membuktikan bahwa aku telah berhasil menjadi seorang kakak yang baik, oleh sebab itu aku mulai mengingatkan padanya sekumpulan jasa yang telah kuberikan padanya. Konflik kami memang tak berlangsung lama. Kami segera berdamai dan memperbaiki relasi kami. Namun, kejadian itu mengejutkanku dan mendorongku untuk merenung.

Mengapa aku perlu memberikan bukti bahwa aku adalah seorang kakak yang baik? Mengapa aku perlu membela diri dengan menyebutkan sederetan jasa yang telah kulakukan? Mengapa aku merasa tersinggung dan direndahkan dengan pernyataan tersebut? Apakah selama ini aku tidak tulus berkorban bagi adikku?

Akhirnya aku menemukan bahwa aku telah merasa menjadi orang yang lebih baik dibandingkan dengan adikku yang keras itu. Sehingga harga diriku seperti dicoreng ketika adikku tidak mengakui kebaikan yang telah aku lakukan. Aku baru menyadari bahwa selama ini aku telah menjadikan perbuatan baik sebagai mata uang untuk “membeli” citra sebagai kakak yang baik.

Dalam perenunganku, aku teringat akan orang Farisi dalam perumpamaan Yesus di Lukas 18: 10 – 14.

“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Orang Farisi itu begitu bangga dengan dirinya. Dia merasa telah menjadi orang baik karena keberhasilannya melakukan perbuatan baik. Bahkan dia berani menyebutkan prestasi perbuatan-perbuatan baiknya kepada Allah. Dia merasa lebih bermoral ketika membandingkan dirinya dengan sang pemungut cukai. Di hadapan Allah, orang Farisi ini mengira dirinya memiliki kualitas yang berbeda dari pemungut cukai. Dia tidak mau menyamakan dirinya dengan pemugut cukai yang penuh dosa itu. Sedangkan sang pemungut cukai sadar bahwa dirinya adalah orang berdosa. Dia meminta belas kasihan Allah untuk dirinya dan Allah membenarkannya.

Dalam bukunya The Righteous Mind, Jonathan Haidt yang adalah seorang psikolog sosial mengatakan bahwa: self-righteousness is the normal human condition. Manusia cenderung merasa dirinya lebih bermoral atau tidak lebih jahat dibandingkan dengan sesamanya. Akhirnya manusia cenderung membagi sesamanya dengan kategori orang jahat dan orang baik, sehingga sangat sulit bagi mereka yang merasa bermoral untuk bergabung dengan mereka yang dianggap kurang bermoral. Padahal sejak manusia jatuh dalam dosa, mereka semua telah menjadi musuh Allah. Semua manusia adalah orang berdosa, itu faktanya. Hanya saja ada orang berdosa yang telah dibenarkan dan ada yang belum. Namun, perbedaan ini bukanlah kriteria untuk memilih teman melainkan menjadi sebuah bukti bahwa Allah mau membenarkan mereka.

Kecenderungan manusia untuk merasa lebih benar dapat melemahkan pertahanan mereka terhadap dosa. Dengan berpikir bahwa mereka adalah orang baik, mereka cenderung melegalkan dosa kecil yang akan diperbuat. “Ah, ini hanya dosa kecil. Toh, saya orang baik, tidak sejahat itu.” Padahal Tuhan tidak suka dengan dosa sekecil apapun. Bahkan lebih buruk lagi, kecenderungan ini dapat membuat mereka merasa lebih kebal dosa daripada orang lain, merasa mampu mengalahkan godaan dosa dengan kekuatan sendiri, dan cenderung beranggapan tidak akan jatuh ke dalam dosa yang sama seperti orang lain.

Oleh sebab itu kita perlu terus waspada untuk tidak menilai diri berdasarkan perbuatan baik. Kita perlu berfokus kepada perbuatan yang telah Yesus lakukan beserta anugerah-Nya. Pada akhirnya manusia sanggup berbuat baik karena anugerah Allah yang memampukannya. Sedangkan bagi mereka yang merasa lebih bermoral, perbuatan baik itu bergantung pada usaha keras diri sendiri, bukan bersandar pada anugerah Allah.

Pernahkah kita merenung, berapa banyak perbuatan jahat yang dapat kita lakukan hari ini jika Allah tidak memberikan anugerah-Nya? Sejahat apakah perbuatan yang mungkin dapat kita lakukan, jika Allah tidak menjaga kita? Pertanyaan ini dapat mengevaluasi diri kita, sehingga kita dapat waspada untuk tidak terlalu bangga dengan pencapaian moral kita.

Tidak ada manusia yang kebal dan mampu menang dari dosa dengan kekuatan sendiri. Merasa telah menjadi orang baik dapat menjebak kita besar kepala dan merasa tidak memerlukan pertolongan Allah. Ketika seseorang jatuh dalam dosa, kita sama rentannya dengan mereka. Kita sangatlah mungkin melakukan dosa yang sama seperti mereka. Mengingat hal ini dapat membuat kita semakin rendah hati dan mendorong kita terus bergantung pada Allah. Kita perlu bergantung dalam doa, meminta Tuhan agar menjaga hati kita yang lemah. Pada akhirnya kita butuh kesetiaan Allah yang memampukan kita untuk setia.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Cerpen: Memaafkan Papa Mengikuti Teladan Bapa

Aku menghela napas panjang mendengar keputusan mama. Permintaannya kali ini sungguh di luar dugaanku.

“Kak, kamu harus menemui papamu dulu, baru kamu bisa pergi sama Daniel!” tegas mama.

“Mama, please! I just need you and I am happy,” pintaku sedikit memelas.

Berhentilah Membanding-bandingkan Dosa Kita dengan Dosa Orang Lain

Oleh Fandri Entiman Nae, Manado

Ketika menonton televisi atau menjelajahi media sosial, informasi tentang tindakan kejahatan rasanya bukanlah hal yang jarang kita simak. Menghitung berapa jumlah kasus-kasus itu tentu tak akan ada habisnya. Dunia seakan telah berteman dengan kejahatan, dan fakta yang mungkin membuatmu tercengang: kita semua adalah bagiannya.

Pernyataanku mungkin mengherankan dan membuatmu bertanya mengapa kita menjadi berada di posisi tertuduh? Melalui tulisan ini, aku mengajakmu untuk menyelidiki diri kita lebih jauh. Kita semua sejatinya memiliki status yang sama, yaitu para pendosa. “Ah tapi kan aku tidak melakukan ini, atau itu?”, dalam hati kita berkelit. Ketika kita melihat ada orang yang kedapatan mencuri dan kita “tidak mencuri”, atau kita melihat orang lain kedapatan “berzinah” dan kita merasa tidak melakukannya, kita lantas merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Atau, bisa saja kita merespons dengan lebih kesal, “Aku tidak akan begitu! Tidak akan jatuh ke dalam dosa seperti itu!”

Sebagai manusia, kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain, termasuk ketika itu bicara mengenai dosa. Namun, terlepas dari siapa yang tampak ‘lebih baik’ dari perbanding-bandingan itu, fakta yang pasti ialah kita semua sejatinya adalah pendosa, apa pun jenis dosa yang kita lakukan. Jika kita membaca apa yang dikatakan oleh Yesus tentang perzinahan (Matius 5:27-30), kita akan segera mengerti bahwa dosa bukan hanya tentang apa yang nampak melainkan apa yang tersembunyi di dalam hati kita. Mungkin kita belum pernah menampar atau melakukan kekerasan terhadap orang lain, tetapi berapa kalikah kita berniat melakukannya untuk melampiaskan amarah kita?

Dalam pekerjaan dan pelayananku sebagai hamba Tuhan, setiap kali aku berkhotbah kepada teman-teman yang ada di dalam penjara di beberapa kota, aku selalu berkata kepada mereka bahwa jika polisi kita, jaksa kita, dan hakim kita adalah Allah sendiri, maka aku, yang merupakan seorang penginjil ini tidaklah lebih suci dibandingkan teman-teman di dalam penjara ini. Mungkin aku pun akan dijerat dengan pasal berlapis dan divonis dengan hukuman terberat.

Beberapa tahun yang lalu seorang dosen pernah mengajukan pertanyaan ‘menjebak’ kepada kami semua dalam sebuah kelas. Pertanyaannya adalah “Siapa yang membunuh Yesus? Apakah orang Yahudi atau orang Romawi?” Tentu jawabannya bisa berbeda-beda tergantung sudut pandangnya. Ketika kelas kami terbagi menjadi dua kelompok besar yang membela pilihannya bagai debat capres dan cawapres, aku satu-satunya yang punya jawaban berbeda. Aku tidak memilih Romawi maupun Yahudi. Tentu saja bukan karena jawaban itu salah, tetapi karena aku tahu apa yang sedang ingin dicapai oleh dosen itu. Pada saat dia membuat survei dan tiba pada giliranku, aku menjawab, “Saya dan bapaklah yang membunuh Yesus”.

Mari jujur dengan identitas kita. Kita adalah “pembunuh”. Dosa kita telah “memaksa” Dia yang Maha Tinggi dibantai dan dipermalukan di bawah matahari Palestina. Kita adalah pezinah. Kita terpikat oleh senyuman dunia yang beracun dan bercumbu dengannya untuk memuaskan hasrat kedagingan kita, hingga kita lupa pada Kekasih hati kita yang datang jauh-jauh dari surga untuk memeluk kita.

Berhentilah saling menyalahkan dan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Jangan pernah memegahkan diri kita, terlebih di hadapan Allah. Kita semua tidak ada bedanya. Bukankah kita sering sekali berteriak menuntut keadilan hanya jika kita ada dalam posisi sebagai korban yang benar? Bukankah ketika kita didakwa sebagai tersangka yang bersalah, kita malah mengemis meminta pengampunan? Atau tragisnya lagi, berapa banyak dari kita yang senang menjadi penjilat demi mendapatkan kenyamanan diri kita sendiri?

Tetapi terlepas dari dosa-dosa kita yang begitu menjijikkan, di sini keunikan iman kita terletak, yaitu Allah kita mencintai kita sebagaimana adanya. Tentu itu bukan berarti bahwa Allah sama sekali tidak peduli, apalagi senang dengan dosa kita. Di mata Allah, dosa bagai kanker yang hidup di dalam tubuh orang yang kita cintai. Kita membenci kankernya, tetapi mencintai orangnya. Bukan kita yang mencari-Nya, Dialah yang mencari dan menemukan kita. Ia kemudian mengikat kita yang menerima-Nya dengan pelukan kasih karunia. Tapi sedihnya, kita sering menari-nari bahagia di atas kasih karunia itu namun lupa pada Sang Sumber. Kita tersenyum ketika tahu bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya tetapi kita mempermalukan Bapa kita. Benar bahwa Allah kita telah memerdekakan kita sama seperti yang dikatakan Paulus kepada jemaat Galatia, namun itu bukan kesempatan untuk hidup dalam dosa (Galatia 5:13). Seorang teolog sekaligus pengkhotbah terkenal pernah berkata, “Jika kita berpikir bahwa kasih karunia adalah tempat untuk bersantai saja, maka kita akan melihat kehancuran”.

Kasih karunia adalah tempat bersukacita, menyesali diri, dan berjuang habis-habisan. Kita bersukacita atas kebaikan Allah yang telah menyelamatkan kita dari “kengerian terdalam” melalui penyaliban Kristus yang telah bangkit dari kematian. Kita menyesali diri atas semua kegagalan-kegagalan kita yang telah melukai hati Allah. Kita berjuang habis-habisan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan dengan gigih menceritakan kepada dunia tentang Dia, Allah yang mengasihi kita, para pendosa.

Hari ini, dalam momen yang diperingati oleh beberapa gereja sebagai Rabu Abu, akuilah dosa kita di hadapan Allah dan perbaharuilah komitmen kita untuk hidup kudus bagi-Nya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Teguran: Tidak Semanis Pujian, Tapi Kita Butuhkan

Kita mungkin sepakat kalau teguran ditujukan untuk kebaikan kita. Tapi, seringkali penyampaian dan pesannya membuat kita tidak nyaman. Bagaimana kita dapat merespons teguran secara positif?