Seluruh Diriku

Info

Rabu, 1 Maret 2017

Seluruh Diriku

Baca: Matius 27:45-54

27:45 Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.

27:46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?”* Artinya: /Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

27:47 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Ia memanggil Elia.”

27:48 Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.

27:49 Tetapi orang-orang lain berkata: “Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.”

27:50 Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

27:51 Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,

27:52 dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

27:53 Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

27:54 Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”

[Persembahkan] tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. —Roma 12:1

Seluruh Diriku

Saat masih muda, Isaac Watts menemukan banyak kekurangan dalam puji-pujian yang dinyanyikan di gerejanya. Lalu ayah Watts mendorongnya untuk menciptakan lagu-lagu yang lebih baik. Ia pun melakukannya. Himne karya Watts, When I Survey the Wondrous Cross (Bila Kuingat Salib-Nya), disebut banyak pihak sebagai himne terbaik dalam bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

Bait ketiga dari himne penyembahan karya Watts itu membawa kita seakan-akan berada di hadapan Kristus pada saat penyaliban-Nya.
Lihatlah pada dahi-Nya
Duka dan kasih tercurah
Dahsyat mahkota duri-Nya
Yang hina jadi yang mulia

(Nyanyian Pujian, No. 189)

Peristiwa penyaliban yang digambarkan Watts dengan sangat elegan itu merupakan momen paling mengerikan dalam sejarah. Patutlah kita berdiam dan berdiri bersama orang-orang yang ada di sekeliling salib itu. Sang Anak Allah meregang nyawa, terpancang oleh paku-paku yang menembus tubuh-Nya. Setelah jam-jam yang mengerikan itu, kegelapan yang supernatural pun meliputi suasana di sana. Akhirnya, Tuhan atas alam semesta itu menyerahkan nyawa-Nya. Gempa bumi mengguncang tempat itu. Demikian juga di Yerusalem, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang yang telah meninggal bangkit, lalu masuk ke kota (Mat. 27:51-53). Semua peristiwa itu mendorong kepala pasukan yang menyalibkan Yesus untuk berkata, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (ay.54).

“Salib merombak semua nilai dan menghancurkan semua keangkuhan,’’ demikianlah komentar Poetry Foundation tentang sajak pujian Watts itu. Hanya satu respons yang pantas, dan himne tersebut menyatakan respons itu demikian: “Kar’na kasih-Mu yang murni, kupersembahkan diriku.” —Tim Gustafson

Sungguh istimewa kita dipanggil untuk menyerahkan seluruh milik kita
kepada Pribadi yang telah menyerahkan segalanya bagi kita di kayu salib.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 23-25; Markus 7:14-37

Artikel Terkait:

Buat Apa Susah?

Bukan hanya orang-orang pada zaman sekarang saja yang punya banyak masalah. Kehidupan para tokoh dalam Alkitab pada ribuan tahun lalu pun sudah sarat dengan masalah. Menjadi umat pilihan Tuhan atau murid-murid Tuhan Yesus tidak lantas membuat hidup mereka berjalan mulus. Lalu, bagaimana kita harus menghapi masalah tersebut? Apa yang dapat kita pelajari dari setiap masalah yang menimpa kita? Baca selengkapnya di dalam artikel berikut.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

27 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!