Empat Cara untuk Memandang

Info

Sabtu, 20 Februari 2016

Empat Cara untuk Memandang

Baca: Mazmur 77:1-16

77:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut: Yedutun. Mazmur Asaf.

77:2 Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, dengan nyaring kepada Allah, supaya Ia mendengarkan aku.

77:3 Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, jiwaku enggan dihiburkan.

77:4 Apabila aku mengingat Allah, maka aku mengerang, apabila aku merenung, makin lemah lesulah semangatku. Sela

77:5 Engkau membuat mataku tetap terbuka; aku gelisah, sehingga tidak dapat berkata-kata.

77:6 Aku memikir-mikir hari-hari zaman purbakala, tahun-tahun zaman dahulu aku ingat.

77:7 Aku sebut-sebut pada waktu malam dalam hatiku, aku merenung, dan rohku mencari-cari:

77:8 “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi?

77:9 Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun?

77:10 Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?” Sela

77:11 Maka kataku: “Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah.”

77:12 Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.

77:13 Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.

77:14 Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?

77:15 Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.

77:16 Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf. Sela

Aku hendak menyebut-nyebut segala perkerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. —Mazmur 77:13

Empat Cara untuk Memandang

Ketika ibadah baru akan dimulai, Joan teringat pada sejumlah pergumulan besar menyangkut anak-anaknya. Saking lelahnya, ia ingin “mengundurkan diri” saja sebagai ibu. Lalu sang pengkhotbah mulai berbicara dan membangkitkan semangat jemaat yang merasa ingin menyerah. Ada empat pemikiran yang didengar Joan pagi itu yang mendorongnya terus maju:

Pandang ke atas dan berdoalah. Asaf berdoa sepanjang malam dan mengungkapkan perasaannya bahwa Allah telah melupakan dan mengabaikannya (Mzm. 77:10-11). Kita dapat menyatakan segalanya kepada Allah dan jujur tentang perasaan kita. Kita bisa meminta apa saja kepada-Nya. Jawaban-Nya mungkin tidak langsung diberikan atau tidak dalam bentuk yang kita harapkan, tetapi Dia tidak akan menegur kita karena meminta kepada-Nya.

Pandang ke belakang dan ingatlah karya Allah di masa lalu untukmu dan orang lain. Asaf tidak hanya berbicara kepada Allah tentang deritanya; ia juga mengingat-ingat kuasa dan karya ajaib Allah baginya dan bagi umat-Nya. Ia menulis: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala” (ay.12).

Pandang ke depan. Pikirkan kebaikan yang mungkin akan dihasilkan oleh situasi tersebut. Apa yang bisa kamu pelajari? Apakah yang mungkin hendak Allah lakukan? Karena jalan Allah itu sempurna, apakah yang bisa kamu pastikan akan dilakukan oleh-Nya? (ay.14)

Pandang kembali. Lihatlah keadaanmu sekarang dengan mata iman. Ingatkan dirimu sendiri bahwa Allah itu ajaib dan dapat dipercaya (ay.15).

Kiranya ide-ide di atas menolong kita mempunyai cara pandang yang benar dan menguatkan iman kita di dalam Yesus. —Anne Cetas

Tuhan, aku sulit untuk tidak melihat masalahku. Tolong aku agar tidak kecewa dan menjadi lesu, tetapi melihat Engkau hadir di tengah-tengah masalahku.

Masalah merupakan kesempatan kita untuk menemukan solusi Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 25; Markus 1:23-45

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

28 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!