5 Hal yang Perlu Diwaspadai dalam Meraih Sukses

Info

Penulis: Henry Jaya Teddy

5-hal-yg-harus-diwaspadai-dalam-meraih-sukses

Siapa yang tidak ingin sukses? Kita semua tentu ingin. Pertanyaannya, kesuksesan seperti apa yang ingin kita raih? Dan, apa saja yang telah dan sedang kita lakukan untuk memastikan kita dapat meraih sukses itu?

Aku pikir adakalanya kita terlalu cepat puas dengan sukses yang sementara. Ini dicerminkan oleh pilihan-pilihan yang kita ambil. Sepanjang pengalamanku sendiri, setidaknya ada lima sikap yang perlu kita waspadai:

1. Lebih mengejar penghargaan manusia daripada penghargaan Tuhan
Kapan kita bersemangat menunjukkan kinerja terbaik kita? Bila kita berusaha tampil baik hanya di depan orang-orang tertentu atau bersemangat hanya ketika diberi tanggung jawab atas perkara-perkara besar yang dilihat orang, kita perlu waspada. Mungkin kita tetap bisa meraih “sukses”, namun itu tidak akan bertahan lama.

Firman Tuhan dalam Kolose 3:23 memperingatkan kita: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ketika kita menyadari bahwa Tuhan senantiasa memperhatikan pekerjaan kita, baik besar maupun kecil, tentunya kita akan lebih berhati-hati dan memberi usaha terbaik kita, baik saat dilihat orang atau tidak.

2. Lebih suka menjadi kaya daripada menjadi bijaksana
Hal apa yang pertama-tama kita harapkan dari sebuah pekerjaan? Bila kita hanya mengharapkan imbalan materi belaka, dan tidak lagi peduli apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik karakternya, lebih terampil, lebih bijaksana, lebih dapat diandalkan. kita perlu waspada. Mungkin kita tetap bisa meraih “sukses”, namun itu tidak akan bertahan lama.

Dalam 1 Raja-Raja 3, Tuhan menunjukkan betapa Dia senang dengan pilihan Raja Salomo yang meminta hikmat untuk melakukan tugas memimpin umat Tuhan, dan bukannya sekadar umur panjang, kekayaan, atau kemenangan atas musuh. Tuhan tidak hanya memberikan hikmat dan pengertian, tetapi juga kekayaan dan kemuliaan kepada Salomo (1 Raja-Raja 3:11-12).

3. Lebih mengikuti standar kebanyakan orang daripada mengejar keserupaan dengan Kristus
Apa yang menjadi standar kita dalam melakukan sesuatu? Bila kita selalu mengacu pada apa yang dilakukan kebanyakan orang saja (ah, kan semua orang juga seperti itu…), kita perlu waspada. Suara mayoritas belum tentu selalu benar. Mungkin kita bisa meraih “sukses” dengan mengikuti cara kebanyakan orang, namun itu tidak akan bertahan lama.

Matius 5:48 mengingatkan kita pada panggilan Tuhan: “… haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Meski kita jelas masih jauh dari sempurna, kita dipanggil untuk bertumbuh terus-menerus menuju apa yang sempurna, menuju keserupaan dengan Kristus. Kita dipanggil untuk mengasihi seperti Kristus, untuk berkata tidak kepada dosa seperti Kristus, untuk rela berkorban dan setia sampai akhir seperti Kristus, dan seterusnya.

4. Lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan
Situasi apa yang biasanya membuat kita gentar melakukan apa yang benar? Jika kita lebih suka berkompromi demi mengamankan dan menguntungkan diri sendiri, kita perlu waspada. Mungkin kita bisa meraih “sukses” dengan kompromi itu, namun itu tidak akan bertahan lama.

Matius 10:28 mengingatkan kita bahwa kita yang hidup dalam kebenaran tidak perlu takut terhadap orang-orang yang hendak mencelakakan kita, karena mereka hanya dapat menyentuh tubuh, bukan jiwa. Kita harus lebih takut kepada Tuhan yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh dalam neraka.

5. Lebih memilih kenyamanan daripada menghadapi tantangan
Situasi apa yang biasanya membuat kita menyerah dan berhenti berusaha? Jika kita maunya hanya hidup enak, tidak mau susah, selalu menjauhi tantangan, kita perlu waspada. Mungkin kita bisa meraih “sukses” di zona nyaman, namun itu tidak akan bertahan lama.

1 Korintus 10:13 mengingatkan kita bahwa Tuhan itu setia dan Dia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya dicobai melampaui kekuatan manusia. Pada waktu tantangan datang, Dia akan memberi kita jalan keluar. Berpegang pada janji Tuhan, kita dapat dengan berani menghadapi masa-masa yang sulit dan penuh tantangan. Tuhan dapat memakai setiap kesulitan yang ada untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 10 - Oktober 2015: Mengejar Kesuksesan, Artikel, Pena Kamu

12 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!