Jangan Hanya Memiliki Teman-Teman Seiman

Oleh: Lingyi Dai, Shanghai
(Artikel asli dalam Simplified Chinese: 不要单以基督徒为友)

Jangan-Hanya-Punya-Teman-Seiman

Persahabatan selalu menjadi bagian yang penting dalam hidupku, terutama di sekolah. Mayoritas teman dekatku bukanlah orang Kristen. Namun saat aku kuliah, mendengar Injil dan percaya kepada Yesus, aku kemudian mengenal saudara-saudara seiman di gereja dan mulai membangun persahabatan dengan mereka. Pada saat itu aku menyadari betapa berbedanya nilai-nilai yang dipegang oleh para pengikut Kristus dibandingkan dengan orang-orang dunia. Imanku kepada Kristus membuat aku mulai tidak sependapat dengan teman-teman yang dulunya kuanggap sejalan denganku dan yang dulunya bisa menjadi teman curhatku.

Awalnya, aku merasa bingung dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa mempertahankan persahabatanku dengan perbedaan-perbedaan nilai yang kami miliki. Akan tetapi, ketika aku mempelajari Alkitab, aku menemukan dalam Matius 5, bahwa Allah menghendaki kita menjadi “garam” dan “terang” dunia.

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”—Matius 5:13-16

Allah tidak ingin kita memutus hubungan sama sekali dengan dunia sekuler. Sebaliknya, kita justru harus hidup di tengah-tengah dunia ini dengan cara yang berpadanan dengan panggilan Allah, supaya orang lain yang melihat hidup kita akan memuliakan Dia.

Setelah menyadari kebenaran ini, aku mulai membagikan keyakinanku dengan teman-temanku yang non-Kristen. Adakalanya aku bahkan mengundang mereka ikut acara gereja dan kegiatan Natal. Perlahan-lahan, teman-temanku mulai mengetahui lebih banyak tentang Yesus dan kekristenan. Meskipun pendapat kami masih berbeda tentang beberapa hal, kami kini belajar menghormati satu sama lain dan bertumbuh dalam pemahaman kami masing-masing. Hingga saat ini, aku telah menerima banyak kasih dan perhatian dari teman-temanku yang non-kristen, dan mereka menolongku untuk melihat berbagai masalah dalam konteks yang lebih besar. Mereka menolongku menyadari bahwa meski semua orang tidak sempurna, setiap kita punya pendapat-pendapat yang baik. Jika kita bersedia merendahkan hati untuk belajar dari satu sama lain, kita akan mendapatkan banyak kejutan.

Belakangan ini, salah satu teman baikku bercerita bahwa ia kini memercayai Yesus dan berencana untuk dibaptis tahun ini. Aku merasa sangat gembira. Kami sudah bisa mulai saling menguatkan satu sama lain dengan firman Tuhan. Betapa baik dan luar biasanya Tuhan itu!

Kiranya Tuhan menuntun kita menjadi utusan-utusan-Nya di dunia ini, yang membawa banyak orang untuk datang mengenal-Nya.

“Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”—1 Korintus 9:19-23

Bagikan Konten Ini
8 replies
  1. melvin Tobondo
    melvin Tobondo says:

    Membaca artikel yang disajikan dalam renungan ini, saya begitu kagum atas segala usaha yang dapat merendahkan diri dan menjadi Seperti ibarat GARAM DUNIA yg dapat menjadi pengaruh didalam kehidupan pergaulan yang di sikapi dari saudara kita ini, kiranya Tuhan Yesus dapat memberkati kita semua, Amin

  2. Sandra indriati sinambela
    Sandra indriati sinambela says:

    Awalnya saya perbuat seperti itu.mempunyai teman2 yg bertolak belakangan dengan iman saya.cuma saua menerapkan Kristus dalam pribadi kehidupan saya.dan mereka juga melihat bagaimana perbedaan yg telah saya perbuat dalam hal positif berbeda dengan mereka. Akan tetapi ada seorang teman wanita yg bagi saya dia benar2 membutuhkan Pertolongan Tuhan Yesus. Karna hidupnya yg menurut saya sudah rusak sebagai seorang wanita dan seorang ibu. Malahan dia membuat saya kecewa kepada dirinya.dan akhirnya teman saya dan sayapun menjauh darinya dan putus hubungan dengan dirinya. Karna saya takut kalau saya bertahan didekat dia dan menjadi teman dia.saya menjadi berdosa dan terluka. Dan beberapa saat kemudian dia mencari kabar saya kepada teman saya.dia ingin meminta maaf kepada saya karna sikap perlakuannya. Bagi saya sudah memaafkannya.cuma saya tidak berani ambil konsuekensi lagi untuk dekat dengan dirinya lagi. Apakah saya salah?

  3. Boy Juanda Samosir
    Boy Juanda Samosir says:

    Amen.semoga saya dapat menjadi garam dan terang dunia di tengah masyarakat dan keluarga.

  4. Joel Hadiutomo
    Joel Hadiutomo says:

    Terima Kasih atas Renugannya,,,Sangat Menguatkan Dan Memberkati, Semoga Saya Bisa Menjadi Garam dan Terang Dunia, Seperti Yang Tuhan Yesus inginkan
    Amien

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *