Mencari Kambing Hitam

Senin, 15 September 2014

Mencari Kambing Hitam

Baca: Kejadian 16:1-6; 21:8-13

16:1 Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.

16:2 Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.

16:3 Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.

16:4 Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu.

16:5 Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau."

16:6 Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya.

Kejadian 21:8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.

21:9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.

21:10 Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak."

21:11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.

21:12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.

21:13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu."

Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu . . . TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau. —Kejadian 16:5

Mencari Kambing Hitam

Saat suami Jenny pergi meninggalkannya demi wanita lain, Jenny pun bersumpah tidak akan pernah menemui istri baru dari suaminya itu. Namun saat menyadari bahwa kepahitannya akan merusak relasi anak-anak dengan ayahnya, ia pun berdoa meminta Allah untuk memampukannya mengatasi kepahitan hati di tengah suatu keadaan yang tidak dapat diubahnya itu.

Dalam Kejadian 16, kita membaca kisah sepasang suami-istri yang dijanjikan Allah akan menerima seorang bayi. Ketika Sarai menyarankan suaminya, Abram, untuk menghampiri Hagar agar dapat mempunyai anak, sebenarnya ia tidak betul-betul percaya bahwa Allah akan memberikan seorang anak seperti yang dijanjikan-Nya. Saat bayi Hagar lahir, Hagar memandang rendah Sarai (Kej. 16:3-4) dan membuat Sarai sakit hati (ay.5-6).

Semula Hagar adalah seorang budak yang tidak punya hak dan tiba-tiba sekarang ia menerima perhatian khusus. Bagaimana reaksi Sarai? Ia menyalahkan orang lain, termasuk Abram (ay.5). Janji Allah lalu dipenuhi 14 tahun kemudian dengan kelahiran Ishak. Namun, acara perjamuan besar pada hari Ishak disapih juga dirusak oleh sikap Sarai (21:8-10).

Mungkin Sarai tidak pernah benar-benar menerima keadaan hidupnya yang harus menanggung akibat-akibat dari keputusan dirinya dan Abram untuk mendahului kehendak Allah. Diperlukan anugerah Allah untuk mengubah sikap Sarai yang pada akhirnya akan dapat mengubah seluruh hidupnya. Memang Sarai tidak dapat menarik kembali keputusannya dahulu, tetapi oleh kekuatan Allah, ia dimungkinkan untuk menjalani hidup dengan sikap yang berbeda dan memberikan kemuliaan kepada Allah. —MS

Terima kasih, Tuhan, walaupun keadaan kami mungkin tidak
berubah, anugerah-Mu cukup kuat untuk mengubah kami di tengah
keadaan yang kami hadapi. Tolong kami ketika kami bergumul
di sana-sini untuk menjalani hidup di dunia yang penuh dosa ini.

Oleh anugerah Allah, kita dapat memancarkan terang-Nya di tengah zaman yang gelap.

Bagikan Konten Ini
4 replies
  1. galih
    galih says:

    PUJI TUHAN, HALELUYA , saat kita bergumul dan percaya akan kekuatan kuasa TUHAN dan kasih-Nya yang tak terhingga, Dia akan selalu memberikan damai sejahtera-Nya senantiasa. Gbu us all. Amen

  2. bayu suwandi
    bayu suwandi says:

    belajar memahami dan sabar menanti apa yang di kehendaki Allah,,,adalah lebih baik dari pada memaksakan kehendak sendiri yang pada akhirnya membawa dampak yang kurang baik dalam menjalankan hidup ini

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *