Para Penyembah yang Benar

Senin, 22 November 2021

Baca: Yohanes 4:19-26

4:19 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.

4:20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”

4:21 Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”

4:26 Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”

 

Penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. —Yohanes 4:23

Penulis Annie Dillard akhirnya berkesempatan mengunjungi gereja itu. Di bagian terdalam dari ruang bawah tanah gereja, ia masuk ke sebuah gua kecil yang disebut grotto. Lilin-lilin memenuhi ruang sempit itu dan lampu-lampu gantung menerangi sebuah sudut pada lantai. Di sanalah terdapat sebuah bintang perak dengan empat belas titik, menutupi sebagian kecil undakan di lantai marmer. Annie sedang berada di Gua Kelahiran di Betlehem—tempat yang menandai lokasi kelahiran Kristus menurut tradisi gereja. Akan tetapi, Annie tidak begitu terkesan, sembari menyadari bahwa Allah sesungguhnya jauh lebih besar dari tempat itu.

Meskipun demikian, tempat-tempat seperti itu selalu memiliki arti penting dalam kisah-kisah iman kita. Tempat serupa yang disebutkan dalam percakapan antara Yesus dan seorang perempuan di tepi sumur adalah gunung tempat “nenek moyang [perempuan itu] menyembah” (Yoh. 4:20), yang mengacu pada Gunung Gerizim (lihat Ul. 11:29). Itulah tempat suci bagi orang Samaria, yang mempertentangkannya dengan keyakinan orang Yahudi tentang Yerusalem sebagai tempat ibadah yang benar (ay.20). Namun, Yesus menyatakan bahwa waktunya telah tiba ketika ibadah dan penyembahan bukan lagi soal tempat tertentu, melainkan tentang Pribadi yang disembah: “Penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (ay.23). Perempuan itu menyatakan imannya kepada Mesias, tetapi tidak menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan Mesias itu sendiri. Yesus pun berkata kepadanya, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (ay.26).

Allah tidak dibatasi oleh gunung atau tempat apa pun. Dia hadir bersama kita di mana saja. Setiap hari, kita dapat melakukan ziarah dan penyembahan yang benar dengan berani menghampiri takhta-Nya, sambil memanggil-Nya, “Bapa kami”. Dia ada di sana bagi kita. —John Blase

WAWASAN
Yohanes 4:19-26 bercerita tentang Yesus meminta seorang perempuan Samaria untuk menimbakan air bagi-Nya dari sumur (ay. 7). Kisah ini penting, karena “orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria” (ay. 9), dan memegang wadah yang telah disentuh orang Samaria membuat Yesus dianggap najis. Namun, ini tidak menghalangi-Nya. Malah sebaliknya, Dia memberi tahu perempuan tersebut mengenai kehidupannya dan suaminya yang banyak (ay. 16-18). Itulah sebabnya perempuan itu menyebut Yesus nabi di ayat 19. Setelah Yesus menjelaskan bahwa tempat kita beribadah tidaklah penting, si perempuan menyebutkan tentang Mesias (ay. 25). Perkataan Yesus di ayat 26 bahwa Dialah sang Mesias, merujuk kepada Allah sebagai “AKULAH AKU” di Perjanjian Lama (Keluaran 3:14). Dalam terjemahan Yunani, kata “Dia” di Yohanes 4:26 tidak ada dan secara harfiah dibaca sebagai: “Akulah [Aku], yang sedang berkata-kata dengan engkau.” —Julie Schwab

Para Penyembah yang Benar
 

Apa pengaruhnya bagi kamu setelah mengetahui bahwa Allah adalah Roh, yang selalu hadir di mana saja? Untuk kebaikan apa kamu dapat menaikkan pujian kepada-Nya saat ini?

Bapa, terima kasih atas kehadiran-Mu yang tak berubah di mana pun aku berada.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 18–19; Yakobus 4

Bagikan Konten Ini
45 replies
  1. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang – orang disekitar dari segala macam penyakit akibat pandemi ini ya Tuhan, serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana kehidupan kami kedalam tanganMu saja biarlah kehendakMu yang terjadi, terpujilah namaMu kekal selamanya, amin

  2. Gabriela
    Gabriela says:

    Tuhan yang Aku sembah luar biasa.. selalu terasa bahwa Ia selalu menyertaiku.. bahkan ketika aku tidak setia, itu membuatku percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang besar.. Aku mengasihinya karena Ia lebih dulu mengasihi ku tanpa syarat 🙏😇💕 semoga kita semua dimampukan Tuhan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki bahkan menaikan pujian syukur kepada Tuhan baik lewat kata-kata maupun lagi dimanapun kita berada dan apapun keadaannya..

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *