Posts

3 Cara Tetap Setia Ketika Hidup Terasa Jalan di Tempat

Oleh Yang Ming
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Ways To Remain Faithful When Life Seems To Be Going Nowhere

Hatiku bergetar saat melihat deretan email masuk. Ketakutan terbesarku terwujud. Lamaran kerjaku untuk bergabung di kelompok seni internasional ditolak. Sepuluh bulan terakhir upayaku mencari kerja selalu buntu dan menyerah rasanya jadi pilihan yang baik.

Aku kecewa. Upaya-upaya kreatifku tidak membawaku pergi ke mana-mana, dan aku tetap menganggur selama berbulan-bulan meskipun aku sudah berusaha sebaik mungkin. Rasanya aku dikecewakan oleh segala hal yang kuanggap bernilai.

Beberapa hari setelahnya, aku sulit untuk berdoa dan mencari Tuhan. Aku duduk termenung di kasurku setiap malam. Perlahan aku marah pada-Nya. Ketika penderitaan ini terasa terlalu berat, akhirnya aku berseru, “Tuhan, pernahkah Engkau mengasihiku?” Aku sendiri terkejut dengan pertanyaan itu, tapi itulah yang bergema di hatiku.

Saat itu aku merasa terluka dan malu. Aku telah jadi orang Kristen bertahun-tahun, dan telah melayani dengan penuh semangat di pelayanan pemuda. Aku pun telah bersaksi akan kebaikan Tuhan ke orang-orang, tapi hari ini bagaimana bisa aku meragukan kasih-Nya buatku?

Terlepas dari amarah dan kecewaku, aku tahu hanya ada dua jalan yang bisa kuambil: berpaling pada Allah atau melarikan diri dari-Nya. Kurenungkan dua pilihan itu dan aku teringat ayat dari Yohanes 6:68. Setelah Yesus memberikan pengajaran yang cukup keras, banyak murid meninggalkan-Nya karena mereka mendapati terlalu sulit untuk mengikut-Nya. Yesus lantas bertanya pada 12 murid-Nya apakah mereka hendak ‘menyerah’ juga. Simon Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Seperti Simon Petrus, aku memutuskan untuk tetap setia pada Allah meskipun aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidupku. Aku memulai perjalanan kesetiaanku dari tiga area ini:

1. Mengatur ulang pikiranku melalui penyembahan kepada-Nya

Ada hari-hari ketika aku sulit menyembah Tuhan. Beberapa hari aku merasa hambar, dan parahnya lagi, aku tidak tahu inti apa yang kulakukan. Tapi, melalui teladan dari Daud sang pemazmur dan Ayub—mereka sosok yang juga mengalami kekecewaan, aku sadar bahwa tidak masalah untuk tidak merasa baik di hadapan Allah karena Dia tahu apa yang sesungguhnya tersembunyi di dalam hati kita.

Ketika anak dari Daud mati karena dosanya melawan Allah, Daud “masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah” (2 Samuel 12:20). Pemazmur sering menuangkan pergumulannya dan dengan jujur berkata-kata di hadapan Allah, menuturkan-Nya “Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: Di mana Allahmu?” (Mazmur 42:3). Ayub kehilangan anak-anaknya dan segala harta miliknya, tapi dia tetap menyembah Allah dengan tetap percaya dan berharap pada-Nya (Ayub 13:15).

Kedua teladan itu mengingatkanku bahwa meskipun gejolak emosi kita sungguh nyata, itu tidak seharusnya menjadi penentu keputusan final kita. Meskipun aku merasa sedang di titik nadir, aku mulai mengumpulkan sisa-sisa kekuatan untuk menyanyikan pujian bagi Allah. Entah itu lagu kidung jemaat atau lagu rohani kontemporer, semuanya menolongku untuk mengatur kembali pikiranku dan berfokus pada Allah. Nada-nada sederhana dipakai-Nya untuk menenangkan badai di hatiku, juga memperbaharuinya.

2. Mencari tahu tujuan Allah melalui pencobaan yang kuhadapi

Di momen-momen hening penyembahanku, aku sadar Allah senantiasa setia, tapi aku lebih memilih berjalan dengan jalurku sendiri dan dengan naif yakin bahwa rencanaku lebih baik. Alih-alih menanti Allah, aku mencari alternatif lain. Aku mencari pelarian lewat teman-temanku, membaca buku, bahkan googling mencari jawaban atas pertanyaanku. Aku ingin solusi instan atas masalahku. Ketika yang kuinginkan tidak terjadi, segeralah aku kecewa dan menjauh dari Allah, berpikir kalau Dia memang meninggalkanku.

Tapi, di satu saat teduhku di pagi hari, aku menemukan kisah Gideon di Hakim-hakim 6:1-40, dan bacaan itu menyentakku betapa Allah penuh belas kasih kepada bangsa Israel yang tidak setia. Ketika mereka ditindas, Allah ada bersama mereka. Allah mendengar tangisan mereka. Itulah sebabnya Allah mengirim Gideon. Allah berdaulat dalam segala sesuatu.

Kebenaran ini memperdalam pemahamanku akan Allah. Oswald Chambers dalam teks renungannya My Utmost For His Highest menulis begini, “Kamu harus pergi menghadapi pencobaan sebelum kamu punya hak untuk mengucapkan keputusanmu, karena dengan melalui pencobaan kamu akan belajar mengenal Allah lebih baik. Allah sedang bekerja di dalam kita untuk mencapai tujuan termulia-Nya, sampai tujuan-Nya dan tujuan kita menjadi satu.”
Tujuan dari pencobaan yang kuhadapi bukan sekadar mengajariku pelajaran hidup, tapi untuk membawaku melihat karakter Allah serta tujuan mulia-Nya bagiku—yakni untuk menyembah dan memuliakan-Nya di segala hal yang kulakukan.

Perlahan aku mulai melihat Allah dalam terang yang baru. Dia menunjukkanku kesetiaan-Nya melalui hal-hal kecil yang biasanya kuabaikan. Dia memelihara kesehatanku, memenuhi kebutuhanku di masa-masa menantang ini, dan membawa orang-orang yang peduli pada kesejahteraanku. Karena semua inilah, aku tahu aku bisa bersandar pada kasih-Nya yang tak berakhir meskipun tantangan berat siap menghadang.

3. Mengingat betapa Allah telah menyukakan hatiku

Ketika hidup terasa tidak berjalan ke mana-mana, mudah untuk hanyut dalam takut dan khawatir. Ketika aku bertanya pada Allah pernahkah Dia mengasihiku, jawaban yang kudapat hanyalah kesunyian. Respons ini membuatku berandai-andai, mungkinkah Allah marah karena aku mempertanyakan kasih-Nya?

Tapi, dengan penuh kasih Dia mengingatkanku lewat Mazmur 18:16-19:

“Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir. Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah dan dari orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku. Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN menjadi sandaran bagiku; Ia membawa aku ke luar ke tempat lapang, ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku.”

Aku telah berusaha keras untuk mengingat seperti apakah rasanya ketika hatiku dipuaskan oleh-Nya. Aku menyadari seharusnya aku tidak berusaha terlalu keras hanya untuk membuktikan bahwa aku cukup baik untuk dikasihi-Nya.

Selama beberapa bulan, aku telah belajar bahwa di masa-masa terkelam hidup seharusnya kita menaruh percaya pada-Nya. Dalam perjalanan kekristenanku, aku mengalami momen yang membawaku pada terobosan dan penolakan. Saat aku berjalan di lembah atau puncak, ini adalah momen yang cepat berlalu. Aku tak tahu mengapa hidupku berjalan sedemikian rupa, tetapi aku tahu Allah adalah sauh yang kuat bagi jiwaku (Ibrani 6:19), dan Dia punya tujuan bagiku. Tak peduli medan apa yang kulalui, Dialah sumber penghiburanku. Dia masih menulis kisah hidupku, kisah yang jauh lebih baik dari apa yang kupikirkan.

Setelah beberapa bulan mencari kerja, aku mendapat pekerjaan sementara di gereja. Bukan pekerjaan yang kudambakan, tetapi mungkin ini adalah pekerjaan yang baik yang bisa kulakukan di masa sekarang untuk mengembangkan talentaku melayani-Nya. Lagipula, Allah telah menujukkan padaku kesetiaan-Nya dan Dialah penolongku di masa-masa sulit. Dia telah memimpinku kepada kesempatan-kesempatan lain untuk menujukkan kemampuan kreatifku.

Jika kamu merasa kamu sedang berjalan dalam terowongan kelam dan hidupmu serasa jalan di tempat, aku ingin mendorongku untuk melihat pada kasih Allah yang tak pernah berubah untukmu. Jangan pernah lelah untuk meraih-Nya. Dialah Allah yang baik.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Belajar Setia dari Aren

Aren masih duduk di bangku SD dan dia hidup dengan penyakit bawaan. Bukan hidup yang mudah tentunya, tetapi Aren ingin berbagi cerita dan semangat buat kita semua.

Setahun Mencari Pekerjaan, Tuhan Akhirnya Menjawab Doaku

Oleh Martha Felica*, Surakarta

Air mataku menetes tatkala aku terdiam. Pusing di kepala dan rasa sakit di dada kurasakan karena diselimuti kekecewaan. Aku tak kunjung mendapatkan pekerjaan pada tahun 2017 yang lalu. Saat masih duduk di bangku kuliah, aku pernah berpikir bahwa hidup akan terasa mudah dan indah setelah selesai kuliah. Lulus dengan nilai bagus, lalu diterima di perusahaan besar di Jakarta. Namun, impianku justru pupus begitu saja.

Hari demi hari, bulan demi bulan, kota demi kota sudah aku sambangi demi mendapatkan pekerjaan. Aku pernah mengikuti wawancara kerja di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Semarang. Namun, tak ada satupun yang akhirnya lolos. Padahal, teman-teman yang lulus bersamaku sudah mendapatkan pekerjaan. Aku didera rasa malu yang tak kunjung berhenti. Setiap kali orang bertanya di mana aku bekerja, lidahku kelu. Hatiku sakit. Aku tak tahu harus menjawab apa. Pun dengan kedua orang tuaku. Sebagai anak tunggal, aku punya kewajiban untuk menjadi satu-satunya tumpuan mereka nantinya. Lalu, bagaimana jika aku tak bisa memiliki pekerjaan dan tidak berhasil membanggakan mereka?

Tapi, rasa frustrasi tidak membuatku berhenti berdoa. Aku menceritakan tentang kegelisahanku selama aku belum mendapatkan pekerjaan kepada seorang hamba Tuhan di gerejaku. Aku memanggilnya dengan panggilan “Romo”. Saat itu, beliau menasihatiku bahwa yang terpenting bukanlah siapa yang tercepat, melainkan kualitas hidup kita karena itulah yang Tuhan lihat. Beliau juga mengutarakan bahwa aku harus diam sejenak dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Aku harus menerima kondisiku saat itu dan berdamai dengan kekecewaan yang menggerogoti diriku sendiri sambil tetap berdoa. Aku berusaha melakukan nasihat Romo yang sesuai dengan apa yang tertulis dalam Filipi 4:6-7: “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Ada harapan

Hari demi hari kembali aku jalani. Aku tidak menyerah pada keadaan. Sembari mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, aku berusaha untuk terus berkarya di gereja dan menjadi wirausahawan. Aku membuka bisnis kaos dan bakso goreng serta melayani sebagai lektor atau pembaca Alkitab saat ibadah berlangsung. Di tengah-tengah usahaku itu, selalu ada perusahaan yang memanggilku untuk wawancara kerja, entah di Jakarta maupun Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya. Pengharapanku tumbuh kembali, apalagi orang tua, keluarga dan teman-temanku terus mendukungku. Aku beroleh kekuatan melalui Matius 6:26:

“Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”

Benar, aku adalah manusia ciptaan-Nya yang lebih dari burung-burung itu. Aku tak boleh khawatir selama aku berusaha dengan jujur dan terus mengandalkan-Nya dalam doa-doaku.

Lembaran baru

Waktu demi waktu berlalu. Wawancara demi wawancara kulalui, tetapi aku masih belum berhasil lolos ke tahap selanjutnya.

Bulan Juli 2017, aku iseng mendaftarkan diri ke sebuah perusahaan media yang sedang dibangun di kota tempat tinggalku, Solo. Setelah mengikuti seleksi, kupikir aku gagal kembali. Tapi, tak disangka-sangka, seminggu kemudian aku kembali dipanggil lewat telepon dari Jakarta. Aku diberitahu bahwa aku diundang untuk mengikuti proses seleksi di media yang sama namun dengan fokus yang berbeda yakni di berita seputar entertainment. Yang lebih mengejutkan lagi buatku, aku harus melewati proses wawancara di hadapan 10 petinggi perusahaan sekaligus. Aku sempat pesimis karena menurutku jawaban-jawabanku kurang memuaskan. Namun, aku memiliki nilai lebih karena pernah menulis di blog dan tulisanku pernah dimuat di beberapa media di Indonesia.

Setelah seminggu, aku menerima kabar bahwa aku diterima di media tersebut. Aku menandatangani kontrak selama setahun sampai Agustus 2018. Aku tak bisa menggambarkan betapa bahagianya diriku saat berhasil memperoleh pekerjaan untuk pertama kalinya. Senang, kaget, dan terharu bercampur menjadi satu. Aku sangat bersyukur karena Tuhan akhirnya memberikan jawaban atas doaku. Sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, aku memberikan seluruh gaji pertamaku untuk orang-orang yang membutuhkan melalui gereja.

Aku teringat pada perkataan Romo, “Hidup kita itu perjuangan. Jalani dengan penuh keberanian dan harapan. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kamu.”

Aku sungguh tak menyangka bahwa usahaku untuk terus melamar pekerjaan akhirnya berbuah manis seperti halnya firman yang tertulis dalam 2 Tawarikh 15:7, “Kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!

Kini, satu setengah tahun telah berlalu. Aku masih setia bekerja di perusahaan media tersebut. Aku berusaha disiplin dan menghargai pekerjaanku serta memberikan yang terbaik, karena aku tahu betapa susahnya mencari pekerjaan di luar sana.

Teman, siapa pun kamu dan di mana pun kamu sekarang, jika kamu sedang berjuang mendapatkan pekerjaan, yakinlah bahwa Tuhan akan menolongmu. Ia mendengarkanmu jika kamu bersungguh-sungguh, bersedia berjuang dengan jujur dan tak menyerah. Ingatlah, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Selamat berjuang dengan tak putus-putusnya berharap pada Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

*Bukan nama sebenarnya.

Baca Juga:

3 Hal yang Tuhan Ajarkan dalam Masa Penantian

Enam bulan aku menanti dan berusaha agar jurnalku sebagai prasyarat kelulusan diterima. Awalnya aku sempat kecewa, tapi rupanya dari masa-masa inilah aku belajar sesuatu.