Ketika Keindahan Itu Pergi

Info

Sabtu, 18 Juli 2020

Ketika Keindahan Itu Pergi

Baca: Ratapan 3:13-24

3:13 Ia menyusupkan ke dalam hatiku segala anak panah dari tabung-Nya.

3:14 Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari.

3:15 Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh.

3:16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.

3:17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.

3:18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya. —Ratapan 3:22

Ketika Keindahan Itu Pergi

Saya tidak akan pernah mendapatkan kembali keindahan putri kami Melissa. Kenangan indah saat kami melihatnya bermain voli dengan riang di sekolahnya mulai pudar dari ingatan saya. Terkadang sulit mengingat kembali senyum malu-malu yang muncul di wajahnya yang gembira ketika kami melakukan kegiatan bersama sebagai keluarga. Kematiannya di usia 17 tahun seakan memadamkan sukacita kehadirannya dalam hidup kami.

Dalam kitab Ratapan, kata-kata Yeremia menunjukkan bahwa ia mengerti bagaimana kita dapat mengalami hancur hati. “Hilang lenyaplah kemashyuranku,” katanya, “dan harapanku kepada Tuhan” (3:18). Situasi yang dialaminya jauh berbeda dari apa yang kamu dan saya alami. Ia pernah memberitakan kabar penghakiman Allah, dan juga melihat Yerusalem ditaklukkan. Kemashyuran telah lenyap karena ia merasa kalah (ay.12), terkucil (ay. 14) dan ditinggalkan Allah (ay.15-20).

Namun, cerita Yeremia tidak berakhir di situ. Terang akhirnya datang. Dalam keadaan penuh beban dan hancur, Yeremia dengan susah payah menyatakan: “Aku akan berharap” (ay.21). Itulah pengharapan yang berasal dari kesadaran bahwa “tak berkesudahan kasih setia Tuhan” (ay.22). Persis inilah yang harus kita ingat ketika keindahan kita lenyap: “Tak habis-habisnya rahmat [Allah], selalu baru tiap pagi” (ay.22-23).

Di hari-harimu yang tergelap sekalipun, kesetiaan Allah yang besar terus bersinar terang.—Dave Branon

WAWASAN
Ratapan 3 memang agak membingungkan. Penulisnya, Nabi Yeremia, banyak menjelaskan penderitaan yang ia alami: ditinggalkan, patah tulang, kepahitan, kesulitan, dicemooh. Di ayat 1 sang nabi dengan jelas mengatakan bahwa ia merasa Allah adalah penyebab semua sakit yang ia rasakan, yang menyebabkan ia menderita. Namun, terlepas dari semua penderitaan yang dialaminya, Yeremia tetap memiliki harapan pada satu hal—kasih setia Allah yang besar. “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya” (3:22). Suatu penegasan yang luar biasa! Seseorang yang merasa dihancurkan oleh Allah berkata bahwa ia tidak dibinasakan karena belas kasihan Allah. Kita tidak bisa memahami kasih Allah hanya dengan melihat keadaan yang kita alami. Belas kasihan-Nya menyelamatkan dan melindungi kita, bukan dari segala mara bahaya tetapi dari kebinasaan total. —J. R. Hudberg

Bagaimana Allah telah menguatkanmu di saat kamu merasa putus asa? Bagaimana Dia dapat memakaimu untuk menguatkan orang lain dengan penguatan yang diberikan-Nya?

Terima kasih, ya Bapa, karena Engkau Allah yang penuh rahmat. Bahkan di saat aku berjalan dalam lembah kekelaman, fajar pasti akan datang di saat aku mengingat rahmat dan kesetiaan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 20–22; Kisah Para Rasul 21:1-17

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

40 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!