Dikhianati

Info

Minggu, 26 Juli 2020

Dikhianati

Baca: Yohanes 13:18-22; Mazmur 41:10-13

13:18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.

13:19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.

13:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”

13:21 Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

13:22 Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya.

41:10 Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.

41:11 Tetapi Engkau, ya TUHAN, kasihanilah aku dan tegakkanlah aku, maka aku hendak mengadakan pembalasan terhadap mereka.

41:12 Dengan demikian aku tahu, bahwa Engkau berkenan kepadaku, apabila musuhku tidak bersorak-sorai karena aku.

41:13 Tetapi aku, Engkau menopang aku karena ketulusanku, Engkau membuat aku tegak di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.

Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku. —Mazmur 41:10

Dikhianati

Pada tahun 2019 diselenggarakan berbagai pameran seni di seluruh dunia untuk memperingati lima ratus tahun wafatnya Leonardo da Vinci. Meski banyak gambar dan penemuan ilmiahnya dipamerkan, tetapi sebenarnya hanya ada lima lukisan yang diakui luas sebagai karya da Vinci yang telah tuntas, dan salah satunya lukisan The Last Supper (Perjamuan Terakhir).

Karya yang detail tersebut menggambarkan perjamuan terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya, seperti yang dituliskan dalam Injil Yohanes. Lukisan ini memperlihatkan kebingungan para murid atas pernyataan Yesus, “Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh. 13:21). Karena bingung, para murid bertanya-tanya siapa di antara mereka yang akan menjadi pengkhianat—sementara Yudas diam-diam menyelinap pergi untuk memberi tahu pihak berwenang tentang keberadaan guru dan rekan-rekannya.

Dikhianati. Kepedihan yang dirasakan Yesus karena pengkhianatan Yudas terlihat jelas dalam kata-kata-Nya, “Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku” (ay.18). Orang yang dekat dengan Yesus, bahkan makan bersama Dia, tega memanfaatkan kedekatan itu untuk mencelakakan Yesus.

Mungkin kita juga pernah dikhianati orang lain, bahkan teman. Bagaimana kita menghadapi kepedihan yang timbul? Kita bisa terhibur oleh Mazmur 41:10, yang dikutip Yesus untuk menunjukkan kehadiran pengkhianat-Nya dalam perjamuan bersama itu (Yoh. 13:18). Setelah Daud mencurahkan kesedihannya atas pengkhianatan teman dekatnya, ia memperoleh penghiburan lewat kasih dan kehadiran Allah yang akan menopang dan membuatnya berdiri tegak di hadapan Allah untuk selama-selamanya (Mzm. 41:12-13).

Ketika dikecewakan seseorang, biarlah kita terhibur saat menyadari bahwa kasih Allah yang menopang dan hadirat-Nya yang penuh kuasa akan menyertai serta menolong kita menanggung kepedihan yang mendalam.—LISA M. SAMRA

WAWASAN
Baik Mazmur 41:10 maupun Yohanes 13 merujuk kepada pengkhianatan terhadap Yesus. Dalam Yohanes, kita mengetahui bahwa yang mengkhianati itu adalah Yudas, satu dari dua belas murid Yesus (13:26-27). Nama Yudas adalah bentuk Yunani dari nama Ibrani, Yehuda. Yudas diyakini berasal dari Keriot, sebuah kota yang terletak di sebelah selatan Yerusalem, Yudea. Dengan demikian, ia satu-satunya murid yang tidak berasal dari Galilea. Yudas adalah bendahara (ay.29) dan “sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya” (12:6). Tampaknya pengkhianatan Yudas dengan menjual Yesus kepada pemimpin agama Yahudi seharga tiga puluh keping perak adalah bentuk kekecewaannya terhadap Yesus, yang ternyata tidak seperti anggapan umum tentang Mesias yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari penjajah Romawi. —Alyson Kieda

Bagaimana pengalamanmu dikhianati oleh teman? Bagaimana jaminan kasih dan kehadiran Allah telah menguatkanmu?

Bapa Surgawi, aku bersyukur bahwa kasih-Mu lebih kuat daripada pengkhianatan apa pun. Ketika aku ditolak, tolonglah aku memperoleh kekuatan karena aku tahu Engkau selalu besertaku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 40–42; Kisah Para Rasul 27:1-26

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, Santapan Rohani, SaTe Kamu

27 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!