Jembatan Hidup

Jumat, 18 Juli 2014

Jembatan Hidup

Baca: Yeremia 17:5-10

17:5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

17:9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?

17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! —Yeremia 17:7

Jembatan Hidup

Penduduk yang tinggal di Cherrapunji, India, telah mengembangkan sebuah cara yang unik untuk menyeberangi sungai dan aliran air yang banyak terdapat di daerah mereka. Mereka membangun jembatan-jembatan dengan bahan dari akar pohon karet. “Jembatan hidup” itu memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun untuk berkembang hingga sempurna, dan begitu jadi, jembatan tersebut sangat kokoh dan dapat digunakan hingga beratus-ratus tahun.

Alkitab membandingkan seseorang yang mengandalkan Allah dengan “pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air” (Yer. 17:8). Karena akar-akarnya mendapat asupan yang cukup, pohon tersebut dapat bertahan menghadapi segala perubahan suhu. Sepanjang musim kemarau, pohon itu pun tetap berbuah.

Seperti sebatang pohon yang berakar kuat, orang yang mengandalkan Allah memiliki stabilitas dan vitalitas meskipun berada dalam situasi-situasi yang buruk. Sebaliknya, orang yang mengandalkan sesamanya manusia sering tidak memiliki stabilitas dalam hidupnya. Alkitab membandingkan mereka dengan semak bulus di padang belantara yang sering kekurangan cairan dan tumbuh menyendiri (ay.6). Demikianlah kehidupan rohani orang yang meninggalkan Allah.

Di manakah akar-akar kita menancap? Apakah kita berakar di dalam Yesus? (Kol. 2:7). Apakah kita telah menjadi jembatan yang mengarahkan orang lain kepada-Nya? Jika kita mengenal Kristus, kita dapat menyaksikan kebenaran ini: Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan (Yer. 17:7). —JBS

Yesus segala-galanya,
Mentari hidupku.
Sehari-hari Dialah
Penopang yang teguh. —Thompson
(Kidung Jemaat, No. 396)

Hembusan pencobaan yang kuat sekalipun takkan dapat menghempaskan seorang yang berakar di dalam Allah.

Bagikan Konten Ini
5 replies
  1. Maureen Rumainum
    Maureen Rumainum says:

    pagi ini setelah membaca Firman Tuhan dan membaca renungannya,saya merasa diberkati dan ditegur oleh Tuhan.GBU

  2. gumelaragunk
    gumelaragunk says:

    Saya jg mrasa ditegur, saya lebih sering mengandalkan kekuatan saya,kalo udah mentok ga mampu baru saya berserah pada Tuhan

  3. Rangga
    Rangga says:

    benar sekali renungan hari ini. jangan pernah mengandalkan manusia pasti kita akan kecewa meskipun itu adalah orang tua kita sendiri. tapi andalkan lah Tuhan yang pasti tidak akan pernah mengecewakan kita.

Bagikan Komentar Kamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *