Posts

Semuanya Dimulai dengan Percaya Bahwa Tuhan Itu Baik

Oleh Gabrielle Triyono
Artikel asli dalam bahasa Inggris: It Starts With Believing God is Good

Kita semua mungkin pernah berkata “Thank God” atau “Tuhan baik” berkali-kali dalam hidup kita. Tapi, apakah pilihan dan cara hidup kita benar-benar mencerminkan apa yang kita katakan? Jawabanku adalah: tidak selalu. 

Tumbuh besar sebagai orang Kristen, aku diajarkan kalau Tuhan itu baik, dan memang aku telah mengalami sendiri kebaikan Tuhan. Tapi, meskipun aku mengalami kebaikan-Nya, seringkali aku masih ragu dengan apa yang Tuhan minta untuk kulakukan.

Pada suatu momen, Tuhan meneguhkan hatiku untuk putus dari suatu hubungan pacaran. Meskipun pada masa-masa yang lalu aku telah mengalami sendiri kesetiaan dan kebaikan Tuhan, tapi keterikatanku pada relasi dengan pacarku membutakanku dari melihat tuntunan Tuhan. Aku memaksakan kehendakku sendiri dan menganggap cara Tuhan bukanlah yang terbaik buatku. 

Tapi, ternyata aku salah.

Hubungan dengan pacarku membuatku jauh dari Tuhan. Aku kehilangan fokus kepada panggilan Tuhan. Buku-buku yang Tuhan tanamkan dalam hatiku untuk kutulis jadi tertunda, dan aku tidak bisa memberi diri sepenuhnya untuk melayani dalam persekutuan di gereja. Dan karena Yesus tidak pernah menjadi pusat dalam hubunganku dengan pacarku, kami  pun tidak bertumbuh secara rohani.

Sejak itu, aku melihat Tuhan berkarya lebih banyak dalam hidupku daripada sebelumnya.

Tuhan membuka pintu bagiku untuk menjadi pemimpin di persekutuan para lajang di gerejaku (meskipun aku baru join persekutuan ini beberapa bulan saja). Aku juga diundang untuk berbicara, berbagi kesaksian, dan memimpin ibadah untuk acara Natal para lajang di gerejaku. Sungguh mengharukan melihat bagimana ceritaku berpengaruh pada orang-orang yang juga bergumul dalam hidupnya. Salah satunya lewat buku yang kutulis, yang berjudul Living Revelations. Beberapa orang memberiku tanggapan bahwa karyaku itu bermanfaat bagi mereka. 

Aku pun mengalami Efesus 3:30 menjadi nyata dalam hidupku: Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”Tuhan pasti memberiku lebih dari apa yang kubayangkan. Dia membuka lebih banyak pintu untuk pelayananku. 

Pengalaman ini membuatku sadar tentang kebenaran penting. Menyadari bahwa Tuhan itu baik menolong kita melangkah dalam ketaatan untuk melakukan panggilan kita.  Mazmur 18:30 mengingatkan kita, “Adapun Allah, jalannya sempurna.”

Seringkali kita melewatkan berkat Tuhan dengan menolak untuk menaati-Nya karena kita tidak percaya kalau jalan-Nya adalah sempurna. Aku perlu belajar bahwa meskipun jalan-Nya terlihat seperti bukan yang terbaik, tapi itulah yang terbaik buat kita. 

Pertemuan Simon Petrus dengan Yesus adalah contoh yang baik tentang pentingnya percaya pada panggilan Allah. Dalam Lukas 5, Yesus meminta Petrus untuk berlayar ke perairan yang dalam untuk menangkap ikan lagi, sedangkan Petrus baru saja menghabiskan sepanjang malam melaut tapi tidak ada ikan yang tertangkap.

Petrus pun menanggapi Yesus, Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Petrus sudah kelelahan, dan kita bisa melihat dari tanggapannya bahwa dia tidak merasa gagasan Yesus itu baik. Namun, walaupun dia ragu dan bimbang, dia tetap melakukannya.

Apa hasilnya? Berkat yang luar biasa.

Petrus dan rekan-rekan nelayannya menangkap begitu banyak ikan, sampai jala mereka pun mulai koyak (ayat 6). Lukas 5:8-9 mengatakan, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus… Dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap..” (titik beratku).

Petrus menyadari kebaikan Tuhan. Jika dia mengikuti perasaannya dan tidak mendengarkan Yesus, dia tidak akan pernah berada pada posisinya saat itu—di kaki Yesus, penuh kekaguman akan kuasa-Nya.

Mungkin kita seperti Simon Petrus. Tapi seperti pengalaman yang ditunjukkan Petrus, perasaan kita tidaklah selalu jadi cerminan kenyataan. Tuhan ingin memenuhi kita dengan kebaikan dan berkat-Nya, tapi itu dimulai dengan ketaatan kita.

Maukah kita menanggapi Yesus seperti Simon Petrus dan berkata, “Karena Engkau telah bilang begitu, maka aku akan melakukannya”

Jika kamu belum melihat tangan Tuhan berkarya dalam hidupmu, sekaranglah kesempatanmu untuk melihat kebaikan-Nya tercurah dalam hidupmu. Dan jika kamu telah melihat Tuhan berkarya dalam hidupmu, percayalah Dia akan melakukannya lagi dan lagi.

Hari ini, maukah kita mengikuti permintaan Yesus? Melakukan perintah-Nya dengan beriman, terlepas dari perasaan dan keraguan kita. Maukah kita menyadari kebenaran sederhana ini bahwa Tuhan selalu berlaku baik untuk kebaikan kita?

Kita tidak perlu takut dengan apa yang akan datang. Selama kita berjalan dengan Tuhan, kebaikan-Nya akan selalu menemani hidup kita. Mazmur 23:6 berkata, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”.

Tidak ada yang lebih baik daripada hidup di dalam kehendak Tuhan.

Demi Perubahan Hidup, Aku Berani Ambil Keputusan Besar

Oleh Sarah Callen
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How A Month With God Changed My Life

Beberapa bulan terakhir rasanya seperti penuh badai bagiku. Di bulan Agustus, aku merasa Tuhan memintaku untuk menjadikan bulan Septemberku sebagai momen Sabat–waktu khusus untuk berhenti dan beristirahat. Aku terpikir untuk berhenti kerja, berhenti menyusun planning, agar aku bisa meluangkan waktu berkualitas dengan Tuhan tanpa gangguan apa pun.

Di pekerjaanku, aku bisa bekerja sampai 14 jam sehari. Keputusan berhenti ini mengubah jam kerjaku menjadi 0 jam sehari. Buatku yang workaholic, perubahan drastis ini akan menyulitkan dan mengejutkanku. Aku terus meminta petunjuk supaya aku yakin, seperti ketika Allah meyakinkan Sarah.

Di dalam Alkitab, ada pola tentang bagaimana Tuhan memanggil orang-orang pilihan-Nya untuk “keluar” agar mereka fokus pada-Nya. Bangsa Israel berjalan di padang gurun selama 40 tahun, menjumpai Tuhan dan belajar menanggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa membahayakan mereka. Yesus pun secara teratur meluangkan waktunya dalam kesunyian dan berdoa bersama Bapa. Sepanjang waktu yang kutentukan sebagai Sabat, aku terpaku pada beberapa ayat di Yeremia 29, yang ditulis untuk umat Tuhan yang sedang ditawan.

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN” (Yeremia 29:12-14a)

Ungkapan “dengan segenap hati” itu selalu menyentakku setiap kali aku membacanya. Aku sungguh ahli jika mencari Tuhan dengan ‘sebagian’ hatiku, tetapi jika seluruhnya kuserahkan, itu jadi cerita yang berbeda. Aku tahu Tuhan memanggilku ‘keluar’ dari rutinitasku supaya aku bisa mencari Dia sepenuh hati, dan aku tahu aku harus membuat beberapa perubahan.

Memangkas Kebisingan

Salah satu perubahan yang kulakukan adalah: aku memutuskan berhenti jadi subscribers sejumlah podcast. Aku perlu mengendalikan suara-suara manakah yang kuizinkan masuk ke dalam pikiranku dan membentuk hidupku.

Selama bertahun-tahun, aku mendengar berbagai podcast soal politik dan aku sangat menikmatinya, tapi di sisi lain aku pun merasa muak. Seiring waktu, podcast yang awalnya seru dan mendidik berubah menjadi ajang saling menuding dan menjatuhkan pihak lain, sehingga jika kudengarkan lebih lanjut bisa berdampak negatif buatku.

Meskipun aku tahu podcast itu memberiku dampak negatif, berhenti jadi subscribersnya ternyata sulit. Sebagian diriku masih ingin terikat pada rutinitasku. Aku juga tidak ingin kehilangan suara-suara yang sudah akrab kudengar. Loyalitasku pada acara podcast ini mungkin jadi penyebab, tapi kusadari ada yang lebih dari itu:

Aku tidak ingin melepaskan sesuatu yang sudah kugenggam erat. Aku tidak ingin berkorban. Aku ingin lebih mengenal Tuhan lebih erat dan akrab, mendengar-Nya lebih jelas daripada sebelumnya. Tapi, aku tidak mau menciptakan ruang untuk mendengar suara-Nya. Aku ingin Dia bekerja, sedangkan aku cuma menerima.

Menjumpai yang Lebih Baik

Di bulan September, aku melakukan yang terbaik untuk bulan yang kuanggap Sabat. Aku belajar lebih bijak menggunakan uangku, tidak lagi boros untuk sekadar jajan. Aku memilih untuk percaya pada pemeliharaan-Nya daripada mengkhawatirkan diriku sendiri.

Kutunda dulu pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktuku supaya aku bisa bersandar pada firman-Nya. Aku belajar merasa cukup dengan kehadiran Tuhan saja, bukan semata mencari berkat-berkat-Nya. Aku harus menguji, apakah aku beriman dengan murni atau transaksional alias mengharapkan imbalan. Kusadari aku terlalu egois, yang kupikirkan cuma diriku sendiri.

Tuhan seperti memberiku cermin. Dia menunjukkanku area-area mana di hidupku di mana aku membiarkan rasa malu dan gila kerja menguasaiku, menaruh percayaku pada zona nyaman yang kubuat sendiri, yang kuyakini itulah yang berkenan buat Tuhan.

Sekarang, aku sadar bahwa tugasku adalah aku perlu percaya pada Tuhan melebihi aku percaya pada diriku sendiri. Aku memilih untuk berserah.

Bagi seorang workaholic yang terlalu berlebihan dalam bekerja, keputusan menikmati Sabat akhirnya menunjukkanku bahwa Tuhan jauh lebih hebat dari diriku sendiri. Segala upayaku dalam bekerja tidak memiliki makna jika aku tidak memiliki relasi dengan-Nya. Momen-momen ketika aku melepaskan diri dari apa yang menjeratku, jadi pembelajaran yang meneguhkanku bahwa identitasku datang dari apa yang Tuhan katakan tentangku, bukan dari apa yang aku lakukan. Tuhan telah menyingkap dan menyembuhkan bagian-bagian hatiku yang terluka, yang tidak percaya, yang keras. Aku telah mencari Dia, dan Dia pun selalu hadir.

Tuhan selalu bisa kita jumpai saat kita ingin berelasi dengan-Nya.

Apa yang Tuhan katakan padamu dalam situasimu yang sekarang? Apa yang telah Dia bisikkan ke hatimu? Aku berdoa agar kita bijak mengelola waktu kita, memangkas hal-hal apa yang membisingkan telinga dan hati kita, serta memberi ruang bagi-Nya untuk berbicara kepada kita.

Apa pun langkahmu selanjutnya, aku berdoa agar Dia memenuhimu dengan keteguhan hati dan kamu memutuskan untuk selalu mengikut dan taat pada rencana-Nya.

Kamu Gpp? 5 Alasan Kita Sulit Mengungkapkan Perasaan

Mana nih tim yang selalu bilang “Aku gapapa” (padahal gak baik-baik aja)?

Sobat Muda, kita boleh dan perlu terbuka tentang perasaan kita kepada orang yang kita percayai.

Artspace ini didesain oleh @verses_illustrated dan diterjemahkan dari @ymi_today

5 Tips Makin Intim Bersahabat dengan Tuhan

Oleh YMI

Kita tidak asing dengan konsep menjadikan Tuhan Yesus sebagai tempat bercerita tentang apa pun. Tapi, seberapa sering kita berpikir bagaimana kita bisa berteman dengan-Nya? Alih-alih menjalin relasi yang cuma satu arah, bagaimana caranya membangun relasi yang intim dengan Tuhan Yesus?

Semua hubungan membutuhkan kerjasama dua pihak, layaknya dibutuhkan dua tangan agar dapat bertepuk tangan. Ada beberapa tips yang dapat menolong kita belajar untuk semakin bertumbuh dan bersukacita di dalam-Nya

1. Undang Tuhan masuk dalam setiap aspek hidup kita

Yohanes 15:15 mengatakan bahwa sebagai pengikut Yesus, kita tidak lagi disebut-Nya hamba, tetapi sahabat, yang bersama kita, Dia berbagi segala sesuatu yang telah Dia “pelajari dari Bapa”. Inilah keakraban yang Yesus rindukan. Dia ingin kita masuk dalam “inner-circle”-Nya. Betapa indahnya menjadi sahabat Kristus dan melibatkan Dia dalam setiap proses pembuatan keputusan dan rencana kita.

Memandang Tuhan sebagai sahabat tidak berarti hanya datang kepada-Nya ketika kita dalam masalah atau ketika kita sedang menjalankan rencana kita (dan meminta-Nya memberkati kita). Mintalah nasihat-Nya, libatkan Dia dalam tiap aspek hidup kita, dan serahkan pada-Nya “seluruh jalan kita”. (Amsal 3:5-6), dengan begitu kita akan berjalan semakin dekat dengan-Nya melalui tiap musim kehidupan dan tetap berada di jalan kebenaran.

2. Ambil waktu untuk mengikuti dan mengenal-Nya

Seperti kita yang senang berbagi cerita tentang keseharian kita pada seorang teman, kita juga bisa melakukan hal yang sama dengan Tuhan. Kapan pun kita bersukacita sepanjang hari, melihat karya tangan-Nya dalam ciptaan atau dalam ayat Alkitab yang kita renungkan, atau menyaksikan rencana yang Dia rajut datang terwujud, bagikanlah momen-momen tersebut dengan Tuhan. Melakukan semua ini akan memperdalam sukacita kita, seiring kita juga melihat berkat-berkat yang Dia sediakan bagi kita.

Namun, selain menikmati pemberian baik yang Dia berikan kepada kita, mari kita juga berikan waktu dan upaya untuk sungguh-sungguh mengenal Sang Pemberi, dengan menggemakan keinginan yang sama yang diungkapkan Musa dalam Keluaran 33:13 : “Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu…”

Mari minta Tuhan memberi tahu kita jalan-Nya agar kita dapat mengenal-Nya dan terus mendapatkan kasih karunia-Nya. Dan saat Dia melakukannya, mari kita simpan Firman-Nya dalam hati kita, dan biarkan firman-Nya mengarahkan jalan dan tindakan kita. Semakin banyak kita menghabiskan waktu bersama-Nya, semakin persahabatan dengan-Nya menggembirakan hati kita (Mazmur 37:4).

3. Ingatlah betapa Dia berbelas kasih kepada kita

Apa yang kamu lakukan ketika seorang teman baik mengecewakanmu atau membuat keputusan yang tidak kamu mengerti sama sekali?

Ada momen ketika kita kecewa pada Tuhan, ketika kita bimbang dan kita rasa Dia hanya diam saja. Atau, ketika kita bingung akan alasan mengapa Tuhan melakukan semua ini. Apakah kita memilih untuk meninggalkan-Nya atau memilih untuk tetap percaya?

Di masa-masa sulit, penting untuk mengingat dengan siapa kita membangun relasi sejak awal. Yesus adalah imam besar kita yang dicobai dalam segala hal sama seperti kita, dan Dia mampu berbelas kasih pada kelemahan kita, serta menunjukkan kepada kita jalan yang lebih baik ke depannya (Ibrani 4:15).

Saat kita berjalan bersama-Nya melalui pencobaan, penderitaan, dan rintangan dalam hidup ini, kita belajar bahwa hanya Dia satu-satu-Nya pribadi yang dapat kita percaya.

4. Terimalah rencana-Nya dengan rela dan terbuka

Pernahkah kamu cuma membaca chat dari temanmu karena menurutmu kata-katanya membuat perasaanmu hancur dan terluka? Kata-kata itu jadi begitu perih ketika kamu sedang mengalami ketidakadilan dan bergumul dengan masalah-masalahmu. Kadang, tanpa kita sadari kita pun suka ‘mengabaikan’ Tuhan seperti kita mengabaikan chat teman kita. Kita menganggap sabda-Nya itu terlalu keras dan kita lantas menyembunyikan luka dan dosa kita dari-Nya.

Teman sejati tetap bersama, bahkan saat kita sendiri merasa tidak layak dikasihi. Teman sejati ingin agar kita mampu melepaskan diri dari hal-hal yang membebani kita dan kita dapat berjalan dalam kebebasan (Ibrani 12:1).

Janganlah mengeraskan hati kita terhadap suara-Nya (Ibrani 3:12-14) atau mengabaikan Dia ketika kita merasa bahwa apa yang Dia minta dari kita terlalu sulit. Memahami isi hati Allah bagi kita—bahwa Dia ingin menyelamatkan kita dari cara-cara kita yang merusak diri sendiri—menolong kita melihat kebaikan yang menuntun pada pertobatan (Roma 2:4).

5. Bergabung dalam misi-Nya

Banyak dari kita yang berjuang menghidupi kata-kata Yesus dari Yohanes 15:14, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”, karena kita tahu Dia memanggil kita untuk ketaatan yang tidak terikat pada kenyamanan atau kesenangan, tetapi untuk relasi yang terikat perjanjian dengan-Nya (Mazmur 25:14).

Tetapi, bagaimana jika kita melihat ketaatan dan persahabatan ini sebagai hak istimewa—jalan bagi kita untuk memahami hati dan rencana Allah bagi kita (Yohanes 15:15)? Sama seperti menghabiskan waktu bersama seorang teman dengan melakukan kegiatan yang kamu sukai yang membawa sukacita dalam persahabatan, tidak ada cara yang lebih baik untuk menumbuhkan sukacita yang lebih dalam dari persahabatan kita dengan Tuhan selain berjalan bersama-Nya, bermitra dengan-Nya, dan menjalankan misi bersama-Nya.

Misi Yesus jelas: untuk menarik semua orang kepada terang Allah yang luar biasa dan mendamaikan kita dengan Bapa (2 Korintus 5:18-20). Menjadi bagian dari misi-Nya (Matius 25:40) bisa berarti melakukan hal-hal yang membuat kita tidak nyaman: seperti berteman dengan orang-orang yang paling dekat di hat Tuhan—yang patah hati (Mazmur 38:14), berbagi apa yang kita miliki dengan orang lemah (Amsal 19:17), atau membela mereka yang tertindas (Amsal 31:8-9).

Melakukan semua hal di atas membuat kita paham besarnya kasih karunia-Nya terhadap kita, juga mengingatkan kita betapa kudusnya Dia, betapa berdosa dan tak berdayanya kita, dan betapa hebatnya Raja segala raja yang mengulurkan kasih dan persahabatan-Nya kepada kitia. Dan saat kita membawa harapan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang putus asa, harapan itu dapat menyalakan hati yang bersyukur atas kasih dan kemurahan-Nya.

Ketika kita melihat kasih Tuhan untuk kita di Alkitab dan melihat Dia sebagai sahabat, cara kita berhubungan dengan-Nya akan berubah—Dia akan menjadi seseorang yang kita kasihi, dan pribadi yang kita inginkan untuk berbagi berbagai pikiran dan rencana kita.

Belajar Mempercayai Tuhan Lebih Daripada Aku Mempercayai Nilai Tabunganku

Oleh Mikaila Bisson
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Trust God with Your Finance

Sepanjang hidupku, aku sudah dilatih untuk mengelola uang dengan baik. Saat sekolah, orang tuaku memulainya dengan membuatkanku rekening bank, dan setiap uang yang kuperoleh dari pekerjaan sambilan akan langsung masuk ke sana.

“Kamu menabung untuk keadaan darurat,” kata mereka—yang tentu saja tidak masuk akal bagiku saat itu. Namun, sekarang ceritanya telah berbeda.

Beberapa bulan lalu, pergelangan kakiku patah saat bermain outdoor game bersama teman-temanku. Akibatnya, aku harus dioperasi dan proses pemulihan yang cukup panjang harus kujalani. Kecelakaan itu tidak pernah kurencanakan, tapi ketika itu terjadi aku harus mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Barulah sekarang aku paham mengapa menabung untuk dana darurat itu penting. Ketika aku belajar mempercayakan keuanganku kepada Tuhan, rasanya cara pandangku tentang keuangan berubah menjadi lebih baik karena aku melihatnya dari tempat yang tepat.

Dalam Amsal 3:5, kita diperintahkan untuk, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Mempercayai itu sulit, terutama untuk sesuatu yang begitu nyata dan penting seperti uang. Bagaimana kita bisa mempercayakan cicilan rumah, mobil, dan kesehatan kita kepada seseorang yang tidak dapat kita lihat? Bagaimana bisa, jika kita seorang Kristen, mempercayakan keuangan kita pada Tuhan, tapi tetap menabung dan menyiapkan uang untuk hal-hal tak terduga?

Ketika aku harus membayar biaya pengobatan dari kecelakaan yang tak kurencanakan, aku takut dan sedih. Namun, barulah ketika aku pelan-pelan mencerna semua perasaan itu, aku jadi lebih memahami apa artinya mempercayakan keuanganku kepada Tuhan.

Meskipun Alkitab tidak memberikan pedoman khusus tentang bagaimana menyusun anggaran bulanan atau portofolio keuangan kita, Alkitab memberikan bimbingan pada bagaimana kita harus bersikap terhadap uang, terkhusus pada perasaan takut akan kehilangannya.

Mempercayai Tuhan dengan keuangan kita seperti… percaya Dia menyediakan untuk kita–tak melulu uang.

Reaksi pertamaku ketika melihat tagihan tak terduga adalah takut. Lupakan fakta bahwa aku baru sembuh dari patah tulang, aku menangis karena tagihannya mahal. Asuransiku tidak sepenuhnya meng-cover tagihan, dan aku khawatir aku tidak akan pernah mendapatkan kembali tabungan yang telah kukumpulkan dengan susah payah.

Namun, Yesus berkata dalam Matius 6:25-26,

“… Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.”

Burung-burung pun Tuhan pelihara, tentulah Dia juga memelihara kita.

Tuhanlah yang memampukanku mengumpulkan tabungan untuk kecelakaan ini—bahkan ketika aku kesulitan meraihnya di masa itu. Tuhan juga merawatku dengan cara lain. Dia membantuku menemukan konselor di kotaku yang baru beberapa minggu sebelum aku putus dengan pacarku, memberiku para sahabat yang menolongku melewati masa-masa sulit, dan segala sesuatu lainnya.

Saat aku belajar mengenal karakter-Nya, Tuhan juga menunjukkanku cara pemeliharaan-Nya. Semua ini menunjukkanku bahwa Tuhan menginginkan yang terbaik bagiku dan rencana-Nya lebih besar daripada yang kutahu. Tuhan menunjukkan kesetiaan-Nya terus-menerus. Ketika iman percayaku memudar pada masa-masa tertentu, mengingat bagaimana Dia memeliharaku menolongku untuk tetap kuat. Dia memegang kendali dan selalu layak dipercaya.

Mempercayakan keuangan kita kepada Tuhan ibarat… menemukan sukacita di tengah kekhawatiran

Namun sesungguhnya, aku masih khawatir meskipun aku tahu Tuhan telah menjanjikan bahwa Dia pasti memelihara. Aku tetaplah manusia. Ketakutanku terkadang begitu melemahkan, sehingga aku harus mencari pertolongan pada konselorku, teman yang kupercaya, atau orang tuaku. Sementara itu, berkali-kali aku menangis karena takut akan masa depan, aku juga menangis meratap.

Aku selalu diberitahu bahwa tidak apa-apa berduka atas kehilangan, dan bagiku, kehilangan tabungan adalah kerugian yang sangat besar. Tapi Yesus berkata dalam Mazmur 34:18, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Sementara aku berduka karena kehilangan tabunganku, Tuhan dekat denganku.

Dia bekerja untuk menunjukkanku seluruh hal-hal berbeda yang dapat membawa sukacita padaku: keluarga yang akan merawatku saat aku membutuhkan mereka, seorang dokter yang membuat jadwal operasiku lebih cepat dari yang diharapkan, dan tubuh sehat yang memungkinkanku pulih dengan cepat.

Tabunganku memang penting bagiku, tapi yang lebih penting adalah cara Tuhan yang sederhana namun sangat penting bekerja untuk kebaikanku—dan membantuku menemukan sukacita!—tepat di depan mataku.

Seiring aku terus berupaya memperbaiki kondisi keuanganku, mempercayai Tuhan masihla menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika aku memahami dan mengenali sumber perasaan takutku dan bagaimana Alkitab menolongku memprosesnya, kekhawatiranku akan kehilangan uang pun memudar.

Ketika dulu aku mengandalkan diriku sendiri supaya hidup berkecukupan, sekarang aku telah meraih pandangan baru yang memampukanku untuk lebih mempercayai pemeliharaan Tuhan buatku, meskipun cara-Nya tidak selalu seperti yang kuharapkan.

Aku Ditipu dan Kehilangan Uang, Tapi Tuhan Pelihara

Oleh Sheena
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Lost A Huge Sum Of Money, But God Looked After Me

Di awal 2021, aku harus keluar kerja di tengah pandemi karena papaku memintaku pulang untuk menolongnya mengurus masalah keluarga. Padahal saat itu aku sudah bekerja selama lima tahun dan baru saja naik jabatan dan mendapat kenaikan gaji.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku bisa mendapatkan pekerjaan baru dan kapan bisa kembali ke kota perantauanku, belum lagi ditambah bagaimana aku harus membayar semua tagihan. Namun, di titik itu aku harus memilih antara karier atau papaku. Meskipun berat, aku memutuskan untuk menaati papaku dan pulang ke kampung halaman.

Bulan-bulan setelahnya, masalah keluarga mulai terurai dan aku punya waktu untukku sendiri. Barulah aku mulai mencari-cari kerja secara online. Aku ingin pekerjaan yang menjanjikan dari segi gaji, tapi juga bisa dilakukan dari rumah supaya aku bisa menemani papaku. Jadi, ketika ada satu lowongan yang tugasnya adalah meningkatkan penjualan untuk sebuah lapak digital, aku pun berniat melamar ke situ. Tapi, sebelum mengirim semua berkasku, aku mencari tahu dulu tentang perusahaan ini. Semuanya tampak meyakinkan.

Namun… rupanya itu perusahaan bodong yang tujuan utamanya adalah menipu. Bukannya mendapat kerja, aku malah kehilangan uang dalam jumlah besar yang akhirnya membuatku berutang kepada teman-teman dekatku. Aku pun perlu menjelaskan kondisiku ini kepada mereka satu per satu.

Kesialan ini turut mengguncang relasiku dengan pacarku. Dialah yang pertama kali menolongku meminjamkan uang. Dia percaya aku bisa meraih kembali uangku yang hilang. Kami memang berusaha apa yang kami bisa–melapor ke polisi dan menceritakan semua detail kejadiannya. Bersyukurnya, meskipun aku merasa bersalah pada pacarku, kami mampu mendiskusikannya dengan kepala dingin dan menyerahkan prosesnya kepada Tuhan karena segala yang kami bisa telah kami lakukan.

Sembari proses penyelidikan berjalan, aku terjebak dalam depresi. Aku rasa aku bisa mengampuni semua orang yang terlibat dalam kejadian penipuan ini—para penipu, teman-teman yang menghilang saat aku susah, pembimbing rohaniku yang lebih peduli akan pacarku—tapi aku tak bisa mengampuni diriku sendiri.

Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi otakku—”Gak bakal ada orang yang mengasihiku lagi”; “Aku lebih baik mati bunuh diri supaya orang-orang di sekitarku bahagia”; “Aku gak berharga”. Aku tahu semua pikiran negatif ini tidak menolong, tapi aku tak tahu bagaimana menyingkirkannya.

Beberapa minggu sebelum retret gereja, aku meminta bantuan kepada gerejaku untuk menolongku mengatasi rasa depresiku. Sepuluh tahun lalu aku pernah mengikuti konseling untuk masalah lain, dan sekarang pun kutahu aku tak bisa menuntaskan masalahku sendirian. Semua kejadian getir ini mempengaruhi tak cuma diriku sendiri, tapi juga relasiku dan juga kinerjaku sebagai panitia dalam acara retret.

Dengan pertolongan konselor, aku mengenali pikiran-pikiran negatif ini datangnya dari Iblis, bapa segala dusta (Yohanes 8:44). Semua pikiran negatif membentuk “benteng” dalam pikiranku yang menghalangiku dari meraih pengampunan Allah. Aku harus merobohkan benteng itu dengan “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Artinya, aku belajar untuk menjadikan firman dan janji-Nya untuk melawan semua pikiran negatif. Ketika aku merasa khawatir atau tidak layak, Dia mengingatkanku bahwa Dia memegang tanganku, serta menolongku (Yesaya 41:13). Allah mengasihiku dan dengan setia berada di dekatku (Mazmur 117:2). Dia melihat pergumulanku, merasakannya, dan tetap menopangku (Mazmur 55:22).

Di akhir sesi konseling, aku mengikuti doa yang diucapkan konselorku untuk mengampuni diriku sendiri.

Perjalanan pemulihan ini berlanjut. Di sesi retret, aku diingatkan lagi bahwa aku tak dilupakan dan Allah besertaku apa pun situasiku. Saat aku membuka telingaku untuk mendengar-Nya, Dia membuka tangannya untuk memelukku kembali.

Suatu ketika, aku melewati toko bunga dan dalam pikiranku muncul gambar akan sebuah bunga yang ditutupi oleh semacam kubah. Gambaran itu mengingatkanku akan bagaimana Tuhan melindungiku melalui kasus penipuan ini. Tuhan mengirim teman-temanku untuk mengingatkanku, dan ketika yang terburuk terjadi, Dia memastikan aku tetap bisa keluar dari jeratan dosa itu.

Tuhan mengizinkanku untuk melihat bahwa uang bukanlah segalanya, bahkan ketika Dia menyediakanku uang yang cukup untuk membayar semua utangku dalam dua tahun.

Tuhan memberiku pemahaman baru akan ayat yang sudah sering kita baca, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).

Dulu aku berpikir bahwa rencana yang Tuhan sudah siapkan buatku itu pasti termasuk karier dan arahan hidup, tapi sekarang Tuhan menunjukkanku bahwa “rancangan damai sejahtera” tidak berarti hidup berkelebihan dalam uang, tapi Dia akan memenuhi kita secara rohani dengan menarik kita mendekat pada-Nya supaya kita dapat sepenuhnya bergantung pada-Nya.

Meskipun aku berada dalam terowongan gelap, Dia ada di sana. Dia menggunakan momen-momen kegelapan untuk menenangkan dan menunjukkanku akan kesetiaan-Nya setiap waktu, meskipun hidupku terasa sangat kacau.

Hari ini aku dapat bersaksi akan kebaikan dan kasih-Nya buatku. Dia telah membuka pintu untukku kembali pada kota perantauanku dan memberiku pekerjaan yang memberiku lebih daripada apa yang kubutuhkan. Sekarang aku bisa menabung uang yang cukup supaya aku bisa melunasi semua utangku dalam dua tahun ke depan.

Kasih dan rezeki dari Tuhan datang padaku dalam berbagai cara:

  • Seorang temanku menolongku dari waktu ke waktu dengan memberiku pinjaman. Aku dapat melunasinya dalam lima tahun. Teman yang lain membelikanku makanan dan memberiku barang-barang yang menolongku untuk melewati masa-masa sulit.
  • Orang tuaku ikut menolong dengan cara-cara sederhana. Mereka memberiku hal-hal kecil meskipun aku tidak memintanya.
  • Pacarku tetap bersamaku meskipun kesalahan besar telah kubuat. Dia telah melamarku dan kami sedang mempersiapkan pernikahan kami.

Seiring aku menjumpai Tuhan dan meluangkan waktuku bersama-Nya, mengizinkan Dia untuk menunjukkan kebenaran kasih dan anugerah-Nya, aku telah belajar untuk lebih mendengar suara-Nya daripada suaraku sendiri atau bahkan suara Iblis.

Jika kamu saat ini sedang berada di dalam lembah kekelaman dan merasa tak ada seorang pun di sisimu, ketahuilah kamu tidak sendirian. Tuhan ada bersamamu, memedulikanmu. Kamu mungkin merasa tak berharga, tapi Dia mengatakan kamu berharga. Kamu merasa tak seorang pun mengertimu, tapi Dia mengerti.

Tuhan selalu menantimu untuk kembali pada-Nya tak peduli seberapa jauh kamu berlari. Raihlah kelegaan sejati dengan kembali berpaling pada-Nya.

Menjadi Produktif Tidak Berarti Mengabaikan Waktu-waktu Beristirahat

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Rest Without Feeling Guilty

Teman-temanku mengenalku sebagai seorang yang sangat produktif. Aku tumbuh besar di keluarga yang selalu mengingatkan anggotanya untuk “jangan cuma diam saja.” Alhasil, beristirahat menjadi aktivitas yang tak kusuka karena kuanggap sebagai “nggak ngapa-ngapain”. Dalam kamus hidupku, setiap hari pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan.

Terlepas dari budaya keluarga yang menghargai produktivitas setiap waktu, hal lain yang membuatku enggan menikmati momen-momen jeda atau istirahat adalah media sosial. Kita melihat teman kita memposting hobi atau prestasi (naik jabatan, menikah, punya anak), dan kita lantas membandingkan diri kita dengan mereka. Sebelum kita sadar, kita sudah terjebak dalam perangkap membanding-bandingkan.

Kita juga sulit mengendalikan diri kita sendiri. Kita merasa lebih berpengalaman dan bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik. Akhirnya, alih-alih mendelegasikan tanggung jawab ke orang lain, kita malah menanggungnya sendirian.

Ketika hari yang kita jalani terasa kurang produktif menurut pandangan kita, kita pun merasa bersalah dan berpikir: “harusnya aku bisa melakukan lebih”, “duh, aku gak fokus lagi”. Belum cukup sampai di situ, kita lalu khawatir akan hari esok: “Mending aku kelarin semua sekarang, atau besok malah numpuk.” Jadi, bagaimana kita bisa menikmati momen istirahat yang tenang tanpa khawatir?

Allah menghendaki kita untuk beristirahat, dan pemahaman ini membawaku merenung tentang Yesus, tentang bagaimana Dia menjalani hidup-Nya semasa di bumi. Juruselamat kita tahu batasan-batasan dalam tubuh manusia. Dia berfokus pada misi-Nya, tapi Dia tahu Siapa yang sungguh memegang kendali. Itulah mengapa Yesus mengerti bagaimana cara beristirahat.

Inilah 3 poin yang kupelajari:

1. Fokuslah pada misi utama hidup dan karuniamu supaya kamu tidak mengiyakan segala sesuatu

Ketika Yesus melayani di bumi, Dia tidak memaksa diri-Nya untuk menyembuhkan semua orang sakit dan memberitakan Injil ke semua orang yang ada di wilayah-Nya. Yang Yesus lakukan adalah memperlengkapi para murid dan menunjukkan tanda-tanda mukjizat untuk menegaskan kebenaran Injil. Yesus tahu bagaimana membangun batasan dan mempercayakan Allah untuk meneruskan misi-Nya melalui para murid yang dimampukan oleh Roh Kudus (Kis 1:8).

Belajar dari teladan Yesus untuk menemukan apa misi Tuhan buat hidupku telah membebaskanku dari godaan untuk melakukan segala sesuatu sendirian.

Belakangan ini aku mengenali karunia rohani dan panggilan hidupku melalui sebuah kelas pelatihan yang kuambil (tentang The Significant Woman). Karuniaku adalah memberi dorongan semangat, mentoring, mengajar, dan menulis. Semua ini menolongku untuk sadar bahwa misi utamaku adalah untuk membimbing orang-orang dewasa muda dan menolong mereka menemukan tujuan hidup dalam Kristus.

Ketika misi utama itu tampak jelas bagiku, aku mulai berfokus dalam menulis dan mentoring. Hal-hal lain yang tak selaras dapat kukesampingkan lebih dulu. Saat aku mengerti bagaimana Tuhan membentukku untuk melayani-Nya, aku bisa dengan yakin berkata “tidak” tanpa merasa bersalah pada hal-hal yang memang tak bisa kulakukan. Hasilnya, aku punya waktu-waktu berharga untuk mengerjakan tugas kerajaan-Nya dan menikmati waktu istirahatku.

Kalau kamu belum menemukan apa yang jadi karunia rohani dan misi hidupmu, aku sangat mendorongmu untuk mencarinya dengan bimbingan seorang mentor atau kelompok komselmu.

2. Temukan aktivitas yang menolongmu recharge secara rohani dan fisik

Yesus tahu cara terbaik untuk menghindari rasa kewalahan dan beristirahat dengan benar. Caranya adalah dengan terhubung dan berserah kepada Allah secara teratur (Lukas 5:16). Yesus secara intensional mencari tempat-tempat tenang untuk berdoa dan meluangkan waktu dengan Bapa Surgawi. Dia juga mendorong para murid untuk melakukan yang sama (Markus 6:31).

Aku merasa recharge ketika aku merenungkan kebaikan Tuhan dan melihat ciptaan-Nya dari dekat. Aku suka bertemu para sahabat dan mengobrol deep-talk, berdoa bersama sebelum makan, jalan-jalan di alam, mempelajari lagu baru, atau menulis puisi tentang ciptaan-Nya. Sebagai seorang yang melakukan perencanaan, aku menjadwalkan waktu-waktu itu semua di kalenderku. Kalau tidak terjadwal, maka tidak akan kesampaian.

Beristirahat tidak selalu tentang tidak melakukan apa pun. Beristirahat bisa berupa memprioritaskan apa yang akan menolongmu untuk memulihkan kembali jiwa dan ragamu.

3. Ganti kritik atas dirimu sendiri dengan menerima karya-Nya di kayu salib

Dalam tahun-tahunku tumbuh besar, aku suka mengkritik. Aku menaruh ekspektasi tinggi buat diriku sendiri karena aku memegang prinsip “selalu ada ruang untuk meningkatkan kualitas diri” dan aku bisa melakukan yang lebih baik. Pelatih basketku juga pernah bilang, kalau aku tidak kerja keras hari ini, maka orang lainlah yang akan mendapat kesempatan.

Tanpa kusadari, pemikiran ini kuterapkan dalam caraku beriman. Aku melihat diriku dan orang lain sebagai sosok yang kurang berharga di mata Tuhan, dan Tuhan menjadi sosok yang susah disenangkan.

Barulah saat aku ikut konferensi Father Heart, cara pandangku berubah dan aku mengerti apa artinya menjadi anak Allah (Yohanes 1:12; 1 Yohanes 3:1). Allah bergirang karena aku (Zefanya 3:17), Dia menyediakan apa yang tak pernah kupikirkan (1 Korintus 2:9). Semuanya diberikan karena karya Kristus di kayu salib.

Kita cenderung mengukur diri kita dengan standar orang lain atau standar kita sendiri yang kita tetapkan lebih tinggi, lalu merasa bersalah ketika kita tidak sanggup mencapainya.

Untuk menjaga hati kita dari jebakan membanding-bandingkan diri yang tiada akhirnya, kita harus ingat bahwa yang paling penting dalam sejarah telah dituntaskan-Nya (Yohanes 19:30, Ibrani 9:12). Kita tidak perlu membuktikan diri berharga melalui kerja keras kita karena Allah telah membuat kita berharga lebih dulu (Roma 8:28-39). Kita dapat bersandar pada pekerjaan-Nya yang telah tuntas dan melayani dalam kasih setia-Nya yang berlimpah.

Artinya, kita dapat berdoa memohon hikmat untuk mengetahui kapan harus bersusah payah dan menuntaskan pekerjaan dan kapan harus membangun batasan serta mempercayakan pada Allah pekerjaan-pekerjaan kita yang belum dapat kita selesaikan. Dalam kedua situasi itu, kita mengakui Yesus adalah Tuan (Kolose 3:23) sehingga apa pun yang kita lakukan bukanlah supaya kita diterima atau menyenangkan orang lain, tapi sebagai persembahan bagi Tuan yang kita layani.

Teruntuk saudara dan saudariku, kalau kamu hari ini ingin beristirahat tapi dilanda rasa bersalah, kuingatkan kamu akan janji dari Yesaya 26:3, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya”.Fokuskan pikiranmu pada Tuhan hari ini, percaya sepenuhnya, supaya kamu mengalami damai dan momen istirahat yang sejati ketika kamu tahu bahwa Dia sungguh peduli.

Kamu Gak Perlu Takut dengan Panggilan Tuhan

Apakah aku mampu menjawab panggilan Tuhan?

Jika panggilan Tuhan buatmu terasa tak masuk akal, tak menyenangkan, atau sungguhlah sulit—kuatkanlah hatimu!

Panggilan-Nya tak selalu tentang kita, tetapi itu adalah undangan untuk kita semakin mengenal-Nya. Tuhan sendirilah yang akan mencukupkanmu untuk melaluinya.

Maukah kamu percaya dan taat?

Artspace ini dibuat oleh @by.abigailsetiadi dan diterjemahkan dari @ymi_today

Tips Membawa Kembali SUKACITA di Rutinitas Sehari-hari

Kita sering berpikir kalau hidup yang bahagia itu selalu dipenuhi aktivitas yang asyik sepanjang waktu. Di media sosial kita melihat seseorang bersenang-senang dengan pasangannya, punya kantor yang asyik, atau jalan-jalan di kala senja bersama anjing kesayangan.

Kita memang tahu kalau media sosial tidak murni mencerminkan kenyataan, tapi tetap saja kita merasa minder dan membanding-bandingkan diri kita.

Ketika hidup tidak melulu menyajikan momen bahagia, ada hal-hal yang perlu kita tanamkan di pikiran supaya hidup kita lebih dipenuhi sukacita.

1. Ketahuilah bahwa sukacita itu lebih dari sekadar perasaan senang

Sukacita itu bukan cuma tentang momen penuh euforia, atau sesuatu yang baru atau senang sepanjang waktu. Bukan pula tentang berpura-pura bahagia padahal kamu sendiri sedang sedih.

Pemazmur menulis bahwa sukacita ditemukan dalam kehadiran Allah, dan di tangan kanan-Nya ada nikmat senantiasa (Mazmur 16:11). Jadi, ketika kita sungguh memikirkannya, sukacita ditemukan hanya dalam Allah. Kita ada di dalam-Nya dan diselamatkan dalam Yesus, tak ada yang dapat mengubah fakta itu. Inilah sukacita yang sejati ketika kita tahu apa yang jadi kebenarannya, sukacita yang tak ditentukan oleh kerapuhan atau kekecewaan.

Ketika kita dapat benar-benar memahami bagaimana sukacita datang dari Tuhan, maka perasaan kita tidak perlu menghalangi kita untuk mengetahui sukacita sejati.

2. Izinkanlah dirimu merasa bosan sesekali—itu bukanlah hal yang selalu buruk

Kadang hari-hari yang kita lalui terasa monoton, dan kita berpikir, “Oh, gak bener ini. Pasti ada yang salah di hidupku”. Kebanyakan dari kita ketika tiba di masa-masa jenuh, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Kejenuhan bisa jadi kesempatan untuk beristirahat dan mengenali hal-hal kecil di sekitar kita–bunga yang mekar di taman belakang rumah, sekelompok bebek yang berenang di kolam, atau memandang takjub pada indahnya langit malam.

Di lain waktu, kejenuhan juga bisa jadi semacam kompas yang mengarahkan kita pada arti dan tujuan, serta mengingatkan kita untuk memikirkan ulang hal-hal yang telah (atau tidak) kita lakukan.

Tapi waspadalah, kejenuhan bisa juga menjebak kita untuk berlama-lama nonton Netflix atau sekadar bermain medsos. Mintalah Tuhan untuk menolong kita berproses dan menyelidiki kejenuhan ini. Apakah kita kurang bersyukur, atau ini kesempatan buat berkembang?

3. Coba sesuatu yang baru atau berbeda

Selain kerja, makan, dan tidur yang terus berulang kita bisa menjadikan hari-hari kita lebih berwarna dengan melakukan hal baru. Misalnya: kita ikut kelas mengajar, mengajak teman atau tetangga pergi makan, atau kalau kamu menikmati waktu-waktu sendiri, kamu bisa makan malam sendirian di restoran yang enak.

Mendorong diri kita untuk keluar dari zona nyaman dapat menolong kita memiliki perspektif yang lebih luas dan menyadari kalau ada banyak sekali hal yang bisa kita jelajahi. Kita bisa berinteraksi dengan orang dengan berbagai ide, melihat bagaimana mereka menghidupi hidup, dan mengembangkan skill baru.

Yang paling penting, kita tahu bahwa Tuhan ingin kita bertumbuh dan dewasa dalam karakter dan iman. Pertumbuhan itu baru bisa terjadi jika kita tidak anti dengan perubahan.

4. Bangun relasi yang berarti, yang gak cuma sekadar di media sosial

Kita sering terjebak dalam pekerjaan dan rutinitas yang lama-lama membuat kita lupa akan betapa berharganya relasi dengan teman dan keluarga.

Kita bisa mulai membangun kembali relasi dengan teman-teman lama, tapi ini bukan berarti kita tiba-tiba mengirimi chat ke semua kontak kita. Pilih dengan cermat siapa teman yang ingin kita jumpai dan kenal lebih dalam lagi. Kita bisa mengobrol lewat chat, lalu merencanakan agenda bertemu bersama entah untuk olahraga, atau makan bareng.

Pertemanan yang awet tidak dibangun hanya dengan chat yang panjang, jadi pastikan kamu tetap berinteraksi setelah chat kalian usai. Ayo bangun relasi yang berarti yang menguatkan satu sama lain (1 Tesalonika 5:11).

5. Pikirkanlah segala kebaikan yang Tuhan telah lakukan buatmu

Mungkin sekarang kita tidak sedang bersukacita. Kita lelah, khawatir, dan merasa sangat sulit untuk tersenyum lagi. Tuhan pun serasa jauh untuk menyelamatkan kita.

Namun, satu cara yang bisa menolong membawa sukacita kita kembali adalah dengan mengingat seberapa jauh Tuhan telah membawa kita. Jika kita merenungkan bagaimana Tuhan menolong kita saat kita putus dari pacar, gagal di ujian, dan sebagainya, kita mengingat kembali bahwa Dia selalu beserta kita dalam masa-masa yang tak pasti.

Mengingat akan kesetiaan-Nya akan membawa kita pada rasa syukur, yang datang berdampingan dengan sukacita (Mazmur 95:1-2, 1 Tesalonika 5:18). Allah yang dahulu menolong kita adalah Allah yang sama, yang hadir beserta kita.

Terakhir, sukacita sejati hanya ditemukan dalam Tuhan yang memenuhi kita lebih dari kelimpahan gandum dan anggur (Mazmur 4:7).

Adalah baik untuk selalu menantang diri kita bertumbuh. Temukan hobi baru, tumbuhkan relasi yang lebih erat dengan temanmu, atau sesekali belajarlah menerima rasa bosan dan jenuh agar kita mengingat lagi bahwa janji Yesus itu nyata. Sukacita sejati hadir ketika kita hidup selaras dalam kasih-Nya (Yohanes 15:10-11).