Posts

Menemukan Kepuasan di Tengah Rutinitas Sehari-hari

Oleh Matthew Geddes
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Finding Fulfillment In The Daily Grind

Setelah beberapa malam kurang tidur, aku kembali ke depan komputerku dan menyiapkan hariku. Aku duduk di lantai dasar. Gelap dan dingin. Aku merasa lelah. Kupikir aku butuh satu atau dua cangkir kopi.

Di momen itu, aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah hidup cuma begini-begini saja?” Aku berharap aku ada di luar ruangan, diterpa sinar matahari yang hangat di salah satu tempat favoritku: di pegunungan, dikelilingi oleh keindahan ciptaan-Nya. Ayat Alkitab yang sering kudengar di banyak khotbah, seperti “mengucap syukurlah dalam segala hal” (1 Tesalonika 5:18) terasa jauh dan samar, ibarat musim panas yang kehadirannya masih sangat lama di tengah musim dingin.

Lalu aku melanjutkan aktivitas dengan Zoom-meeting bersama teman-teman kerjaku. Satu temanku sedang marah dengan komputernya yang jadi musuh bebuyutannya. Temanku yang kedua sedang frustasi dengan platform hosting untuk acara virtual kami. Temanku yang ketiga hanya diam. Dia sedang dirumahkan sementara dari pekerjaannya dan sangat bergumul.

Seiring aku melihat pergumulan pelik dari masing-masing temanku, aku jadi terbangun. Aku bisa melanjutkan hariku dengan setengah mengantuk, memfokuskan diri pada apa yang aku ingini, dan mungkin tak akan ada yang tahu perbedaannya kecuali Tuhan. Atau, daripada aku berandai-andai sedang berada di mana, aku bisa sungguh hadir di meja kerjaku dan memuliakan Tuhan dengan sepenuh hati bekerja untuk-Nya (Kolose 3:23).

Aku teringat sebuah penelitian yang digagas oleh Amy Wrzeniewski di sebuah rumah sakit. Dia mengidentifikasi beberapa pekerja harian (seperti petugas kebersihan, dsb) yang bekerja melampaui tugas-tugas rutin mereka. Satu pekerja yang bekerja di unit pasien yang mengalami koma, secara rutin mengganti hiasan seni di dinding supaya pemandangan yang berbeda tersebut merangsang perkembangan otak si pasien. Pekerja yang lain akan menemui dan membimbing keluarga pasien dari pintu masuk rumah sakit sampai ke ruangan pasien dirawat. Tidak seperti pekerja harian lainnya, para pekerja ini melihat diri mereka sebagai bagian integral dari tim medis yang berkontribusi untuk menyembuhkan dan memulihkan para pasien.

Apa yang bisa kita pelajari dari para pekerja rumah sakit ini? Mereka melihat melampaui batasan-batasan rutinitas harian, yang banyak orang mungkin melihat pekerjaan mereka sebagai pekerjaan yang kasar atau remeh. Namun, mereka mampu mengkoneksikan pekerjaan remeh tersebut dengan sesuatu yang jauh lebih besar—mereka punya tujuan yang menggerakkan apa yang mereka lakukan.

Bagaimana kita dapat mengaplikasikan pola pikir ini ke dalam pekerjaan atau studi kita, atau ketika kita mendambakan seharusnya kita bekerja di tempat lain? Untuk menjawabnya, kita perlu mengingat bahwa pekerjaan kita bukanlah tentang kita. Tuhan punya tujuan yang lebih besar daripada sekadar membuat kita senang; kita dipanggil untuk menghidupi hidup yang memancarkan kebaikan-Nya (Matius 5:16). Mengingat kebenaran ini dapat menolong kita. Ketika tantangan dan pergumulan meradang, kita bisa memberi ruang bagi Tuhan untuk memimpin kita percaya pada-Nya.

Kedua, adalah sangat menolong apabila kita bisa mengaitkan apa yang kita lakukan dengan bagaimana itu dapat berdampak bagi orang lain. Untuk menolong kita melakukan ini, penulis Emily Esfahani menyarankan kita untuk mengambil pekerjaan rutin dan bertanya pada diri kita sendiri, “Kenapa aku melakukan ini” sebanyak tiga kali. Saat kita melakukan ini, kita kemudian akan menemukan bahwa apa yang kita kerjakan membawa kebaikan bagi orang lain. Seperti yang Bryan Dik dan Ryan Duff catat (mereka berdua penulis dari buku Make Your Job Your Calling), hampir setiap pekerjaan, apa pun itu, memberi perbedaan di hidup orang lain jika kamu sungguh-sungguh memikirkannya.

Sebagai contoh, aku menelaah ratusan resume dari mahasiswaku. Menerapkan saran dari Emily, jawabanku adalah “supaya mahasiswaku bisa mendapat pekerjaan yang sepadan dari studi yang telah mereka lalui dengan upaya keras.” Jawaban akhirku jauh lebih berarti dan memotivasi bagiku karena aku bisa melihat lebih jelas dampak dari aktivitasku bagi orang lain. Itu menolongku untuk berpindah dari sikap aku “harus” bekerja dengan segenap hatiku, menjadi aku “mau” bekerja dengan segenap hatiku (Kolose 3:23).

Terakhir, kita bisa mengambil aksi yang kecil tetapi jelas untuk membuat hidup seseorang lebih baik seperti yang dilakukan oleh para pekerja di rumah sakit di atas. Sikap seperti ini tidak hanya Alkitabiah (ingat kisah Orang Samaria yang baik hati di Lukas 10:30-37), melakukannya menolong kita untuk meningkatkan rasa puas kita terhadap apa yang kita kerjakan. Kepuasan itu bisa datang dari hal yang remeh seperti mendengarkan rekan kerjamu ketika mereka curhat, atau tersenyum kepada seseorang yang kepadanya kamu memberikan secangkir kopi.

Seiring aku mendapati tindakan seperti ini dapat memberikan emosi positif bagiku dan orang lain, yang paling penting adalah: membagikan kebaikan bagi orang lain mengingatkanku akan betapa Tuhan sudah baik bagiku, dan itu memuliakan-Nya.

Di dalam pekerjaanku sendiri, mengingat mengapa aku bekerja tidak hanya meningkatkan kepuasanku, tetapi juga menguatkan relasiku dengan sesama rekan kerja, dan menolong orang lain untuk melihat orang Kristen lebih positif, terkhusus di lingkungan yang tidak ramah terhadap kekristenan.

Jika kelak kamu mendapati dirimu bertanya “mengapa aku melakukan ini?”, bergabunglah bersamaku untuk mengingat para pekerja kasar di rumah sakit, yang banyak orang menganggap pekerjaan mereka itu remeh, tetapi mereka menjadikan apa yang remeh itu sebagai kesempatan untuk menciptakan perbedaan. Kemudian, tanyalah Tuhan, “apa yang bisa kupikirkan dan kulakukan secara berbeda untuk memuliakan-Mu?” dan lihatlah kesempatan-kesempatan yang Tuhan bukakan buatmu.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Tembok Bata dari Jaring Laba-laba

Ketika seorang tentara berdoa memohon tembok bata untuk melindunginya dari musuh, Tuhan malah menjawabnya dengan mengirim seekor laba-laba. Apa yang terjadi setelahnya?

Apakah Kamu Merasa Pelayananmu di Gereja Tidak “Sukses”?

Oleh Leslie Koh
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Are You “Unsuccessful” In Church?

Kamu aktif melayani di gereja. Kamu hadir setiap Minggu pagi, datang lebih awal untuk menata bangku dan menyiapkan peralatan kebaktian, atau kamu menjemput jemaat-jemaat yang renta dari rumah mereka, lalu mengantarnya hingga mereka duduk di tempat biasa mereka di ruang ibadah.

Atau, pelayanan yang kamu lakukan secara pribadi adalah mendengarkan curhatan para remaja atau menghibur para lansia. Jadi, setiap minggunya sehabis ibadah, kamu mengobrol dengan mereka sembari menyeruput segelas teh. Kamu mendengar keluh kesah mereka, lalu berdoa bersama mereka. Dan, selama bertahun-tahun, mereka selalu datang padamu, satu per satu, untuk mengucap terima kasih dan memberitahumu betapa kamu berarti buat mereka.

Tapi, tak ada seorang pun yang tahu pelayananmu ini. Namamu tidak muncul di daftar ucapan terima kasih di buletin gereja. Ketika gerejamu mengangkat diakon dan pemimpin baru, kamu tidak masuk di antaranya. Ketika gerejamu menyebutkan nama-nama orang yang telah berjasa, namamu tak muncul pula. Sedikit orang menyapamu dengan memanggil namamu. Entahlah, padahal hampir semua orang sebenarnya tahu siapa namamu.

“Nggak apa-apa,” kamu memberitahu dirimu sendiri. “Tuhan tahu. Aku tidak butuh untuk dikenal; adalah baik untuk tetap rendah hati.”

Namun, mungkin tak selamanya kamu kuat. Setiap orang agaknya membutuhkan sekadar tepukan di punggung mereka, entah sekarang atau nanti. Tak dipungkiri, tentu ada masa-masa ketika kamu lelah; kamu merasa seolah dianggap remeh, dan sedikit pujian atau ucapan terima kasih tentu tak akan menyakitimu. Kamu tidak cemburu karena orang lain yang mendapat pujian atau ketenaran (sungguh!), tapi kamu merasa cukup lelah karena melakukan segalanya tanpa ada sedikit pun apresiasi.

Hei, kita semua sebenarnya “sukses” dalam pelayanan kita di gereja (atau juga di pekerjaan kita). Tapi, sepertinya, cara “sukses” itu bukan sesuatu yang kita nikmati.

Alkisah ada seorang pria yang pergi ke pantai untuk mengambil bintang-bintang laut yang terdampar di pasir. Dia lalu melemparkan satu per satu bintang laut itu ke laut. Seseorang lantas bertanya, “Bagaimana caranya kamu bisa menyelamatkan semua bintang laut ini? Terlalu banyak!” Dia menjawab, “Iya, susah tentunya, tapi aku memberi perbedaan untuk satu bintang laut ini.” Pelajaran umum yang bisa dipetik adalah: kita mungkin tidak mampu menyelamatkan semua orang, tapi kita bisa menyelamatkan satu orang, pada satu waktu.

Bagus. Tapi, inilah masalahnya: Tahukah kamu nama pria itu?

Kamu tentu tidak tahu. Tidak ada satu orang pun yang tahu. Dia tidak disebutkan di buletin gereja atau dipuji dalam sesi pengumuman di ibadah Minggu. Pendeta di gerejanya bahkan tak tahu namanya. Tapi, bagi setiap bintang laut yang dia lemparkan kembali ke laut, dia adalah juruselamat sejati. Tiap bintang laut itu tentu tahu siapa dia. Siapakah dia? Dialah si Pemungut Bintang Laut!

Dan itulah siapa dirimu. Hanya mereka yang kamu tolong yang mengetahuimu. Seorang perempuan yang kamu hibur ketika hatinya remuk. Seorang pria tua yang kamu tolong menaiki tangga setiap minggu. Bagi mereka, kamu adalah dunianya, karena kamulah satu-satunya yang peduli. Orang banyak mungkin tak tahu namamu, tapi mereka tahu. Kamulah “pemungut bintang laut” bagi mereka.

“Tapi, aku cuma menolong lima orang saja,” katamu. Mungkin itulah yang membuatmu berpikir kenapa sedikit orang di gereja yang menyadari pelayananmu. Tetapi, tak peduli lima orang—dua, atau satu—orang yang kamu layani, kamu adalah rahmat dari Tuhan. Di malam hari mungkin mereka mengucap syukur pada Tuhan atas kehadiranmu dalam hidup mereka. Mengapa? Karena kamulah ‘pemungut bintang laut’nya Tuhan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Kristus dan Liverpool: Pengikut Sejati atau Penggemar Belaka?

Cukup lama Liverpool puasa gelar dan tak selalu aku menggemarinya. Padahal, aku mencap diriku sebagai fans Liverpool. Aku pun terpikir, bagaimana dengan mengikut Kristus? Apakah aku sekadar penggemar atau pengikut-Nya sejati?

Ketika Tak Diajak Jalan-jalan Membuatku Insecure

Oleh Madeleine Grace
Artikel asli dalam bahasa Inggris: It Sucks To Not Be Invited

Waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari dan aku masih belum tidur. Hatiku dongkol dan pikiranku kacau.

Seharusnya aku tidak merasa seperti ini. Beberapa hari belakangan aku meluangkan waktu bersama orang-orang yang kukasihi. Tapi, ketika aku melihat Instagram Story mereka pergi dengan orang lain dan aku tidak diajak, rasanya menyakitkan!

Aku merasa dikucilkan, dan aku tahu bukan aku sendiri yang merasakan hal seperti ini. Ketika aku bercerita tentang perasaanku kepada orang-orang di sekitarku, mereka pun mengutarakan yang sama: ditolak, dikucilkan, dilupakan, dan diasingkan.

Perasaan-perasaan negatif itu kudengar dari berbagai orang dalam komunitasku. Bahkan dari orang-orang yang kuanggap “keren, pusat perhatian di grup mereka”, sehingga seharusnya mereka tak pernah merasa dikucilkan.

Tapi kenyataannya, ketika kita menjadi bagian dari komunitas yang besar, kita tidak bisa selalu mengajak semua orang di semua agenda kita. Dan, aku mengerti itu. Ada ruang yang terbatas. Bujet yang pas-pasan. Kita pun tak tahu pergumulan setiap orang.

Kadang, aku jugalah yang mungkin membuat orang lain merasa terkucil. Aku mengunggah Instagram Story karena aku ingin pansos ke teman-temanku betapa asyiknya hidupku. Aku mau mereka tahu kalau aku bahagia dengan hidupku, dan aku tidak (selalu) jadi orang yang introver, duduk sendirian di rumah sambil mengenakan piyama. Dan, sejujurnya, aku ingin menunjukkan ke orang-orang yang tidak mengajakku untuk tahu kalau “aku bisa kok tanpa kalian”, “acaraku lebih asyik daripada acara kalian.”

Bagi beberapa di antara kita, bulan-bulan belakangan ini mungkin semakin membuat kita merasa sepi dan terkucil. Kita dibatasi oleh social distancing, kita bimbang memtusukan siapa saja yang bisa kita undang untuk makan tanpa menyinggung yang tak diundang. Sulit rasanya.

Baru-baru ini, kutumpahkan semua kesedihan dan frustrasiku kepada teman dekatku. “Kenapa kita tidak bisa jadi komunitas yang merangkul semua orang?”, “Bagaimana kita bisa mengubah budaya eksklusivitas ini?” Kami berbicara berjam-jam tentang perubahan apa yang bisa kami lakukan.

Tapi, kami tak mendapat jawabannya. Aku sedang dalam perjalanan untuk belajar seperti apakah komunitas yang nyata itu? Dan, bagaimana membawa Surga ke dalam bumi. Namun, aku mulai percaya bahwa adalah mungkin untuk menciptakan budaya inklusivitas dan komunitas yang sehat; untuk memastikan kita saling membangun satu sama lain, bukannya saling menjatuhkan.

Seiring aku membaca firman Tuhan, aku semakin melihat bahwa Yesus menunjukkan pada kita bagaimana berkomunitas dengan baik. Yesus tidak berteman dekat dengan semua orang, dan (mungkin) tidak mengagendakan duduk mengobrol satu-satu dengan semua pengikut-Nya. Yesus memiliki 12 murid, beberapa pengikut lainnya, dan merekalah orang-orang yang menjadi tujuan Yesus—komunitas-Nya, orang-orang yang kepada mereka Dia membagikan makanan dan berdoa bersama.

Tetapi, melampaui lingkaran orang-orang terdekat-Nya, Yesus tidak menghindari atau menolak orang lain karena mereka bukan dari lingkungan dekat-Nya, atau karena mereka datang di saat yang kurang tepat. Yesus tidak mengucilkan siapa pun hanya karena Dia mendapati orang itu mengganggu atau cuma bikin repot saja. Entah mereka seorang penderita kusta, pelacur, prajurit Romawi, atau bahkan anak-anak kecil, Yesus tidak menolak mereka yang datang pada-Nya. Seperti kisah Zakheus si pemungut cukai dalam Lukas 19:1-10, Yesus menjangkau Zakheus, bertandang ke rumahnya dan makan bersamanya.

Melalui teladan ini, Yesus juga mengajari murid-murid-Nya tentang bagaimana hidup berkomunitas dengan benar, dan kita bisa melihatnya dalam Kisah Para Rasul 2:46-47. Dalam bacaan ini, kita mendapati orang percaya mula-mula rutin bertemu, dan mereka bertumbuh setiap harinya:

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati.”

Bagaimana kita bisa meneladani cara berkomunitas dalam Kisah Para Rasul pasal kedua itu dalam dunia kita sekarang? Kita setuju inklusivitas adalah konsep yang bagus, tapi bagaimana menerapkannya? Ada beberapa cara yang kupikir dapat kita lakukan. Bersama-sama kita dapat:

1. Berpikir melampaui lingkaran orang-orang terdekat kita (Roma 12:16)

Tidak ada satu pun dari kita berpikir kalau kitalah penyebab masalah atau sosok yang dihindari sampai akhirnya kita tidak dilibatkan lagi dalam acara-acara teman kita. Sungguh luar biasa untuk memiliki kelompok kecil yang berisi teman-teman dekat, tapi marilah kita lihat lebih jauh dari lingkaran kecil itu, untuk menemukan orang-orang lain yang mungkin terpinggirkan. Siapa yang bisa kita jangkau? Adalah seseorang yang ingin kamu ajak untuk meluangkan waktu bersama?

2. Menguji movitasi kita

Ujilah motivasi hati kita sebelum kita mengunggah foto-foto nongkrong bersama atau menceritakan pengalaman tentang acara akhir pekan dengan orang-orang yang tidak kita ajak (Filipi 2:3-4). Artinya bukan berarti kita perlu merahasiakan acara-acara kita, tapi adalah baik untuk peka kepada siapa dan untuk apa kita membagikan pengalaman kita. Jangan-jangan tujuan kita hanyalah ingin pamer dan sombong demi status sosial.

3. Bersiap sedialah

Bersiap sedialah untuk berkata ya (Roma 12:13). Ya, teman kita bisa mengajak teman lainnya. Ya, saudari mereka bisa ikut. Ya, pasangan mereka boleh datang. Jika seseorang lain ingin bergabung dan kita punya kapasitas untuk mengundang orang lebih, kita bisa berkata “ya”.

4. Jadilah penghubung (Efesus 4:2-3)

Tidak mungkin untuk menjadi teman terbaik bagi tiap orang baru yang kita temui di komunitas kita. Tapi, yang bisa kita lakukan adalah menjadi jembatan agar dia dapat mengenal orang-orang lainnya.

5. Buanglah sikap mengucilkan

Marilah saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih (Ibrani 10:24). Kita bisa tanyakan ke teman kita kenapa si A atau si B tidak diajak, atau dengan lembut merekomendasikan agar mereka ikut diajak. Entah pengucilan itu terjadi secara sengaja atau tidak sengaja, kita bisa menolong teman kita untuk memikirkan juga orang lain dalam komunitas kita.

6. Tunjukkan kasih kepada orang lain

Ketika kita sendiri yang tidak diajak, tetaplah tunjukkan kasih kepada mereka (Roma 12:17-18). Aku mendapati inilah yang paling sulit kulakukan, tapi aku belajar inilah yang sangat penting. Jika kita tetap berpikir positif dan bersikap baik meskipun kita tidak diajak, kita tidak hanya menghindari diri kita dari kepahitan dan rasa insecure, tetapi kita sedang membangun komunitas yang memahami bahwa tidak semua orang dapat diundang dalam segala hal, dan itu tidaklah masalah.

Aku ingin mengenali betul pikiran-pikiran negatif yang menyelubungiku dan agenda-agenda terselubung dalam hatiku; apakah aku orang yang ingin mencari muka atau mengejar kasih dan integritas.

Aku ingin melakukan segalanya yang kubisa untuk menjadikan komunitasku sebagai tempat di mana ketakutan akan ditolak dan dikucilkan tidak lagi menghantui. Komunitas yang dibangun atas kepercayaan dan kasih, bukan di atas perpecahan atau membanding-bandingkan diri, kepahitan, atau perasaan insecure.

Ayo jadilah orang-orang yang sibuk untuk menyambut hangat orang lain dan memberi dengan murah hati, supaya kita tidak lagi terlalu memusingkan akan apa yang orang-orang akan lakukan jika kita tak berada bersama mereka.

Jadilah orang yang teguh dan tidak mudah berpikir negatif.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Aku Sakit Bukan Berarti Tuhan Tidak Mengasihiku

Hampir saja aku kecewa karena Tuhan memberiku penyakit, tetapi aku masih memiliki keyakinan bahwa Tuhan pasti tetap mengasihiku dan ingin mengajarkanku sesuatu melalui penyakit Sindrom Nefrotik yang kuderita.

4 Kebohongan yang Harus Dipatahkan Saat Kamu Merasa Kesepian

Karya seni ini dibuat oleh YMI.Today

Pindah ke luar kota untuk studi atau bekerja, membiasakan diri kembali setelah putus dari pacar, beradu pendapat dengan anggota keluarga sendiri, atau karena alasan-alasan lain yang kita sendiri pun bingung—kita semua pernah merasakan kesepian.

Perasaan kesepian bisa hadir selama berhari-hari atau berminggu-minggu, dan dengan mudah kita pun jadi kecewa dan kesal. Selama masa-masa tersebut, kebohongan yang kita ketahui tentang kesepian bisa melumpuhkan kita, dan seringkali membuat kita semakin sulit dijangkau. Kita semakin larut dalam kesepian kita sendiri tanpa menyadari bahwa ada jalan keluar dari permasalahan kita.

Inilah beberapa kebohongan yang bisa kita patahkan:

Kebohongan #1: Tidak ada gunanya menghubungi orang lain

Teman kita tak pernah membalas chat atau mengangkat telepon kita. Agenda ngopi bersama selalu batal dan batal. Apakah kita melakukan sesuatu yang membuat mereka kecewa? Haruskah kita berhenti menghubungi mereka? Seringkali, sikap menghindar atau apatis dari teman-teman kita bukanlah buah dari kesalahan kita sendiri.

Kita bisa mencoba lebih lugas dan dengan jujur bicara mengapa kita ingin tetap terhubung dengan mereka. Kita juga bisa berdoa agar Tuhan memimpin kita untuk berjumpa orang baru—meskipun kita mungkin tidak kenal dekat dengan orang tersebut.

Tuhan tahu kita semua mengalami masa-masa ketika kita sungguh butuh pertolongan orang lain (Galatia 6:2). Kita tak perlu merasa malu untuk menghubungi orang lain, karena dengan melakukannya, kita menghidupi rancangan Allah dalam hidup berkomunitas.

Kebohongan #2: Kamu berbeda, tidak cocok dengan mereka!

Rasanya sungguh tak nyaman ketika orang-orang di gereja bersikap seolah mereka ada di tempat yang berbeda. Kita mungkin bertemu dengan para mahasiswa, atau kelompok orang-orang yang sudah menikah. Lalu, kita mendapati sepertinya kita sangat sulit untuk ‘nyambung’ dengan mereka.

Berada dalam situasi seperti itu bisa membuat kita tawar hati, tapi Paulus mengingatkan bahwa sebagai anggota tubuh Kristus (1 Korintus 12:17), tahapan kehidupan yang berbeda yang kita jalani bisa memperlengkapi kita. Mungkin kita tidak nyambung dengan satu kelompok tertentu karena berbeda pengalaman, tapi kita tentu bisa menjadi berkat bagi kelompok lain. Pernahkah kamu mencari waktu untuk mengenal siapa seorang janda senior di gerejamu? Atau mengajak makan siang seorang mahasiswa yang super rajin sampai punya sedikit teman?

Seiring kita menginvestasikan waktu kita, kita juga bisa mendapati teman-teman baru dan mendapatkan dukungan dari orang-orang yang tengah menjalani fase kehidupan yang sama dengan kita. Atau, bisa juga menjadi relawan di kegiatan yang kita bersemangat menjalaninya.

Kebohongan #3: Tidak ada yang mengerti pergumulanmu.

Tantangan yang kita hadapi bisa membuat kita merasa sendirian. Mungkin kita sedang menghadapi pencobaan yang rasanya mudah dihadapi oleh orang Kristen lainnya, putus dari pacar membuat kita menjadi getir terhadap relasi, atau kita bergumul dengan beban kerja yang terlalu banyak dan rekan sekerja kita tidak peduli.

Meskipun orang lain mungkin tak mengalami tantangan yang sama persis dengan kita, tetapi mereka bisa bersimpati dengan apa yang kita hadapi. Tuhan dapat memakai orang-orang seperti ini untuk menolong dan menguatkan kita.

Paulus juga mengingatkan kita bahwa saat kita menerima penghiburan dari Tuhan, kita pun “dimampukan untuk menghibur orang lain” (2 Korintus 1:4). Kesusahan yang kita alami akan memperlengkapi kita untuk suatu hari kelak kita menghibur orang lain yang juga mengalami pergumulan serupa.

Kebohongan #4: Bahkan Tuhan pun meninggalkanmu

Di masa yang amat sulit dan sendiri, amat mungkin jika kita merasa Tuhan tak mendengar seruan kita. Atau, jikalau pun Dia mendengar, Dia tidak menjawab.

Tapi, itu bukanlah kebenarannya. Kita tahu bahwa Kristus pernah amat menderita dan kesakitan (Yesaya 53:3). Kita dapat meraih penghiburan dengan mengetahui bahwa Yesus pun mengalami kesepian yang kita hadapi. Yesus tahu kesulitan dan tantangan kita, di saat orang lain tak mampu memahaminya.

Kita juga dapat mengingatkan diri kita bahwa tidak ada satu hal pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Tuhan (Roma 8:38-39). Meskipun kesepian yang kita alami membuat kita tak berdaya, ingatlah Dia berjalan bersama kita. Bagaimana caranya kita menyadari penghiburan dan penyertaan-Nya?

Marilah kita mengakui bahwa kesepian itu memang sulit. Kita bisa meratap, tapi janganlah percaya kepada kebohongan-kebohongan yang kesepian coba berikan pada kita. Kendati langit di atas kita kelabu, ingatlah untuk terus berjuang dan berpegang pada kebenaran!

Bagaimana Usia 20-an Mengajariku Cara Pandang Baru untuk Menjalin Relasi

Oleh Winnie Little, Selandia Baru
Artikel asli dalam bahasa Inggris: What My 20s taught Me About Relationships

Ketika aku memasuki usia 21 tahun—angka yang dianggap sebagai tahun pencapaian di banyak budaya—aku merasa yakin kalau aku sudah punya cukup kemampuan dan kedewasaan untuk menjalani kehidupan. Aku tinggal bersama dua kawan dekatku di kota yang indah. Kami menghabiskan kebanyakan waktu kami untuk belajar, mengobrol, dan jalan-jalan bareng. Sebentar lagi aku akan melanjutkan studi di program pasca sarjana. Masa depan yang cerah menanti di depanku.

Aku pun pulang ke kota asalku dan melanjutkan studi pasca sarjanaku di sana. Namun, aku jadi berpisah dengan teman-temanku dekatku di perantauan dulu. Dan, yang menyebalkan adalah: setelah bertahun-tahun hidup mandiri, aku merasa benci tinggal di rumah. Dengan segera jadwal kuliah yang super padat menghancurkan kepercayaan diri yang telah kubangun. Masalah-masalah datang silih berganti: kekhawatiran akan keuanganku, kesepian, dan relasiku dengan keluargaku yang tegang. Masalah-masalah ini terus ada sampai hampir sepuluh tahun. Kendati ada masa-masa sulit yang kulalui, ada pula beberapa pelajaran berharga yang mengubah hidupku yang bisa kupelajari.

Inilah beberapa pelajaran tersebut:

1. Bangun relasimu

Jelang akhir kuliahku, aku tinggal bersama sembilan mahasiswi lain. Satu di antara mereka sangat ramah dan selalu mengobrol denganku setiap kali aku pulang kuliah malam. Kami sama-sama Kristen dan punya selera humor yang sama pula. Aku menyayangi dia dan bersyukur karena kami bisa jadi kawan karib. Namun, aku sering khawatir setiap kali mulai mengerjakan tesis sehingga tiap pembicaraan singkat dengan temanku itu selalu terasa menyenangkan. Aku berusaha terhubung dengannya di liburan semesteran, tapi seringkali aku menunda untuk menghubunginya sampai akhirnya proses kuliah berjalan lagi. Aku terlanjur jadi sibuk lagi.

Di musim panas, aku mendapat kabar bahwa temanku itu telah meninggal dunia. Aku kaget setengah mati ketika menyadari aku tak akan lagi bisa berjumpa dengannya, berdoa bersama, atau sekadar mengirimkan kata-kata penguatan buatnya. Aku dipenuhi penyesalan, seharusnya aku bisa memanfaatkan libur di jeda semester untuk bertemu dan membangun relasi dengannya.

Dalam 1 Petrus 4:7-8, Petrus menulis: “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” Meski aku sudah tahu ayat ini, aku sekarang lebih menyadari betapa keluarga, teman-teman, dan rekan sekerja kita di bumi punya waktu yang terbatas untuk bersama-sama dengan kita. Oleh karenanya, aku secara aktif berusaha mencari kesempatan untuk berbuat baik pada mereka. Aku berusaha mengingat tanggal-tanggal penting. Dan, walau otakku pelupa, Google Calendar tidak. Aku meluangkan waktuku bersama teman-teman yang mengajakku untuk mengobrol bersama. Meskipun dulu aku suka menolak jika diajak bertemu karena aku tak suka aktivitas yang dilakukan, sekarang aku melihat ajakan itu sebagai waktu-waktu berharga yang bisa kunikmati bersama.

2. Jangan mudah tersinggung

Di awal-awal usia 20-anku, aku sering mengeluhkan para staf pelayan yang sering mengecewakanku. CS dari maskapai penerbangan yang kutelepon nada suaranya menjengkelkan. Penata rias yang produknya kubeli menolakku untuk menukar produknya. Operator internetku tak bisa menjelaskan kenapa aku diminta membayar padahal koneksiku saja terputus.

Aku pernah marah karena aku menganggap orang-orang yang kuhubungi tersebut kasar dan tidak solutif. Perbuatan mereka menunjukkan sikap tak jujur dan tak peduli. Aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengomel ke teman-temanku tentang orang-orang tersebut.

Tapi setelah aku bekerja di rumah sakit selama beberapa tahun, aku mengubah caraku menghadapi marah dan rasa tersinggung. Dalam pekerjaanku, aku melihat bagaimana penyakit fisik sering pula membawa ketakutan, kesakitan, ketergantungan, dan beban finansial yang berat bagi pasien dan keluarga mereka. Aku melihat bagaimana orang-orang seperti ini tetap harus menjalani rutinitas, bekerja, dan berinteraksi dengan dunia meskipun mereka tengah mengalami beban berat dan kepedihan hati. Aku menyadari bahwa orang-orang yang bersikap kasar kepadaku mungkin saja tengah menghadapi penderitaan yang tak dapat kupahami.

Alkitab secara jelas menegaskan agar kita berjalan dalam kasih dan tidak mudah marah (1 Korintus 13:5). Kita juga diminta untuk sabar dan mengampuni (Kolose 3:13). Hari-hari ini, ketika tindakan seseorang melukaiku, aku akan berhenti sejenak dan berpikir positif, “Mungkin mereka tak bermaksud begitu.” atau, “Mungkin mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Berpikir positif tersebut menolongku untuk mempraktikkan belas kasih, yang adalah penawar yang ampuh atas rasa marah. Hidup jadi lebih menyenangkan tanpa memendam amarah dan rasa sakit hati.

3. Belajar untuk berkata “tidak”

Aku termasuk kategori people-pleaser, ingin menyenangkan semua orang. Aku takut kalau menolak ajakan atau permohonan akan membuat orang lain berpikir aku malas dan egois, jadi aku pun mengiyakan hampir semuanya. Aku pernah menjadi relawan di banyak pelayanan gereja sampai-sampai aku merasa tak ada lagi waktu untuk beristirahat. Aku memberi uang lebih besar daripada pendapatanku untuk lembaga-lembaga amal. Aku jarang mengungkapkan pendapatku di kelompok. Di satu sisi, aku mengambil pekerjaan paruh waktu di samping pekerjaan utamaku karena aku tidak ingin menyinggung orang lain dengan menolak ajakan untuk memberi. Hari-hariku jadi terasa mencekik dan membosankan karena semua waktu luangku dihabiskan untuk melakukan aktivitas yang menguras tenaga.

1 Korintus 12 memberi tahu kita bahwa sebagai anggota tubuh Kristus, setiap kita punya karunia yang berbeda. Paulus menekankan perbedaan-perbedaan ini dengan memberi analogi bagian-bagian tubuh kita. “Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?” Dengan kata lain, Tuhan menciptakan kita dengan karunia tertentu untuk suatu tujuan. Rencana Tuhan adalah setiap karunia yang diberikan-Nya pada kita bisa digunakan untuk “kebaikan bersama” (1 Korintus 12:7). Aku dapat melayani seturut karunia yang Tuhan sudah berikan. Berusaha menjadi orang lain dan mengingkari diri sendiri tidak akan memberi kebaikan bagi orang lain.

Sekarang aku belajar untuk menolak dengan halus ketika diminta untuk melakukan sesuatu yang tidak tepat buatku. Melalui pertolongan dari seorang konselor, aku belajar pula untuk membuat keputusan yang lebih baik: Apakah aku punya kemampuan, semangat, atau peran tertentu? Apakah ada komitmen lain yang telah kubuat? Aku juga belajar untuk menunda menjawab suatu keputusan supaya aku punya waktu lebih untuk memikirkannya.

4. Pikirkan ulang caramu menolong orang lain

Seperti poin sebelumnya, aku sering berusaha untuk menyenangkan orang lain. Aku berusaha untuk memperbaiki masalah orang lain. Kupikir aku sedang melakukan tugasku sebagai orang Kristen yang dipanggil untuk saling menanggung beban (Galatia 6:2).

Suatu ketika, seorang temanku curhat tentang relasi dengan pacarnya yang membuat dia menderita. Kata-kata dan perbuatan pacarnya itu melukai hatinya dan membuat dia jadi rendah diri. Aku menyarankan dia untuk ikut konseling, memberinya daftar artikel bertopik relasi, dan berkata lebih baik jika dia putus saja. Tapi, betapa stresnya aku ketika semua saran itu tidak dilakukan dan dia selalu kembali curhat dengan masalah yang sama.

Momen itu membuatku menyadari bahwa aku gagal untuk membedakan apakah temanku itu butuh sekadar nasihat atau pertolongan. Aku tak pernah menyadari bahwa Paulus mengimbangi nasihatnya untuk saling menanggung beban dengan pernyataan lain dari Galatia 6:5, “Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.” Dengan naifnya aku berasumsi bahwa aku bisa membuat masalah yang rumit hilang dalam sekejap, padahal masalah teman-temanku adalah tanggung jawab dari pilihan yang telah mereka buat. Dan, jika yang sejatinya diinginkan oleh temanku hanyalah seseorang yang mau mendengarkan ceritanya, mungkin nasihat-nasihat yang kuberikan terasa sangat merendahkan mereka.

Ada banyak cara untuk saling menanggung beban orang lain tanpa menjadikan masalah mereka sebagai masalah kita pribadi. Kata-kata yang baik dapat menggembirakan hati (Amsal 12:25). Kita juga dapat menangis dengan mereka yang menangis (Roma 12:15). Hari-hari ini, aku belajar untuk mendengar dengan seksama dan bertanya secara spesifik apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Aku berdoa agar mereka dikuatkan; dan aku menahan lidahku untuk tidak berkomentar atas masalah mereka. Aku belajar pula untuk sabar saat mendengar, dan berdamai dengan ketidakberdayaanku untuk mengatasi semua masalah teman-temanku. Tuhan sanggup dan mampu bekerja seturut waktu-Nya.

Itulah pembelajaran yang kudapat di usia 20-anku. Secara garis besar, aku telah belajar untuk bersukacita atas relasiku dengan orang-orang di sekitarku, lebih bermurah hati, menanggapi dengan sukacita, dan menyadari keterbatasanku. Kuharap tulisan ini menolongmu untuk menapaki jalan hidupmu di depan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Bersukacita Karena Persekutuan Injil

Sukacita terbesar dalam melayani seseorang adalah bukan hanya ketika mereka mengetahui tentang Tuhan, tetapi ketika melihat mereka mengalami pertumbuhan di dalam pengenalan dan kasih mereka kepada Tuhan.

5 Cara untuk Mengasihi Negeri Kita

Peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-75 akan jadi momen yang terkenang. Kita merayakannya di tengah pandemi. Momen agustusan yang biasanya semarak dan meriah, kini kita lalui dalam sepi. Tak ada lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, dan panjat pinang. Demikian pula upacara yang biasanya selalu digelar di lapangan-lapangan, sekarang berubah menjadi upacara daring.

Namun, terlepas dari segala hal yang terjadi: Indonesia tetaplah rumah kita. Rumah tempat kita bernaung dan tempat kita membangun kehidupan yang lebih baik.

Jangalah kita sekadar merayakan ulang tahun kemerdekaan tanpa memaknai apa sesungguhnya arti rumah kita, Indonesia, bagi kita semua. Ambillah momen sesaat untuk merenungkan kembali betapa seharusnya sebuah rumah menjadi tempat bernaung yang aman bagi orang-orang di dalamnya.

Peringatan kemerdekaan tahun ini patut dikenang bukan karena perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pandemi, tapi karena apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah negeri ini. Sebagai orang percaya, tunjukkanlah pada dunia bahwa kita bisa menjadi sebuah bangsa yang besar yang dibangun di atas kebesaran hati yang dipenuhi kasih atas satu sama lain. Inilah waktunya untuk memberi yang terbaik.

Karya ilustrasi ini dibuat oleh YMI.Today.

Meraih kemerdekaannya 75 tahun lalu, negeri kepulauan di khatulistiwa ini terus berkembang selama tujuh dekade setelahnya. Indonesia pada era modern adalah hasil dari proses yang panjang. Kita pun tahu bahwa pemerintah dapat berkuasa karena Tuhan (Roma 13:1). Marilah kita mengucap syukur atas para pemimpin yang Tuhan berikan untuk memerintah negeri k ita, dan dukunglah mereka dalam doa.

Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh—1 Petrus 2:13-15.

Kita menyebut Indonesia sebagai rumah karena di sinilah keluarga dan teman-teman kita juga tinggal. Namun sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tak cuma mengasihi mereka yang dekat dengan kita. Kita dipanggil untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita—entah itu seorang petugas kebersihan atau orang asing yang kebetulan ada di dekat kita—dengan cara seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kita perlu meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri, seperti yang Kristus telah lakukan bagi kita.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri—Matius 22:39

Indonesia adalah negeri yang beragam, dengan berbagai ras dan etnis hidup berdampingan. Ini adalah suatu karunia dan kita perlu berupaya untuk menjaga perdamaian. Kericuhan yang terjadi di Amerika Serikat dalam kampanye #BlackLivesMatter adalah pengingat bagi kita bahwa keharmonisan bisa rusak karena tindakan-tindakan diskriminatif. Kita perlu terus berjuang untuk keadilan dan kesetaraan, dan dengan tegas menentang rasisme dan diskriminasi. Kiranya melalui kita orang-orang dapat melihat kasih Kristus!

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan—Ibrani 12:14

Indonesia terbentuk atas orang-orang yang berjuang pada beragam tingkatan. Dari orang-orang yang telah senior hingga generasi muda, dari orang yang super-kaya hingga mereka yang susah payah untuk melunasi kebutuhan sehari-hari, hingga mereka yang berjuang agar suaranya didengar. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk memperhatikan kebutuhan orang lain, tak peduli usia, status sosial dan ekonomi mereka. Kita perlu berdiri di depan untuk membela keadilan sosial, terkhusus di masa-masa pandemi ini. Biarlah kita dikenal karena kasih kita: kita bisa menjadi relawan, memberikan waktu ataupun benda-benda, dan menjadikan ruangan gereja kita terbuka bagi mereka yang membutuhkan.

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia—Yakobus 1:27

Indonesia adalah negara berkembang yang diberkati dengan beragam budaya. Atas anugerah Tuhan sajalah negeri kita dapat terus berkembang. Sebagai orang Kristen, marilah kita mengusahakan kesejahteraan negeri kita bagi Tuhan.

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu—Yeremia 29:7

Marriage Story: Mengapa Relasi yang Hancur Tetap Berharga untuk Diselamatkan?

Oleh Jiaming Zheng
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Marriage Story: Why Broken Relationship Are Still Worth Saving
Gambar diambil dari official trailer

Aku menonton film Netflix, Marriage Story yang dibintangi oleh Adam Driver dan Scarlett Johansson di suatu malam di akhir minggu yang santai. Film itu menceritakan tentang sepasang suami istri, Nicole dan Charlie (diperankan oleh Johansson dan Driver dengan apik) ketika mereka sepakat untuk bercerai dan bertengkar tentang hak asuh anak mereka, Henry. Film ini menarik perhatian dan masuk nominasi Oscar serta sangat direkomendasikan oleh Netflix. Oleh karena itulah, aku memutuskan untuk menontonnya.

Kupikir aku tidak asing dengan kata ‘perceraian’, tapi tak kusangka film itu malah membuatku menangis memikirkan tentang relasi yang gagal, pengampunan, dan penebusan selama 2 jam 17 menit.

Nicole dan Charlie telah memutuskan untuk bercerai karena ‘perbedaan yang tak bisa dipersatukan’. Charlie digambarkan sebagai sosok egois yang menyerap energi orang lain. Ia tidak peduli dengan Nicole dan bahkan berbohong bahwa ia telah berselingkuh. Nicole mengorbankan banyak hal demi Charlie, namun permintaan dan keinginannya tak digubris—sampai pada akhirnya, ia tak tahan lagi.

Sebagai seorang wanita, aku mudah bagiku bersimpati kepada Nicole. Namun tidak mudah juga untuk membenci Charlie. Ia adalah seorang direktur jenius, bos yang hebat, ayah, menantu yang terluka akibat perceraian yang sangat terluka karena perceraian.

Namun seiring dengan kisah yang mulai terungkap, aku melihat Nicole sebagai sosok pribadi yang juga memiliki kesalahan. Ia kurang percaya diri, tidak tahu apa yang ia inginkan dan dengan mudah dipengaruhi oleh pengacara perceraiannya, Nora. Diperdaya Nora di masa-masa rapuhnya, ia membawa para pengacara—yang menjadi satu-satunya pihak yang mungkin menyukai situasi ini—ke tempat kejadian.

Dalam film, nampaknya kebenaran yang dikenal secara umum ialah bahwa pernikahan mau tidak mau akan berakhir dalam perceraian. Kita melihat hal ini lewat kehidupan saudara perempuan Nicole, rekan kerjanya serta para pengacara. Meskipun semuanya setuju bahwa prosesnya menyusahkan, perceraian dianggap sebagai satu-satunya opsi dan hampir seperti seremoni dalam proses kedewasaan.

Namun kenyataannya ialah: tidak ada satu pun pemenang dari masing-masing pihak pada akhirnya. Nicole akhirnya menandatangani surat perceraian. Ia menjadi “mercusuar harapan untuk para wanita” karena ia menentang stereotip gender bahwa seorang istri harus selalu berlaku lembut dan selalu menyediakan apa pun untuk suaminya. Nicole menunjukkan kepada dunia bahwa ia layak mendapatkan yang lebih baik. Namun apakah ia benar-benar menang? Apakah ia menemukan sukacita dan kebahagiaannya?

Apakah perceraian adalah satu-satunya jalan?

Marriage Story adalah film yang menggambarkan kehidupan di mana Tuhan tidak pernah ada, seperti ditekankan dalam monolog Nora, “Tuhan adalah Bapa. Dan Ia tak pernah muncul” ketika Maria melihat anak-Nya, Yesus mati. Dalam dunia itu, tidak ada kebangkitan dan penebusan. Satu-satunya jalan untuk pernikahan yang hancur adalah perceraian.

Seiring dengan alur film yang terus berjalan, aku mulai menyadari betapa rumitnya kehancuran relasi Charlie dan Nicole. Meskipun mereka sudah menikah selama bertahun-tahun lamanya, mereka tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Ada banyak momen di dalam film di mana aku berpikir, jika seandainya Charlie melihat betapa Nicole sangat tidak ingin melakukan hal ini, jika seandainya Nicole membaca suratnya sejak awal dan mereka bisa melihat betapa mereka saling menyakiti satu sama lain… Jika seandainya...

Dan perlahan, aku mulai bertanya-tanya, apakah perbedaan di antara mereka benar-benar tidak bisa didamaikan?

Di dunia tanpa adanya Tuhan, jawabannya: ya.

Namun di dalam dunia di mana Tuhan hadir, rekonsiliasi adalah kemungkinan yang bisa diraih. Injil memberitahukan kepada kita bahwa pidato Nora yang menggebu-gebu disalahartikan. Tuhan tidak muncul. Tuhan ada di sana bersama Yesus di setiap langkah-Nya. Padahal dalam 3 hari, Ia membangkitkan putra-Nya dari antara yang mati dan ‘didudukkan-Nya di tempat yang tertinggi’ (Filipi 4: 9).

Terlepas dari kekeliruan kita, Tuhan masih mencintai, menolong dan menebus kita dari semua dosa. Injil yang sama juga memiliki kekuatan untuk mengubah relasi kita yang gagal.

Aku percaya bahwa jika Nicole dan Charlie mengetahui cinta ini, mereka bisa belajar dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi pribadi yang baik hati dan saling mencintai, saling mengampuni kesalahan yang mereka lakukan satu sama lain, dan membangun ulang relasi mereka (Efesus 4: 31-32).

Masing-masing harus melalui perubahan yang serius dan bertobat. Nicole harus melepaskan kepahitan dan amarah di dalam hatinya dan menemukan keberanian untuk berdiri sendiri. Charlie harus lebih rendah hati dan mendengarkan keinginan istrinya juga. Proses ini akan sulit dan menyakitkan, namun berharga untuk diperjuangkan.

Mengapa mereka perlu bersusah payah untuk melakukannya? Satu momen yang paling meretakkan hati dalam film ini ialah tatkala Charlie akhirnya membaca surat Nicole yang mengungkapkan segala detail tentang apa yang ia sukai tentang sang suami. Sayangnya, semua itu terjadi di saat surat perceraian sudah ditandatangani.

Meskipun mereka bertengkar dan saling meneriaki satu sama lain, mereka masih saling mencintai. Dan karena mereka akan selalu terikat lewat putra mereka, Henry, lalu mengapa semua ini harus berakhir dalam satu tragedi?

Mengapa pernikahan layak untuk diperjuangkan

Aku belum pernah menikah. Sebelum kamu menghakimi semua yang aku katakan sebagai seorang wanita yang naif dan idealis, aku akan menceritakan sedikit kisah pribadiku.

Dalam ingatanku, kata perceraian adalah kata yang umum diucapkan di dalam keluargaku. Kapan pun orangtuaku bertengkar—seperti layaknya Nicole dan Charlie saat mereka mencapai puncak pertengkaran dan kebuntuan—ibuku akan berteriak dan meminta cerai.

Di tengah petengkaran itu, aku sering terdiam dan dalam hati berharap apa yang mereka inginkan itu terjadi saja. Apa masalahnya? Ini dunia modern. Kalau kalian merasa tak bahagia, bercerailah saja. Itu akan jauh lebih baik untuk semua orang. Jika jadi kalian, aku akan melakukannya.

“Kau tidak mengerti,” kata ibuku. “Ini sangatlah rumit.”

“Hanya karena ibu tidak bisa menyelesaikannya,” kataku sembari menantangnya.

Sebagai seorang anak, aku pikir ibukulah yang salah. Namun ketika aku semakin dewasa, aku sadar betapa banyak pengorbanannya untuk merawat keluargaku dan ayahku yang baik hati dan luar biasa, meskipun seringkali ia gagal menjadi seorang suami yang peduli.

Sampai akhirnya aku mengamatii dan menjalin relasi dengan orang lain, akhirnya aku memahami bahwa saat kita berelasi, tidak ada di antara kita yang benar-benar tidak bersalah. Tindakan kita bisa secara tidak sengaja menyakiti yang lain dan kita semua harus memberikan hati untuk mengampuni dan mencintai satu sama lain untuk keberlangsungan relasi itu.

Seiring berjalannya waktu, Tuhan telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak boleh hanya berfokus pada hal-hal yang negatif. Ketakutan dan kesulitan berlebihan karena merasa tidak bahagia atau terjebak dalam sebuah konflik, telah membutakan mataku akan kebaikan dalam relasi keluarga kami. Perlahan, aku mulai melihat momen-momen ketika ayah mempedulikan ibuku, ketika ibu belajar untuk mengampuni dan ketika mereka bekerja sama dengan baik. Aku berhenti membiarkan momen-momen yang gelap itu menutupi segala hal baik yang terjadi di dalam keluargaku.

Tahun lalu, ketika kami merayakan Natal bersama di balkon rumah sewa AirBnB, aku merasa bahagia karena orangtuaku tak pernah bercerai. Aku bahagia karena mereka telah melalui semuanya. Apa pun itu. Entah karena aku dan saudara perempuanku, karena ibuku tidak cukup kuat atau sederhananya, karena mereka memang tidak mampu melakukannya. Apa pun alasannya, aku bahagia karena kami berbagi momen itu bersama sebagai keluarga, dan aku menyesal karena pernah berharap yang sebaliknya.

Dan mungkin momen-momen itulah yang membuat relasi yang hancur layak untuk diperjuangkan. Kita bisa percaya bahwa melalui pengampunan dan perubahan, kita bisa menuliskan ulang narasi dunia tentang pernikahan, menemukan pendamaian, serta mencerminkan kasih dan berkat dari Kristus kepada dunia yang putus asa dan membutuhkannya.

Di dalam dunia yang menyuruh kita untuk memprioritaskan dan memenangkan diri sendiri, mari kita “saling mengasihi sebagai saudara” dan “saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10).

Baca Juga:

Dalam Segala Situasi, Bersekutu Itu Selalu Perlu

Sebagai pemimpin Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) masa-masa ini jadi sulit buatku. KTB online tak semudah yang dikira. Perlu upaya ekstra untuk membeli kuota, mengumpulkan semangat, juga mengatur strategi. Tapi, di balik itu semua, persekutuan antar sesama orang percaya memang perlu senantiasa dibangun.