Posts

Seri Lukisan Natal: Sebuah Janji yang Diwujudkan

lukisan-natal-warungsatekamu-simeon

Karena Sang Bayi, Simeon tekun menanti
Terang keselamatan bagi segenap bangsa di bumi
Seumur hidupnya tertuju kepada Mesias, Yang Diurapi
Sebab ia tahu pasti, Allah selalu menepati janji

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Akankah kamu juga bertekun dalam pengharapanmu kepada-Nya?

Baca: Lukas 2:22-35

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm

Seri Lukisan Natal: Sebuah Kabar yang Luar Biasa

lukisan-natal-warungsatekamu-gembala

Karena Sang Bayi, gembala mendengar surga bernyanyi
Memuji Sumber Damai Sejahtera yang turun ke bumi
Bergegas mereka berangkat ingin berjumpa Sang Bayi
Turut bawa kabar suka dan pujian bagi Allah yang Mahatinggi

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Inginkah kamu berjumpa dengan-Nya dan bersuka karena-Nya?

Baca: Lukas 2:8-21

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm

Seri Lukisan Natal: Sebuah Keputusan yang Penting

lukisan-natal-warungsatekamu-yusuf

Karena Sang Bayi, Yusuf diberitahu melalui mimpi
Juruselamat ‘kan lahir dari perawan, seperti nubuat para nabi
Percaya penuh dan taat pada perintah Ilahi
Ia pun bangun dan mengambil Maria sebagai isteri

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Maukah kamu juga percaya dan taat pada-Nya?

Baca: Matius 1:18-25

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm

Seri Lukisan Natal: Sebuah Pemberitahuan yang Tidak Terduga

lukisan-natal-warungsatekamu-maria

Karena Sang Bayi, Maria berjumpa utusan surgawi
Ia ‘kan mengandung Anak Kudus dari Allah yang Mahatinggi
“Tiada yang mustahil bagi Allah,” sang perawan takjub berserah
“Jadilah padaku menurut sabda-Nya.”

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Apakah kamu pun takjub berserah saat mengenal-Nya?

Baca: Lukas 1:26-38

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm

Masih Adakah Harapan di Tengah Dunia yang Bertikai?

Penulis: Joanna Hor
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: After Such Horrific Attacks, What Hope Is There?

Masih-Adakah-Harapan

Sulit untuk mengikuti semua berita yang beredar tentang Paris, Beirut, terorisme, dan situasi dunia kita sepanjang minggu ini. Ada begitu banyak pandangan yang terlontar, ada begitu banyak emosi yang terlibat. Namun, serangkaian serangan mengerikan yang belum lama ini terjadi menunjukkan sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkal: setiap kita bisa saja mengalami hal yang sama.

Tidak ada orang yang kebal, tidak ada orang yang bisa memastikan diri akan selalu selamat. Serangan di Prancis baru-baru ini—salah satu tragedi terburuk yang dialami negara tersebut setelah Perang Dunia kedua—mengingatkan kita (lagi) betapa aksi terorisme dapat terjadi di mana saja, kapan saja. Sejak peristiwa yang menimpa Amerika pada 11 September 2001, banyak negara sudah dicekam rasa takut kalau-kalau negara mereka akan mendapat giliran berikutnya.

Tragedi yang menimpa kota Paris jelas membuat banyak negara kembali mengevaluasi dan memikirkan tanggapan yang tepat terhadap ancaman terorisme. Banyak yang bertanya: Adakah suatu cara yang efektif untuk meniadakan ancaman ini sekali untuk selamanya? Bagaimana caranya agar kita tak lagi hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan?

Namun, bagaimana bila terorisme tidak bisa dihilangkan sama sekali? Bagaimana bila solusi untuk masalah kejahatan dan penderitaan tidak pernah dapat ditemukan? Bagaimana bila tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat dunia kita menjadi tempat tinggal yang lebih baik dan lebih aman? Jejak sejarah menunjukkan kemungkinan ini. Kekejaman masih terjadi setiap hari, manusia saling membunuh karena perbedaan ras, budaya, dan agama. Beberapa hari lalu, dilaporkan dalam berita bahwa kejatuhan pesawat Rusia pada akhir Oktober benar disebabkan oleh aksi teroris.

Masih adakah harapan yang tersisa di tengah situasi dunia yang demikian? Kemungkinan kita tidak akan pernah menemukan jawabannya dari diri kita sendiri. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Mungkin kita perlu mulai melihat melampaui diri kita dan memandang kepada Pribadi yang memegang kendali atas dunia ini, sekalipun kita tidak sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Inilah saatnya kita perlu datang kepada Tuhan.

Ambillah waktu untuk berdoa—mohon damai dan penghiburan sejati dari Tuhan sendiri bagi mereka yang sedang berduka. Berdoalah agar keadilan-Nya ditegakkan. Mintalah Tuhan memberi hikmat kepada para pemimpin dunia dalam menetapkan kebijakan-kebijakan yang harus diambil.

Mengapa? Karena Tuhan tahu persis apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita rasakan. Dia mengerti duka dan kemarahan mereka yang kehilangan orang-orang terkasih, baik akibat serangan bom atau tembakan senjata. Dia memahami rasa tidak berdaya yang menyelimuti kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi korban serangan teroris. Dia tahu seperti apa penderitaan fisik dan mental yang dialami para sandera dan kecemasan yang dirasakan keluarga mereka.

Tuhan tahu karena Dia sendiri telah tinggal di tengah manusia dan melalui semua kesulitan itu. Dalam kitab Roma, rasul Paulus menguatkan sekelompok jemaat yang sedang mengalami penganiayaan besar karena apa yang mereka imani. Paulus mengingatkan mereka pada kuasa kasih Kristus.

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
— Roma 8:35-39

Kemungkinan kita tidak akan bisa melihat terorisme dan kekejaman berakhir, setidaknya di dalam kehidupan kita di dunia ini. Tetapi, kita bisa yakin akan satu hal: Kristus tidak akan pernah meninggalkan kita, di dalam masa-masa sulit, penderitaan, bahkan dalam kematian.

Sembari terus merenungkan berbagai tragedi yang terjadi belakangan ini, mari mempersiapkan hati menyambut perayaan Natal dengan perspektif yang baru. Kita bersyukur Yesus telah datang ke dalam dunia, karena hanya di dalam Dialah kita dapat menemukan pengharapan, apa pun yang terjadi dalam hidup kita. Mari kita juga mengambil langkah untuk menyatakan kasih Allah kepada sesama dan membagikan pengharapan yang kita miliki di dalam Sang Juruselamat.

Apakah Kamu Merasa Gelas Merah Starbucks Merendahkan Natal?

Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Are You Seeing Red Over Starbucks’ Latest Cup?
Sumber Foto: The Christian Post/Napp Nazworth

gelas-merah-starbucks

Setidaknya ada satu orang yang merasa demikian. Dan ia mengungkapkan ketidaksenangannya dalam sebuah video yang diunggah di halaman Facebook pada tanggal 5 November. Video tersebut menyebar luas dengan sangat cepat.

Dalam video berdurasi satu menit lebih yang ditonton lebih dari 15 juta kali itu, Joshua Feuerstein, seorang Amerika yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “evangelist” [penginjil], dengan berapi-api bicara tentang gelas musiman Starbucks yang belum lama ini keluar. Menurutnya, gelas berwarna merah polos itu merupakan sebuah usaha untuk “menyingkirkan Kristus dan Natal dari gelas terbaru mereka”.

Ya, kamu tidak salah baca. Menurutnya, gelas berwarna merah polos yang dikeluarkan Starbucks itu merupakan sebuah serangan terhadap Kristus, orang Kristen, dan perayaan Natal. Tidak peduli bahwa pihak Starbucks sudah memberi keterangan bahwa desain gelas mereka tahun ini sengaja dibuat polos sebagai “ruang bagi setiap pelanggan untuk membuat cerita mereka sendiri”. Tidak peduli bahwa sebenarnya desain-desain gelas Starbucks di musim Natal sebelumnya juga tidak ada kaitannya dengan kelahiran Kristus (hanya menampilkan ornamen kertas kado, boneka salju, Santa, dan ranting tanaman holly). Tidak peduli bahwa yang dipermasalahkan hanyalah sebuah gelas belaka. Feuerstein tidak peduli dengan semua itu.

Tampaknya bagi Feuerstein semua itu tidak penting karena menurutnya orang-orang Kristen memiliki hak sekaligus kewajiban untuk meninggikan Kristus kapan pun dan dalam cara apa pun. Pendapat yang sepertinya benar … tetapi coba pikirkan beberapa pertanyaan berikut:

1. Mengapa kita harus berharap bahwa sebuah perusahaan yang tidak pernah merayakan kelahiran Kristus akan menampilkan simbol-simbol kelahiran-Nya?

2. Apakah usaha “memaksa” Starbucks menunjukkan peristiwa Natal dan pribadi Yesus dalam gelasnya akan membawa orang lebih mengenal dan menghargai Yesus Kristus?

3. Tidakkah kehebohan hanya karena sebuah gelas berwarna merah polos justru bisa menyebabkan orang menganggap remeh ajaran Kristen dan menjauh dari Yesus?

Sebagai umat Kristen, kita tahu bahwa makna sejati perayaan Natal terletak pada pribadi Yesus Kristus, yang telah datang ke dalam dunia untuk tinggal di antara manusia, dan pada akhirnya mati di atas salib agar kita dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Namun, kita tidak akan dapat memberitakan kebenaran ini hanya dengan memaksa orang lain atau perusahaan-perusahaan seperti Starbucks untuk menampilkan apa yang kita yakini. Kita perlu lebih peduli tentang bagaimana mengarahkan orang mengenal Kristus daripada meributkan soal ornamen perayaan.

Dan, cara terbaik merayakan Natal bukanlah dengan menampilkan berbagai simbol untuk dilihat orang, tetapi dengan hidup bagi Yesus dan membagikan kasih-Nya setiap hari. Dengan begitu, kita dapat menginspirasi dan membawa orang lain menjalani hidup yang sama.

Daripada meributkan tentang gelas merah Starbucks, kita bisa melakukan sesuatu yang positif dengan sebuah gelas. Menjelang perayaan Natal tahun ini, ayo luangkan waktu untuk mengajak seorang teman menikmati kopi atau minuman lain (dalam gelas warna apa pun), dan ceritakanlah kepadanya tentang kasih Kristus yang telah mengubah hidupmu.

Surat untuk Sahabat Sejatiku

Oleh: Alvin P.F. Kapitan

Sahabat Sejatiku

Tuhan Yesus yang terkasih,

Maafkanlah aku. Telah lama aku tidak menyapa-Mu lewat doa. Telah lama aku tidak bersaat teduh dengan-Mu, merenungkan firman-Mu, dan bersukacita bersama-Mu lewat pujian. Rasanya waktu yang kumiliki begitu sedikit dan tak cukup untuk kusediakan bagi-Mu.

Akan tetapi, aku kemudian menyadari, sebenarnya waktu yang kumiliki selalu sama. Yang berbeda adalah bagaimana aku menggunakannya. Saat kuingat-ingat lagi, ternyata kebanyakan waktu itu kuhabiskan untuk nonton, sms-an, facebook-an, dan bersenang-senang dengan teman-temanku. Engkau tidak lagi menjadi yang utama, tidak lagi menjadi pusat hidupku.

Tuhan Yesus yang menyebutku “sahabat”,

Kasihanilah aku. Engkau tahu betapa hatiku lemah dan mudah berpaling dari-Mu. Kebaikan-kebaikan-Mu begitu mudah kulupakan. Kesabaran-Mu kerap kupandang ringan. Engkau yang berkuasa atas segala sesuatu berkenan menjadikanku “sahabat”, sungguh suatu kehormatan besar! Aku bangga, aku senang, aku ingin selalu dikenal sebagai sahabat-Mu, namun dengan malu harus kuakui, sikapku lebih sering tidak mencerminkan sebutan itu.

Tuhan Yesus yang pengasih,

Berkenanlah menerimaku kembali. Engkau tahu betapa aku merindukan sosok sahabat sejati. Aku mendamba sosok yang bisa mendengar semua curahan hatiku, yang menerimaku apa adanya, dan memberiku rasa aman senantiasa. Aku mencarinya ke mana-mana tanpa hasil, hingga lelah hatiku dan hancur jiwaku. Lalu Roh Kudus mengingatkanku akan Engkau, Sahabat terbaik yang sesungguhnya.

Tuhan Yesus, Sahabat sejatiku,

Terima kasih atas kasih-Mu yang luar biasa. Sempat ku takut akan ditolak oleh-Mu, namun Engkau justru mengundangku datang kepada-Mu, mencurahkan segenap isi hatiku. Engkau mengundangku untuk menyerahkan segala beban hidupku dan menerima kelegaan dari-Mu. Engkau meyakinkanku bahwa ketika aku datang mengakui segala kesalahanku, Engkau sedia mengampuni dan menyucikanku. Tolongku untuk belajar bijak memakai waktu yang Kau beri, dan menempatkan-Mu sebagai yang terutama dalam hidupku. Engkau Tuhan dan Rajaku, Engkau Sahabatku. Aku ingin hidup menyenangkan-Mu, selamanya.

Yohanes 15:15; Mazmur 62:9; Matius 11:28; 1 Yohanes 1:9

Nama Itu

Kamis, 21 November 2013

Nama Itu

Baca: Filipi 2:5-11

Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. —Filipi 2:9

Setelah mengunjungi kami di Grand Rapids, Michigan, Maggie, cucu perempuan kami yang masih kecil, pulang bersama keluarganya ke Missouri. Ibunya menceritakan kepada kami bahwa selama beberapa hari setelah tiba di rumah mereka, Maggie suka berjalan mengelilingi rumah dengan gembira sambil berseru, “Michigan! Michigan!”

Ada sesuatu tentang nama Michigan itu yang menarik bagi Maggie. Mungkin saja cara pengucapannya yang lucu baginya. Mungkin juga ia teringat pada saat-saat menyenangkan yang dialaminya di sana. Sulit untuk mengetahui alasan dari seorang anak yang masih berusia 1 tahun, tetapi nama “Michigan” telah memberi dampak sedemikian rupa pada Maggie, sehingga ia tidak dapat berhenti mengucapkannya.

Hal ini membuat saya terpikir tentang satu nama lain, yakni nama Yesus, “nama di atas segala nama” (Flp. 2:9). Sebuah lagu yang diciptakan oleh Bill dan Gloria Gaither mengingatkan kita betapa kita begitu mencintai nama itu. Yesus adalah Sang “Tuan” dan “Juruselamat”. Sungguh betapa dalamnya makna yang terkandung di dalam nama-nama yang menggambarkan Tuhan kita itu! Ketika kita menyebut nama Yesus yang agung itu kepada mereka yang membutuhkan Dia sebagai Juruselamat, kita dapat mengingatkan mereka tentang apa yang telah diperbuat-Nya bagi kita.

Yesus adalah Juruselamat kita. Dia telah menebus kita dengan darah-Nya, dan kita dapat memberikan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Yesus. Biarlah seluruh surga dan bumi—termasuk kita juga—mengumandangkan nama-Nya yang mulia! —JDB

Yesus, Yesus, Yesus;
Sungguh indah nama itu!
Sang Tuan, Juruselamat, Yesus,
Semerbak nama-Nya tersebar. —Gaither

Yesus adalah nama yang paling mulia.

Batu Karang

Sabtu, 9 November 2013

Batu Karang

Baca: Matius 7:24-27; Efesus 2:18-22

Kristus Yesus [adalah] batu penjuru. —Efesus 2:20

Dalam suatu perjananan ke Massachusetts, saya dan suami mengunjungi Plymouth Rock, suatu simbol yang penting bagi Amerika Serikat. Menurut tradisi, batu karang ini dikenang sebagai tempat para pengembara menginjakkan kaki pertama kalinya di tanah Amerika setelah berlayar dengan kapal Mayflower pada tahun 1620. Walaupun kami senang mendengar penjelasan tentang makna penting dari tempat itu, kami merasa terkejut dan kecewa karena melihat ukurannya yang sangat kecil. Kami diberi tahu bahwa karena erosi dan orang-orang yang mengikis permukaannya, besarnya batu karang itu sekarang hanya tinggal sepertiga dari ukurannya yang semula.

Alkitab menyebut Yesus sebagai Batu Karang (1Kor. 10:4), yang tidak pernah berubah (Ibr. 13:8). Dialah Batu Karang teguh yang menjadi dasar untuk membangun hidup kita. Gereja (persekutuan orang percaya) dibangun di atas dasar “Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” Di dalam Dia, semua orang percaya disatukan (Ef. 2:20-22).

Yesus adalah Batu Karang yang teguh, tempat kita dapat bersandar pada saat badai kehidupan menerpa dan menghempaskan kita (Mat. 7:25). Seorang penulis bernama Madeleine L’Engle berkata, “Sesekali ada baiknya semua hal yang kita andalkan direnggut dari kita. Kita akan dapat merasakan apakah kita memang berdiri di atas batu yang kokoh atau justru pasir yang rapuh.”

Plymouth Rock adalah bongkahan mineral yang menarik dengan makna sejarah yang memikat. Akan tetapi, Yesus adalah batu penjuru yang sangat mulia, dan orang-orang yang percaya kepada-Nya selalu dapat berharap kepada-Nya, Sang Batu Karang yang teguh. —CHK

Bangunlah di atas Batu Karang yang teguh,
Landasan yang terjamin dan sejati,
Pengharapannya akan kekal selamanya—
Harapan akan keselamatan kita. —Belden

Kristus, Sang Batu Karang, adalah pengharapan kita yang pasti.