Posts

Kisah Raja dan Penjual Beras

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Cerita-cerita tentang relasi antara raja dan rakyat biasa nampaknya bukanlah cerita yang terlalu asing di telinga kita. Ada cerita-cerita rakyat yang banyak bertutur tentang ini. Lalu, jika kita membuka Alkitab, di sana pun terdapat beberapa ilustrasi yang menggambarkan relasi antara seorang raja dengan orang-orang biasa.

Menjelang momen Natal kali ini, aku teringat akan sebuah cerita pernah kudengar ketika aku masih tinggal di Yogyakarta dulu. Cerita ini adalah kisah nyata yang pernah terjadi puluhan tahun silam, sebuah cerita sederhana yang menggetarkan sekaligus menggelitik hati. Mari kuceritakan cerita ini untukmu.

Dulu, di kaki gunung Merapi, tepatnya di daerah Kaliurang, terdapat seorang simbok penjual beras yang setiap harinya berjualan di pasar Kranggan, kota Yogyakarta. Suatu pagi, dia berdiri di tepi jalan menanti kendaraan jip yang hendak menuju ke kota. Dari kejauhan dia melihat ada sebuah mobil jip yang sedang bergerak ke selatan,kemudian tangannya melambai-lambai dan mobil itu pun berhenti. Simbok ini memang sudah biasa menumpang kendaraan jip yang datang dari arah utara ke selatan, dan pulangnya pun dia selalu kembali menumpang jip yang bertolak ke arah utara.

Mobil jip itu berhenti tepat di depan simbok. Seperti biasanya, simbok itu meminta sang supir untuk mengangkat beras bawaannya yang entah jumlahnya berapa karung. Supir itu menurut. Semua karung beras dinaikkannya di bagian belakang mobil jip, kemudian mereka meluncur menuju selatan.

Setibanya di pasar yang dituju, supir itu kembali membantu simbok untuk menurunkan semua karung beras yang diangkut di atas jip. Setelah semua karung beras selesai diturunkan, simbok ini memberikan uang sebagai upah atas bantuan supir. Akan tetapi, dengan sopan, supir tersebut menolak pemberian uang dan mengembalikannya kepada simbok. Karena uangnya dikembalikan, simbok malah jadi marah-marah dan mengira bahwa supir ini meminta uang dengan jumlah yang lebih banyak. Simbok membanding-bandingkan supir ini dengan supir lainnya yang biasanya menerima uang pemberian simbok. Tanpa membalas ocehan simbok, supir ini menjalankan jipnya dan meninggalkan pasar.

Setelah jip tersebut hilang dari pandangan mata, seorang polisi yang kebetulan sedang berada di pasar menghampiri simbok itu dan bertanya. “Apakah mbakyu tahu siapa supir tadi?” Masih dalam suasana hati yang kesal, simbok itu menjawab, “Supir ya supir. Habis perkara! Saya tidak perlu tahu namanya. Memang supir yang satu ini agak aneh.” Polisi itu menanggapi simbok, “Kalau mbakyu belum tahu, akan saya kasih tahu. Supir tadi adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX, raja di Ngayogyakarta ini.” Saat itu juga simbok tadi pingsan dan jatuh ke tanah. Dia amat menyesali tindakannya yang tidak hormat terhadap supir jip yang sesungguhnya adalah rajanya.

Cerita tentang seorang raja yang mengambil rupa sebagai rakyat biasa memang menjadi kisah yang menggugah hati. Rasanya ada sebuah sukacita dan harapan yang kembali hidup. Bagi orang biasa seperti kita, tentu adalah suatu kehormatan dan sukacita yang besar apabila ada “Raja” yang kedudukannya jauh lebih tinggi daripada kita sudi untuk hadir di tengah-tengah kita. Sebagai orang biasa, kita memiliki jarak yang sangat jauh dalam relasi kita dengan sang “Raja”. Kita ada di tempat yang rendah, sedangkan sang “Raja” ada di tempat yang mahatinggi. Namun, hati kita takjub bergetar manakala sang Raja yang dari tempat tinggi tersebut sudi melawat dan hadir secara nyata di tengah-tengah kita yang sejatinya ada di tempat yang rendah.

Inilah yang sejatinya terjadi pada hari Natal. Hari yang kita peringati di 25 Desember nanti, sesungguhnya bukanlah hari yang berbicara tentang gemerlap lampu, diskon belanja, ataupun tentang liburan panjang. Natal adalah hari peringatan yang seharusnya kembali mengingatkan kita akan keberdosaan dan ketidakberdayaan kita hingga Allah datang ke dunia untuk menyelamatkan kita.

“Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:5-7).

“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28).

Kristus yang adalah Raja, sudi datang ke dunia, hadir secara nyata di tengah-tengah kumpulan manusia berdosa yang tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Kedatangan Kristus memberikan kita jaminan akan tersedianya tempat untuk kita bersama-sama dengan Bapa di surga kelak.

Baca Juga:

Tuhan Mampu, Tapi Mengapa Dia Tidak Melakukannya?

Sebagai seorang atlet bulutangkis, aku berlatih sekuat tenaga untuk mengikuti kompetisi di Singapore Open. Namun, betapa kecewanya aku ketika menjelang hari pertandingan, aku gagal berangkat. Aku bertanya, “Tuhan, aku tahu Tuhan bisa meloloskan aku, tapi mengapa Tuhan tidak melakukan itu?”

Jangan Melompat, Masih Ada Harapan!

jangan-melompat-masih-ada-harapan

Oleh Leslie Koh, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Please Don’t Jump, There’s Hope

Hari itu, aku baru saja bersiap akan berangkat kerja ketika seorang polisi datang dan mengetuk pintu kamar apartemenku. “Permisi, apakah kamu mengenal seorang wanita tua yang tinggal di lantai ini?”

Di belakang tempat polisi itu berdiri, ada sebuah kursi yang berada persis di sebelah pagar pembatas apartemen. Setahuku, kursi itu bukanlah kursi milik tetanggaku. Saat aku mengamati keadaan, aku melihat beberapa polisi telah hadir dan mereka membentangkan garis pembatas di sepanjang koridor lantai apartemenku. Melihat peristiwa itu, rasanya tidak sulit bagiku untuk menebak apa yang sedang terjadi. Di tahun-tahun yang lalu, apartemen tempat tinggalku adalah tempat yang populer untuk orang-orang bunuh diri karena dulu jarang ada gedung lain yang setinggi apartemenku.

“Sebenarnya, kebanyakan penghuni apartemen di sini sudah lansia,” jawabku kepada polisi. Kemudian aku teringat akan tetangga di sebelahku. Kulirikkan mataku ke arah jendelanya yang hanya berjarak 60 sentimeter dari tempatku berdiri. Melihat mataku terarah ke jendela, polisi itu pun mengikuti apa yang kulakukan, kemudian dia mengangguk dan berkata, “Tetanggamu ada di dalam kamarnya.” Aku pun merasa lega.

Kemudian, aku jadi teringat lagi tentang tetanggaku yang lain. Seorang yang tinggal beberapa kamar dari tempatku sebenarnya sedang mengalami depresi berat karena cacat yang dialaminya. Aku melirik ke arah kamarnya dan melihat pintu telah terbuka. Polisi-polisi yang datang terus menyusuri koridor dan mengetuk setiap pintu-pintu kamar. Aku melihat bayangan tangan tetanggaku itu, dan hatiku pun lega karena aku tahu dia sedang baik-baik saja.

Polisi yang berbicara denganku tadi kemudian bertanya kepadaku apakah aku keberatan untuk melihat foto wajah wanita tua itu. Dia ingin mengetahui apakah aku mengenal wanita itu atau tidak, namun setelah aku melihat fotonya, ternyata aku tidak mengenalnya sama sekali.

Wanita tua itu mungkin tidak tinggal di apartemen ini. Mungkin saja dia tinggal di apartemen lain, dan sepertinya dia sudah merencanakan tindakan bunuh diri. Kursi yang kulihat itu mungkin saja adalah kursi yang dia bawa sendiri ke lantai 10 di gedung apartemenku, kemudian, di ujung koridor yang sepi ini dia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat. Apartemenku adalah wilayah yang paling sepi di daerah ini, sehingga aksi bunuh diri yang dilakukan wanita itu tidak terelakkan karena tidak ada orang lain yang melihatnya.

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membantu polisi itu. Aku pun melangkah keluar kamar dan pergi bekerja. Tapi, aku sempat melirik sejenak pagar pembatas itu. Tepat 10 lantai di bawah pagar, aku dapat melihat jenazah sang wanita tua itu tergeletak dan telah dibungkus dengan kain.

Aku berpamitan dengan polisi itu, berjalan melewati garis pembatas dan bergegas menuju lift. Sambil melangkah keluar, aku merasakan kesedihan di hati. Aku tidak mengenal siapa wanita tua itu, namun aku merasakan kesedihan mendalam. Tidaklah sulit untuk menebak alasan mengapa di apartemen yang banyak dihuni lansia ini ada seorang wanita tua memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat.

Mungkin dia hidup sebatang kara dan tak memiliki keluarga. Atau, jika dia memiliki keluarga, mungkin saja tidak tidak akrab dan merasa terbuang. Mungkin dia mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Mungkin dia merasa bahwa tidak ada lagi alasan baginya untuk terus hidup. Hidup tanpa kasih, tanpa tujuan, hanya ada rasa kesepian dan hidup yang hampa. Tidak ada lagi yang tersisa selain dari rasa putus asa.

Tidak ada lagi alasan untuk terus hidup. Tidak ada harapan.

Memilih kematian seolah menjadi satu-satunya jalan keluar. Satu-satunya sumber kelegaan.

Kalau saja aku dan istriku ada di luar kamar saat wanita tua itu hendak bunuh diri, maka bisa saja kami menghentikan aksi nekatnya itu. Jika saja ada seseorang yang memiliki kesempatan untuk memberitahu wanita itu: Jangan melompat! Harapan masih ada.

Harapan. Terkadang hanya harapanlah yang menjadi satu-satunya alasan bagi seseorang untuk terus melanjutkan hidupnya.

Ketika kamu kehilangan segalanya, dan seolah tidak ada masa depan lagi dalam hidupmu. Ketika semua hal tidak berjalan baik, dan juga seakan tidak mungkin membaik.

Apakah yang akan menghentikan kita untuk memilih jalan pintas? Apakah yang akan menghentikan kita untuk pergi ke lantai tertinggi sebuah gedung atau meminum obat sampai over dosis?

Harapan. Harapan bahwa suatu saat, entah bagaimana caranya, sesuatu akan membaik. Ada harapan di tengah rasa kesepian, ada seseorang di luar sana yang masih peduli kepada kita dan berkata, “Kamu sangat berarti bagiku. Jangan pergi, aku membutuhkanmu di dalam hidupku.” Masih ada harapan, sekalipun itu di tengah rasa keputusasaan. Seseorang akan datang mengulurkan tangannya, memberikan sebuah pelukan dan ia berkata, “Jangan khawatir, karena aku ada bersamamu. Aku akan berjalan bersamamu.”

Hanya ada satu Pribadi yang dapat memberikan kita harapan. Hanya ada satu Pribadi yang berjanji kepada kita bahwa Dia akan selalu ada di setiap langkah kita. Hanya ada satu Pribadi yang dapat memegang janji itu, karena Dia selalu bersedia mendengarkan kita. Hanya ada satu Pribadi yang tidak akan pernah mengecewakan kita. Hanya ada satu Pribadi yang dapat berkata kepada kita dengan penuh kepastian, “Jangan khawatir, Aku memiliki kuasa. Aku tahu bagaimana keadaanmu, dan Aku tahu apa yang harus diperbuat. Aku tahu apa yang kamu butuhkan.”

Pribadi itu adalah Yesus. Dia pernah hidup sebagai manusia biasa, Dia sangat tahu apa yang sesungguhnya kita rasakan. Kesedihan, kesepian, keputusasaan yang kita rasakan. Sebagai Anak Allah, Dia memiliki kuasa ilahi untuk mengatasi tiap situasi yang kita hadapi. Dia mengetahui bagaimana cara mendukung dan menghibur kita, dan Dia dapat memberikannya bagi kita.

Sebagian dari kita mungkin masih tetap harus menghadapi situasi yang sulit, namun kita memiliki sebuah jaminan pasti bahwa Dia akan berjalan bersama kita setiap hari, setiap jam, setiap menit. Dan yang paling penting di atas semuanya adalah, kita dapat terus melanjutkan hidup ini karena kita tahu Yesus mengasihi kita. Bagi Yesus, aku begitu berharga hingga Dia rela mati untuk menyelamatkanku. Dia memiliki tujuan untukku. Dia menempatkanku di dunia untuk suatu alasan. Dia mau aku hidup bagi-Nya.

Ketika seolah tidak ada lagi alasan untuk tetap hidup, ketika kita telah kehilangan segalanya, kita masih memiliki satu hal. Yesus memberi kita harapan. Harapan untuk hidup. Harapan untuk tetap percaya.

Jika saat ini kamu merasa putus asa, jika kamu ingin menyerah di dalam hidup ini, jika kamu telah mengambil sebuah kursi dan berjalan menuju lantai tertinggi, berhentilah. Aku mohon, berhentilah. Masih ada satu Pribadi yang mengasihimu. Yesus teramat sangat mengasihimu.

Baca Juga:

Mengapa Mission Trip Tidak Selalu jadi Program yang Tepat?

Pernahkah kamu mengikuti mission trip yang diadakan oleh gerejamu? Pada kenyataannya, kegiatan perjalanan misi yang nampak menyenangkan ini tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Mengapa demikian?

Ketika Peristiwa Nyaris Celaka Mengubahkan Pandanganku Tentang Kehidupan

Ketika-Peristiwa-Nyaris-Celaka-Mengubahkan-Pandanganku-tentang-Kehidupan

Oleh Lydia Tan, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How (A Close Encounter With) Death Shaped My Perspective On Life

Pernahkah terpikir olehmu kapan kamu akan menghembuskan nafasmu yang terakhir?

Beberapa minggu yang lalu, aku hampir saja harus menghembuskan nafas terakhirku. Waktu itu aku sedang berdiri di atas trotoar di pinggir jalan ketika seseorang mengemudikan mobilnya secara ugal-ugalan dan nyaris menabrakku. Mobil itu hampir menaiki pembatas jalan dan hanya berjarak beberapa inci dariku.

Peristiwa yang hampir saja merenggut nyawaku itu sungguh membuatku kaget—namun di saat yang sama aku juga bersukacita karena aku masih hidup dan aku bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan-Nya. Sepanjang malam itu aku tidak bisa tidur, aku merenung tentang hidup dan apa yang benar-benar berarti bagiku. Manusia itu lucu, biasanya kita baru akan menghargai dan berpikir lebih mendalam tentang hidup ini ketika kematian mendekat.

Kematian.

Apa yang membuat kematian menakutkan bagi kita? Apakah karena itu sebuah akhir? Apakah karena itu tak terelakkan? Apakah karena itu tak terprediksi? Kematian adalah sebuah interupsi yang kasar, menghalangi kita mencapai berbagai mimpi, harapan, dan ambisi kita. Kematian adalah ibarat tamu yang tak diinginkan.

Bagi banyak orang, kematian adalah sesuatu yang tabu dan jarang dibicarakan atau dipikirkan, seolah-olah menyebutkan kata itu dapat mengundangnya untuk datang. Tapi, menghindari bicara tentang kematian itu bukanlah jawaban; kematian itu tak terelakkan.

Aku teringat kembali akan kenyataan akan kematian ketika aku bercakap-cakap dengan ibuku beberapa waktu lalu. Ibuku bercerita tentang apa yang terjadi kepada bibinya. Ketika aku mengunjungi bibi ibuku yang tinggal di luar negeri ini, aku kagum melihat suaminya yang begitu memperhatikan dia dengan luar biasa dan selalu berusaha memenuhi kebutuhannya. “Betapa terberkati hidupnya, memiliki seorang suami yang penuh kasih, begitu lemah lembut dan manis!” begitu pikirku. Namun, sebuah tragedi terjadi seminggu sebelum hari pernikahan anak mereka—suami bibi ibuku meninggal secara mendadak karena serangan jantung.

Dapatkah kamu bayangkan mereka harus mempersiapkan acara pernikahan dan pemakaman dalam waktu yang bersamaan? Aku tidak dapat membayangkan rasa duka dan kekalutan yang harus dihadapi oleh bibi ibuku dan keluarganya. Tapi, kenyataannya setiap hari banyak orang di seluruh dunia harus menghadapi kematian seperti ini.

Tragedi itu membuatku berpikir: Ketika kematian datang mendekat, kepada siapakah kita dapat berpaling? Bagaimana caranya kita menemukan harapan di tengah rasa takut dan duka? Alkitab memberi kita jawabannya: berpalinglah kepada Allah, penolong kita dan satu-satunya sumber keselamatan kita (Mazmur 42:6). Di tengah ketidakpastian hidup dan marabahaya, Allah adalah satu-satunya Jangkar kita yang teguh, Gunung Batu kita yang kuat, tempat kita berlindung (Mazmur 18:3).

Tapi, bagaimana itu mempengaruhi cara kita hidup? Sebagai orang Kristen, bagaimana seharusnya kita memandang kehidupan dari kacamata kekekalan? Lagi, Alkitab memberi kita beberapa jawabannya. Di satu sisi, Alkitab berkata bahwa hidup ini sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4:14). Di sisi lain, Alkitab juga mengingatkan kita bahwa meskipun hidup ini hanya sementara, hidup kita sangat berharga karena Tuhan yang menjadikan kita berharga. Dalam Matius 16:26, Yesus memberitahu kita bahwa nyawa kita jauh lebih berharga daripada seluruh dunia.

Ketika kita mengetahui betapa berharganya hidup kita, kita dapat menghargai hidup ini dan hidup seperti apa yang Pencipta kita inginkan—“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Itu berarti kita harus menggunakan waktu yang telah Tuhan berikan kepada kita sebaik mungkin bagi-Nya.

Apakah kamu pernah berpikir untuk menulis sebuah surat untuk menguatkan temanmu? Tulislah sekarang. Apakah kamu pernah berpikir untuk memperhatikan temanmu dan bertemu dengan mereka? Buatlah janji temu itu. Apakah kamu ingin orang yang kamu kasihi tahu bahwa kamu benar-benar mengasihi mereka? Jangan tunda lagi: beritahu mereka sekarang betapa kamu mengasihi mereka. Apakah kamu pernah mengabaikan apa yang Tuhan telah letakkan di dalam hatimu? Kejarlah itu dan mintalah kekuatan dari Tuhan agar kamu dapat melakukannya hingga selesai. Kamu tak pernah tahu apakah kesempatan itu akan datang lagi nanti.

Bagiku, pengalamanku selamat dari tabrakan sebuah mobil adalah sebuah pengingat bahwa tugasku di bumi ini belumlah selesai. Dalam beberapa bulan mendatang, aku akan bergabung dalam sebuah pekerjaan misi di luar negeriku, dan aku pun diyakinkan bahwa tiada sesuatu pun yang akan terjadi padaku kecuali Tuhan mengizinkannya (Roma 14:8).

Marilah kita hidup dengan melihat dari sudut pandang kekekalan, jadikan semua momen menjadi berarti untuk kekekalan. Mari belajar untuk mengucap syukur setiap hari kepada Tuhan atas anugerah-Nya yang menopang kita (yang seringkali tanpa kita sadari) dan hidupi hidup kita untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan yang layak menerima segala kemuliaan.

Seperti doa Musa, marilah kita juga meminta Tuhan untuk mengajari kita menghitung hari-hari kita sedemikian, hingga kita beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12).

Baca Juga:

Mengapa Aku Mengampuni Ayahku yang Adalah Seorang Penjudi

Aku pernah begitu membenci ayahku. Bagiku dia hanyalah seorang penjudi, munafik, dan sangat tidak layak disebut sebagai seorang ayah. Tetapi, karena suatu peristiwa yang tidak kusangka, aku belajar tentang apa arti mengampuni yang sesungguhnya.

Bagaimana Jika Kekristenan Adalah Sebuah Kebohongan?

Penulis: Leslie Koh
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: What If Christianity Was A Lie?

What-if-Christianity-Was-a-Lie-

Bertahun-tahun silam, seorang temanku pernah berkata, “Keberadaan Tuhan itu tergantung pada iman kita.”

Pada saat itu aku berpikir, wah, masuk akal. Ini pemikiran orang cerdas.

Pernyataan itu memang ada benarnya. Tampaknya sangat logis: jika suatu hari aku memilih untuk tidak lagi mempercayai Tuhan, tidak akan ada lagi yang namanya Tuhan dalam hidupku. Dia akan segera lenyap. Kehidupan akan berjalan seperti biasa. Bahkan, aku mungkin akan bertanya: Apa bedanya hidup dengan atau tanpa Tuhan? (Jangan protes dulu sebelum selesai membaca).

Meski aku telah lama menjadi orang Kristen—aku dibesarkan dan dididik sebagai orang Kristen—harus kuakui bahwa adakalanya sejumlah pertanyaan mengusik hatiku: Bagaimana jika ternyata kekristenan adalah sebuah kebohongan? Bagaimana jika semua yang aku percayai ternyata terbukti tidak benar? Bagaimana jika ternyata Allah atau Yesus sesungguhnya tidak ada dan selama ini aku telah mempercayai omong kosong belaka? Bagaimana hal itu akan memengaruhi hidupku? Apa yang harus aku lakukan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku mulai berpikir bagaimana caranya menguji imanku sendiri. Perlu kutegaskan bahwa aku tidak lantas mencari sesama orang Kristen untuk memperdebatkan konsep-konsep teologis atau berusaha mencari tahu kebenaran iman Kristen—itu di luar kemampuanku! Yang aku lakukan adalah mencoba melihat apakah aku bisa meyakinkan diriku sendiri untuk melepas imanku.

Pada dasarnya aku bertanya pada diriku sendiri: Bagaimana aku bisa memastikan bahwa kekristenan telah membohongiku? Apa kerugiannya jika aku tidak lagi mempercayai Yesus?

1. Aku harus membuktikan bahwa Yesus adalah seorang pembohong

Mengapa? Karena Yesus terang-terangan berkata, Dialah satu-satunya jalan kepada Allah—jalan, dan kebenaran, dan hidup—dan setiap orang yang percaya kepada-Nya akan mendapatkan hidup yang kekal (Yohanes 14:6; 3:16). Dia tidak menyatakan diri sebagai seorang guru atau pemimpin agama yang hebat, tetapi sebagai Anak Allah. Dengan sangat jelas Dia berkata bahwa setiap orang yang tidak percaya kepada-Nya akan binasa.

Jika apa yang dikatakan Yesus itu benar, aku akan sangat bodoh untuk tidak mempercayainya. Sama seperti sedang mengabaikan seseorang yang menasihatiku untuk tidak melompat dari atas gedung karena adanya hukum gravitasi. Jika aku memutuskan untuk tidak mempercayai Yesus, aku harus bisa membuktikan bahwa pernyataan-Nya itu adalah sebuah kebohongan, sesuatu yang benar-benar menyesatkan. Tidak heran C.S. Lewis, seorang penulis terkenal, berkata bahwa Yesus bisa jadi adalah seorang pembohong, seorang yang gila, atau benar-benar Sang Anak Allah.

Tampaknya mudah—kita cukup menganggap Yesus sedang berbohong—namun faktanya, ada banyak saksi mata yang mendengar dan melihat sendiri berbagai klaim dan tindakan Yesus, termasuk orang-orang yang tidak percaya, para pemimpin Yahudi, penguasa Romawi, dan beberapa tokoh yang menentang-Nya. Tidak hanya itu, orang-orang yang mendengar-Nya memahami dengan jelas perkataan dan tindakan-Nya yang sangat konsisten, bahkan musuh-musuh-Nya memberi tanggapan yang sangat serius—begitu seriusnya sehingga mereka mau Dia dihukum mati.

Dengan kata lain, aku perlu mencari penjelasan untuk semua tanda dan mukjizat yang tercatat dilakukan Yesus, juga memastikan kebenaran catatan para saksi mata yang pernah melihat mukjizat itu—termasuk yang mengatakan bahwa Yesus bangkit dari kematian. Aku juga harus bertanya, mengapa ada begitu banyak orang yang sangat yakin dengan apa yang dikatakan dan diperbuat Yesus hingga mereka rela mati demi iman mereka. Apakah mereka telah melakukan kesalahan besar? Ataukah Yesus memang sedemikian meyakinkan sehingga musuh-musuh-Nya pun memberi tanggapan yang sangat serius?

2. Aku harus membuktikan bahwa Alkitab itu keliru

Aku bisa berusaha menjawab semua pertanyaanku tanpa menghiraukan Alkitab sedikit pun. Aku juga bisa mengabaikan semua ajaran Kristen yang didasarkan pada apa kata Alkitab tentang Yesus.

Namun, ada banyak catatan Alkitab yang sudah terbukti akurat dalam sejarah (meski ada juga yang masih mempertanyakannya). Catatan tentang para raja, tokoh-tokoh penting, dan peristiwa-peristiwa besar yang ada dalam Alkitab, juga diteguhkan oleh sumber-sumber non-Kristen. Tentu saja aku masih bisa berdalih bahwa hanya sebagian Alkitab yang bisa dipercaya atau akurat.

Masalah lainnya adalah pesan Alkitab yang begitu konsisten tentang Yesus. Dari kitab Kejadian hingga Wahyu, terdapat berbagai nubuatan tentang kedatangan Yesus dan laporan tentang apa yang terjadi ribuan tahun kemudian, sampai pada detail-detail terkecil, seperti di kota mana Dia akan dilahirkan. Dan yang mengejutkan, semua nubuatan itu digenapi.

Data-data tersebut bisa saja dianggap khayalan belaka bila Alkitab dikarang oleh seorang penulis cerita yang berusaha meyakinkan atau membingungkan para pembacanya. Namun, karena pada faktanya Alkitab ditulis oleh sekitar 40 orang dalam rentang waktu 1500 tahun, mau tidak mau kita harus bertanya, bagaimana bisa semua penulis itu begitu menyatu dan konsisten dalam pesan dan deskripsi mereka tentang Allah? Bila orang-orang ini berusaha membuat sebuah kebohongan besar tentu akan ada hal-hal yang sangat berlawanan dalam tulisan mereka, namun mengapa kontradiksi itu tidak bisa ditemukan?

Jika benar kekristenan adalah sebuah kebohongan, bagaimana bisa semua penulis ini—yang terdiri dari beragam orang, mulai dari para nabi, raja-raja, hingga para nelayan, dan hidup dalam generasi yang berbeda ratusan tahun—entah bagaimana berkonspirasi untuk memproduksi sebuah cerita yang konsisten?

3. Aku harus menganggap semua pengalamanku tidak penting

Jujur saja, aku tidak pernah secara pribadi melihat sebuah mukjizat yang dramatis atau penglihatan tentang Yesus. Namun, aku telah berulang kali mengalami kehadiran-Nya dalam hidupku. Aku telah melihat contoh-contoh spesifik dari pemeliharaan dan berkat-Nya dalam keluarga dan pekerjaanku. Bila kekristenan itu palsu, artinya semua yang telah kualami itu tidaklah nyata. Aku bisa saja menganggap beberapa kejadian luar biasa yang kualami itu sebagai kebetulan belaka, namun beberapa kejadian terlalu luar biasa untuk disebut sebuah kebetulan.

Aku harus mengabaikan penghiburan yang diberikan Tuhan di dalam momen-momen yang paling gelap dan menyedihkan. Anggap saja itu sekadar kehangatan aneh yang datang entah dari mana. Namun, karena aku adalah orang yang sangat menggunakan logika—bahkan bisa dibilang skeptis—aku sendiri akan sulit menerima penjelasan semacam itu. Apakah aku telah begitu hebatnya dikelabui atau telah berusaha meyakinkan diriku sendiri tentang sesuatu yang tidak nyata? Apakah aku telah menggunakan logika di semua aspek hidupku kecuali imanku?

Semua pengalaman pribadi yang membangun hubunganku dengan Yesus ini harus kuabaikan jika aku mau meyakinkan diriku bahwa kekristenan itu tidak benar. Bagi sebagian orang, iman Kristen berarti mempercayai seorang Sahabat yang tak terlihat, dan itulah yang aku alami. Aku telah mendengar suara Yesus, berbicara kepada-Nya (dan mendengar jawaban-Nya), juga menikmati penyertaan dan penghiburan-Nya. Akankah sekarang aku bisa berpura-pura bahwa hubungan ini sepenuhnya hanyalah produk imajinasiku?

Aku juga harus mencari alasan lain di balik perubahan hidup yang begitu besar (dan lebih baik) dari orang-orang yang aku kenal. Seorang gangster kejam kini menjadi pendeta yang penuh kepedulian terhadap sesama. Seorang tante menyebalkan kini menjadi seorang tante yang penuh kasih sayang. Seorang teman yang kasar kini menjadi sangat sangat santun. Mereka semua berubah setelah percaya kepada Yesus. Tentu saja orang bisa berubah karena niat mereka sendiri atau keinginan kuat untuk memulai lembaran baru. Tetapi, jika Yesus bukanlah Pribadi seperti yang dikatakan-Nya, sulit untuk memahami mengapa orang-orang ini bisa terdorong untuk berubah saat mengenal-Nya.

Tetapi, Kristus itu terlalu nyata …

Sebagian orang mungkin menganggap kekristenan sebagai salah satu agama dan menggambarkannya seperti sebuah kruk/penyangga untuk orang lemah. Sebagian orang lainnya mungkin menganggap kekristenan sebagai sebuah keyakinan pribadi atau cara hidup yang bisa membuat pandangan hidup seseorang menjadi lebih positif, tetapi tidak ada bukti atau dasar yang kuat bahwa yang diyakini itu benar-benar nyata. Menurut mereka, keberadaan Tuhan itu tergantung dari apa yang kita percayai.

Namun, setelah mempertanyakan imanku sendiri, aku akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa iman Kristen—setidaknya bagiku—memiliki dasar yang dapat dipercaya, baik menurut Alkitab maupun apa yang kualami secara pribadi. Aku percaya dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab, karena aku menilai yang kubaca itu benar, logis, dan faktual. Selain itu, aku juga mengingat semua yang telah aku alami secara pribadi. Dengan kata lain, aku percaya dengan segenap pikiran dan hatiku.

Bagiku, itu berarti bahwa keberadaan Tuhan tidaklah bergantung pada imanku. Entah aku memilih untuk mengikuti Dia atau tidak, Tuhan itu sungguh ada. Meminjam kembali contoh tentang hukum gravitasi di awal tulisanku, aku “percaya” pada hukum gravitasi bukan karena aku telah melihat akibat yang ditimbulkannya jika aku melompat dari atas sebuah gedung. Seandainya suatu hari aku memutuskan untuk menganggap hukum gravitasi sebagai sebuah kebohongan pun, pilihanku tidak akan mengubah kenyataan bahwa hukum gravitasi itu benar adanya dan mempengaruhi hidupku—bisa dipastikan aku akan jatuh jika nekat melompat dari atas gedung. Sama halnya dengan itu, aku sudah melihat cukup banyak bukti tentang keberadaan Yesus, sehingga aku yakin bahwa Yesus sungguh ada, dan keberadaan-Nya tidak bergantung pada keputusanku untuk mempercayai atau mengikuti Dia.

Bagaimana jika kekristenan adalah sebuah kebohongan? Apakah keberadaan Allah itu tergantung pada iman kita? Kamu bisa mencoba memberikan alasan-alasan untuk untuk membuktikannya, namun kupikir aku tidak akan pernah bisa mempercayainya. Yesus itu terlalu nyata untukku.

“Jika keliru, kekristenan itu sama sekali tidak penting, dan jika benar, kekristenan itu luar biasa pentingnya. Namun, kekristenan itu tidak mungkin hanya setengah penting.”—C. S. Lewis

GitaKaMu: Hadiah Paling Berharga

loop-919837_1920
Lagu ini lahir dari perenunganku pribadi. Setiap Natal tiba, aku sering sekali sibuk dengan berbagai kegiatan (mengisi acara di gereja, mengatur jadwal kumpul & tukar kado dengan sahabat, liburan bersama keluarga, dsb). Dalam semua kesibukan itu, makna Natal yang sesungguhnya kerap jadi terabaikan. Ada kesenangan sesaat, tetapi sebenarnya jauh di lubuk hati, aku tidak benar-benar merenungkan dan merasakan Natal yang sesungguhnya.

Sejak awal November, aku mulai banyak berdoa dan meminta Tuhan menyingkapkan arti Natal sesungguhnya. Aku rindu agar tahun ini aku bisa lebih memahami arti Natal yang sejati. Aku ingin lebih menghayati mengapa setiap tahun aku merayakan Natal. Inilah hasil perenunganku yang dituangkan lewat lagu.

Selamat Natal, kawan! Semoga kita semua bisa kembali memaknai Natal sebagaimana yang seharusnya. Tuhan Yesus memberkati! =)

 

Hadiah Paling Berharga
Kezia Christianty

Ketika dunia dalam gelap
Bapa di Surga pun berduka
Ketika dunia menuju maut kekal
Bapa di Surga pun rindu menyelamatkan
Karena itu lahirlah Yesus ke dunia

Kelahiran-Mu, Yesus,
menerangi dunia
Kelahiran-Mu, Yesus,
memberi harapan baru
Kelahiran-Mu, Yesus,
menyelamatkan hidupku

Yesus
KAU-lah hadiah paling berharga
di dalam hidupku

Seri Lukisan Natal: Sebuah Tempat Bersalin yang Sederhana

lukisan-natal-warungsatekamu-bayi-yesus

Karena Sang Bayi, penduduk dunia serentak mendaftarkan diri
Demi terlahir Mesias di Betlehem, kota Daud yang terpuji
Yusuf dan Maria pun pergi dengan rela hati
Tak ada kamar, palungan pun jadi

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Relakah kamu juga hidup bagi Dia, apa pun risikonya?

Baca: Lukas 2:1-7

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm

Seri Lukisan Natal: Sebuah Ancaman bagi Raja Herodes

lukisan-natal-warungsatekamu-herodes

Karena Sang Bayi, raja Herodes lepas kendali
Anak itu akan memimpin umat Allah, menurut para nabi
Tak ingin hilang kuasa, ia membunuh para bayi
Betlehem pun dilanda duka yang tak terperi

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Maukah kamu menyerahkan kendali hidupmu kepada-Nya?

Baca: Matius 2:16-18

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm

Mengapa Natal Tidak Masuk Akal

Penulis: Leslie Koh
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Why Christmas Doesn’t Make Sense

Why-Christmas-Does-Not-Make-Sense

Sebenarnya, tidak banyak unsur Natal yang masuk akal. Serius! Coba pikirkan baik-baik beberapa hal berikut ini:

1. Allah menjadi … manusia.

Mengapa Allah sampai mau menjadi manusia? Mengapa Pribadi yang memiliki kuasa mutlak atas semesta mau hidup sebagai makhluk fana yang lemah dan serba terbatas? Mengapa Dia sampai rela merendahkan diri untuk menjadi sama seperti kita?

Namun, tepat seperti itulah yang dilakukan Yesus Kristus ketika Dia turun ke bumi. Sekalipun Dia adalah Allah, Dia memilih untuk dilahirkan sebagai bayi yang tidak berdaya, menjalani masa-masa remaja yang tidak mudah, mempelajari usaha ayahnya sebagai seorang tukang kayu (ini setelah Dia sendiri menciptakan alam semesta), dan berusaha meyakinkan orang-orang sebangsanya bahwa Dia adalah Juruselamat mereka, dan Juruselamat seluruh dunia. Mengapa Dia harus melakukan tindakan yang tidak masuk akal semacam itu? Mengapa tidak membereskan semuanya dari sorga saja?, tidak perlu turun ke bumi sebagai manusia?

Jawabannya kupikir ada dalam satu kata: Kasih. Untuk menyelamatkan dan menebus manusia dari hukuman yang layak kita terima, Yesus harus menjadi seorang manusia. Hanya dengan hidup sebagai manusia dan mati sebagai manusia, pengurbanan Yesus dapat mewakili manusia, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan dari kematian kekal. Ini berarti bahwa Yesus harus rela merendahkan diri-Nya untuk sementara waktu, terlahir dan menjalani hidup sebagai manusia yang fana. Dan, Dia benar-benar melakukannya, karena Dia mengasihi kita. Itulah cerita Natal. Tidak masuk akal—namun, cinta sejati memang tidak pernah masuk akal.

2. Anak Allah dilahirkan … di dalam sebuah palungan

Jika seorang pangeran akan dilahirkan pada hari ini (sama halnya pada abad pertama), di mana menurutmu ia akan dilahirkan? Sambutan seperti apa yang akan ia dapatkan? Sudah pasti di rumah sakit terbaik, diliput media, disambut segenap warga kerajaan yang dipimpin ayahnya. Ingatkah kamu dengan kelahiran Pangeran George di Kerajaan Inggris? Putra dari Pangeran William dan Putri Kate itu mendapatkan perhatian publik yang luar biasa! Kerumunan massa berdiri di luar rumah sakit, berharap dapat melihat sekilas bayi kerajaan itu.

Namun, Yesus dilahirkan di dalam palungan kotor dan disambut oleh kawanan ternak. Tidak ada kerumunan massa yang mengagumi-Nya, tidak ada sambutan yang meriah bagi-Nya. Yang pertama-tama berkunjung adalah para gembala sederhana. Situasinya mungkin bisa disamakan dengan seorang pangeran yang dilahirkan di garasi kotor, penuh dengan mobil-mobil yang sedang dalam proses perbaikan, dan beberapa tukang reparasi menjenguknya sebentar setelah jam kerja mereka usai. Yang kita bicarakan di sini adalah kelahiran Anak Allah. Sungguh mengherankan bahwa Allah sendiri merelakan Putra-Nya yang tunggal dilahirkan di dalam kondisi yang sangat sederhana.

Mengapa? Karena, sebagaimana catatan Alkitab, Yesus adalah Raja yang lemah lembut dan rendah hati, yang memasuki Yerusalem bukan dengan kereta kencana, tetapi mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban muda (Matius 21:5). Yesus tidak menghabiskan hidup-Nya untuk melobi para tokoh masyarakat dan memamerkan wibawa-Nya di depan warga sebagaimana layaknya sikap yang biasa ditunjukkan para penguasa. Dia bergaul dengan orang-orang yang miskin, yang status sosialnya rendah, dan yang terburuk di antara manusia berdosa. Dia adalah Juruselamat yang rela memberi diri dan Raja yang melayani, Pribadi yang datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45).

Jelas ini bukan gambaran sosok Anak Allah yang akan dibayangkan kebanyakan orang. Seorang raja besar yang mau merendahkan diri untuk datang dalam situasi yang serba kurang, dan lebih tertarik berinteraksi dengan orang-orang biasa daripada orang-orang yang punya pengaruh dalam masyarakat? Sungguh tidak masuk akal.

3. Yesus lahir ke dalam dunia … untuk mati.

Perhatikanlah wajah para orangtua ketika memandangi bayi mereka yang baru lahir. Umumnya kita akan melihat wajah-wajah yang penuh dengan rasa bangga, sukacita, dan harapan agar si kecil panjang umur dan hidup makmur. Satu hal yang jelas tidak diinginkan oleh orangtua mana pun adalah melihat anaknya meninggal. Namun, ketika Allah melihat Putra-Nya dilahirkan di dalam palungan pada saat Natal, Dia tahu bahwa bayi ini dilahirkan dengan tujuan untuk mati pada suatu hari nanti, dengan cara yang sangat mengerikan.

Bayangkanlah bagaimana Yesus menjalani hari-hari-Nya sebagai seorang anak yang tumbuh besar, mempelajari keahlian pertukangan ayahnya, kemudian mulai memilih dan melatih para murid. Bila kebanyakan orang memiliki harapan untuk masa depan yang cerah dan bahagia, masa depan yang menanti-Nya adalah kematian di usia muda, penghinaan dan penderitaan di kayu salib. Namun, Yesus sendiri tidak pernah ragu dengan tujuan hidup-Nya (Markus 8:31); Dia bahkan mengingatkan para murid-Nya tentang apa yang sudah pasti akan menimpa-Nya.

Hari ini kita merayakan Natal dengan penuh kegembiraan dan sukacita. Namun, sesungguhnya peristiwa Natal yang terjadi di sudut kota Betlehem hari itu adalah peristiwa yang manis sekaligus pahit! Sesuatu yang ironis, bukan? Membuat kita bertanya-tanya apa yang sebenarnya kita rayakan pada hari Natal. Peristiwa kelahiran yang menakjubkan 2000 tahun silam itu akan membawa kita melihat sebuah peristiwa kematian yang tidak kalah menakjubkannya 30 tahun kemudian. Meski demikian, ada alasan yang baik bagi kita untuk bersukacita di hari Natal …. (Teruslah membaca.)

4. Untuk kesalahan yang kita perbuat, kita mendapat … keselamatan.

Mudah saja mengingat apa sebenarnya Natal itu: Yesus, Sang Anak Allah telah lahir, supaya kita dapat diselamatkan. Namun, kita mungkin sering melupakan satu hal yang penting: kita sebenarnya tidak layak diselamatkan. Kita bukanlah korban kejahatan yang tidak bersalah, menanti kematian tanpa daya, dan menantikan datangnya seorang penyelamat. Kita adalah orang-orang yang bersalah, layak menerima dan telah divonis hukuman mati. Tidak ada alasan yang cukup baik untuk meluputkan kita dari hukuman itu.

Namun, Allah mengaruniakan Anak-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita. Dalam skenario film, mungkin ini seperti mengirimkan seorang pahlawan hebat, yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sekelompok pembunuh yang telah divonis mati padahal para pembunuh itu masih saja merasa tidak melakukan kesalahan. Sekarang bayangkanlah, ayah dari sang pahlawan, setelah mengorbankan putranya bagi para penjahat itu, memberi mereka tawaran untuk menjadi anaknya, supaya mereka juga dapat menikmati segala harta yang dimilikinya.

Sebuah skenario yang tidak masuk akal. Namun, itulah yang terjadi. Allah memilih untuk memberikan keselamatan bagi kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Dan, bukan hanya itu, Dia kemudian memberikan kita kesempatan luar biasa untuk menjadi anak-anak-Nya (Efesus 2:4-6). Jelas sekali betapa tidak masuk akalnya Natal itu.

5. Natal merayakan kelahiran Yesus … dan kitalah yang mendapat hadiah.

Setiap bulan Desember, kita mengadakan berbagai acara istimewa untuk merayakan kelahiran Yesus—lalu kita saling bertukar hadiah. Kalau dipikir-pikir, itu agak aneh, bukan? Kelahiran siapa yang sebenarnya sedang kita rayakan?

Ironisnya, hadiah terbesar yang diberikan bukanlah hadiah untuk Yesus yang kelahiran-Nya kita rayakan, tetapi justru hadiah dari Dia untuk kita. Hadiah apakah itu? Hadiah keselamatan yang sungguh menakjubkan: Kita dibebaskan dari hukuman kematian kekal yang selayaknya kita terima, diampuni dari segala kesalahan kita, dan dikaruniakan kehidupan kekal bersama Yesus. Itulah yang dihadiahkan kepada kita pada hari kelahiran-Nya. Hadiah yang diberikan-Nya dengan penuh sukacita.

Ya, Natal memang tidak masuk akal … dan kita bersyukur untuk itu!

Seri Lukisan Natal: Sebuah Nubuat yang Ditepati

lukisan-natal-warungsatekamu-orang-majus

Karena Sang Bayi, para majus jauh-jauh mencari
Penguasa istimewa, Raja orang Yahudi
Dari Timur, terang bintang terus mereka ikuti
Rindu mempersembahkan harta dan segenap hati

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Rindukah kamu juga mempersembahkan hidupmu kepada-Nya?

Baca: Matius 2:1-12

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm