Posts

Mengapa Kita Perlu Bersyukur atas Peristiwa Natal?

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Menjelang Natal, tak jarang aku mendengar khotbah-khotbah diwartakan dari atas mimbar, “Kita harus bersyukur atas peristiwa Natal.” Sejenak aku berpikir, mengapa kita perlu bersyukur atas Natal? Adakah hal istimewa yang sungguh menjadikan Natal sebagai peristiwa yang patut disyukuri?

Dulu, ketika aku masih kecil, jelas Natal adalah peristiwa yang patut disyukuri. Bagaimana tidak, selama Natal, sekolahku libur, acara di gereja meriah, dan tak jarang aku pun mendapat kado.

Namun, sungguhkah Natal patut disyukuri karena ia adalah masa yang memberi banyak hadiah dan libur?

Pertanyaan itu mendorongku untuk merenung lebih dalam.

Natal adalah peristiwa tentang Sang Putra Allah yang turun ke dunia, mengambil rupa sebagai manusia, dan mati disalib bagi manusia. Seberapa pentingkah manusia, hingga Allah yang Mahatinggi turun ke dunia, bahkan turunnya pun mengambil rupa seorang manusia?

Jawaban sederhananya: manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia. Namun, jawaban ini mungkin terkesan terlalu simpel. Aku yakin rekan-rekan pembaca sudah tahu jawaban itu. Jadi, aku ingin mengajak kita menjelajah lebih dalam.

Alkitab menggambarkan hidup manusia dan dunia di sekitarnya telah dipenuhi berbagai kejahatan, penderitaan, amoralitas, dan segala macam penyimpangan.

Kok bisa ini terjadi?

Kejadian 3 punya jawabannya. Peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan seluruh keturunan Adam dan Hawa mewarisi dosa. Tidak ada satu pun dari kita yang tak mewarisi dosa, sebagaimana yang Paulus tuliskan, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Roma 5:12).

Upah dosa ialah maut (Kejadian 2:17; Roma 3:23). Maut berarti terpisah dari Allah.

Dosa, selain merusak relasi manusia dengan Allah, juga merusak relasi manusia dengan sesamanya, pun itu berimbas pada alam. Lihatlah, alam menjadi rusak karena perbuatan manusia.

Karakter manusia jadi dipenuhi kejahatan, kecemaran, dan kerusakan. Kehidupan pun menjadi penuh penderitaan.

Namun, itu bukanlah kisah buruk yang tiada berakhir. Melalui momen Natal, kita diingatkan bahwa dalam anugerah-Nya, Allah berjanji akan memulihkan keadaan manusia yang telah berdosa melalui Sang Penebus yang akan lahir dari keturunan Hawa (Kejadian 3:15).

Inilah inti Natal yang sebenarnya. Natal adalah tentang Kristus, tentang kedatangan-Nya ke dunia yang membawa pemulihan, kedamaian, dan janji akan keselamatan bagi kita.

Jadi, ketika kita sudah tahu apa yang menjadi inti Natal, bagaimana seharusnya kita merayakan Natal tahun ini?

Apakah kita merayakan Natal dengan pesta pora dan hura-hura? Atau, apakah kita menyibukkan diri dengan segudang agenda kegiatan untuk kumpul-kumpul? Jika itu yang kita lakukan, maka Natal bagi kita tidaklah lebih dari sepaket acara hiburan atau selebrasi yang rutin kita laksanakan jelang akhir tahun.

Terlepas dari padatnya agenda kita menyambut Natal, adalah baik jika kita mengambil waktu sejenak. Jika selama ini ada di antara kita yang hanya hidup sebagai orang Kristen rata-rata, yang merasa ke gereja saja sudah cukup, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengikuti Dia dengan sungguh-sungguh.

Jika ada di antara kita yang merasa sudah menjadi Kristen yang saleh, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk memeriksa hati, apakah dalam kesalehan yang kita lakukan, kita melekat erat dengan Kristus dan mengizinkan-Nya lahir dan memerintah dalam hati kita?

Yuk sekarang juga kita merenungkannya. Sebab, hanya di dalam Kristus kita beroleh keselamatan dan luput dari murka Allah. Selagi ada waktu, yuk kita mengambil keputusan yang baik sekarang.

Bawalah diri kita masuk ke dalam iman yang membawa kepada kasih Allah yang sejati.

Natal adalah kisah tentang kasih Allah yang mengasihi dunia ini, tentang Allah yang mengorbankan Putra-Nya yang tunggal untuk mengalami maut agar kita memperoleh keselamatan.

Selamat memasuki masa-masa Natal.

Baca Juga:

Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Harus Kudoakan

Ketika banyak hal berkecamuk dalam pikiranku, sulit rasanya untuk berdoa.

Yesus Kristus dan Celana Kolor

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Judul di atas mungkin terasa aneh. Rasanya kok tidak sopan. Sepertinya kurang elok kalau menyandangkan Yesus Kristus dengan celana kolor.

Tetapi judul ini bukannya tanpa alasan. Ceritanya begini:

Beberapa waktu silam, saat jemaat di gereja kami sedang beribadah Jumat Agung, remaja kami menampilkan suatu drama Jalan Salib yang mengharukan.

Yesus Kristus diperankan dengan sangat hidup oleh Yordan, sang wakil ketua remaja, dan para pemeran prajurit Roma serta wanita-wanita yang menangisi kematian-Nya juga diperankan secara apik oleh anak-anak remaja belasan tahun itu.

Nah, puncak drama ini ada di adegan ketika Kristus disalibkan.

Tanpa sengaja, para “prajurit Roma” tadi melepaskan peniti di salah satu bagian jubah yang dikenakan oleh “Yesus Kristus”, yang mana peniti yang satu itu jangan sampai dilepas sebenarnya.

Yemima, pembina mereka yang menjadi sutradara drama ini, sudah mewanti-wanti mereka agar peniti yang satu itu jangan sampai dilepas.

Tetapi toh, para “prajurit Roma” itu lupa, atau mungkin karena terlalu menjiwai peran mereka, dengan semangat khas pasukan Roma, semua peniti di jubah “Yesus” itu pun dilepas.

Alhasil, seluruh kain atau jubah putih yang menutupi badan bagian atas dan bawah “Yesus” itu melorot semua.

Drama mengharukan yang mencapai puncaknya di penyaliban Sang Mesias itu mempertontonkan: Yesus Kristus yang disalibkan dengan celana kolor kotak-kotak.

Sebagian jemaat, termasuk paduan suara remaja yang sudah berbaris di depan, hampir tak bisa menahan tawa.

Namun tawa itu segera lari dari bibir kami sebab para pemain drama itu tidak menunjukkan mimik malu atau grogi sedikitpun akibat “kesalahan teknis” itu.

Bahkan mereka menganggap dilucutinya semua jubah Kristus itu adalah bagian dari skenario drama.

Semua pemeran berakting serius dan menghayati. Yordan, Daniel, Dylan, Adriel, Albert, Bhisma, dkk, yang berada di “Golgota” benar-benar tampil prima.

Mereka menjalankan detail instruksi sutradara dengan baik, kecuali urusan peniti tadi.

Melucuti jubah Yesus memang bagian dari skenario, tetapi tidak semua jubah perlu dilucuti, hanya yang bagian atas saja, yang bawah tidak perlu dilepas.

Namun, semua sudah terjadi. Peniti itu sudah tidak pada tempatnya, entah siapa yang mencabutnya. Celana kolor “Yesus” pun menjadi sorotan ratusan pasang mata yang memadati gereja kami.

Aku berdiri di belakang kamera milik Yordan. Tak kuhiraukan adegan ganjil itu. “Yang penting Yordan masih pakai kolor,” begitu pikirku.

Bayangkan jika tidak ada sehelai benangpun menempel di tubuhnya saat puncak drama ditampilkan?

Ahh, lebih baik jangan dibayangkan lah.. tak elok..

Aku teruskan tugasku memotret drama itu. Ironis memang karena ini seperti “senjata makan tuan”, kamera milik Yordan dipakai untuk memotret dia dan celana kolor kotak-kotak miliknya di puncak drama penyaliban Sang Juruselamat.

Tetapi Yordan memiliki hati yang luas dan mental yang matang, ia tetap bisa menguasai dirinya selama memerankan Yesus Kristus hingga akhir, sampai ia menjerit, “Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Salut kepada Yordan, ia sungguh berbakat sebagai aktor.

Celana kolor itu bukan alasan baginya untuk membuyarkan konsentrasi jemaat pada klimaks penyaliban Kristus.

Drama itu memang berlangsung tidak lebih dari 11 menit, tetapi drama itu takkan bisa dilupakan oleh jemaat.

Pesan sakral Jumat Agung yang terkandung drama remaja kemarin terasa lancar dan deras mengalir ke dalam sanubari kami.

Pikiranku pun terbang ke tanah Palestina dua puluh abad lampau.

Celana kolor yang dipakai “Yesus” di Golgota kemarin membuatku memikirkan lagi, “Bukankah Kristus sewaktu Ia disalibkan begitu menderita karena dosa-dosa kita?

Selain cambukan, hinaan, tonjokan, dan semua aksi memilukan itu, Kristus juga ditelanjangi.

Ya, Ia bukan hanya disalib, tetapi disalib dengan telanjang.

Mari kita perhatikan sejumlah nats berikut:

Matius 27:35,“Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi”; Markus 15:24, “Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing”;

Lukas 23:34b, “Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya”.

Tiga ayat ini menunjukkan bahwa pada saat Yesus disalibkan, para prajurit yang menyalibkan-Nya membagi-bagi pakaian-Nya.

Injil Yohanes malah menginformasikan ternyata yang diambil dan dibagi-bagi oleh para prajurit itu bukan hanya pakaian-Nya, tetapi dikatakan juga jubah-Nya (19:23).

Kata “jubah” berasal dari kata Yunani “khitona” yang artinya adalah pakaian dalam.

Alkitab NIV menulis, “When the soldiers crucified Jesus, they took his clothes (pakaian), dividing them into four shares, one for each of them, with the undergarment (pakaian dalam) remaining. This garment was seamless, woven in one piece from top to bottom” (Yohanes 19:23).

Di sini NIV menerjemahkan kata pertama dan kedua dengan tepat tetapi kata ketiga diterjemahkan ‘garment’ (pakaian), yang agak kurang cocok karena dalam bahasa Yunani kata kedua dan ketiga adalah sama.

Jadi, kata “garment” pun sebaiknya diterjemahkan sebagai pakaian dalam (yang ikut dilucuti).

Karena itu, dari nats ini dapat dipahami bahwa Yesus disalibkan dalam keadaan telanjang.

Ini jelas adalah sesuatu yang sangat memalukan. Ia ditelanjangi dan menjadi tontonan semua orang yang melihat-Nya.

Maka tak heranlah para wanita yang menjadi murid Kristus tidak berani berdiri dekat salib-Nya ketika mereka di Golgota, sangat mungkin karena mereka tidak tega melihat guru mereka dalam kondisi telanjang seperti itu.

Drama yang tanpa sengaja mempertontonkan celana kolor kotak-kotak itu mengingatkan aku dan kamu bahwa Tuhan Yesus disalibkan dengan telanjang bulat.

Penelanjangan Kristus ini menunjukkan betapa rusaknya manusia berdosa.

Seharusnya kita yang ditelanjangi, dipermalukan, disiksa, dan mengerang di neraka sebagai hukuman atas keberdosaan kita, namun itu semua dipikul oleh Yesus Kristus.

Ia memikul itu semua agar kita tidak menerima hukuman Allah.

Yesus Kristus adalah Allah, Ia rela dipermalukan dan ditelanjangi, supaya manusia bisa diselamatkan dari hukuman Allah.

Upah dosa adalah maut, dan kita semua telah berdosa, tidak seorangpun dari kita yang tidak berdosa.

Oleh sebab itu kita perlu datang kepada Dia yang tersalib dengan telanjang itu, agar kita beroleh keselamatan dan jubah kebenaran yang membuat kita tidak lagi telanjang di hadapan Allah dan tidak lagi malu ketika berjumpa muka dengan muka di hadapan-Nya.

Baca Juga:

Panggilan Melayani di Pelosok Negeri

Lahir dan tinggal di Indonesia tentunya bukan sebuah kebetulan, memuliakan-Nya melalui panggilan kita masing-masing harus menjadi tujuan utama kita. Sudahkah kau temukan panggilanmu?

Meneladani Sang Konselor Sejati

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya—bagiku, itulah yang disebut sebagai kelebihan. Namun, bagi orang lain, aku memiliki kelebihan yang berbeda dari apa yang kupahami sebagai kelebihan. Padahal, apa yang dianggap orang lain sebagai kelebihanku sepertinya adalah hal yang biasa dan dimiliki oleh banyak orang: mendengarkan dan mendoakan.

Ketika menerima kata-kata pujian tentang kedua hal itu dari orang lain, aku hanya tersenyum tipis dan kadang menjawab dengan, “Ah, masa?” atau “Amin…”. Aku merespon dengan cara seperti itu bukan karena merasa senang dipuji, tetapi karena aku merasa belum sepenuhnya menjadi seorang pendengar dan pendoa yang baik.

Seringkali keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitarku juga menyampaikan bahwa mereka sangat tersentuh dengan kata-kata yang kuucapkan dalam doaku. Mereka bilang, aku adalah pendoa yang baik. Namun, lagi-lagi aku merasa apa yang kulakukan adalah hal yang biasa-biasa saja, karena setiap orang bisa berdoa dan setiap kata yang disampaikan dalam doa tidak ada yang salah. Sikap hati saat berdoa adalah hal yang terpenting.

Aku sangat sering mendengarkan curhat dari orang lain, baik orang yang sudah maupun baru kukenal. Entah mengapa, mereka yang baru saja mengenalku bisa langsung merasa nyaman untuk bercerita kepadaku, bahkan meminta aku untuk mendoakan mereka.

Suatu malam, aku merasakan ada yang berbeda saat sedang mendengarkan curhatan seorang junior di kampusku dulu. Usai kami berbincang lewat WhatsApp, aku membaca kembali setiap kata dan kalimat yang kusampaikan. Aku tersenyum dan merenung, “Tuhan, kenapa aku bisa menyampaikan hal ini ya?”. Aku juga teringat bahwa setiap kali ada orang yang bercerita kepadaku, baik langsung maupun lewat media sosial, mereka selalu menyampaikan, “bawa aku dalam doamu setiap hari”. Aku mulai merenung, apakah mendengarkan dan mendoakan memang dua hal yang Tuhan karuniakan bagiku?

Aku teringat pada pengalamanku ketika mengikuti konseling. Sebuah konseling terdiri dari dua pihak, yaitu konselor dan konseli (atau klien). Konselor mampu menolong konseli untuk menyampaikan masalah yang sedang ia hadapi serta memberikan solusi agar si konseli bisa pulih dan kembali melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan baik.

Malam itu juga aku mendapati sebuah jawaban bahwa hanya karena pertolongan dari Yesus Kristus, Sang Konselor Sejati, aku dimampukan untuk mendengarkan dan mendoakan orang lain. Sang Konselor Sejati terlebih dahulu memulihkan hidupku dengan berbicara lewat firman-Nya dalam Alkitab dan memberiku kekuatan lewat doa, sehingga aku dimampukan untuk menjadi konselor bagi orang lain.

Untuk menjadi konselor yang baik bagi orang-orang di sekitar kita, tentunya kita harus terlebih dahulu memiliki relasi yang intim dengan Sang Konselor Sejati. Mendengar suara-Nya dan mengenal kehendak-Nya adalah hal utama yang harus selalu kita kejar hari demi hari. Tuhan sendiri yang akan memampukan kita untuk menjalani panggilan-Nya dalam hidup kita, yaitu untuk menjadi ‘konselor-konselor’ Ilahi.

Mendengarkan dan mendoakan—dua cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menyatakan kasih Yesus kepada sesama. Kita dapat menolong orang lain dengan mengajak mereka datang kepada Yesus, Sang Konselor Sejati yang memberi kelegaan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Baca Juga:

Terlalu Fokus Pelayanan Membuatku Lupa Siapa yang Kulayani

Kupikir jalan hidup yang kuambil sudah tepat—menghabiskan waktu dan tenaga untuk melakukan kegiatan pelayanan. Tapi, kemudian aku sadar bahwa ada yang keliru dalam motivasiku melayani-Nya.

Mengapa Kita Memerlukan Juruselamat?

Oleh Max Jeganathan
Artikel ini diadaptasi dari artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Do We Even Need A Savior?

Film The Martian—yang dibintangi oleh Matt Damon—menceritakan kisah fiksi tentang seorang astronot yang bernama Mike Watney. Watney bersama timnya bertugas melakukan misi perjalanan ke Planet Mars. Dalam perjalanannya, mereka harus pulang ke bumi lebih awal karena terjadi badai besar. Tapi, kemalangan menimpa Watney. Ia terhempas ke tengah badai dan terdampar di Mars. Timnya yang lain tak dapat menemukan Watney dan mengira ia pasti sudah tewas. Namun, Watney selamat dan dengan persediaan yang terbatas ia harus bertahan hidup sampai ada tim penyelamat yang datang menyelamatkannya.

Singkat cerita, Watney akhirnya bisa mengabari rekan-rekannya di bumi bahwa ia masih selamat. Tim penyelamat pun lalu terbang kembali ke Mars untuk menjemputnya. Setelah kembali ke bumi, adegan terakhir dari film ini menunjukkan Watney berbicara kepada sekelompok astronot. Dia bertutur tentang pengalaman mengerikannya bertahan hidup di Planet Mars, dan di akhir kisahnya dia menekankan bahwa dedikasi itu penting. “Kalau kamu sudah memecahkan cukup banyak masalah, kamu bisa pulang ke rumah!” Watney merasa dia bisa pulang kembali ke bumi karena dia sudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang astronot dengan sebaik mungkin.

Pernyataan Watney adalah sebuah cerminan dari suatu keyakinan yang menggerakkan kehidupan masyarakat modern masa kini. Kita berjuang untuk rajin belajar, bekerja keras, mengikuti kata hati kita sendiri, dan hidup menjadi diri kita sendiri. Dorongan untuk bergantung pada diri sendiri adalah sesuatu yang sudah dipelajari oleh manusia selama ribuan tahun. Para sosiolog menyebutnya sebagai proses kemandirian, para psikolog menyebutnya sebagai proses aktualisasi diri, dan Carl Jung, seorang pemikir, menyebutnya sebagai proses menjadi lebih individualis. Gagasan-gagasan ini adalah hal yang sama dengan gagasan lain seperti gagasan tentang kitalah yang bisa menolong diri kita sendiri, kitalah yang bisa membina kehidupan kita sendiri, dan filosofi zaman baru yang kita lihat saat ini. Kita dipanggil untuk melihat ke dalam diri kita dan membangun kehidupan kita berdasarkan standar moral, fisik, emosi, dan kendali kita sendiri.

Panggilan untuk bergantung dan mengandalkan diri kita sendiri telah menjadi suatu dorongan yang besar terhadap kemajuan budaya kita sekarang. Secara teknologi, akademis, intelektual, dan juga finansial kita tentu lebih maju dibandingkan dengan kehidupan yang terjadi beberapa abad silam.

Kita tidak pernah cukup baik

Namun, di balik segala kemajuan zaman tersebut, kita melihat ada hal-hal lain yang malah berjalan sebaliknya. Kita melihat ada kasus bunuh diri, perceraian, kekhawatiran, dan masalah-masalah sosial lainnya yang banyak terjadi di seluruh dunia. Kita menyebut masa kini sebagai era “hak asasi manusia”, namun perbudakan belum sepenuhnya hilang. Teknologi komunikasi yang semakin canggih membuat kita lebih mudah terhubung, tapi tetap saja, banyak orang merasa kesepian. Kita mengatakan bahwa moralitas kita di zaman ini lebih baik daripada sebelumnya, tapi tetap saja banyak kasus pembunuhan yang terjadi.

Di dalam suratnya kepada jemaat di Roma yang ditulis beberapa dekade setelah kebangkitan Yesus, Paulus menuliskan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Berabad-abad sebelum Paulus menuliskan suratnya dengan tinta di atas kertas perkamen, perkataan Pemazmur senada dengan apa yang Paulus tuliskan. Pemazmur menyatakan bahwa dirinya sebagai manusia senantiasa bergumul dengan dosa-dosanya. Pemazmur tidak mampu membersihkan dirinya sendiri dari dosa, ia butuh belas kasihan Allah untuk menyelamatkannya dari dosa (Mazmur 51).

Apa yang pemazmur ungkapkan dalam Mazmur 51 adalah gambaran dari kehidupan kita juga. Sejak di dalam kandungan, kita telah mewarisi dosa. Tidak ada seorang pun yang terlahir ke dunia ini tanpa dosa. Dan, upah dosa ialah maut (Roma 6:23).

Kita merindukan pertolongan

Ada pandangan yang mengatakan bahwa kita hanya perlu melihat ke dalam hati kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Secara dangkal, pandangan ini terkesan menyakinkan. Tapi, sejatinya saat kita hanya melihat diri kita sendiri semakin dalam, kita bukannya menemukan jawaban, malahan kita akan menemukan lebih banyak lagi pertanyaan.

Kita mungkin sudah berusaha meyakinkan diri kita bahwa kita dapat memecahkan segala masalah seorang diri. Tapi, naluri mendasar kita adalah: ketika kita menghadapi masalah, kita akan mencari bantuan dari luar, dari seseorang yang kita anggap lebih mampu daripada kita. Mungkin inilah salah satu konsep yang mendasari mengapa kisah-kisah superhero muncul.

Ketika kita melihat kisah-kisah superhero, kisah-kisah yang diangkat adalah kisah tentang bagaimana mereka, dengan kekuatan supernya menyelamatkan manusia. Ada Iron man yang menyelamatkan bumi dari senjata pemusnah massal; Superman yang menunjukkan belas kasihnya meskipun dia harus mempertaruhkan nyawanya di hadapan musuh, sampai-sampai musuhnya berkata, “Dia benar-benar peduli kepada orang-orang di bumi!”; Wonder Woman yang berjuang tanpa rasa takut untuk melindungi manusia. Superhero-superhero itu menunjukkan kepada kita tindakan-tindakan pengorbanan, keadilan, dan belas kasih yang menyatu dalam suatu tindakan untuk menyelamatkan manusia.

Namun, bagaimana jika hal-hal yang kita kagumi pada superhero-superhero itu—kekuatan, pengorbanan, belas kasih, dan keadilan—menjadi satu di dalam Sosok Juruselamat yang menyelamatkan aku dan kamu? Bagaimana jika kisah penyelamatan itu terjadi juga di dunia nyata?

Di dalam konteks inilah iman Kristen muncul dengan tiga pilar utama, yang tidak tertandingi oleh pikiran manusia:

Kekristenan memiliki pemahaman yang unik dan jujur tentang realita penderitaan di dunia kita (1 Petrus 1:6). Ajaran Kristen tidak menyangkal penderitaan sebagai ilusi, yang tidak artinya, hasil dari karma, atau sesuatu yang dapat dihindari. Kekristenan mengakui bahwa penderitaan adalah realita kehidupan yang tidak dapat dihindari.

Manusia merindukan keadilan dan pengampunan (Mazmur 51) dan;

Sebuah misi penyelamatan yang kedengarannya paling tidak mungkin: Tuhan masuk sendiri ke dalam dunia sebagai Pribadi Yesus Kristus (Kolose 1). Allah, melalui Yesus Kristus menjadi manusia dan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut.

Yesus tidak hanya memenuhi kebutuhan kita yang paling dalam, kebutuhan untuk diselamatkan. Dia juga memuaskan hasrat kita yang terdalam, yaitu di dalam Dia kita beroleh hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10). Melalui anugerah-Nya, Yesus menyingkirkan kesalahan dan rasa malu kita. Dia menutupi ketidaksempurnaan kita dengan kesempurnaan-Nya, dan menjadikan kita anggota keluarga Allah, di mana kita diyakinkan akan identitas kekal kita sebagai anak-anak-Nya. Inilah misi penyelamatan terbesar yang pernah dilakukan.

Kembali ke film The Martian yang dibahas di awal tulisan ini, kita melihat ada hal penting yang ditunjukkan dari film ini. Astronot Mike Watney memang pantas menerima pujian karena dia telah berhasil bertahan hidup selama berminggu-minggu di Planet Mars. Tapi, sesungguhnya dia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Semua kecerdikannya tidak dapat menolongnya keluar dari Planet Mars. Dia membutuhkan penyelamatan. Perjalanannya kembali ke bumi hanya terwujud berkat misi penyelamatan yang sengaja dikirim untuk menolongnya.

Mungkin apa yang kita lihat di dalam film itu adalah apa yang kita lihat juga di dalam hati kita: bahwa kebutuhan terbesar kita adalah diselamatkan oleh seorang Juruselamat. Kita beruntung, di dalam Pribadi Kristus, kita diselamatkan. Kristus telah melakukan apa yang tidak dapat diri kita sendiri lakukan. Pertanyaan untukku dan untukmu adalah: Apakah kita menolak-Nya atau menerima-Nya?

Tentang penulis:

Max Jeganathan adalah Direktur Regional dari Ravi Zacharias International Ministries (RZIM) wilayah Asia-Pasifik. Dia lahir di Sri Lanka, namun keluarganya pindah ke Australia sebagai pengungsi ketika dia masih kecil. Max pernah bekerja sebagai pengacara dan penasihat politik. Sebagai seorang pembicara dan apologis dari RZIM, Max menyampaikan materi-materi seputar iman, politik, kebijakan publik, ekonomi, dan moralitas. Sekarang dia tinggal di Singapura bersama istrinya, Fiona, dan anaknya, Zachary.

Baca Juga:

Ayo Renungkan Kembali Alasan Mengapa Kita Merayakan Natal

Aku bersyukur atas pengorbanan Kristus setiap harinya dalam hidupku, tapi apakah aku harus benar-benar meluangkan waktu di suatu hari yang simbolis untuk mensyukurinya lagi?

Karena Imanku pada Yesus, Aku Ditolak oleh Teman-temanku

Oleh Dilla*, Surabaya

Aku dibesarkan di dalam keluarga yang belum semuanya mengenal Yesus. Hanya ayahku seorang yang sudah mengenal Yesus terlebih dulu, namun dia tidak menghidupi imannya dengan sungguh-sungguh. Ayahku hampir tidak pernah beribadah ke gereja selain di hari Natal dan Paskah saja. Jadi, ibuku dan nenekku mendidikku untuk mengimani iman bukan Kristen yang mereka anut.

Sedari aku kecil, aku diajari untuk berdoa dalam cara mereka. Mereka juga menyekolahkanku di sekolah dengan basis keagamaan yang kuat. Aku menerima iman yang diajarkan ibu dan nenekku ini dengan baik hingga suatu ketika ibuku diajak oleh temannya yang adalah orang Kristen untuk datang ke acara Natal. Mulanya ibuku enggan hadir. Tapi, untuk menghormati keyakinan ayahku, ibuku pun akhirnya datang dan turut mengajakku.

Waktu itu aku baru duduk di kelas dua SD. Datang ke acara umat Kristiani itu terasa asing buatku. Bahkan, aku menganggap cara ibadah orang Kristen itu aneh. Namun, ada satu yang menarik hatiku. Pendeta menyampaikan firman Tuhan singkat. Katanya, Yesus adalah Tuhan yang mengambil rupa manusia, lahir ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Yesus datang dalam kesederhanaan, Dia lahir di kandang domba. Hatiku tersentuh, tapi juga bertanya-tanya. Apakah Tuhan Yesus yang diceritakan oleh pendeta itu sungguh benar?

Dalam iman yang kuanut saat itu, Tuhan Yesus itu digambarkan jauh berbeda dengan apa yang pendeta itu katakan. Aku pun jadi penasaran dan setelah ibadah itu usai aku merasa seperti ada yang mengganjal di hatiku. Di tengah rasa penasaranku itu, suatu ketika aku jatuh sakit dan malamnya aku bermimpi didatangi oleh sosok yang bersinar dan menorehkan senyum kepadaku. Setelah aku terbangun, sepertinya aku tahu siapa sosok yang ada dalam mimpi itu. Aku pun mulai belajar berdoa dengan menyebut nama Tuhan Yesus.

Singkat cerita, hal ini diketahui oleh teman ibuku yang Kristen. Dia kemudian mengajakku untuk ikut sekolah Minggu di gerejanya. Aku pun tertarik dan mengiyakan ajakan itu. Ketika masuk ke gereja, aku masih merasa asing. Tapi, orang-orang di sana ramah dan murah senyum. Ketika ibadah dimulai, entah kenapa aku merasa seperti merinding tapi aku ikut menyanyi dan memuji Tuhan meski aku sebelumnya tidak pernah mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan.

Sejak saat itu, aku bersemangat untuk datang ke gereja sambil tetap menjalankan kewajiban agamaku yang lama. Tapi, kehadiranku di gereja itu suatu saat terlihat oleh seorang temanku dan dia menceritakannya ke teman-temanku yang lain dan juga guru agamaku.

Saat pelajaran agama, aku dikatai atheis dan tidak diperkenankan ada di kelas. Kata mereka aku telah mempermainkan agama dan seperti anjing penjilat. Hatiku hancur, aku menangis, dan aku berkata dalam hati: apakah mengikut Yesus harus seperti ini? Di usiaku yang masih kecil itu, aku merasa perlakuan yang kuterima ini begitu berat hingga aku pun bingung harus berbuat apa dan bertanya-tanya kepada siapakah seharusnya aku percaya.

Kemudian, seperti biasa aku tetap datang ke sekolah Minggu dan saat itu guruku bercerita tentang firman Tuhan dari Lukas 9:22-24, bahwa Anak Manusia telah lebih dulu menderita sebelum kita. Bukan suatu kebetulan apabila hari itu guru sekolah Mingguku membahas tentang penderitaan. Dan, di sinilah, meski sehari-harinya aku mengalami penolakan, aku malah merasa dikuatkan dan memperoleh sukacita untuk menghadapi hari-hariku. Ketika aku ditolak karena imanku pada Tuhan Yesus, aku hanya bisa berdoa supaya mereka yang menolak itu dapat mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Aku pun berdoa untuk orangtuaku supaya mereka dapat sungguh-sungguh menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya.

Meski teman-teman menolakku karena imanku, tapi aku bersyukur karena ibuku mendukungku. Saat itu karena pernah diajak oleh temannya yang Kristen pergi ke gereja, ibuku mulai membuka dirinya terhadap iman Kristen. Ketika aku menangis kepadanya dan berkata bahwa aku tidak kuat mental dan ingin pindah sekolah, Ibu menguatkanku hingga akhirnya aku dapat lulus dari SD ini.

Aku mengucap syukur karena lawatan Tuhan yang boleh terjadi dalam kehidupanku dan keluargaku. Belakangan, ibuku bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Kehidupan ibuku pun berubah. Ibuku jadi lebih sabar dan selalu bersyukur untuk banyak hal. Ibuku juga mulai belajar membaca Alkitab dan beribadah ke gereja.

Perubahan inilah yang turut menginspirasi Ayah yang sejak semula sudah mengenal Tuhan Yesus untuk menjalani kehidupan imannya dengan lebih sungguh-sungguh. Ayah pun mulai mau ikut beribadah ke gereja bersama-sama. Sekarang, kami sekeluarga telah percaya kepada Tuhan Yesus dan setiap malam kami selalu meluangkan waktu untuk berdoa bersama.

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Efesus 1:4).

Melalui tulisan kesaksian singkat ini, aku ingin menyampaikan bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan. Jika saat ini ada di antara kamu yang mengalami penolakan karena imanmu, janganlah goyah dan gentar, sebab Tuhan selalu menyertai dan memberimu kekuatan untuk melalui semuanya ini.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Saat Aku Menjadikan Pelayananku Sebagai Pelarian

Alih-alih menjadikan pelayananku di dalam tim pengurus sebagai ekspresi kasihku kepada Tuhan, aku malah menjadikan aktivitas ini sebagai pelarian dari kemalasanku mengikuti kuliah.

Ketika Jumat Agung Menjadi Hari yang Menyedihkan Hatiku

Ketika-Jumat-Agung-Menjadi-Hari-yang-Menyedihkan-Hatiku

Oleh Laura M., Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When Good Friday Doesn’t Seem So Good

Beberapa tahun yang lalu aku pernah mengalami sebuah peristiwa yang menyedihkan di hari Jumat Agung. Salah seorang teman terdekatku sejak di bangku sekolah dulu, Erica, meninggal dunia secara tiba-tiba karena kecelakaan mobil. Sejak duduk di bangku SD hingga SMA kami sering berada dalam satu grup. Kami mengikuti retret musim panas bersama-sama, kami ada dalam satu kelompok dalam pelajaran IPA, bahkan kami juga mengikuti perlombaan lompat tali yang diselenggarakan di wilayah kami.

Setelah lulus sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi, kami tidak lagi berkomunikasi sesering dulu, tetapi kami masih terus menjaga hubungan baik. Rencananya, setelah liburan Paskah berakhir, aku akan menghubungi Erica sebelum dia berangkat ke luar negeri untuk pekerjaan misi.

Tapi, di malam hari Jumat Agung, aku mendapat kabar bahwa Erica telah meninggal dalam kecelakaan mobil saat ia berkendara pulang menuju rumahnya. Tidak pernah terbayang olehku Erica mengalami peristiwa itu. Aku pun menyadari parahnya pengaruh yang dibawa oleh sebuah peristiwa kematian.

Ya, kematian itu seharusnya tidak ada. Sejatinya, kita tidak diciptakan untuk mengalami kematian. Tapi, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, kematian itu adalah upah dari dosa dan menjadi bagian dari hidup kita. Tiba-tiba, aku dapat membayangkan sedikit dari perasaan bingung, marah, dan sedih yang dialami oleh murid-murid Yesus ketika mengetahui bahwa Dia telah mati.

Tapi kemudian, aku melihat ada harapan. Hari Jumat Agung yang sebelumnya kuabaikan itu mengingatkanku akan dua hal. Pertama, penderitaan dan pembunuhan yang kejam kepada Seseorang yang mengakui diri-Nya sebagai Juruselamat dunia; kedua, hal “baik” yang dihasilkan dari kematian-Nya: memberi kita jalan keluar untuk bebas dari kematian! Kebangkitan Yesus di hari ketiga yang kita peringati sebagai Minggu Paskah memberi kita pengharapan kekal dan solusi dari kematian.

Puji syukur atas apa yang telah terjadi di Paskah yang pertama, aku dapat menerima kenyataan bahwa Erica tentu saat ini sedang berbahagia di surga, sekalipun terkadang aku masih merasa sedih karena kematiannya.

Perkataan Yesus dalam Yohanes 16:33 selama ini telah menjadi penghiburan yang sangat besar buatku. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Perkataan yang Yesus katakan sebelum Dia disalibkan itu memberi kita sebuah makna sejati dari Jumat Agung dan Minggu Paskah.

Hari ini, memang kita masih mengalami dampak dari dosa-dosa itu. Kepedihan yang dirasakan oleh murid-murid Yesus itu masih ada dalam kehidupan ini. Tapi, tatkala kita merasa hidup kita sedang berada di titik nadir, hari Paskah memberi kita sebuah kebenaran yang bisa kita pegang. Yesus telah mengalahkan kematian dengan cara memberi diri-Nya di kayu salib sebagai ganti kita, dan Dia juga menyatakan kebenaran-Nya pada kita dengan berkata, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Ya, segala dosa kita telah lunas ditebus-Nya.

Ketika aku mengetahui bahwa Erica telah sepenuhnya menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, aku percaya akan bertemu kembali dengannya di surga kelak. Ya, mungkin nanti kami akan berjalan-jalan bersama, atau juga mengikuti lomba lompat tali hingga kami mendapatkan piagam.

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Mendengar Injil Kembali

Apakah Injil hanya untuk orang-orang yang belum Kristen? Jawaban sederhanaku adalah: Tidak. Jika kita sebagai orang Kristen berpikir kalau kita baik-baik saja, itu berarti kita semakin butuh untuk mendengar Injil. Inilah tiga alasannya.

Apakah Kamu Merasa Gelas Merah Starbucks Merendahkan Natal?

Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Are You Seeing Red Over Starbucks’ Latest Cup?
Sumber Foto: The Christian Post/Napp Nazworth

gelas-merah-starbucks

Setidaknya ada satu orang yang merasa demikian. Dan ia mengungkapkan ketidaksenangannya dalam sebuah video yang diunggah di halaman Facebook pada tanggal 5 November. Video tersebut menyebar luas dengan sangat cepat.

Dalam video berdurasi satu menit lebih yang ditonton lebih dari 15 juta kali itu, Joshua Feuerstein, seorang Amerika yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “evangelist” [penginjil], dengan berapi-api bicara tentang gelas musiman Starbucks yang belum lama ini keluar. Menurutnya, gelas berwarna merah polos itu merupakan sebuah usaha untuk “menyingkirkan Kristus dan Natal dari gelas terbaru mereka”.

Ya, kamu tidak salah baca. Menurutnya, gelas berwarna merah polos yang dikeluarkan Starbucks itu merupakan sebuah serangan terhadap Kristus, orang Kristen, dan perayaan Natal. Tidak peduli bahwa pihak Starbucks sudah memberi keterangan bahwa desain gelas mereka tahun ini sengaja dibuat polos sebagai “ruang bagi setiap pelanggan untuk membuat cerita mereka sendiri”. Tidak peduli bahwa sebenarnya desain-desain gelas Starbucks di musim Natal sebelumnya juga tidak ada kaitannya dengan kelahiran Kristus (hanya menampilkan ornamen kertas kado, boneka salju, Santa, dan ranting tanaman holly). Tidak peduli bahwa yang dipermasalahkan hanyalah sebuah gelas belaka. Feuerstein tidak peduli dengan semua itu.

Tampaknya bagi Feuerstein semua itu tidak penting karena menurutnya orang-orang Kristen memiliki hak sekaligus kewajiban untuk meninggikan Kristus kapan pun dan dalam cara apa pun. Pendapat yang sepertinya benar … tetapi coba pikirkan beberapa pertanyaan berikut:

1. Mengapa kita harus berharap bahwa sebuah perusahaan yang tidak pernah merayakan kelahiran Kristus akan menampilkan simbol-simbol kelahiran-Nya?

2. Apakah usaha “memaksa” Starbucks menunjukkan peristiwa Natal dan pribadi Yesus dalam gelasnya akan membawa orang lebih mengenal dan menghargai Yesus Kristus?

3. Tidakkah kehebohan hanya karena sebuah gelas berwarna merah polos justru bisa menyebabkan orang menganggap remeh ajaran Kristen dan menjauh dari Yesus?

Sebagai umat Kristen, kita tahu bahwa makna sejati perayaan Natal terletak pada pribadi Yesus Kristus, yang telah datang ke dalam dunia untuk tinggal di antara manusia, dan pada akhirnya mati di atas salib agar kita dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Namun, kita tidak akan dapat memberitakan kebenaran ini hanya dengan memaksa orang lain atau perusahaan-perusahaan seperti Starbucks untuk menampilkan apa yang kita yakini. Kita perlu lebih peduli tentang bagaimana mengarahkan orang mengenal Kristus daripada meributkan soal ornamen perayaan.

Dan, cara terbaik merayakan Natal bukanlah dengan menampilkan berbagai simbol untuk dilihat orang, tetapi dengan hidup bagi Yesus dan membagikan kasih-Nya setiap hari. Dengan begitu, kita dapat menginspirasi dan membawa orang lain menjalani hidup yang sama.

Daripada meributkan tentang gelas merah Starbucks, kita bisa melakukan sesuatu yang positif dengan sebuah gelas. Menjelang perayaan Natal tahun ini, ayo luangkan waktu untuk mengajak seorang teman menikmati kopi atau minuman lain (dalam gelas warna apa pun), dan ceritakanlah kepadanya tentang kasih Kristus yang telah mengubah hidupmu.

Benarkah Ada Manusia-Manusia Super di Dunia Ini?

Oleh: Ian Tan
(Artikel asli dalam bahasa Inggris: Are There Superhumans In This World?)

Are-There-Superhumans-In-This-World

Sebuah video di YouTube yang berjudul “Stan Lee’s Superhuman Super Samurai” menarik perhatianku belakangan ini. Aku sendiri pernah berlatih seni bela diri Jepang, jadi aku penasaran ingin mengetahui hal hebat apa yang bisa dilakukan Isao Machii, pendekar samurai itu. Sesuai klaim video tersebut, benar bahwa ia memiliki kemampuan super untuk memotong benda yang sangat kecil dengan kecepatan dan ketepatan yang menakjubkan. Dalam gerakan lambat diperlihatkan bagaimana dengan sebilah samurai, Isao membelah sebutir peluru mainan yang sangat kecil (kira-kira 4.000 kali lebih kecil daripada bola kasti) yang ditembakkan ke arahnya. Aku terpana melihatnya.

Video itu membuatku akhirnya menonton tiga seri tayangan “Stan Lee’s Superhumans” [Manusia-Manusia Super Stan Lee] dari awal hingga akhir. Pembawa acaranya adalah Daniel Browning Smith, yang dikenal sebagai manusia karet alias orang dengan badan paling lentur di dunia. Ia berkeliling dunia untuk mencari orang-orang biasa yang punya kemampuan luar biasa, baik itu kemampuan fisik maupun mental. Beberapa orang hebat yang pernah diangkat dalam tayangan itu antara lain: seorang buta yang bisa mengenali berbagai hal di sekitarnya hanya dengan mendengarkan bunyi yang dipantulkan (mirip kemampuan kelelawar), seorang yang tinggal dan bisa berkomunikasi dengan serigala-serigala, seorang yang menyelam sedalam 200 meter lebih hanya dengan satu kali napas, juga seorang biksu shaolin yang mampu menahan kekuatan bor yang ditekan ke perut, tenggorokan, dan bahkan kepalanya.

Baik ilmu pengetahuan maupun agama telah berusaha memberikan penjelasan tentang kemampuan-kemampuan super yang dimiliki sebagian manusia ini. Penjelasan mana pun yang kita percayai, kita sepakat bahwa manusia-manusia super tersebut telah melampaui apa yang kita pahami sebagai keterbatasan manusia. Kita terkagum-kagum melihat para manusia super itu karena mereka dapat melakukan apa yang tidak pernah dapat kita lakukan sepanjang hidup kita. Kenyataannya, manusia yang punya kemampuan super sudah ada di dunia sejak dulu. Alkitab mencatat beberapa di antaranya. Salah satu yang terkenal adalah Simson, seorang yang amat sangat kuat.

Di tengah kekagumanku terhadap kehebatan para manusia super, aku diingatkan oleh catatan kitab Kejadian bahwa Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya. Mengingat betapa Allah itu Mahabesar dan Mahakuat, sebenarnya tidaklah mengherankan bila sebagian manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang luar biasa.

Akan tetapi, ada satu kemampuan yang aku yakin tidak akan pernah bisa ditampilkan oleh tayangan televisi itu—kemampuan untuk membangkitkan orang dari kematian. Mungkin itu sebabnya pihak produser pun mempertahankan kata “human” [manusia] pada judul tayangan yang mereka produksi. Sebagai manusia, kita tidak dapat menghindar dari yang namanya kematian.

Satu-satunya manusia super yang memiliki kuasa kebangkitan adalah Yesus Kristus sendiri. Yesus menyatakan kuasa-Nya ketika Dia membangkitkan Lazarus dari kubur (Yohanes 11:43). Yesus juga menyatakan kuasa-Nya atas maut ketika Dia bangkit kembali pada hari ketiga setelah mati di kayu salib. Kebangkitan-Nya ibarat puncak pertunjukan dari berbagai kemampuan super lain yang Dia nyatakan sepanjang hidup-Nya, mulai dari mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan penyakit yang tidak ada obatnya, serta berbagai kelemahan fisik lainnya (Matius 8:16).

Sudah sepantasnya kita mengagumi Kristus karena kemampuan-kemampuan-Nya yang tidak terbatas itu. Tetapi, yang jauh lebih penting adalah memahami dampak kebangkitan-Nya bagi kehidupan kita. Kebangkitan Kristus dengan jelas menyatakan kuasa-Nya atas kehidupan dan kematian. Dia lebih dari sekadar seorang manusia super, Dia adalah Allah sendiri. Dia layak menerima penghormatan tertinggi kita, penyembahan kita.

 
Catatan editor: Apa cerita atau ayat Alkitab favoritmu yang menunjukkan kemahakuasaan Allah?

SinemaKaMu: Cinderella, Benarkah Keajaiban Itu Ada?

Oleh: Lisa Jong, China
(artikel asli ditulis dalam bahasa Mandarin: 有美德的地方就有奇迹——《灰姑娘》观后感)

SinemaKaMu-Cinderella

Sebuah cerita lama yang selalu disukai, berkali-kali dikemas untuk penonton yang berbeda. Ya, Cinderella kembali merebut perhatian banyak orang, kali ini dengan sentuhan baru dari studio Disney. Aku sangat senang ketika tahu film ini akan tayang, karena aku sendiri adalah penggemar berat dongeng tentang para peri. Tanpa membuang waktu, aku segera memesan tiket bioskop untuk menontonnya. Tidak sabar rasanya melihat Cinderella dengan gaun dan sepatu kacanya! Aku juga penasaran ingin melihat bagaimana ibu tiri dan kedua saudara tiri Cinderella akan mendapat ganjaran atas perbuatan mereka di akhir cerita.

Sekalipun sebagian besar alur film ini sama dengan dongeng aslinya, tema yang ditonjolkan kali ini agak berbeda. Keajaiban yang dibuat ibu peri tetap dihadirkan, memunculkan kereta labu dan sepatu kaca yang pada akhirnya membawa sang pangeran bertemu dengan gadis yang tepat, Ella. Tetapi, ada penekanan-penekanan khusus yang diberikan di sepanjang cerita, misalnya potongan kalimat: “milikilah keberanian dan kemurahan hati”, “di mana ada kemurahan hati, di situ ada kebaikan”, “di mana ada kebaikan, di situ ada keajaiban”. Selain itu ditegaskan bahwa yang menarik hati sang pangeran bukanlah gaun baru atau sepatu kaca Ella, tetapi keberanian dan kemurahan hatinya.

Jika kamu pernah diperlakukan tidak adil dan direndahkan seperti Ella, atau diremehkan saat kamu menunjukkan keberanian dan kemurahan hati, mungkin kamu sangat mendambakan cerita seperti Cinderella ini menjadi kenyataan. Melihat Ella yang tampak begitu mempesona di dalam balutan gaunnya yang indah, akan menghangatkan hatimu. Melihatnya menarik perhatian banyak orang di tengah pesta, terutama perhatian sang pangeran, akan menyemangati jiwamu. Bukankah setiap kita pada titik tertentu dalam hidup kita pernah berharap bahwa keajaiban yang sama juga bisa terjadi dalam hidup kita? Bukankah akan luar biasa jika ada seorang pangeran yang dapat membebaskan kita dari segala derita, rasa malu, dan putus asa dalam hidup ini?

Tahukah kamu bahwa sekalipun keajaiban ala Cinderella itu tidak nyata, sosok pangeran—atau Raja, lebih tepatnya—itu benar-benar ada. Pangeran itu, Yesus Kristus, adalah Pemilik langit dan bumi, dan Dia datang ke dunia ini untuk mencari kita (tanpa perlu mengecek ukuran sepatu kita). Dia bahkan rela menderita untuk menggantikan kita. Dia menanggung hukuman maut yang seharusnya ditimpakan kepada kita (Yesaya 53:4) sebagai ganjaran terhadap dosa yang dilakukan oleh manusia pertama, Adam, yang membuat kita semua menjadi budak dosa. Yesus membayar harga untuk memerdekakan kita dari perbudakan dosa dengan darah-Nya, dengan hidup-Nya (Roma 6:23). Lebih hebat lagi, Dia mengenakan pakaian yang baru untuk kita, yang membuat kita dapat kembali serupa dengan Dia—bukan hanya keberanian dan kemurahan hati seperti yang dikenakan Ella, tetapi juga kekudusan, kebenaran, kelemahlembutan, dan kerendahan hati (Roma 13:14). Dia menjadikan kita sebagai mempelai-Nya, ikut memerintah di dalam kerajaan-Nya yang kekal, mengangkat kita sebagai anak-anak Allah dan ahli waris dari janji-janji-Nya (Galatia 4:7).

Kedatangan Yesus memberitahu kita bahwa kita tidak perlu lagi menjadi budak dari “ibu tiri” dosa. Kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, yang telah datang dalam rupa manusia untuk membebaskan kita dari belenggu dosa. Dia mengundang kita untuk menjadi mempelai-Nya dan masuk dalam kerajaan-Nya. Aku telah menerima undangan-Nya beberapa tahun silam, dan sejak saat itu, aku menanti-nantikan tibanya hari istimewa, saat aku, seperti Cinderella, akhirnya dapat mengenakan gaun putih dan tinggal bersama Sang Pangeran, Sang Anak Domba, selamanya (Wahyu 19:7-9)

Bersediakah kamu juga menerima undangan-Nya?

 
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. (Yohanes 1:12-13)