Posts

Refleksi Mazmur 91: Belajar Memahami Janji Tuhan dengan Benar

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Merebaknya pandemi virus COVID-19 di seluruh dunia telah menghadirkan kecemasan dan ketakutan. Ketika jumlah pasien di Nusantara semakin meningkat dalam beberapa minggu terakhir, masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menganggap sepi ancaman pandemi ini. Semua orang, termasuk orang-orang Kristen, berusaha untuk menyikapi situasi ini sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Seperti yang bisa diduga, tidak semua orang Kristen berbagi keyakinan yang sama. Sebagian mengalami ketakutan yang berlebihan. Sebagian yang lain tampak tenang. Kelompok yang terakhir ini meyakini bahwa wabah dan tulah tidak akan menimpa orang yang beriman. Banyak ayat dimunculkan sebagai dukungan. Salah satunya adalah Mazmur 91.

Penafsiran historis terhadap teks ini menunjukkan bahwa Mazmur 91 memang telah menjadi penghiburan dan pengharapan bagi bangsa Yahudi maupun umat Kristen di sepanjang zaman. Sebagian orang bahkan menjadikan teks ini sebagai mantera maupun bacaan wajib tiap malam, terutama ketika bencana datang menghadang. Beberapa misionaris yang menghadapi tantangan besar di ladang juga menjadikan teks ini sebagai ayat favorit mereka.

Menjadikan Mazmur 91 sebagai penghiburan di tengah bahaya yang datang memang wajar. Beragam kata yang berkaitan dengan perlindungan muncul berkali-kali dalam teks ini: lindungan (ayat 1), naungan (ayat 1), perlindungan (ayat 2, 9), pertahanan (ayat 2), perisai dan pagar tembok (ayat 4), perteduhan (ayat 9), keselamatan (ayat 16). Begitu pula pelbagai kata kerja yang mengarah pada ide yang sama: melepaskan (ayat 3), menudungi (ayat 4), menjaga (ayat 11), menatang (ayat 12), meluputkan dan membentengi (ayat 14). Sehubungan dengan kasus virus Corona Covid-19, mazmur ini menjanjikan bahwa penyakit sampar dan menular tidak akan menakutkan bagi orang yang beriman (ayat 5-6). Walaupun ribuan orang akan rebah, kita hanya akan menonton saja (ayat 7-8).

Benarkah mazmur ini menjanjikan perlindungan mutlak dari bahaya? Benarkah orang Kristen tidak mungkin tertular suatu wabah? Penyelidikan yang teliti menunjukkan bahwa teks ini tidak boleh ditafsirkan seolah-olah peristiwa buruk sama sekali tidak akan menimpa orang percaya.

Pertama, fungsi awal mazmur ini dalam konteks ibadah. Jika kita memerhatikan dengan cermat, mazmur ini menggunakan kata ganti orang yang berlainan. Di ayat 1-2 pemazmur berbicara tentang “orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa”. Mulai ayat 3-13 pemazmur menggunakan sapaan “engkau”. Ayat 14-16 menampilkan Allah sebagai pembicara. Perbedaan kata ganti ini diyakini oleh banyak penafsir sebagai petunjuk ke arah penggunaan mazmur ini dalam konteks ibadah (liturgi). Ada kemungkinan mazmur ini dinyanyikan secara bersahut-sahutan selama ibadah.

Jika benar demikian, semua janji dalam mazmur ini hanya berlaku secara umum bagi umat Allah. Keadaan spesifik masing-masing orang mungkin akan berbeda. Allah mungkin memiliki rencana tertentu bagi individu tertentu. Walaupun demikian, mazmur ini secara umum bisa dijadikan penghiburan di tengah ketakutan.

Kedua, jenis bahaya yang dimaksud. Semua bahaya yang disebutkan dalam mazmur ini—peperangan (ayat 5), penyakit (ayat 6), malapetaka dan tulah (ayat 10)—sebaiknya dipahami sebagai hukuman dari Allah kepada orang-orang fasik. Dugaan ini didukung secara eksplisit oleh ayat 8: “Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik”. Selain itu, penggunaan istilah “jerat penangkap burung” (ayat 3) dan “tulah” (ayat 10) mengarah pada maksud jahat dari orang-orang fasik yang mencoba menciderai orang percaya, tetapi Allah merespons itu dengan hukuman. Dalam situasi seperti ini, kita bisa meyakinkan diri kita bahwa semua upaya jahat itu tidak akan berhasil. Kalau pun berhasil, hal itu justru akan mengerjakan kebaikan bagi kita (lihat Kejadian 50:20).

Jika maksud pemazmur memang seperti itu, Mazmur 91 tidak boleh diterapkan secara mutlak dalam konteks persebaran virus COVID-19. Tidak ada tanda-tanda bahwa wabah ini merupakan hukuman Allah bagi orang fasik. Ini adalah persoalan biasa. Siapa saja bisa terpapar. Beberapa pasien adalah orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.

Ketiga, jenis sastra teks ini yang puitis. Untuk memahami maksud suatu teks, pembaca perlu mengetahui jenis sastra (genre) dari teks tersebut. Kita tidak akan membaca buku sejarah layaknya membaca sebuah puisi, begitu pula sebaliknya. Masing-masing jenis sastra memiliki karakteristik dan aturan penafsiran sendiri-sendiri. Hal yang sama berlaku pada Mazmur 91.

Teks ini ditulis dalam bahasa puisi: beragam metafora, permainan kata, pengulangan ide, dan ungkapan-ungkapan figuratif. Sebagai contoh, marilah kita melihat ayat 13: “Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga”. Apakah kita seharusnya menafsirkan bagian ini secara harfiah? Tentu saja tidak! Akan sangat konyol dan memalukan kalau ada orang Kristen yang secara gegabah melangkahi dan menginjak binatang-binatang buas sambil berharap dia akan baik-baik saja. Teks ini tidak untuk diterapkan secara harfiah.

Keempat, cakupan penerima janji. Semua janji di mazmur ini bersifat bersyarat (kondisional). Janji-janji itu tidak berlaku untuk semua orang atau siapa saja. Di awal mazmur ini sudah diajarkan bahwa kebaikan Allah di sini hanya ditujukan kepada mereka yang “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (ayat 1). Kata “duduk” (Ibrani yāshab) seharusnya diterjemahkan “berdiam”. Bukan sekadar duduk, tetapi memang tinggal di sana (lihat semua versi Inggris). Terjemahan “bermalam” (lûn) menyiratkan istirahat atau ketenangan setelah bepergian jauh (LAI:TB “bermalam”). Dengan kata lain, orang yang berdiam dan bermalam dalam TUHAN adalah mereka yang menjadikan TUHAN sebagai tempat perlindungan dan kubu pertahanan (ayat 2). Metafora di ayat 1-2 ini selanjutnya diulang lagi di ayat 9. Jadi, sekali lagi, janji ini hanya berlaku bagi mereka yang menjadikan TUHAN sebagai tempat perlindungan dan perteduhan.

Apakah yang dimaksud dengan “menjadikan TUHAN sebagai tempat perlindungan dan perteduhan”? Pemazmur menjelaskan itu di ayat 14-15. Berlindung dan berteduh pada TUHAN berarti memiliki relasi personal dengan Allah yang intim (ayat 14). Keintiman ini diungkapkan melalui frasa “hatinya melekat kepada-Ku” (LAI:TB). Kata Ibrani di balik terjemahan ini bisa berarti “mengasihi” atau “menempel pada sesuatu”. Beberapa versi Inggris menggabungkan dua makna ini sekaligus (ESV “he holds fast to me in love”; RSV “he cleaves to me in love”). Ungkapan lain yang menggambarkan keintiman tersebut adalah “mengenal nama-Ku”. Kata kerja “mengenal” di sini tentu saja bukan sekadar tahu, tetapi benar-benar dekat. Istilah “nama” di sini pun bukan sekadar sebutan atau panggilan. Nama berbicara tentang Pribadi. Dengan kata lain, mengenal nama berarti mengenal secara dekat.

Menjadikan TUHAN sebagai perlindungan dan perteduhan juga berarti menyandarkan diri pada Allah melalui doa (ayat 15). Yang mendapatkan janji TUHAN adalah mereka yang “berseru kepada-Ku”. Doa ini lahir dari kelemahan, keterbatasan, dan ketidakberdayaan (“dalam kesesakan”). Di samping itu, doa ini juga muncul dari iman, dari hati yang berani berkata: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai” (ayat 2).

Kelima, pemahaman Tuhan Yesus tentang mazmur ini. Pada momen pencobaan di padang gurun, Iblis mengutip salah satu ayat dari mazmur ini (ayat 11-12). Yang dikutip tentu saja yang berisi janji ilahi bahwa TUHAN akan menyuruh para malaikat untuk menopang orang benar sehingga kakinya tidak akan terantuk (Matius 4:6). Bukankah Yesus orang yang benar? Bukankah para malaikat pasti akan menatang Dia? Lalu apakah Yesus akhirnya benar-benar melompat dari bubungan bait Allah? Tentu saja tidak! Tuhan Yesus memahami bahwa teks ini tidak boleh ditafsirkan dan diterapkan secara sembarangan. Menggunakan ayat ini secara sembrono berarti mencobai TUHAN (Matius 4:7).

Dengan memahami 5 (poin) di atas, kita tidak akan kaget ketika melihat seorang yang sungguh-sungguh beriman ternyata terkena suatu wabah atau bencana. Janji-janji di Mazmur 91 memang berlaku secara umum. TUHAN pasti memiliki rencana yang lebih baik bagi orang tersebut. Sikap Tuhan Yesus ketika dicobai oleh Iblis dengan menggunakan ayat ini memberikan pencerahan penting untuk memandang janji-janji ilahi ini dengan benar. Bagi Yesus Kristus, yang terpenting bukan perlindungan bagi diri sendiri, melainkan penggenapan rencana Allah. Untuk apa memperoleh perlindungan tetapi gagal memenuhi panggilan Allah? Bukankah perlindungan dari Allah seharusnya ditujukan untuk penggenapan rencana-Nya? Jika Allah memandang bahwa kematian seseorang lebih memuliakan Dia, untuk apa Dia memberikan kelepasan dari kematian? Namun, jika kelepasan memang lebih bermanfaat bagi penggenapan rencana-Nya, Allah pasti akan campur tangan. Intinya, baik hidup atau mati, semua untuk kepentingan Allah. Mana saja yang lebih memuliakan TUHAN, itu yang kita jadikan pilihan.

Pemahaman di atas juga menghindarkan kita dari gaya hidup yang sembrono. Semua upaya untuk menghindarkan diri dari pandemi virus ini harus dilakukan: sering mencuci tangan dengan benar, menjaga pola makan yang sehat, beristirahat dengan cukup, tidak stres, rajin berolah raga dan menghindari kerumunan orang. Kita juga berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjadi penyebar atau perantara virus. Hindari aktivitas yang bisa membuat kita terpapar. Sama seperti Kristus yang tidak mau sembarangan menerapkan janji-janji Allah di mazmur ini, demikian pula dengan kita. Bagian kita adalah menjaga diri sebaik mungkin sambil terus mendekat kepada Allah. Jika sesuatu yang buruk tetap terjadi, hal itu berarti Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik daripada sekadar perlindungan. Allah sedang menyertakan kita dalam rencana-Nya.

Soli Deo Gloria.

* * *

Tentang penulis:

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Andra Tutto Bene, Semua Akan Baik-baik Saja

Ketika keadaan tampak kelam, jalan keluar tak terlihat, harapan tetaplah ada. Tuhan kita setia, Dia tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Ibadah Online, Salah Satu Kontribusi Gereja Redakan Pandemi Covid-19

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Dampak virus corona Covid-19 semakin meluas. Hampir semua area merasakan dampaknya. Salah satunya adalah ibadah hari Minggu. Sebagian gereja, baik di Indonesia maupun luar negeri (Singapura, Hong Kong, dan lainnya) sudah tidak lagi mengadakan pertemuan bersama di gedung gereja. Mereka mulai melakukan ibadah secara online (live streaming atau recorded sermon). Beberapa menawarkan beberapa opsi ibadah yang beragam sekaligus, tergantung pada preferensi jemaat masing-masing.

Fenomena ini menimbulkan pro dan kontra. Sudah banyak jemaat, hamba Tuhan, gereja maupun sinode yang menanyakan pendapatku tentang hal ini. Gerejaku di Surabaya juga menggumulkan isu yang sama.

Apakah ibadah online boleh ditiadakan hanya gara-gara sebuah wabah? Perlukah ibadah konvensional (secara tatap muka) tetap dipertahankan? Bagaimana pandangan Alkitab tentang hal ini?

Untuk memahami isu ini dengan baik, kita perlu menegaskan terlebih dahulu alasan utama di balik wacana penghentian ibadah konvensional. Wacana ini seharusnya didorong oleh keinginan untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan ketakutan akan tertular virus ini. Seperti yang sudah diberitakan berkali-kali oleh instansi-instansi yang berwenang, menghindari pertemuan dalam skala besar merupakan salah satu langkah penting dan efektif untuk menekan persebaran Covid-19. Semakin sering pertemuan dilakukan dan semakin banyak orang yang terlibat, semakin besar pula risiko persebaran virusnya. Jika ini yang terjadi, gelombang pandemi ini tidak akan kunjung mereda. Jumlah korban jiwa akan terus bertambah. Rumah sakit di Indonesia tidak akan memiliki kapasitas ruangan dan tenaga perawatan yang memadai untuk menolong para korban. Berbagai estimasi ilmiah menunjukkan bahwa jika situasi tidak berubah, kekacauan akan muncul semakin besar.

Di tengah situasi seperti ini, gereja-gereja seharusnya terpanggil untuk memberikan kontribusi nyata. Bukan hanya slogan-slogan rohani yang menguatkan hati, tetapi sebuah langkah konkrit. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh gereja. Salah satunya adalah mengkaji ulang pengadaan ibadah konvensional. Aku meyakini bahwa upaya ini tidak melanggar firman Tuhan.

Pertama, pembatasan sosial (social distancing) merupakan himabuan pemerintah yang baik. Sebagai warga negara yang baik, kita tidak memiliki alasan untuk tidak menaati himbauan yang baik seperti ini (Roma 13:1-7). Selain itu, Tuhan juga memerintahkan umat Allah untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana Tuhan membuang mereka (Yeremia 29:7). Mengurangi jumlah pertemuan dan jemaat yang hadir dalam ibadah-ibadah konvensional merupakan tanggung jawab sosial bagi semua masyarakat, termasuk orang-orang Kristen. Tidak menghiraukan himbauan ini akan memberikan pesan negatif kepada dunia bahwa orang-orang Kristen tidak memiliki kepekaan sosial. Sekali lagi, ini bukan tentang ketakutan atau kelemahan iman. Sama sekali tidak. Ini tentang kepedulian dan kontribusi bagi masyarakat.

Kedua, hari Sabat bukan alasan untuk tidak berbuat kebaikan. Tuhan Yesus sering berdebat dengan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tentang pelaksanaan Sabat. Walaupun sama-sama menerima perintah untuk menghormati hari Sabat, mereka berbeda pendapat tentang aplikasi detailnya. Tradisi Farisi membuat pelaksanaan Sabat begitu rumit. Ada banyak aturan tambahan. Tuhan Yesus beberapa kali bersilang pendapat dengan mereka tentang aturan-aturan itu. Suatu kali mereka memersoalkan murid-murid yang memetik bulir gandum untuk dimakan pada hari Sabat (Matius 12:1-8). Yesus membenarkan tindakan murid-murid sambil memberikan contoh bagaimana Daud dan para pengikutnya telah melanggar sebuah aturan ibadah demi mempertahankan jiwa mereka (Markus 2:25-26). Yesus bahkan menegaskan bahwa hari Sabat diciptakan untuk manusia, bukan sebaliknya (Markus 2:27). Maksudnya, jangan sampai “ketaatan” pada aturan relijius atau ritual tertentu justru mengabaikan yang terpenting, yaitu nyawa manusia. Poin ini juga diajarkan oleh Yesus ketika Dia menyembuhkan orang atau melakukan kebaikan lain pada hari Sabat (Matius 12:10-13). Intinya, sekali lagi, jangan sampai perayaan Sabat menghalangi kita untuk berbuat kebaikan.

Ketiga, pertimbangan historis tentang esensi ibadah memberi ruang bagi ibadah yang tidak konvensional. Ada banyak contoh historis yang relevan dan bisa dipaparkan di sini. Cukuplah untuk melihat beberapa saja. Yang pertama adalah kehancuran bait Allah Salomo oleh tentara Babel. Selama berabad-abad umat Allah (terutama kerajaan Yehuda di selatan) menjadikan bait Allah di Yerusalem sebagia kebanggaan dan pusat ibadah. Elemen-elemen ibadah penting dilakukan di sana: persembahan kurban, hari raya pendamaian, dan sebagainya. Dengan kehancuran bait Allah, bangsa Yehuda dipaksa untuk memikirkan ulang esensi ibadah mereka. Yang terpenting dalam ibadah bukanlah persembahan, tetapi ketaatan (1 Samuel 15:22). Pembuangan ke Babel menghadirkan pergeseran besar yang lebih baik dalam ibadah umat Tuhan: fokus pada ritual (persembahan kurban) bergeser pada ketaatan (pengajaran firman). Ibadah bersama dalam skala besar sekarang menjadi ibadah dalam skala yang lebih kecil. Para ahli bahkan menduga pembuangan ke Babel ini menjadi cikal-bakal berdirinya rumah ibadat Yahudi (sinagoge) yang lebih berfokus pada pengajaran hukum Taurat.

Contoh historis lainnya adalah sebuah isu peperangan dalam pemberontakan Makabe melawan penguasa Siria (dinasti Seleukus). Perjuangan bangsa Yahudi di bawah kepemimpinan keluarga imam Matatias (terutama di bawah pimpinan Yudas Makabe) terus meraih kesuksesan. Mereka menjadi ancaman serius bagi penguasa asing. Nah, salah satu strategi musuh untuk melemahkan perjuangan ini adalah dengan menyerang pasukan Makabe pada hari Sabat. Awalnya, bangsa Yahudi menolak untuk melawan, sehingga banyak korban berjatuhan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memberikan perlawanan, sekalipun hal itu tergolong pelanggaran Sabat menurut tradisi populer pada waktu itu. Mereka menyadari bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting daripada ketaatan kaku terhadap hari Sabat.

Dua contoh di atas menunjukkan bagaimana umat Allah bersikap pada saat situasi khusus yang buruk. Mereka dipaksa untuk memikirkan ualng esensi dari segala sesuatu. Mereka menggumulkan kembali apa yang penting dan apa yang lebih penting.

Keempat, konsep teologis tentang gereja dan tradisi gereja mula-mula juga memberi tuntunan yang cukup jelas. Gereja adalah orang, bukan bangunan (1 Korintus 1:2). Di mana umat Tuhan berkumpul, di situ ada gereja. Yang penting adalah kehadiran Allah, bukan rumah Allah secara fisik. Tidak heran, tempat ibadah jemaat mula-mula cukup variatif. Kadang di bait Allah, di rumah ibadat Yahudi mapun di rumah-rumah jemaat (Kisah Para Rasul 2:42-47). Jumlah kehadiran di setiap ibadah terbatas.

Praktik seperti ini terus dipertahankan di periode berikutnya, terutama pada saat penganiayaan terhadap orang-orang Kristen semakin meningkat dan meluas. Mereka harus berkumpul dalam skala kecil dan sembunyi-sembunyi supaya tidak ketahuan. Mereka menggunakan gaya ibadah dan liturgi yang beragam, sesuai dengan keadaan. Yang terpenting bagi mereka adalah persekutuan dengan orang percaya yang lain, tidak peduli berapa pun jumlahnya, tidak peduli bagaimana suasana ibadahnya, tidak peduli di mana tempatnya.

Kelima, persekutuan orang Kristen tidak dibatasi oleh lokasi. Yang disebut gereja adalah semua orang di segala tempat yang memanggil nama Yesus sebagai Tuhan (1 Korintus 1:2). Ini disebut gereja universal. Kristus sebagai Gembala Agung. Yang dipentingkan dalam persekutuan ini adalah kesehatian. Lokasi bukanlah halangan. Sebagai contoh, Paulus mengajak jemaat di Korintus untuk bersatu dengan dia dalam roh dan mengambil keputusan bersama tentang suatu kasus di jemaat (1 Korintus 5:3-5). Perbedaan lokasi tidak menghalangi Paulus untuk hadir secara rohani atau berkumpul di dalam roh. Dengan cara yang sama, ibadah online, terutama dalam kondisi khusus, tetap bisa mengakomodasi persekutuan.

Berdasarkan semua pertimbangan di atas, aku mengsulkan gereja-gereja untuk secara serius menjauhi pertemuan ibadah dalam jumlah besar. Ini adalah tanggung jawab sosial kita. Dunia sedang mengawasi kita. Jangan sampai kita menjadi syak atau batu sandungan bagi orang lain.

Secara lebih spesifik dan praktis, aku mengusulkan agar gereja-gereja menawarkan beragam opsi ibadah sekaligus supaya dapat mengakomodasi sebanyak mungkin aspirasi jemaat. Berikut ini beberapa tips praktis yang bisa dilakukan:

Yang pertama tentu saja adalah menyediakan ibadah online. Jika peralatan memadai dan kecepatan internet kencang serta sudah terbiasa, gereja bisa mengadakan ibadah live streaming. Pastikan saja bahwa proses mengunggah berkas dan mengunduhnya berjalan dengan cepat dan mulus. Jangan sampai terjadi masalah teknis (jaringan lambat atau crash). Jika live streaming tidak memungkinkan, ibadah yang sudah direkam terlebih dahulu bisa menjadi pilihan. Rekaman ini lalu diunggah ke internet (ada banyak pilihan), dan tautan diinfokan ke jemaat pada Hari Minggu pagi (atau sesuai jam ibadah).

Gereja juga perlu memikirkan sejumlah lokasi berbeda bagi jemaat yang ingin bersekutu dalam skala kecil. Semakin banyak pilihan lokasi semakin sedikit jumlah jemaat yang akan berkumpul di tempat yang sama. Ini sangat baik untuk mengurangi resiko persebaran. Gedung gereja tetap bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan lokasi. Jika pimpinan gereja tetap mengadakan ibadah seperti biasa di gereja, hal itu tidak masalah, karena jumlah jemaat yang hadir juga tidak akan banyak. Mereka sudah tersebar ke berbagai lokasi. Jangan lupa untuk melakukan pembersihan ruangan dan peralatan secara maksimal, baik di gereja atau setiap lokasi persekutuan yang lain.

Jika sebuah gereja memiliki pemimpin awam yang banyak, mereka bisa diminta untuk menyampaikan firman Tuhan di persekutuan kecil sesuai lokasi masing-masing. Jika tidak memungkinkan, setiap persekutuan bisa menonton ibadah streaming/rekaman bersama-sama.

Opsi terakhir yang perlu dipikirkan adalah ibadah keluarga. Setiap keluarga didorong untuk mengadakan ibadah Minggu sendiri-sendiri. Para rohaniwan bisa menyediakan liturgi dan ringkasan khotbah yang dapat dijadikan patokan bagi setiap keluarga. Jika kepala keluarga tidak pandai berkhotbah, dia bisa membacakan saja ringkasan yang ada. Bila perlu, ajak semua anggota keluarga untuk mengikuti ibadah online bersama-sama.

Kiranya artikel ini bisa memberikan sepercik pencerahan bagi banyak orang yang mengalami kebingungan dan keresahan. Aku meyakini bahwa situasi khusus yang terlihat buruk ini justru merupakan ajakan yang baik dari TUHAN kepada gereja-gereja untuk merenungkan kembali hakikat gereja dan ibadah. Apakah selama ini kita terlalu asyik dengan tradisi dan kenyamanan beribadah sehingga sukar untuk memikirkan sesuatu yang baru? Apakah kita selama ini telah mengabaikan bahwa gereja adalah orang, bukan bangunan? Persekutuan, bukan sekadar perkumpulan? Apakah kita serius menghidupi slogan “gereja adalah keluarga besar dan keluarga adalah gereja kecil”?

Soli Deo Gloria.

* * *

Tentang penulis:

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini

Baca Juga:

Mengapa Kita Perlu Menunda Pertemuan Fisik?

Mengapa orang-orang Kristen perlu menunda aktivitas pertemuan selama masa-masa pandemi virus Covid-19? Apakah karena kita kekurangan iman bahwa Tuhan akan melindungi kita?

Misteri Orang-orang Majus: Siapa, Dari Mana, Berapa, Kapan, dan Mengapa?

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Salah satu pertanyaan yang kerap kali ditujukan pada momen-momen Natal adalah seputar orang-orang Majus di Matius 2:1-12. Tokoh Alktab ini bukanlah figur asing pada perayaan Natal. Banyak drama Natal menampilkan kisah orang-orang Majus mengunjungi bayi Yesus. Pertanyaannya, apakah drama itu sudah merepresentasikan catatan dan ajaran Alkitab dengan tepat?

Siapakah orang Majus itu?

Alkitab menyebut orang-orang yang mengunjungi bayi Yesus di Matius 2:1-12 sebagai magoi (bentuk jamak dari magos), tetapi Alkitab tidak memberitahukan siapa sebenarnya mereka. Para penerjemah biasanya mempertahankan istilah yang dipakai tanpa bermaksud untuk menerjemahkannya (di Alkitab versi NIV/NASB disebut “Magi),, atau menerjemahkannya dengan “orang-orang bijaksana” (di Alkitab KJV/ASV/RSV/ESV disebut “wise men”). Perbedaan penerjemahan ini menyiratkan kerancuan arti di balik kata magos.

Kata magos tidak sering ditemui dalam Alkitab. Kalau pun ditemukan, kemunculannya hanya terbatas pada konteks-konteks tertentu. Dalam Perjanjian Baru, kata ini hanya muncul di Kisah Para RAsul 13:6, 8, dan dikenakan pada Baryesus atau Elimas yang adalah seorang tukang sihir. Dalam Perjanjian Lama, kata yang sama muncul beberapa kali di kitab Daniel (LXX) untuk para ahli nujum atau tafsir mimpi di Kerajaan Babilonia (2:2, 10, 27; 4:7; 5:7, 11, 15). Di berbagai tulisan kuno di luar Alkitab, kata magos juga memiliki arti yang variatif, walaupun tetap berdekatan. Kata ini bisa merujuk pada suku tertentu di antara bangsa Median, orang-orang yang bijaksana, ahli perbintangan dan ilmu lain, atau tukang sihir.

Berdasarkan konteks Matius 2:1-12, kita sebaiknya memahami magos sebagai “orang-orang yang memiliki kapasitas pemahaman yang istimewa berdasarkan ilmu perbintangan” (Louw-Nida Lexicon). Mereka sangat bergantung pada penampakan bintang (2:1). Ketika lokasi persis yang ditunjuk oleh bintang itu tidak bisa diketahui, mereka menggunakan cara-cara yang alamiah dan logis untuk mengetahuinya, yaitu dengan bertanya kepada para pemimpin Yahudi (2:2). Seandainya mereka adalah ahli sihir mungkin mereka akan melakukan ritual-ritual tertentu untuk mengetahui posisi Tuhan Yesus.

Dari mana orang-orang Majus berasal?

Alkitab hanya memberi keterangan bahwa hoi magoi berasal dari Timur, itu pun secara tidak langsung. Matius 2:2 hanya mencatat bahwa orang-orang Majus telah melihat bintang itu di timur, lalu memutuskan untuk mengikutinya sampai ke Yerusalem. Kata anatolē (timur) sendiri secara hurufiah berarti “tempat terbitnya matahari”, sehingga tepat jika diterjemahkan “timur”.

Keterangan ini sebenarnya tidak banyak membantu. Ada beragam alternatif tempat di daerah timur. Walaupun demikian, sebagian besar penafsir Alkitab menduga para majus berasal dari Babilonia atau Persia. Selain dari sisi geografis memungkinkan (Babel dan Persia sama-sama terletak di sebelah timur), dua kerajaan ini juga terkenal karena ilmu perbintangannya, apalagi di kemudian hari negara Babel juga dikalahkan oleh Media-Persia. Selain itu, pengetahuan para majus yang cukup spesifik—tentang kelahiran seorang raja Yahudi yang layak untuk dikunjungi dari jauh dan disembah—mungkin menyiratkan bahwa mereka sebelumnya sudah mengetahui pengharapan mesianis Yahudi dalam taraf tertentu. Jika ini benar, mereka mungkin mendapatkannya dari orang-orang Yahudi yang sudah lama ada di kerajaan Babel. Sekali lagi, ini hanyalah sebuah dugaan yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Hanya saja, dugaan ini lebih kuat daripada alternatif yang lain.

Berapa jumlah orang majus yang datang?

Drama-drama dan lukisan-lukisan Natal umumnya menampilkan tiga orang majus yang datang menjenguk bayi Yesus. Tradisi kekristenan bahkan menyebutkan nama mereka masing-masing: Gaspar, Melkhior, dan Balthasar. Tidak heran, banyak orang kristen berpikir bahwa jumlah orang majus di Matius 2:1-12 adalah tiga orang.

Pembacaan Alkitab yang lebih teliti menunjukkan bahwa dua hal tersebut—jumlah dan nama orang majus—hanyalah dugaan semata-mata. Alkitab tidak pernah menyebutkan jumlah orang majus secara spesifik. Kata magoi (2:1) hanya menunjukkan jumlah mereka yang jamak.

Jumlah “tiga” sangat mungkin didasarkan pada jenis persembahan yang diberikan kepada Tuhan Yesus, yaitu emas, mur, dan kemenyan (2:11). Persoalannya, Alkitab hanya memberitahukan jenis persembahan, bukan jumlah persembahan mereka. Siapa yang bisa memastikan bahwa emas yang dibawa hanya sebatang? Siapa yang tahu berapa banyak kemenyan dan mur yang dipersembahkan? Bahkan, sekalipun tiga hal ini dianggap sebagai jumlah persembahan, kita tetap tidak dapat memastikan bahwa satu orang majus hanya membawa satu persembahan.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita sebaiknya tidak membatasi jumlah orang majus yang datang kepada Yesus. Jumlah mereka bisa tiga atau lebih.

Kapankah orang-orang majus datang?

Kita terbiasa menyaksikan orang-orang majus sedang berlutut di depan bayi Yesus yang sedang dibalut kain lampin dan terbaring di palungan. Gambaran ini merupakan penggabungan dua kisah Natal yang berlainan (Matius 2:1-12 dan Lukas 2:8-20). Sayangnya, upaya ini tidak tepat.

Berita Natal pertama kali diberitahukan kepada para gembala yang berada tidak jauh dari Betlehem. Mereka pun langsung merespons berita itu dengan datang ke Betlehem. Jarak yang dekat dan durasi antara kelahiran-pemberitahuan-kedatangan yang tidak lama membuat para gembala berkesempatan melihat bayi Yesus di dalam palungan dan masih terbungkus dengan kain lampin.

Kisah orang-orang majus sedikit berbeda. Matius 2:10-11 mencatat bahwa para majus menemui bayi Yesus di sebuah rumah, bukan di palungan. Lagipula, keputusan Herodes untuk membunuh semua bayi yang berusia di bawah 2 tahun berkaitan dengan waktu yang diberitahukan oleh para majus (Matius 2:16). Ini menyiratkan bahwa pada saat orang majus sampai di Yerusalem atau Betlehem, Yesus bukan lagi seorang bayi mungil yang terbungkus dengan kain lampin. Ia kemungkinan besar sudah bisa berjalan dan bermain-main, karena usianya sudah di atas satu tahun. Orang tuanya pun sudah berpindah dari kandang ke rumah biasa.

Mengapa kisah orang-orang majus perlu dicatat?

Pertanyaan ini bisa dijawab secara beragam dan saling melengkapi. Walaupun demikian, berdasarkan konteks Matius 1-2, tujuan yang paling dominan adalah untuk menekankan status Tuhan Yesus sebagai raja, secara khusus raja dari keturunan Daud. Beberapa petunjuk teks mengarah pada kesimpulan ini.

Di awal silsilah, Yesus disebut sebagai “anak Daud” (Matius 1:1). Keturunan dari Daud ini bahkan lebih dominan daripada keturunan dari Abraham, yang ditunjukkan melalui keutamaan Daud dalam silsilah. Nama Daud muncul dua kali dalam ringkasan silsilah (Matius 1:17).

Yusuf pun disebut sebagai “anak Daud” (Matius 1:20). Kelahiran Yesus yang menggenapi nubuat Nabi Yesaya (Yesaya 7:14); Matius 1:22-23) selaras dengan janji TUHAN kepada keturunan Yehuda/Daud (Yesaya 7:2, 13) bahwa Ia akan meneguhkan kerajaan Yehuda melalui Daud atau keturunan Isai (Yesaya 9:7; 11:1). Posisi kelahiran di Betlehem pun turut mempertegas ide bahwa Yesus adalah raja dari keturunan Daud (Matius 2:5-6). Kegeraman Herodes di Matius 2:1-12 juga menunjukkan persaingan antara dua raja.

Dengan menampilkan kisah kedatangan orang-orang majus, Matius ingin menandaskan status Yesus sebagai Raja Israel. Kekuasan-Nya bukan hanya terbatas di wilayah Israel. Bangsa-bangsa lain pun datang untuk menyembah Dia. Ini sesuai dengan penutup Injil Matius: “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19). Penyertaan-Nya kepada murid-murid sampai kesudahan zaman (Matius 2:20) cocok dengan nama yang dilekatkan pada saat kelahiran-Nya, yaitu Imanuel, Allah beserta dengan kita (Matius 1:23).

Belajar Penginjilan dari Paulus (Pengajaran dari Kisah Para Rasul 17:16-34)

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Injil memang bersifat kekal dan universal. Kekal, karena sampai kapan pun manusia membutuhkan kebebasan dari belenggu dosa dan keselamatan dari hukuman ilahi. Injil akan selalu relevan dan tidak pernah ketinggalan zaman. Universal, karena kebutuhan terhadap kebebasan dan keselamatan ini menjadi milik semua orang. Tidak peduli siapa, darimana, bagaimana, dan di mana seseorang berada, Alkitab dengan jelas berkata: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23)”.

Pengakuan terhadap kekekalan dan universalitas Injil ini tidak berarti penolakan terhadap elemen temporal dan kultural dalam pemberitaan Injil. Kemasan dan strategi penginjilan harus disesuaikan dengan orang dan situasi. Beda orang, beda keadaan, beda pendekatan.

Begitu juga yang dilakukan oleh Paulus. Dia mendekati orang-orang Yahudi dengan cara yang berbeda dengan dia menghadapi orang-orang Yunani. Tatkala dia berada di depan orang-orang Yunani dia tidak mengutip ayat-ayat kitab suci maupun menunjukkan penggenapan nubuat-nubuat dalam kitab suci, walaupun apa yang dia katakan selaras dengan kitab suci. Pendengarnya mungkin tidak pernah mengetahui atau membaca kitab-kitab itu. Karena itu, Paulus menggunakan strategi yang berbeda.

Bagaimana Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang di Athena? Apa yang kita bisa adopsi dan adaptasi ke dalam keadaan kita sekarang?

1. Mengenali keadaan dengan cermat (ayat 16-21)

Hal pertama yang dilakukan Paulus di Atena adalah mengamati kota itu. Dia mendapati begitu banyak penyembahan berhala di sana, sehingga hatinya merasa sedih (LAI:TB, ayat 16). Beberapa versi Inggris menerjemahkan kata “sedih” (paroxynomai) di sini dengan “tertekan” (RSV/NIV/NLT). Terjemahan yang lebih hurufiah adalah “terprovokasi” (ESV/NASB). Maknanya lebih berkaitan dengan kemarahan (1Kor. 13:5 “kasih itu tidak marah”; Yes. 65:3; Hos. 8:5) daripada kesedihan atau tekanan. Sikap hati yang marah atau jijik terhadap penyembahan berhala ini sangat lazim di antara orang-orang Yahudi yang menganut monoteisme secara ketat.

Apa yang ada di dalam hati perlu diekspresikan dengan hati-hati. Ada banyak cara untuk mengungkapkan kemarahan. Setiap ungkapan kemarahan harus memperhatikan keadaan.

Paulus memilih untuk menyalurkan isi hatinya melalui dialog (ayat 17 dialegomai, LAI:TB “bertukar pendapat”). Dia melakukannya ini pada tempat yang tepat, yaitu synagoge (untuk orang-orang Yahudi) atau pasar (untuk orang-orang Yunani). Dua tempat ini memang menjadi salah satu tempat strategis untuk menyampaikan pendapat. Tidak heran, ajarannya dengan cepat menarik perhatian banyak orang. Dia pun dibawa ke sidang Areopagus (ayat 19-20), entah dalam rangka diadili atau sekadar diminta pendapatnya.

Paulus juga cermat dalam mengamati pendengarnya. Dia mengetahui dengan baik bahwa penduduk Atena memiliki keterbukaan terhadap berbagai ajaran (ayat 21). Sikap ini tidak lepas dari posisi Atena sebagai kota pengetahuan. Banyak filsuf ternama lahir atau berkarya di sana. Keterbukaan ini merupakan kelebihan sekaligus kekurangan Atena.

2. Menghargai keyakinan orang lain (ayat 22-23)

Di awal khotbahnya, Paulus menyebut penduduk Atena sebagai orang-orang yang “sangat beribadah kepada dewa-dewa” (deisidaimōn, ayat 22). Kata ini bisa bermakna positif (“relijius”, RSV/NASB/NIV) atau negatif (“percaya takhayul”, KJV). Dalam hal ini yang menjadi penentu arti adalah konteks. Karena pernyataan ini diucapkan oleh Paulus di awal khotbahnya dan keseluruhan khotbah juga tidak terlalu menyerang keyakinan mereka, kita sebaiknya menhgambil makna yang lebih positif. Paulus memang mengapresiasi hasrat relijius mereka.

Penduduk Atena bukan hanya relijius. Mereka sangat relijius (NRSV “extremely religious”). Hal ini ditunjukkan bukan hanya melalui satu hal, tetapi “dalam segala hal”(kata panta). Kita tidak tahu persis hal-hal apa saja yang dilihat oleh Paulus dan membuat dia mengambil kesimpulan seperti itu. Yang jelas, salah satu bukti kualitas relijius mereka adalah keberadaan mezbah yang diperuntukkan bagi illah yang tidak dikenal (ayat 23).

Bagi penganut politeisme, keberadaan mezbah seperti ini sangat bisa dipahami. Pada prinsipnya mereka ingin menyembah semua dewa. Namun, mereka juga tidak mengetahui jumlah pasti dari semua dewa yang ada. Sebagai upaya berjaga-jaga—supaya tidak ada satu dewa pun yang terabaikan dan menjadi marah—mereka mempersembahkan mezbah kepada dewa itu.

Apa yang mereka sembah tanpa mengenal, itulah yang ingin dikenalkan Paulus kepada mereka. Bukan berarti Paulus dan mereka menyembah allah yang sama. Bukan berarti tidak ada perbedaan konsep antara keduanya. Dalam konteks “allah-allah yang tidak dikenal oleh penduduk Atena”, Allah yang disembah oleh Paulus jelas masuk dalam kategori itu.

Penghargaan seperti ini terbilang luar biasa. Paulus sendiri memahami bahwa apa yang disembah mereka sebenarnya bukan allah (Gal. 4:8). Lebih jauh lagi, objek penyembahan itu adalah roh-roh jahat (1Kor. 10:20-21). Bagaimanapun, di mata mereka, objek penyembahan adalah allah/dewa. Paulus hanya memulai dari sana sebagai titik awal penginjilan.

3. Menggunakan penalaran sebagai pijakan bersama (ayat 25-26)

Dalam bagian ini Paulus memulai dengan konsep tentang Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara. Dua hal ini juga diamini oleh orang-orang Yunani yang relijius. Terlepas dari berapa banyak allah yang mereka percayai, semua percaya bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemelihara.

Yang ditekankan oleh Paulus adalah implikasi dari konsep di atas. Jika Allah adalah Pencipta, maka Dia tidak dapat dibatasi oleh tempat (ayat 25). Dia lebih besar daripada semua tempat. Bagaimana Pencipta langit dan bumi dapat dibatasi pada mezbah atau kuil tertentu buatan manusia? Poin ini sebenarnya berakar dari Perjanjian Lama (1Raj. 8:27), tetapi Paulus sengaja tidak menggunakan kitab suci. Pada poin ini, penalaran saja sudah memadai.

Jika Allah adalah Pemelihara alam semesta, maka Dia tidak membutuhkan apapun di luar diri-Nya (ayat 25). Dia benar-benar bebas dalam arti yang sesungguhnya. Tidak ada keharusan dan kebutuhan dalam diri-Nya. Tanpa apapun Dia tetap sempurna dan utuh, karena itu, Allah tidak membutuhkan pelayanan manusia (bdk. Rm. 11:33-35). Konsep yang sama diajarkan oleh para pemikir Yunani (Aristobulus, Euripides, Heracles). Bagaimana mungkin Allah membutuhkan manusia sedangkan manusia sendiri menggantungkan diri pada Allah untuk nafas dan segala sesuatu dalam hidup ini?

4. Memahami dan memanfaatkan ajaran pihak lain (ayat 26-29)

Allah adalah Pemelihara semua manusia (ayat 24-25). Bagaimana Dia menunjukkan pemeliharaan tersebut? Di ayat 26-29 Paulus menerangkan lebih jauh tentang salah satu wujud pemeliharaan Allah atas alam semesta, yaitu asal-usul dan keberlangsungan umat manusia di bumi ini.

Allah menjadikan semua bangsa dari satu orang saja (ayat 26a). Dia juga yang menentukan batas kediaman dan musim bagi mereka (ayat 26b). Tidak terlalu jelas apakah musim di sini merujuk pada sejarah politis masing-masing negara atau musim yang berkaitan dengan alam (musim panen, iklim, dsb.). Manapun yang benar, poin yang ingin disampaikan adalah keterlibatan Allah secara langsung dalam pemeliharaan segala bangsa (bandingkan dengan ayat 24-25 yang masih terkesan konseptual).

Allah memiliki maksud di balik keterlibatan yang langsung ini. Allah ingin menunjukkan bahwa Dia tidak jauh dari manusia (ayat 27b), sehingga manusia seyogyanya bisa menemukan Dia (ayat 27a). Seberapa dekatkah Allah dengan kita? Paulus, mengutip beberapa pujangga (filsuf/pemikir) Yunani, berkata: “sebab di dalam Dia kita hidup, kita ada, kita bergerak” (ayat 28). Ungkapan yang sangat mirip diucapkan oleh Seneca, salah seorang penulis Yunani kuno: “Allah itu dekat dengan engkau, bersama engkau, dan di dalam engkau”. Beberapa penulis kuno lain pun mengajarkan konsep yang sama (misalnya: Dio Chrysostom, Epimenidies).

Manusia bisa sedekat itu dengan Allah sebab manusia adalah keturunan Allah (ayat 28). Konsep ini tidak asing bagi penduduk Atena. Konsep ini seringkali dikaitkan dengan Aratus atau Cleanthes. Dalam pikiran pendengarnya, Paulus mungkin sedang membicarakan tentang Zeus sebagai cikal-bakal semua manusia.

Kutipan-kutipan ini menyiapkan landasan bagi kritikan Paulus terhadap penyembahan berhala. Jikalau manusia adalah keturunan Allah, maka dalam banyak hal manusia mencerminkan Allah. Jikalau manusia bukan hanya terdiri dari aspek-aspek jasmaniah, apalagi Tuhan (ayat 29). Jikalau manusia adalah keturunan Allah, maka Allah pasti lebih besar daripada yang bisa dilakukan oleh manusia (mezbah, patung, kuil, dsb.).

5. Menjelaskan keunikan kekristenan (ayat 30-31)

Kritikan terhadap keyakinan penduduk Atena (ayat 22-29) bermanfaat untuk membuktikan bahwa semua manusia bersalah (ayat 30). Rasio menunjukkan betapa salahnya penyembahan berhala. Allah tidak boleh dan tidak dapat dibatasi oleh mezbah, kuil, atau patung. Keteraturan alam menyingkapkan bahwa Allah sebenarnya tidak jauh. Tetapi, mengapa manusia tidak mampu menemukan Dia? Kesalahan ini lebih ke arah kebebalan daripada kebodohan.

Jikalau manusia memang melakukan kesalahan, maka hukuman patut diberikan. Itu adalah keadilan. Pertanyaannya, apakah dengan memberikan hukuman maka kegagalan itu dapat diselesaikan? Tentu saja tidak! Pasti ada cara dan solusi lain.

Manusia memang gagal menemukan Allah, tetapi hal ini tidak berarti bahwa Allah gagal untuk ditemukan. Sesudah membiarkan periode kebebalan cukup lama, Allah berintervensi langsung ke dalam sejarah (ayat 31). Allah menjadi manusia untuk menanggung kesalahan dan menggantikan kegagalan manusia. Kematian-Nya menyelesaikan persoalan dosa. Namun, upah dosa belum sepenuhnya dibereskan. Kebangkitan-Nya dari antara orang mati membuktikan bahwa upah dosa sudah diselesaikan.

Poin yang ingin ditegaskan Paulus di ayat 31 sangat mungkin terletak pada kebangkitan tubuh. Konsep ini sangat ditentang dalam budaya Yunani, karena tubuh dianggap jahat atau tidak sempurna. Melalui kebangkitan tubuh di dalam Kristus, aspek jasmaniah dan rohaniah manusia dipuaskan. Tubuh tidak sepenuhnya jahat dan tidak selamanya lemah. Tubuh tidak selalu menjadi penjara bagi jiwa-roh.

Soli Deo Gloria.

* * *

Tentang Penulis:
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Belajar Penginjilan dari Petrus (Pengajaran dari 1 Petrus 3:15-16)

“Sebagian orang berpikir bahwa membela kebenaran itu cuma melibatkan aspek substansi dan strategi. Materi dikuasai dan metode diikuti. Yang dipentingkan hanya pengetahuan yang mendalam dan pendekatan yang relevan.

Tanpa bermaksud meremehkan penguasaan materi dan manfaat suatu metode, kita perlu menegaskan bawa membela kebenaran membutuhkan lebih daripada dua hal itu.”

Belajar Penginjilan dari Petrus (Pengajaran dari 1 Petrus 3:15-16)

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepda tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetpai haruslah dengan lemah lembut dan hormat,
dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

1 Petrus 3:15-16

Sebagian orang berpikir bahwa membela kebenaran itu cuma melibatkan aspek substansi dan strategi. Materi dikuasai dan metode diikuti. Yang dipentingkan hanya pengetahuan yang mendalam dan pendekatan yang relevan.

Tanpa bermaksud meremehkan penguasaan materi dan manfaat suatu metode, kita perlu menegaskan bawa membela kebenaran membutuhkan lebih daripada dua hal itu. Seorang pemberita kebenaran seyogyanya menghidupi kebenaran. Kebenaran tersebut juga seyogyanya disampaikan dengan cara yang benar. Seluruh kehidupan pemberita kebenaran harus dikuasai oleh kebenaran itu. Kita dipanggil bukan hanya untuk memberitakan, tetapi juga menghidupi kebenaran.

Itulah yang akan diajarkan daam teks kita hari ini. Hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang pekabar Injil yang baik?

1. Menguduskan Kristus dalam hati kita (ayat 15a)

Penginjilan dimulai dengan hati kita. Yang terpenting bukan seberapa banyak pengetahuan kita tentang kebenaran. Bukan pula seberapa besar pengalaman kita dalam penginjilan atau pengenalan kita terhadap orang lain. Bagaimana kondisi hati kita jauh lebih penting daripada perkataan yang kita ucapkan.

Rasul Petrus menasihati penerima suratnya untuk menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hati mereka (3:15a). Menguduskan di sini jelas bukan berarti membuat Kristus menjadi kudus secara moral. Menguduskan berarti mengkhususkan. Menguduskan berarti menghargai keunikan Kristus, memberi tempat yang sepantasnya bagi Dia. Dengan kata lain, menguduskan Kristus berarti menghormati Kristus lebih daripada yang lain.

Makna di atas didasarkan pada perbandingan antara 1 Petrus 3:14-15 dan Yesaya 8:12-13. Ada beberapa kemiripan yang signifikan di antara dua teks ini, sehingga para penafsir Alkitab menduga Petrus memang sedang memikirkan Yesaya 8:12-13.

– Yesaya 8:12-13, “Jangan sebut persepakatan dengan segala apa yang disebut bangsa ini persepakatan, dan apa yang mereka takuti janganlah kamu takuti dan janganlah gentar melihatnya. Tetapi TUHAN semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar.

– 1 Petrus 3:14b-15a, “Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!”

Jika Yesaya 8:12-13 memang berada di balik 1 Petrus 3:14-15, maka kita sebaiknya menafsirkan “menguduskan Kristus” dengan “mempertimbangkan Kristus sebagai objek rasa hormat kita”. Dia adalah Tuhan yang kudus. Dia harus mendapatkan tempat yang terutama dalam hati kita (NIV, “But in your hearts set apart Christ as Lord”)

2. Meyakini pengharapan kita (ayat 15b)

Di ayat ini Rasul Petrus mengantisipasi suatu keadaan: orang-orang luar menanyakan pengharapan yang ada pada orang-orang Kristen. Ini bukan sekadar tentang pengharapan yang abstrak. Bukan hanya sebuah konsep yang belum tentu terwujud atau terbukti. Ini adalah tentang pengharapan yang ada pada mereka. Bukan yang tidak ada pada diri mereka.

Pembicaraan tentang pengharapan merupakan topik yang sangat relevan bagi penerima surat 1 Petrus. Mereka adalah orang-orang Kristen yang berada di perantauan (1:1). Mereka adalah para pendatang dan perantau (2:11). Mereka adalah orang-orang asing. Keterasingan ini bukan cuma secara rasial atau sosial, tetapi juga spiritual. Dalam dunia yang sementara ini mereka hanya menumpang (1:17). Dunia bukan rumah mereka. Mereka mengarahkan pandangan ke depan.

Sebagai kelompok minoritas, mereka juga menghadapi berbagai tekanan. Fitnah seringkali ditujukan kepada mereka (2:12, 3:16). Beberapa bahkan menderita karena kebenaran atau kebaikan (2:19-21). Jika hanya memperhatikan apa yang terjadi pada saat itu, mereka pasti akan kehilangan semangat dan sukacita. Mereka sangat memerlukan jaminan untuk masa depan. Bukan di dunia ini, melainkan di dunia selanjutnya. Itulah yang disebut pengharapan.

Yang sedang dibicarakan di sini adalah pengharapan, bukan tindakan berharap. Ini bukan tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Ini tentang apa yang ada pada mereka (3:15b “tentang pengharapan yang ada padamu”). Ada unsur kepastian di dalamnya. Semua yang dihidupkan melalui kuasa kebangkitan Kristus pasti memiliki “suatu hidup yang penuh dengan pengharapan” (1:3). Iman dan pengharapan kita tertuju pada Allah yang membangkitkan Kristus dari kematian dan yang memuliakan Dia di surga (1:21).

Mempunyai pengharapan di tengah dunia yang penuh tantangan dan penderitaan merupakan sebuah kebutuhan. Pengharapan ini membuat orang-orang Kristen memiliki gaya hidup dan semangat yang berbeda dengan dunia. Kita tidak mudah mengeluh, selalu optimis, senantiasa bersukacita. Dengan demikian, orang-orang lain akan tertarik dengan kehidupan yang seperti ini. Mereka akan terdorong untuk menanyakan rahasia di balik kehidupan itu. Di baliknya, ada pengharapan.

3. Siap memberikan pembelaan (ayat 15b)

Memiliki pengharapan adalah satu hal. Memberikan penjelasan tentang pengharapan itu adalah hal yang berbeda. Kita dituntut bukan hanya untuk menunjukkan kehidupan yang berpengharapan, melainkan juga memberikan “pertanggungjawaban” (LAI:TB).

Dalam teks Yunani, kata yang digunakan di bagian ini adalah apologia. Secara hurufiah kata ini berarti pembelaan, bukan pertanggungjawaban. Paulus beberapa kali memberikan pembelaan terhadap dirinya maupun Injil yang dia sampaikan (Kis 22:1; 1 Kor 9:3). Tidak jarang pembelaan ini dilakukan dalam konteks tuntutan legal atau pemenjaraan (Filipi 1:7, 16), sehingga tidak semua orang mau melibatkan diri dalam pembelaan tersebut (2 Tes 4:16).

Dalam teks kita hari ini Petrus memerintahkan penerima surat untuk selalu siap (hetoimoi aei) memberikan pembelaan. Kesiapan ini bukan hanya dalam konteks waktu (selalu siap), tetapi juga orang. Siapa saja yang menanyakan. Tidak peduli kapan dan kepada siapa, kita harus senantiasa siap memberitakan pembelaan.

Pembelaan yang kita berikan harus rasional. Yang mereka tanyakan bukan hanya pengharapan, tetapi alasan di balik pengharapan itu. Dalam teks Yunani, ayat 15b berbunyi: “senantiasa siap memberikan pembelaan kepada siapa saja yang menanyakan alasan tentang pengharapan yang ada pada diri kalian”. Ada kata “alasan” (logos) di bagian tadi (lihat mayoritas versi Inggris “who asks you for a reason for the hope that is in you”).

Apakah kita tahu apa yang kita percayai? Apakah kita tahu mengapa kita memercayai hal itu?

4. Memberikan pembelaan dengan sikap yang benar (ayat 15b-16)

Pembelaan bukan hanya harus rasional. Pembelaan juga harus disertai dengan kesalehan. Kekuatan intelektual bukan substitusi bagi kematangan spiritual, emosional, dan sosial.

Petrus menasihati orang-orang Kristen di perantauan untuk menunjukkan sikap lemah lembut dan hormat serta hati nurani yang baik. Tiga hal ini sebenarnya lebih berkaitan dengan hati daripada tindakan. Namun, apa yang ada dalam hati seseorang akan terlihat dari tindakan orang itu. Hati yang dikuasai oleh kekudusan Kristus (ayat 15a) adalah hati yang memunculkan sikap lemah lembut, hormat, dan tulus kepada orang lain.

Dengan demikian Petrus sedang mengerjakan tentang keseimbangan antara kebenaran suatu ajaran (ortodoksi) dan tindakan yang benar (ortopraksi). Apa yang kita percayai harus selaras dengan apa yang kita hidupi. Apa yang kita ucapkan sama pentingnya dengan bagaimana kita mengucapkannya.

Sebagian orang sukar diyakinkan oleh kebenaran, bukan karena kebenaran itu kurang rasional. Yang menjadi persoalannya seringkali adalah orang yang menyampaikannya. Adalah ironis apabila banyak orang yang sagat gigih memperjuangkan kebenaran ternyata adalah orang-orang yang hidupnya tidak diubahkan oleh kebenaran yang mereka perjuangkan.

Di mata Petrus, kesalehan memegang peranan cukup sentra. Allah bisa membawa seseorang kepada diri-Nya melalui kesalehan orang Kristen. Dia memerintahkan orang-orang Kristen untuk memiliki gaya hidup yang baik “supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (2:12b). Kepada para isteri yang bersuamikan orang non-Kristen, Petrus menasihati mereka untuk menunjukkan kesalehan dengan tujuan “supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu” (3:1b-2).

Sudahkah kamu memiliki pengharapan di dalam Kristus? Sudahkah kamu menunjukkan hal itu melalui kehidupan yang penuh semangat dan sukacita? Mampukah kamu memberikan alasan rasional bagi pengharapan itu? Maukah kamu membagikan hal itu kepada orang lain dengan sikap yang benar?

Soli Deo Gloria.

* * *

Tentang Penulis:
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Belajar Penginjilan dari Yesus (Pengajaran dari Yohanes 4:3-26)

Orang-orang Kristen tidak hanya dihidupkan oleh Injil dan dipanggil untuk menghidupi Injil, melainkan juga untuk hidup bagi Injil. Memberitakan Injil adalah salah satu wujud kehidupan yang dipersembahkan bagi Injil. Sayangnya, tidak semua orang Kristen bergairah dalam membagikan Injil.

Belajar Penginjilan dari Yesus (Pengajaran dari Yohanes 4:3-26)

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Orang-orang Kristen tidak hanya dihidupkan oleh Injil dan dipanggil untuk menghidupi Injil, melainkan juga untuk hidup bagi Injil. Memberitakan Injil adalah salah satu wujud kehidupan yang dipersembahkan bagi Injil. Sayangnya, tidak semua orang Kristen bergairah dalam membagikan Injil.

Banyak dalih dimajukan sebagai pembenaran. Sifat pemalu, tidak fasih bicara, tidak tahu caranya, takut ditolak, khawatir tidak dapat melaksanakan dengan baik, dan masih banyak segudang dalih yang lain.

Teks hari ini akan mengajarkan prinsip-prinsip penting dalam pekabaran Injil. Ada dua bagian besar yang akan kita pelajari: prinsip dan strategi. Prinsip bersifat teoritis (konsep). Strategi bersifat praktis (cara).

Prinsip pekabaran Injil

Percakapan antara Yesus dan perempuan Samaria bukan ditulis sebagai buku panduan pekabaran Injil. Ada tujuan teologis lain di balik penulisan kisah ini. Bagaimanapun, beberapa prinsip penting tentang penginjilan tetap dapat ditarik dari cerita yang terkenal ini.

Yang terutama, penginjilan merupakan keharusan. Kemunculan kata “harus” (edei) di ayat 4 cukup mengagetkan. Secara geografis, perjalanan dari Yudea ke Galilea (4:3) tidak harus melewati daerah Samaria. Banyak orang Yahudi justru memilih jalan lain yang agak memutar supaya mereka tidak usah melintasi Samaria.

Kita sebaiknya memahami keharusan ini sebagai keharusan ilahi. Maksudnya, ada rencana Allah yang memang harus digenapi melalui Yesus Kristus. Penafsiran seperti ini juga mendapat dukungan dari konteks. Di ayat 34 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa melakukan kehendak Bapa adalah makanan-Nya. Sesuatu yang harus ada, bukan pilihan. Lalu Dia menerangkan lebih lanjut bahwa kehendak itu berkaitan dengan penuaian jiwa-jiwa yang terhilang (4:35-38).

Yang lebih menarik, keharusan ilahi ini (4:4) muncul sesudah kesuksesan pelayanan Yesus Kristus di Yudea (3:28; 4:1-2). Pelayanan publik di depan banyak orang tidak meniadakan pelayanan pribadi pada seseorang. Yesus bukan hanya secara sengaja menghindari sorotan dari golongan Farisi (4:1; bdk. 1:19-25), Dia juga secara sengaja mendatangi perempuan Samaria.

Berikutnya, penginjilan membutuhkan kepekaan kultural dan personal. Tidak sukar untuk menemukan bahwa percakapan dengan perempuan Samaria (4:3-26) sangat berbeda dengan percakapan dengan Nikodemus (3:1-21). Yang satu perempuan, yang satu laki-laki. Yang satu di siang hari, yang lain di malam hari. Yang satu kepada orang yang tidak terpandang, yang satu kepada pemimpin agama Yahudi. Yang satu orang Samaria, yang satu orang Yahudi. Tidak heran, strategi penginjilan yang dilakukan pun berlainan.

Dalam dunia teologi, strategi seperti ini disebut konteksualisasi, yaitu bagaimana membagikan Injil dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya dan situasi pendengar. Berita Injil sendiri tidak diubah. Hanya kemasan dan strategi pemberitaan yang disesuaikan. Injil tetap satu dan untuk semua orang. Namun, penyampaiannya harus dilakukan secara bijaksana sesuai keadaan seseorang.

Strategi pekabaran Injil

Alkitab memberikan beberapa contoh pekabaran Injil. Masing-masing mengajarkan tentang strategi penginjilan yang berbeda-beda. Hari ini kita hanya akan berfokus pada teks kita saja. Ada beberapa strategi penting yang perlu digarisbawahi:

1. Kita harus mau melewati batasan-batasan sosial dan kultural (ayat 6-9)

Pembacaan yang teliti akan menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Yesus dalam cerita ini sebenarnya tidak lazim. Seorang Yahudi tidak akan mau bercakap-cakap dengan orang Samaria, apalgi meminta air dari dia (4:7, 9). Menurut budaya Yahudi pada waktu itu, menggunakan alat yang sama dengan yang digunakan oleh orang Samaria (timba) akan menjadikan seorang Yahudi najis. Sebagai seorang rabi (bdk 3:10), Yesus juga tidak akan mau berbincang-bincang dengan seorang perempuan, apalagi yang bukan dari antara orang Yahudi. Bahkan murid-murid-Nya sendiri merasa heran ketika mereka melihat Yesus bercakap-cakap dengan seorang perempuan (4:27).

Secara umum bangsa Yahudi memang tidak bergaul dengan bangsa Samaria. Akar historis permusuhan ini sudah lama ada. Bangsa Yahudi dari kerajaan Yehuda di selatan, sedangkan Samaria dari kerajaan Israel di utara. Berkali-kali dua bangsa ini saling berperang. Pada waktu dikalahkan oleh bangsa Asyur, kerajaan Israel disebar ke berbagai tempat kekuasaan Asyur, sementara bangsa-bangsa lain ditempatkan di wilayah utara. Tidak terelakkan, perkawinan campur terjadi antar bangsa-bangsa tersebut. Itulah sebabnya orang-orang Samaria dipandang rendah oleh bangsa Yahudi. Ditambah dengan beberapa kali pertikaian yang terjadi beberapa abad sesudah kelaihran Yesus Kristus, pertikaian ini menjadi semakin kuat. Perbedaan teologis di antara mereka (jumlah kitab suci, pusat ibadah, dsb) juga mempertebal kebencian masing-masing.

2. Kita harus memanfaatkan situasi konkret untuk menarik perhatian orang lain pada Injil (ayat10-15)

Pembicaraan tentang air hidup di dekat sebuah sumur merupakan strategi yang jitu. Sangat relevan. Di tengah terik matahari siang dan iklim Palestina yang sangat panas, siapa yang tidak memahami betapa pentingnya air? Semua orang membutuhkan air. Dengan demikian keberadaan sumur (atau sungai) juga menjadi satu elemen kehidupan yang terpenting. Yesus memulai pekabaran Injil dari sana. Dari sesuatu yang sama-sama diketahui. Dari sesuatu yang sama-sama dibutuhkan dan dipentingkan.

Yesus Kristus tidak hanya menyinggung tentang air sumur. Dia memahami betapa pentingnya sumur ini bagi bangsa Samaria. Sumur Yakub lebih dari sekadar sumber air. Sumur ini adalah sumber kebanggaan. Mereka adalah keturunan Yakub (Israel), terlepas dari bagaimana bangsa Yahudi memahami mereka. Tidak heran, perempuan ini langsung membandingkan Yesus dengan Yakub (4:11-12). Jadi, sumur ini memiliki nilai penting yang ganda bagi perempuan Samaria.

Di tengah situasi seperti inilah Yesus mencoba untuk menarik perhatiannya. Dia menjanjikan air walaupun Dia tidak membawa timba (4:11). Bagaimana Dia bisa memberikan air sedangkan Dia sendiri tidak membawa timba dan bahakan baru saja meminta air dari perempuan itu? Air yang Dia janjikan juga jauh lebih menarik daripada air sumur Yakub (4:13-14). Apakah Dia benar-benar lebih besar daripada Yakub?

3. Kita perlu mengungkapkan keberdosaan seseorang secara tepat (ayat 16-19)

Momen menimba air mungkin menjadi momen yang paling menyiksa bagi perempuan ini. Dia tidak bergabung dengan perempuan-perempuan lain yang biasa ke sumur pada waktu sore hari. Dia memilih terkena sinar matahari yang terik daripada berkumpul bersma perempuan-perempuan lain. Dia sadar siapa dirinya. Dia tahu bahwa masyarakat sukar untuk menerima dia apa adanya. Itulah sebabnya dia begitu tertarik dengan tawaran Yesus tentang air hidup. Dia tidak perlu lagi pergi ke sumur Yakub (4:15). Momen kesendirian, ketertolakan dan kepanasan setiap kali mengambil air dari sumur akan segera berlalu.

Perempuan ini tidak menyadari bahwa kasih karunia Allah yang besar dan indah akan terlihat lebih kentara pada saat seseorang menyadari kehinaan dirinya. Mereka yang tidak memahami keindahan kasih karunia tidak akan menginginkannya (4:10). Mereka yang tidak menyadari keberdosaannya tidak akan memahami kasih karunia Allah. Semakin besar pemahaman dan kesadaran kita terhadap keberdosaan diri kita, semakin besar pula pemahaman dan kesadaran kita terhadap kasih karunia Allah yang menutupi dosa tersebut.

Itulah sebabnya, Yesus sengaja menunjukkan keberdosaannya. Dia mengungkapkan ini dengan cara yang ajaib, persuasif, dan lembut. Sama seperti Dia mengenal Natanael (1:47-51) dan hati semua orang (3:23-25), demikian pula Dia mengenal perempuan ini. Namun, Dia tidak langsung menanyai perempuan ini tentang suaminya atau langsung menegur. Dia meminta perempuan ini untuk memanggil suaminya. Permintaan ini jelas sangat mengagetkan.

Tatkala perempuan ini mengatakan bahwa dia tidak mempunyai suami, Yesus mengapresiasi jawaban itu. Dua kali Yesus menimpali, “Tepat katamu” (4:17) dan “engkau berkata benar” (4:18). Namun, justru di balik “kebenaran” inilah terkuak kehidupan yang tidak benar. Perempuan ini tinggal serumah dengan laki-laki yang bukan suaminya. Dia juga sebelumnya sudah memiliki lima suami. Kemungkinan besar dia berkali-kali mengalami kawin-cerai.

4. Kita sebaiknya menghidari perbedaan yang tidak esensial (ayat 20-24)

Sesudah mengakui Yesus sebagai seorang nabi karena bisa mengetahui kehidupan pribadinya, sang perempuan Samaria itu langsung menggeser topik ke arah pusat ibadah (4:20). Tidak terlalu jelas apakah dia sengaja menghindar dari perbincangan tentang suaminya ataukah dia memang secara tulus ingin menanyakan isu teologis ini kepada Yesus sebagai seorang nabi. Apapun alasannya, topik ini merupakan isu yang sangat sensitif. Pertikaian tentang pusat ibadah sudah berlangsung berabad-abad. Saat bangsa Yehuda hendak membangun kembali Yerusalem dan bait Allah, mereka menolak bantuan dari bangsa Samaria. Bangsa Yahudi bahkan pernah menghancurkan pusat ibadah bangsa Samaria di Gunung Gerizim.

Yesus Kristus memilih untuk tidak terjebak pada persoalan ini. Yang paling penting dalam ibadah bukanlah tempat, melainkan cara. Bapa menghendaki penyembah-penyembah di dalam roh dan kebenaran (4:23-24). Artinya, ibadah tidak dibatasi oleh tempat tertentu, karena Yesus Kristus adalah bait Allah yang sejati (1:14 “diam”= lit. “bertabernakel”; 2:20-22). Dia adalah kebenaran yang sejati (14:6).

5. Kita menyatakan Injil dengan jelas (ayat 25-26)

Perkataan Yesus tentang penyembahan dalam roh dan kebenaran mungkin masih membingungkan bagi perempuan Samaria. Karena itu dia segera menimpali dengan pengharapan tentang Mesias versi Samaria. Bangsa Samaria memang menantikan kedatangan Taheb yang bertugas mengajarkan kehendak Allah kepada mereka (4:25; bdk. Ul. 18:15-18). Mungkin Pribadi inilah yang akan membuat segala sesuatu menjadi jelas.

Sebagai respons, Yesus langsung menyatakan diri-Nya sebagai Mesias (4:26). Perempuan itu tidak perlu menunggu lebih lama. Yesus adalah satu-satunya yang pernah melihat Bapa dan satu-satunya yang menyatakan Bapa kepada manusia (1:18), sehinga siapa saja yang melihat Yesus berarti sudah melihat Bapa (14:8-9). Dia adalah tetapi sekaligus lebih besar daripada Taheb yang dinanti-nantikan oleh bangsa Samaria.

Soli Deo Gloria.

* * *

Tentang Penulis:
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Kelemahan Bukanlah Alasan untuk Tidak Melayani

Pernahkah kamu merasa tidak layak melayani karena kelemahan atau kekuranganmu?
Yuk baca artikel ini.

Apakah Orang Kristen Dapat Mengalami Gangguan Mental?

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Beberapa waktu lalu, orang-orang Kristen di dunia, terutama di Amerika dikagetkan dengan berita kematian Jarrid Wilson. Dia adalah salah satu asisten pendeta dari gereja besar Harvest Christian Fellowship di California, AS. Pada usia 30 tahun dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Banyak orang bertanya-tanya: bagaimana mungkin seroang pendeta mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Bukankah dia sendiri menjadi penggerak Anthem of Hope, sebuah pelayanan untuk orang-orang yang mengalami depresi? Mengapa Jarrid sendiri gagal mengatasi depresi dalam dirinya?

Di tengah situasi sedih seperti ini, sayangnya masih ada sejumlah orang Kristen yang terlalu naif atau tidak paham terhadap isu ini. Menurut mereka, dengan iman maka semua persoalan akan hilang. Akibatnya, mereka mudah menghakimi sesama orang Kristen yang mengalami depresi sebagai orang-orang yang kurang beriman atau terlalu banyak mengandalkan diri sendiri.

Terlepas dari bagaimana aku dan kamu memahami nasib orang yang bunuh diri (silakan baca artikel lainnya tentang bunuh diri di sini), orang Kristen sebaiknya lebih berempati terhadap mereka yang mengalami depresi sebagai bentuk gangguan mental tertentu (anxiety disorder, OCD, PTSD, dsb). Sikap menghakimi menunjukkan ketidaktahuan (ignorance) dan kesombongan (arrogance). Kita perlu menyadari bahwa orang-orang Kristen yang mengalami gangguan mental adalah riil. Begitu pula dengan iman mereka kepada Yesus Kristus. Sebagian dari mereka yang pernah kujumpai di ruang konseling adalah orang-orang yang sungguh-sungguh ingin mengasihi Tuhan dengan seluruh kehidupan mereka. Hanya saja, upaya ini seringkali dimentahkan oleh keterbatasan mereka secara mental (psikologis).

Ada beberapa alasan mengapa gereja perlu lebih terbuka dan berani untuk merengkuh orang-orang Kristen seperti ini:

Yang pertama: depresi bisa menyerang siapa saja.

Beberapa tokoh hebat dalam Alkitab pernah mengalami keputusasaan. Elia ingin cepat-cepat mati (1 Raja-raja 19:4). Yeremia mengutuki kelahirannya (Yeremia 20:14-15). Paulus terbebani dengan pelayanannya yang begitu keras sehingga dia kehilangan harapan (2 Korintus 1:8).

Alkitab tidak dihuni oleh tokoh-tokoh hebat. Bahkan mereka yang sering dipakai Allah untuk mengadakan mukjizat juga tidak kebal terhadap keputusasaan. Alkitab diisi oleh manusia-manusia lemah yang dihiasi kemurahan dan kekuatan Allah. Sangat konyol dan sombong jikalau seseorang berani menghakimi sesama orang percaya yang bergumul dengan depresi.

Yang kedua: dosa telah merusak seluruh elemen kehidupan manusia.

Pikiran, pengertian, perasaan, perkataan dan tindakan sudah diracuni oleh dosa (Roma 3:10-18; Efesus 4:17-19). Tidak ada satu elemen pun yang kebal. Semua orang memiliki disposisi tertentu dalam dirinya. Ada yang lemah di bidang seksual, fisikal, maupun mental. Setiap orang menghadapi kehancurannya sendiri-sendiri.

Jika doktrin ini memang benar, bukankah sudah wajar apabila kita mendapati orang Kristen yang bergumul dengan disposisi mental? Jika bayi Kristen ada yang mengalami cacat sejak lahir, mengapa seorang bayi Kristen tidak mungkin memiliki kencenderungan besar terhadap gangguan mental? Jika tidak semua penyakit fisik disembuhkan secara mukjizat oleh Tuhan, atas dasar apa kita meyakini bahwa semua gangguan mental akan diselesaikan dalam sekejap oleh Tuhan? Allah memiliki pertimbangan sendiri untuk setiap orang.

Yang pasti: Allah selalu menyediakan penyertaan dan pertolongan. Dia bisa memakai komunitas yang mendukung bagi pemulihan orang-orang dengan gangguan mental. Dia bisa menggunakan konselor dna hamba Tuhan untuk menemani dan memberikan terapi. Dia bias memakai psikiater untuk menyediakan obat penenang atau anti-depresan.

Bagi kamu yang mengalami depresi, bertahanlah. Terbukalah tentang kelemahanmu kepada orang lain yang mengerti pergumulanmu. Ingatlah bahwa tidak semua orang akan menghakimimu. Peganglah terus pengharapanmu di dalam Tuhan Yesus. Dia yang memiliki kata terakhir dalam hidupmu. Dia sudah membereskan persoalanmu yang terbesar, yaitu dosa. Dia sudah mengalahkan ketakutanmu yang terbesar, yaitu kematian.

Bertahanlah.

Soli Deo Gloria.

Tentang Penulis:
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini.

Baca Juga:

Tolong! Aku Ingin Bebas dari Overthinking

“Imajinasi kita adalah bagian yang indah, luar biasa, dan inspiratif dari diri kita. Imajinasi kita adalah tempat lahirnya ide-ide brilian, keren, dan kreatif.

Tapi, imajinasi itu bisa juga membelenggu kita jika kita membiarkannya tidak terkendali.”