Posts

Memikirkan Kembali Konsep yang Kita Sebut Sebagai “Good-Looking”

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

“Cantik itu relatif…” 

Mungkin kamu pernah mendengar kalimat di atas. Biasanya kalimat itu muncul sebagai candaan ketika teman-teman sebaya mengobrol soal penampilan fisik. Memang, kecantikan setiap orang itu tidak bisa dipukul rata, tapi kita pun tak menampik bahwa di dunia ini ada banyak sekali orang berlomba-lomba untuk mempercantik diri dan memamerkannya dengan bangga. 

Ada beberapa temanku yang tak keberatan untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi mengubah bentuk dagu dan alisnya. Sebagian dari mereka bertindak lebih jauh dengan melakukan operasi plastik pada area-area yang menurutku sangat berisiko. Mereka—mungkin juga orang-orang lain—ingin memiliki kecantikan yang sesuai dengan standar yang mereka anut. Di satu sisi ada orang yang ingin kulitnya putih seputih kapas hingga dia rela menyuntik obat, sedangkan yang lainnya ingin kulitnya lebih gelap agar disebut eksotis dan dia pun rajin berjemur di bawah sinar matahari. Dari pemaparan sederhana ini, kurasa aku bisa berkata kalau kita semua ingin agar terlihat “good-looking”, atau istilah sederhananya: menarik. 

Namun, standar apakah yang bisa disebut sebagai ‘menarik’? 

Manusia memiliki selera yang amat beragam, sehingga mendefinisikan cantik dan tampan adalah hal yang tidak enteng. Aku pernah melakukan survei sederhana. Kuberikan 10 nama aktor Korea Selatan yang terkenal kepada remaja wanita pecinta drakor, lalu kuminta mereka menyebutkan satu yang paling mereka anggap tampan. Hasilnya: adu argumentasi yang rasa-rasanya tak kalah sengit dengan debat politik. 

Dalam tulisan ini bukan maksudku menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Sekali lagi tulisan ini kutulis untuk mengingatkan bahwa selera kita terhadap apa yang mata kita lihat itu berbeda-beda. Itu sebabnya beberapa perdebatan tentang cantik atau tidak cantiknya seseorang tidak memiliki pijakan yang jelas, dan bahaya yang nyata yang sedang mengintai dari aktivitas seperti ini adalah: sikap insecure

Iblis bekerja dengan berbagai cara, bahkan cara-cara yang tidak kita sadari. Dia dapat mengelabui pikiran kita. Oleh karenanya, Alkitab menasihati kita agar kita berubah oleh pembaharuan budi kita, supaya kita dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan pada Allah (Roma 12:2). 

Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, dan apa yang Allah ciptakan itu baik adanya. Tetapi, ‘baik adanya’ itu tereduksi oleh keinginan kita untuk melihat apa yang sesuai dengan preferensi visual kita semata. Semisal, pada orang-orang dari belahan bumi bagian timur, terkhusus Asia, cantik itu digambarkan apabila seseorang berkulit terang atau putih. Oleh karenanya, berbagai produk kecantikan pun menawarkan iklan yang meskipun tujuannya untuk promosi, malah ikut melanggengkan persepsi ini. Aku ingat ada iklan body-lotion yang mengatakan kalau “cantik itu putih.”

Sejenak kuberpikir, “Oh, jadi maksudnya jika kulit kita agak gelap, maka kita tidak cantik?” 

Kalimat ini kurasa keliru. Mengatakan ‘putih itu cantik’ dan ‘cantik itu putih’ menghasilkan dua pemahaman yang jauh berbeda. Berkata bahwa ‘putih itu cantik’ tetap membuka kemungkinan bahwa warna lain juga bisa dibilang cantik. Tetapi berkata bahwa “cantik itu putih” berimplikasi sangat kuat untuk menganggap warna lain tidak masuk dalam kategori ini, seakan-akan putih sajalah cantik itu.

Setiap perusahan memang harus mengiklankan produknya dengan sebaik-baiknya, dan tentu saja kita tidak boleh menggeneralisasi semua iklan dan produk yang ada. Produk-produk tersebut pada dasarnya dapat bermanfaat bagi kita. Tetapi, setiap orang Kristen juga harus bisa melihat bahaya serius yang dapat ditimbulkan tanpa fondasi pemikiran yang kokoh dari Alkitab. Kita harus terus-menerus mengingatkan siapa diri kita di mata Allah. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:26-27). Bahkan tubuh kita adalah tempat Allah berdiam (1 Korintus 3:16). Kita adalah “mahakarya” Allah yang bagi kita Dia rela mengambil rupa sama seperti kita dan terbunuh di Kalvari untuk keselamatan kita. 

Memang tidak bisa dipungkiri ada banyak dari kita yang tidak menyukai bagian-bagian tertentu dari tubuh kita dan bermaksud “memperbaikinya”. Merupakan suatu hal yang positif jika kita mau menjaga dan merawat tubuh kita dengan baik, tetapi yang terutama jangan pernah lupa bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri, melainkan milik Allah (1 Korintus 6:19-20). Jadi jika kita mau merawat tubuh kita, rawatlah itu untuk Pemilik yang sesungguhnya. Pakailah untuk kemuliaan-Nya.  

Mungkin saja ada bagian-bagian tertentu yang bisa kita ubah, tetapi mungkin karena berbagai faktor ada bagian tertentu yang sulit bahkan tidak bisa sama sekali untuk kita sentuh. Barangkali kita memiliki cacat fisik yang serius, mungkin sejak lahir, atau mungkin saja karena kecelakaan. Dan mungkin itu telah membatasi kita dalam banyak sekali hal. Aku berdoa bagimu dan tanpa bermaksud mengecilkan pergumulanmu, aku ingin berkata:

“Bersyukurlah karena kamu indah di mata-Nya…”

“Dia yang membentuk buah pinggangmu, menenun kamu dalam kandungan ibumu” (Maz 139:13)

“Dia mencintaimu, berkorban bagimu” (Yohanes 3:16)

“Dia akan memberikanmu tubuh yang baru” (1 Korintus 15:35-57)

Dalam khotbahnya di salah satu negara di Asia Tenggara, seorang penginjil tanpa tangan dan kaki bernama Nick Vuljicic berkata pada para pendengarnya, “Ketika aku sampai di surga dan menjumpai kalian, aku akan berlari ke arahmu dengan kakiku yang baru, dan memelukmu dengan tanganku yang baru”.

Ketika Kecantikan Menjadi Berhalaku

Oleh Elsa, Balikpapan

Jika diingat-ingat, di masa SMP dan SMA aku bukanlah tipe perempuan yang antusias untuk mempercantik diri atau merombak penampilan. Aku tidak mengubah warna rambutku. Aku juga cuek soal make-up. Aku bahkan ogah memakai rok mini atau dress di atas lutut. Singkat kata, aku cukup konservatif.

Saat itu, yang menjadi perhatianku hanyalah dua hal: rambutku yang nampak lebih baik setelah di-smoothing atas permintaan orang tuaku, dan kulit wajahku yang sempat berjerawat tetapi akhirnya dapat kembali mulus berkat sebuah produk skincare. Awal masa SMA, aku pun memiliki kepercayaan diri untuk berkata bahwa aku cantik.

Kepercayaan diriku nyatanya tidak salah. Aku mendapatkan konfirmasi dari orang-orang di sekitarku, bahwa aku memang cantik dan wajahku pun membaik. Aku mulai berani mengurai rambutku saat pergi ke sekolah—sesuatu yang dulu tak pernah kulakukan—dan berjalan melintasi teman-temanku dengan santai. Reaksi mereka tak mengecewakan, beberapa dari mereka malah terang-terangan memberi pujian. Aku membalasnya dengan senyuman tipis, yang membuatku nampak rendah hati. Padahal, ada rasa bangga yang perlahan muncul dalam hatiku.

Memiliki wajah yang bebas jerawat memang menguntungkan. Aku tidak pernah mendapatkan pandangan berbeda dari teman-temanku seperti ketika mereka melihat teman lain yang berjerawat. Aku juga tidak ragu ketika diajak berfoto.

Ketika memasuki perkuliahan, aku mulai berkeinginan untuk lebih menunjukkan eksistensi diriku. Aku tidak hanya ingin dilihat orang lain sebagai orang yang cerdas, tetapi juga cantik. Aku sering membayangkan diriku menjadi sosok yang seperti itu. Akhirnya, aku mulai mencoba menggunakan serangkaian produk skincare, mulai dari facial wash, toner, moisturizer, dan protector. Aku juga berniat untuk belajar memakai make up dan sudah sempat membeli beberapa alat yang dibutuhkan. Saat itu aku berpikir bahwa hal ini kulakukan untuk membuat diriku lebih baik dari sebelumnya.

Hingga suatu hari, wajahku mengalami breakout hingga aku lelah menanganinya. Kondisi wajahku yang semula kuanggap amat baik jadi berubah. Aku rindu wajah mulusku. Aku hampir berniat untuk membeli obat jerawat karena aku ingin jerawat di wajahku sirna. Namun, tiba-tiba ada suara dalam diriku yang menyentak ketika aku mencondongkan wajahku di depan cermin.

“Waktu dikasih wajah mulus terima-terima aja, kok waktu jerawatan langsung protes?”

Aku terdiam beberapa saat, hingga suara lainnya menyusul.

“Kamu tau gak, kamu sudah terlalu ambisius untuk jadi cantik. Wajah mulus sudah pernah kamu nikmati, sekarang coba nikmati dulu wajah yang berjerawat. Jangan langsung beli obat jerawat.”

Aku pun kembali ke kamar, kembali melihat cermin, lalu menyentuh jerawat-jerawatku.

“Kayaknya benar, Vi. Kamu terlalu ambisius buat cantik.”

Saat itu pula aku teringat pada sebuah renungan yang pernah kubaca tentang sebuah bangsa di Perjanjian Lama yang mendirikan patung untuk disembah dan dijadikan berhala. Aku juga teringat pada Amsal 31:30.

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.”

Dengan penuh penyesalan, aku tersadar bahwa aku telah lebih mengagungkan dan mengejar kecantikan yang adalah penampilan luar daripada fokus bersikap baik dan mempercantik hatiku. Tuhan sudah menganugerahkanku wajah yang mulus—cukup dengan produk facial wash saja. Tetapi, aku tidak puas. Aku ingin wajahku lebih dari sekedar mulus. Saat aku berencana untuk menambah serangkaian produk skincare, sebenarnya aku sudah mempertimbangkan faktor usia dan kesiapan kulitku. Termakan ambisi, aku malah tidak sabar menunggu waktu yang seharusnya untuk menggunakan produk-produk tertentu. Aku membuat keputusan dengan agresif untuk membeli apa yang kuanggap baik setelah menelusuri internet.

Lagi-lagi, aku telah keluar dari jalur Tuhan. Menyadari hal itu, aku meminta maaf pada Tuhan atas ambisiku yang sia-sia. Ternyata, berhala tidak hanya menjelma dalam bentuk kekuasaan, uang, atau kehidupan yang menyenangkan saja—kecantikan pun bisa menjadi salah satunya.

Hari itu, aku menyesal karena telah mengecewakan Tuhan dengan memberhalakan kecantikan. Tetapi, di balik semua ketidaktahuan diriku akan kasih-Nya yang besar bagiku, Ia tetap setia membimbingku kembali ke jalan-Nya.

Hari ini, aku memiliki kesadaran baru bahwa di hadapan Tuhan, diriku cukup sebagaimana adanya. Nilai diriku tidak didasari oleh daya pikat yang berhasil kuciptakan untuk menarik perhatian teman-temanku, melainkan berdasarkan iman yang kupegang di dalam Dia.

Hari ini, aku telah diingatkan Bapa bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan selain merasakan suara Tuhan di tengah-tengah aktivitas yang kujalani.

Dan hari ini, aku belajar untuk lebih memperhatikan berhala-berhala kecil di kehidupanku.

Terimakasih Bapa, Kau telah mengingatkanku.

Baca Juga:

Belajar dari Kisah Naaman: Menerima Saran Sebagai Cara untuk Memperbaiki Diri

Seberapa serius kita menanggapi saran yang diberikan kita? Apakah kita mengikutinya atau sekadar menjawab “ya” tapi tanpa tindak lanjut?