Posts

3 Hal yang Kupelajari Tentang Hidup untuk Saat Ini

Oleh Vika Vernanda, Bekasi

“Umur 25 udah bisa apa?” merupakan pembahasan yang cukup ramai dibahas di sosial media akhir-akhir ini. Ada sekelompok orang yang sudah berhasil mengumpulkan uang milyaran rupiah, membeli rumah, kuliah di luar negeri, atau lainnya. Namun, ada kelompok lain yang merasa relate dengan lirik lagu “Takut” oleh Idgitaf : Takut tambah dewasa, Takut aku kecewa, Takut tak seindah yang kukira..

Aku adalah bagian dari keduanya: terus bertanya “udah bisa apa dan mau apa lagi?”, namun juga yang terus merasa takut kecewa.

Orang-orang terdekatku mengenalku sebagai sosok yang ambisius. Banyak keinginan dan mimpi yang kuperjuangkan dengan keras. Satu tercapai, aku mengejar yang lain, begitu seterusnya. Dalam upaya mengejar berbagai hal tersebut, aku sangat takut kecewa dan selalu memikirkan kemungkinan terburuk. Akibatnya, aku jadi tidak bisa menikmati anugerah Tuhan saat ini. Ketakutanku akan kekecewaan ini juga diperparah oleh berbagai pengalaman masa lalu yang seringkali membuatku berpikir, “kalau seperti itu lagi, nanti akan bagaimana?”

Pemikiran-pemikiran tersebut terus menerus menghantuiku, sehingga aku memilih mendiskusikan hal ini dengan dua orang kakak rohaniku, sebut saja kakak A dan kakak B. Mereka berdua memberi saran kepadaku untuk “hidup untuk saat ini” saja, yang sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa maksudnya dan bagaimana caranya. Kakak B kemudian mengenalkanku pada sebuah buku yang mengulas tentang Kitab Pengkhotbah yang berjudul Living Life Backward.

Lewat diskusi dengan kedua kakak rohaniku dan pembahasan Kitab Pengkhotbah dalam buku Living Life Backward, berikut 3 hal yang kupelajari tentang hidup untuk saat ini:

1. Upaya menggenggam kebahagiaan masa depan adalah sia-sia

Tujuan utamaku ketika mengejar keinginan atau mimpi adalah agar aku bisa menikmati masa depan. Melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, mengejar karier yang lebih baik, semuanya demi menggenggam masa depan yang bahagia. Namun, bagaimana dengan masa kini? Apakah kebahagiaan hanya bisa kunikmati ketika aku sudah berhasil menggenggam masa depan?

Kitab Pengkhotbah 1:1 menyatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Terjemahan Ibrani dari kata “sia-sia” ini adalah hebel, yang secara literal artinya uap. Upaya menggenggam uap justru mempercepat hilangnya uap tersebut, sehingga upaya menggenggamnya membuat kita tidak bisa menikmatinya.

Bagian ini mengingatkanku bahwa upaya meraih kebahagiaan masa depan lewat ambisi-ambisi yang ada justru membuatku tidak bisa hidup untuk saat ini. Padahal ada banyak alasan yang membuatku bisa memilih untuk bahagia hari ini, seperti waktu berbincang dengan orang terkasih, pekerjaan dan kehidupan yang layak, serta waktu istirahat yang cukup.

Jadi, apakah ini berarti kita tidak boleh menyiapkan masa depan? Atau, haruskah kita hidup dengan prinsip gimana nanti aja?

Jawabannya: mempersiapkan masa depan tidaklah salah. Justru itu adalah langkah bijaksana, yang menolong kita untuk tidak serampangan dalam menghidupi hari-hari kita saat ini. Namun, apabila dalam upaya kita memikirkan masa depan itu membuat kita khawatir berlebihan dan meragukan penyertaan Allah, di sinilah letak permasalahannya. Padahal, Yesus menyatakan bahwa hidup setiap kita dijamin oleh-Nya, sebagaimana burung pipit di udara yang dipelihara-Nya (Matius 6:26). Rasa khawatir tidak memberikan manfaat apa pun, malahan itu membuat pandangan kita menjadi kabur akan banyak hal indah yang sejatinya bisa kita nikmati setiap hari.

Mari belajar untuk bahagia hari ini tanpa perlu risau memastikan kebahagiaan masa depan berada dalam genggaman, karena untuk segala sesuatu ada masanya (Pengkhotbah 3:1).

2. Ketakutan akan masa depan adalah kesia-siaan

Aku sangat takut untuk kecewa. Sangat sulit bagiku berhadapan dengan perasaan kecewa. Hal ini selalu membuatku menyusun berbagai skenario terburuk untuk setiap hal yang akan kupilih dengan tujuan mempersiapkan diriku untuk tidak terlalu kecewa. Meski terlihat berlawanan dengan poin 1, hal ini juga merupakan upayaku untuk menggenggam kebahagiaan. Namun caranya adalah bukan dengan langsung mengejarnya, melainkan menghindari kekecewaan. Ketakutan berlebihan tentang masa depan lagi-lagi membuatku tidak bisa menikmati saat ini. Padahal, untuk segala sesuatu ada masanya.

Ketakutan akan masa depan adalah kesia-siaan. Kakak A memberikanku sebuah trik untuk belajar melepaskan ketakutan ini, yaitu untuk berhenti memikirkan “what if” dan menggantinya dengan “what is”. Pikirkan berbagai hal yang terjadi saat ini, bukan masa depan.

Untukku yang biasa memikirkan berbagai kemungkinan terburuk, hal ini sangat sulit. Salah satu langkah awal yang akan kulakukan adalah memberikan proporsi untuk setiap kemungkinan yang kubuat dan menyertakan kemungkinan baik juga dalam pertimbangannya. Memahami hal ini membuatku sadar bahwa memang selalu ada kemungkinan untuk kecewa, tapi banyak juga kemungkinan baik yang bisa terjadi, dan ini menolongku untuk bisa menikmati saat ini. Hal ini sejalan dengan buku Living Life Backward yang mengajak kita untuk belajar memegang sesuatu dengan tangan terbuka, karena kita benar-benar hanya memiliki kendali atas satu hal, yaitu respon kita terhadap saat ini.

3. Kehidupan ini akan berakhir

Akhir dari kehidupan manusia di dunia ini adalah kematian. Semua hal yang kita alami dalam dunia ini suatu saat akan berakhir. Mengetahui dan memahami bahwa kehidupan akan berakhir mengubah perspektif kita untuk menjalani kehidupan saat ini.

David Gibson dalam buku Living Life Backward mengatakan bahwa pemahaman tentang hidup akan berakhir dapat menolong kita memiliki hati yang besar dan tangan yang terbuka, dan memungkinkan kita untuk menikmati semua hal kecil dalam hidup dengan cara yang sangat mendalam.

Mempelajari ketiga hal tersebut membuatku belajar memandang ambisi dan ketakutanku dengan cara yang baru. Perjuangan meraih mimpi bukan lagi sebuah upaya untuk menggenggam masa depan, dan ketakutan menghadapi kekecewaan masa depan harus segera kusampingkan. Bagianku adalah hidup untuk saat ini, yaitu dengan menikmati setiap keindahan dan rasa sakitnya, dengan tetap berpengharapan pada hari akhir kelak.

Mari hidup untuk saat ini dengan menyadari bahwa kehidupan adalah pemberian Tuhan, dan menjalaninya dengan hati yang besar serta tangan yang terbuka, sehingga pada akhirnya kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang mengatakan bahwa hidup kita adalah a life well lived.

Dua Hal yang Kupelajari dari Terhubung Kembali

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Siapa yang tidak familiar dengan kata reconnect?

Di masa serba daring seperti sekarang, kata itu sepertinya sering terdengar atau bahkan terucap oleh kita sendiri. Reconnect identik dengan jaringan internet yang sebelumnya terganggu atau bahkan terputus. Dalam Bahasa Indonesia, reconnect berarti terhubung kembali.

Seperti jaringan internet, tahun 2021ku dipenuhi oleh relasi yang terganggu atau bahkan terputus. Pandemi yang menyebabkan isolasi membuatku banyak menikmati waktu sendiri. Relasi dengan teman-teman persekutuan dan kuliah yang biasanya terjalin setiap hari terpaksa berhenti. Namun, sejak awal tahun ini, aku memberanikan diri kembali menghubungi beberapa pribadi dan rutin berkomunikasi hingga saat ini. Aku melakukan reconnect versiku.

Proses reconnect yang paling berarti buatku adalah dengan adik-adik kelompok kecilku. Sekitar 2 tahun lalu, aku memimpin kelompok kecil (KK), yaitu sebuah kelompok pendalaman Alkitab di sebuah sekolah asrama di Jakarta. Kelompok ini beranggotakan aku dan tiga orang siswa dari sekolah tersebut. Saat ini, siswa-siswa yang kupimpin sudah menduduki bangku kuliah di kota yang berbeda-beda. Satu dari mereka berkuliah di Depok, satu di Surabaya, dan satu lagi di Bandung, dan aku di Jakarta. Harapan awalku untuk terhubung kembali dengan mereka adalah untuk membangun persahabatan personal. Aku menghubungi satu persatu dari mereka via daring, dan tidak berharap akan adanya pertemuan kelompok mengingat lokasi dan kesibukan yang berbeda tentunya akan menyulitkan.

Dari komunikasi dengan ketiga adik kelompok kecilku tersebut, aku belajar dua hal yang membuatku sangat bersyukur kepada Tuhan.

Pertama, ternyata bukan hanya aku yang merasa sendirian.

Setiap pertemuanku dengan masing-masing dari mereka diawali dengan mereka yang berkata “Ya ampun, kangen banget, Kak”. Pembahasan kami kemudian dilanjutkan dengan cerita hidup di masa pandemi yang semuanya seringkali merasa sendirian. Seperti yang ku alami, mereka juga mengalami isolasi di masa pandemi ini. Mereka tidak bisa dengan mudah berkomunikasi dengan teman-teman yang biasa bersama mereka 24/7. Satu kesimpulan yang aku dapat dari pembicaraan dengan mereka adalah mereka juga merasa sendiri, bukan hanya aku yang merasakannya. Hal ini menyadarkanku bahwa setiap kita membutuhkan satu sama lain, yang membawaku pada poin dua.

Hal kedua yang kupelajari adalah meskipun sulit, kehadiran komunitas harus tetap diperjuangkan.

Kalimat yang juga muncul dalam obrolanku dengan masing-masing dari mereka adalah “Kangen rohkris banget, Kak.” Aku mengangguk, sebagai tanda setuju dengan mereka. Ketika masih berada dalam percakapan tersebut, aku tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Namun keesokan harinya, salah seorang dari mereka mengatakan “KK lagi apa kita, Kak?”. Aku sempat mengira dia hanya bercanda, mengingat aku tidak memiliki ekspektasi akan hal ini sebelumnya. Ternyata dia serius. Aku pun langsung menghubungi kedua adik yang lain untuk mengajak melanjutkan KK lagi, dan mereka sangat antusias! Salah satu dari mereka bahkan ada yang berkata “Plis banget lah kak yok, udah mohon-mohon ini mah.”

Apakah aku senang? Jawabannya iya. Tapi apakah aku langsung setuju? Tentunya tidak.

Saat ini aku adalah seorang karyawan swasta dan mereka adalah mahasiswa dari kampus yang berbeda-beda sehingga hal yang pertama terbayang olehku adalah sulitnya mengatur jadwal antara kami. Tapi kemudian aku teringat kembali bagian alkitab yang kami bahas dua tahun lalu dari Pengkhotbah 4:9-12: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

Bagian firman itu mengingatkan kembali tentang prinsip persahabatan yaitu tolong-menolong, saling membangun, dan saling menjaga. Masing-masing dari kami merasa sendirian, tapi kami tidak sendirian seorang diri. Lewat kelompok kecil, kami bisa kembali saling menjaga, tolong-menolong, dan saling membangun menuju keserupaan dengan Kristus. Aku-pun setuju dengan usulan mereka untuk kembali melanjutkan kelompok kecil ini. Memang kesulitannya sudah berada di depan mata, tapi kehadiran komunitas ini harus tetap diperjuangkan.

***

Hal ini menjadi salah satu peristiwa reconnect dalam hidupku yang membuatku tidak bisa tidak bersyukur kepada Tuhan. Aku semakin menyadari bahwa manusia memang diciptakan untuk terhubung. Terhubung dengan Tuhan, dan juga dengan sesama.

Untukmu yang juga mengalami gangguan atau putusnya relasi akibat pandemi atau apapun itu, mari berjuang untuk kembali terhubung dengan mereka. Karena lewat keterhubungan kembali, natur manusia dipenuhi dan kasih Tuhan terus terbagi.

Bukan dengan Amarah, Ini Seharusnya Cara Kita Menghadapi Komentar Jahat di Media Sosial

Oleh Vika Vernanda

Hampir setiap platform media sosial mempunyai kolom komentar. Baik yang fungsinya untuk mengirim pesan, menuliskan cerita, atau mengunggah gambar, kolom komentar memberi kesempatan bagi pengguna media sosial untuk beropini terhadap suatu unggahan.

Aku mengamati komentar-komentar di media sosial. Pada unggahan seseorang terkait momen bahagia, banyak yang berkomentar “selamat ya”, pada unggahan sharing Firman Tuhan, banyak yang berkomentar “terima kasih atas sharingnya”, “sangat memberkati”, “God bless you”. Tidak jarang juga ada yang membuat komentar berisi promosi di setiap unggahan yang viral.

Nah, selain ketiga jenis komentar itu, ada satu lagi yang cukup menarik perhatianku, yaitu hate comment.

Berbeda dari komentar pada umumnya yang bernada positif, hate comment bertujuan menjatuhkan seseorang. Si pengunggah hate comment ingin agar penerima komentar maupun orang-orang yang membacanya jadi tersulut marah atau sedih.

Aku sering merasa kesal dan marah ketika melihat hate comment, baik pada unggahanku sendiri atau orang lain. Dalam hati aku mengumpat, “kok bodoh banget sih”. Mereka yang melontarkan komentar-komentar itu seolah tidak berpikir dengan benar sehingga dengan sadarnya menulis komentar-komentar jahat. Langkah berikutnya yang kulakukan adalah melakukan blokir pada akun sosial medianya, atau yang menurutku paling ekstrim adalah mengkonfrontasi langsung lewat DM. Intinya, aku marah, dan tidak ingin berinteraksi lagi dengan akun sosial media tersebut.

Namun hal tersebut bertentangan dengan apa yang kupelajari dari kisah Yunus.

Yunus adalah seorang nabi yang melarikan diri dari perintah Allah untuk memberitakan firman Tuhan ke Niniwe. Yunus lalu ditelan dalam perut ikan, setelah tiga hari dikeluarkan, dan melakukan perintah Allah. Masyarakat Niniwe menyadari kesalahannya dan mulai bertobat, namun Yunus malah marah.

Kitab Yunus pasal 4 menuliskan kemarahan Yunus; bahkan Yunus meminta Allah mencabut nyawanya (4:3). Pada kondisi Yunus yang seperti itu,

Tuhan menumbuhkan sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur. Yunus sangat bersukacita karenanya. Tetapi keesokan pagi ketika fajar menyingsing, Tuhan membuat seekor ulat menggerek pohon jarak itu sehingga layu. Sesudah matahari terbit, Allah membuat angin timur yang panas terik bertiup, sehingga menyakiti kepala Yunus, lalu ia rebah dan berharap supaya mati.
(Yunus 4 : 6-8 diparafrasekan)

Tuhan menjawab dengan

Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?
(Yunus 4 : 10 – 11)

Pada bagian firman itu, Allah bicara tentang orang Niniwe yang kafir dan kejam itu sebagai “manusia yang tak tahu membedakan tangan kanan dan kiri”.

Timothy Keller dalam bukunya The Prodigal Prophet menuliskan bahwa ini merupakan cara melihat Niniwe yang sangat murah hati! Pernyataan Allah itu merupakan bahasa kiasan yang berarti mereka [orang-orang Niniwe] buta secara rohani, telah tersesat, dan tidak tahu sumber masalah mereka atau apa yang harus diperbuat.

Dalam kondisi ini, bukannya menghukum mereka, Allah menunjukkan simpati dan sikap memahami yang luar biasa.

Media menjadi tempat banyak orang berekspresi secara bebas. Di antara “setiap orang” ini, terdapat juga orang-orang yang tersesat, tidak memiliki tuntunan untuk membedakan benar dan salah. Dalam benak “setiap orang” ini mungkin memang tidak terpikirkan dampak dari hate comment yang mereka sampaikan.

Pada kisah Yunus, Allah menunjukkan sikap simpati dan sikap memahami terhadap orang Niniwe. Bukannya marah karena hujatan mereka kepada-Nya, Ia malah menegur dengan belas kasih yang besar. Allah juga menunjukkan sikap yang sama pada Yunus; bukannya pergi atau memblokir relasinya dengan Yunus atau orang Niniwe, Ia malah hadir merengkuh mereka.

Aku tahu, hate comment seringkali memicu amarah dan bahkan menyakiti. Meski sulit, tapi mari kita belajar merengkuh mereka. Belajar seperti Allah dalam kisah ini, menyadari bahwa mereka tersesat dan tidak memiliki tuntunan.

Mari ambil waktu untuk berdoa. Berdoa meminta Allah menolong kita untuk mengampuni perbuatan mereka, serta juga secara pribadi mendoakan mereka agar mereka menyadari perbuatan tidak terpuji yang mereka lakukan dan bersedia untuk berubah.

Sulit memang. Tapi, yuk berjuang meneladani kasih Allah kepada orang yang sulit kita kasihi.

Baca Juga:

Ketika Perbuatan Baik Malah Disalahartikan

Tindakanku untuk berbuat baik hampir saja mengandaskan persahabatan kami. Kupikir aku sedang menolong temanku, tapi dia malah melihat hal sebaliknya.

7 Strategi Menghadapi Iri Hati

Iri hati adalah dosa dan perasaan yang menguras banyak energi. Ketika kita iri hati, kita kehilangan sukacita dan sulit melihat kebaikan pada sosok orang yang kita banding-bandingkan.

Tiada kebaikan yang bisa kita raih dari memelihara rasa iri, tetapi melenyapkannya pun seringkali terasa susah. Namun, inilah kabar baiknya: firman Tuhan punya jawabannya. Inilah 7 strategi menghadapi iri hati.

Artspace ini diadaptasi dari artikel “Seven Strategies for Fighting Envy” karya Stephen Witmer di Desiringgod.org

Artspace ini didesain oleh Vika Vernanda.

4 Alasan untuk Tidak Perlu Takut Bertemu Ahli Kesehatan Mental

Oleh Vika Vernanda, Depok

Di akhir tahun 2018, fakultas psikologi di kampusku menginisiasi program kesehatan mental untuk mahasiswa. Salah satu layanan dari program tersebut adalah memfasilitasi mahasiswa yang ingin berkonsultasi dengan psikolog. Ini membuka makin banyak peluang mahasiswa di kampusku untuk berkonsultasi terkait kesehatan mentalnya kepada professional dengan lebih mudah.

Namun, sayangnya, aku masih melihat beberapa orang yang merasa ragu dan malu berkonsultasi dengan profesional terkait kesehatan mentalnya. Demikian pula anak-anak Tuhan. Masih banyak orang dalam komunitas Kristen enggan berbicara atau konseling kepada konselor Kristen, padahal manfaat berbicara atau konseling dengan konselor Kristen sangat besar. Oleh karenanya, aku menuliskan beberapa hal berdasarkan pengalaman pribadi dan orang di sekitarku, alasan untuk kamu atau kerabatmu yang merasa perlu namun masih ragu untuk datang menemui konselor Kristen.

1. Menemui praktisi kesehatan mental bukanlah hal yang memalukan

Dari apa yang kudengar, salah satu alasan orang enggan menemui psikolog atau konselor adalah karena orang-orang di sekitar mereka menganggap menemui ahli psikis adalah memalukan. Disangka tidak punya keluarga atau teman yang bisa menjadi tempat bercerita. Disangka tidak percaya bahwa Tuhan yang bisa menyelesaikan permasalahan dalam hidup. Namun pemikiran seperti itu tidaklah tepat. Ada beberapa hal yang memang perlu diselesaikan, dan teman kita tidak berkapasitas untuk membantu menyelesaikannya; misalnya saja untuk seseorang yang merasa kehilangan harga diri setelah mengalami pelecehan seksual. Kehadiran konselor Kristen merupakan anugerah Allah untuk menolong kita untuk bisa semakin melihat bahwa identitas kita aman di dalam Allah dan tidak bergantung pada masalah atau kejadian buruk yang kita alami. Jadi, menemui praktisi konselor Kristen bukanlah hal yang memalukan, melainkan justru merupakan satu keputusan yang menunjukkan keberanian.

2. Menemui praktisi kesehatan mental bisa menolong kita mengenal diri kita lebih dalam

Satu tahun lalu aku rutin bertemu dengan Kak Sabeth yang adalah seorang konselor Kristen. Aku memutuskan untuk menemuinya karena aku bergumul dengan emosi yang saat itu mudah sekali untuk ‘meledak’.

Pertemuan-pertemuan awal dimulai dengan aku yang bercerita tentang berbagai ledakan emosi itu. Kak Sabeth kemudian mendiskusikan denganku beberapa hal yang menjadi pemicu terjadinya hal tersebut. Lewat pertemuan-pertemuan rutin itu, aku akhirnya mengetahui beberapa hal dalam diriku yang tidak aku ketahui sebelumnya. Misalnya, ternyata ada beberapa kejadian masa kecil yang membuatku cenderung menumpuk emosi, sehingga ketika emosi tersebut dikeluarkan akan menjadi ‘meledak’.

Ada beberapa kecenderungan diri yang tidak kita sadari ternyata bisa menyebabkan masalah dalam hidup. Kesadaran akan hal itu yang didapatkan dari diskusi dengan konselor akan sangat menolong kita menghadapi permasalahan hidup kedepannya.

3. Menemui ahli kesehatan mental bisa menjadi sebuah awal kita melayani Tuhan lebih efektif

Masalah yang kita hadapi seringkali membuat kita tidak berdaya. Tidak jarang masalah kehidupan sehari-hari mempengaruhi bagaimana kita melayani Tuhan. Misalnya saja karena masalah yang bertubi-tubi datang membuat kita tidak percaya akan kebaikan Tuhan, sehingga kita merasa percuma untuk tetap mengerjakan pelayanan.

Menemui seorang konselor akan menolong kita melihat dan menemukan penyelesaian permasalahan yang kita alami. Hal itu akan membuat kita kembali bisa memandang kehadiran Tuhan dengan cara yang benar.

Pertemuan rutinku dengan Kak Sabeth satu tahun lalu menyadarkanku bahwa aku tidak perlu memendam berbagai emosi yang kurasakan, hingga saat ini aku lebih bisa untuk mengekspresikannya. Pelayanan yang aku kerjakan saat ini berhubungan dengan banyak orang, sehingga ledakan emosiku yang sangat jauh menurun membuatku lebih efektif dalam melayani.

4. Kamu tidak menemui seorang konselor sendirian: Allah bersamamu

Masih ada orang-orang dalam lingkungan kita yang menganggap pergi menemui praktisi kesehatan mental hanya diperlukan untuk orang “gila”. Ditambah lagi mungkin ada teman-teman yang mengatakan bahwa pergi menemui praktisi kesehatan mental tidak diperlukan karena masih ada teman yang bisa mendengarkan, “kayak ga punya temen aja sih”. Hal-hal itu membuat kita merasa sendiri dan semakin ragu untuk memberanikan diri. Sehingga, memutuskan menemui praktisi kesehatan mental bukanlah hal yang mudah.

Markus 4:35-41 menceritakan tentang Yesus yang meredakan angin rebut. Ayat 37 menyatakan adanya taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Craig Groeschel dalam buku Divine Direction menuliskan bahwa keadaan saat itu terlalu besar untuk diatasi oleh perahu kecil dan para murid yang ketakutan di dalamnya. Tapi, meskipun keadaan tampak terlalu berat untuk dihadapi, para murid tidak sendirian. Markus mencatat “Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam”.

Bersama dengan Yesus di buritan perahu tidak berarti bahwa badai tidak akan menghantam perahu kita. Ini hanya berarti bahwa badai itu tidak akan menenggelamkan kita.

Allah bersama dengan kita, melewati berbagai ketakutan yang kita hadapi untuk akhirnya berani memutuskan untuk menemui praktisi kesehatan mental.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Sebuah Retret Keluarga di Rumah Sakit

Aku sekeluarga berada di ruang isolasi setelah positif terjangkit Covid-19. Momen yang awalnya menakutkan ini rupanya dipakai-Nya untuk mengingatkan kami betapa Tuhan sayang pada kami.

Ketika Bertahan Adalah Sebuah Pergumulan

Oleh Vika Vernanda, Bekasi

Saat sedang menggulir laman sosial media, aku melihat kiriman video dari suatu akun komunitas Kristen untuk publikasi sebuah ibadah. Impresi pertama ku adalah kagum karena desainnya sangat menarik, namun setelah selesai melihatnya, aku tertegun dan teringat sesuatu. Komunitas ini adalah tempatku melayani hingga sekarang. Tapi tepat satu tahun lalu, aku hampir meninggalkannya.

Pelayanan di tempat ini awalnya berjalan baik, relasiku dengan anggota komunitas lainnya pun sudah sangat dekat. Hingga suatu saat ada hal yang seakan memaksaku untuk meninggalkan komunitas ini.

Berat sekali rasanya. Sungguh sangat berat.

Hari demi hari berganti. Doaku terus terisi dengan pertanyaan “kenapa ini harus terjadi?”.

Aku menjadi takut. Takut untuk tetap hadir di komunitas ini. Takut memberi pengaruh buruk kepada anggota lainnya. Takut kalau jangan-jangan motivasiku berada di tengah mereka bukan karena kerinduan agar setiap mereka menikmati Allah, melainkan hanya karena aku menikmati penerimaan dari mereka. Perasaan dan pemikiran itu kemudian membuatku mengingat dan merenungkan kembali kerinduan awal aku melayani di komunitas ini.

Singkat cerita, dalam masa perenunganku, aku menemukan bahwa kerinduan awalku melayani komunitas ini adalah setiap anggota menikmati Tuhan yang sungguh mengasihi mereka melebihi apapun. Kerinduanku adalah setiap anggota komunitas akhirnya mempersembahkan setiap hal dalam kehidupan mereka kepada Tuhan.

Menemukan hal ini mulai membuatku untuk mau berjuang tetap bertahan.

Tepat di hari yang sama, aku menghadiri sebuah ibadah. Firman saat itu adalah dari Kisah Para Rasul 21:1-14, tentang keadaan yang seakan memaksa Paulus untuk tidak pergi ke Yerusalem karena penglihatan bahwa Paulus akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain (Kis 21:11). Jawaban Paulus tertulis pada ayat 13 bagian ini yang berkata “Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.” Aku menangis. Ketika doa tutup firman aku berkomitmen untuk tetap bertahan melayani di komunitas ini.

Aku tahu ada sesuatu yang seakan memaksaku berhenti, tapi aku lebih tau ada Allah yang terus berjalan bersamaku.

Sungguh bersyukur kepada Allah, saat ini aku bisa menyaksikan bahwa Allah memberi pertumbuhan bagi komunitas ini. Meski masih terlibat melayani di komunitas ini, aku sudah tidak banyak ambil bagian dalam persiapan ibadah. Melihat video video publikasi tersebut, membuatku tidak bisa tidak bersyukur. Bersyukur karena pilihan untuk bertahan satu tahun yang lalu, ternyata membawaku menyaksikan pertumbuhan yang Allah anugerahkan.

Untukmu yang sedang bergumul untuk tetap bertahan di suatu kondisi tertentu; bertahan tetap melayani sesama meski harus terus memutar otak mencari cara yang efektif, bertahan untuk berjuang mengasihi anggota keluarga meski mungkin setiap hari ada saja cara mereka membuatmu kesal, atau bahkan bertahan menahan rindu berjumpa dengan teman-teman karena kebijakan PSBB saat ini; kiranya kita semua boleh menyadari bahwa mungkin saja keputusan yang paling baik dan paling bernilai adalah tetap bertahan, bahkan ketika berpaling atau berjalan menjauh akan menjadi keputusan yang lebih sederhana. Karena kesetiaan (faithfulness), yakni tetap bertahan di tempat kita berada, terkadang adalah tindakan terbesar dari iman (faith).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Catatanku Menjadi Pengurus: 3 Kendala Pelayanan Pemuda di Gerejaku Sulit Berkembang

Jumlah pemuda yang hadir di tiap persekutuan hanya tiga orang. Membangun pelayanan pemuda pun terasa sulit karena beberapa kendala.

Kedamaian di Tengah Ketidakpastian

Oleh Vika Vernanda, Depok

Sebuah dokumen berisi kalender akademis baru saja dikirim oleh temanku. Salah satu poinnya menyatakan bahwa batas akhir pengumpulan tugas akhir diundur hingga akhir bulan Juli. Aku mulai menghitung waktu yang kuperlukan untuk menyelesaikan penelitian tugas akhir, hinga kudapatkan kesimpulan bahwa aku harus memulai penelitian lagi di awal bulan Mei.

Pandemi yang menjangkiti dunia dan Indonesia berdampak besar pada semua bidang, salah satunya pendidikan. Semua jenjang pendidikan melakukan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sehingga setiap siswa dan mahasiswa bisa tetap mengerjakan bagiannya untuk menuntut ilmu, namun penerapan PJJ menjadi kesulitan tersendiri bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir. Mereka yang awalnya bisa melakukan penelitian langsung di laboratorium dan di lapangan, kali ini tidak bisa melakukannya. Akibatnya penulisan tugas akhir dan waktu kelulusan jadi terhambat. Aku adalah salah seorang di antara mereka.

Pengumpulan tugas akhir yang diundur merupakan kabar baik bagi beberapa temanku, namun tidak bagiku. Penelitian untuk tugas akhirku rencananya dilakukan di rumah sakit, tapi saat ini sangat berisiko untuk pergi kesana. Pihak universitas dan rumah sakit juga tidak memberikan izin untuk melakukan penelitian. Rencana penelitianku di awal bulan Mei jadi sangat tidak mungkin kulakukan. Padahal, aku sudah merencanakan dengan rapi studiku supaya aku bisa lulus tepat waktu. Sekarang, semua rencanaku terancam berantakan. Aku sangat khawatir jika aku tidak bisa lulus tepat waktu.

Ketika aku menyampaikan kekhawatiranku pada temanku, aku teringat pada firman yang dibahas dalam kelompok tumbuh bersama yang kuikuti kemarin.

Kami membahas tentang surat Paulus bagi jemaat Filipi yang berisi tentang permintaan agar sehati sepikir dalam Kristus. Pada Filipi 4:6-7 ditulis demikian:

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

David Sanford pada bukunya Journey Through Philippians, menuliskan bahwa berdoa dalam segala sesuatu dengan ucapan syukur memberikan implikasi seperti pada ayat 7, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita. Damai ini hadir bukan karena kita memiliki kontrol, punya rencana, atau tahu jelas berbagai pilihan yang ada dalam hidup kita. Damai ini juga bukan merupakan sesuatu yang kita pikirkan dan kehendaki. Itu semua adalah kedamaian Allah— kedamaian yang terjadi bukan karena kita mengetahui semua hal dengan pasti sesuai rencana, namun ketika kita mempercayakan setiap hal kepada Allah.

Kalimat itu sangat menegurku. Aku tahu, mungkin sulit bagi kita untuk berpegang pada damai sejahtera Allah di tengah kondisi yang sangat tidak sesuai harapan. Banyak harapan dan rencana yang gagal akibat pandemi yang sedang kita alami bersama. Aku mengalaminya, dan untuk sesaat, itu menjauhkanku dari damai-Nya.

Menikmati firman ini membuatku tenang. Namun terkadang perasaan khawatir itu kembali muncul, dan ketika itu datang aku mencoba mengingat lagi bahwa Allah memegang masa depanku. Bagianku saat ini adalah tetap mengerjakan tugas akhir yang bisa dikerjakan dari rumah, dengan perasaan damai sejahtera karena mengetahui bahwa Allah bekerja. Terkait lulus tepat waktu, saat ini aku sudah lebih tenang jika bukan itu yang Allah mau; tapi aku percaya bahwa aku akan lulus pada waktu-Nya.

Pemahaman akan damai sejahtera Allah yang tidak kita dapatkan karena pengertian kita, mengingatkanku untuk tetap berdoa dan meyerahkan kekhawatiranku kepada-Nya. Maka, mari tetap berpengharapan dan menyandarkan kekuatan kita pada Allah, yang sudah menyiapkan rencana terbaik dalam hidup kita.

Untukmu yang juga sedang harap-harap cemas menanti kebijakan terkait tugas akhir, mari percaya bahwa Allah tetap bekerja. Bahwa di tengah kondisi yang terjadi, Allah tetap menjaga, dan itu membuat kita menikmati kedamaian dari-Nya. Lulus pada waktu-Nya juga adalah hal yang indah bukan?

Baca Juga:

Tuhan, Alasanku Bersukacita di Dalam Penderitaan

Habakuk dengan jujur dan berani bertanya kepada Tuhan mengapa ada jurang yang begitu lebar antara apa yang dia percayai dengan situasi yang ada di sekelilingnya. Mungkin kita pun punya pertanyaan yang sama seperti Habakuk. Apakah jawaban Tuhan terhadapnya?

Yuk baca artikel ini.

Interupsi dari Allah

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Di samping kuliah, aku terlibat dalam pelayanan untuk siswa SMA. Aktivitas ini membuat jadwal keseharianku menjadi penuh. Aku perlu meluangkan waktu untuk rapat, membicarakan pola pelayanan, juga berdoa bersama rekan-rekan sepelayananku. Itu belum ditambah dengan kegiatan perkuliahan dan pekerjaan lainnya yang semakin menambah padat jadwalku. Lama-lama, semua kesibukan itu terasa menjadi rutinitas buatku. Aku tahu pasti hal-hal apa saja yang harus kukerjakan pada setiap waktu. Tapi, tanpa kusadari, inilah yang menyebabkanku seringkali mengabaikan interupsi dari Allah pada setiap aktivitasku.

Interupsi dari Allah yang kumaksud di sini adalah gangguan yang terjadi pada jadwalku. Allah dapat melakukan banyak hal untuk membuat jadwal yang sudah kubuat ternyata tidak berjalan semestinya. Semisal, kereta yang kutumpangi terlambat ketika aku sudah datang ke stasiun tepat waktu. Kupikir tidak ada orang yang suka keterlambatan. Atau, ketika badanku sudah terasa lelah dan aku ingin langsung pulang ke rumah menggunakan transportasi paling cepat, eh, ada temanku yang mengajak pulang bareng dengan transportasi yang memakan waktu lebih lama. Buatku, itu semua terasa melelahkan.

Namun, setelah beberapa kali mengalami hal seperti itu, aku mendapati bahwa sebenarnya Allah punya rencana lewat semua hal yang terjadi dalam hidupku. Penantian kereta yang datang terlambat membuatku bisa terdiam sejenak dan merenung. Pulang bersama temanku yang melewati jalanan yang lebih jauh membuatku jadi bisa berbincang dengannya lebih lama. Dari perbincangan ini, aku jadi tahu bagaimana kondisinya, dan dia pun akhirnya bisa mendengar sharing ceritaku tentang pengalamanku bersama Allah.

Christine Caine dalam bukunya yang berjudul “Undaunted”, menceritakan kembali kisah Alkitab tentang orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:30-37). Ada seseorang yang jatuh ke tangan penyamun hingga ia hampir mati. Dalam kondisinya yang kritis, ada tiga orang yang lewat di dekatnya, yaitu seorang imam, Lewi, dan orang Samaria. Imam dan orang Lewi melewati korban itu begitu saja. Tapi, orang Samaria, karena tergerak oleh belas kasih, menunda sebentar perjalanannya untuk menolong korban penyamun itu. Dalam kisah ini, imam dan orang Lewi tidak dikatakan sebagai orang jahat; tapi mereka adalah orang-orang beragama yang sibuk. Mereka begitu fokus menjalani rutinitas dan kegiatan ibadah mereka sampai-sampai mereka melewatkan seseorang yang seharusnya mereka tolong.

Aku tidak pernah memikirkan kisah orang Samaria dari perspektif ini sebelumnya. Aku tertegun dan merasa ditegur. Kesibukanku melayani di pelayanan siswa pernah membuatku menutup diri dari teman-teman kampusku yang ingin menemuiku untuk bercerita. Bahkan, kesibukan pelayananku ini seringkali membuatku lupa kepada rekan sepelayananku. Aku berfokus pada pelayananku sendiri: pada sekolah yang aku bimbing dan pada siswa-siswi yang aku layani. Aku lupa kalau aku juga punya rekan sepelayanan yang bukan robot. Mereka tentu punya pergumulan. Mereka butuh diperhatikan dan didengar, sesuatu yang juga dibutuhkan oleh semua manusia.

Satu-satunya perbedaan antara orang Samaria dengan imam dan orang Lewi adalah orang Samaria rela berhenti. Orang Samaria rela rencananya terganggu supaya dia dapat membantu orang asing yang menjadi korban penyamun. Orang Samaria mau merendahkan dirinya untuk mengangkat mereka yang susah.

Christine Caine, dalam buku “Undaunted” di halaman 168, menuliskan bahwa rendah hati dan merendahkan diri itu berbeda. Belas kasih hanyalah emosi dalam diri kita. Ketika belas kasih itu membuat kita bertindak, barulah belas kasih itu dapat dikategorikan sebagai sebuah aksi nyata.

Kesibukan kita seringkali dapat membuat kita tidak melihat orang-orang di depan mata kita yang sekiranya perlu kita tolong. Waktu kita hanya fokus melihat ke depan tanpa memedulikan gangguan yang datang dari kanan dan kiri, Allah bisa saja menggunakan gangguan itu agar kita menjadi jawaban doa bagi seseorang.

Secara pribadi, aku merenungkan dan mendapati bahwa Allah tidak ingin aku hanya mengerjakan pelayanan utamaku saja tanpa tujuan. Tuhan, yang menempatkanku berada di kampus dan lingkungan pekerjaanku sekarang, rindu agar banyak orang dapat menikmati kasih-Nya lewat hidup setiap kita. Kiranya setiap kita dianugerahkan kepekaan terhadap rencana-rencana-Nya yang dapat menginterupsi jadwal dan rutinitas kita.

Baca Juga:

Tuhan, Anugerahkan Kepadaku Ketenangan

Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.