Posts

5 Cara Mengelola Uang dengan Bijak

Uang…
Siapa tidak suka uang? Dengan uang, agaknya kita bisa membeli apa pun yang kita inginkan. Namun demikian, Alkitab mengingatkan kita bahwa uang bukanlah tuan kita. Uang harus dikelola dengan bijak.

Bagikan ini ke temanmu untuk saling mengingatkan agar kita dapat bijak mengelola uang yang sudah Tuhan percayakan pada kita.

Sesegera Mungkin, Buatlah Rencana Keuanganmu!

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Tahun 2020 sudah memasuki bulan kedua, tapi rasanya belumlah terlambat untuk bicara soal resolusi.

Dalam peribadatan tutup tahun serta awal tahun, gereja pun kerap menyuarakan pentingnya membuat resolusi. Namun, sadar atau tidak, gereja cenderung menekankan agar umat Kristen memiliki resolusi yang berfokus pada ritual peribadatan Kristiani. Contohnya, umat Kristen harus baca Alkitab setahun penuh di tahun yang baru, harus ikut satu pelayanan, dan lain-lain.

Tentu bukan hal yang salah untuk mengingatkan ritual yang terjadi dalam “altar,” tetapi gereja juga tidak boleh abai pada hal yang terjadi di “latar,” yaitu hal-hal yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, ada beberapa gereja yang merasa mendiskusikan seks, relasi, dan uang, adalah hal yang tabu. Padahal, nyatanya manusia kerap menghadapi permasalahan pada tiga topik tersebut.

Bicara soal uang, apakah kamu sudah melakukan perencanaan finansialmu sepanjang tahun ini?

Pentingnya apa sih?

Sebagai pelajar maupun pekerja, kita mungkin pernah atau kerap mengalami kondisi bangkrut—kondisi di mana kita kehilangan financial resources, alias bokek. Pada akhir bulan, biasanya orang tua kita mengirimkan uang bulanan, atau para pekerja mendapatkan gaji, tapi tak berselang lama, minggu kedua di bulan berikutnya isi dompet menipis. Dan ketika uang habis, mungkin ada dari kita yang ikut kegiatan gereja yang ada makan-makannya, ikut doa puasa (yang mungkin landasannya bukanlah pertobatan), kita pun minta uang ke orang tua, dan yang paling buruk ialah berutang kepada teman atau lewat pinjaman online.

Bukankah pengaturan keuangan yang buruk bisa mengindikasikan bahwa kita belum bertanggung jawab atas berkat materiil yang Tuhan titipkan bagi kita?

Perumpamaan tentang talenta, dalam Matius 25:14-30 maupun perumpamaan tentang uang Mina dalam Lukas 19:12-27 bisa menjadi asumsi bahwa Tuhan menuntut kita untuk bertanggung jawab atas hal-hal yang Dia titipkan pada kita. Talenta dan Mina, dalam beberapa perspektif teologi dapat diartikan sebagai karunia Roh, soft skill di mana Tuhan ingin menghasilkan jiwa-jiwa baru yang percaya pada-Nya. Namun, berkat materiil juga merupakan berkat yang tak bisa diabaikan, karena perihal keuangan juga berdampak langsung dalam kehidupan di masa kini. Maka, seharusnyalah seorang pelajar mampu mengelola kiriman bulanan yang dikirim oleh orang tua; begitu pun seorang pekerja harus mampu mengelola pendapatan yang dia terima.

Tantangan yang kita hadapi dalam mempertanggungjawabkan berkat materiil adalah gaya hidup masa kini yang impulsif dan konsumtif. Kita bisa membeli banyak hal lewat ragam aplikasi di gawai, mulai dari makanan, pakaian, barang elektronik, dan banyak lainnya. Hal-hal yang awalnya tidak terlalu diinginkan lambat laun jadi kebutuhan. Semisal harus beli boba atau kopi tiap hari. Fasilitas kredit pun makin mudah kita dapatkan, baik pinjaman kredit online maupun fitur pay later.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa merancang kehidupan finansial dengan baik?

Kuncinya adalah mencatat, agar kita bisa mengukur dan menghitung pengeluaran serta pendapatan dengan tepat. Kita bisa mendapatkan banyak aplikasi maupun program perihal merancang finansial di gawai kita. Kita juga bisa melakukannya dengan secarik kertas, yang dibagi menjadi dua kolom. Sisi kiri untuk pemasukan, sisi kanan untuk menulis pengeluaran. Dalam proses penulisan tersebut, kita bisa mulai dengan mengurutkan informasi nominal yang pasti dan stabil dari yang paling atas. Contohnya, pada sisi kiri, kita mencatat pemasukan berupa kiriman dari orang tua, gaji bulanan, atau pendapatan lainnya yang bersifat stabil; dan di bawahnya kita bisa melanjutkan dengan pemasukan yang fluktuatif, seperti hasil dari kerja sambilan.

Hal yang sama juga bisa diterapkan pada sisi kanan, untuk menuliskan pengeluaran. Dari atas kita menuliskan pengeluaran yang sifatnya wajib dan pasti, misal bayar uang kuliah, bayar uang kos, persepuluhan, bayar cicilan. Pada bagian bawahnya kita bisa mencatat pengeluaran yang sifatnya alokasi seperti kebutuhan pengembangan diri, kebutuhan entertainment. Kita pun bisa melanjutkan dengan menulis pengeluaran untuk biaya saving yang dialokasikan untuk investasi dan tabungan.

Tentu secara teoritis tampaknya mudah, tapi perlu usaha keras untuk mempraktikkan pencatatan keuangan ini. Sebagai umat Kristen, kita perlu melandasi perancangan finansial dengan pemahaman bahwa melalui harta tersebut, kita dapat memuliakan nama Tuhan, seperti tertulis dalam Amsal 3:9, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.”

Dalam usaha memuliakan Tuhan melalui berkat materiil yang kita miliki, tentunya dengan perencanaan yang matang pula, seperti tertulis dalam Lukas 14:28, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuh menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”

Selamat menikmati 2020 dengan resolusi finansial yang baik, kawan!

*Tulisan ini diadaptasi dari wawancara dengan Fenny Sutandi, seorang bankir dan Certified Financial Planner. Dapat didengarkan melalui podcast di sini.

Baca Juga:

Nafsu dalam Pacaran: Dosa Terselubung yang Tidak Kita Bicarakan

Selama masa-masa pacaran, kami bergumul dengan dosa yang amat kami sesali. Hanya teman yang paling dekat dan pemimpin di gereja kami yang tahu akan dosa itu: hawa nafsu. Ketika akhirnya kami mengalami konsekuensi dosa, barulah kami sadar dan bertekad untuk berbalik.

Apakah Orang Kristen Tidak Boleh Kaya?

apakah-orang-kristen-tidak-boleh-kaya

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can We Be Rich and Godly At The Same Time?

Komisi pemuda di gereja kami baru saja memulai pendalaman Alkitab tentang khotbah di bukit. Ketika kami sedang mencoba memahami maksud dari perkataan Yesus dalam Lukas 6:20, salah seorang pemuda bertanya, “Apakah ayat ini hendak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh kaya?”

Sangat wajar jika pertanyaan ini muncul, karena pernyataan Yesus memang sepertinya mengarahkan orang untuk berpikir demikian. Jika orang miskinlah yang akan mendapatkan Kerajaan Allah, apakah itu berarti orang Kristen harus dengan sengaja hidup miskin? Haruskah orang Kristen menghindari kelimpahan materi?

Jika kita membaca keseluruhan Alkitab, aku pikir kita akan menemukan bahwa jawabannya jelas “tidak”. Orang “miskin” yang disebutkan pada bagian ini bukanlah sembarang orang miskin. Mereka tidak hidup dalam kelimpahan materi karena iman mereka. Alkitab sendiri mencatat banyak orang yang melayani Tuhan sekaligus memiliki banyak harta. Allah memberkati mereka dan memuji sikap hidup mereka. Abraham, Ayub, dan Daud adalah contoh orang-orang kaya yang dekat kepada Allah.

Mungkin pertanyaan yang lebih besar di balik pertanyaan tadi adalah: apakah kita bisa menjadi kaya dan sekaligus menjadi orang yang mengutamakan Allah dalam hidup ini? Bagaimana bila kita adalah orang yang sudah diberkati dengan kekayaan karena latar belakang orangtua atau pekerjaan kita? Salahkah jika kita kaya, atau ingin menjadi kaya? Bagaimana orang Kristen harus melihat kekayan?

Setidaknya, ada tiga prinsip yang bisa kita pegang:

1. Kita tidak boleh terobsesi untuk menjadi kaya (atau lebih kaya)

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:10).

Jika kita berusaha mencari-cari argumen yang dapat membenarkan keinginan kita untuk mengejar Tuhan sekaligus mengejar kekayaan materi, kita akan kecewa. Aku akan menjadi orang pertama yangmengakui bahwa aku bergumul dengan dua hal tersebut. Sudah berulang kali aku berkeinginan untuk mengejar kekayaan materi, namun berulang kali pula Tuhan mengingatkan aku melalui firman-Nya dan sesama bahwa itu bukan sikap yang seharusnya aku miliki.

Uang pada dasarnya tidak jahat. Masalahnya bukan bukan terletak pada apakah kita memiliki banyak uang atau tidak, tapi pada keinginan untuk menjadi kaya dan cinta pada uang. Bagian Alkitab ini menunjukkan pada kita, bahwa sekali kita terjerat pada godaan untuk mencintai uang, kita tidak akan pernah merasa cukup dan makin lama makin menjauh dari Tuhan. Tidak heran, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya dalam Matius 6:24, bahwa tidak mungkin seseorang bisa menjadi hamba Tuhan sekaligus hamba uang. “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Jadi, jika tujuan utama kita adalah hidup dekat dengan Tuhan, akan bijaksana bila kita menjauhkan diri dari godaan untuk mengejar kekayaan materi. Salah satu bagian firman Than yang baik untuk direnungkan dalam konteks ini adalah Ibrani 13:5, “‘Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”

2. Kita tidak boleh menumpuk harta di dunia

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ jua hatimu berada” (Matius 6:19-21). Ayat ini memberi gambaran tentang apa yang fana. Kekayaan materi di bumi ini tidak akan bertahan selamanya—semua bisa rusak dan pada akhirnya tidak ada lagi. Yang akan bertahan selamanya adalah apa yang kita lakukan bagi kemuliaan Tuhan; itu yang akan memberi kita harta abadi. Sebab itu, harta yang seharusnya kita inginkan adalah upah yang dijanjikan Tuhan kepada umat yang setia kepada-Nya—orang-orang yang mencari dan melakukan kehendak Tuhan dengan segenap hati, akal budi, jiwa, dan kekuatan.

Jika tujuan hidup dan yang membuat kita sibuk adalah upaya mengumpulkan banyak uang untuk membeli rumah yang besar, mobil yang bagus, pakaian yang mahal, serta untuk sekadar menikmati hidup yang mudah dan nyaman, kita tidak ada bedanya dengan orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus. Orang kaya itu berpikir bahwa yang paling penting dalam hidup adalah menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Ia tidak menyadari bahwa ada kehidupan setelah kematian dan kekayaannya di dunia tidak dapat dibawa ke sana (Lukas 12:13-21).

Mentalitas yang hanya mencari kesenangan diri sendiri bukan saja tidak alkitabiah, tetapi, Yesus menyebutnya sebagai suatu kebodohan.

3. Kita harus siap berpisah dengan kekayaan yang kita miliki

“Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: ‘Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.’ Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: ‘Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah’” (Markus 10:21-23).

Jika saat ini kita memiliki banyak harta—baik itu hasil kerja keras kita atau warisan keluarga kita—kita diingatkan untuk tidak menggenggam kekayaan itu terlalu erat. Jika kita memegangnya terlalu erat, bisa jadi kita lebih mengandalkan harta kita daripada mengandalkan Allah.

Alkitab juga secara konsisten memanggl kita untuk menolong mereka yang membutuhkan. Salah satu aplikasinya adalah memberikan uang kepada orang-orang yang berkekurangan. Dalam Injil Lukas, Yohanes Pembaptis mendorong orang banyak untuk membagikan pakaian dan makanan yang mereka miliki kepada sesama yang tidak punya (Lukas 3:11). Beberapa orang Kristen yang kukenal tidak punya banyak uang, tetapi selalu menjadi orang-orang yang pertama memberikan apa yang mereka punya ketika ada sesama yang membutuhkan.

Kita yang berkelebihan dipanggil untuk memberi kepada mereka yang berkekurangan. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang diberikan Allah kepada kita bersama berkat-berkat yang diberikan-Nya. Tanggung jawab ini sesuai dengan perintah untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

Jadi, salahkah bila orang Kristen menjadi kaya? Alkitab menunjukkan bahwa yang bermasalah itu bukanlah banyaknya kekayaan yang kita miliki, tetapi hati yang selalu mengejar dan melekat pada kekayaan. Tidak salah menjadi kaya atau bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan yang baik, selama kita tidak terjebak untuk mencari uang lebih daripada mencari Allah.

Bila hati kita dikuasai keinginan untuk mengumpulkan kekayaan di dunia, mari kita melepaskannya. Mari berjuang mengumpulkan harta di sorga dan menggunakan apa yang telah dikaruniakan Allah untuk memberkati sesama.

Baca Juga:

3 Tanda Aku Menggunakan Ponsel dengan Berlebihan

Aku sangat sering menggunakan ponsel. Begitu seringnya, sampai-sampai aku selalu merasa ada yang kurang apabila tidak tanganku tidak memegang ponsel. Apa yang kualami ini mungkin adalah bagian dari nomophobia (no-mobile-phobia): rasa takut akan kehilangan kontak dengan ponsel.

Mengapa Kita Resah dengan Razia Barang Impor, SNI, dan Pajak?

Penulis: Handoyo Lim

mengapa-resah-dengan-razia

Kondisi keuangan dan dunia usaha di Indonesia belakangan ini banyak menghadapi perubahan, tekanan dan ketidakpastian. Faktor eksternal yang berkaitan dengan mata uang, regulasi pemerintah, dan penegakan aturan hukum menimbulkan reaksi yang berbeda dari setiap kalangan usaha. Ada yang senang, ada yang tidak senang, ada yang pro, ada yang kontra.

Beberapa isu yang banyak menarik perhatian adalah tentang razia perizinan barang impor, legalitas produk (mendapat sertifikasi SNI atau tidak), dan pengetatan aturan perpajakan. Reaksi yang timbul dari para pengusaha menurut pengamatanku, lebih besar dibandingkan faktor-faktor eksternal lainnya. Yang jelas terlihat misalnya kegelisahan para pemilik toko yang kemudian menutup tempat usaha mereka karena khawatir kena razia, juga ungkapan kekhawatiran sejumlah pengusaha tentang kondisi produk impor melalui jalur tertentu yang entah kapan akan tiba.

Beragam pertanyaan mengusik benakku sebagai seorang muda Kristen yang berprofesi sebagai pengusaha. Bagaimana bila isu pemeriksaan dan pengetatan pajak tersebut sengaja dilakukan pemerintah untuk menguji mental dan integritas pasar? Bila yang muncul adalah keresahan yang berlebihan, apakah ini menunjukkan bahwa selama ini banyak usaha kita jalankan dengan cara yang “belum tentu benar”? Atau, bisa jadi usaha-usaha kita dijalankan dengan cara yang “belum tentu salah” juga, tetapi kita tidak terlalu peduli mencari tahu “yang benar”, dan ketika aturan mulai ditegakkan, kita pun mulai paranoid sendiri sebagai para pelaku usaha.

Mungkin kita adalah orang-orang Kristen yang dikenal rajin melayani, rajin memberi persembahan, suka berbuat baik dan menolong orang yang membutuhkan. Namun, begitu bersentuhan dengan urusan uang dan bisnis, sepertinya kita hidup dalam alam yang berbeda. Tiba-tiba saja kita memikirkan segala cara untuk membelokkan aturan demi mengurangi kewajiban kita kepada negara dan mengembangkan kekayaan kita. Ironisnya, kita bisa menggunakan alasan yang terdengar sangat rohani untuk membenarkan diri: kita ingin menggunakan kekayaan itu untuk melayani dan melakukan pekerjaan Tuhan.

Namun, sesungguhnya Tuhan tidak perlu uang kita! Dia adalah Allah, Pemilik segala yang ada. Dia amat sangat kaya! Yang menyenangkan hati Tuhan bukanlah besarnya persembahan kita, tetapi ketaatan kita pada apa yang dikatakan-Nya. Menyadari kebenaran ini, pemazmur berkata, “Engkau [Tuhan] tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku … aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mazmur 40:7-9).

Masalahnya, bukankah hati kita seringkali lebih menyukai uang daripada kehendak Allah? Tak heran, Yesus memberi peringatan keras kepada para pengikut-Nya, “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:13). Saingan Tuhan di hati kita bukanlah iblis, tetapi uang!

Dalam Lukas 16, ada catatan menarik ketika Yesus mengajar para pengikut-Nya agar bisa dipercaya dalam hal uang.

Orang-orang Farisi mendengar semua yang dikatakan oleh Yesus. Lalu mereka menertawakan-Nya, sebab mereka suka uang. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Kalianlah orang yang di hadapan orang lain kelihatan benar, tetapi Allah tahu isi hatimu. Sebab apa yang dianggap tinggi oleh manusia, dipandang rendah oleh Allah (Lukas 16:14-15, terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Tuhan tahu isi hati setiap kita. Ketika hati kita tertuju pada Tuhan, kita akan rindu menyenangkan-Nya dengan melakukan apa kata firman-Nya, termasuk bila itu berarti kita harus memperbaiki cara bisnis kita dan memberikan kepada negara apa yang memang seharusnya menjadi milik negara. Sebaliknya, ketika hati kita tertuju pada uang, kita akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, termasuk bila itu berarti kita harus melanggar firman Tuhan.

Kupikir kita tidak perlu menunggu situasi yang ideal untuk mulai melatih diri hidup dalam kebenaran. Kita bisa memulainya hari ini juga. Aku sendiri menyadari banyak hal yang harus aku evaluasi dan perbaiki dalam hidupku. Mari kita sama-sama belajar hidup dalam integritas. Jalan yang tidak mudah dan mungkin kelihatan bodoh bagi sebagian orang, namun akan membebaskan kita dari berbagai keresahan yang tidak perlu. Dengan anugerah Tuhan, kita pasti dapat melakukannya dan menjadi terang bagi komunitas di mana Tuhan menempatkan kita.

Hati yang Mengabdi

Minggu, 26 Juli 2015

Hati yang Mengabdi

Baca: 2 Tawarikh 17:1-11

17:1 Maka Yosafat, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Sebagai pemimpin Israel ia memperkuat dirinya

17:2 dengan menempatkan tentara di semua kota yang berkubu di Yehuda dan pasukan-pasukan pendudukan di tanah Yehuda serta di kota-kota Efraim yang direbut oleh Asa, ayahnya.

17:3 Dan TUHAN menyertai Yosafat, karena ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya, dan tidak mencari Baal-baal,

17:4 melainkan mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya dan tidak berbuat seperti Israel.

17:5 Oleh sebab itu TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya. Seluruh Yehuda memberikan persembahan kepada Yosafat, sehingga ia menjadi kaya dan sangat terhormat.

17:6 Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala.

17:7 Pada tahun ketiga pemerintahannya ia mengutus beberapa pembesarnya, yakni Benhail, Obaja, Zakharia, Netaneel dan Mikha untuk mengajar di kota-kota Yehuda.

17:8 Bersama-sama mereka turut juga beberapa orang Lewi, yakni Semaya, Netanya, Zebaja, Asael, Semiramot, Yonatan, Adonia, Tobia dan Tob-Adonia disertai imam-imam Elisama dan Yoram.

17:9 Mereka memberikan pelajaran di Yehuda dengan membawa kitab Taurat TUHAN. Mereka mengelilingi semua kota di Yehuda sambil mengajar rakyat.

17:10 Ketakutan yang dari TUHAN menimpa semua kerajaan di negeri-negeri sekeliling Yehuda, sehingga mereka tidak berani berperang melawan Yosafat.

17:11 Dari antara orang-orang Filistin ada yang membawa kepada Yosafat persembahan, dan perak sebagai upeti. Juga orang-orang Arab membawa kepadanya kambing domba, domba jantan tujuh ribu tujuh ratus ekor dan kambing jantan tujuh ribu tujuh ratus ekor.

Ia . . . melakukan apa yang benar di mata TUHAN. —2 Tawarikh 20:32

Hati yang Mengabdi

Seorang pebisnis Kristen yang sukses membagikan ceritanya kepada kami di gereja. Ia begitu jujur dan terbuka menyebutkan pergumulannya dalam iman dan kekayaannya yang melimpah. Ia menyatakan, “Kekayaan membuatku takut!” Ia mengutip perkataan Yesus, “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Luk. 18:25).

Ia mengutip Lukas 16:19-31 tentang seorang kaya dan Lazarus, dan bagaimana dalam kisah itu, justru orang kaya yang masuk ke neraka. Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk. 12:16-21) juga mengusik pikirannya.

“Akan tetapi,” pebisnis itu kemudian menyatakan, “aku telah belajar dari keputusan Salomo mengenai kekayaan yang berlimpah. Itu semua adalah ‘kesia-siaan’” (Pkh. 2:11). Ia bertekad untuk tidak membiarkan kekayaannya menghalangi pengabdiannya kepada Allah. Sebaliknya, ia ingin melayani Allah dengan harta miliknya dan menolong orang yang berkekurangan.

Selama berabad-abad, Allah telah memberkati sejumlah orang dengan harta benda. Kita membaca tentang Yosafat dalam 2 Tawarikh 17:5, “Oleh sebab itu, TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya . . . sehingga ia menjadi kaya dan sangat terhormat.” Yosafat tidak menjadi sombong atau menindas orang lain dengan kekayaannya. Sebaliknya, “dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN” (ay.6). Selain itu, “ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya, dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN” (20:32).

Tuhan tidak menentang kekayaan karena Dia memberkati sejumlah orang dengan harta, tetapi yang dikecam-Nya adalah usaha memperoleh kekayaan secara tidak etis dan penyalahgunaannya. Allah layak menerima pengabdian dari semua pengikut-Nya. —Lawrence Darmani

Bersyukur kepada Allah sering menolong kita untuk belajar merasa puas dengan apa yang kita miliki. Apa saja yang membuat kamu bersyukur?

Tuhan menyukai hati yang mengabdi, tanpa melihat ia kaya atau tidak.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 40–42; Kisah Para Rasul 27:1-26

Mengelola Uang dan Mengelola Hati

Oleh: Helen Clays

uang

Siapa tidak butuh uang? Uang adalah alat tukar yang digunakan dalam transaksi untuk mendapatkan barang di dunia ini. Semua orang membutuhkannya, termasuk kita, para pengikut Kristus. Kerap, uang menjadi ukuran status sosial seseorang. Makin besar jumlah uang yang dimiliki, makin seseorang dipandang kaya dan terhormat, demikian pula sebaliknya. Tak heran, banyak orang terjerumus dalam jerat “cinta uang”. Uang menjadi segala-galanya dalam hidup. Uang mengendalikan sikap dan perilaku orang. Uang menjadi penentu apakah seseorang merasa bahagia dan berarti dalam hidup, atau tidak. Padahal, bukankah uang adalah alat tukar semata? Aku pernah mendengar nasihat, “Peralatlah uang, jangan diperalat oleh uang”. Kupikir ini nasihat yang sangat baik. Kita diciptakan Tuhan untuk menjadi pengelola yang baik dari segala sesuatu dalam dunia ciptaan-Nya (Kejadian 1:28). Itu artinya kita pun dipercaya untuk mengelola uang yang sangat penting peranannya dalam hidup di dunia modern ini.

Aku sendiri masih terus belajar untuk mengelola uang dengan baik. Dari apa yang Tuhan izinkan aku punya setiap bulan, aku berusaha mendisiplin diri untuk memberi perpuluhan (10% dari uang yang aku dapatkan), memberi bantuan atau diakonia kepada sesama yang membutuhkan (juga 10%), dan menabung (10%). Aku ingin menaati apa yang dikatakan Firman Tuhan dalam hal:

1. Memberi perpuluhan
“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan …” (Maleakhi 3:10)

2. Memberi diakonia
“Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberi tumpangan” (Roma 12:13)
“Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.” (2Kor.8:14)

3. Rajin menabung untuk mencukupi kebutuhan hidup
Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu (Ams.10:5)

Praktiknya memang tidak mudah. Kadang ada saja rasa “kurang”, dan ingin memberi lebih sedikit. Padahal sebenarnya, kalau dihitung-hitung, aku masih punya 70% bagian yang bisa kupakai. Mengapa masih merasa tak cukup? Tenyataaaa…. cara kita mengelola uang bisa menolong kita makin mengenali kecenderungan hati kita, apa yang menurut kita paling penting dalam hidup ini. Sikap kita terhadap uang mencerminkan sikap kita terhadap Tuhan. Ada saatnya kita mungkin berusaha dengan sangat ketat menjaga uang kita, berhemat luar biasa, bahkan tak sudi berbagi dengan sesama yang membutuhkan, karena selalu khawatir akan berkekurangan. Kita mengeluh bahwa orang lain selalu mendapat lebih banyak dan kita selalu mendapat lebih sedikit. Tanpa sadar kita membatasi Tuhan, seolah Dia tak sanggup memberkati kita. Kita lupa bahwa sesungguhnya Dialah Sumber segala sesuatu. Sebaliknya, ada pula saat-saat ketika kita menggunakan uang kita tanpa pikir panjang untuk hal-hal yang tidak penting, lalu mengeluh saat kekurangan uang, memohon Tuhan untuk segera bertindak menolong kita. Tanpa sadar kita memperlakukan Tuhan seperti “mesin atm”, tapi kita lupa bahwa Tuhan-lah Pemilik harta kita sesungguhnya, dan kita harus mempertanggungjawabkan penggunaan uang kita kepada-Nya.

Pastinya peringatan yang diberikan Firman Tuhan bener banget: “akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim.6:10). Untuk belajar mengelola uang, kita pertama-tama perlu belajar mengelola hati. Kita perlu memeriksa bagaimana sikap hati kita sesungguhnya terhadap Tuhan. Kita perlu terus menjaga agar cinta kita kepada Tuhan tidak dikalahkan oleh cinta kita kepada uang. Kita perlu terus dekat dengan Tuhan, giat belajar Firman-Nya, agar kita memiliki kepekaan dan hikmat dalam mengelola uang kita. Ingatlah bahwa uang tidak dapat membeli hidup kekal bagi kita. Tetapi, kita dapat menggunakan uang kita untuk hal-hal yang bernilai bagi kekekalan.

Bagaimana Menikmati Harta Benda

Kamis, 28 November 2013

Bagaimana Menikmati Harta Benda

Baca: Pengkhotbah 5:12-19

Setiap orang . . . menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah. —Pengkhotbah 5:18

Dalam bukunya Daring To Draw Near (Berani Mendekat), Dr. John White menulis bahwa beberapa tahun sebelumnya Allah telah memberinya kesanggupan untuk memiliki sebuah rumah indah dengan banyak harta benda yang mewah. Ia mengaku bahwa memiliki rumah tersebut membuat perasaannya naik-turun secara drastis.

Ketika ia mengingatkan dirinya bahwa semua itu merupakan pemberian dari tangan Allah yang penuh kasih, ia merasa sangat bersukacita dan penuh syukur. Namun ketika ia mulai membandingkan rumahnya dengan milik teman-temannya, ia berbangga diri karena memiliki rumah seindah itu dan sukacitanya pun lenyap. Akhirnya rumah itu dirasakannya sebagai beban. Yang dapat dilihatnya hanyalah banyaknya pagar tanaman dan pepohonan yang harus dirawat dan berbagai perawatan rumah yang tiada habisnya. White berkata, “Sementara kesombongan mengaburkan pandanganku dan membebani hatiku, rasa syukur mencerahkan penglihatanku dan meringankan bebanku.”

Penulis kitab Pengkhotbah melihat kehadiran Allah dalam setiap kenikmatan yang diperolehnya dari harta benda. Kekuatan untuk menikmati hasil jerih payah kita, bahkan kekuatan untuk menerima dan bersukacita di dalamnya, berasal dari Allah (5:17-18).

Seluruh hidup kita, dari lahir hingga ajal, adalah anugerah Allah yang tiada hentinya diberikan kepada kita. Kita tidak layak menerima apa pun. Dia tak berutang apa pun kepada kita, namun Dia memberikan segalanya untuk kita. Jika kita mengingat ini, kita tidak perlu merasa telah bersikap egois atau merasa bersalah. Berkat harta benda apa pun yang kita miliki adalah karunia Allah kita yang Maha Pemurah. —DJD

Untuk puluhan ribu karunia indah
Kunaikkan syukur setiap harinya;
Hati yang gembira pun tak ketinggalan,
Bersukacita menikmati karunia itu. —Addison

Allah yang telah memberi kita begitu banyak juga mengaruniai kita hati yang penuh syukur. —Herbert

Tentang Uang

Senin, 15 April 2013

Tentang Uang

Baca: 1 Timotius 6:6-12

Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah . . . . —1 Timotius 6:17

Marilyn dan Steven baru menikah beberapa tahun, dan kondisi keuangan mereka agak ketat. Namun ketika Marilyn melihat seprai mereka yang usang, ia ingin menggantinya. Jadi ia memutuskan untuk membeli seprai baru dengan kartu kredit—dengan harapan ia akan mendapatkan cukup uang untuk melunasinya, bagaimanapun caranya.

Renungan yang dibacanya hari itu mengacu ke Amsal 22:27 (BIS), “Nanti jika engkau tidak sanggup melunasinya, tempat tidurmu pun akan disita.” Ayat itu mengejutkan Marilyn dan ia pun memutuskan tidak jadi berhutang demi memiliki seprai baru.

Keputusan tentang cara menggunakan uang kita adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan, dan terkadang itu bukan keputusan yang mudah. Namun Allah telah memberikan petunjuk dalam firman-Nya. Dia berkata kepada kita: “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu” (Ams. 3:9), dan “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24).

Dengan menghayati kebenaran-kebenaran tersebut, kita menelusuri lebih jauh ke dalam firman-Nya yang dapat menolong kita untuk menggunakan uang dengan cara yang bijaksana. Kita membaca pernyataan ini: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan” (Luk. 12:15). Ayat lain mengatakan, “Yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi” (Ams. 22:7). Dan dalam 1 Timotius, kita didorong untuk “suka memberi dan membagi” (6:18).

Uang adalah urusan yang besar. Sebagai Allah yang menyediakan segala kebutuhan kita, Dia dapat menunjukkan kepada kita cara menggunakan uang yang membawa kemuliaan bagi-Nya. —JDB

Tuhan, terkadang urusan uang dan keuangan membuat kewalahan.
Betapa sulitnya mengambil keputusan, oleh karena itu
pimpinlah diriku dan berilah hikmat untuk menggunakan
keuanganku dengan cara yang menyenangkan-Mu.

Jangan biarkan harta menjadi allahmu.

Tantangan Dari Kekayaan

Jumat, 23 November 2012

Tantangan Dari Kekayaan

Baca: 1 Timotius 6:6-10, 17-19

Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka . . . jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah. —1 Timotius 6:17

Ketika keluarga kami tinggal di Kenya pada tahun 1980-an, kami mengantarkan seorang wanita muda dari Nairobi untuk mengunjungi orangtuanya yang tinggal dekat Danau Victoria. Dalam perjalanan, kami berhenti di kota Kisumu untuk menaruh barang bawaan kami di hotel tempat kami akan bermalam setelah mengantarkan wanita itu pulang. Ketika melihat kamar hotel yang menurut kami ruangannya berukuran sedang dengan dua tempat tidur, ia berkata, ”Sebesar ini hanya untuk kalian berlima?” Apa yang kami anggap biasa-biasa saja, dianggapnya sebagai suatu kemewahan. Kekayaan bersifat relatif, dan ada di antara kita yang hidup di negara makmur memiliki kecenderungan untuk mengeluhkan suatu standar hidup yang mungkin sangat diinginkan oleh orang lain.

Ada sejumlah orang di antara para pengikut Kristus di Efesus yang memiliki uang lebih banyak daripada yang lain. Kepada Timotius, gembala mereka, Paulus menulis, ”Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” (1 Tim. 6:17). Paulus mendorong mereka untuk ”berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi (ay.18).

Kita punya kecenderungan untuk memegang erat-erat apa yang kita miliki daripada memberikannya dengan sukarela bagi mereka yang membutuhkan. Tantangan dari harta kekayaan terletak pada bagaimana pemiliknya dapat hidup dengan hati yang bersyukur kepada Allah dan bermurah hati kepada sesamanya. —DCM

Ada kebaikan yang bisa ditunjukkan anak-anak Allah
Yaitu memberi dengan rela hati;
Apabila kita menunggu sampai kaya
Bisa jadi kita takkan pernah memberi. —D. De Haan

Penghidupan berasal dari nafkah yang kita peroleh; tetapi kehidupan berasal dari harta yang kita bagi.