Posts

Mengapa Mission Trip Tidak Selalu jadi Program yang Tepat?

Mengapa-Mission-Trip-Tidak-Selalu-jadi-Program-yang-Tepat

Oleh Adriel Yeo, Singapura
Ilustrasi oleh Marie Toh, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Short-term Mission Trips May Not Always Be A Good Idea

Pernahkah kamu mengikuti kegiatan mission trip yang diadakan oleh gerejamu? Secara umum, biasanya ada tiga alasan yang mendasari diadakannya kegiatan mission trip itu, yaitu:

  1. Gerejamu berencana mengadakan sebuah perjalanan misi ke luar daerah dan kamu begitu antusias untuk mengikuti kegiatan itu. Ketika tiba di sana, panitia acara akan mengajak tiap peserta untuk pergi ke gereja yang sebelumnya telah dihubungi oleh mereka. Lalu, di sana para peserta akan memulai pelayanan baru sesuai dengan kebutuhan gereja lokal itu.
  2. Sebelumnya kamu sudah mendengar kabar tentang gereja dan daerah yang akan kamu kunjungi nanti. Mungkin daerah itu miskin dan memiliki fasilitas publik yang terbatas. Jadi, kamu dan peserta mission trip lainnya berencana untuk mendukung mereka dengan melakukan penggalangan dana.
  3. Kamu adalah seorang ketua remaja di gerejamu dan kamu ingin supaya teman-temanmu bisa belajar banyak lewat perjalanan mission trip ini.

Apakah kamu sendiri pernah mengikuti mission trip itu? Atau, mungkin kamu mengenal orang lain yang pernah mengikuti kegiatan serupa?

Aku tidak meragukan bahwa mission trip itu sesungguhnya adalah baik. Akan tetapi, terkadang mission trip yang kita bayangkan itu tidak selalu berjalan sempurna. Ada hal-hal yang membuat perjalanan misi itu jadi kurang efektif. Dari tiga alasan yang aku coba paparkan di atas, aku melihat bahwa terkadang di samping manfaat yang diberikan, mission trip singkat bisa saja tidak berjalan efektif karena tiga hal berikut:

1) Kita melakukan pekerjaan yang tidak berkelanjutan

Mission trip yang kita lakukan biasanya hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Keterbatasan waktu itu seringkali menjadikan pelayanan yang kita lakukan pada akhirnya terhenti begitu saja. Coba kita lihat kembali alasan nomor satu. Sebuah pelayanan yang baru tentu tidak hanya membutuhkan uang, tapi harus ada orang-orang juga yang menjalankannya. Setelah mission trip yang biasanya hanya berlangsung paling lama dua minggu itu usai, lantas siapakah orang dari gereja lokal yang akan meneruskan pelayanan itu? Apakah pendetanya? Seringkali pendeta di gereja-gereja lokal itu sudah memiliki banyak tugas dan tanggung jawab yang harus diembannya. Jadi, siapakah yang akan meneruskan pelayanan itu? Apakah kita hanya sekadar memberikan pekerjaan tambahan kepada gereja lokal tanpa menyiasati bagaimana caranya pelayanan itu akan berlanjut?

Selain itu, ada hal lain yang membuat pelayanan baru itu terkadang tidak berjalan semestinya. Kita cenderung melakukan pelayanan itu berdasarkan cara-cara yang sesuai di gereja kita sendiri. Akan tetapi, metode yang cocok bagi suatu tempat belum tentu cocok bagi tempat lainnya.

Seorang staf gereja di Thailand utara pernah memberitahuku bahwa pelayanan misi yang dilakukan di desa-desa itu terkadang tidak berjalan dengan efektif sebagaimana pelayanan itu dilakukan di kota-kota. Masyarakat perkotaan cenderung mengajukan pertanyaan-pertanyaan rasional, seperti apakah Tuhan itu ada atau tidak? Berbeda dengan kota, masyarakat di desa biasanya lebih percaya akan sesuatu yang supranatural. Itulah mengapa mereka tidak akan mempertanyakan apakah Tuhan itu ada atau tidak.

Oleh karena itu, ketika kita merencanakan sebuah pelayanan, kita harus mempertimbangkan perbedaan-perbedaan yang ada supaya pelayanan itu nantinya dapat berjalan efektif.

2) Kita menyebabkan timbulnya sifat ketergantungan

Ketika melakukan mission trip, biasanya kita akan memberikan bantuan berupa dana kepada gereja lokal. Namun, perlu diingat, apabila kita hanya sekadar menyalurkan dana tanpa mengajari mereka untuk secara bijak mengelola, maka kita sedang mengajari mereka untuk mengalami ketergantungan.

Suatu ketika, gerejaku pernah melakukan penggalangan dana untuk membantu proyek pembangunan sebuah gereja di desa. Pada awalnya kami hanya bermaksud memberikan bantuan itu satu kali saja. Akan tetapi setelah dana itu disalurkan, tak lama kemudian kami kembali menerima surat permohonan bantuan untuk menyediakan gitar dan sistem pengeras suara lainnya.

Seorang pastor bernama Vincent J. Donovan pernah bercerita tentang pelayanannya di Afrika Timur. Setelah 100 tahun berlalu sejak kedatangan misionaris pertama di tanah Afrika Timur, hingga kini belum ada satupun paroki atau keuskupan yang sepenuhnya mandiri. Bantuan yang terus menerus disalurkan membuat jemaat lokal di sana terbiasa untuk sekadar menerima tanpa berusaha lebih.

Harus kutegaskan kembali bahwa sesungguhnya aku bukan sedang melarang kita untuk memberi bantuan dana kepada gereja-gereja ataupun pelayanan yang membutuhkan. Tapi, kita juga harus mempertimbangkan risiko jangka panjang dari tiap tindakan yang kita lakukan. Cara menolong yang benar itu sama pentingnya dengan tujuan yang benar ketika kita melayani. Selain itu, cara menolong yang benar dapat membantu pertumbuhan gereja lokal dalam jangka panjang.

3) Kita melupakan tujuan utama dari mission trip

Seringkali ketika kita mengikuti mission trip, kita beranggapan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah supaya setiap peserta bisa mendapatkan kesan dan lebih setia lagi mengikut Tuhan. Tujuan ini tidak salah, karena aku sendiri pernah bertemu dengan beberapa orang yang mengalami pertumbuhan iman setelah mengikuti kegiatan mission trip.

Akan tetapi, apabila kita lebih mengutamakan respons dan kesan dari peserta mission trip, itu artinya tujuan utama kita telah berubah. Kita harus menyadari bahwa tujuan sejati dari kegiatan mission trip adalah untuk turut mengambil bagian dalam memenuhi rencana Tuhan, bukan rencana kita.

Ada berbagai cara untuk melakukan mission trip singkat, bisa dengan cara penginjilan, pelayanan kesehatan, atau pelatihan kepemimpinan. Apapun jenis aktivitasnya, semua harus memiliki satu tujuan yang sama, yaitu untuk memberitakan kabar baik tentang Yesus Kristus dan menolong mereka yang telah percaya untuk terus bertumbuh dalam imannya. Setiap orang Kristen telah dibaptis menjadi satu tubuh dengan Kristus, di mana mereka bisa melayani, merenungkan firman Tuhan, dan saling menguatkan satu sama lain (1 Korintus 12:13, 27; 1 Timotius 4:13; 1 Tesalonika 5:11).Oleh karena itu, mission trip singkat haruslah berusaha untuk memberikan kontribusi kepada gereja-gereja lokal yang dilayani baik itu secara langsung ataupun tidak langsung.

Pada kenyataannya, terkadang tujuan kita melakukan mission trip itu menjadi campur aduk. Aku sering mendengar anak-anak muda membagikan kesaksian tentang kesannya selama mengikuti mission trip. Tapi, jarang sekali aku mendengar orang-orang dari gereja lokal membagikan kesaksian mereka akan manfaat dari mission trip. Dulu, aku pun demikian karena aku hanya berfokus pada pengalamanku sendiri. Jadi, jika kita mau menjalankan agenda mission trip singkat ini dengan benar, kita harus memprioritaskan apa yang menjadi misi Tuhan di atas rencana kita sendiri.

Jadi apakah mission trip singkat itu baik?

Jawabannya adalah ya! Aku percaya apabila mission trip itu dilakukan dengan cara yang benar maka dampaknya akan sangat berarti.

Sebelum memulai mission trip, daripada kita sibuk berpikir tentang pelayanan baru apa yang bisa kita mulai, cobalah pikirkan pelayanan apa yang sedang berlangsung di sana, dan bagaimana cara kita menopang pelayanan itu agar bisa terus berjalan. Kita bisa mulai berdiskusi dengan gereja-gereja lokal untuk mempererat hubungan jangka panjang dan mengetahui apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Kita juga bisa berkunjung terlebih dahulu beberapa kali ke gereja itu untuk mengetahui perkembangan jemaat di sana. Kegiatan semacam itu tentu akan membantu pelayanan gereja lokal, bukan malah menambah beban pelayanan baru kepada mereka.

Dalam salah satu perjalananku beberapa tahun lalu, aku bertemu dengan seorang wanita dari suku lokal yang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Aku menyampaikan kabar itu ke sebuah gereja lokal yang bekerjasama dengan gerejaku, jadi kami bisa memberitahukannya kepada pendeta lokal yang kemudian mengundang wanita itu untuk bersama-sama beribadah. Setahun kemudian, ketika kami mengunjungi kembali desa itu, kami begitu bersukacita karena wanita itu setia hadir di gereja.

Perjalanan mission trip singkat yang kita lakukan juga adalah salah satu bentuk demonstrasi kasih untuk mendukung pelayanan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta di gereja lokal. Selain itu, dengan hadirnya tim mission trip, jemaat lokal dapat bersosialiasi dan saling mengenal dengan sesama orang percaya dari latar belakang yang berbeda. Peserta mission trip juga bisa meringankan pekerjaan pelayanan di gereja lokal dengan menolong acara sekolah minggu, atau bisa juga menyampakan khotbah. Selain itu, tim pelayanan yang memiliki keahlian khusus seperti keahlian medis juga dapat berkontribusi membantu jemaat lokal dengan menyediakan layanan kesehatan bagi mereka.

Di dalam Alkitab, kita dapat melihat contoh dari mission trip yang bisa kita tiru, yaitu ketika gereja di Filipi mengirimkan Epafroditus untuk membantu pekerjaan Paulus (Filipi 2:25). Epafroditus tidak bertugas seorang diri, melainkan menjadi penolong yang membantu pelayanan para rasul dan jemaat-Nya. Paulus merasa sangat terbantu dengan kehadiaran Epafroditus hingga ia menyebutnya sebagai “kawan sekerja”.

Seperti kisah pelayanan jemaat Filipi, marilah kita lihat diri kita sebagai rekan sepelayanan dengan gereja-gereja lokal. Secara sederhana, berkaca dari pelayanan jemaat mula-mula, kita tidak boleh mementingkan diri sendiri dan harus berkontribusi aktif dalam pekerjaan yang Tuhan berikan ini.

Walaupun tidak memungkinkan untuk kita menetap di gereja lokal dalam jangka waktu yang lama, kita tetap bisa melakukan kunjungan rutin untuk menjalin hubungan dan untuk membantu gereja-gereja lokal. Dalam pengertian ini, mission trip singkat memang dilakukan hanya untuk jangka pendek saja, akan tetapi apabila kita melakukannya dengan benar, maka mission trip singkat ini akan menjadi efektif dan bermafaat bagi gereja-gereja lokal dalam jangka waktu yang panjang.

Baca Juga:

Mengapa Tuhan Seolah Menghancurkan Masa Depanku?

Setiap orang di dunia ini tentu mengharapkan masa depan yang terbaik, begitu juga denganku. Namun, yang terbaik menurut siapa? Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di benakku ketika hal-hal baik yang kuharapkan tak kunjung datang.

Mengapa Tuhan Seolah Menghancurkan Masa Depanku?

mengapa-tuhan-seolah-menghancurkan-masa-depanku

Oleh Samarpal Limbong, Medan

Setiap orang di dunia ini tentu mengharapkan masa depan yang terbaik, begitu juga denganku. Namun, yang terbaik menurut siapa? Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di benakku ketika hal-hal baik yang kuharapkan tak kunjung datang.

Tidak hanya aku, mungkin orang lain juga pasti sering berpikir, apakah usaha dan doaku kurang? Atau, apakah hidupku kurang kudus sehingga Tuhan tidak berkenan mendengar doaku? Akan tetapi, ketika aku diizinkan melalui banyak hal-hal buruk, aku beroleh kesempatan belajar untuk semakin mengerti alasan mengapa Tuhan mengizinkan itu terjadi.

Sebuah peristiwa yang mengubah hidupku

Hari itu, 31 Oktober 2011, ujian tengah semester sedang dilaksanakan di kampus. Waktu itu aku masih mahasiswa baru di Jurusan Teknik Mesin sehingga aku belum terlalu paham betul dunia perkuliahan yang aku jalani. Aku dan teman-temanku diancam oleh senior kami. Siapa yang tidak mau mengikuti tawuran, maka nilai labnya akan digagalkan. Dengan berat hati akhirnya aku mengikuti kerumuman mahasiswa untuk ikut tawuran.

Dalam tawuran itu, sebuah lemparan batu menghujam tepat di mata sebelah kiriku. Teman-temanku segera melarikanku ke klinik khusus mata terdekat dan segera dilakukan operasi kecil untuk membersihkan mataku dari kotoran dan darah, lalu pelipis dan daerah sekitar mataku yang sobek juga dijahit. Dokter memvonis kalau kecil kemungkinan untuk mata kiriku dapat pulih kembali karena bola mataku pecah akibat lemparan batu itu.

Pada saat itu aku benar-benar terpukul dan bergumul dengan keadaanku. Aku seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aku terus berpikir, bagaimana dengan masa depanku? Saat itu aku kuliah untuk meraih gelar Sarjana Teknik. Tentu akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan nantinya dengan mata kiriku yang tak lagi berfungsi.

Kekhawatiranku itu ternyata terbukti. Sampai saat ini aku selalu gagal mengikuti tahapan tes kesehatan di perusahaan-perusahaan besar. Padahal dengan mudah aku selalu lolos seleksi psikotest dan tes kemampuan bidang. Kegagalan itu membuatku menyendiri, bahkan hubungan pribadiku dengan Tuhan pun menjadi tidak baik. Sangat sulit bagiku untuk berdamai dengan diri sendiri dan menerima keadaan.

Ketika perban mataku boleh dilepas, Tuhan seolah menegurku melalui sebuah artikel yang kubaca di Internet. Ada kutipan kata-kata yang sampai saat ini masih kuingat jelas, “Tuhan selalu menunggumu untuk menyapa-Nya di pagi hari saat kau terbangun, atau malam hari sebelum kamu tertidur. Sesombong itukah kamu sehingga kamu tidak mau menyapa-Nya?” Dengan hati yang hancur aku berseru kepada Tuhan dan mulai menjalin hubungan pribadi kembali dengan-Nya.

Saat itu pula aku diingatkan kembali dengan kisah Ayub ketika aku sedang membaca Alkitab. Aku diingatkan kembali untuk tetap setia, sama seperti Ayub yang memilih untuk taat walaupun Tuhan izinkan Iblis untuk mencobainya. Aku benar-benar menangis dan malu pada diriku sendiri sebab aku berpikir bahwa pencobaan yang aku alami mungkin belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang Ayub alami. Dari titik itulah aku perlahan bangkit dari kejatuhan.

Pergumulanku untuk belajar percaya sepenuhnya

Sekalipun sulit bagiku untuk menjalani hari-hari, tapi puji syukur karena Tuhan terus menguatkanku hingga saat ini. Enam tahun Tuhan terus menyertai setelah peristiwa nahas itu, sekalipun kini aku mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan dan mewujudkan cita-citaku sebagai seorang engineer. Tapi, aku mau tetap percaya bahwa segala sesuatu yang indah telah Tuhan sediakan, tidak hanya di dunia ini saja, tetapi Tuhan juga sudah menyediakan tempat terindah bersama-Nya di kerajaan surga.

Aku percaya karena Tuhan ingin aku menjadi anak-Nya yang mempercayai Dia sepenuhnya, tidak suam-suam kuku. Mempercayai Tuhan dalam keadaan baik itu mudah, namun tetap mempercayai-Nya dalam keadaan buruk dan terhimpit, itulah iman yang Tuhan inginkan.

Begitulah keadaanku saat ini, ada hal-hal yang sepertinya buruk yang harus kulalui, seperti peristiwa enam tahun lalu yang mengakibatkan aku kehilangan mata kiriku. Ini bukanlah hal mudah bagiku, mungkin ada juga orang yang menganggap ini sebagai hal buruk. Tapi, aku percaya bahwa setiap kemungkinan terburuk yang terjadi atas hidupku adalah atas seizin Tuhan. Aku percaya hidup inilah yang harus aku jalani dengan penuh ucapan syukur, seperti Rasul Paulus yang berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18).

Baca Juga:

Mengapa Aku Tetap Optimis Sekalipun Negeriku Dipenuhi Banyak Masalah?

Hari itu jagad dunia maya sedang bergejolak, banyak orang menyuarakan berbagai komentarnya atas masalah-masalah yang tengah terjadi di Indonesia. Ada yang menyesali, mengumpat, pesimis, optimis, bahkan ada pula yang memaki. Kulepaskan ponselku dari genggamanku. Apa yang baru saja kulihat itu membawaku pada perenungan mendalam.

Antrean Wajib

antrean-wajib-new-01

antrean-wajib-new-02

antrean-wajib-new-03

antrean-wajib-new-04

antrean-wajib-new-05

antrean-wajib-new-06

antrean-wajib-new-07

Dalam hidup, sesungguhnya kita ada dalam sebuah antrean. Seiring waktu berlalu, kita terus bergerak maju dalam antrean itu, hingga pada hari kita menghembuskan nafas kita yang terakhir.

Selama dalam antrean, kita mengumpulkan banyak hal—kenangan, barang-barang, pencapaian, dan banyak hal lainnya. Namun, ketika kita mencapai ujung antrean ini, yaitu akhir hidup kita, apakah artinya semua harta duniawi yang kita kumpulkan?

Pada akhirnya, kita harus meninggalkan semuanya itu. Apa yang kita genggam dalam tangan kita akan lenyap, tapi harta yang kita kumpulkan di surgalah yang akan kekal selamanya.

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:20)

Untuk Meresponi Panggilan Tuhan, Aku Melepaskan Karierku Sebagai Seorang Fotografer

Untuk-Meresponi-Panggilan-Tuhan-Aku-Melepaskan-Karierku-Sebagai-Seorang-Fotografer

Oleh Noni Elina Kristiani

“Tuhan apakah Kau sedang bercanda?” Kalimat itulah yang terlintas di pikiranku ketika Tuhan menyatakan apa yang sebenarnya menjadi panggilan hidupku. Bagaimana mungkin aku yang seorang sanguinis, suka berbicara tanpa berpikir panjang ini menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu?

Aku memiliki tekad yang besar untuk menjadi seorang fotografer profesional, tapi keluargaku sangat ingin aku bekerja di media televisi sesuai dengan program studi Televisi dan Film yang aku ambil semasa kuliah. Aku sempat melamar ke stasiun televisi beberapa kali namun gagal. Akhirnya aku mencoba untuk mengasah kemampuan fotografiku seraya terus menyimpan mimpi untuk kelak dapat memproduksi sebuah film rohani Kristen pertama di Indonesia.

Sebuah acara yang menyadarkanku akan panggilan

Di bulan Agustus 2016 aku mengikuti sebuah kamp yang ditujukan untuk mahasiswa maupun yang sudah lulus. Dalam acara ini kami dikelompokkan berdasarkan bidang pekerjaan yang kami tekuni dan kami diberikan beragam materi tentang bagaimana kami bisa menjadi saksi dalam pekerjaan masing-masing. Pembicara-pembicara yang diundang adalah anak-anak Tuhan yang profesional di bidangnya. Akhir acara diisi dengan malam doa dan panitia acara menyiapkan satu sesi untuk kami mendengar tentang wilayah-wilayah di Indonesia yang bahkan belum mendengar kabar keselamatan.

Dalam sesi itulah aku merasa terpanggil untuk bekerja di ladang Tuhan, tapi aku menolaknya. Aku tidak pernah membayangkan diriku menjadi seorang hamba Tuhan penuh waktu. Namun, kemudian ada beban dalam hatiku terhadap jiwa-jiwa terhilang yang butuh pengenalan akan Kristus. Rasanya seperti Tuhan menaruh dukacita dalam hatiku ketika aku berusaha menolak panggilan itu. Setelah acara berakhir, aku memutuskan untuk menceritakan pergumulan hatiku kepada seorang kakak rohani dan dia mendoakanku supaya aku mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Kamp telah usai dan tiba saatnya kami kembali ke dunia kerja. Aku masih tidak percaya pada panggilan Tuhan untukku hal itu membuatku sangat bersedih dan tidak berhenti menangis. Sebelum aku masuk ke dalam bus yang akan mengantarkanku ke kota tempatku bekerja, aku menyempatkan diri untuk pergi ke toilet lalu berdoa dengan berurai air mata seraya berkata, “Tuhan aku mau, terjadilah padaku apa yang menjadi kehendak-Mu.”

Kembali ke dunia kerja

Aku pun kembali ke dalam pekerjaanku sebagai seorang fotografer dan penyiar radio yang cukup menyita banyak waktuku. Dua pekerjaan yang aku tekuni ini adalah sesuatu yang menyenangkan dan merupakan minat serta bakatku, namun hal ini jugalah yang membuatku lupa akan komitmenku untuk mau dipakai Tuhan melayani jiwa-jiwa dan membawa mereka kepada Tuhan.

Di akhir tahun 2016, aku mendapatkan sebuah tawaran untuk menjadi staff penuh waktu di yayasan yang melayani siswa dan mahasiswa. Aku mengenal yayasan ini karena semasa dulu kuliah, yayasan inilah yang membinaku. Pihak yayasan itu menanyakan kepadaku apakah aku berkenan untuk menerima panggilan menjadi staff di kota kecil di Jawa Timur. Mulanya aku bingung dengan tawaran itu. Aku telah merasa nyaman tinggal dan bekerja di kota metropolitan, jadi aku pun enggan jika harus pindah ke kota kecil. Kemudian aku berdoa dan memohon pada Tuhan supaya aku ditempatkan di kota yang sesuai dengan keinginanku saja.

Tuhan tidak tinggal diam, Dia menggunakan berbagai hal untuk membawaku kembali pada panggilanku yang sesungguhnya. Di bulan Maret 2017 aku mengikuti seminar tentang pemuridan dan aku merasa bahwa di setiap sesi khotbah yang dibawakan seperti menyinggung dan mengingatkanku akan doa yang kupanjatkan ditahun 2016, ketika aku berkata mau taat kemana pun Tuhan mau menempatkanku. Tidak sampai disitu saja, aku semakin diteguhkan untuk berhenti dari pekerjaanku ketika tanpa sengaja aku membaca sebuah buku karya John Ortberg yng berjudul Jika Anda Ingin Berjalan di Atas Air, Keluarlah dari Perahu. Ketika aku membuka buku itu secara acak, mataku berhenti pada sebuah paragraf yang bertuliskan, “Kadang-kadang, dalam kedaulatan Allah, akhir dari suatu karir adalah permulaan dari panggilan hidup. Sejauh mana pekerjaan Anda saat ini mengungkapkan bakat dan hasrat Anda yang sesungguhnya?” Apa yang baru saja kubaca itu seolah menegurku tepat pada sasaran.

Memulai sebuah awal yang baru

Bulan Mei 2017 aku memantapkan hatiku untuk menerima panggilan itu dan melayani di kota kecil dimana aku ditempatkan. Berada di tempat yang sepenuhnya baru dan harus kembali beradaptasi bukanlah hal yang mudah bagiku, tapi aku mau tetap percaya bahwa Tuhan senatiasa menyertaiku. Aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku sebagai fotograrer dan penyiar radio. Ketika mendengar rencana ini, orangtuaku sangat menentangnya dan dengan berurai air mata aku menjelaskan kepada ayahku kalau aku tidak bisa menolak panggilan ini.

Aku berdoa supaya Tuhan melembutkan hati ayahku. Beberapa hari kemudian ayahku bertanya kapan aku akan berangkat dan ke kota mana aku ditempatkan. Pertanyaan itu merupakan tanda bahwa beliau telah menyetujui keputusanku. Aku takjub akan pekerjaan Tuhan yang mengubahkan hati ayahku secepat itu. Belum semua teman-temanku tahu tentang keputusanku ini, tapi aku siap untuk memberikan jawaban kepada mereka jika mereka bertanya alasan mengapa aku melepaskan pekerjaanku yang semula. Aku belajar untuk tidak terlalu mempedulikan penilaian orang lain terhadapku, tapi mempedulikan tentang bagaimana Allah menilaiku. Aku hidup untuk menyenangkan Allah, bukan manusia.

Dari pergumulanku akan panggilan hidup ini, ada beberapa hal yang ingin aku bagikan kepadamu:

1. Mengasihi Allah lebih dari apapun adalah kunci ketaatan

Sebagai seorang perempuan single berusia 23 tahun sebenarnya aku memiliki mimpi dan ekspektasi yang besar akan masa depanku. Namun, semua itu berubah ketika aku menyadari betapa besar kasih Tuhan kepadaku.

Kita bisa menulis atau mengatakan bahwa kita mengasihi Allah, namun mengasihi Allah tentu lebih dari sekadar ungkapan kata. Mengasihi Allah berarti kita harus melakukan tindakan nyata yang disertai dengan iman. Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, sehingga hidup ini merupakan persembahan bagi Allah (Roma 12:1). Apa yang akan kita korbankan bagi-Nya?

2. Kita melayani bukan karena layak, tetapi Tuhanlah yang melayakkan

Ada beberapa contoh tokoh Alkitab yang awalnya menolak untuk dipakai Tuhan. Musa, pada awalnya dia merasa dirinya tidak layak memimpin bangsa Israel (Keluaran 3:11; 4:1&10) hingga beberapa kali dia menolak panggilan Tuhan. Selain Musa, ada juga Yunus yang harus menanggung akibat dari ketidaktaatannya untuk pergi ke Niniwe. Tuhan memerintahkan Yunus untuk memperingati kota itu supaya bertobat, tapi Yunus malah pergi melarikan diri ke Tarsis hingga akhirnya dalam perjalanan perahunya diombang-ambing badai, Yunus dilemparkan ke laut dan ditelan oleh ikan besar (Yunus 1:17).

Dari kedua tokoh Alkitab itu aku belajar bahwa jika Tuhan memakai seseorang yang sempurna untuk menjadi alat-Nya, maka Dia tidak akan menemukan satupun. Namun, terpujilah Allah karena dia setia dan menyertai anak-anak-Nya. Ada banyak kesulitan untuk mentaati panggilan Tuhan, salah satunya adalah tetap mempercayai-Nya. Percayalah bahwa Tuhan sanggup bekerja di dalam kelemahan kita, karena justru di dalam kelemahan itulah kuasa-Nya menjadi sempurna (2 Korintus 12:9). Aku percaya bahwa Tuhan juga sanggup bekerja dalam setiap kelemahanku untuk mendatangkan kemuliaan bagi-Nya.

3. Kita menantikan Tuhan dengan melakukan disiplin rohani dan mendengar nasihat

Ketika aku bergumul dengan panggilan hidupku, aku melatih diriku untuk lebih giat melakukan disiplin rohani. Aku melakukan pendalaman Alkitab secara pribadi dengan menggunakan buku-buku panduan. Aku juga lebih banyak berdoa di waktu luangku dan mulai melatih diri berpuasa. Bukan sesuatu yang mudah bagiku, namun kakak rohaniku selalu mendukungku dan mengingatkanku untuk selalu dekat dengan Tuhan.

Ketika aku mengarahkan pandanganku pada Tuhan, ada banyak hal yang Dia nyatakan kepadaku. Tuhanlah satu-satunya sumber kekuatan dan hikmat. Semakin kita mendekat kepada-Nya, semakin kita bisa dengan jelas mendengar suara-Nya.

Pengambilan keputusan yang kuambil tidak lepas dari bimbingan dan nasihat beberapa orang. Tuhan juga bisa menggunakan nasihat dari orang lain untuk menolong kita mengetahui kehendak-Nya. Pilihlah orang-orang yang takut akan Allah dan mintalah nasihat dari mereka. “Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak” (Amsal 12:15).

Baca Juga:

Ketika Pekerjaan yang Kudapat Tidak Sesuai Harapanku

Sudah lima bulan berlalu sejak aku pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai Area Manager di sebuah perusahaan swasta bidang makanan dan minuman. Tapi, aku masih belum juga merasa nyaman dengan rutinitas yang kulakukan. Iklim kerja yang tidak bersahabat seringkali membuatku menangis, hingga suatu ketika ada sebuah peristiwa yang menyadarkanku akan apa yang menjadi motivasi pertamaku ketika memilih bekerja di sini.

Lock Screen: Matius 6:10

Yuk download dan gunakan lock screen ini di ponselmu! “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” (Matius 6:10)

Ketika Pekerjaan yang Kudapat Ternyata Tidak Sesuai Harapanku

ketika-pekerjaan-yang-kudapat-ternyatan-tidak-sesuai-harapanku

Oleh Katarina Tathya Ratri, Jakarta

Bulan Maret 2017 adalah bulan yang begitu menguras energiku. Sudah lima bulan berlalu sejak aku pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai Area Manager di sebuah perusahaan swasta bidang makanan dan minuman, tapi aku masih belum juga merasa nyaman dengan rutinitas yang kulakukan. Setiap hari aku bertugas untuk mengontrol beberapa gerai dan memastikan bahwa kualitas, pelayanan, kebersihan, dan penjualan yang dilakukan oleh karyawan di sana itu memenuhi standar. Apabila mereka tidak melakukan pekerjaannya dengan tepat, aku harus menegur dan memberikan instruksi kepada mereka.

Dulu aku berekspektasi bahwa aku akan mudah beradaptasi dengan orang-orang baru di sekelilingku, tapi kenyataan justru berbicara sebaliknya. Iklim kerja yang tidak bersahabat seringkali membuatku menangis. Jadwal kerjaku tidak jelas, kadang aku harus masuk saat hari libur dan bekerja dari pagi hingga larut malam. Sulit bagiku untuk menegur karyawan-karyawan yang berbuat salah karena aku baru bergabung dengan perusahaan ini selama lima bulan, sedangkan mereka yang menjadi bawahanku ternyata sudah bekerja jauh lebih lama daripada aku. Selain itu ada juga yang usianya lebih tua dariku. Terkadang ketika ditegur, mereka malah menjawabku dengan kalimat-kalimat yang tidak sopan.

Aku menceritakan beban pekerjaan ini kepada teman-teman dekat dan pacarku. Mereka memberiku semangat dan kata-kata motivasi, tapi aku rasa itu tidak berpengaruh banyak buatku. Akhirnya, berbagai ide nakal pun aku lakukan untuk sebisa mungkin menghindar dari pekerjaan ini, salah satunya adalah dengan bolos kerja. Saat pertama kali aku bolos bekerja, jantungku berdebar keras. Aku takut karena aku tahu perbuatan ini adalah salah, tapi aku berusaha mengabaikan rasa bersalah itu dan memilih untuk bolos saja.

Di suatu hari Minggu, aku pergi ke gereja dan khotbah hari itu membahas kisah tentang Yosua ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Musa. Salah satu ayat yang disebutkan oleh pendeta di gerejaku hari itu diambil dari Ulangan 31:6, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Saat mendengar ayat itu, aku teringat akan pergumulan dalam pekerjaan yang sedang kuhadapi. Sesungguhnya ayat itu menguatkanku dan aku berjanji untuk menghadapi pergumulanku dengan semangat.

Tapi, ketika tiba di hari Senin dan menghadapi realita kembali, seketika itu juga nyaliku menciut dan aku merasa diriku kalah lagi. Lagi-lagi aku berusaha mencari-cari cara dan kesempatan untuk mangkir dari kewajibanku. Aku berdoa, memohon ampun kepada Tuhan, kemudian menyerah lagi. Begitu terus terjadi.

Ketika Tuhan menegurku

Hingga suatu malam aku jatuh sakit, badanku demam tinggi dan aku merasa begitu lemas. Aku menelepon pacarku yang berada di Bandung. Ketika dia mengetahui kalau aku terbaring sakit, dia memutuskan untuk segera berangkat ke Jakarta keesokan harinya dan membawaku ke sebuah klinik. Setelah diperiksa, dokter di klinik itu mengatakan bahwa sakit yang aku alami ini bisa jadi karena aku terlalu stress dengan tekanan dari lingkungan kerjaku. Aku mengangguk seakan setuju dengan pendapat sang dokter.

Setelah keadaanku berangsur pulih, aku dan pacarku menyimpulkan bahwa mungkin kami perlu refreshing sejenak untuk melepaskan diri dari kepenatan. Dalam perjalanan kami berkeliling kota, di atas bus TransJakarta ternyata ponsel pacarku dicopet dan kami baru menyadari itu sesaat setelah turun dari bus. Saat itu aku merasa bersalah, sedih, dan marah bercampur jadi satu hingga aku menangis. Anehnya dia yang sedang kehilangan ponsel itu justru tenang dan bisa tersenyum. Kemudian dia berkata kalau dia percaya bahwa segala sesuatu itu akan mendatangkan kebaikan sekalipun terlihat buruk. Mendengar perkataannya itu, aku menjadi malu sendiri. Hari itu aku menyadari bahwa selama ini ternyata aku belum sepenuhnya berserah pada rencana Tuhan.

Sejak saat itu, aku berusaha mengingat kembali apa yang dulu menjadi motivasiku untuk datang dan bekerja di tempat ini, yaitu untuk mengasah kemampuanku menjadi seorang pemimpin. Aku tahu sejak awal bahwa pekerjaan ini tidak mudah, menjadi pemimpin di tengah orang-orang yang secara usia dan pengalaman jauh di atasku. Namun, pekerjaan yang tidak mudah ini bukan berarti bahwa aku tidak mampu mengatasinya. Aku teringat akan sebuah ayat yang selalu kujadikan pedoman dalam bekerja, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakuku, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12).

Firman itu memantapkan kembali langkahku untuk berani mengambil risiko dalam pekerjaan ini. Aku tahu bahwa lewat pekerjaan ini Tuhan sedang menempa aku dan membentuk aku sesuai dengan kehendak-Nya. Aku diizinkan untuk merasa sedihnya dari tidak dihargai ketika instruksiku diabaikan, susahnya mengatur banyak orang dengan pengalamanku yang minim, hingga lelahnya memenuhi berbagai tuntutan dari atasanku yang di luar kapasitasku sebelumnya.

Jika melihat buruknya responku terhadap tantangan yang aku alami, bagiku sudah selayaknya aku mendapat hukuman atau bahkan dipecat. Tapi, sebaliknya, Tuhan tidak meninggalkanku saat aku terjatuh dan berbuat salah. Tuhan mengangkatku kembali dan memberiku kekuatan yang baru. Saat ini Tuhan mengizinkan aku untuk melewati fase yang lebih tinggi lagi dalam pekerjaan yang Dia sedang percayakan kepadaku. Meskipun tidak mudah untuk dilalui, namun aku berkomitmen untuk terus belajar berserah kepada-Nya.

Sekarang, setiap kali sebelum aku memulai bekerja, aku selalu menyempatkan diri untuk masuk hadirat Tuhan lewat berdoa. Jika dulu aku berdoa supaya bisa terhindar dari tantangan, sekarang aku berdoa supaya Tuhan boleh menguatkanku mempersiapkan mental dan rohaniku supaya aku boleh tetap tersenyum dan bersukacita sekalipun aku mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari karyawan-karyawan di bawahku.

Baca Juga:

Ketika Peristiwa Nyaris Celaka Mengubahkan Pandanganku Tentang Kehidupan

Pernahkah terpikir olehmu kapan kamu akan menghembuskan nafasmu yang terakhir? Beberapa minggu yang lalu aku mengalami peristiwa yang nyaris saja merenggut nyawaku. Peristiwa itulah yang pada akhirnya mengubah cara pandangku tentang kehidupan yang aku jalani sekarang.

Sharing: Apa yang Menjadi Tujuan Hidupmu?

WarungSaTeKaMu-Sharing-201705

Apa yang menjadi tujuan hidupmu? Bagikan sharing kamu di dalam kolom komentar. Kiranya sharingmu dapat memberkati sobat muda yang lain.