Posts

Hal yang Kulupakan Ketika Aku Asyik Menggunakan Instagram Story

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

Sekitar setahun lalu, Instagram menciptakan inovasi baru yang sangat digemari oleh para penggunanya hingga saat ini: Instagram Story—yang sering disingkat menjadi Instastory ataupun Snapgram. Melalui fitur ini, kepada followers-nya, seseorang bisa membagikan gambar dan video yang dapat diedit terlebih dahulu secara real-time atau dalam waktu yang hampir bersamaan saat peristiwa tersebut terjadi.

Awalnya, seperti kebanyakan teman-temanku, aku menikmati fitur Instastory dengan cukup aktif. Setiap harinya aku bisa mengunggah 1-5 konten pada Instastoryku. Namun, sampai di satu titik, aku memutuskan untuk berhenti menggunakan fitur ini hingga waktu yang tidak ditentukan. Alasan aku berhenti menggunakan Instastory bukanlah karena fitur ini salah. Akan tetapi, aku berhenti karena kelemahanku sendiri, yang mungkin juga merupakan kelemahan bagi banyak orang, yaitu self-esteem, atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “harga diri”.

Jika ditilik lebih dalam, melalui bacaan dari Wikipedia maupun beberapa jurnal psikologi yang pernah kubaca, pada dasarnya self-esteem berarti bagaimana seseorang menilai harga dirinya sendiri.

Dalam pergumulanku pribadi, aku merasa bahwa Instastory telah merusak caraku menilai harga diriku sendiri.

Aku cenderung menempatkan dan mencari harga diriku melalui pengakuan-pengakuan dan pandangan dari orang lain. Ketika zaman beralih menjadi digital, cara yang paling mudah dan efektif untuk ‘menghitung’ harga diriku adalah melalui media sosial. Instastory memberiku kesempatan untuk meliput kehidupanku secara real-time. Para followers-ku bisa mengetahui apa yang sedang aku kerjakan, apa yang sedang aku makan, apa yang sedang aku rasakan, dan banyak hal lainnya melalui tiap-tiap gambar atau video yang kuunggah.

Inilah hal yang menurutku membuat Instastory lebih berbahaya daripada media sosial lainnya seperti Path, Facebook, ataupun Twitter. Melalui visual dan audio yang disajikan secara real-time, tanpa sadar aku telah menjadikan Instastory sebagai sarana untukku memamerkan kehidupanku kepada orang lain. Aku bisa menunjukkan betapa menyenangkannya aktivitas yang kulakukan, betapa enak dan mahalnya makanan yang aku makan, betapa sibuk dan kerennya pekerjaanku, dan banyak hal lainnya.

Tanpa kusadari, aku berjuang untuk melihat diriku terlihat lebih berharga dengan memamerkan kehidupan yang kujalani. Aku jadi sangat tergoda untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain tentang betapa kerennya dan menyenangkannya hidupku. Bahkan, seringkali, tanpa kusadari aku ingin supaya orang lain iri melihat diriku dan kehidupanku.

Sebenarnya, bukanlah hal yang salah untuk mencari dan menemukan harga diri. Dalam pandangan dunia, self-esteem adalah hal yang penting karena hal ini akan mendorong manusia termotivasi untuk menjalani hidupnya. Bahkan, Abraham Maslow, seorang psikolog yang juga teoritikus menempatkan self-esteem atau harga diri sebagai peringkat kedua dalam piramida kebutuhan psikologis manusia.

Jadi, sebenarnya tidak ada yang salah dengan self-esteem selama kita mencarinya di tempat yang benar. Namun, sayangnya adalah dunia kita saat ini telah kehilangan tempat mencari self-esteem yang benar.

Dalam pergumulanku saat itu, aku membaca sebuah artikel berjudul “Find Your Self-esteem in Someone Else” yang ditulis oleh Jon Bloom. Kutipannya adalah sebagai berikut:

Sekitar pergantian abad ke-20, teori tentang “self-esteem” muncul di bidang psikologi, dan pada tahun 1960 teori ini diterima oleh budaya Barat dan dianggap sebagai salah satu akar utama dari kesehatan mental. Tetapi sesungguhnya teori ini tidak mengatasi masalah mendasar, yaitu keterpisahan dari Allah. Setelah lebih dari 50 tahun mencoba menerapkan teori ini sebagai obat untuk penyakit kita akan identitas, kita mendapati bahwa diri kita hanya semakin terisolasi dan hubungan kita dalam komunitas dan masyarakat hanya menjadi lebih retak. Semua ini terjadi karena kita kita mencari harga diri kita di tempat yang salah dan untuk alasan yang salah.

Perjuanganku untuk menaikkan nilai harga diriku melalui pengakuan dan penghargaan dari orang lain melalui media sosial sesungguhnya berasal dari keterpisahanku dengan Allah. Sadar atau tidak sadar, seringkali aku merasa tidak ada seorangpun yang bisa ataupun mau mengapresiasi, menghargai, mengasihi, dan mengakui diriku kalau aku tidak tampil menawan di hadapan orang lain. Hal ini jelas tidaklah benar. Alkitab dengan jelas mengatakan:

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yesaya 43:4).

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Lukas 12:6-7).

Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa diriku begitu berharga di hadapan-Nya. Aku diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, sang pencipta alam semesta. Bahkan, kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak sedikitpun menghilangkan kasih-Nya kepadaku dan juga kepada seluruh umat manusia. Kita tetap dipandang-Nya berharga, begitu berharga hingga Allah sendiri melalui Yesus Kristus datang ke dunia, mati di kayu salib dan bangkit untuk menebus dosa-dosa kita.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Mungkin bagi beberapa orang, ayat-ayat di atas terasa seperti hapalan di luar kepala. Namun, ayat tersebut adalah bukti nyata bahwa kasih-Nya kepada kita telah dinyatakan di atas kayu salib. Darah-Nya yang tercurah sudah membuktikan betapa berharganya aku dan kamu di hadapan Allah.

Harga diriku tidak ditentukan dari seberapa banyak likes atau comment yang aku dapatkan di tiap-tiap gambar atau story yang kuunggah. Harga diriku dan harga dirimu begitu mahal, seharga darah yang telah Yesus curahkan untuk menebus dosa-dosa kita.

Pada akhirnya, aku sadar bahwa ketika aku menggunakan Instastory dan media sosial lainnya, seharusnya aku tidak mencari harga diriku di sana. Harga diriku tidak ditemukan pada media sosial. Harga diriku yang sesungguhnya hanya kutemukan pada salib Kristus.

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).

Baca Juga:

Ketika Keraguan akan Imanku Membawaku Pada Yesus

Aku dilahirkan di keluarga bukan Kristen yang cukup taat beribadah. Bahkan, kedua orangtuaku pernah menyekolahkanku di sebuah sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Namun, sampai di satu titik, aku mulai meragukan iman yang kupercayai yang pada akhirnya menuntunku kepada Yesus.

Bolehkah Orang Kristen Mendengar Musik Sekuler?

bolehkah-orang-kristen-mendengar-musik-sekuler

Oleh Ruth Lidya Panggabean, Depok

Kita hidup di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Oleh karenanya, kita tidak perlu heran ketika menemukan musik-musik, buku-buku, maupun tontonan yang tidak sesuai dengan standar Alkitab. Lalu, apakah itu berarti kita hanya boleh mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu rohani saja? Apakah semua musik yang kita labeli sebagai musik sekuler akan membawa kita ke dalam dosa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada 3 ayat Alkitab yang perlu kita cermati ketika mempertimbangkan sebuah lagu, buku, film, atau hal-hal lainnya.

1. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8).

Ada sebuah cara yang baru-baru ini aku terapkan kepada diriku sendiri. Sebelum mendengarkan suatu lagu, aku akan membaca keseluruhan liriknya tanpa diikuti musik terlebih dahulu, lalu aku akan bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku setuju dengan pesan yang diangkat dalam lagu itu? Apakah tidak masalah jika aku mengucapkan lirik lagu itu ke dalam percakapan sehari-hari?

Sebelumnya, aku bukan orang yang terlalu peduli pada lirik lagu. Selama aku menyukai melodinya, terlebih jika lagu tersebut berada di urutan tangga lagu teratas dan didengarkan oleh banyak orang, aku tidak mau ketinggalan untuk menyanyikannya. Aku juga suka menggunggah video nyanyianku ke media sosial.

Baru ketika aku mengikuti sebuah kamp penulisan lagu setahun yang lalu, aku belajar bahwa setiap penulis lagu memiliki cerita di balik karya-karyanya dan bertujuan untuk membagikan pesan-pesan tertentu. Musik mempengaruhi hati, jiwa, dan pikiran kita lebih dari apa yang kita sadari. Tidak hanya mempengaruhi mood, musik juga bisa mempengaruhi cara pandang kita mengenai sesuatu. Sebagai pendengar, kita memerlukan kepekaan rohani untuk meneliti apakah pesan dan cerita tersebut berpadanan dengan Injil atau tidak.

Dulu, ketika aku pernah mengalami patah hati, ada beberapa lagu sekuler yang kuputar terus menerus karena liriknya persis dengan kisahku. Bukannya menguatkan, lagu tersebut hanya membuatku semakin larut dalam pusaran kesedihan. Belakangan aku baru tahu bahwa Amsal 25:20 sudah pernah mencatat hal ini: “Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka.” Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan lagu yang aku nyanyikan itu. Hanya, di tengah perasaan sedih yang kualami, aku terlalu meresapi liriknya yang puitis dan nadanya yang melow. Bukannya menjadi semangat, aku malah semakin larut dalam kesedihan.

Seringkali, dengan cepat kita segera larut oleh musik yang apik dan kalimat-kalimat puitis hingga kita mengabaikan apa yang jadi pesan utama dari lagu tersebut. Kita mesti jeli menelisik konsep-konsep apa yang terkandung dalam sebuah musik. Di sisi lain, dengan menggunakan prinsip ini, kita juga bisa menemukan lagu-lagu sekuler yang mengandung pesan dan cerita yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Lagu-lagu semacam ini biasanya memberikan inspirasi dan nuansa positif untuk hati kita.

2. “‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (1 Korintus 10:23).

Alkitab memang tidak melarang kita mendengarkan jenis musik tertentu, tapi alangkah baiknya apabila kita mampu bersikap bijak untuk memilih lagu-lagu mana yang akan kita dengarkan. Kekristenan bukanlah sekadar rangkaian peraturan mengenai mana yang boleh dan mana yang tidak. Lebih dari itu, Kekristenan adalah tentang relasi Allah dengan manusia. Setiap pilihan dalam keseharian kita, termasuk dalam memilih lagu, mencerminkan kedekatan kita dengan Allah.

Analoginya seperti berikut. Alkisah, hiduplah dua ekor serigala. Serigala pertama melambangkan kegelapan dan dosa. Serigala kedua melambangkan iman dan kasih. Suatu hari, kedua serigala itu berkelahi. Menurutmu, serigala manakah yang akan menang?

Jawabannya adalah serigala yang paling banyak diberi makan.

Pilihannya tetap kembali kepada kita, bagian mana dari hidup kita yang hendak kita bangun.

Ketika aku mengalami patah hati, kuakui bahwa kesedihanku bertambah bukan akibat kesalahan pihak penulis lagu, penyanyi, atau industri musik. Aku sendirilah yang mestinya lebih mencari kebenaran mengenai kasih Allah lewat pendalaman firman Tuhan.

Setiap hari waktuku untuk mendengarkan musik tidaklah terlalu banyak. Oleh karena itu, aku menyadari bahwa aku lebih membutuhkan musik yang dapat terus mengingatkanku akan Allah di tengah padatnya rutinitas dan aktivitas.

Saat ini, dengan berkembangnya teknologi, kita bisa dengan mudah menikmati lagu-lagu yang kita inginkan tanpa harus bersusah payah membeli CD atau kasetnya di toko. Ada lagu-lagu rohani dan juga lagu sekuler yang bisa kuputar di ponselku untuk sesekali kudengarkan. Lagu rohani favoritku saat ini adalah lagu-lagu dari tim pelayan musik asal Indonesia, Symphony Worship. “Kunyanyi Haleluya” adalah salah satu lagu mereka yang menguatkanku di saat banyak kekhawatiran melanda jiwaku. Sedangkan, lagu sekuler yang sedang kunikmati adalah lagu-lagu Monita Tahalea di album Dandelion. Lagunya yang berjudul “Tak Sendiri” selalu bisa mengangkat semangat karena mengingatkanku akan sahabat-sahabat yang kukasihi dan mengasihiku.

3. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Roma 12:2).

Orang Kristen memang perlu meng-update dirinya dengan informasi terbaru sehingga bisa menjadi relevan dengan lingkungan sekitar. Untuk itulah kita diutus, yakni menjadi garam dan terang dunia, termasuk di sudut-sudut tergelap dalam industri musik sekalipun. Hanya saja, kita tidak harus selalu setuju pada apa yang kita tahu.

Jangan takut dianggap tidak keren hanya karena menolak satu-dua hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. Bukan keserupaan dengan dunia yang harus kita kejar, tetapi keserupaan dengan Kristus. Pedoman kehidupan kita di dunia ini bukanlah dari musik rohani atau musik sekuler, tetapi dari firman Tuhan sendiri. Musik hanyalah sebuah sarana untuk kita bisa mencurahkan emosi ataupun membangkitkan semangat. Kepekaan kita terhadap firman Tuhan tentu dapat membantu kita untuk bijak dalam memilih musik mana yang hendak kita dengarkan.

Sampai saat ini, aku masih menggeluti minatku di bidang musik, termasuk menyanyikan lagu-lagu sekuler di acara tertentu, menggungah video-video cover di media sosial dan sesekali menonton konser untuk memperoleh referensi bermusik. Khusus teman-teman pegiat musik, aku tahu sulitnya mempertahankan idealisme Kristiani kita di lingkungan pergaulan, tapi itulah kesempatan bagi kita untuk membagikan nilai-nilai Kristus yang memang berbeda dari yang dunia tawarkan.

Bukan kesukaan dan penerimaan dari manusia yang kita cari, tetapi kesukaan dan pujian dari Allah ketika Dia melihat kita memaksimalkan karunia yang Dia berikan kepada kita. Dengan mengingat bahwa talenta kita berasal dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, kita dapat tetap berkarya dengan cara yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, baik itu musik rohani ataupun sekuler, kita perlu peka untuk meneliti apakah lirik dan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang lagu itu selaras dengan firman Tuhan atau tidak. Apakah dengan mendengarkan lagu itu kita diingatkan lagi tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Setiap pilihan yang kita ambil dalam keseharian kita, termasuk dalam pilihan lagu, mencerminkan relasi kita dengan Allah.

Soli Deo Gloria!

Baca Juga:

Di Balik Potret Bahagia Media Sosial

Tatkala jariku asyik menjelajah Facebook atau media sosial lainnya, terkadang aku merasa iri terhadap teman-temanku. Aku pikir hidup mereka tampak amat berbahagia. Kemudian, aku membandingkannya dengan diriku sendiri: Mengapa hidupku begitu membosankan?

Di Balik Potret Bahagia di Media Sosial

di-balik-potret-bahagia-di-media-sosial

Oleh M. Tiong, Malaysia
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 你真如朋友圈上那样快乐吗?

Tatkala jariku asyik menjelajah Facebook atau media sosial lainnya, terkadang aku merasa iri terhadap teman-temanku. Ada yang mengunggah foto-foto liburan, barang-barang yang baru dibeli, juga makanan-makanan enak yang mereka nikmati. Berdasarkan apa yang kulihat dari foto-foto itu, aku pikir hidup mereka tampak amat berbahagia. Kemudian, aku membandingkannya dengan diriku sendiri: Mengapa hidupku begitu membosankan?

Suatu hari, seorang temanku yang biasanya sering mengunggah foto-foto bagus memberitahuku kalau sebenarnya dia sedang stres. Katanya, hidupnya itu kurang berarti. Mendengar cerita darinya, aku mulai menyadari bahwa orang-orang yang kupikir hidupnya enak itu ternyata tidak lebih berbahagia dari aku.Ini membuatku bertanya-tanya: “Apakah orang-orang memang benar-benar bahagia seperti foto-foto yang mereka tampilkan di media sosial?”

Mengapa kita merasa seolah hidup kita tidak pernah bahagia? Alkitab mencatat bahwa manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya; kita selalu menginginkan sesuatu yang lebih. “Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas” (Amsal 27:20). Raja Salomo, seorang yang kaya raya dan penulis kitab Pengkhotbah mengerti keadaan ini. Dia berkata, “Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari” (Pengkhotbah 2:11).

Lantas, mengapa kita selalu tidak pernah puas? Mungkin itu karena segala sesuatu yang kita miliki tidak dapat benar-benar mengisi kekosongan hati kita. Walaupun kita berupaya mengumpulkan kekayaan, cinta, kemasyhuran, ataupun rasa kagum dari orang lain, semua hal itu tidak akan pernah membawa kita kepada kepuasan yang sejati.

Mengejar prestasi, kesuksesan, dan pengakuan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, yang terlebih penting adalah menyadari bahwa semuanya itu bukanlah yang menentukan nilai diri kita. Semuanya itu bersifat sementara, tidak kekal.

Kepuasan nilai diri dan makna hidup kita yang sejati harus datang dari Allah sendiri. Hanya Allah saja, yang menciptakan kita, yang mampu memberi kita yang adalah ciptaan-Nya suatu kepuasan. Hanya Allah sajalah yang benar-benar mengerti apa yang kita butuhkan.

Jadi, janganlah iri hati dengan apa yang orang lain miliki. Amsal 14:30 mengatakan, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” Lalu, Mazmur 16:11 juga mengatakan, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”

Aku mengucap syukur kepada Tuhan karena Dia mengingatkanku kembali tentang hal-hal yang seharusnya menjadi fokus hidupku—kebutuhan orang-orang di sekitarku, menaati kehendak-Nya, dan menghidupi hidup yang menyenangkan-Nya. Aku berdoa supaya hidup kita tidak hanya berkutat tentang seberapa sering kita bepergian, seberapa banyak uang yang kita keluarkan untuk membeli makanan ataupun berbelanja. Biarlah hidup kita dapat berfokus hanya kepada Allah.

Semoga kita semua bisa menemukan dan membagikan sukacita yang sejati dari Tuhan. Dan semoga kita juga bisa menjadi pengikut Kristus yang rindu menyenangkan Allah.

Baca Juga:

5 Alasan Kamu Perlu Bertobat Lagi dan Lagi

Apakah pertobatan itu? Apakah orang-orang Kristen perlu bertobat? Kapan terakhir kali kamu bertobat?

Persahabatan di Era Digital: Erat di Dunia Maya, Renggang di Dunia Nyata

Persahabatan-Era-Digital-Erat-di-Dunia-Maya-Renggang-di-Dunia-Nyata

Oleh Michelle O.
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Friendship in Our Fast-Paced Society

Jika seandainya ada nominasi untuk kategori “teman terburuk”, mungkin akulah yang akan jadi pemenangnya. Seringkali aku terlalu asyik dalam bekerja hingga aku lupa kalau aku masih memiliki teman. Jari-jariku selalu sibuk membalas tiap-tiap pesan ataupun e-mail yang berkaitan dengan pekerjaan. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sendiri hingga tidak lagi mempedulikan keberadaan teman-temanku. Padahal merekalah orang-orang yang selalu bersamaku bahkan dalam keadaan sukar sekalipun.

Sebenarnya, aku tahu bagaimana rasanya hidup tanpa memiliki teman. Ketika duduk di bangku SMA dulu aku menghabiskan waktuku tanpa pernah memiliki teman akrab. Tatkala aku pindah ke luar negeri, ke dalam sebuah budaya yang sepenuhnya baru, hari-hari kulewatkan dalam kesendirian. Pagi hari kuhabiskan dengan meminum teh seorang diri, kemudian ketika tiba waktunya makan siang, dengan segera aku akan menghabiskan makananku. Setelahnya, aku pergi ke perpustakaan dan menghabiskan waktu-waktuku bersama buku-buku.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan teman-teman yang mewarnai kehidupanku. Ketika salah satu dari kami diwisuda, kami datang dan turut merayakan kelulusannya. Selain itu, ketika liburan musim panas tiba, kami menghabiskan waktu-waktu itu untuk pergi liburan bersama. Teman-temanku adalah teman yang setia, baik, dan penuh perhatian. Merekalah yang membuatku mampu mengecap rasa manis di tengah pahitnya kehidupan.

Bagaimana dengan kamu? Menurutmu, teman seperti apakah kamu? Apakah kamu hanya sekadar teman di Facebook yang mencurahkan perhatianmu lewat tombol “Like” di tiap-tiap postingan temanmu tapi tidak pernah menemui mereka secara langsung? Apakah kamu seorang yang amat sibuk dengan kehidupanmu sendiri hingga tak memiliki waktu untuk sekadar meluangkannya bersama teman-temanmu? Atau, apakah kamu tipe orang yang membutuhkan waktu tiga hari hanya untuk membalas pesan singkat dari temanmu? “Hei, maaf ya, aku sibuk banget. Keluargaku juga sedang berkunjung ke sini dan aku terus dikejar oleh deadline pekerjaan.”

Di tengah dunia yang bergerak amat cepat ini, banyak dari kita cenderung malas untuk menjaga relasi yang erat dan personal dengan teman-teman kita. Kita lebih memilih untuk mengecek Facebook atau menggeser timeline Instagram untuk melihat siapa saja yang makan di restoran populer, mengomentari pakaian yang dipakai orang lain, selera musik, ataupun cara mereka berdandan. Kita lupa bahwa teman-teman kita itu bukanlah sekadar status-status ataupun foto-foto yang terpampang di Facebook dan Instagram. Di balik keeksisan mereka di media sosial, bisa saja mereka merindukan seseorang meneleponnya, menanyakan kabarnya, atau mungkin mengundang untuk makan bersama.

Kita dirancang untuk hidup berteman; Alkitab mengatakan, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkhotbah 4:9-10). Ayat ini mengingatkanku akan seorang Pribadi yang jauh lebih dekat bahkan daripada saudara kita sendiri—Dialah Yesus.

Teman-teman kita di dunia bisa saja tidak setia, tetapi persahabatan dengan Yesus adalah persahabatan yang kekal dan memberkati kita. Kita bisa mengandalkan Dia sebagai penasihat, penghibur, penyembuh, dan penyedia kebutuhan kita. Dia juga berjanji untuk senantiasa bersama kita. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Ulangan 31:6).

Persahabatan dengan Yesus membuat kita dapat menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya karena Dia peduli kepada kita (1 Petrus 5:7). Teman-teman kita di dunia bisa saja melukai hati kita, tapi kita dapat selalu bersandar kepada Tuhan yang mampu memulihkan hati kita, membalut luka-luka kita (Mazmur 147:3), dan menampung setiap tetes air mata kita dalam kirbat-Nya (Mazmur 56:9).

Bagaikan sekelompok sahabat yang dapat berkumpul dan berbagi mimpi serta harapan satu dengan lainnya, begitu pula persahabatan kita dengan Yesus. Kita dapat membawa tiap harapan kita kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Ia dapat memberikan apa yang diinginkan hati kita apabila kita bergembira karena-Nya (Mazmur 37:4).

Yesus tidak menjamin bahwa hidup bersama-Nya akan selalu indah, tapi kita bisa bersandar pada janji-Nya bahwa Dia akan selalu ada bersama kita sekalipun badai kehidupan menerpa. Seorang penulis dan pembicara dari Amerika yang bernama Gregg Levoy pernah berkata, “Yesus menjanjikan suatu hal kepada tiap pengikut-Nya, yaitu: ada sukacita tanpa batas dan keberanian dari rasa takut untuk menghadapi setiap masalah”

Jadi, ingatlah. Ketika kamu merasa kesepian dan berbeban berat, panggillah Yesus. Yesus adalah sahabat kita yang amat setia.

Baca Juga:

Ketika Instagram Menjadi Candu Bagiku

Akun Instagramku telah diretas. Aku tidak dapat lagi mengontrol foto-foto apa yang diunggah karena aku telah kehilangan kendali atas akun Instagramku. Peristiwa ini kemudian menyadarkanku yang selama ini telah menjadikan Instagram sebagai candu bagiku.

Ketika Instagram Menjadi Candu Bagiku

ketika-instagram-menjadi-candu-bagiku

Oleh Amy Ji, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Day My Instagram Account Was Stolen

Beberapa hari yang lalu, ketika aku baru saja terbangun, beberapa pesan muncul di layar ponselku dan memberitahuku bahwa akun Instagram pribadiku telah diretas.

Sepertinya, setelah aku tertidur kemarin malam, seseorang tak dikenal mencoba meretas akun pribadiku, kemudian dia mengunggah beberapa foto menggunakan namaku. Aku pun menjadi panik tatkala melihat linimasa Instagramku dipenuhi dengan foto-foto aneh dan iklan-iklan dalam bahasa yang tidak kumengerti. Hanya dalam satu malam, aku telah kehilangan identitas yang telah kubangun selama bertahun-tahun lewat akun Instagram.

Aku tidak dapat lagi mengontrol foto-foto apa yang diunggah karena aku telah kehilangan kendali atas akun Instagramku. Si peretas telah mengubah pengaturan Instagramku dari akun yang bersifat pribadi menjadi publik, sehingga setiap orang dapat melihat setiap foto yang telah aku unggah.

Aku mencoba segala cara yang aku tahu. Aku coba untuk melapor ke Instagram bahwa akunku telah diretas. Sementara aku berusaha memulihkan akun itu, teman-temanku mulai memperingatkanku bahwa akunku telah diretas. Mereka mengirimkan aku screenshot dari tampilan akunku, lalu aku pun menjadi semakin khawatir. Di dalam rumah, aku berjalan mondar-mandir sambil bergumam, “Apa yang harus aku lakukan?”

Melihat reaksiku yang kebingungan, suamiku melontarkan sebuah pertanyaan yang membuatku tersentak. “Apa yang membuatmu sangat gelisah? Itu kan hanya akun Instagram,” katanya.

Aku menjawab pertanyaannya dengan nada tinggi, “Itu bukan sekadar akun Instagram!” Bagiku, akun Instagramku adalah sebuah harta karun yang menyimpan banyak kenangan dari berbagai peristiwa istimewa. Di dalam akun ini ada foto-foto pernikahan kami. Aku takut kalau aku tidak akan pernah bisa mendapatkan akun itu kembali, dan saat itu juga aku merasa diselimuti oleh perasaan kehilangan.

Namun, aku menyadari bahwa ucapan suamiku itu ada benarnya. Aku hanya kehilangan sebuah akun Instagram. Mengapa aku bisa sampai merasa begitu frustrasi dan kecewa?

Aku mencoba tenang dan melewatkan seharian itu tanpa mengakses Instagram, kemudian aku menemukan jawaban dari pertanyaanku. Akun Instagramku sangat berarti karena di sanalah aku meletakkan identitasku. Koleksi-koleksi foto yang telah aku unggah itu kuanggap sebagai cerminan diriku, kehidupanku, dan juga keluargaku.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengunggah foto-foto itu ke Instagramku, tapi aku terlalu banyak meluapkan energiku hanya untuk sekadar mempercantik akun itu. Aku memilah foto-foto mana yang bagus, menyuntingnya, dan melakukan segala cara supaya setiap foto yang kuunggah itu terlihat elok. Secara tidak kusadari, apa yang kuperbuat itu telah membentuk diriku.

Rasa kecewaku karena tidak dapat mengakses Instagram itu menunjukkan bahwa aku telah menghabiskan begitu banyak waktu yang pada akhirnya membuat aku begitu terobsesi akan citra diriku di dunia maya.

Peristiwa diretasnya akun Instagramku ini membukakan pandanganku bahwa begitu mudah aku mengalihkan diri dari perjalanan bersama Tuhan. Dengan mudah aku membuang-buang waktu, emosi, dan tenagaku hanya untuk sesuatu yang fana. Aku lebih khawatir akan identitasku di dunia maya daripada bersyukur atas pengorbanan Yesus di kayu salib.

Keesokan harinya, pengelola Instagram telah memulihkan akunku. Semua foto-foto aneh telah dihapus dan aku dapat mengakses kembali setiap foto yang telah aku unggah. Walaupun aku masih belum tahu bagaimana caranya akunku dapat diretas, peristiwa ini mengajariku untuk mengubah sikapku dalam menyikapi Instagram. Jika dulu aku meletakkan identitasku pada sebuah akun Instagram, sekarang aku hanya akan menganggap akun Instagram ini sebagai sekadar tempat untuk membagikan sukacita dan mengapresiasi rekan-rekanku lewat foto-foto yang diunggah.

Aku bersyukur karena akun Instagramku telah pulih, akan tetapi aku terlebih bersyukur karena hubunganku dengan Tuhan juga dipulihkan.

Baca Juga:

Apakah Media Sosial Membuat Kita Lebih Banyak Berdosa?

Saat membuka Facebook, perhatianku tertuju kepada dua buah video. Hanya dalam beberapa detik aku menyadari bahwa video itu menyajikan realitas zaman ini yang begitu ironi. Ada jutaan konten yang entah itu baik atau buruk tersebar di media sosial. Lantas, apakah media sosial membuat kita lebih banyak berdosa?

Apakah Media Sosial Membuat Kita Lebih Banyak Berdosa?

apakah-media-sosial-membuat-kita-lebih-banyak-berdosa

Oleh Ian Tan, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Are We Sinning More on Social Media?

Hari itu jam 3 dini hari. Aku masih terjaga dan berusaha keras supaya bisa tertidur. Di atas kasur, aku mencoba berbagai macam posisi, namun semuanya itu tidak berhasi membuatku jatuh terlelap. Akhirnya, kuambil iPhoneku dan dengan segera kubuka aplikasi Facebook. Tanpa kusadari, setiap harinya, Facebook dan Instagram adalah aplikasi yang selalu aku buka.

Seperti biasanya, jariku mengusap-usap layar ponselku. Aku mengecek satu per satu update yang muncul di akun Facebookku. Dari sekian banyak konten yang muncul, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Konten itu berjudul “Astaga!” disertai sebuah video dengan keterangan “Seorang pengasuh menginjak-nginjak anak usia 2 tahun.” Karena penasaran, aku pun membuka video berdurasi 2 menit 40 detik itu. Video itu adalah sebuah rekaman CCTV di mana seorang wanita memukuli anak kecil karena dia menumpahkan makanannya. Kemudian, wanita yang sepertinya adalah seorang pengasuh itu membanting anak tersebut ke lantai. Tak berhenti di situ, kemudian dia mengambil sebuah benda mirip sisir, lalu memukuli punggung anak itu berkali-kali. Tatkala anak itu menangis, wanita itu malah menendang dan menginjak punggung anak itu.

“Apa perempuan ini gila?” tanyaku kepada diri sendiri. Video kekerasan itu membuatku merasa kesal dan marah.

Aku masih kesal dengan video kekejaman yang baru saja kulihat itu, tapi itu tidak membuatku berhenti menjelajah Facebook. Jariku terus mengusap layar dan mataku membaca tiap-tiap konten yang muncul. Tidak lama kemudian, aku terpaut pada sebuah video lain yang diberi judul “Haha…” Hanya dalam beberapa detik saja aku segera menyadari bahwa video itu bukanlah berisi candaan, melainkan sebuah kengerian yang tidak sepatutnya ditertawakan. Dalam video itu ada seorang siswi yang dipojokkan oleh tiga atau empat orang siswi lainnya. Secara bergiliran siswi yang malang itu dianiaya. Rambutnya dijambak, kemudian mereka menamparnya berkali-kali. Video itu membuatku marah, tapi aku jauh lebih heran dengan judul yang diberikan atas video itu. Bagaimana bisa ada orang yang merasa bahwa perilaku kekejaman itu dianggap lucu? Setelah melihat dua video itu, bukannya mengantuk, aku malah semakin tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, aku bercerita tentang video-video yang telah kutonton itu kepada temanku. Aku juga bercerita tentang betapa jahatnya komentar-komentar penonton video itu. Aku seolah tidak percaya kalau mereka mampu memberikan komentar sedemikian buruknya seperti itu. Tapi, dengan tenang temanku menjawab, “Memangnya kamu belum pernah melihat video di mana orang benar-benar dipenggal?”

Saat itulah aku menyadari apa yang sesungguhnya menjadi inti dari semua masalah ini. Kekejaman seperti yang aku lihat dalam dua video tadi malam sesungguhnya bukanlah hal baru. Yang membuatnya menjadi baru adalah akses orang-orang untuk menonton video seperti itu jadi semakin mudah dengan hadirnya media sosial. Kemajuan teknologi telah membuat media sosial menjadi panggung terbuka untuk mempertontonkan aksi-aksi kekejaman dan kekejian yang bisa dengan mudahnya diakses siapapun. Sangat disayangkan karena media sosial telah disalahgunakan menjadi suatu perantara untuk menyebarkan dan mengabadikan tindakan-tindakan manusia yang penuh dosa.

Jika seseorang menyaksikan tayangan-tayangan kekejaman seperti itu secara berkelanjutan, bisa saja dia akan kehilangan harapan bahwa ada keadilan bagi orang-orang yang lemah dan tertindas. Dunia ini seakan-akan memperlihatkan bahwa adalah sesuatu yang wajar apabila pelaku kejahatan dapat bebas begitu saja tanpa menanggung akibat dari perbuatannya.

Fenomena ini sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Jika kita membuka Alkitab dan membaca Mazmur pasal tiga, sekilas kita dapat melihat bagaimana dunia ini bisa menjadi begitu kejam. Raja Daud waktu itu telah kehilangan dukungan dari rakyat-rakyatnya yang percaya bahwa Tuhan telah meninggalkan Daud. Daud harus melarikan diri dari kejaran anaknya sendiri, yaitu Absalom yang berniat membinasakannya. Betapa menakutkannya peristiwa itu! Namun, kita bisa melihat bahwa di tengah peliknya masalah yang seolah tak ada lagi harapan itu, Raja Daud tetap yakin bahwa Tuhan akan melindungi, memulihkan, dan melepaskan dirinya dari tangan musuh-musuhnya (Mazmur 3:7-9).

Amsal 15:3 mengingatkan kita bahwa mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang yang jahat dan yang baik. Kepada orang-orang baik, Tuhan mengaruniakan berkat-Nya atas upah dari kesalehan mereka sehingga kita dapat melihat bahwa sesungguhnya Tuhan berkenan kepada hati yang tulus. Akan tetapi, bagi orang-orang yang jahat, Tuhan memperhatikan dan akan menghakimi mereka. Entah itu ketika mereka masih hidup di bumi, atau mungkin pada hari penghakiman terakhir nantinya (Mazmur 11:6-7).

Ketika aku mengetahui bahwa pada akhirnya Tuhan yang kupercaya akan bertindak, aku dapat terus berharap bahwa suatu saat nanti segala kekejaman dan kekacauan di bumi akan berakhir. Kelak, segala sesuatu akan dipulihkan-Nya.

Baca Juga:

Ketika Orang yang Kucintai Meninggalkanku

Aku begitu bahagia ketika akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat teman lelaki yang selama ini aku sukai. Aku merasa begitu bahagia ketika dia berkata bahwa dia mencintaiku, menyayangiku, dan tak ingin aku terluka. Akan tetapi, karena sebuah peristiwa yang tidak kuduga, dia pun pergi meninggalkanku.

Sharing: Tren Anak Muda Kristen Apa yang Pernah Kamu Ikuti?

WarungSaTeKaMu-Sharing-201706

Tren anak muda Kristen apa yang pernah kamu ikuti? Bagikan sharing kamu di dalam kolom komentar. Kiranya sharingmu dapat memberkati sobat muda yang lain.