Posts

Dibebaskan oleh Yesus

Senin, 24 Februari 2020

Dibebaskan oleh Yesus

Baca: Markus 5:1-20

5:1 Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.

5:2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia.

5:3 Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai,

5:4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya.

5:5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.

5:6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya,

5:7 dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”

5:8 Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!”

5:9 Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: “Siapa namamu?” Jawabnya: “Namaku Legion, karena kami banyak.”

5:10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.

5:11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan,

5:12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!”

5:13 Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.

5:14 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi.

5:15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka.

5:16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu.

5:17 Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

5:18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.

5:19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

5:20 Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan . . . segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.—Markus 5:20

Dibebaskan oleh Yesus

“Aku tinggal begitu lama di rumah ibuku sampai akhirnya beliau sendiri yang pindah!” Hal itu dikatakan KC tentang hidupnya yang kacau balau sebelum ia pulih dan percaya kepada Yesus. Dengan terus terang ia mengaku pernah mencuri demi membiayai kecanduannya, bahkan dari orang-orang yang ia cintai. Namun, kehidupan kelam tersebut sudah lama ia tinggalkan, dan secara rutin ia mengingat sudah berapa tahun, bulan, dan hari dimana ia telah bersih dari kecanduannya. Ketika kami duduk mempelajari firman Tuhan secara rutin, saya melihat KC benar-benar sudah berubah.

Dalam Markus 5:15 diceritakan bagaimana seseorang yang kerasukan setan telah dibebaskan. Sebelum disembuhkan, orang tersebut tidak berdaya, tidak berpengharapan, menggelandang, dan putus asa (ay.3-5). Namun, semua itu berubah sesudah Yesus membebaskannya (ay.13). Akan tetapi, seperti juga KC, kehidupan orang ini sebelum mengenal Yesus benar-benar jauh dari normal. Pergolakan dalam dirinya yang terungkap lewat tindakannya tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh banyak orang hari-hari ini. Banyak orang yang terluka berkeliaran dan tinggal di rumah-rumah kosong, mobil tua rongsokan, atau di tempat-tempat lain; sebagian lagi tinggal di rumah sendiri tetapi merasa kesepian dalam hatinya. Belenggu yang tak terlihat mengungkung hati dan pikiran mereka sampai-sampai mereka merasa harus menjauhkan diri dari orang lain.

Kini, kita mempunyai Tuhan Yesus yang dapat dipercaya untuk memikul kesakitan dan rasa malu kita di masa lalu dan masa sekarang. Sama seperti terhadap Legion dan KC, dengan tangan kasih-Nya yang terbuka, Yesus menantikan siapa saja untuk datang kepada-Nya hari ini juga (ay.19).—Arthur Jackson

WAWASAN
Setan-setan percaya kepada Allah, tetapi kepercayaan mereka bukanlah iman yang menyelamatkan (Yakobus 2:19). Mereka tahu Yesus adalah “Anak Allah yang Mahatinggi” yang memiliki otoritas atas mereka (Markus 5:7; juga 1:24) dan bahwa Dia akan mengirimkan mereka ke dalam jurang maut (Matius 25:41; Lukas 8:31). Orang-orang Yahudi percaya bahwa jurang maut atau tempat “orang mati” (Roma 10:7) adalah neraka yang penuh dengan roh-roh jahat atau malaikat-malaikat yang jatuh, sebuah tempat penuh siksa dan aniaya (Matius 8:29; 2 Petrus 2:4; Yudas 1:6).—K. T. Sim

Bagaimana Yesus telah mengubah hidupmu? Siapa yang perlu mendengar kesaksianmu?

Ya Allah, aku sangat bersyukur bahwa melalui Yesus, hal-hal yang pernah membelengguku di masa lalu tidak perlu menghalangiku di masa depan.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 9-11; Markus 5:1-20

Handlettering oleh Ariella Easterlita

Pengalaman Tersulit

Kamis, 20 Februari 2020

Pengalaman Tersulit

Baca: Kejadian 41:46-52

41:46 Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir.

41:47 Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu,

41:48 maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu.

41:49 Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung.

41:50 Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On.

41:51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.”

41:52 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.”

Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut.—Kejadian 41:49

Pengalaman Tersulit

Geoff kini melayani sebagai gembala kaum muda di kota tempat ia pernah mengalami kecanduan heroin. Allah telah mengubah hati dan keadaannya dengan cara yang luar biasa. “Aku ingin menolong anak-anak muda agar mereka tidak jatuh pada kesalahan yang sama dan merasakan penderitaan seperti yang kualami,” kata Geoff. “Yesus pasti akan menolong mereka.” Seiring waktu, Allah membebaskannya dari belenggu narkoba dan mempercayakan pelayanan yang penting kepadanya sekalipun masa lalunya suram.

Dengan cara-Nya, Allah sanggup membawa kebaikan yang tak terduga di tengah situasi yang seakan-akan tidak berpengharapan. Yusuf dijual sebagai budak ke Mesir, difitnah hingga masuk penjara, dan mendekam serta dilupakan di sana selama bertahun-tahun. Namun, Allah memulihkan keadaannya dan memberinya jabatan penting, langsung di bawah Firaun, sehingga ia dapat menyelamatkan hidup banyak orang—termasuk hidup saudara-saudaranya yang pernah membuangnya. Di Mesir, Yusuf menikah dan memiliki dua anak. Ia menamai anak keduanya Efraim (dari bahasa Ibrani yang berarti “berbuah dua kali lipat”), dengan alasan ini: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku” (Kej. 41:52).

Kisah Geoff dan Yusuf, meski terpisah jarak waktu tiga atau empat ribu tahun, menunjuk pada satu kebenaran yang tidak pernah berubah: pengalaman-pengalaman tersulit dalam kehidupan kita dapat menjadi lahan subur bagi Allah untuk menolong dan memberkati banyak orang. Kasih dan kuasa Juruselamat kita tidak pernah berubah, dan Dia selalu setia kepada mereka yang percaya kepada-Nya.—James Banks

WAWASAN
Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya pada usia tujuh belas tahun (Kejadian 37:2,27-28) dan kemudian dipenjara dengan tuduhan palsu mencoba tidur dengan istri majikannya (39:1-20). Tiga belas tahun dilewatinya dari menjadi budak hingga menjadi pegawai Firaun (41:46). Allah menyertai Yusuf ketika ia menjadi budak (39:2-6) dan selama ia berada dalam penjara (ay.20-23), lalu Dia memakainya dalam persiapan menghadapi bencana kelaparan. Hal ini memungkinkan Yusuf untuk menyelamatkan keluarganya, umat Allah, dari kelaparan dan membawa mereka ke Mesir (lihat pasal 41–47). Jika tidak dijual ke perbudakan, Yusuf tidak akan mencapai posisi yang memungkinkannya membawa keluarganya ke Mesir untuk menghindari kelaparan. Jika mereka mati, maka Yesus, keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub, tidak akan lahir dari keturunan mereka. Pada akhirnya, Allah memakai kehidupan Yusuf untuk menyatakan rencana keselamatan-Nya.—Julie Schwab

Pernahkah kamu menyaksikan bagaimana Allah mendatangkan kebaikan dari kesulitan hidup yang kamu alami? Bagaimana kamu dapat menggunakan kesulitan-kesulitan kamu di masa lalu untuk menguatkan orang lain hari ini?

Bapa yang Mahakuasa, sungguh tiada yang terlalu sulit bagi-Mu! Aku bersyukur atas kesetiaan-Mu yang sempurna, hari ini dan selamanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 26-27; Markus 2

Perubahan Hidup

Rabu, 21 Agustus 2019

Perubahan Hidup

Baca: Efesus 4:20-24

4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,

4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

[Kenakan] manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. —Efesus 4:24

Perubahan Hidup

Stephen tumbuh besar di kawasan timur kota London yang keras dan sudah terlibat dalam tindak kejahatan di usia 10 tahun. Ia berkata, “Semua orang di sini menjual narkoba, merampok, dan menipu. Lama-lama, kita akan terpengaruh dan melakukan hal yang sama. Itulah jalan hidup semua orang.” Namun, saat berusia 20 tahun, ia memimpikan sesuatu yang mengubah hidupnya: “Saya mendengar Tuhan berkata, Stephen, kamu akan masuk penjara karena membunuh.” Mimpi yang sangat jelas itu menjadi peringatan baginya, maka ia pun berpaling kepada Allah dan menerima Yesus sebagai Juruselamatnya—dan Roh Kudus berkarya mengubah hidupnya.

Stephen lalu mendirikan lembaga yang mengajarkan kepada anak-anak yang tinggal di daerah kumuh nilai-nilai seperti disiplin, moralitas, dan sikap saling menghormati lewat olahraga. Ia berdoa bersama dan melatih anak-anak itu. Baginya, Allah adalah alasan utama dari keberhasilan yang disaksikannya. “Saya mencoba membangun kembali impian yang salah arah,” katanya.

Seperti Stephen, mencari kehendak Allah dan meninggalkan masa lalu berarti mengikuti seruan Paulus kepada jemaat di Efesus untuk mengenakan gaya hidup yang baru. Walaupun kehidupan kita yang lama telah dirusakkan oleh “nafsunya yang menyesatkan,” setiap hari kita bisa berusaha “mengenakan manusia baru” yang diciptakan untuk menyerupai Allah (ef. 4:22,24). Sebagai orang percaya, kita menjalani proses itu terus-menerus sambil memohon kepada Allah melalui Roh Kudus untuk menjadikan kita semakin serupa dengan-Nya.

Stephen berkata, “Iman adalah dasar penting yang mengubah hidup saya.” Apakah hal itu juga terjadi pada kamu? —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Dengan mengingat pengorbanan Yesus demi menyelamatkan kita (Efesus 1-3), Paulus mendorong jemaat Efesus untuk hidup “berpadanan dengan panggilan itu” (4:1). Paulus menegaskan supaya mereka “jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah” (ay.17), yaitu menuruti hawa nafsu dan mengabaikan kekudusan moral (ay.19). Dengan kiasan, Paulus menjelaskan bahwa natur dosa ibarat sesuatu yang usang dan harus diganti oleh sesuatu yang baru (ay.22-24). Paulus mengingatkan kita bahwa “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Dalam Kolose 3, Paulus memerintahkan, “Matikanlah … segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan … [dan] kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (ay.5,12). Seorang pakar Alkitab mengatakan bahwa kita harus melepaskan pakaian kematian (grave) dan mengenakan pakaian anugerah (grace). —K.T.Sim

Ketika kamu melihat kembali hidupmu, momen-momen apa yang mendorong terjadinya perubahan? Perubahan jangka panjang apa yang telah terjadi?

Tuhan Yesus, Engkau hidup dan terus berkarya di dunia serta dalam hidupku. Tolonglah aku agar hari demi hari semakin menyerupai Engkau sementara aku meninggalkan kehidupanku yang dahulu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 107-109; 1 Korintus 4

Handlettering oleh Naomi Prajogo Djuanda

Siapakah Kita?

Rabu, 31 Juli 2019

Siapakah Kita?

Baca: Kisah Para Rasul 9:13-16

9:13 Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

9:14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”

9:15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

9:16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.”

Orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku. —Kisah Para Rasul 9:15

Siapakah Kita?

Saya tidak akan pernah lupa apa yang terjadi pada saat saya membawa calon istri bertemu dengan keluarga saya. Dengan gaya iseng, kedua kakak saya bertanya kepadanya, “Apa sih yang kamu lihat dari laki-laki ini?” Calon istri saya tersenyum dan meyakinkan kakak-kakak saya bahwa oleh anugerah Tuhan saya telah bertumbuh menjadi pria yang dicintainya.

Saya sangat senang dengan jawaban cerdas itu karena hal itu juga mencerminkan bahwa di dalam Kristus, Allah melihat lebih jauh daripada masa lalu kita. Dalam Kisah Para Rasul 9, Dia mengarahkan Ananias untuk menyembuhkan Saulus, seorang penganiaya jemaat yang telah dibutakan oleh Tuhan. Ananias terkejut dan tidak percaya saat menerima perintah tersebut, karena Saulus pernah memburu orang-orang percaya untuk dianiaya dan bahkan dihukum mati. Allah memerintahkan Ananias untuk tidak berfokus pada diri Saulus yang dahulu, melainkan pada diri Saulus yang telah berubah: seorang pemberita Injil yang akan membawa kabar baik ke seluruh dunia pada masa itu, termasuk kepada orang-orang bukan Yahudi dan raja-raja (ay.15). Ananias melihat Saulus adalah orang Farisi dan penganiaya, tetapi Allah melihatnya sebagai Paulus sang rasul dan pemberita Injil.

Terkadang kita hanya dapat melihat diri kita yang dahulu—dengan segala kegagalan dan kekurangannya. Namun, Allah melihat kita sebagai ciptaan baru, bukan diri kita yang dahulu, melainkan jati diri kita yang sekarang di dalam Yesus, dan diri kita yang mendatang setelah diubah terus-menerus oleh kuasa Roh Kudus. Ya Allah, ajarlah kami memandang diri kami dan orang lain sedemikian rupa! —Peter Chin

WAWASAN
Ada tiga catatan mengenai pertobatan Paulus dalam kitab Kisah Para Rasul (9:1-19; 22:3-21; 26:9-29). Paulus juga memberikan kesaksiannya dalam 1 Korintus 15:9-10; Galatia 1:11-17; Filipi 3:4-6; dan 1 Timotius 1:12-17. Sebagai orang yang pernah memusuhi Kristus, Paulus selalu bersyukur bahwa Allah masih mau menyelamatkannya, padahal ia adalah orang yang paling tidak layak menerima belas kasihan dan kemurahan Allah (1 Timotius 1:13-14). Allah berfirman kepada Ananias bahwa Dia akan menjadikan Paulus sebagai “alat pilihan” yang akan memberitakan Injil kepada orang non-Yahudi (Kisah Para Rasul 9:15). Akan tetapi, Paulus melihat alasan lain mengapa Allah memakainya: “agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya” (1 Timotius 1:16). Allah memikirkan kita ketika Dia menyelamatkan Paulus. Bila Paulus, seorang yang sangat berdosa saja, diselamatkan, maka tak ada seorang pun yang bisa luput dari belas kasihan dan kasih Allah. —K. T. Sim

Bagaimana kamu bisa lebih tepat memandang dirimu dan orang lain dengan mengingat identitasmu dalam Kristus? Apakah kamu dikuatkan saat menyadari bahwa Allah masih terus bekerja untuk menumbuhkan dan memurnikanmu?

Bapa Surgawi, tolonglah aku menemukan jati diriku yang seutuhnya di dalam Engkau. Mampukan aku dengan rendah hati memandang orang lain melalui mata-Mu yang penuh kasih!

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 54-56; Roma 3

Handlettering oleh Mesulam Esther

Siap Dipulihkan

Selasa, 30 Juli 2019

Siap Dipulihkan

Baca: Mazmur 85

85:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur bani Korah.85:2 Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, ya TUHAN, telah memulihkan keadaan Yakub.

85:3 Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka. Sela

85:4 Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala.

85:5 Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami.

85:6 Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun?

85:7 Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau?

85:8 Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!

85:9 Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?

85:10 Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.

85:11 Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.

85:12 Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.

85:13 Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya.

85:14 Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau? —Mazmur 85:7

Siap Dipulihkan

Saat ditempatkan di Jerman dalam dinas ketentaraan, saya membeli Volkswagen Beetle baru keluaran tahun 1969. Mobil yang sangat cantik! Eksteriornya yang berwarna hijau gelap begitu serasi dengan interior yang terbuat dari kulit berwarna coklat. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak hal mulai terjadi, termasuk sebuah kecelakaan yang merusak pijakan kaki dan menghancurkan salah satu pintu. Saya pernah berpikir, “Mobil klasik saya ini sangat perlu diperbaiki!” Jika saya mau mengeluarkan lebih banyak uang, saya pasti dapat memperbaikinya. Namun, hal itu tidak pernah terjadi.

Syukurlah, dengan pengetahuan-Nya yang sempurna dan sumber daya yang tidak terbatas, Allah tidak mudah menyerah dan membiarkan manusia dalam keadaan mereka yang bobrok. Mazmur 85 menggambarkan orang-orang yang sangat perlu dipulihkan dan Allah Mahakuasa yang sanggup memulihkan mereka. Kemungkinan konteks dari mazmur itu adalah masa setelah orang Israel kembali dari pengasingan selama tujuh puluh tahun (hukuman atas pemberontakan melawan Allah). Saat menoleh ke belakang, mereka melihat kebaikan Allah—termasuk pengampunan-Nya (ay.2-4). Mereka tergerak untuk meminta pertolongan Allah (ay.5-8) dan mengharapkan hal-hal yang baik dari-Nya (ay.9-14).

Rasanya tidak ada di antara kita yang tidak pernah merasa babak belur, terluka, dan hancur. Terkadang semua itu disebabkan oleh perbuatan kita sendiri. Namun, karena Allah adalah sumber pemulihan dan pengampunan, siapa saja yang dengan rendah hati datang kepada-Nya tidak akan pernah dikecewakan. Dengan tangan terbuka, Dia menyambut semua yang berpaling kepada-Nya; dan mereka pun akan menemukan kesejahteraan dalam dekapan-Nya. —Arthur Jackson

WAWASAN
Bagian awal Mazmur 85 merujuk kepada Yakub (ay. 2). Beberapa versi terjemahan memakai kata “Israel” karena pemazmur bukan hanya berbicara tentang sang bapa leluhur bangsa tetapi juga keturunannya. Pilihan kata “Yakub” menarik untuk diperhatikan. Ketika umat Allah sadar bahwa mereka membutuhkan belas kasihan, mereka sering kali menyebut diri mereka sebagai “rumah Yakub.” Dasarnya adalah kesamaan karakter mereka, walaupun bukan karakter yang baik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa tampaknya Yakub dikenang sebagai seorang penipu dan pengkhianat, sampai Allah mengubah hatinya dan mengganti namanya menjadi Israel. Dari semula, Allah sendiri yang mengajar umat-Nya untuk mengingat Dia sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub (Kejadian 50:24; Keluaran 3:15; Kisah Para Rasul 7:32). Ini merupakan cara untuk mengingatkan mereka bahwa—baik nanti maupun sekarang—satu-satunya harapan mereka adalah Allah yang mau mengampuni dan mengubah mereka. —Mart DeHaan

Adakah tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hidup kamu membutuhkan pemulihan? Bagaimana kamu menanggapi Allah sumber pemulihan itu?

Ya Tuhan, tolonglah aku untuk tidak mengabaikan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa hidupku membutuhkan pemulihan dari-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 51-53; Roma 2

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Background photo credit: Setiawan Jati

Objek dalam Cermin

Sabtu, 1 Juni 2019

Objek dalam Cermin

Baca: Filipi 3:7-14

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

[Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.—Filipi 3:14

Objek dalam Cermin

“Harus. Lari. Lebih cepat.” Begitulah ucapan legendaris Dr. Ian Malcolm, diperankan oleh Jeff Goldblum, dalam adegan film Jurassic Park keluaran tahun 1993 saat ia dan dua rekannya melarikan diri dari amukan tiranosaurus dengan mengendarai sebuah mobil jip. Ketika pengemudi melihat ke belakang dari kaca spion, rahang dari reptil raksasa itu terlihat tepat di atas kata-kata: “OBJEK DALAM CERMIN MUNGKIN LEBIH DEKAT DARIPADA YANG TERLIHAT.”

Adegan tersebut sukses memadukan ketegangan dengan rasa humor. Namun, adakalanya kita memang merasa bahwa “raksasa-raksasa” dari masa lalu seakan terus mengejar kita. Kita melihat dalam “cermin” kehidupan dan kesalahan demi kesalahan masa lalu terlihat begitu menjulang, hendak menelan kita dengan rasa bersalah atau malu.

Rasul Paulus mengerti bagaimana masa lalu mempunyai potensi untuk melemahkan kita. Selama bertahun-tahun ia pernah mencoba hidup tanpa Kristus sama sekali, bahkan menganiaya umat Kristen (flp. 3:1-9). Penyesalan akan masa lalu bisa saja melemahkan dirinya.

Namun, Paulus menemukan keindahan dan kekuatan dalam hubungannya dengan Kristus sehingga ia terdorong untuk melepaskan hidup lamanya (ay.8-9). Ia pun terbebas untuk memandang ke depan dan tidak lagi menoleh ke belakang dalam ketakutan atau penyesalan: “Ini yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan” (ay.13-14).

Penebusan kita dalam Kristus telah membebaskan kita untuk hidup bagi-Nya. Kita tidak perlu membiarkan “objek dalam cermin” mendikte arah langkah kita untuk maju. —Adam Holz

WAWASAN
Dalam Filipi 3:13, Paulus berkomitmen, “Ini yang kulakukan. . .” Ada tiga hal yang kemudian disebutkannya, dan setiap poin memiliki makna penting. Pertama, Paulus hendak “melupakan apa yang telah di belakang.” Hal ini mungkin merujuk pada hal-hal yang membuatnya “menaruh percaya pada hal-hal lahiriah” di masa lalu (ay.4-6) karena dahulu ia menghidupi Yudaisme dengan sekuat tenaga. Kedua, Paulus “mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapan[nya].” Ia tidak menjelaskan maksudnya, tetapi pernyataan ini sejalan dengan Filipi 1:21, yaitu bahwa “hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Terakhir, ia berkomitmen untuk “berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah” (3:14)—analogi ini mengacu pada hadiah yang diterima oleh pemenang dalam lomba atletik Yunani. Secara keseluruhan, tujuan akhir Paulus adalah menyelesaikan semua panggilannya dalam Kristus. —Bill Crowder

Bagaimana pemahaman Paulus tentang pengampunan Yesus bagi kita menolongmu mengatasi pergumulan soal masa lalu kamu? Bila kamu bergumul dengan konsekuensi dari keputusan di masa lalu, kepada siapa kamu meminta tolong agar dapat terus melangkah maju?

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 15–16; Yohanes 12:27-50

Handlettering oleh Priska Sitepu

Orang Kudus dan Pendosa

Selasa, 30 April 2019

Orang Kudus dan Pendosa

Baca: Lukas 22: 54-62

22:54 Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh.

22:55 Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka.

22:56 Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya lalu berkata: “Juga orang ini bersama-sama dengan Dia.”

22:57 Tetapi Petrus menyangkal, katanya: “Bukan, aku tidak kenal Dia!”

22:58 Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: “Engkau juga seorang dari mereka!” Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak!”

22:59 Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: “Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea.”

22:60 Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.

22:61 Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.”

22:62 Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” . . . Dan [Petrus] berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” —Yohanes 21:17

Orang Kudus dan Pendosa

Sebelum mengikuti jejak Yohanes Pembaptis dengan hidup di padang gurun, Maria dari Mesir (± 344–421 m) menghabiskan masa mudanya mengejar kesenangan amoral dan menggoda para lelaki. Di puncak kebejatannya, ia melakukan perjalanan ke Yerusalem dengan niat menggoda para peziarah. Akan tetapi, ia justru dibuat sadar akan dosa-dosanya dan setelah itu memilih hidup dalam pertobatan dan kesendirian di tengah padang gurun. Transformasi radikal yang dialami Maria menggambarkan dahsyatnya anugerah Allah dan kuasa pemulihan oleh salib Kristus.

Petrus telah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, padahal beberapa jam sebelumnya, ia pernah menyatakan kerelaannya mati bagi Yesus (Luk. 22:33). Kegagalan untuk menepati kata-katanya sendiri merupakan pukulan berat bagi Petrus (ay.61-62). Setelah kematian dan kebangkitan Yesus, Petrus sedang mencari ikan bersama para murid di saat Yesus muncul di tengah mereka. Yesus memberi kesempatan bagi Petrus untuk menyatakan kasihnya sebanyak tiga kali—jumlah yang sama dengan penyangkalannya (Yoh. 21:1-3). Kemudian, dengan setiap pengakuan Petrus, Yesus menugaskan Petrus untuk menggembalakan umat-Nya (ay.15-17). Sebagai dampak dari anugerah luar biasa yang Yesus tunjukkan, Petrus pun memegang peran penting dalam membangun gereja hingga pada akhirnya ia rela menyerahkan nyawanya untuk Tuhan.

Catatan perjalanan hidup kita mungkin juga diawali dengan serangkaian kegagalan dan kekalahan, tetapi anugerah Allah selalu memungkinkan kita untuk menutup catatan itu dengan manis. Oleh anugerah-Nya, Dia menebus dan mengubah kita. —Remi Oyedele

WAWASAN

Yesus memperingatkan Petrus bahwa Iblis telah meminta izin untuk mengujinya dan iman Petrus akan gugur (Lukas 22:31-34). Sebelum ditangkap, Dia kembali mewanti-wanti Petrus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah. . . Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Ketika Yesus ditangkap, semua murid-Nya melarikan diri. Namun, Petrus dan Yohanes berubah pikiran dan mengikuti Yesus sampai ke rumah Imam Besar dan dibolehkan masuk karena Yohanes “mengenal Imam Besar” (ay.56-58; Yoh 18:15-16). Di halaman rumah itu, Petrus berbaur dengan para pelayan Imam Besar. Di sanalah ia gugur di bawah tekanan dan menyangkal Kristus tiga kali (Lukas 22:54-61). Bertahun-tahun kemudian, berdasarkan pengalaman kegagalannya, Petrus memperingatkan kita: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Petrus 5:8).—K.T. Sim

Bagaimana selama ini Anda mengalami anugerah Allah yang mengubahkan? Bagaimana Anda dapat mengungkapkan anugerah-Nya kepada sesama?

Anugerah Allah mengubah kita dari pendosa menjadi orang kudus.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-Raja 8–9; Lukas 21:1-19

Handlettering oleh Teguh Arianto

Perubahan Dapat Terjadi

Minggu, 7 April 2019

Perubahan Dapat Terjadi

Baca: Filipi 2:1-4

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. —Filipi 2:13

Perubahan Dapat Terjadi

Suatu Sabtu sore, beberapa remaja dari gereja kami berkumpul untuk membahas sejumlah pertanyaan sulit dari Filipi 2:3-4: “[Janganlah] mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Pertanyaan sulit itu antara lain: Seberapa sering Anda memperhatikan kepentingan orang lain? Apakah orang lain menganggap Anda rendah hati atau sombong? Mengapa?

Saya senang mendengar jawaban-jawaban mereka yang jujur. Para remaja itu setuju bahwa meskipun mudah mengakui kekurangan diri sendiri, tetapi amatlah sulit untuk berubah, bahkan ingin berubah pun sulit. Salah seorang remaja berkata, “Egoisme sudah mendarah daging.”

Keinginan untuk melepaskan fokus dari diri sendiri kepada kerelaan melayani orang lain hanya bisa dilakukan oleh Roh Allah yang hidup dalam kita. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk merenungkan apa yang telah dilakukan dan dimungkinkan Allah bagi mereka. Oleh kemurahan-Nya, Allah telah mengangkat mereka sebagai anak-Nya, menghibur mereka dengan kasih-Nya, dan memberikan Roh-Nya sebagai penolong mereka (FLP. 2:1-2). Mungkinkah mereka—dan juga kita—tidak menanggapi segala kebaikan itu dengan kerendahan hati?

Benar, Allah menjadi alasan bagi kita untuk berubah, dan hanya Dia yang dapat mengubah kita. Karena Dia membuat kita “rela dan sanggup menyenangkan hati Allah” (ay.13 BIS), kita dapat mengalihkan fokus dari diri sendiri kepada orang lain dan melayani mereka. —Poh Fang Chia

WAWASAN

Tantangan yang Paulus berikan kepada umat percaya di Filipi nyata secara sempurna dalam teladan inkarnasi Kristus. Paulus memperingatkan mereka tentang bahaya persaingan atau kesombongan (ay.1-4), dan dalam ayat 6 dikatakan bahwa Yesus dengan sukarela melepaskan hak dan kedudukan-Nya. Mereka ditantang untuk mengutamakan orang lain (ay.3), seperti Yesus yang memberi teladan kerendahan hati sejati dengan mengosongkan diri-Nya (ay.7). Jemaat Filipi dinasihati untuk tidak mengutamakan kepentingannya sendiri (ay.4), seperti Yesus sepenuhnya menjadi hamba bagi kita (ay.7). Mereka dipanggil untuk mengingat bahwa Yesus memenuhi semuanya itu, hingga “taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (ay.8). Pengorbanan-Nya untuk kita adalah juga teladan cara hidup yang paling mulia. —Bill Crowder

Dengan cara apa Allah telah menolong Anda berbalik dari keegoisan dan membuat Anda lebih rela melayani orang lain? Bagaimana kerendahan hati Tuhan Yesus mendorong Anda untuk rela melayani dengan rendah hati?

Kita bertanggung jawab untuk menanggapi kesanggupan yang diberikan Allah dengan penuh kerendahan hati.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 7–9; Lukas 9:18-36

Handlettering oleh Teguh Arianto

Tutup Kuping

Selasa, 26 Maret 2019

Tutup Kuping

Baca: Keluaran 5:24-6:8

5:24 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya.”

6:1 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN.

6:2 Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.

6:3 Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing,

6:4 tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku.

6:5 Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat.

6:6 Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir.

6:7 Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN.”

Mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu. —Keluaran 6:8

Daily Quotes ODB

Karakter kartun Winnie the Pooh pernah berkata, “Kalau orang yang engkau ajak bicara sepertinya tidak mendengarkan, bersabarlah. Mungkin telinganya sedang tertutup oleh sesuatu.”

Pengalaman bertahun-tahun mengajarkan saya bahwa perkataan Winnie itu ada benarnya. Saat seseorang tidak mau mendengarkan nasihat kamu yang sebenarnya bermanfaat baginya, mungkin memang ia sedang enggan untuk menyimak. Atau mungkin ada hambatan lain: Ada orang yang sulit mendengarkan nasihat karena mereka sedang kecewa dan putus asa.

Musa berkata bahwa ia berusaha berbicara kepada orang-orang Israel tetapi mereka tidak mau mendengarkannya karena perbudakan yang kejam telah membuat mereka putus asa (Kel. 6:8). Istilah putus asa di sini dalam bahasa Ibrani secara harfiah berarti “kehabisan napas”, dan itu diakibatkan oleh pengalaman perbudakan yang pahit di Mesir. Oleh karena itu, keengganan orang Israel mendengarkan perintah Musa haruslah dimaklumi dan dikasihani, bukan justru dikecam.

Apa yang harus kita lakukan ketika orang lain tidak mau mendengarkan? Perkataan Winnie the Pooh sangatlah bijak: “Bersabarlah.” Allah berkata, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati” (1Kor. 13:4); kasih itu rela menunggu. Tuhan belum selesai membentuk orang itu. Dia sedang berkarya melalui kesedihan mereka dan kasih serta doa-doa kita. Mungkin saja, pada waktu-Nya, Dia akan membuka telinga mereka untuk mau mendengar. Bersabarlah. —David H. Roper

Ketika ada seseorang yang tidak mau mendengarkanmu, pelajaran apa yang dapat kamu terima tentang hubunganmu sendiri dengan Tuhan? Bagaimana kasih dan kesabaran saling melengkapi dalam sebuah hubungan yang penuh kasih?

Bersabarlah, karena Allah belum selesai membentuk kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 22-24; Lukas 3