Posts

Bagaimana Merespons Teman yang Mengakui Dosanya pada Kita

Oleh Joanna Hor
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Respond When A Friend Confess Their Sin

Jam 1 dini hari. Seorang temanku mengirim chat panjang, meminta didoakan karena dia sedang bergumul dengan ketertarikan fisik dengan rekan kerjanya, padahal dia sendiri sudah terikat dalam relasi yang serius.

Beberapa minggu sebelumnya, seorang temanku yang lain bercerita dengan sedih tentang rasa bersalahnya pada Tuhan setelah dia melampaui batasan fisik yang wajar dalam relasi dengan pacarnya. Sebelum itu, temanku yang lainnya lagi juga bercerita tentang kurangnya sikap disiplin dan semangat untuk hadir ke gereja dan kelas Alkitab.

Mungkin kamu pun pernah menerima pesan berisikan pengakuan dan curhatan seperti di atas. Kita semua bergumul dengan pencobaan dan dosa setiap hari (Roma 3:23), dan kita tahu hal apa yang benar untuk dilakukan—mengakui dosa kita (1 Yoh 1:9), mematikan hal-hal duniawi, dan berpaling pada Allah (Yakobus 4:8). Tapi, mengucapkan itu semua lebih mudah daripada melakukannya. Seringkali, kita bergulat dengan dosa-dosa kita untuk waktu yang lama, menganggapnya enteng atau tidak mempermasalahkannya sama sekali. Mengakui dosa kita kepada orang lain mungkin jadi hal terakhir yang ada di pikiran.

Jadi, ketika kita seorang teman membagikan kisah dosanya pada kita, bisa jadi kita merasa gamang untuk merespons. Kita mungkin tidak merasa kompeten untuk menolongnya, apalagi kalau kita sendiri juga bergumul dengan dosa yang sama (Mat 7:3-5). Atau mungkin, kita memilih untuk pura-pura menutup mata karena kita tidak ingin terlihat benar sendiri, sombong, atau terlalu terlibat dalam kekacauan hidup orang lain.

Ibrani 3:12-13 dengan jelas mengatakan kita punya tanggung jawab sebagai komunitas untuk ‘menasihati seorang akan yang lain, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa’. Yakobus 5:19-20 juga mendorong kita semua untuk berperan aktif untuk ‘membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat’ karena tindakan itu ‘akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa’.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menghidupi instruksi dari ayat ini, ketika kita sendiri pun adalah orang berdosa?

1. Jangan merasa benar sendiri dan menghakimi

Mungkin naluri alami kita merespons teman yang terjatuh ke dalam dosa—terkhusus jika itu adalah dosa perzinahan, pembunuhan, atau pencurian—adalah mundur dan menghakimi mereka dalam diri kita sendiri. Alih-alih meratapi dosa dan menjangkau mereka, kita menarik diri, masuk ke dalam kelompok kecil yang beranggotakan teman-teman kita, lalu membicarakan si pendosa yang dari luar tampak baik tapi ternyata melakukan hal-hal buruk.

Aku sendiri pernah bersikap seperti itu pada beberapa kesempatan.

Salah satu cara yang baik untuk mengetahui apakah kita telah bersikap menghakimi atau sok benar sendiri adalah melihat bagaimana respons pertama kita ketika kita mendengar orang tersebut jatuh ke dalam dosa. Apakah kita segera memandang rendah dia, lalu buru-buru mengabari teman yang lain untuk menceritakan masalah ini? Atau, apakah kita berpaling pada Allah, berdoa memohon belas kasih dan anugerah-Nya—bukan cuma bagi orang itu, tapi bagi umat manusia, termasuk diri kita sendiri?

Sebelum kita jadi orang pertama yang melempar batu, ingatlah bahwa kita semua berdosa (Yoh 8:7). Upayakanlah untuk memberi sesuatu daripada menghakimi dan menghukum mereka (Lukas 6:37-38).

Satu cara yang baik untuk memulai adalah dengan mengajukan pertanyaan pada teman kita yang bisa menolong kita untuk mengerti bagaimana kisah mereka, dan alasan mengapa mereka melakukan itu. Pertanyaannya bisa berupa: ‘Bagaimana perasaanmu selama ini?’, ‘Bagaimana perjuanganmu untuk mengatasinya?’, ‘Apa yang membuatmu berpikir untuk melakukan itu?’

2. Marah dan sedihlah terhadap dosa

Kecenderungan lain yang muncul adalah aku mudah bersimpati kepada teman ketika mereka bercerita tentang pergumulan dosa—terkhusus apabila pergumulan itu mirip-mirip denganku (kesombongan dan ketamakan). Di saat seperti itu, aku mungkin meremehkan dampak buruk dosa dengan berpikir, “Ya, setidaknya semua orang bergumul dengan itu, dan dosa itu tidak lebih buruk daripada dosa yang [dosa-dosa lain].”

Ketika hal itu terjadi, aku tanpa sadar menilai dosa berdasarkan standar kesalahanku sendiri tentang benar dan salah daripada melihat dosa itu dari kacamata Tuhan.

Namun, dosa adalah dosa—tidak ada tingkatan di dalamnya—dan setiap dosa membangkitkan murka Allah. Jika kita mendapati diri kita pernah mengesampingkan dan meremehkan dosa, berdoalah pada Roh Kudus untuk menegur hati kita kembali dengan mengingat harga mahal yang Yesus bayarkan di atas kayu salib (Yesaya 53:5-6). Mari kita kembali pada Alkitab dan baca kembali ayat-ayat yang menyingkapkan tentang sifat-sifat dosa (Roma 6:23, Galatia 5:19-21, 1 Kor 6:9-10).

Hanya ketika kita menyadari apa itu dosa: ketidaktaatan kepada Allah (Roma 5:19), barulah kita mampu meratap dengan benar atasnya, dan menolong teman kita dengan cara yang benar pula agar mereka mampu bangkit dari keterpurukan dosanya.

3. Saling mendukung satu sama lain untuk bertobat

Ketika aku lebih muda, aku membayangkan Allah itu kaku, pemimpin totaliter yang segera menghukumku setiap kali aku tersandung. Pemahaman itu membuatku mengakui dosa setiap malam sebelum tidur (takut kalau-kalau aku mati saat tidur dan lupa mengakui dosa membuatku tidak bisa masuk surga). Syukurlah, pemahaman itu pudar seiring aku mengenal Dia semakin dalam dan mengerti tentang kecukupan anugerah Kristus dan kasih Allah.

Melihat ke belakang, aku pun menyadari bahwa ‘doa pengakuan dosaku’ dulu tidak berisi langkah nyata untuk berbalik dari dosa. Ketika kita mengakui dosa, mengakui apa yang kita lakukan adalah salah, kita didorong untuk bertobat (1 Yoh 1:9, Yak 5:19). Pertobatan inilah yang akan menghasilkan perubahan pada hati dan tindakan kita (Kis 26:20).

Mazmur 32:1-2 mengatakan orang yang dosanya diampuni sebagai orang yang ‘berbahagia’. Tim Chester, seorang pendeta dan penulis dari Inggris menyelidiki kata ‘berbahagia’ itu disematkan kepada orang yang telah bertobat, bukan untuk orang yang terbebas dari dosa, karena orang seperti itu tidaklah eksis. Dan, ini menjadi penting, karena seperti tertulis dalam bukunya yang berjudul Enjoying God, itu berarti “kamu tidak perlu menanti sampai kamu mencapai level kesalehan yang lebih tinggi supaya bisa menikmati berkat Ilahi”.

Marilah saling mendorong satu sama lain untuk tidak cuma mengakui dosa, tapi juga berpaling dari dosa itu. Inilah gerbang menuju berkat Ilahi. Seorang profesor teologi Amerika, Stephen Wellum menyimpulkan dengan indah pada sebuah artikel, “Ketika kita berdosa, kita kehilangan kesadaran akan pengampunan dan damai sejahtera Allah. Jadi, ketika kita mengakui dosa kita, dengan pertolongan Roh, kita disadarkan kembali pada apa yang Kristus telah lakukan bagi kita, dan Allah membangkitkan kepercayaan kita pada jaminan keselamatan-Nya.”

4. Berdoa untuk dan dengan teman kita

Alkitab mendesak kita untuk saling mengaku dosa (Yak 5:16). Kita sering berpikir ayat ini berbicara dalam konteks penyembuhan fisik, tapi ini juga berbicara tentang kesembuhan rohani dari dosa.

Ketika teman kita membagikan kisah dosanya, kita perlu berdoa seperti Yesus berdoa bagi para murid—agar Allah melindungi kita dari yang jahat (Yoh 17:15). Kita harus berdoa seperti ini baik saat teman kita hadir, atau pun dalam saat teduh pribadi kita. Kita bahkan bisa mengetik teks doa di chat lalu mengirimkannya pada mereka. Aku ingat betapa aku ditolong ketika aku tahu kalau keluarga dan teman-temanku mendoakanku setiap kali aku jatuh dalam dosa yang aku telah berkomitmen untuk lepas darinya.

Peperangan melawan dosa adalah pertempuran spiritual, jadi datanglah selalu pada Tuhan untuk mengakui perjuangan yang kita hadapi dan mohonlah kekuatan dari-Nya.

5. Arahkan satu sama lain kepada Kristus

Mungkin satu hal terpenting yang harus dilakukan ketika kita berdosa adalah membawa kembali diri kita kepada hati Kristus. Dane Ortlund, pendeta dan penulis Amerika mengingatkan kita dalam bukunya yang berjudul Gently and Lowly bahwa Yesus adalah kawan bagi para pendosa. Artinya, dalam ‘Yesus Kristus, kita diberikan seorang kawan yang selalu menikmati kehadiran kita daripada menolaknya.’

Bagi siapa pun kita yang (seperti aku pada waktu lebih muda) cenderung melihat Allah sebagai sosok yang kaku dan otoriter, yang selalu marah atau kecewa, penghiburan sejati kita terdapat pada kebenaran bahwa tak peduli seberapa banyak kita telah berdosa dan gagal, Yesus selalu siap menerima dan memulihkan kita jika kita berpaling pada-Nya.

Selama kita hidup di bumi, kita akan terus bergulat dengan dosa dan pencobaan setiap hari. Jangan pernah berpikir kalau kita telah menang atas dosa untuk selamanya. Alih-alih, marilah kita saling mendoakan, saling bertanggung jawab, dan menjadikan titik pertobatan kita saat ini untuk selalu mengingat Yesus.

Baca Juga:

Bolehkah Aku Mengakui Sesuatu?

Membuka diri untuk mengakui dosa memalukan yang pernah diperbuat itu susah. Ada rasa takut, juga malu. Bagaimana jika orang-orang malah jadi memandang rendah kita?

Berhentilah Membanding-bandingkan Dosa Kita dengan Dosa Orang Lain

Oleh Fandri Entiman Nae, Manado

Ketika menonton televisi atau menjelajahi media sosial, informasi tentang tindakan kejahatan rasanya bukanlah hal yang jarang kita simak. Menghitung berapa jumlah kasus-kasus itu tentu tak akan ada habisnya. Dunia seakan telah berteman dengan kejahatan, dan fakta yang mungkin membuatmu tercengang: kita semua adalah bagiannya.

Pernyataanku mungkin mengherankan dan membuatmu bertanya mengapa kita menjadi berada di posisi tertuduh? Melalui tulisan ini, aku mengajakmu untuk menyelidiki diri kita lebih jauh. Kita semua sejatinya memiliki status yang sama, yaitu para pendosa. “Ah tapi kan aku tidak melakukan ini, atau itu?”, dalam hati kita berkelit. Ketika kita melihat ada orang yang kedapatan mencuri dan kita “tidak mencuri”, atau kita melihat orang lain kedapatan “berzinah” dan kita merasa tidak melakukannya, kita lantas merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Atau, bisa saja kita merespons dengan lebih kesal, “Aku tidak akan begitu! Tidak akan jatuh ke dalam dosa seperti itu!”

Sebagai manusia, kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain, termasuk ketika itu bicara mengenai dosa. Namun, terlepas dari siapa yang tampak ‘lebih baik’ dari perbanding-bandingan itu, fakta yang pasti ialah kita semua sejatinya adalah pendosa, apa pun jenis dosa yang kita lakukan. Jika kita membaca apa yang dikatakan oleh Yesus tentang perzinahan (Matius 5:27-30), kita akan segera mengerti bahwa dosa bukan hanya tentang apa yang nampak melainkan apa yang tersembunyi di dalam hati kita. Mungkin kita belum pernah menampar atau melakukan kekerasan terhadap orang lain, tetapi berapa kalikah kita berniat melakukannya untuk melampiaskan amarah kita?

Dalam pekerjaan dan pelayananku sebagai hamba Tuhan, setiap kali aku berkhotbah kepada teman-teman yang ada di dalam penjara di beberapa kota, aku selalu berkata kepada mereka bahwa jika polisi kita, jaksa kita, dan hakim kita adalah Allah sendiri, maka aku, yang merupakan seorang penginjil ini tidaklah lebih suci dibandingkan teman-teman di dalam penjara ini. Mungkin aku pun akan dijerat dengan pasal berlapis dan divonis dengan hukuman terberat.

Beberapa tahun yang lalu seorang dosen pernah mengajukan pertanyaan ‘menjebak’ kepada kami semua dalam sebuah kelas. Pertanyaannya adalah “Siapa yang membunuh Yesus? Apakah orang Yahudi atau orang Romawi?” Tentu jawabannya bisa berbeda-beda tergantung sudut pandangnya. Ketika kelas kami terbagi menjadi dua kelompok besar yang membela pilihannya bagai debat capres dan cawapres, aku satu-satunya yang punya jawaban berbeda. Aku tidak memilih Romawi maupun Yahudi. Tentu saja bukan karena jawaban itu salah, tetapi karena aku tahu apa yang sedang ingin dicapai oleh dosen itu. Pada saat dia membuat survei dan tiba pada giliranku, aku menjawab, “Saya dan bapaklah yang membunuh Yesus”.

Mari jujur dengan identitas kita. Kita adalah “pembunuh”. Dosa kita telah “memaksa” Dia yang Maha Tinggi dibantai dan dipermalukan di bawah matahari Palestina. Kita adalah pezinah. Kita terpikat oleh senyuman dunia yang beracun dan bercumbu dengannya untuk memuaskan hasrat kedagingan kita, hingga kita lupa pada Kekasih hati kita yang datang jauh-jauh dari surga untuk memeluk kita.

Berhentilah saling menyalahkan dan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Jangan pernah memegahkan diri kita, terlebih di hadapan Allah. Kita semua tidak ada bedanya. Bukankah kita sering sekali berteriak menuntut keadilan hanya jika kita ada dalam posisi sebagai korban yang benar? Bukankah ketika kita didakwa sebagai tersangka yang bersalah, kita malah mengemis meminta pengampunan? Atau tragisnya lagi, berapa banyak dari kita yang senang menjadi penjilat demi mendapatkan kenyamanan diri kita sendiri?

Tetapi terlepas dari dosa-dosa kita yang begitu menjijikkan, di sini keunikan iman kita terletak, yaitu Allah kita mencintai kita sebagaimana adanya. Tentu itu bukan berarti bahwa Allah sama sekali tidak peduli, apalagi senang dengan dosa kita. Di mata Allah, dosa bagai kanker yang hidup di dalam tubuh orang yang kita cintai. Kita membenci kankernya, tetapi mencintai orangnya. Bukan kita yang mencari-Nya, Dialah yang mencari dan menemukan kita. Ia kemudian mengikat kita yang menerima-Nya dengan pelukan kasih karunia. Tapi sedihnya, kita sering menari-nari bahagia di atas kasih karunia itu namun lupa pada Sang Sumber. Kita tersenyum ketika tahu bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya tetapi kita mempermalukan Bapa kita. Benar bahwa Allah kita telah memerdekakan kita sama seperti yang dikatakan Paulus kepada jemaat Galatia, namun itu bukan kesempatan untuk hidup dalam dosa (Galatia 5:13). Seorang teolog sekaligus pengkhotbah terkenal pernah berkata, “Jika kita berpikir bahwa kasih karunia adalah tempat untuk bersantai saja, maka kita akan melihat kehancuran”.

Kasih karunia adalah tempat bersukacita, menyesali diri, dan berjuang habis-habisan. Kita bersukacita atas kebaikan Allah yang telah menyelamatkan kita dari “kengerian terdalam” melalui penyaliban Kristus yang telah bangkit dari kematian. Kita menyesali diri atas semua kegagalan-kegagalan kita yang telah melukai hati Allah. Kita berjuang habis-habisan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan dengan gigih menceritakan kepada dunia tentang Dia, Allah yang mengasihi kita, para pendosa.

Hari ini, dalam momen yang diperingati oleh beberapa gereja sebagai Rabu Abu, akuilah dosa kita di hadapan Allah dan perbaharuilah komitmen kita untuk hidup kudus bagi-Nya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Teguran: Tidak Semanis Pujian, Tapi Kita Butuhkan

Kita mungkin sepakat kalau teguran ditujukan untuk kebaikan kita. Tapi, seringkali penyampaian dan pesannya membuat kita tidak nyaman. Bagaimana kita dapat merespons teguran secara positif?

Rabu Abu, Momen untuk Kita Berbalik dari Dosa

Oleh Sukma Sari Dewi Budiarti, Jakarta
Ilustrasi oleh: Betsymorla Arifin (@betsymorla)

Tahun 2019 telah memasuki bulan ketiga dan tidak terasa bulan depan kita akan bersama-sama merayakan Jumat Agung dan Paskah. Namun, sebelum hari besar itu diperingati, hari ini kita mengawalinya dengan Rabu Abu.

Terlepas dari gerejamu melaksanakan atau tidak, artikel ini kutulis bukan untuk memperdebatkannya, melainkan untuk memberikan pengetahuan kepada teman-teman tentang keberagaman tradisi Kristen yang kaya dan perlu kita syukuri.

Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga Katolik. Aku pun mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA di sekolah Katolik. Aku menemukan beberapa tradisi yang berbeda dari teman-temanku yang Protestan, salah satunya adalah hari Rabu Abu yang diperingati sebagai awal dari masa prapaskah. Meski begitu, ada juga beberapa denominasi dari gereja Protestan yang turut memperingati dan melaksanakan ibadah Rabu Abu.

Di dalam liturgi gerejawi, Rabu Abu menandai dimulainya masa prapaskah yang berjarak 40 hari sebelum Paskah. Kita akan diberi torehan abu di dahi kita sebagai bentuk penyesalan atas dosa-dosa yang sudah kita perbuat (Yunus 3:6). Abu yang digunakan tentu bukan abu gosok untuk mencuci piring, tapi berasal dari daun palma dari perayaan Minggu Palma setahun lalu yang kemudian dibakar dan abunya digunakan pada ibadah Rabu Abu.

Sekilas mengenai Rabu Abu

Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari masa Perjanjian Lama di mana abu digunakan sebagai lambang atas perkabungan, ketidakabadian, penyesalan, dan juga pertobatan. Orang yang menyesali dosanya kemudian menaburkan abu di atas kepalanya, atau di seluruh tubuhnya (Ester 4:1,3). Di masa kini, terkhusus di gerejaku, abu tersebut diberikan oleh imam atau prodiakon bagi umat yang berusia 18-59 tahun. Sambil abu ditorehkan, mereka akan berkata, “Bertobatlah dan percaya kepada Injil” atau “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu”.

Melihat kembali ke perjalanan sejarah Kekristenan, gereja perdana juga menggunakan abu sebagai simbol perkabungan dan memohon pengampunan. Pada masa itu, mereka yang mengakui pertobatan di hadapan umum akan dikenakan abu di kepala mereka. Agak berbeda dengan abad-abad pertama, gereja di abad pertengahan menggunakan abu untuk mereka yang akan menghadapi ajal. Mereka dibaringkan di atas kain kabung dan diperciki abu sambil imam mengatakan, “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Meski begitu, makna abu tetap sama, yaitu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian, dan pertobatan.

Ritual Rabu Abu sendiri ditemukan dalam manuskrip Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad ke-delapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric berkhotbah demikian, “Kita membaca di kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru bahwa orang-orang yang bertobat dari dosanya menaburi diri mereka dengan abu dan membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada masa awal prapaskah. Kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama masa prapaskah.”

Di gerejaku, bagi umat percaya yang mengikuti ibadah Rabu Abu diwajibkan untuk menjalani puasa dan pantang selama 40 hari. Puasa yang dimaksudkan di sini adalah makan satu kali kenyang. Saat umat menjalani puasa dan pantang selama 40 hari, biasanya tiap wilayah di satu gereja akan diberikan satu amplop pada masing-masing keluarga. Amplop yang biasa disebut amplop APP (Aksi Puasa Pembangunan) ni diisi dengan uang yang nantinya digunakan gereja untuk menolong sesama yang membutuhkan. Untukku sendiri, biasanya salah satu pantangan yang kulakukan adalah tidak jajan. Uang jajanku itulah yang nanti kumasukkan ke dalam amplop ini.

Sahabatku, terlepas dari ada tidaknya tradisi Rabu Abu dalam gereja kita, sudah seharusnya kita menghidupi hidup yang senantiasa mawas diri. Kita menyadari bahwa kita adalah ciptaan dari Sang Pencipta, sadar bahwa diri kita adalah manusia berdosa, dan hidup yang kita hidupi saat ini adalah kesempatan yang begitu berharga, karena Tuhan Yesus telah menebus kita dengan harga yang teramat mahal.

Kiranya setiap hari di dalam hidup kita, tidak hanya dalam masa Prapaskah ini, kita senantiasa menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan dan oleh anugerah Kristus kita berjuang untuk menjaga kekudusan, mengasihi sesama, dan juga tidak mementingkan diri sendiri.

Selamat memasuki masa Prapaskah!

Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Diam dan Tenang: Senjata Ampuh yang Mengalahkan Kekhawatiran

Aku berusaha menguatkan diriku untuk tidak khawatir. Tapi, apakah benar aku sungguh berusaha untuk tidak khawatir? Atau, aku cuma mengabaikannya saja?