Posts

Mengapa Harus Menegur Jika Bisa Membiarkan?

Oleh Toar Taufik Inref Luwuk, Minahasa

“Duuuh! Kamu gimana, sih. Harusnya nggak kaya gini…”

Mungkin beberapa dari kita ada yang menegur seperti itu ketika seseorang melakukan kesalahan atau ada juga yang memilih untuk mendiamkannya (tidak menegur). Padahal kita tahu kalau seseorang salah, kita punya kewajiban untuk mengingatkannya. Tapi, bagaimanakah cara kita menegur? Apakah teguran dapat menyadarkan dan memperbaiki kesalahan? Atau malah membuat seseorang itu jadi cuek terhadap kita (tidak peduli, sakit hati lalu pergi, dan semacamnya)?

Semua orang tak luput dari kesalahan atau melakukan dosa, tetapi tidak semua kesalahan dapat disadari. Oleh karena itu terkadang kita butuh bantuan orang lain untuk melihat kesalahan-kesalahan yang kita sendiri tidak menyadarinya.

Tapi, menegur memang bukan perkara mudah. Dari dulu sampai sekarang, aku kurang berani menegur orang sekalipun aku yakin teguranku itu benar. Aku khawatir akan respons orang tersebut setelah aku menegurnya, apakah mereka akan menerima teguran itu atau malah membenciku. Ditambah lagi, aku itu orangnya gak enakan. Padahal aku tahu bahwa ketika menegur, perasaan tidaklah jadi indikator utama.

Asumsi-asumsi itu menciptakan berbagai pertanyaan dalam benakku. Bagaimana cara menyampaikan teguran agar bisa diterima dengan baik? Kenapa harus aku yang terbeban melihat kesalahannya? Kenapa aku tidak bisa merasa “bodo amat” terhadap urusan orang lain? Sebagai orang Kristen, apakah menegur itu perlu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab lewat bacaan buku dan refleksi pribadi. Secara sederhana, teguran adalah bukti kasih kita kepada sesama karena setiap orang memiliki blind spot yang bisa menyeret seseorang ke dalam dosa. Tidak salah untuk menegur orang lain karena ini adalah tanggung jawab orang Kristen untuk saling menjaga. Sebaliknya, tidak menegur berarti mengabaikan tanggung jawab moral yang Allah berikan sebagai saudara seiman. 2 Timotius 4:2 “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Melalui ayat di atas, kita juga diingatkan bahwa menegur bukan berarti menjatuhkan, melainkan membantu orang lain menyadari kesalahannya, memperbaikinya, kemudian menjadi lebih baik dan serupa dengan Kristus.

Amsal 27:17 mengatakan “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Ayat ini mungkin sudah sangat familiar bagi orang Kristen. Jika membaca ayat ini, yang terlintas dalam benakku adalah konflik. Kenapa konflik? Tidak dipungkiri, teguran kadang mengantar kita pada konflik. Tetapi, konflik bukanlah hal yang tabu. Melalui konflik kita dapat saling menajamkan karakter dan hati sesama, tetapi tergantung bagaimana kita meresponi suatu konflik, apakah dengan berhikmat atau tidak. Amsal 10:13 “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.”

Oleh karena itu, ketika terjadi konflik, kita harus mengembangkan sikap hati yang peduli. Saling menegur adalah salah satu kunci untuk membentuk relasi yang sehat dan bertumbuh dalam Tuhan. Tapi kenyataannya, masih banyak dari kita yang memilih tidak menegur atau mungkin kita sudah menegur, tapi tidak diterima dengan baik. Meskipun ketika kita sudah menegur dengan baik tetapi teguran itu dimaknai lain, kita tidak boleh kecewa. Menegur adalah perbuatan baik dan harus dilakukan (Yakobus 4:17). Diterima atau tidaknya teguran merupakan campur tangan Allah. Bagian kita adalah memilih untuk menegur dalam kasih serta mendoakannya.

Dalam menegur, hal utama yang dibutuhkan adakah kasih, diikuti kedewasaan rohani (kebijaksanaan & hikmat) serta rasa tanggung jawab membimbing seseorang yang berbuat salah untuk memperbaiki kesalahannya dan menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi, bukan berarti si penegur tidak bisa kebal dari kesalahan. Paulus pun mengingatkan hal itu dalam Galatia 6:1 yang berkata:

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”

Setiap teguran yang hendak kita lontarkan harus didahului dengan tiga hal, yaitu fakta, firman Tuhan, dan doa.

Sebelum menegur seseorang, kita harus mengetahui dengan jelas dan rinci apa yang sebenarnya terjadi. Akan lebih baik jika kita tanya sudut pandangnya (ini membuktikan bahwa kita menghargai orang tersebut). Jika terbukti salah, kita dapat menegurnya di waktu yang tepat (Amsal 25:11) dan tentu saja dengan penuh kasih. Selain itu, usahakanlah untuk menegurnya secara pribadi, bukan di depan orang lain (Matius 18:15).

Aku teringat akan pembuatan sebuah pedang yang prosesnya panjang. Besi harus ditempa, dibentuk, dan dibakar hingga menghasilkan sebuah pedang tajam dan siap pakai. Demikian juga manusia, untuk menjadi seperti pedang yang tajam dan berguna, kita akan melalui proses panjang dan berat. Setiap teguran dan konflik adalah cara-cara Tuhan untuk membentuk kita agar kita siap dipakai dalam pekerjaan-Nya.

Ingatlah selalu, bahwa tujuan kita menegur seseorang bukan untuk menjatuhkan atau melampiaskan kekesalan kita atas perbuatannya, tapi karena kita mengasihinya dan kita rindu untuk sama-sama bertumbuh dalam Kristus.

Efesus 4:15 “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

*Tulisan ini dibuat terinspirasi dari Buku yang ditulis oleh Sen Sendjaya “Jadilah Pemimpin Demi Kristus” dalam topik Seni Menegur Pemimpin.

Sikap Hati dalam Bergumul

Oleh Toar Taufik Inref Luwuk, Minahasa

Setiap orang pasti memiliki masalah, termasuk aku dan kamu. Sebagai orang percaya, kita menghadapi masalah dengan cara bergumul kepada Tuhan. Bergumul adalah proses mencari kehendak Tuhan dalam masalah yang sementara kita hadapi.

Biasanya pergumulan diawali dengan kebingungan, atau kadang juga perasaan dilematis dalam menentukan sesuatu. Contohnya: pergumulan pasangan hidup, atau memilih pekerjaan sebagai panggilan Allah. Dua topik ini biasanya jadi pergumulan yang paling sering muncul di hidup anak-anak muda. .

Tidak sedikit orang yang putus asa dalam menanti jawaban atas permasalahan yang ada dan tidak sedikit juga orang yang kecewa hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi, sama seperti pengalaman pribadiku.

Aku adalah seorang mahasiswa yang berada pada semester akhir. Teringat sewaktu masih semester 3 aku pernah menyukai seorang wanita yang ada dalam tim pelayanan bersama denganku. Aku pun beberapa kali coba untuk mendekatinya dan dia cukup memberikan respon yang baik terhadapku, sehingga aku memutuskan untuk “menggumuli” dia sebagai pasangan hidup. Baik, rendah hati, dan sama-sama mengerjakan visi Allah dalam pelayanan mahasiswa menjadi alasan mengapa memutuskan hal itu. Cukup lama dan serius aku mendoakan bagian itu bahkan hingga rela tidak mau dekat dengan wanita lain karena sangat mengharapkannya jadi pasangan hidup. Seiring berjalannya waktu aku tahu ternyata temanku juga menyukai dan mendekatinya. Tapi, karena sama-sama sudah dewasa, kami bertiga memutuskan untuk bertemu membicarakan hal ini. Alhasil ternyata temanku dan wanita itu sudah saling mendoakan yang berarti keduanya sudah saling menyukai. Kecewa dan sakit hati mendominasi perasaanku waktu itu.

Ini menandakan sikap hati juga penting dalam bergumul, kita terus berusaha mempersiapkan diri serta hati untuk hasil apapun, bahkan bisa jadi hal yang kita anggap paling buruk sekalipun. Pernyataan ini juga didukung oleh kutipan yang sempat aku baca di Facebook.

“Keberanian iman kita untuk berdoa meminta hal besar kepada Tuhan harus sejalan dengan kebesaran hati untuk menerima apapun keputusan Tuhan atas doa kita.” –Hammy Lasut

Andaikata ini adalah sebuah pertandingan berarti ada yang menang dan ada yang kalah. Bergumul berarti diri kita harus siap menang ataupun kalah. Tetap rendah hati jika menang, lapang dada jika kalah. Jangan sombong saat kita meraih kemenangan dan jangan putus asa saat menerima kekalahan. Dengan bergumul kita sudah memegang keyakinan bahwa sesungguhnya, yang memegang kendali dalam kehidupan kita adalah Allah yang Mahakuasa yang mengetahui mana terbaik bagi kita selaku umat-Nya.

Dalam bergumul, kualitas yang juga dibentuk adalah ketekunan dan sikap yang mau menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Membangun serta menjaga relasi yang intim dengan Allah adalah hal utama dan prinsip yang harus dipenuhi. Pergumulan yang bukan sekedar meminta jawaban akan tetapi juga disertai dengan pengenalan akan Allah.
Apapun hasilnya, keyakinan kita tetap pada satu pribadi yaitu Allah karena kita percaya sesuai janji-Nya Ia tidak akan pernah meninggalkan kita meskipun dalam kondisi yang sukar.

“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit.” (Nehemia 1:4)

Ayat ini memperlihatkan suatu respon peduli dari Nehemia setelah mendengar berita yang menimpa bangsanya, Nehemia dengan perasaan dukacita yang mendalam, dia mengambil langkah awal sebagai murid Kristus yaitu dengan berdoa dan berpuasa kepada Allah.

Padahal di sisi lain Nehemia sendiri punya posisi yang penting dalam kerajaan, bahkan orang kepercayaan raja. Dengan jabatan dan kepercayaan tersebut bisa saja Nehemia langsung meminta pertolongan kepada raja untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsanya, tapi karena Nehemia percaya dan meyakini bahwa satu-satunya yang pasti dan bisa diandalkan hanya Allah saja sebagai pribadi yang berdaulat atas kehidupannya dan kepada seluruh umat manusia. Inilah sikap yang telah diubahkan, orang yang telah mengenal Allah. Ketika kita benar-benar mengenal Allah jabatan penting sekalipun tidak akan membuat hati kita buta. Hati yang benar-benar tertuju pada Allah. Sikap yang patut diteladani dan harus kita miliki ketika bergumul.

Penderitaan yang Tak Akan Menjatuhkanmu

Oleh Toar Luwuk, Minahasa

Aku adalah seorang mahasiswa semester akhir, yang juga terlibat dalam pelayanan mahasiswa. Aku bersyukur karena terlibat dalam pelayanan ini mengajariku banyak hal yang menolongku bertumbuh bersama-sama dengan mahasiswa lain. Wadah pelayanan ini pun menjadi tempat perjumpaanku dengan Kristus. Aku menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.

Suatu saat, tim pelayanan kami sedang mempersiapkan suatu kegiatan dan membutuhkan dana. Kami memutuskan untuk mencari dana dengan menawarkan paket kue ke rumah-rumah warga. Selain melakukan pencarian dana, kami juga melakukan pelayanan doa bagi keluarga yang rumahnya kami sambangi. Di satu rumah, terjadi perbincangan.

“Jadi, selain kami melakukan pencarian dana, kami melakukan pelayanan doa bagi setiap keluarga yang telah dikunjungi. Jika ibu tidak sibuk, mari sama-sama berdoa”, kataku.

“Oh iya bisa, dek. Kebetulan baru selesai memasak”, jawab si ibu dengan penuh senyuman.

“Jadi, sebelum berdoa, apakah dari keluarga ada hal-hal khusus yang bisa didoakan?” tanyaku.

“Doakan saja semoga sehat-sehat dan semoga tidak mengalami masalah atau kesusahan”, jawab si ibu.

Setelah berdoa kami mengucapkan terima kasih dan melanjutkan kegiatan pencarian dana

Dan setelah beberapa rumah kami melakukan hal yang sama, terjadi obrolan yang serupa.

“Apakah dari keluarga ada hal-hal khusus yang bisa didoakan?” tanyaku.

“Doakan diberikan kesehatan dan diberikan kekuatan menghadapi pergumulan”, kata bapak dan ibu. Dari sharing singkat rupanya keluarga itu sedang mengalami pergumulan finansial.

Dari kedua jawaban di atas terdapat perbedaan sikap:

1. Yang pertama meminta untuk dijauhkan dari masalah/kesusahan
2. Yang Kedua meminta untuk dikuatkan dalam menghadapi pergumulan

Dari kedua jawaban tersebut, timbul kejanggalan dalam benak pikiranku dan memutuskan untuk merenungkan hal ini untuk mengetahui apa sebenarnya yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku lewat kejadian hari itu.

Masalah selalu datang dalam bentuk penderitaan atau kesusahan. Oleh karena itu, semua orang tidak menyukainya. Banyak juga orang Kristen mengharapkan hidupnya selalu mulus tanpa mengalami masalah atau penderitaan. Bahkan ada yang melibatkan diri dalam pelayanan hanya karena meyakini hidupnya akan selalu diberkati hingga berlimpah-limpah dan enak-enak saja.

Aku pikir pemahaman seperti itu keliru dan itu bertentangan dengan Lukas 9:23 yang tertulis, “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Penderitaan atau masalah bisa menjadi sarana kasih Allah kepada kita. Ibarat sebuah permainan yang untuk naik level kita perlu menghadapi tantangan, dalam hidup pun kadang rumus tersebut berlaku.

“Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yakobus 1:3-4).

Alih-alih membuat kita jatuh tak berdaya, tujuan dari penderitaan adalah supaya naik level. Untuk bisa naik tingkat, caranya adalah dengan taat dan berserah kepada Dia yang berdaulat atas hidup kita. Ujian-ujian hidup juga menjadi sarana agar kita terus dimurnikan dan dibentuk, supaya makin serupa dengan Dia. Kedagingan kita perlahan akan terkikis ketika kita tekun menghadapi penderitaan.

Sebagai orang Kristen, bagaimana sikap kita merespon masalah yang terjadi?

Tak mudah untuk menghadapi penderitaan. Aku pun sering emosi duluan jika ada masalah yang datang dan mungkin orang lain pun seperti itu. Seperti yang tertulis dalam kitab Yakobus 1:5-7, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin.”

Ketika penderitaan datang, kita dapat berdoa minta hikmat dengan penuh kesungguhan hati dan jangan goyah. Seperti cerita di awal tulisan tadi, alangkah lebih baik jika kita berdoa bukan untuk menjauhkan masalah, tetapi meminta hikmat dan kekuatan menghadapi penderitaan. Kita tidak berjalan sendiri. Ada Tuhan yang setia menyertai kita, dan bersukacitalah jika kita berada dalam masalah. Dengan iman kita mengetahui bahwa penderitaan sementara ini adalah cara Tuhan membentuk kita makin serupa dengan Dia.