Posts

4 Cara Sederhana Membagikan Injil di Zaman Now

Oleh Madeline Kalu
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Am I Responsible For My Friend Salvation?

Rasanya baru kemarin aku memulai hidup baru bersama Tuhan Yesus.

Perubahan hidup itu terjadi tepatnya 10 tahun lalu, pada suatu malam yang dingin di bulan Januari. Temanku yang bernama Hannah memimpinku berdoa dan mengakui dosa. Kami melakukan itu di dalam mobil yang kami parkir di luar supermarket. Dalam pernyataan imanku, aku menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Perubahan hidupku pun terjadi dengan cepat. Aku merasa hidupku bersih dan enteng, seolah-olah semua kesalahan dan keputusan burukku di masa lalu terhapus. Yang lebih penting, aku merasa dicintai dan diterima apa adanya terlepas kegagalan dan kekurangan. Cinta ini kuyakin hanya bisa datang dari Tuhan saja.

Bulan demi bulan pun berlalu. Aku menjalani hidup yang baru bersama Tuhan dengan rasa syukur dan hati membara untuk semakin mengenal Juruselamatku. Hannah tetap membimbingku. Dia mengajarkanku tentang Amanat Agung dari Matius 28:19-20.

Pikiranku langsung tertuju pada teman-teman dekatku yang tidak mengenal Yesus. Aku sadar bahwa pergumulan dan kepedihan yang mereka alami seringkali diakibatkan dari pencarian mereka akan tujuan hidup, akan sebuah identitas. Aku merasa terbeban kepada mereka.

Aku ingin menolong mereka agar mereka mengenal kebebasan, kedamaian, dan kasih dari Bapa seperti yang juga kualami. Aku juga khawatir akan kehidupan kekal mereka jika mereka tidak mengenal Tuhan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk “membantu” teman-temanku mengenal keselamatan, yang rupanya malah menyebabkan situasi canggung antara aku dan mereka.

Ini kisahnya. Kami pergi ke suatu kota di malam Minggu. Beberapa temanku ingin mengunjungi kawasan “red district” atau kita kenal dengan istilah lokalisasi. Di sana para turis bisa melihat para pekerja seks komersial yang ‘dipajang’ di balik pintu kaca yang diberi lampu berwarna merah. Aku sulit menerima usulan mereka, sementara teman-temanku yang lain berpikir tidak ada yang salah dengan sekadar berjalan-jalan ke sana. Bagiku, menjadi PSK bukanlah dambaan bagi para wanita di sana. Aku bersimpati pada perjuangan mereka.

Aku bilang pada teman-temanku bahwa Tuhan menghendaki tubuh kita kudus dan berkenan bagi-Nya (Roma 12:1). Sebagai orang Kristen, aku tidak mau mengejar hal-hal duniawi, sehingga seharusnya orang lain pun begitu. Teman-temanku menyanggahku. Mereka bilang bahwa bukan bagianku untuk mendikte mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan yang terutama, apa yang mereka harus percayai.

Aku ingin teman-temanku mengenal kasih Yesus, tetapi pengalaman canggung itu kemudian mengajariku bahwa keselamatan masing-masing individu bukanlah tanggung jawabku. Setiap orang bertanggung jawab atas keselamatan mereka sendiri. Tuhan ingin setiap orang dengan sukarela berelasi dengan-Nya, dan bukan bagianku untuk memaksa seseorang percaya sesuai dengan metodeku. Namun, aku tetap punya kewajiban untuk membagikan Injil. Sejak kejadian canggung itu, aku telah belajar untuk melayani teman-temanku dengan cara yang berbeda dengan harapan itu akan menolong mereka melihat terang Kristus.

Dari pengalamanku, izinkan aku membagikan 4 cara untuk menjangkau teman-teman kita yang belum percaya.

1. Biarlah iman kita bersinar melalui kehidupan kita

Aku bisa menjadi juru bicara yang baik untuk Kristus ketika teman-temanku melihat bagaimana aku hidup sebagai orang Kristen. Aku suka firman dari Matius 5:16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Satu perubahan besar yang terjadi setelah aku mengikut Yesus adalah aku tidak lagi menggunakan kata-kata sumpahan atau umpatan. Teman-temanku tidak hanya memperhatikan perubahan ini, tetapi mereka juga benar-benar minta maaf jika mereka mengumpat di hadapanku.

Daripada berbicara hal negatif, sekarang aku mencoba untuk menggunakan kata-kata yang dapat membangun orang sekitarku (1 Tesalonika 5:11). Aku coba menunjukkan kasih Tuhan pada teman-temanku dengan menjadi seorang yang sabar, baik hati, dan berempati, seperti yang Yesus lakukan pada kita.

2. Tetaplah bagikan kesaksian kita

Tuhan terus bekerja dalam hidup kita, dan kita bisa membagikannya dengan teman-teman kita. Ketika suamiku dan aku bergumul dalam masalah finansial, Tuhan datang dan menyediakan kami sejumlah uang yang diberikan oleh teman, ada uang yang masuk di rekening kami dari orang yang tidak kami kenal, bahkan beasiswa untuk suamiku. Teman-temanku tidak hanya menyaksikan bagaimana Tuhan telah mengubah hidupku, tetapi mereka juga lebih banyak tentang Tuhan melalui apa yang terjadi dalam hidupku.

Aku memperhatikan bahwa teman-temanku lebih menerima mendengar tentang Tuhan ketika mereka dapat melihat pekerjaan nyata melalui peran-Nya sebagai Tuhan yang hidup dan Bapa yang pengasih. Beberapa temanku bahkan mulai menghubungkan hal-hal baik dalam hidup mereka karena berkat Tuhan, bukan karena hasil kerja keras, keberuntungan, atau nasib mereka.

3. Kita bisa menciptakan ruang yang aman dan saling menghargai

Aku dan teman-temanku telah menciptakan ruang yang aman dalam hubungan kami, di mana kami saling menghargai satu sama lain, dan setiap orang bebas untuk menjadi diri sendiri. Kami menerima kelemahan satu sama lain, juga memaafkan kesalahan yang dilakukan.

Aku memang berbicara tentang Tuhan dengan teman-temanku, tapi sekarang aku lebih bijaksana dan menimbang setiap situasi dengan hati-hati sebelum membagikan pendapatku, daripada membombardir mereka dengan ayat-ayat Alkitab.

Karena ruang aman yang sudah tercipta itu, teman-temanku merasa nyaman untuk mendekatiku ketika mereka memiliki pertanyaan tentang Tuhan, karena mereka tahu aku tidak akan menghakimi dan menghujat mereka.

4. Tetaplah berdoa untuk keselamatan teman-temanmu

Pernahkah kamu menonton film War Room? Wanita tua dalam film itu memiliki lemari khusus—yang dia sebut sebagai “ruang perang”—yang disediakannya untuk doa teratur, doa penuh semangat, dan doa khusus untuk mendoakan orang-orang sekitarnya.

Aku banyak berdoa untuk keselamatan teman-temanku. Aku telah menulis daftar nama orang-orang yang kuharap suatu hari nanti akan memiliki hubungan yang sesungguhnya dengan Tuhan, dan menggantung daftar nama ini di ruanganku–”war room” milikku sendiri.

***

Teman-temanku mungkin suatu hari akan memilih Kristus, atau mungkin tidak. Namun, aku akan terus berteman dengan mereka dan mengasihi mereka dengan kasih yang telah Tuhan tunjukkan padaku.

Karena itu, aku tidak akan putus asa bahwa, suatu hari, teman-temanku akan menerima Yesus untuk masuk dalam hati mereka. Sampai hari itu datang, aku akan terus beriman, percaya atas kasih Tuhan, dan berdoa.

Kamu Gpp? 5 Alasan Kita Sulit Mengungkapkan Perasaan

Mana nih tim yang selalu bilang “Aku gapapa” (padahal gak baik-baik aja)?

Sobat Muda, kita boleh dan perlu terbuka tentang perasaan kita kepada orang yang kita percayai.

Artspace ini didesain oleh @verses_illustrated dan diterjemahkan dari @ymi_today

Jangan Berhenti di Kamu, Share It!

Sebuah cerpen karya Desy Dina Vianney, Medan

Hai, aku Rena. Aku baru aja lulus kuliah akhir tahun lalu, dan sekarang lagi berkutat dengan laptop dan email dalam rangka pencarian pekerjaan. Sahabatku, Sarah, hari ini akan mengikuti interview pertamanya. Kami mempersiapkannya bersama sepanjang malam tadi, mulai dari mencari tahu pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ditanyakan, sampai outfit mana yang harus dikenakannya hari ini. Akhirnya kami tertidur hampir lewat tengah malam dan bangun ketika alarm ponsel kami berbunyi bersamaan.

“Doain supaya interviewer-nya pengertian ya!” katanya tertawa kecil saat dia—untuk terakhir kalinya—memandang pantulan dirinya di cermin dinding kamar kos kami.

Aku yang sedang duduk menghadap laptop melirik, “Pengertian kalau kamu harus cepat balik buat nonton episode baru drakor-mu?” jawabku. Dia terkikik, “Iya, jadi nggak usah nanya banyak-banyak deh, langsung diterima aja.” Katanya tertawa, lalu menarik sepasang sepatu dari rak dan melambai, menghilang di balik pintu.

Tiba-tiba saja aku memikirkan Sarah. Aku bertemu dengannya di hari pertama daftar ulang fakultas 4 tahun lalu. Sekali melihat dan mendengarnya berbicara, aku tahu aku telah menemukan teman yang tepat. Kami akhirnya menjadi dekat, dan pada semester berikutnya kami memutuskan untuk tinggal bersama. Ia yang selalu mengingatkanku akan hampir semua hal-hal benar yang harus aku lakukan, mengingatkan ke gereja dan mengajakku mengikuti kelompok-kelompok PA di kampus, walaupun di semester pertama aku masih terus menolak.

Aku bukan anak yang malas ke sekolah minggu sejak kecil, dan bukan tipe orang yang malas untuk ibadah ke gereja, karena aku tahu itu hal yang baik untuk dilakukan dan memang suatu kewajiban sebagai orang Kristen. Tapi, jujur saja aku bukan tipe orang yang aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani, melayani, apalagi ikut dalam kelas-kelas Alkitab atau kelompok-kelompok PA. Aku merasa itu hal-hal yang terlalu rohani.

Jadi aku selalu punya 1001 alasan untuk menolak setiap kali dia mengajakku. Sedang kurang fit, tugas kuliah yang menumpuk, ada jadwal kerja kelompok, mau telfonan sama orang rumah, dan banyak alasan lainnya.

Tapi, Sarah tidak pernah terlihat kesal setiap kali aku menolak dan akan mengajakku lagi di waktu berikutnya. Jujur, aku salut padanya. Sekaligus merasa terusik. Apa sih yang ia imani sampai bisa setekun itu?

Beberapa hari setelah kami tinggal bersama, aku terbangun di suatu subuh dan melihat Sarah sedang duduk di kursi belajar dan berdoa dengan Alkitab di hadapannya. Pemandangan itu cukup menyentuh hatiku dan samar aku mendengar ia menyebut namaku–entah aku salah dengar. Tapi entah bagaimana aku merasakan hatiku hangat, dan aku menangis. Aku seperti sangat merindukan sesuatu, atau seseorang. Aku bangkit lalu berdoa dengan perasaan berbeda. Seolah-olah aku baru kali ini berdoa. Seolah-olah aku baru kali ini berbicara dengan Tuhan.

Hari itu aku mengiyakan ajakan Sarah untuk ikut ke kelompok PA yang diikutinya. Dia tersenyum hangat dan menggandeng tanganku. Kami pulang ketika hari sudah mulai gelap dan berjalan bersisian sampai akhirnya harus berlari-lari kecil karena hujan turun. Sesampai di kos, sebelum masuk ke kamar mandi dengan pakaian kuyup, dia sempat mengatakan, “Ren, dari sepanjang waktu kita saling mengenal, hari ini hari yang paling aku syukuri. I thank God for you.” katanya dengan mata berbinar dan nada yang sangat tulus, lalu kemudian menghilang di balik pintu.

Aku tersenyum, dia tidak tahu kalau sesungguhnya aku yang jauh lebih bersyukur untuk apa yang selama ini telah ia bagikan padaku lewat perhatiannya, ajakannya, dan cerita-ceritanya dalam melayani orang lain. Aku yang bersyukur ia tidak pernah menyerah untukku. Aku yang bersyukur memilikinya sebagai sahabat.

Momen itu adalah titik balik perjalanan imanku. Aku belajar membangun relasi dengan Tuhan yang selama ini hampa dan samar. Awalnya tidak mudah karena harus mengubah banyak hal dan kebiasaan, tapi alangkah pengertiannya Tuhan menempatkan Sarah disana. Ia yang membangunkan aku pagi-pagi untuk Saat Teduh, mengajakku bergantian membaca Alkitab, hunting buku-buku rohani, join dengan pertemuan Bible Study, mengikuti Kamp Rohani, pelatihan Penginjilan, sampai ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pelayanan. Seluruh hal-hal yang dulu bagiku adalah kegiatan-kegiatan yang “terlalu rohani”!

Suatu waktu saat kami berjalan bersisian menuju kos sepulang kuliah, Sarah bilang, “Iman itu bukan untuk disimpan atau dinikmati pribadi aja, tapi harus dibagikan. Kita juga pengen kan, orang lain merasakan sukacita yang kita rasakan? Terlebih lagi Tuhan. Jadi jangan sampai berhenti di kita ya!” katanya dengan lembut sama sekali tidak terkesan mengajari. Aku benar-benar memahami ucapannya dan mulai belajar membagikan iman juga dengan orang-orang sekitarku. Seperti Sarah, yang membagikannya padaku dengan alami, tanpa memaksa dan tanpa menyudutkan. Sealami persahabatan itu sendiri.

How great is God!

Ponselku berbunyi dan menyadarkanku untuk kembali ke dunia nyata. Nama Sarah tertera di layar. Kulirik jam di ponsel, sudah berjam-jam ternyata sejak Sarah berangkat tadi.

“Bukain pintu depan dong, aku lupa bawa kunci.”

Aku tertawa kecil, dengan semua yang aku sebutkan tadi tentang Sarah, tentulah membuat Sarah seolah-olah seperti sosok malaikat yang sempurna, bukan? Tapi tidak, Sarah tetaplah manusia biasa. Dan ia sangat pelupa untuk hal ini. Dan memang aku bukan membutuhkan malaikat, tapi seorang sahabat. Betapa memang Tuhan sangat mengerti.

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Timotius 4:2).

Dear Temanku, Mohon Maaf Aku Gak Bisa Meminjamkanmu Uang

Oleh Agustinus Ryanto

“Orang yang ngutang sama yang diutangin mah galakan yang ngutang.”

Aku tertawa membaca meme tersebut yang dimuat di Twitter meskipun aku sendiri jarang mengalaminya. Hingga suatu hari, datanglah seorang temanku. Dia curhat dan meminta pendapat. Katanya, ada teman kantornya meminjam uang. Sekali dua kali dia meminjamkan karena alasannya adalah untuk berobat. Tapi, bulan-bulan kemudian, temannya ini jadi sering meminjam uang dengan alasan yang tak bisa dia jelaskan dengan spesifik.

Di permintaannya yang ke sekian, temanku menolak meminjamkan. Namun, respons yang didapatnya adalah, “Kok kamu gitu sih? Kamu kan kebutuhannya sedikit, belum married. Masa segitu aja gak ada?”

Temanku kaget dengan respons itu. Dia tidak mau meminjamkan karena memang bulan itu uangnya pas-pasan. Dengan sopan dia menolak permintaan itu sekaligus menagih utang-utangnya terdahulu, tapi jawaban yang didapatnya semakin ketus dan temannya itu pun tak mau lagi menjawab chat di WA.

Belajar dari kisah temanku, kurasa ada banyak di antara kita yang—demi menjaga hubungan baik—susah menolak permohonan meminjam uang. Meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkan sejatinya adalah tindakan yang baik, yang dapat menolong seseorang. Lagipula, bukankah Alkitab mengatakan agar kita menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri? (Filipi 2:4). Tetapi, hendaknya kita tidak salah mengartikan nats tersebut. Menolong orang lain bukan berarti mengabaikan aspek batasan diri dan disiplin.

Jika kamu termasuk orang yang susah menolak ketika dipinjami uang, inilah beberapa hal yang baik untuk kita renungkan bersama:

1. Ingatlah bahwa uang adalah perkara sensitif

“Hiroshima hancur karena bom atom. Warung hancur karena kasbon.”

Pernah melihat teks di atas? Teks itu dimuat dalam sebuah meme yang menggambarkan seorang pemilik warung yang menolak orang berbelanja dengan cara berutang. Meminjamkan uang kepada teman berpotensi merusak relasi yang telah dibangun dengan baik. Potensi rusak itu muncul ketika terjadi kesalahpahaman, komunikasi yang buruk, atau ketika kesepakatan bersama dilanggar.

Besarnya potensi konflik yang diakibatkan utang-piutang juga turut dibahas dalam Alkitab. Perjanjian Lama, dalam Ulangan 24 dan keluaran 22 menunjukkan bahwa masyarakat Israel Kuno juga melakukan praktik pinjam-meminjam uang dan Allah menetapkan hukum-hukum agar utang tersebut tidak menjadi alat penindasan bagi si pemberi atau solusi instan bagi si peminjam. Tetapi, meskipun praktik ini diperbolehkan, Alkitab juga mengajarkan agar sebisa mungkin seseorang tidak berutang. Amsal 22:7 berkata, “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berutang menjadi budak dari yang mengutangi.”

Secara tidak langsung, ketika seseorang berutang, dia memberi dirinya berada di bawah kuasa orang tersebut yang diatur dalam kesepakatan bersama. Utang adalah kewajiban yang harus dibayar kembali, jika seseorang malah melarikan diri, maka dia telah melakukan cara orang fasik seperti tertulis, “Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah” (Mazmur 37:21). Namun, jika kita memang telah memberikan pinjaman, hendaknya kita tidak menjadikan utang tersebut sebagai cara untuk menekan orang kecil dan lemah dan memerasnya (Keluaran 22:25).

2. Kenali batasan dirimu supaya kamu berani berkata tidak

Salah satu alasan yang paling sering kita kemukakan ketika tidak berani menolak adalah kita merasa gak enakan. Orang itu kan sudah baik sama kita, jadi masa kita gak tolong dia?

Meminjamkan uang diperlukan pertimbangan yang matang. Di satu sisi kita memang dipanggil untuk memerhatikan kepentingan orang lain (Filipi 2:4), tetapi di sisi lain kita juga diajak untuk memberi dengan murah hati, bukan karena paksaan (2 Korintus 9:7-8). Ketika kita diminta untuk meminjamkan, yang perlu kita selidiki adalah kemampuan kita sendiri lebih dulu. Jangan sampai demi meminjamkan seseorang sejumlah uang kita merasa dipaksa, yang berakibat kita jadi kekurangan dan malah mencari pinjaman dari orang lain demi memenuhi kebutuhan kita yang krusial.

Jika sumber daya yang kita miliki tidak mencukupi, kita dapat dengan sopan menolak permohonan tersebut. Ingatlah bahwa yang kita tolak adalah permintaannya, bukan orangnya. Kita tetap dapat mengasihi orang yang hendak meminjam tersebut dan mencari cara-cara lain untuk menolongnya.

3. Pertolongan tersedia dalam berbagai bentuk, tak melulu uang

Di zaman modern ketika segala sesuatunya membutuhkan uang, dan uang terkesan menjadi solusi pamungkas atas semua masalah. Tetapi, Tuhan dapat menolong kita lewat berbagai cara, tak melulu melalui berkat jasmani berupa uang.

Ketika seseorang hendak meminjam uang, tetapi kita sendiri tidak dapat memenuhi permintaannya, kita dapat dengan sopan menolak sembari menawarkan diri mengenai alternatif bantuan apa yang dapat kita berikan. Semisal, ketika seorang teman kuliah membutuhkan sejumlah uang untuk membayar tunggakan semesterannya, kita bisa mendampinginya untuk belajar lebih keras sembari mencari-cari beasiswa. Cara ini memang tidak praktis dan butuh waktu lama untuk melihat hasilnya. Tetapi, jika kita bersedia melakukan ini dengan setia (dan orang tersebut bersedia ditolong), kita sedang menolong orang tersebut untuk berdaya dan survive tak hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depannya.

4. Selalu mengiyakan tidak menjadikan seseorang bertumbuh

Memberi pada dasarnya adalah hal yang baik, tetapi jika kita tidak bijaksana, hal ini dapat menjadi celah yang dimanfaatkan seseorang untuk tidak berusaha lebih. Seperti disebutkan dalam poin pertama, meskipun Alkitab tidak melarang praktik berutang, tetapi Alkitab menganjurkan agar kita tidak berutang. Utang bukanlah solusi pertama dari setiap permasalahan finansial seseorang.

2 Tesalonika 3:10 berkata, “…jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Ayat ini ditulis Paulus memang bukan dalam konteks spesifik tentang utang-piutang, tetapi sebagai penekanan bahwa kemalasan bukanlah sifat yang berkenan bagi Tuhan. Ketika seseorang menjadikan utang sebagai langkah pertama, bisa jadi dia sedang terjebak dalam kemalasan yang dia sendiri tidak sadari. Penolakan yang kita berikan kepada orang-orang seperti ini bukan berarti kita pelit atau tidak peduli, tetapi sebagai langkah sederhana kita menunjukkan disiplin kepadanya.

5. Doakan dan tetaplah bersikap murah hati

Tidak dapat memenuhi permintaan tolong dari seseorang bukan berarti kita tidak memerhatikannya. Doakanlah dia beserta pergumulan yang tengah dihadapinya. Mendoakan seseorang berarti kita peduli dan memohonkan agar kuasa Tuhan dinyatakan dalam hidupnya.

Kita juga dapat berdoa agar Tuhan selalu mengaruniakan kita kemurahan hati. Meskipun pada kali ini kita tidak dapat menolong orang lain sesuai permohonannya, tetapi sikap murah hati memampukan kita untuk tetap peduli dengannya. Kepedulian kita kepada sesama bukanlah tindakan untuk menyenangkan hati orang lain atau sebagai ajang memamerkan kebaikan diri, tetapi bentuk kasih kita kepada Allah yang memerintahkan kita untuk saling mengasihi (Filipi 2:3-4).

Jika kamu sedang berada di posisi kesulitan keuangan sehingga hendak meminjam uang, atau jika kamu sedang menghadapi seseorang yang hendak meminjam kepadamu, kiranya damai sejahtera dan hikmat surgawi memampukanmu untuk bertindak dengan bijaksana.

4 Cara untuk Berani Berkata “Tidak”

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why We Struggle To Say No

Saat aku menulis artikel ini, aku baru saja bilang “tidak” atas permintaan ibuku untuk mendengarkan curhatannya tentang masalah keluarga. Kubilang lebih baik mereka bicara langsung daripada meminta nasihat dariku, lagipula aku pun tidak berada di sana sehingga aku tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Ada satu kata penting yang menolongku menentukan posisiku dalam keluarga, yaitu “batasan”. “Batasan menunjukkanku di mana aku harus selesai ketika orang lain memulai, menolongku untuk memegang kendali penuh atas diriku sendiri… Batasan juga membantu kita untuk memasukkan hal-hal baik dan mengeluarkan hal-hal buruk dari diri kita,” tulis Henry Cloud.

Ketika kita berani berkata “tidak”, itu menolong kita untuk meninjau kembali pemahaman kita tentang konsep batasan. Dalam kasusku, aku tidak bisa mengambil keputusan atas masalah ibuku dengan saudara-saudaranya. Jika aku mengiyakan, artinya aku mengambil tanggung jawab ibuku yang berarti juga aku melanggar garis batas yang sudah kutetapkan. Akibatnya, bisa saja mereka akhirnya menghindar dari upaya mengatasi konflik ini dengan membicarakannya.

Tapi, menjawab “tidak” pun sebenarnya tidak mudah. Pertama, apakah sopan menolak permohonan dari seseorang yang lebih tua dan lebih berkuasa? Berapa banyak dari kita yang dapat dengan mudah berkata “tidak” kepada ibu kita sendiri?

Kita sulit berkata “tidak” karena beberapa alasan, antara lain:

  • Kita tidak mau orang lain berpikir buruk tentang kita;
  • Kita tidak mau menciptakan konflik atau menyakiti seseorang;
  • Kita tidak tahu batasan kita.

Namun, jika kita tidak belajar berkata “tidak” dan menetapkan batasan kita sendiri, kita dapat dengan mudahnya menyakiti diri kita sendiri dan mungkin juga orang lain yang terlibat.

Apakah ada suatu hal yang perlu kamu jawab “tidak” hari ini? Mungkin kamu diajak ikut pelayanan dan mengorbankan hal lain, atau mengakhiri hubungan pacaran yang sedang jalan di tempat. Atau, mungkin juga menolak permohonan yang alasannya kurang kuat dari seseorang yang lebih tua atau lebih berotoritas darimu.

Situasi yang rumit akan membuat kita semakin susah mengatakan “tidak”, jadi inilah beberapa tips yang dapat kita pertimbangkan untuk membantu kita lebih berani mengatakan “tidak”:

1. Ketahui batasan dan prioritasmu

Ketika Yesus melayani di bumi, Dia tidak menyembuhkan setiap orang sakit atau memberitakan Injil secara personal ke satu per satu orang. Dia berkarya dalam keterbatasan tubuh manusia-Nya dan berfokus pada misi utama-Nya–untuk menyelamatkan kita dengan mati di kayu salib, dan memperlengkapi para murid yang akan meneruskan Kabar Keselamatan sampai ke seluruh penjuru bumi.

Jika Yesus saja berkarya dengan memperhatikan batasan, kita pun tidak seharusnya melakukan apa yang Dia tidak lakukan. Kita punya waktu, sumber daya, dan energi untuk kita tuangkan pada pekerjaan dan orang-orang di sekitar kita. Tapi, seiring dengan fase kehidupan yang berubah, kita perlu menata ulang prioritas maupun jadwal kesibukan kita.

Tidak semua hal yang kelihatannya baik itu penting, jadi kita perlu menyadari apa yang harus jadi prioritas dan apa yang harus kita beri perhatian dan upaya lebih. Mengidentifikasi skala kepentingan akan menolong kita mampu berkata “tidak” tanpa merasa bersalah.

2. Bersikap jelas dan hormat

Sebagai pengikut Yesus kita dipanggil untuk “rendah hati, lemah lembut, dan sabar” (Efesus 4:2-3). Kita juga diajar untuk tidak mengasihi dengan pura-pura dan saling menghormati (Roma 12:9-10).

Inilah beberapa cara agar kita dapat berkata “tidak” sembari tetap bersikap hormat:

  • Pilih waktu dan tempat yang tepat (contoh: bicarakan di tempat tertutup jika isunya sensitif)
  • Ucapkan terima kasih untuk permohonan minta tolong mereka (contoh, “makasih ya buat ide atau permintaamu, tapi aku nggak yakin bisa komit buat ngelakuinnya.”) Mengucapkan kata-kata seperti ini menolongmu menekankan penjelasan bahwa kamu menolak permintaannya, bukan orangnya.
  • Berikan mereka kesempatan untuk menanggapi apa yang kamu katakan, dan akui jawaban mereka agar mereka merasa didengarkan.

Kadang ada orang lain yang memintamu untuk memikirkan kembali sikapmu, tapi jika kamu sudah jelas dan yakin dengan jawaban “tidak”-mu, tetaplah teguh pada pendirianmu dan dengan rendah hati tanggapi orang tersebut dengan memberi penjelasan di balik sikapmu.

Bersikap tidak jelas alias iya tapi enggak, atau lebih parahnya: menghilang tiba-tiba bukanlah respons yang memberi kejelasan ataupun menghormati. Memberi respons berupa “nanti aku kabarin lagi ya” tanpa ada niatan untuk menindaklanjuti pun merupakan sikap ketidakjujuran yang bisa memberikan seseorang harapan palsu.

3. Jangan menyerah hanya karena rasa takut

Ada banyak alasan yang membuat kita takut berkata “tidak”. Bisa jadi kita takut ditinggalkan, terkhusus jika kita ada di kelompok yang orang-orang selalu berkata “iya”.

Atau, bisa juga kita takut menentang sosok berotoritas dalam hidup kita (orang tua, atau bos), terkhusus apabila berkata “tidak” dianggap sebagai respons yang tidak sopan yang efeknya membuat kita dipandang sebelah mata.

Namun ingatlah bahwa kita semua adalah orang-orang berbeda yang punya prioritas dan kapasitas yang berbeda pula. Sebelum merespons, ambil waktu sebentar untuk berpikir bagaimana menyatakan peran, tanggung jawab, dan kesibukan kita dengan hormat. Kita juga dapat mempraktikkan berkata “tidak” dengan nada yang jelas dan tegas, untuk menunjukkan bahwa kita masih menaruh hormat pada mereka meskipun tidak bisa memenuhi permintaannya.

Takut mengecewakan seseorang bisa jadi godaan terbesar kita untuk terpaksa berkata “ya”, tapi jika kita lantas melakukannya setengah hati, sama saja kita telah bersikap bohong pada diri kita dan orang lain.

Aku ingat aku pernah menolak undangan seorang teman lelaki untuk kencan ketika aku tahu bahwa relasi pacaran kami tidak akan mengarah ke pernikahan. Untuk melakukannya, aku menunjukkan kejelasan apa yang aku butuhkan dalam sosok pasangan hidupku dan menekankan padanya mengapa putus adalah pilihan yang paling baik buat kami berdua.

Memiliki kejelasan akan apa yang kita mau dan apa yang penting bagi kita akan menolong kita menegaskan batasan-batasan, sekaligus membuat kita berani berkata “tidak”.

Di saat yang sama, kita juga perlu menerima kemungkinan bahwa penolakan bisa membuat seseorang menjauh dari kita. Tapi, jika kita dengan hormat berkata “tidak” untuk alasan yang benar, maka kita tidak perlu merasa bersalah. Malah, kita dapat belajar untuk dengan belas kasih memberikan ruang dan waktu bagi orang tersebut untuk memproses penolakan kita.

4. Carilah bimbingan ketika ragu

Kalau kamu tidak yakin apa yang harus kamu lakukan, atau kamu khawatir responsmu akan melukai seseorang, kamu bisa meminta masukan dari teman yang kamu percaya atau mentor rohanimu. Nasihat dari orang lain menolongmu untuk memastikan bahwa kamu telah menilai situasimu dnegan benar, dan kamu paham akan dampak penolakanmu terhadap seseorang.

Aku pernah dimintai nasihat dari temanku ketika dia sedang didekati oleh seorang pria. Setelah beberapa kali pertemuan, kami mengonfirmasi perasaan yang sama bahwa pria itu tidak cocok untuknya. Temanku memutuskan untuk menolak pria itu, tapi dia meminta bantuanku untuk menata kata-kata agar tetap sopan dan jelas.
Saat kita saling menanggung beban (Galatia 6:2), tolonglah satu sama lain untuk mengambil keputusan yang bijaksana, menerima atau menolak dengan cara yang layak. Bersama-sama, kita dapat saling mengingatkan untuk menaikkan segala sesuatu dalam doa pada Tuhan karena kita tahu Dia mendengar dan akan memberikan yang terbaik bagi semua orang. Memahami ini akan menolong kita terbebas dari mengandalkan diri sendiri dan menuntun kita mengalami kedamaian-Nya yang akan menjaga hati dan pikiran (Filipi 4:6-7).

Mungkin tetap sulit berkata “tidak”, tapi ingatlah kita bisa melakukannya dengan cara yang bijaksana dan mengasihi demi menjaga relasi yang sehat, sekaligus membebaskan kita dari ekspektasi berlebihan dari orang lain. Marilah kita terus berusaha bersikap jujur dan peduli kepada orang lain agar kita memancarkan kasih Allah.

Hati-hati dengan Hal-hal yang Merusak Pertemanan

Teman itu bukan sekadar status. Bersama mereka, kita berbagi berbagai hal dan rasa. Kita butuh teman untuk curhat, makan bareng, bikin project, juga berbagi suka dan duka.

Namun, tak semua pertemanan berjalan mulus dan langgeng. Ada hal-hal yang jika tidak kita sadari dan atasi akan berpotensi merusak pertemanan kita.

Bagaimana relasimu dengan teman-temanmu? Hal-hal apa saja yang menurutmu penting dilakukan untuk menjadikan pertemananmu sehat dan bertumbuh?

Artspace ini dibuat oleh @clara_draws18 dan diterjemahkan dari @ymi_today

Prison Playbook: Dua Hal yang Kupelajari Tentang Komunitas

Oleh Fernando Chandra

Aku bukanlah penggemar drama Korea karena menurutku untuk menghabiskan satu season-nya butuh waktu cukup lama sedangkan aku bukan tipe orang yang suka menonton serial secara putus-putus. Namun, karena melihat cuplikan-cuplikan di media sosial, aku memutuskan untuk menonton satu serial drakor berjudul Prison Playbook atau Wise Person Life.

Serial ini dirilis pada tahun 2017 dan mendapatkan tanggapan positif. Cerita utama yang diangkat adalah tentang Kim Je Hyeok, seorang atlet bisbol berprestasi yang hendak dikontrak oleh tim bisbol profesional dari Amerika. Tapi, sebelum kontrak ditandatangani, Je Hyeok malah tersandung kasus hukum saat hendak membela adiknya yang terancam pelecehan seksual oleh seorang pria. Selama berada di penjara, Je Hyeok beradaptasi dan berbagi hidup dengan para narapidana lain dari berbagai kasus.

Jika biasanya drama korea berkutat seputar romantisme, Prison Playbook banyak diisi dengan komedi. Namun, setelah menontonnya, kupikir film ini lebih dari sekadar komedi. Ada beberapa hal yang kudapatkan dan kurasa perlu kita renungkan lebih jauh.

Pertama, prasangka terhadap orang lain. Adegan penyiar radio mungkin jadi salah satu adegan yang kurang mendapat perhatian. Bahkan sampai episode terakhir, wajah dari penyiar radio tak juga diperlihatkan. Ada sepenggal perkataan dari si penyiar yang menarik perhatianku. Dia berkata bahwa hal yang tidak disukai orang-orang, termasuk para narapidana adalah prasangka. Ada narapidana yang kelihatannya melakukan kejahatan besar, tapi sebenarnya dia telah berubah. Sebaliknya, ada narapidana yang terlihat baik di awal, tetapi justru menjadi tokoh antagonis di akhir film ini.

Tidak semua orang hidup berdasarkan cerita yang kita dengar dari orang lain. Ada alasan (bukan pembenaran) mengapa seseorang melakukan suatu tindakan. Ketidaktahuan kita akan alasan inilah yang dapat mendorong kita untuk terjebak dalam prasangka, alias melabeli seseorang dengan asumsi kita sendiri yang belum tentu akurat. Sebelum memutuskan untuk menjauhi seseorang, kita dapat belajar untuk memahami dan mendengar lebih dulu kisahnya. Setiap orang perlu untuk dipahami dan didengar, tidak hanya dihakimi berdasarkan rumor yang tersebar di komunitas.

Kedua, tentang orang-orang yang ada di sekitar kita. Kehidupan Kim Je Hyeok selama di penjara mempertemukannya dengan berbagai macam karakter orang. Tidak semua orang bersikap baik. Ada yang berusaha melukai dan berbuat jahat, tetapi ada juga orang-orang yang membantu, mendukungnya ketika dia ada dalam kondisi terpuruk. Mereka yang membantu bukanlah orang-orang sempurna. Status narapidana mereka adalah salah satu bukti dari fakta ini. Namun, bagian favoritku dalam film ini adalah ketika para orang tak sempurna ini rela saling tolong-menolong dalam kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki.

Aku percaya, setiap orang yang kita temui dalam kehidupan kita bukanlah sebuah pertemuan yang hanya sekadar lalu. Mereka adalah orang-orang yang Tuhan letakkan dalam hidup kita. Mungkin mereka orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Mungkin juga mereka adalah orang-orang yang kelak akan membantu kita. Ada yang akan menolong kita dalam waktu yang lama, tetapi ada juga yang hanya sementara. Kita tidak tahu berapa lama waktu yang Tuhan berikan bagi kita untuk menikmati kebersamaan yang ada. Pun kita bisa saja pernah mendengar hal buruk, namun sebelum menghakimi kita dapat memilih untuk mendengar dan memahami lebih dulu.

Komunitas ada bukan untuk menghakimi, tetapi membentuk seseorang. Penerimaan terhadap orang lain bukan berarti pembenaran atas sikap yang salah, melainkan jadi kesempatan bagi kita untuk membantu menyadari apa yang perlu diperbaiki.

Bersediakah kita membuka diri untuk orang lain?

Dilema Circle Pertemanan: Antara yang Menyenangkan dan yang Membangun

Oleh Desy Dina Vianney, Medan

“Hei!” Elva berteriak pelan sambil menepuk kedua tangannya di depan wajahku. Aku yang sedang terkantuk-kantuk langsung terkejut setengah mati.

“Udah ngantuk aja, neng, pagi-pagi gini! Tadi datang hampir telat pula.”

Aku hanya menguap menanggapinya, kemudian kembali berusaha konsentrasi dengan layar laptopku.

Elva geleng-geleng lalu berjalan melewati meja kerjaku. Beberapa saat kemudian dia kembali membawa dua gelas kopi dan meletakkan salah satunya di sebelah laptopku. Ia pun duduk di bangkunya. Tidak perlu waktu lama, aku langsung meraih gelas kopi itu.

“Aku cuma tidur dua jam tadi,” kataku dengan nada malas.

“Kok bisa? Emang semalam ngapain?”

“Ngerjain deadline.”

“Emang weekend ngapain? Kenapa baru kerjain tadi malam?”

Aku menghela napas. Enggan memberitahu, karena aku sudah tahu apa respons Elva nanti, namun akhirnya kujawab juga pertanyaannya.

“Sabtu kemarin aku staycation sama teman-teman. Baru pulang tadi malam.” Kujawab dengan nada yang kuusahakan santai.

“Sama circle-mu itu? Bukannya minggu lalu juga habis glamping bareng mereka?”

Aku tidak mengangguk atau menggeleng karena Elva pasti sudah tahu jelas jawabannya. Ya, aku memang pergi dengan mereka minggu lalu, dan minggu lalunya lagi. Namun aku memilih diam, enggan menjawab pertanyaannya.

“Bukannya kamu bilang ada jadwal pelayanan hari Minggu?” Elva menembakku pertanyaan lagi.

“Aku minta tolong tukeran sama yang lain.”

Elva diam mengamatiku yang menjawab pertanyaannya dengan santai. Sebenarnya, aku hanya berusaha untuk terlihat tidak terlalu merasa bersalah, sih. Namun, jawabanku itu malah membuat Elva tak berhenti menatapku. Lama-lama tak tahan juga aku dengan tatapannya.

Akhirnya kuhadapkan tubuhku ke depannya. “Ya gimana.. Kamu tahu aku segan banget buat nolak.” Elva masih dalam mode diamnya mengamatiku. “Mereka selalu pesan tempat duluan untuk aku, jadi nggak mungkin kan aku nggak ikutan?”

“Nad, seriously! Kamu benar-benar merasa tepat ada di circle itu?” Lagi-lagi pertanyaan itu yang keluar dari Elva. Pertanyaan yang entah sudah berapa kali kudengar darinya. Huft..

“Udahlah, Va. Kita udah berulang kali membahas hal ini.”

Absolutely! Kita udah berulang kali membahas hal ini, tapi kamu tidak pernah menjawab pertanyaanku itu kan?”

Aku hanya diam. Entah harus menjawab apa.

“Nad, aku memang bukan orang yang punya hak untuk melarangmu bergaul dengan siapa atau melakukan apapun.” Sekarang Elva sudah terlihat lebih tenang. Dia mulai menasihatiku dengan nada lembut. “Tapi, sebagai orang yang bertemu kamu setiap hari selama 5 tahun ini, dan yang menganggapmu sebagai sahabat, aku cuma pengen kamu pikirin ulang circle pertemananmu itu. Tanpa sama sekali bermaksud negatif, aku melihat sendiri apa saja hal yang selama ini sudah kamu abaikan dan kamu kesampingkan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Kita berdua tahu ini bukan soal pergi staycation atau pergi healing setiap Minggu atau bahkan setiap hari… Tapi Nad, kalau circle pertemananmu seperti itu dan malah membuatmu mengabaikan hal-hal penting lainnya, bahkan perasaanmu sendiri, bukankah seharusnya kita perlu memikirkan ulang tentang hal itu?”

Aku tercenung mencerna ucapan Elva. Samar-samar, kudengar seseorang memanggil Elva. Sebelum ia beranjak, ia menyempatkan diri berkata, “Aku tahu hal ini sudah sangat sering aku katakan, tapi tolong kamu pikirkan ulang ya..” Lalu Elva menyentuk bahuku dengan pelan dan memberi ucapan terakhir yang semakin menjadi perenunganku. “Apakah circle pertemananmu itu membuatmu merasa menjadi pribadi yang lebih baik, atau sebaliknya?”

Setelah kepergiannya, aku menghembuskan napas kasar. Pandanganku masih lurus ke layar laptop, tapi pikiranku bekerja keras. Ucapan Elva benar-benar membuatku tak bisa berkutik.

Sejujurnya, walau aku sering mengingkari ucapan Elva, aku tahu ucapannya benar. Elva berkali-kali memintaku untuk memikirkan ulang gaya pertemanan dalam circle itu, tapi aku selalu berusaha mencari pembenaran atau pembelaan karena aku suka berada di antara mereka. Menghabiskan waktu bersama mereka terasa menyenangkan, seolah hanya ada tawa dan kesenangan saat bersama mereka. Kami melakukan banyak hal seru, bahkan sampai sering menghabiskan uang dalam jumlah banyak. Ya, kami tidak memikirkan apa-apa, seolah-olah kami hidup hanya untuk hari ini.

Namun tidak kupungkiri, bersama mereka rasanya aku tidak melangkah kemana-mana. Aku sudah menyadari hal ini sejak beberapa waktu lalu, tapi rasanya sulit untuk keluar. Aku seperti terjebak dalam hubungan pertemanan kami yang terasa menyenangkan.

Kami saling menerima satu sama lain, namun kami tidak saling mendorong untuk maju. Kami saling mengabaikan kesalahan masing-masing, sehingga tidak berusaha memperbaiki kesalahan atau mengubah kebiasaan buruk kami. Kami juga jarang membicarakan masalah yang sedang dialami, sehingga kami tidak belajar untuk mencari jalan keluar.

Intinya, kami hanya fokus pada pertemuan dan obrolan yang menyenangkan, dan berusaha menjaga keutuhan kelompok ini dengan menghindari kemungkinan adanya konflik. Padahal aku tahu, konflik dalam hubungan pertemanan merupakan salah satu aspek yang dapat membangun satu dengan lainnya. Namun selama ini, aku dan circle pertemananku itu tidak pernah menyelesaikan konflik, justru cenderung menghindarinya. Dan aku sadar, selama 6 tahun berteman dengan mereka, ternyata kami tidak melangkah kemana-mana.

Sekali lagi aku menghela napas kasar. Kali ini sambil kupijat keningku.

“Keras amat helaan napasnya, kayak mau dipaksa nikah buat lunasin hutang aja.” Elva meledekku sambil terkekeh. Sejak kapan dia kembali ke mejanya?

Aku pura-pura melotot, namun hal itu membuat Elva semakin tertawa. Lalu kupasang wajah serius dan kutatap matanya, seolah dari sana aku bisa mendapatkan kepercayaan diri untuk mengambil keputusan yang sekarang ada di benakku.

“Va, kamu bantu aku ya…” Aku memulai dengan penuh harap. Elva mulai memfokuskan dirinya padaku dengan serius. “Aku rasa ucapanmu benar. Aku tidak merasa menjadi lebih baik dalam circle pertemananku itu, justru aku merasa apa yang sudah baik dalam diriku menjadi kendor… Aku mau coba untuk menjaga batas pertemanan dengan mereka. Aku mau belajar lebih tegas terhadap diriku sendiri. Kamu mau kan bantu dan ingetin aku?”

Setelah beberapa detik hanya menatapku, Elva tersenyum. “Tentu, Nadya. Tentu. Pelan-pelan aja.. Toh kamu bukan menghilang dan memutuskan hubungan dengan mereka, kan.. Kamu tetap berteman, hanya saja kali ini kamu akan belajar tegas dalam hubungan itu.” Lalu Elva menepuk bahuku dengan lembut. “Aku bangga sama keputusanmu. Apa yang pengen kamu lakuin itu pasti nggak akan mudah, Nad. Tapi, aku akan mendukungmu.”

Aku tersenyum tulus. Sungguh bersyukur memiliki Elva sebagai teman yang peduli akan kebaikanku dan berani menegurku dengan kasih. Dan sekarang aku sadar, betapa besarnya pengaruh seorang teman dalam menentukan akan melangkah kemana aku nanti.

“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” (Amsal 13:20).

Hal-hal yang Receh dan Kerap Diabaikan, Di Sanalah Ladang Subur untuk Menanam Kebaikan

Oleh Agustinus Ryanto

Hari-hari anak muda yang telah lulus kuliah dan bekerja tidak lagi seseru dulu. Meski tak semua anak muda merasa begitu, itulah yang kualami beberapa tahun ke belakang. Di umur yang masih muda ini aku sudah punya sakit lambung, dan jumlah temanku pun mulai menyusut seiring dengan banyak di antara mereka yang menikah atau merantau ke lain kota.

Tahun kemarin, untuk merayakan hari ulang tahunku, aku mentraktir diriku sendiri. “Beli burger vegan ah!” celetuk otakku. Burger ini ukurannya lumayan besar. Meskipun tidak ada daging hewani sama sekali, tapi menyantapnya sampai habis sungguh membuat perutku kenyang.

Setengah jam pasca tuntas memakan burger itu, aku merasa ada yang tidak beres dengan perutku. “Dung…dung…” suara kembung dan begah saat ditepuk. Meski kembung setelah makan adalah hal normal, tapi instingku merasa ini bukan kembung yang wajar… apalagi aku memang sejak 2019 aku mengidap gerd. Kutunggulah sampai beberapa jam ke depan, tapi kembungnya tidak hilang-hilang. Malahan, muncul rasa mual dan sesak. Napasku jadi pendek-pendek.

Sampai empat hari berselang, kembungnya tidak benar-benar hilang dan perasaanku selalu mual. Kuputuskan untuk menemui dokter spesialis langgananku.

“Hayo, kenapa lagi ini?” dokter ini sudah hafal denganku karena memang aku sering kontrol dengannya.

“Iya dok, ini, kemarin Kamis saya sesek di dada. Di tenggorokan banyak lendir. Terus perutnya kembung terus, gak enak,” tuturku mendetail sambil batuk. “Nah dok, ada batuk juga sih ini. Berasa banyak lendir tapi susah dikeluarin.”

“Jangan dipaksa. Jangan didehemin. Nanti takutnya luka tenggorokannya. Coba duduk sini.”

Di kursi yang mirip dengan kursi dokter gigi, alat seperti pistol air dengan ujung runcing dimasukkan ke mulutku. Di pucuknya ada kamera. Lalu muncullah citra isi tenggorokanku di monitor.

“Nah, ini radang. Bengkak laring kamu.”

“Kok bisa, dok?”

“Ini gara-gara lambung,” katanya. “Asam lambung kamu naik, jadi dinding kerongkonganmu itu memproduksi lendir untuk melindungi diri. Cuma lendirnya banyak, dan tenggorokanmu radang. Lendirnya jadi nyangkut, itu yang bikin sesak napas.”

“Lambung lagi lambung lagi,” gumamku. Sesi singkat di ruang praktik itu perlu ditebus dengan harga 200 ribu: 150 ribu untuk konsultasi dokter dan 50 ribu untuk endoskopi. Aku diberi resep empat obat. Total uang yang kukeluarkan hari itu 460 ribu. Angka yang cukup besar di tanggal yang hampir tua. Sialnya, bulan itu tidak ada anggaran yang kualokasikan untuk uang darurat.

Sepulang dari dokter, semua peristiwa di ruang praktik tadi kuceritakan pada kawan di grup WhatsApp yang isinya cuma tiga orang: aku, dan sebut saja Yos, dan Jon.

Yos menanggapi dengan serius. Jam sebelas malam, dia meneleponku dan mendoakanku. “Sembuh ya, udah jangan terlalu dipikirin. Nanti Sabtu pulang aja udah jangan di kosan, ketemu kita.” Tawaran yang menggiurkan, tapi kutolak lembut. “Iya pengen sih, tapi bulan depan aja deh.”

Berbeda dengan Yos, si Jon ini memang yang paling petakilan polahnya. “Lah mahal juga itu berobat. Memang gak bisa dicover asuransi?” tanyanya.

“Kaga bisa. Asuransi gua cuma bisa berlaku rawat inap. Kudu ngendog dulu di IGD minimal 6 jam.”

“Ya udah atuh lu ke RS, opname aja,” ketiknya datar tanpa emoticon apa pun.

“Pret..” balasku dengan agak kesal. Kok sakitnya orang dijadikan candaan. “Opname tuh ribet, gak gampang. Terus kerjaan gimana kalau sampai opname?”

“Wkwk” balasnya.

Aku tidak ada ekspektasi apa pun dari sesi curhat malam itu, terlebih ekspektasi kepada si Jon. Mereka membalas dan menyimak pun aku sudah senang. Jelang jam 12, aku tidur duluan.

Kira-kira tiga hari setelahnya, aku pergi ke ATM untuk menarik uang. Seingatku, jika kutarik uang hari ini saldonya harusnya di bawah 10 ribu. “Loh….kok ada segini?” Terhenyak aku. Kok saldonya jauh lebih besar dari perkiraan. Sudah kutarik kok tidak berkurang?

Kuingat-ingat apakah ada orang yang berutang lalu bayar diam-diam, rasanya tidak ada. Lalu kuceklah mutasi saldo selama seminggu ke belakang. Rupanya di malam saat aku curhat, si Jon mentransferku uang.

“Eh, lu kok transfer gua uang?” kutanya si Jon lewat WhatsApp.

“Uang apa? Gua gak tau,” jawabnya pura-pura.

Kutanya lagi, jawabannya tetap sama: “gak tau” tanpa tanda baca ataupun emoticon.

“Udah, ambil aja itu duitnya,” ketiknya lagi. “Nanti bayarnya 10 tahun lagi aja, kalau bisa bayar 10x lipat ya.”

“Ih, gak mau lah! Itu kalau elu salah transfer, gua mau transfer balik ya.”

“Nggak, itu buat elu. Terima aja.”

Dari lima bahasa kasih, temanku si Jon ini memang paling kurang di kata-kata. Dia sukanya ceplas-ceplos, tapi dia jadi orang yang tampil apa adanya, terutama dalam hal mengkritik orang lain. Karena kami telah berteman lebih dari dua puluh tahun, candaan-candaannya tak pernah lagi jadi soal yang membuatku tersinggung. Akan beda cerita jika aku baru mengenalnya kemarin sore, mungkin aku akan tersinggung dan berpikir kalau orang ini tak punya hati.

Hari itu, setelah aku pulang dari ATM untuk mengambil uang, aku merenungkan tindakan kasih yang dilakukan Si Jon. Karena harus berobat mendadak, uangku jadi berkurang dan ada pos-pos anggaran yang harus aku ubah alokasinya. Tetapi, melalui si Jon aku merasakan betapa Tuhan peduli padaku, dan Tuhan juga selalu punya cara untuk menolong umat-Nya.

Setiap kita punya cara yang berbeda dalam merespons cerita seseorang. Namun, pada hari ketika aku cuma sekadar curhat, si Jon belajar peka terhadap apa yang jadi persoalan di balik ceritaku—bahwa bulan itu aku sakit dan kekurangan dana. Curhatanku tidak dianggapnya enteng, meskipun saat itu dia mengetik guyonan yang kuanggap tak sensitif. Empatinya mewujud dalam tindakan. Dia tahu kalau dalam kisah persahabatan kami, akulah yang punya pendapatan paling rendah. Memang, uang yang kukeluarkan tidak membuatku jadi makan nasi hanya dengan garam dan kecap, tapi itu cukup menguras tabunganku yang bisa kupakai untuk banyak hal lain. Nominal uang yang ditransfernya adalah wujud ungkapan empati yang nyata.

Dari pengalaman ini aku belajar mendengarkan ketika orang lain mengizinkanku untuk menjadi tempat curhat mereka. Setelahnya, aku juga belajar peka: pertolongan apakah yang bisa kuberikan? Aku berdoa lebih dulu memohon agar Tuhan memberiku hikmat mengenai pertolongan apa yang bisa kuberi. Namun, perlu digarisbawahi di sini bahwa peka tidak berarti kita memaksa untuk memberi pertolongan apabila keadaan tidak memungkinkan atau yang bersangkutan menolak untuk ditolong. Semisal, pada saat temanku cerita akan beratnya perjuangannya merawat orang tuanya di rumah sakit dia pasti lelah dan butuh makanan sehat, tapi dia juga tentu sibuk untuk mengurus banyak urusan. Jadi, ketika aku tergerak menolongnya aku bertanya, “Aku pengen kirim sesuatu buat kamu. Kira-kira kamu lagi butuh apa?” Temanku menjawab kalau dia ingin makanan sehat dan berserat karena tubuhnya lelah, tetapi siang itu dia masih sibuk mengurus urusan administrasi jadi tak memungkinkan untuk turun ke lobi dan menemui ojol. Makanan pun kukirim di malam hari. Dia menerima pemberian itu dengan senang hati.

Menolong dan ditolong adalah dua hal yang berkenan bagi Tuhan, yang sama-sama baik nilainya. Ditolong tidak berarti kita lebih buruk daripada yang menolong, sebab semua manusia setara di mata Allah dan tolong-menolong sejatinya tidak bicara soal status. Allah selalu menolong kita melalui berbagai cara, dan bahkan Dia peduli pada setiap hal kecil yang sejatinya kita butuhkan tapi kadang tak kita sadari. Ketika Elia diutus-Nya untuk menyampaikan nubuatan berupa kekeringan hebat, Allah memelihara Elia dengan memberinya air dari anak sungai dan burung gagak membawakan makanan untuknya (1 Raja-raja 17:4). Ketika Yunus terombang-ambing di lautan yang bergelora, Allah mengirim seekor ikan besar bukan untuk membunuh Yunus, tetapi menyelamatkannya sampai ia dimuntahkan pada keadaan laut yang lebih tenang (Yunus 1:17). Ketika sepasang pengantin kehabisan anggur pada pesta perkawinannya, Yesus pun menyatakan mukjizat-Nya dengan mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11).

Kita semua adalah perpanjangan tangan-Nya untuk menolong orang lain. Saat kita memiliki sesuatu yang lebih—tak melulu soal uang—kita bisa membagikannya kepada mereka yang Tuhan letakkan namanya di hati kita.