Posts

Cerpen: Aku (Bukan) Si Pelit

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Bukan rahasia lagi kalau aku dikenal konservatif dalam berbagai hal terlebih untuk urusan berbagi sampai-sampai temanku sering menyebutku “Anggi si pelit”. Gelar baru itu kudapat sehubungan dengan kebiasaanku yang sangat berhati-hati dalam memberikan sesuatu baik barang atau jasa.

Semasa kecil, aku akan sangat mudah mengatakan “tidak” untuk teman-teman yang meminjam pulpen atau mainanku. “Nanti mamaku marah,” “Aku masih memakainya,” atau lebih ekstrem sampai berbohong, “Aku hanya punya satu.” Aku selalu mencari alasan agar apa yang ada padaku tidak dipakai atau diminta orang lain.

Beranjak remaja dan kuliah, berbagai kecenderungan egoisku semakin kentara. Aku terkesan tidak mau sharing apa yang sudah kuketahui, tapi sebaliknya aku akan sedikit memaksa teman-temanku menjelaskan hal-hal yang tidak kumengerti. Dalam hal keuangan, aku juga begitu. Saat ada kegiatan di luar kampus, aku kadang memilih menumpang pada teman jadi uang bensinnya tidak kutanggung sendiri. Aku juga sering keberatan saat kami harus mengumpulkan uang untuk merayakan ulang tahun dosen atau teman sekelas. Dulu aku mencoba berdalih kalau semua itu kulakukan hanya untuk menghemat dan bersikap bijaksana dengan uang atau barang-barang yang kumiliki. Belakangan, sepertinya teman-temanku tidak lagi mengenal karakterku yang lain, mereka hanya mengingatku sebagai pribadi yang susah berbagi.

Aku mengakui dalam beberapa sisi hidupku, julukan ini ada benarnya, namun aku tidak nyaman kalau pada akhirnya keseluruhan hidupku disimpulkan dengan satu label negatif tersebut. Teman-temanku seharusnya bisa melihat bagaimana aku selalu berusaha menepati hal-hal yang kujanjikan, aku juga bisa mengerjakan bagianku dengan bertanggung jawab. Untuk urusan keuangan, menurutku aku bisa mengendalikan diri untuk membedakan kebutuhan dan keinginan. Dalam hal berbagi, aku pun sudah mulai belajar. Di masa pandemi lalu beberapa kali aku mengirimkan sesuatu untuk teman dan saudara yang sedang melakukan isoman. Akhir-akhir ini aku bahkan memilih mengontrak bersama teman-teman kerjaku agar bisa berbagi pakai barang dengan mereka. Aku minta maaf jika ini terkesan sesumbar, tapi aku juga ingin mereka menyadari ada sisi baik dari diriku.

Aku yakin kalau aku bukan satu-satunya orang yang merasa terganggu dengan muatan identitas baik berupa label negatif atau positif. Tidak hanya dari orang lain, kita sendiri pun terkadang mau memberikan label tertentu pada diri kita. Mungkin kita adalah “Si A Ekstrovert”, selalu ceria dan dianggap aneh jika terlihat murung. Boleh jadi juga kita menamai diri sebagai “Si B Introvert” yang bisa menjaga rahasia, jadi teman-teman sering curhat padahal kita sedang tidak siap mendengar. Barangkali kita lebih mirip dengan julukan “Si C yang menyenangkan”, enggan menolak karena khawatir melukai perasaan orang lain. Atau justru kita “Si D” yang cenderung mengatakan pikiran kita terlebih saat tidak setuju
atau tidak suka dengan sesuatu sehingga dijuluki si pemarah dan sulit diajak kompromi.

Tidak hanya berisi kesan negatif, label yang melekat pada seseorang juga ternyata ada yang berdampak baik. Contohnya dalam penelitian “The Saints and the Roughnecks” yang dilakukan sosiolog J. Chambliss. Penelitian ini mengamati dua kelompok remaja, yang sering melakukan kenakalan seperti bolos sekolah, mengkonsumsi alkohol di sekolah, melakukan vandalisme dan mencuri. Meski sama-sama nakal, masyarakat sekitar mencoba memberikan label yang berbeda bagi keduanya, yang satu sebagai “The Saints” (Orang Baik) dan yang lain dengan julukan “The Roughnecks” (orang Kasar). Dari hasil observasinya selama dua tahun, ia menemukan bahwa 7 dari 8 remaja kelompok The Saints bisa berubah. Sebaliknya, anak-anak yang berada dalam kelompok The Roughnecks tetap hidup dengan kenakalan mereka. Hasil ini tampak sejalan dengan teori pelabelan di mana dikatakan pada dasarnya jika seseorang berulang kali diberitahu/dicap dengan “sesuatu yang negatif atau sesuatu yang positif,” maka pada akhirnya dia akan cenderung memenuhi label tersebut.

Dari Alkitab kita juga bisa belajar bahwa baik penyebutannya bernilai baik atau buruk, label apapun yang melekat pada diri seseorang tidak bisa dipakai untuk menggambarkan keseluruhan hidup seseorang. Akhir kisah Thomas pasti jauh berbeda seandainya Tuhan Yesus hanya memandangnya sebagai “Si tukang ragu-ragu” atau “Pribadi yang sulit percaya.” Sebaliknya, Ia memberi kesempatan pada Thomas untuk mengulurkan dan mencucukkan jarinya ke lambung-Nya (Yohanes 20:24-29). Atau seperti cerita Simon yang bertemu dengan Yesus dan dinamai Kefas yang artinya Petrus (Yohanes 1:40-42). Kefas adalah nama dalam Bahasa Aram untuk Yunani Petrus yang secara harfiah artinya “Batu” atau “Batu Karang”.

Kita pasti setuju sebutan “Batu Karang” menggambarkan stabilitas atau keteguhan. Namun, tampaknya penyebutan ini bertentangan tidak saja dengan kepribadiannya, tetapi juga dengan sejumlah peristiwa dalam kehidupan Petrus di hari-hari selanjutnya ia bersama Yesus. Dalam Lukas 5 kita bisa membaca bagaimana ia akhirnya menuruti perintah Yesus untuk kembali menyebarkan jala meskipun sempat mempertanyakannya. Di lain hari, dengan kuasa-Nya Petrus berhasil berjalan di atas air hingga keraguannya membuat ia mulai tenggelam. (Matius 14:22-33) Kita juga tidak asing dengan kisah sebelum ayam berkokok. Petrus, “Si Batu Karang yang Teguh” menyangkal bahwa dia mengenal Yesus (Lukas 22:54-62).

Tidak hanya berlaku bagi Simon dan Petrus. Entah diberikan atau kita sendiri yang menyematkannya, julukan tidak selalu mewakili keseluruhan hidup kita. Perjalanan, pengalaman membawa kita mengalami pasang surut, termasuk dalam kepribadian dan karakter. Lebih dari itu kita juga harus mengetahui—terlepas dari apa yang telah atau belum kita lakukan—kuasa Allah cukup besar untuk membantu kita berubah. Tidak ada kesalahan atau dosa yang terlalu fatal untuk diampuni oleh anugerah-Nya. Tak satupun kebiasaan yang terlalu melekat untuk diubahkan oleh kasih-Nya. Ia sanggup membantu kita menghancurkan label yang menyandera kehidupan kita selama ini. Identitas kita tidak ditentukan oleh label atau pengakuan lain sejenisnya.

Kendati aku juga masih berjuang untuk tidak terpengaruh dengan label dan julukan diriku, aku berdoa semoga kamu juga merasakan kasih karunia Allah untuk menyingkirkan apapun label kejam yang membebanimu. Entah kamu seorang yang dikenal sebagai pecandu dan bergumul menyingkirkan hal-hal yang mengikatmu. Kamu yang sedang belajar untuk makan dengan benar dan olahraga teratur karena terganggu dengan mereka yang memanggilmu “Si Gemuk.” Kamu yang terus berusaha menikmati pekerjaanmu kendati sebagian keluarga menganggap pilihan kariermu kurang pas. Bahkan kamu yang selalu memperjuangkan hal-hal yang dampaknya mungkin tak kasat mata atau tidak berwujud.

Semoga Allah senantiasa menolong kamu dan aku untuk semakin menemukan kemerdekaan dalam kasih-Nya dan berjalan mendekati visi-Nya bagi kita masing-masing (Yeremia 29:11).

Soli Deo Gloria

“Aku Gak Suka Dipanggil Si Batak!” Sebuah Kisah tentang Streotip

Oleh Santi Jaya Hutabarat

“Aku tidak suka dipanggil “si Batak”, mamaku menamaiku Togar!” ucapnya kesal setiba di mes.

Aku kaget mendengar reaksinya itu, mengingat saat kejadian sebelumnya dia tidak berkomentar apapun.

“Si Batak tidak usah dikasih mic. Suaranya sudah besar kok sejak orok,” kata salah satu rekan kerja kami saat Togar diminta menyampaikan sambutan untuk teman-teman yang sedang berpuasa. Hari ini ada acara berbuka bersama dengan teman-teman beragama Islam dari tempat kami bekerja.

Menganggap hal itu sebagai gurauan yang biasa saja, kami menyambutnya dengan gelak tawa. Sebaliknya, Togar ternyata merasakan hal berbeda.

Di kantor, Togar terkenal dengan logatnya yang khas serta bicaranya yang kuat. Pria bermarga yang lahir dan dibesarkan di Dolok Sanggul, Sumatera Utara ini, memang bersuku Batak Toba. Jadi, menurutku wajar saja kalau ia dipanggil “si Batak”. Lagipula selama ini kami tidak tahu kalau dia tidak nyaman dengan panggilan dan gurauan kami tentang ke-batakannya itu.

“Aku kan bicara keras tidak dibuat-buat, begitulah caraku ngomong. Janggal kali kurasa kalau pelan-pelan, macam berbisik,” terangnya tanpa kuminta.

“Tapi memang kamu kan orang Batak, mengapa kamu tidak nyaman dipanggil begitu?” tanyaku memberanikan diri.

“Jadi kalau kamu kupanggil Padang “si manusia pelit” mau?” balasnya seperti menyerangku balik.

Aku tertegun. Dalam diam aku memikirkan bagaimana hal yang terkesan sepele ini bisa menyulut emosi Togar. Aku tidak tahu pasti sudah berapa lama dia tidak nyaman dengan stereotip yang kami anggap candaan itu, dan aku yakin rekan kerjaku yang lain juga tidak menyadari hal itu.

Tidak hanya merusak relasi, dalam dampak yang lebih besar, pemberian stereotip juga bisa menimbulkan masalah. Seperti salah satu kasus yang terjadi di 2020 silam. Saat itu, di tengah pandemi Covid-19 yang menghantam hampir seluruh dunia, perhatian publik tertuju pada kematian pria kulit hitam, George Floyd. Hal ini bermula dari penangkapan dirinya oleh oknum polisi karena diduga melakukan transaksi dengan uang palsu. Derek Chauvin, polisi yang menangkapnya, memborgol kedua tangan Floyd dan menjatuhkannya ke aspal. Ia juga menekan leher Floyd dengan lututnya sampai lemas dan menyebabkan Floyd meninggal dunia di rumah sakit.

Peristiwa George Floyd tidak hanya menggugah kesadaran publik tentang stereotip yang berujung pada tindakan diskriminasi, namun kerusuhan atas aksi demonstran juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Meski tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh adanya stereotip tertentu pada kulit hitam, kejadian ini mengingatkan kita bagaimana pandangan atau stereotip terhadap kelompok tertentu sangat membahayakan. Dalam kejadian ini, seseorang sampai kehilangan nyawanya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan stereotip berbentuk tetap atau berbentuk klise. Lebih lanjut didefinisikan bahwa stereotip merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tetap. Stereotip tidak sesederhana pandangan positif maupun negatif pada kelompok tertentu. Penyematan label-label tertentu pada etnis atau ras, gender, kelas sosial, usia, warna kulit, kebangsaan hingga agama tersebut, lahir dari anggapan yang dapat menimbulkan prasangka hingga diskriminasi.

Dalam konteks kehidupan kita sebagai umat Kristen di Indonesia yang sarat dengan perbedaan, beragam stereotip terhadap kelompok tertentu mungkin sudah sering kita dengar. Wajah ber-siku, mudah emosi, ngomong kasar, serta logat yang khas untuk suku batak Toba. Ada juga sebutan “si mata sipit dan kikir” pada etnis Tionghoa, “rambut keriting, kulit hitam” untuk teman-teman dari Timur, “Dang Jolma” (Batak Toba: tidak berkemanusiaan) bagi suku Nias, serta ragam penyebutan untuk suku dan ras lainnya. Di satu sisi penyebutan ini terkadang dianggap candaan, namun di sisi yang berbeda, hal ini juga bisa menimbulkan masalah dalam relasi.

Belajar dari hubungan orang Yahudi dan orang Samaria yang banyak sekat (Yohanes 4:9). Orang Yahudi memandang najis orang Samaria karena nenek moyang mereka yang melakukan kawin campur. Begitu juga orang Samaria menganggap orang Yahudi memegang ajaran yang salah karena berkeyakinan bahwa Taurat dan syariat Yahudi berasal dari Tuhan.

Lebih lanjut, kita juga dapat membaca kisah Natanael dalam Yohanes 1:45-46. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” tanya Natanael ragu saat Filipus mengaku bertemu dengan Mesias, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret. Tidak ada yang salah dengan Kota Nazaret, namun kota ini tidak pernah disebut sebagai kota asal sang Juru Selamat dalam nubuatan para nabi. Lain hal dengan Kota Betlehem, kota ini sudah dinubuatkan oleh Nabi Mikha bahwa akan bangkit seorang pemimpin bagi Israel (Mikha 5:1). Hal ini juga yang mungkin mendorong keraguan Natanael. Padahal Yesus lahir di kota Daud, Betlehem. Tetapi, demi penggenapan rancangan Allah, Yesus disebut orang Nazaret (Matius 2:23).

Tentang penggolongan, dalam pasalnya yang kedua dari ayat 1 sampai 4, Yakobus mengingatkan agar tidak ada pembedaan dalam hati yang membuat kita memperlakukan orang lain dengan berbeda. Yakobus memberikan nasihat agar tidak menilai dan memperlakukan seseorang berdasarkan penampilan atau kelas sosialnya.

Sama seperti pengalamanku dalam pertemananku dengan Togar, kita tidak pernah bisa mengetahui secara pasti bagaimana stereotip tertentu memberikan dampak bagi orang lain. Bagi sebagian orang, sebutan/panggilan tertentu mungkin terkesan biasa saja, namun untuk sebagian lainnya, penyebutan tersebut menyinggung atau mengganggu.

Yesus pun pernah menjadi korban dari prasangka. Ketika Dia menjumpai seorang perempuan Samaria di sumur Yakub, hal tersebut bukanlah tindakan lazim pada zaman itu, mengingat orang Yahudi tidak bergaul dengan perempuan Samaria. Komunikasi antara pria Yahudi dengan seorang perempuan Samaria tidaklah dibenarkan menurut budaya karena orang Samaria dianggap lebih rendah derajatnya. Belajar dari sikap Yesus yang mematahkan prasangka itu dengan hadir secara langsung dan bercakap dengan si perempuan Samaria, kita bisa memulai dengan belajar mengenal orang lain secara pribadi tanpa embel-embel stereotip tertentu.

Seperti keraguan Natanael yang terjawab setelah ia bertemu dengan Yesus, tentu saja pengenalan kita yang bersifat pribadi tidak boleh kita jadikan sebagai penilaian yang sama pada semua orang, meski mereka berasal dari daerah yang sama atau memiliki latar belakang yang mirip. Lebih dari itu, sebagai anak-anak Allah hendaknya kita juga terus belajar untuk mengasihi Allah dan sesama (Matius 22:37, 39) tanpa membeda-bedakan, sebab kita adalah satu di dalam Kristus Yesus (Galatia 3:28).

Soli Deo Gloria

Mengapa Harus Menegur Jika Bisa Membiarkan?

Oleh Toar Taufik Inref Luwuk, Minahasa

“Duuuh! Kamu gimana, sih. Harusnya nggak kaya gini…”

Mungkin beberapa dari kita ada yang menegur seperti itu ketika seseorang melakukan kesalahan atau ada juga yang memilih untuk mendiamkannya (tidak menegur). Padahal kita tahu kalau seseorang salah, kita punya kewajiban untuk mengingatkannya. Tapi, bagaimanakah cara kita menegur? Apakah teguran dapat menyadarkan dan memperbaiki kesalahan? Atau malah membuat seseorang itu jadi cuek terhadap kita (tidak peduli, sakit hati lalu pergi, dan semacamnya)?

Semua orang tak luput dari kesalahan atau melakukan dosa, tetapi tidak semua kesalahan dapat disadari. Oleh karena itu terkadang kita butuh bantuan orang lain untuk melihat kesalahan-kesalahan yang kita sendiri tidak menyadarinya.

Tapi, menegur memang bukan perkara mudah. Dari dulu sampai sekarang, aku kurang berani menegur orang sekalipun aku yakin teguranku itu benar. Aku khawatir akan respons orang tersebut setelah aku menegurnya, apakah mereka akan menerima teguran itu atau malah membenciku. Ditambah lagi, aku itu orangnya gak enakan. Padahal aku tahu bahwa ketika menegur, perasaan tidaklah jadi indikator utama.

Asumsi-asumsi itu menciptakan berbagai pertanyaan dalam benakku. Bagaimana cara menyampaikan teguran agar bisa diterima dengan baik? Kenapa harus aku yang terbeban melihat kesalahannya? Kenapa aku tidak bisa merasa “bodo amat” terhadap urusan orang lain? Sebagai orang Kristen, apakah menegur itu perlu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab lewat bacaan buku dan refleksi pribadi. Secara sederhana, teguran adalah bukti kasih kita kepada sesama karena setiap orang memiliki blind spot yang bisa menyeret seseorang ke dalam dosa. Tidak salah untuk menegur orang lain karena ini adalah tanggung jawab orang Kristen untuk saling menjaga. Sebaliknya, tidak menegur berarti mengabaikan tanggung jawab moral yang Allah berikan sebagai saudara seiman. 2 Timotius 4:2 “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Melalui ayat di atas, kita juga diingatkan bahwa menegur bukan berarti menjatuhkan, melainkan membantu orang lain menyadari kesalahannya, memperbaikinya, kemudian menjadi lebih baik dan serupa dengan Kristus.

Amsal 27:17 mengatakan “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Ayat ini mungkin sudah sangat familiar bagi orang Kristen. Jika membaca ayat ini, yang terlintas dalam benakku adalah konflik. Kenapa konflik? Tidak dipungkiri, teguran kadang mengantar kita pada konflik. Tetapi, konflik bukanlah hal yang tabu. Melalui konflik kita dapat saling menajamkan karakter dan hati sesama, tetapi tergantung bagaimana kita meresponi suatu konflik, apakah dengan berhikmat atau tidak. Amsal 10:13 “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.”

Oleh karena itu, ketika terjadi konflik, kita harus mengembangkan sikap hati yang peduli. Saling menegur adalah salah satu kunci untuk membentuk relasi yang sehat dan bertumbuh dalam Tuhan. Tapi kenyataannya, masih banyak dari kita yang memilih tidak menegur atau mungkin kita sudah menegur, tapi tidak diterima dengan baik. Meskipun ketika kita sudah menegur dengan baik tetapi teguran itu dimaknai lain, kita tidak boleh kecewa. Menegur adalah perbuatan baik dan harus dilakukan (Yakobus 4:17). Diterima atau tidaknya teguran merupakan campur tangan Allah. Bagian kita adalah memilih untuk menegur dalam kasih serta mendoakannya.

Dalam menegur, hal utama yang dibutuhkan adakah kasih, diikuti kedewasaan rohani (kebijaksanaan & hikmat) serta rasa tanggung jawab membimbing seseorang yang berbuat salah untuk memperbaiki kesalahannya dan menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi, bukan berarti si penegur tidak bisa kebal dari kesalahan. Paulus pun mengingatkan hal itu dalam Galatia 6:1 yang berkata:

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”

Setiap teguran yang hendak kita lontarkan harus didahului dengan tiga hal, yaitu fakta, firman Tuhan, dan doa.

Sebelum menegur seseorang, kita harus mengetahui dengan jelas dan rinci apa yang sebenarnya terjadi. Akan lebih baik jika kita tanya sudut pandangnya (ini membuktikan bahwa kita menghargai orang tersebut). Jika terbukti salah, kita dapat menegurnya di waktu yang tepat (Amsal 25:11) dan tentu saja dengan penuh kasih. Selain itu, usahakanlah untuk menegurnya secara pribadi, bukan di depan orang lain (Matius 18:15).

Aku teringat akan pembuatan sebuah pedang yang prosesnya panjang. Besi harus ditempa, dibentuk, dan dibakar hingga menghasilkan sebuah pedang tajam dan siap pakai. Demikian juga manusia, untuk menjadi seperti pedang yang tajam dan berguna, kita akan melalui proses panjang dan berat. Setiap teguran dan konflik adalah cara-cara Tuhan untuk membentuk kita agar kita siap dipakai dalam pekerjaan-Nya.

Ingatlah selalu, bahwa tujuan kita menegur seseorang bukan untuk menjatuhkan atau melampiaskan kekesalan kita atas perbuatannya, tapi karena kita mengasihinya dan kita rindu untuk sama-sama bertumbuh dalam Kristus.

Efesus 4:15 “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

*Tulisan ini dibuat terinspirasi dari Buku yang ditulis oleh Sen Sendjaya “Jadilah Pemimpin Demi Kristus” dalam topik Seni Menegur Pemimpin.

Persahabatan Lelaki dan Perempuan: Beneran Sahabat atau PDKT?

Oleh Jacq So
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can Guys and Girls Really Just Be Friends

Kebanyakan orang berpikir kalau persahabatan yang murni antara lelaki dan perempuan itu tidak mungkin. Film When Harry Met Sally menegaskan pemikiran itu: bahwa persahabatan lawan jenis tidak mungkin terjadi tanpa salah satu atau kedua belah pihak akhirnya saling jatuh cinta. Sementara itu, sepengetahuanku gereja biasanya melihat relasi antara laki-laki dan perempuan hanya sebatas pada apa yang boleh dan tidak.

Sebagai remaja yang sudah terpengaruh oleh pemikiran bahwa setiap lelaki bisa saja jadi jodohku, aku berteman dengan banyak lelaki dan memfilter manakah yang kira-kira cocok jadi jodohku. . Tapi, aku kesal karena bukannya menjadi sosok yang terlihat romantis, aku malah dianggap seolah jadi saudara perempuan sendiri.

Barulah ketika Tuhan menghadiahiku kesempatan untuk menjadi single kembali, aku menyadari betapa beruntungnya memiliki teman laki-laki yang benar-benar teman. Temanku datang untuk menemaniku, mengobrol selama berjam-jam. dan berbagi makanan dan film tanpa terjebak dalam romantisme. Aku menikmati banyak keuntungan untuk lebih mengenal secara natural, tanpa terjebak dalam upaya untuk membuat satu sama lain terkesan.

Yesus memberikan contoh tentang indahnya persahabatan lawan jenis. Dia dekat dengan sepasang saudari, Maria dan Marta dari Betania. Pada dua kesempatan, Yesus disambut hangat sebagai tamu di rumah mereka, dan mereka pun cukup terbuka satu sama lain. Martha tidak sungkan meminta agar Yesus memberitahu adiknya (Lukas 10:40). Kedua saudara perempuan itu juga berani untuk meminta Yesus datang dan menyembuhkan saudara laki-laki mereka ketika Dia berada di tengah-tengah pelayanan-Nya (Yohanes 11:3). Yesus secara terbuka menangis bersama mereka dalam kesusahan mereka ( Yohanes 11:35 ).

Yesus menunjukkan bagaimana pria dapat menjaga dan memahami wanita secara terhormat sebagai teman, terutama pada saat wanita dianggap lebih rendah derajatnya dibanding laki-laki. Maria dan Marta pun menunjukkan bagaimana wanita dapat membalas perlakuan hormat seperti itu melalui persahabatan murni yang membuat cinta mereka kepada-Nya menjadi nyata.

Di zaman modern ini ketika relasi menjadi kompleks, bagaimana kita bisa menumbuhkan persahabatan antar gender yang sehat?

1. Selalu ada kesamaan

Aku belajar mengemudi lebih lambat dibanding teman-temanku. Supaya lebih mahir, aku meminta sekelompok pria yang sudah kukenal sejak SMA untuk mengajariku seminggu sekali. Kami pun berteman baik, dan seusai sesi menyetir, kami sering menonton film dan berdiskusi intens tentang masalah karakter fiksi superhero.

Melangkah ke dunia pria cukup mudah bagiku karena aku tumbuh di sekitar anak laki-laki dan memiliki minat yang sama dengan mereka. Tetapi, terlepas dari tipe perempuan seperti apa kamu, menurutku selalu ada kesamaan yang bisa ditemukan dengan laki-laki. Selain hobi dan minat, kita semua berbagi pengalaman hidup seperti sekolah, pekerjaan, dan bagi orang percaya: satu minat bersama yang selalu kita miliki adalah Yesus Kristus.

Aku pernah ikut beberapa kelompok belajar Alkitab di mana aku mendapat berkat tidak hanya dari kebijaksanaan dan nasihat para pria, tetapi juga dari kesediaan mereka untuk terbuka tentang kesulitan mereka. Mendoakan mereka jadi cara sederhana yang memampukanku untuk melayani rekan-rekan lelakiku seolah saudaraku sendiri.

2. Tidak semua perbuatan baik yang dilakukan adalah kode

Ketika aku berada di Amerika untuk bertemu dengan beberapa teman, aku benar-benar terkesima dengan betapa sopannya mereka. Mereka akan bergegas membukakan pintu untukku dan teman perempuan lain dan melangkah mundur untuk membiarkan kami masuk lebih dulu. Mereka memastikan kami sampai di hotel dengan selamat. Tindakan itu menunjukkan kesopanan yang sudah lama tidak kulihat. Tetapi aku kembali tersadar ketika aku kembali ke rumah dan menyaksikan lima rekan laki-lakiku berdiri sementara seorang wanita berjuang untuk memindahkan meja sendirian.

“Kesatria sudah mati,” keluh banyak wanita. Tapi, kurasa kesatria itu tidaklah mati. Dunia kita mendefinisikan gentleman hanya sebagai perilaku romantis. Akibatnya, melakukan hal-hal baik kepada lawan jenis itu seperti menebar ranjau. Para lelaki takut apabila kebaikan dan sikap sopan itu malah disalahartikan, yang membuat canggung. ,

Di masa lalu, aku terjebak overthinking. Tindakan baik yang dilakukan para lelaki terhadapku kumaknai sebagai kode. Akibatnya, aku sulit menanggapi mereka dengan natural. Respon inilah yang membuat persahabatan menjadi canggung dan mungkin membuat beberapa pria enggan untuk bersikap lembut kepada wanita di masa depan.

Sekarang aku menilai setiap tindakan baik dari lawan jenisku murni sebagai tindakan baik. Aku mengizinkan mereka bersikap sopan padaku, dan kuucapkan terima kasih setiap kali mereka menawarkan diri untuk membayar kopi, atau mengantarku pulang agar aku tidak perlu bolak-balik. Cukup itu saja. Perbuatan baik adalah perbuatan baik, tidak perlu selalu diartikan sebagai kode kecuali dia memang mengirimkan sinyal yang jelas.

3. Komunikasikan status kamu dengan jelas

Aku kenal seorang wanita yang mengomunikasikan intensinya hanya untuk berteman sejak awal pertemuan. Di awal mungkin terlihat aneh untuk bersikap sangat terbuka mengenai relasi, tapi aku menganggapnya sebagai langkah yang bijaksana. Bagaimanapun, faktor utama dalam persahabatan lawan jenis yang baik adalah kejelasan tentang siapa kamu untuk satu sama lain. Ada kalanya pria mencoba memikat wanita melalui gerakan tubuh atau isyarat lain dengan harapan si wanita akan merespons balik. Cara terbaik untuk menghindari kebingungan adalah komunikasikan secara terbuka bahwa kamu hanya seorang teman.

Sebagai aturan umum untuk pertemanan, aku juga menghindari waktu berdua dengan laki-laki kecuali dengan mereka yang sudah sepaham kalau kami “hanya teman”. Jika memang tidak ada diskusi serius yang harus kami lakukan secara empat mata, aku lebih suka mengobrol bersama teman-teman lain supaya batasannya jelas, dan agar tidak menimbulkan gosip dari teman-teman lain.

4. Jangan biarkan gosip mempengaruhi caramu memandang teman lawan jenis

Beberapa tahun yang lalu, aku ketahuan oleh ibu-ibu gereja sedang sarapan dengan seorang teman dekat setelah kebaktian hari Minggu. Minggu berikutnya, salah satu dari mereka kepo apakah aku ada hubungan khusus dengan lelaki itu. Kujelaskan bahwa kami hanya berteman, tetapi tampaknya itu tidak cukup untuk menghentikan pembicaraan bahwa ada (atau seharusnya) relasi lebih dari teman di antara kami.

Omongan orang lain seringkali menjadi batu sandungan bagi berkembangnya persahabatan lawan jenis, terutama antara pria dan wanita lajang. Gosip membuat sepasang sahabat jadi ikut-ikutan berpikir, jangan-jangan memang relasi ini lebih dari sekadar persahabatan. . Persahabatan yang baik pun terguncang oleh ekspektasi orang lain.

Jika persahabatanmu dijadikan bahan gosip, kamu dan sahabatmu harus sepakat tentang status relasi kalian. Jika memang tidak ada intensi pacaran, hindarilah obrolan-obrolan romantis dan dengan sopan mintalah orang-orang yang berlagak seperti mak comblang untuk tidak ikut campur dalam relasi kalian.

Ketika berbicara tentang persahabatan lawan jenis, jagalah selalu hati dan pikiran, dan pastikan kita memperlakukan teman kita dengan tepat: apakah kita hanya ingin berteman atau mau berkomitmen lebih? Paulus memberi kita wejangan dalam 2 Timotius 5:1-2: selama belum menikah, laki-laki dan perempuan harus memperlakukan satu sama lain seperti keluarga.

Bagi para wanita, jangan bersikap genit atau ingin diprioritaskan oleh seorang lelaki yang statusnya hanya teman. Lihatlah para teman lelaki kita sebagai saudara dan perlakukan mereka sebagaimana teladan Yesus. Doakan mereka, berusahalah untuk membangun hubungan yang erat dengan Yesus (atau jika mereka belum mengenal Yesus, kamu bisa bercerita juga tentang-Nya) ), dan doronglah mereka untuk melakukan “kasih dan perbuatan baik” (Ibrani 10: 24).

Move On dari Persahabatan yang Retak

Oleh Jane Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Moving on From a Friendship Breakup

Sudah lebih dari delapan bulan berlalu sejak malam ketika aku dan temanku mengobrol serius.

Dalam relasi pacaran, obrolan serius biasanya mengindikasikan adanya  masalah besar. Tetapi, di dalam kasus kami—sebagai teman—aku mengharapkan supaya masalah kami  berakhir dengan permintaan maaf diwarnai tangisan dan pelukan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Salah paham berlanjut jadi saling menuduh, dan setelahnya kami pun jadi saling menghindar. Aku dan temanku telah berkawan lebih dari 19 tahun. Ketika aku kabur dari rumah dulu, aku tinggal di rumahnya. Itulah sekelumit kesan akan betapa dekatnya kami.

Setelah bertahun-tahun tinggal di negara berbeda, di tahun 2020 kami akhirnya kembali ke tempat yang sama. Kami bersemangat untuk berkawan akrab lagi. Namun, kedekatan kami yang tak lagi terhalang jarak membuat banyak perbedaan yang sebelumnya tak terlihat, malah menjadi jelas. Dan, sedihnya itu memperluas jurang di antara kami. 

Aku pernah punya sahabat, yang sekarang tak lagi dekat karena kami telah bertumbuh dewasa, pindah rumah, menikah, punya anak, dan sebagainya. Tetapi, aku belum pernah mengalami “putus” persahabatan yang dilakukan secara sengaja, lalu aku pun dijauhi. Aku mengatakan ini sebagai “putus” karena saat obrolan terakhir kami, jelas bahwa kami masih peduli satu sama lain. Tetapi juga jelas bahwa kami tidak bisa mengembalikan pertemanan kami seperti semula. 

Tidak seperti putus cinta, di mana orang-orang yang move-on dengan baik dapat berteman dengan mantannya, dalam persahabatan, aku belum mengerti seperti apa rasanya “masih berteman” dengan mantan sahabat.

Saat aku merawat lukaku dan berduka atas kehilangan dan perasaan dimusuhi, aku pun merenungkan melalui peristiwa ini apa yang mungkin Tuhan ajarkan kepadaku. Tentu saja, memang tidak semua masalah memberikan pelajaran berharga. Tetapi, bagi kita orang-orang percaya, penderitaan dapat mendorong kita untuk memikirkan tentang Allah dan bagaimana Dia mungkin bekerja dalam kita.

Jadi, inilah beberapa pelajaran yang aku raih dari pengalaman ini:

  1. Longgarkan sedikit ikatan persahabatanmu, tetapi kuatkanlah ikatanmu pada Tuhan

Aku baru-baru ini sadar bahwa apa yang menyebabkan putusnya persahabatan kami adalah perbedaan mencolok dalam cara pandang kami, yang diperparah dengan asumsi bahwa kami harus selalu memahami dan setuju satu sama lain.

Temanku berharap pengalaman dan kesuksesannya dapat membimbingku menuju kesuksesanku sendiri; tetapi ketika ia merasa aku tidak tertarik untuk mengikuti nasihatnya, ia kecewa. Aku, di sisi lain, berharap kalau dia akan berempati dengan perjuanganku Lama-lama aku kesal karena dia selalu berusaha mengoreksiku. Kita tahu orang-orang berubah, tetapi jika menyangkut hubungan terdekat kita, mungkin sulit untuk menerima perubahan ini. Kita ingin orang yang kita kasihi “tidak pernah berubah”, karena jika mereka berubah, itu dapat merusak harmoni dalam hubungan yang sudah kita bangun. Dan jika hubungan itu rusak, kita pun kehilangan dukungan dari orang yang kita andalkan. 

Pengalaman ini mengajarkanku betapa baiknya mengetahui bahwa Allah tidak berubah. Bilangan 23:19 mengatakan, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.”

Setiap kali aku mengeluh tentang Allah yang terasa jauh dariku, sungguh sebuah penghiburan untuk mengetahui bahwa Tuhan bukanlah manusia. Dia tidak akan berubah pikiran tentang aku besok, atau selamanya. Kasih yang Dia janjikan akan ditepati.

  1. Memaafkan memang menyakitkan

Setiap kali rasa sakitku muncul kembali, memilih untuk memaafkan—agar aku tidak memendam kebencian—bisa terasa sangat menyakitkan. Kadang-kadang, dalam upayaku untuk menutupi lukaku, aku melampiaskan kemarahan—aku berpikir kok bisa temanku itu dengan sengaja menyakitiku, dengan kata-katanya, bagaimana dia mengatakan satu hal dan melakukan hal lain, bagaimana dia telah merusak kepercayaanku.

Tetapi, ketika badai rasa sakit itu berlalu, aku melihat Allah berdiri di sana, dengan sabar menungguku untuk mendengarkan apa yang Dia katakan. Dia kemudian menunjukkan kepadaku lagi seperti apa pengampunan-Nya—meskipun menyakitkan bagiku untuk mengampuni dan mengasihi, betapa lebih menyakitkan bagi Dia ketika Yesus tergantung di kayu salib.  Betapa lebih sakitnya Dia ketika kita berpaling dari-Nya.

Memaafkan itu menyakitkan, oleh karena itu saat kita belajar untuk memaafkan, lihatlah kepada Dia yang paling terluka, dan percayalah bahwa luka-Nya akan menyembuhkan kita, dan memperbesar kapasitas hati kita untuk mengasihi.

  1. Cinta manusia itu bersyarat

Temanku bukan seorang Kristen, dan aku sungguh-sungguh berdoa agar ia diselamatkan. Tetapi setelah konflik, ada hari-hari ketika aku tidak ingin mendoakannya. Di saat-saat terburukku, aku mengaku kepada Tuhan bahwa kurasa aku tidak lagi peduli dengannya.

Tetapi Tuhan, dalam belas kasihan-Nya yang tak terbatas, tidak menghajarku karena pikiranku. Sebaliknya, Dia dengan kuat memegangku dan menyadarkanku dengan  kebenaran-Nya:

Jika kamu mencintai orang yang mencintai kamu, apa bedanya kamu?

Apakah kamu lebih layak untuk diselamatkan? Begitukah cara kerja kasih karunia-Ku?

Dan sekali lagi, dengan rendah hati aku tergerak untuk mengakui dosa-dosaku.

  1. Menaruh harapanku pada Allah terkadang berarti melepaskan ekspektasi kita sendiri 

Suatu kali aku membaca sebuah artikel yang membahas tentang kehilangan relasi, yang mengingatkanku betapa aku menginginkan kami bisa kembali bersahabat seperti dulu. Namun, aku masih bergumul dengan kepahitan di hati. Hatiku seolah berkata kalau  aku mau melakukan apa pun demi pulihnya relasi kami. Aku akan memaafkan dan melupakan jika itu berarti kita bisa berteman lagi.

Tapi, aku tahu itu bukanlah cara memaafkan yang baik. Ketika Tuhan memanggilku untuk memaafkan, Dia tidak meyakinkanku bahwa setelah aku memaafkan temanku, relasi kami dapat kembali hangat seperti sebelumnya. Dia juga tidak berjanji untuk memberiku teman baru yang akan menggantikan teman lama. Faktanya, Dia tidak mengatakan sesuatu yang spesifik untuk tujuan itu, tentang hasil penuh harapan seperti apa yang dapat aku harapkan di sisi kehidupan ini.

Sebaliknya, Dia mengajarku bahwa pemulihan yang dijanjikan-Nya tidak berarti segala sesuatunya kembali seperti semula. Pemulihan dari Allah juga bukan untuk memenuhi harapan duniawi kita. Seperti Roma 8:23-25 katakan kepada kita:

Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Dua minggu lalu, aku memutuskan untuk mengirim pesan kepada temanku dan mengajaknya bertemu. Selama beberapa jam aku merasa ketakutan, tidak tahu bagaimana dia akan merespons. Tetapi coba tebak—ia dengan senang hati menjawab ya, jadi kami pergi minum kopi dan mengobrol selama beberapa jam.

 “Obrolan kami asyik, seperti dulu.” Mungkin itu respons yang kamu harapkan. Tapi, ada perubahan yang membuat pertemuan kami tak seperti saat-saat ketika kami begitu akrab, dan mungkin tak akan pernah kembali seperti itu. 

Tapi, itu tidaklah masalah . Itulah yang aku pelajari dari pengalamanku: ketika pergumulanmu tak menemui solusi yang kamu harapkan,Tuhan senantiasa ada buatmu Janji-Nya untuk menemaniku, melindungiku, dan mencintaiku dalam segala keadaan selalu benar dan ditepati-Nya.

Artikel ini diterjemahkan oleh Joel Adefrid

Berelasi di Umur 20-an, Kamu Akan Mengalami Ini…

Manusia adalah makhluk sosial… kamu tentu ingat kutipan ini, yang pernah disebut dalam masa-masa sekolahmu di bangku SD dulu.

Itu memang benar. Manusia membutuhkan sesamanya, untuk saling menolong, untuk berbagi kisah, untuk berbagi sedih, dan berbagi jutaan hal.

Memasuki usia 20-an, cara kita berelasi dengan sesama akan mengalami perubahan.

Hal-hal apa nih yang kamu alami dalam berteman di fase-fase ini?

Dua Hal yang Kupelajari dari Terhubung Kembali

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Siapa yang tidak familiar dengan kata reconnect?

Di masa serba daring seperti sekarang, kata itu sepertinya sering terdengar atau bahkan terucap oleh kita sendiri. Reconnect identik dengan jaringan internet yang sebelumnya terganggu atau bahkan terputus. Dalam Bahasa Indonesia, reconnect berarti terhubung kembali.

Seperti jaringan internet, tahun 2021ku dipenuhi oleh relasi yang terganggu atau bahkan terputus. Pandemi yang menyebabkan isolasi membuatku banyak menikmati waktu sendiri. Relasi dengan teman-teman persekutuan dan kuliah yang biasanya terjalin setiap hari terpaksa berhenti. Namun, sejak awal tahun ini, aku memberanikan diri kembali menghubungi beberapa pribadi dan rutin berkomunikasi hingga saat ini. Aku melakukan reconnect versiku.

Proses reconnect yang paling berarti buatku adalah dengan adik-adik kelompok kecilku. Sekitar 2 tahun lalu, aku memimpin kelompok kecil (KK), yaitu sebuah kelompok pendalaman Alkitab di sebuah sekolah asrama di Jakarta. Kelompok ini beranggotakan aku dan tiga orang siswa dari sekolah tersebut. Saat ini, siswa-siswa yang kupimpin sudah menduduki bangku kuliah di kota yang berbeda-beda. Satu dari mereka berkuliah di Depok, satu di Surabaya, dan satu lagi di Bandung, dan aku di Jakarta. Harapan awalku untuk terhubung kembali dengan mereka adalah untuk membangun persahabatan personal. Aku menghubungi satu persatu dari mereka via daring, dan tidak berharap akan adanya pertemuan kelompok mengingat lokasi dan kesibukan yang berbeda tentunya akan menyulitkan.

Dari komunikasi dengan ketiga adik kelompok kecilku tersebut, aku belajar dua hal yang membuatku sangat bersyukur kepada Tuhan.

Pertama, ternyata bukan hanya aku yang merasa sendirian.

Setiap pertemuanku dengan masing-masing dari mereka diawali dengan mereka yang berkata “Ya ampun, kangen banget, Kak”. Pembahasan kami kemudian dilanjutkan dengan cerita hidup di masa pandemi yang semuanya seringkali merasa sendirian. Seperti yang ku alami, mereka juga mengalami isolasi di masa pandemi ini. Mereka tidak bisa dengan mudah berkomunikasi dengan teman-teman yang biasa bersama mereka 24/7. Satu kesimpulan yang aku dapat dari pembicaraan dengan mereka adalah mereka juga merasa sendiri, bukan hanya aku yang merasakannya. Hal ini menyadarkanku bahwa setiap kita membutuhkan satu sama lain, yang membawaku pada poin dua.

Hal kedua yang kupelajari adalah meskipun sulit, kehadiran komunitas harus tetap diperjuangkan.

Kalimat yang juga muncul dalam obrolanku dengan masing-masing dari mereka adalah “Kangen rohkris banget, Kak.” Aku mengangguk, sebagai tanda setuju dengan mereka. Ketika masih berada dalam percakapan tersebut, aku tidak tahu harus berkata atau berbuat apa. Namun keesokan harinya, salah seorang dari mereka mengatakan “KK lagi apa kita, Kak?”. Aku sempat mengira dia hanya bercanda, mengingat aku tidak memiliki ekspektasi akan hal ini sebelumnya. Ternyata dia serius. Aku pun langsung menghubungi kedua adik yang lain untuk mengajak melanjutkan KK lagi, dan mereka sangat antusias! Salah satu dari mereka bahkan ada yang berkata “Plis banget lah kak yok, udah mohon-mohon ini mah.”

Apakah aku senang? Jawabannya iya. Tapi apakah aku langsung setuju? Tentunya tidak.

Saat ini aku adalah seorang karyawan swasta dan mereka adalah mahasiswa dari kampus yang berbeda-beda sehingga hal yang pertama terbayang olehku adalah sulitnya mengatur jadwal antara kami. Tapi kemudian aku teringat kembali bagian alkitab yang kami bahas dua tahun lalu dari Pengkhotbah 4:9-12: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”

Bagian firman itu mengingatkan kembali tentang prinsip persahabatan yaitu tolong-menolong, saling membangun, dan saling menjaga. Masing-masing dari kami merasa sendirian, tapi kami tidak sendirian seorang diri. Lewat kelompok kecil, kami bisa kembali saling menjaga, tolong-menolong, dan saling membangun menuju keserupaan dengan Kristus. Aku-pun setuju dengan usulan mereka untuk kembali melanjutkan kelompok kecil ini. Memang kesulitannya sudah berada di depan mata, tapi kehadiran komunitas ini harus tetap diperjuangkan.

***

Hal ini menjadi salah satu peristiwa reconnect dalam hidupku yang membuatku tidak bisa tidak bersyukur kepada Tuhan. Aku semakin menyadari bahwa manusia memang diciptakan untuk terhubung. Terhubung dengan Tuhan, dan juga dengan sesama.

Untukmu yang juga mengalami gangguan atau putusnya relasi akibat pandemi atau apapun itu, mari berjuang untuk kembali terhubung dengan mereka. Karena lewat keterhubungan kembali, natur manusia dipenuhi dan kasih Tuhan terus terbagi.

Beranikah Kamu Datang Merangkul Seterumu?

Oleh Jefferson

Beberapa minggu setelah Natal pertamaku di gereja, tepatnya pada awal 2013, banjir besar melanda berbagai sudut kota Jakarta. Salah satu bangunan yang kebanjiran adalah gedung gereja milik jemaat saudari (sister church) dari jemaat di mana aku sekeluarga beribadah. Sambil menunggu bangunannya selesai diperbaiki, semua aktivitas ibadah jemaat saudari kami digabungkan dengan jemaat kami, termasuk komisi remajanya.

Aku tidak menyangka bahwa orang-orang yang kujumpai dalam ibadah gabungan tersebut akan membangkitkan satu ingatan yang kukira telah lenyap hilang dalam rimba kenangan.

Kenangan Sebuah Perseteruan

Swung, tass, swung, tass. “Hahaha.”

Aku bisa mendengar jelas suara kotak pensilku yang dilempar dan ditangkap layaknya bola kasti oleh “teman-temanku”. Nada olokan di balik tawa mereka pun tak dapat dipungkiri. Dan di tengah kesulitan untuk merebut kembali kotak pensilku, tidak ada yang (berusaha untuk) membantuku. Beberapa orang hanya menonton seru dari bangku mereka seolah-olah kami sedang mengadakan pertandingan bola kasti, sementara yang lain menulikan diri terhadap keributan di kelas, sibuk dengan urusannya sendiri.

Dalam hati aku bertanya-tanya, “Apa salahku sehingga mereka memainkan kotak pensilku begitu? Apakah karena aku anak baru di SMP ini? Atau akunya yang terlalu serius jadi perlu diajak ‘main’?” Makin lama aku makin geram. Dan melihat emosiku yang meningkat, mereka yang mengaku “teman-temanku” semakin menjadi-jadi.

“Permainan” ini hanya berakhir ketika bel kelas berbunyi, menandakan waktu istirahat telah selesai. Tepat sebelum guru masuk ke dalam kelas, “teman-temanku” mengembalikan kotak pensilku dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa selama istirahat. Suasana semu ini menyebar dengan cepat ke setiap sudut kelas. Tidak ada yang melapor kepada guru, termasuk aku, karena tidak ada dari kami yang ingin dicap sebagai pengadu.

Dalam cerita pertobatanku, peristiwa tersebut adalah salah satu dorongan penentu yang membuatku menolak keberadaan Tuhan dan merangkul paham Ateisme. Ini bukan pertama kalinya “teman-temanku”—termasuk anggota-anggota jemaat saudari dari gerejaku di masa depan—mempermainkan maupun mengabaikan aku. Keberadaan Tuhan yang sudah terasa samar-samar pada tahun pertamaku di SMP Kristen ini seketika dilenyapkan pada tahun kedua oleh mereka yang mengaku sudah Kristen sejak lahir. Perilaku “teman-temanku” tidak menyerupai Yesus Kristus sama sekali dan membawaku kepada kesimpulan bahwa iman Kristen tidak lebih dari kepercayaan yang ompong.

Maka ketika aku sendiri pada akhirnya dituntun oleh Kristus untuk percaya bahwa Ia adalah Allah yang sejati, aku diperhadapkan pada sebuah pertanyaan: apa yang akan aku lakukan ketika aku menjumpai “teman-temanku” yang Kristen di lingkungan gereja?

Salah Satu Tujuan Kedatangan Pertama

Dalam perenunganku akan kejadian ini, Roh Kudus menuntunku kepada satu perikop dalam Efesus 2:11-20:

Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu – sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ”sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, –bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ”jauh”, sudah menjadi ”dekat” oleh darah Kristus. Karena Ialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ”jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang ”dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Walaupun di bagian ini Paulus sedang membicarakan pendamaian yang diadakan Kristus di atas kayu salib antara Allah dengan semua orang, khususnya dengan orang non-Yahudi (ay. 11–13), aku menemukan bahwa kebenaran di dalamnya juga berlaku pada situasi yang aku hadapi. Aku semakin yakin ketika menyadari bahwa Paulus sedang berbicara kepada orang Kristen yang bukan Yahudi (ay. 11); dalam kasusku, “teman-temanku” yang mengaku Kristen sejak lahir adalah yang “bersunat” sementara aku yang percaya kepada Tuhan Yesus belakangan adalah yang “tak bersunat”. Lantas apa yang ingin Tuhan sampaikan kepadaku lewat perikop ini?

Bahwa di dalam Kristus, aku yang dulu bukan orang Kristen (“jauh”) dan diolok-olok mereka yang mengaku orang Kristen (“dekat”) sekarang turut menjadi bagian dari keluarga-Nya (ay. 13). Oleh darah-Nya, aku mendapatkan bagian dalam “ketentuan-ketentuan yang dijanjikan” dan “pengharapan… di dalam dunia” (ay. 12). Sang Allah Anak yang datang 2000 tahun lalu itu terlebih lagi telah mengadakan damai sejahtera di antara aku dan teman-temanku serta mempersatukan kami sebagai bagian dari tubuh-Nya (ay. 14–18). Oleh karena karunia-Nya, kami yang dahulu adalah seteru sekarang adalah “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (ay. 19).

Seteru yang Dijadikan Kristus “Saudara”

Melihat ke belakang, aku tidak tahu apakah teman-temanku menyadari kesalahan mereka ketika mereka memperlakukanku begitu semasa SMP. Meskipun begitu, aku tahu dengan pasti bahwa Ia yang telah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati juga akan memampukanku (Rom. 8:11) untuk mengasihi musuh-musuhku (Mat. 5:44–45). Sebab Ialah batu penjuru yang mendasari hubungan antara sesama orang percaya (Ef. 2:20). Anggukan canggung disertai sapaan singkat ketika kami berpapasan di gereja menjadi langkah awal yang kuambil dalam perjalanan pemulihan relasiku dengan teman-teman.

Walaupun pada akhirnya banyak yang tidak berkembang lebih dari “kenalan di sekolah dan gereja” karena kepindahanku ke Singapura, ada seorang teman yang benar-benar menjadi saudara rohaniku di tanah perantauan. Karena hanya kami berdua dari angkatan kami yang melanjutkan studi ke Singapura, secara alamiah kami mulai sering berinteraksi dengan satu sama lain. Persaudaraan itu pun pelan-pelan bertumbuh, dari dimuridkan bersama dalam satu kelompok sampai akhirnya menjadi teman satu kos. Semuanya ini niscaya hanya dapat terjadi oleh karunia Tuhan Yesus sang “damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (ay. 14).

Inilah Kerajaan yang dinyatakan Tuhan Yesus pada kedatangan-Nya yang pertama, di mana Ia “menciptakan [pihak-pihak yang bertikai] menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (ay. 15). Baik yang sudah Kristen sejak lahir maupun baru percaya kepada-Nya ketika dewasa, baik yang “tinggi” seperti orang-orang Majus maupun “rendah” seperti gembala, semua orang diundang tanpa terkecuali untuk berbagian di dalam damai sejahtera-Nya sebagai “anggota-anggota keluarga Allah” (ay. 19).

Merayakan Natal sebagai Keluarga Allah

Selama masa pandemi COVID-19, kamu mungkin terkurung di rumah atau terdampar di luar kota sepertiku. Maka dalam ibadah Natal tahun ini, baik secara online maupun fisik, aku mengajakmu untuk mengamati dengan saksama orang di sekeliling dan depanmu: inilah saudara-saudari dan paman dan bibimu secara rohani yang Tuhan Yesus telah berikan lewat kedatangan pertama-Nya ke dunia. Bersama mereka, “kamu bukan lagi orang asing” (ay. 19).

Terlebih lagi, mari kita mendatangi dan mengajak mereka yang merasa kesepian selama pandemi—terutama seteru-seteru kita—untuk menjadi bagian dalam satu-satunya keluarga abadi yang dikepalai oleh Bapa yang Kekal (Yes. 9:6), sebagaimana Ia telah datang untuk mengundang kita.

Selamat merayakan kedatangan pertama Tuhan Yesus tahun ini bersama orang percaya di segala abad dan tempat, soli Deo gloria!

Panduan renungan

1. Apakah kamu pernah mengalami hal yang serupa dengan yang kuceritakan di atas? Bagaimanakah perseteruan yang kamu hadapi itu berakhir? Apakah seteru-seterumu pun turut menjadi saudara-saudaramu dalam keluarga Allah?

2. Baca kembali Efesus 2:11–22 dengan saksama. Tuliskan poin-poin kebenaran yang menggugah hati dan pikiranmu, terutama dalam kaitannya dengan pengalamanmu di nomor 1.

3. Adakah orang(-orang) yang ingin kamu ajak untuk bergabung dengan keluarga Allah pada perayaan Natal? Doakan nama-nama tersebut, pikirkan bagaimana kamu akan mendatangi dan mengundang mereka untuk mengikuti ibadah Natal, lalu ajaklah mereka dengan kekuatan dari Allah Roh Kudus.

Ingatlah 3 Hal Ini Sebelum Menghakimi Orang Lain

Oleh Vanessa
Artikel asli dalam bahasa Inggris: What My Assumptions Taught Me About Judging Others

Beberapa bulan lalu, seorang kenalanku bersikap dingin dan menjauhiku. Ketika kutanya kenapa, dia bilang kalau ekspresiku berlebihan di pertemuan terakhir dengannya. Kucoba mengerti alasannya dan meminta maaf, tapi baginya tindakanku itu tidak akan membuat relasi kami sama seperti dulu.

Tentu respons itu adalah keputusannya dan aku pun tahu bahwa untuk relasi yang sehat perlu ada batasan yang jelas. Tetapi, melihat ke belakang aku mendapati sulitnya merespons terhadap situasi penolakan seperti itu. Dari diskusiku dengan konselorku, aku sadar kalau reaksi berlebihanku muncul dari rasa sakit dan trauma masa kecil yang belum selesai. Fakta ini membuat peristiwa penolakan itu terasa lebih sakit, tapi sekaligus juga memberiku rasa lega. Alih-alih merasa bersalah dan malu, aku jadi sadar bahwa aku pun butuh dipulihkan.

Kita semua ingin dipandang, dimengerti, dan diterima sebagaimana adanya. Kita ingin semua orang mau menegur kita dengan kasih ketika dibutuhkan, tapi kita juga ingin mereka berbicara dengan kita, untuk mengerti siapa dan bagaimana sih kita itu sebenarnya. Aku ingat akan seniorku di tahun pertama kerja yang berkata, “Rasanya menyenangkan jika kita dikenal baik.” Itu memang betul, tapi lebih daripada sekadar dikenal baik, yang lebih baik ialah: kita dikenal sampai jelek-jeleknya, tapi tetap dikasihi.

Kasih yang melampaui kesan pertama

Kasih yang Allah berikan pada kita untuk kita berikan pada orang lain adalah kasih yang “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:7). Inilah kasih yang kita semua inginkan, tapi kusadari kalau kasih ini jugalah yang sulit untuk kuberikan. Kasih yang mengharuskanku untuk berhenti dan berpikir, untuk memahami siapa orang yang kutemui. Seringkali aku berpikir meremehkan dan buru-buru mencari topik bicara lain.

Seorang temanku bercerita tentang tetangga lamanya yang dikenal menyebalkan. Suatu kali, ketika dia membuang sampah, tetangga itu mendekatinya dan mengomel karena sampah itu tidak diletakkan di tempat yang spesifik. Alih-alih menanggapinya berdasarkan kata orang kalau tetangga itu menyebalkan, temanku tetap tenang dan minta maaf. Sikapnya yang damai itu menohok sang tetangga, yang akhirnya malah jadi terbuka dan mulai mengobrol dengan temanku. Melalui obrolan mereka, temanku mendapati sebenarnya tetangganya itu orang baik yang pernah dilukai oleh orang lain. Sikapnya yang defensif adalah caranya untuk melindungi dirinya dari terluka.

Aku harap kita semua seperti temanku itu, tapi sejujurnya, bukankah kita semua cenderung menghakimi orang lain berdasarkan apa yang mata kita lihat? Setelah menghakimi, lantas kita pun ‘membuang’ mereka dalam kotak yang berisikan asumsi-asumsi kita sendiri?

Ketika Allah membuatku memikirkan kembali

Meskipun kali ini akulah yang ditolak, aku tahu kalau aku sendiri pernah menolak dan menghakimi orang lain dengan buru-buru mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang kulihat. Ada masa-masa ketika Tuhan memaksaku untuk melihat kembali suatu hal secara utuh supaya aku memahami bahwa apa yang kupikirkan tak selalu benar.

Beberapa tahun lalu, aku ikut mission-trip bersama beberapa jemaat. Di akhir pekan, ada seseorang yang kata-katanya menggangguku. Kata-katanya tidak buruk, tapi karena itu menggangguku aku memutuskan kalau orang itu tidak akan kudekati, dan segera aku pun mengabaikan orang itu.

Namun Tuhan punya rencana lain. Lewat interaksi kami selama beberapa minggu, aku menyadari kalau orang yang kuanggap mengganggu itu ternyata murah hati, dan dia selalu berusaha untuk menunjukkan sikapnya yang tulus dan mengasihi pada orang lain. Orang itu pun menjadi teman baikku yang sampai hari ini aku senang meluangkan waktu bersamanya. Kalau seandainya aku terjebak pada pikiranku akan kesan pertama yang buruk, aku tidak akan mengalami pertemanan yang indah.

3 hal untuk diingat

Salah satu ayat favoritku adalah 1 Samuel 16:7, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Rasanya menenangkan sekaligus menantang mengetahui bahwa Allah melihat kita sebagaimana adanya kita. Menenangkan karena kita sungguh dikasihi oleh Tuhan Semesta Allah; menantang karena jika kita dikasihi sedemikian rupa, masa kita bertindak sebaliknya terhadap orang lain?

Setelah menyadari ini, aku berdoa agar Tuhan menolongku setiap hari untuk menjadi orang yang mampu melihat melampaui apa yang dilihat mata, dan untuk mengasihi orang lain dengan cara yang mencerminkan Kristus—dengan anugerah, belas kasih, dan pengertian. Untuk mewujudkan itu, aku mengingat 3 hal ini:

1. Lihat jangan dari sudut pandang sendiri

Setiap orang punya masalah masing-masing, dan itu bisa mempengaruhi bagaimana mereka meresponsku. Mengingat hal ini memberiku sedikit jarak untuk untuk mencerna sikap dan respons mereka.

2. Tanya sebelum membuat kesimpulan

Matius 18:15 menjelaskan bagaimana kita seharusnya menegur orang lain. Meskipun teguran itu tidak menyenangkan, ketika aku punya keberanian untuk memberitahu seseorang tentang sikap atau kata-katanya yang melukaiku, penjelasan ataupun permohonan maaf dari mereka menolongku untuk memahami situasi dari sudut pandang yang berbeda. Aku pun terdorong untuk melihat ke dalam diriku sendiri, akan apa yang jadi pikiranku yang berdosa.

3. Maafkan, sebagaimana kita telah diampuni (Kolose 3:13)

Pengampunan tidak hanya untuk dosa-dosa ‘besar’ yang dilakukan pada kita, tapi juga bagi kesalahan-kesalahan yang tampak kecil. Bagian dari mengampuni adalah belajar untuk merelakan dan tidak selalu mempermasalahkan setiap hal. Ingatlah, kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8).

Aku berdoa kiranya kasih yang tidak bersyarat yang kuterima dari Tuhan setiap hari menolongku untuk mengasihi orang lain. Daripada menorehkan luka dalam hidup mereka, aku mau belajar untuk turut serta dalam pemulihan mereka.

Semoga tulisan ini memberkati kita semua.