Posts

Dipandang Lemah, Tetapi Punya Peran yang Besar

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Pagi ini aku menikmati saat teduhku yang membahas tentang Timotius. Sosok ini mungkin tidak asing di telinga kita. Nama Timotius tersemat dalam dua surat yang ditulis Paulus. Namun, siapakah sebenarnya Timotius dan teladan apakah yang bisa kita raih dari kisahnya?

Timotius dikenal bertumbuh sebagai pribadi yang mengasihi Allah. Awalnya, kupikir karakter baik ini pastilah ada dalam diri Timotius karena pengaruh dari Paulus, tapi setelah kubaca lagi bagian-bagian dari suratnya, rupanya ada orang lain lagi yang turut memberi andil dalam perjalanan iman Timotius.

Alkitab tidak banyak mencatat tentang masa kecil Timotius. Dia tumbuh besar di kota Listra sebagai anak dari perempuan Yahudi bernama Eunike, yang telah percaya pada Yesus. Sedangkan ayahnya diyakini berkebangsaan Yunani (Kisah Para Rasul 16:1). Minimnya penyebutan tentang ayah Timotius menunjukkan besar kemungkinan apabila Timotius diasuh hanya oleh ibunya seorang. Tetapi, dalam 2 Timotius 1:5, tertulis nama Lois, nenek dari Timotius yang rupanya turut merawat Timotius. Menjadi orang tua tunggal bukanlah perkara yang mudah, terlebih pada zaman Timotius. Ada kemungkinan mereka mendapatkan stigma, apalagi status Eunike dan Lois sebagai orang percaya yang merupakan kaum marjinal pada masyarakat kekaisaran Romawi abad pertama. Tetapi, teladan dari merekalah yang akhirnya membawa Timotius pada keselamatan.

Saat teduh pagi ini pun mengusikku. Apakah aku bisa menjadi seperti Lois dan Eunike yang mampu memberi teladan baik bagi orang lain?

Lois dan Eunike membuktikan bahwa wanita yang kerap dipandang sebagai kaum yang lemah rupanya punya peran yang besar. Alkitab kita mencatat ada banyak tokoh wanita lain yang juga dipakai Allah untuk mewujudkan rencana-Nya. Ada Sarah yang melahirkan Ishak sebagai penggenapan janji Allah atas Abraham, juga Maria yang dipakai Allah untuk melahirkan sang Juruselamat.

Dalam kisah penciptaan, wanita adalah makhluk yang diciptakan terakhir. Ketika air dipisahkan dari daratan, wanita belum ada. Ketika binatang dan tumbuh-tumbuhan bermunculan, wanita masih tetap belum ada. Hingga akhirnya Allah menciptakan wanita (Hawa) dari rusuk pria (Adam). Allah melihat bahwa dunia dan manusia yang sudah diciptakan-Nya tidak akan lengkap tanpa ciptaan-Nya yang terakhir ini. Wanita menjadi “puncak” dari seluruh penciptaan dan melalui ini Allah ingin menyampaikan bahwa wanita diperlukan dan sangat penting.

Wanita disebut penolong yang sepadan. Wanita diciptakan untuk kemampuan-kemampuan yang bisa menolong pria dan ciptaan lainnya.

Aku jadi teringat dengan salah satu film yang berjudul, War Room. Seorang wanita tua, Ny. Clara yang setia berdoa. Dia memiliki satu ruangan khusus yang menjadi tempatnya untuk berdoa. Ruangan itu disebutnya sebagai tempatnya untuk berperang. Berperang untuk berdoa melawan segala kedagingannya, berdoa untuk orang-orang di sekelilingnya bahkan berdoa agar semakin banyak orang yang percaya kepada Kristus.

Singkat cerita, suatu hari dia dipertemukan dengan seorang wanita muda, Elizabeth Jordan yang banyak bergumul dengan hidupnya. Wanita yang mengaku Kristen tetapi belum mengenal lebih sungguh siapa Allah. Lewat perjumpaan rutinnya dengan Ny. Clara, Elizabeth ditolong untuk mengenal siapa Allah. Mereka tekun untuk berdoa bersama hingga Elizabeth akhirnya memutuskan menjadikan lemarinya sebagai ruangan khusus buatnya untuk berdoa. Elizabeth beserta keluarga pada akhirnya mengenal siapa Allah melalui Ny. Clara.

Aku sendiri sadar, banyak orang yang ada di sekitarku. Tetapi aku sering lalai untuk memperhatikan mereka karena kesibukan-kesibukanku.

Terkadang berpikir bahwa waktu yang aku gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, studi dan hal-hal lainnya masih kurang, bagaimana aku harus memikirkan mereka.

Mungkin di saat aku sedang menyelesaikan tugasku, ada orang tua yang merindukan telepon dariku.

Mungkin di saat aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, ada rekan di sebelahku yang ingin bercerita menyampaikan pergumulannya akan pekerjaan.

Mungkin di saat aku sedang menulis ini pun, ada teman kosku yang sedang menantiku untuk keluar dan bercerita sejenak.

Kadang, aku berpikir bahwa momen-momen tersebut hanya akan menghabiskan waktuku padahal sebenarnya momen-momen itulah yang bisa menolongku untuk menyatakan Kristus dalam kehidupan mereka.

Allah menciptakan perempuan sama mulianya dengan laki-laki. Perempuan juga punya andil dalam menorehkan kisah sejarah umat manusia, sebagaimana teladan Lois dan Eunike serta bagaimana pemikiran Kartini yang akhirnya menata kembali tatanan feodalisme Jawa abad 20.

Selamat menyatakan Kristus di tengah kehidupan kita!

Baca Juga:

3 Hal yang Hilang Jika Kita Menikah dengan Pasangan Tidak Seiman

Semua manusia mencari kenyamanan. Ketika manusia telah menemukannya maka sangat sulit bagi mereka untuk meninggalkannya dan pergi menghadapi risiko-risiko baru. Begitu juga halnya dengan memilih pasangan hidup.

Meruntuhkan Rasa Egois untuk Menjadi Seorang Pemimpin

Oleh Irene, Surakarta

Memimpin. Satu kata yang sederhana namun sulit dilakukan. Banyak orang ingin menjadi pemimpin dan punya otoritas. Namun, tak semua paham bahwa arti memimpin yang sesungguhnya adalah melayani.

Oktober 2018 adalah bulan pertamaku menjadi seorang pemimpin. Bukan pemimpin besar layaknya petinggi perusahaan, namun aku dipercaya untuk memegang belasan anak di kantor cabang. Syok, bingung, takut. Semuanya menjadi satu. “Duh, entar gimana ya, apa mereka mau manut [menurut] sama aku? Kalau aku dibantah gimana? Gimana kalau mereka nggak suka dengan caraku memimpin dan kemudian membenciku?”

Pikiran buruk itu terus bertengger. Hari demi hari dengan posisi baru benar-benar tak mudah dilalui. Jika dulu aku hanya memikirkan diri sendiri, kini aku harus memikirkan orang lain yang tak lain adalah anak buahku. Namun dalam proses itu, selalu ada saja kerikil yang membuatku tersandung. Kadang mereka tidak mengindahkan teguranku. Ketika aku mencoba bersikap lebih keras, aku malah dicap galak dan terlalu kaku. Memang dalam beberapa kesempatan aku terbawa emosi, alhasil anak buahku yang sejatinya juga adalah teman-temanku menjauh. Mereka menganggapku sebagai pemimpin yang tak mau memahami.

Belajar dari kesalahan tersebut, aku pun teringat akan Matius 20: 25-27 di saat Yesus memberikan perumpamaan kepada anak-anak Zebedeus soal memerintah dan melayani. Yesus memberikan penjelasan bahwa ketika kita menjadi pemimpin, kita harus berani melayani dan menolong orang lain, bukan menggunakan ‘kekerasan’ atau memanfaatkan kekuasaan agar semata-mata kita ditaati.

“Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ‘Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”

Nats tersebut mendorongku untuk berefleksi. Menjadi pelayan tidaklah mudah. Ada rasa gengsi, juga emosi ketika nasihatku tidak diindahkan. Ketika itu terjadi, aku malah bersikap, “Ya sudahlah, terserah”, atau bahkan menggunakan kritikan dengan kata-kata pedas. Meski maksudku baik, untuk mendisiplinkan mereka, tetapi cara tersebut tidaklah tepat. Ekspresi, nada bicaraku lebih mudah dilihat dan dicerna oleh mereka ketimbang maksud hatiku. Aku pun lantas belajar untuk membuka diri akan kritikan yang masuk serta mengevaluasi perjalanan kami. “Mbak, jangan terlalu pedas kata-katanya kalau negur,” kata salah seorang kolegaku. Dengan pertolongan Tuhan, perlahan aku bisa bersikap lebih tenang. Jika dulu aku hanya memikirkan soal target, kini aku lebih bisa memahami jika ada anak buahku yang kesulitan saat bekerja atau jatuh sakit. Aku rela menggantikan pekerjaan temanku di saat mereka sakit dan tak bisa masuk.

Aku belajar untuk mengerti sedikit demi sedikit posisi anak buahku masing-masing. Jika dulu aku hanya cuek, kini aku berani berinisiatif dan maju ke atasan dan menyampaikan keluh kesah mereka demi terciptanya perubahan yang lebih baik. Jika dulu aku merasa sebagai yang paling benar, kini aku bersedia menerima saran dan kritikan serta mengaku salah jika memang aku melakukannya. Pun aku kini bersedia bekerja lebih keras meskipun harus mengorbankan libur dan waktu luang demi memutar otak dan berlembur ria.

Apakah aku masih merasa takut? Jawabannya adalah iya. Namun aku percaya bahwa Tuhan membimbingku. Di dalam doa yang aku daraskan, aku mengungkapkan isi hatiku kepada-Nya dan melalui Ia, aku dikuatkan agar tidak takut lagi seperti yang tertulis dalam Yesaya 41: 10: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Aku percaya bahwa inilah ini proses dari-Nya yang harus aku jalani sebagai seorang wanita yang berkarier. Aku yakin bahwa bekal ini adalah pengalaman berharga yang sungguh bernilai di masa mendatang. Ini bukanlah teori manajemen krisis atau manajemen karyawan yang dulu aku pelajari selama menjadi mahasiswi Ilmu Komunikasi.

Ini adalah dunia nyata, tempat di mana aku belajar menyelesaikan masalah dan menenangkan orang lain, tempat di mana aku tertawa dan membagikan keluh kesah, tempat di mana aku belajar melayani dan meruntuhkan egoisme meskipun dalam keluhan. Dan jika aku setia melakukan yang terbaik dalam memimpin teman-temanku, maka aku yakin bahwa suatu saat nanti, aku akan mampu menjalankan peran yang lebih besar seperti yang tertulis dalam Lukas 16: 10: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Proses menjadi pemimpin yang melayani tak akan mudah. Akan ada banyak godaan, jalan terjal, tantangan dan overthinking di dalam otak. Namun proses ini sungguh akan membuat kita menjadi pribadi yang dewasa. Mari kita belajar bersama dan saling mendoakan agar kita mampu menjalani hari-hari menjadi seorang pemimpin yang teguh dan mengayomi.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Serba-serbi Kesehatan Mental: Tren, Fakta, dan Jalan untuk Mengasihi Diri

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental makin meningkat, tapi dampaknya ada orang-orang yang merasa cocoklogi. Sedikit-sedikit mendaulat diri punya ‘sakit mental’. Bagaimana seharusnya kita memahami isu ini?

Tidak Semua Orang Tua

Kadang kita tak menyadari, di balik nada marah, wajah lesu, atau raut kebingungan orang tua kita, tersimpan kasih sayang yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang ini, orang tua kita tetap berupaya melakukan bagiannya sebaik mungkin bagi keluarganya.

Tak ada orang tua yang sempurna, namun tiap orang tua layak mendapatkan apresiasi, sebab tanpa perjuangan, teladan, dan kasih sayang mereka, takkan muncul generasi mendatang yang tangguh.

Teruntuk Papa, Mama, Ayah, Ibu, terima kasih! Kami mengasihimu.

Kontribusi oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi ( @dreamslandia dan @gracetjahyadi_ ) untuk Our Daily Bread Ministries (Santapan Rohani dan WarungSaTeKaMu)

Hanya Sekadar Baca Alkitab Tidaklah Cukup

Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Reading The Bible Did Not Make Me A Better Christian

Suatu pagi asisten rumah tanggaku tidak sengaja mendengarku berdiskusi dengan suamiku dan dia salah paham. Dia pikir aku sedang membicarakan hal-hal buruk tentangnya. Akibatnya, sepanjang pagi itu sikapnya kepadaku jadi dingin.

Untuk menghangatkan suasana, aku mengklarifikasi kejadian itu. Namun, apa yang kulakukan malah membuatnya bersikap makin buruk. Dia membantah ucapanku. Emosiku terpicu, nada bicaraku jadi meninggi dan kata-kata yang kurang baik keluar dari mulutku. Dia lalu keceplosan, “Kamu baca Alkitab tiap pagi, tapi selalu mengeluh!” Setelahnya, dia bergegas ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Kata-katanya seperti tamparan di wajahku. Tadi pagi aku baru saja baca Alkitab. Namun, ketika kesalahpahaman muncul, aku menyerah pada pencobaan dan meresponsnya dengan marah. Aku terdiam.

Sungguhkah aku mencerminkan Kristus?

Aku pun pergi mandi, tapi apa yang barusan terjadi terulang-ulang di kepalaku. “Kamu baca Alkitab tiap pagi, tapi selalu mengeluh!” Kata-kata itu seolah bermakna begini buatku: “Kamu tidak ada bedanya sama orang yang tidak percaya. Firman Tuhan tidak berdampak apa-apa di hidupmu!” Pernyataan itu membuatku serasa dihakimi. Aku merasa bersalah karena telah gagal menunjukkan Kristus padanya.

Ketika dia membantahku pertama kali, ada bisikan dalam hatiku, “Maafkan! Maafkan! Aku harus jadi terang yang bersinar di tengah kegalapan hatinya”. Aku coba arahkan pandanganku kepada Tuhan dan mengingat ayat dari Matius 18:21-22 yang berkata agar kita memaafkan orang lain. Namun, aku gagal, dan kemudian aku kehilangan kesabaran dan pengendalian diri. Aku tidak mencerminkan Kristus sebagaimana aku seharusnya.

Membaca Alkitab tanpa mengizinkan Roh Kudus bekerja dalam hidupku, aku tak ubahnya orang Farisi yang mempelajari Alkitab dengan rajin, tapi menolak datang kepada Yesus (Yohanes 5:39-40).

Apakah asisten rumah tanggaku melihatku sebagai pengikut Kristus? Kupikir tidak. Kata-katanya yang dia ucapkan, “Kamu baca Alkitab tiap pagi, tapi selalu mengeluh!” Dunia seringkali melihat kita sebagai pengikut Kristus dari buah-buah yang kita hasilkan. Nada bicaraku yang tinggi dan kasar tidak mencerminkan Kristus dalamku. Buah-buah roh—kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri—absen dari diriku.

Tuhan memampukanku

Aku merasa kacau, tidak benar, dan tidak layak mendapatkan kasih Tuhan, hingga kemudian aku teringat bahwa aku dibenarkan bukan karena perbuatanku sendiri, melainkan oleh Tuhan—penebusan-Nya di kayu salib (2 Korintus 5:21). Tuhan membenarkanku dari dosa-dosaku ketika aku tidak layak mendapatkannya, dan aku mendapatkan itu hanya karena iman.

Setelah ditebus-Nya, aku tahu aku harus menyingkirkan kebanggaan diriku sendiri dan mengundang Roh Kudus untuk bekerja dengan penuh kuasa dalam hidupku. Dengan pertolongan Roh Kudus, aku bisa menghasilkan buah roh berupa kesabaran dan kasih untuk orang-orang di sekitarku, sehingga ketika aku berkata-kata, kata-kata yang kukeluarkan adalah yang membangun.

Sejak Yesus menebus dosaku, aku diampuni-Nya dan diberi kemerdekaan untuk menghidupi hidupku. Aku bisa mengusahakan pengampunan terhadap asisten rumah tanggaku. Yang menghalangiku untuk melakukannya adalah ego dan pembenaran diriku sendiri, yang seharusnya sudah dipaku oleh Kristus di atas kayu salib.

Dengan pemahaman ini, aku punya cukup keberanian untuk mengampuni dan berdamai dengan asisten rumah tanggaku. Aku duduk berdua dengannya, dan dengan suara tenang, kami meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi sampai kami mendapatkan pemahaman bersama.

Tanpa Tuhan yang telah menunjukkanku kebenaran, anugerah, dan belas kasihan, aku tak akan mampu melakukan ini semua. Seiring aku berusaha menghidupi imanku, aku terus mengingat bahwa upayaku membaca Alkitab hanya akan menghasilkan hafalan semata, dan aku tidak akan pernah jadi murid yang sejati jika aku tidak mengarahkan pandanganku kepada Tuhan dan apa yang diinginkan-Nya bagiku.

Baca Juga:

Menjadi Sahabat Bagi Semua Orang

Natal sudah berlalu, namun beberapa waktu belakangan, tema Natal “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang” terus terngiang-ngiang di benakku. Tema itu terdengar baik, tapi sekaligus juga seperti utopis bagiku.

Pemimpin yang Mengambil Risiko

Hari ke-13 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 2:25-30

2:25 Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku.

2:26 Karena ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit.

2:27 Memang benar ia sakit dan nyaris mati, tetapi Allah mengasihani dia, dan bukan hanya dia saja, melainkan aku juga, supaya dukacitaku jangan bertambah-tambah.

2:28 Itulah sebabnya aku lebih cepat mengirimkan dia, supaya bila kamu melihat dia, kamu dapat bersukacita pula dan berkurang dukacitaku.

2:29 Jadi sambutlah dia dalam Tuhan dengan segala sukacita dan hormatilah orang-orang seperti dia.

2:30 Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku.

Aku tak pernah menyangka akan menemukan museum yang dibangun khusus untuk mengenang seorang misionaris di ujung paling utara Taiwan. Mackay Museum, namanya, didedikasikan kepada George Leslie Mackay atas pelayanannya kepada orang-orang Taiwan.

George Mackay tiba di pulau Formosa (sekarang Taiwan) pada 31 Desember 1871. Ia mendapati tidak ada misionaris di bagian utara pulau itu, lantas ia menjadikan Tamshui sebagai basis pelayanannya.

Penampilan Mackay berbeda dari penduduk lokal sehingga ia dibenci, tetapi hal itu tidak menghentikan misionaris berumur 27 tahun itu dari penjangkauannya terhadap mereka. Meskipun dianiaya secara fisik—kadang menggunakan telur mentah dan kotoran manusia—ia bertekad untuk menjadi saksi Tuhan. Penduduk lokal yang pertama dimenangkan akhirnya dinobatkan menjadi pendeta pertama di Formosa.

Perjalanan misi George adalah bukti kasihnya kepada Tuhan dan penduduk Formosa. Penduduk Formosa sangat tersentuh dengan sikap hati hamba dan kasih yang tulus yang George tunjukkan kepada mereka. Dengan berani ia menyatakan, “Demi melayani mereka dalam Injil, dengan senang hati aku mau mengorbankan hidupku seribu kali.”

Dalam surat Filipi dicatat pula karakter serupa—seseorang yang “mempertaruhkan nyawanya” (ayat 30) dan menjadi teladan hati hamba dalam pelayanannya bagi Kristus—yaitu Epafroditus.

Dalam Filipi 2:25-30, Paulus memuji Epafroditus atas dedikasi dan pekerjaannya untuk Tuhan. Lewat bacaan singkat ini, kita bisa melihat dua hal. Pertama, Paulus dan Epafroditus memiliki hubungan yang dekat (Paulus memanggilnya “saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku,” ayat 25). Kedua, Epafroditus tidak takut mengorbankan nyawanya demi melayani Tuhan Yesus Kristus (ayat 30).

Ketika jemaat Filipi mendengar tentang penyakit Epafroditus, mereka sangat bersedih. Karena itu, Paulus mengirimkan Epafroditus kembali agar mereka “bersukacita” (ayat 28). Epafroditus sangat dikasihi, dan ia sendiri sangat menyayangi jemaat Filipi sehingga tidak ingin mereka bersusah hati karena kondisinya (ayat 26). Ia mengabaikan kepentingan diri sendiri! Epafroditus selalu mendahulukan orang lain.

Dari bacaan ini, tampak bahwa Paulus dan Epafroditus adalah orang-orang yang patut diteladani: mereka bersedia diutus ke mana saja, mau melayani siapa saja, dan rela mengorbankan apa saja. Mereka menghidupi hati seorang hamba, yakni memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu dan bersedia menderita demi Kristus.

Hari ini, kita juga dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Meski tak semua orang dipanggil untuk meninggalkan tempat tinggalnya dan menyeberangi lautan untuk melayani orang asing, tetapi teladan George Mackay, Paulus, dan Epafroditus mengingatkan kita untuk terus memandang Yesus sembari mengembangkan hati seorang hamba dan berusaha melayani orang-orang di sekitar kita dengan tulus.

Semua itu memang tak mudah dilakukan. Aku sudah melayani paduan suara gerejaku selama beberapa tahun ini. Setiap Kamis malam, aku harus pergi ke sana menempuh jarak yang sangat jauh. Memang melelahkan, tetapi aku dikuatkan oleh komitmen Epafroditus, juga cerita-cerita tentang bagaimana Tuhan telah memakai paduan suara ini untuk menyentuh dan memberkati orang lain.

Bersama suami, aku juga mulai membaca satu pasal Alkitab setiap malam sebelum tidur. Kami berdoa agar firman Allah senantiasa menjadi pengingat saat kami berusaha untuk mengesampingkan kekhawatiran, frustrasi, dan kepentingan diri sendiri di tengah masa sulit. Sama seperti orang-orang yang telah menempuh perjalanan iman Kristen sebelum kita, hendaknya kita juga tetap setia dan rela berkorban dalam melayani Kristus.—Tracy Phua, Singapura

Handlettering oleh Kent Nath

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Pikirkanlah seseorang yang mengambil risiko demi injil. Apa yang memberinya keberanian untuk menanggung risiko itu? Inspirasi seperti apa yang kamu dapatkan untuk diteladani?

2. Sudahkah kamu melayani Tuhan dengan sikap hati hamba akhir-akhir ini?

3. “Risiko” (pengorbanan) apa saja yang dapat kamu ambil untuk memberitakan Injil dan/atau melayani sesama dengan kasih?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Tracy Phua, Singapura | Tracy menikmati pemandangan gunung-gunung yang berdiri megah, juga momen-momen ketika putrinya tertidur. Keduanya mengingatkan Tracy akan karya Tuhan yang luar biasa yang dilakukan-Nya dalam hidupnya.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Berjalan dalam Kerendahan Hati Kristus

Hari ke-8 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 2:5-8

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Aku tidak akan pernah melupakan pengalaman ketika aku pindah di tahun pertama kuliahku. Gejolak emosiku memuncak saat aku menghadiri kebaktian khusus bersama rektor. Beliau adalah seorang guru dan teolog yang dihormati. Orang tuaku antusias untuk mendengar khotbahnya dan bahkan menyalaminya. Bagi mereka, beliau adalah seorang “raksasa iman”.

Di akhir pidatonya, beliau melakukan tindakan yang luar biasa untuk seseorang dengan status terhormat sepertinya. Beliau meminta semua mahasiswa tahun pertama untuk maju menghadap mimbar dan berlutut menerima berkat. Sang rektor, dalam usianya yang melampaui 70 tahun, mengenakan setelan resmi, turut berlutut hingga hampir terjatuh. Beliau kemudian menengadahkan tangannya ke atas para mahasiswa dan berdoa untuk kami.

Rasanya mengejutkan untuk melihat pemimpin senior dan dihormati ini berkenan memosisikan dirinya dalam postur yang tidak nyaman demi para mahasiswa muda. Sikap berlututnya menggambarkan kerendahan hatinya.

Dalam suratnya kepada gereja Filipi, Paulus menasihati para pengikut Kristus untuk selalu rendah hati dan “berpikir seperti Yesus Kristus” (Filipi 2:5). Kebanyakan dari kita akrab dengan gambaran Yesus sebagai seorang pelayan yang rendah hati—halus, lembut, baik hati. Tapi penting juga untuk tidak melupakan betapa kerendahan hati ini sangat berlawanan dengan dunia ini yang begitu menghargai prestasi, status sosial, dan kekayaan.

Paulus memberitahu para jemaat Filipi bahwa meskipun Yesus dalam naturnya adalah Tuhan, Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Bapa sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Malahan, Yesus “membuat dirinya menjadi bukan siapa-siapa”—bukannya menggunakan hak istimewanya yang Ilahi untuk keuntungan-Nya sendiri, Yesus menanggalkan semuanya untuk menjadi sama seperti manusia (ayat 7). Dia juga “mengambil rupa seorang hamba” (ayat 7), bukan rupa sebagai raja, yang seharusnya bisa dipilih-Nya.

Yesus memilih untuk dilahirkan sebagai seorang manusia, menerima semua keterbatasan tubuh manusia yang terikat dengan tempat dan waktu dan dibalut dalam kulit yang tidak sempurna. Sampai akhirnya, Yesus “merendahkan diri-Nya sendiri dengan menundukkan diri kepada kematian—bahkan kematian di atas kayu salib!”. Ia menyerahkan diri kepada rancangan indah Allah meskipun itu membuat Ia sengsara dan terhina (ayat 8).

Ketika Paulus mendorong orang-orang Kristen untuk “memiliki pola pikir yang sama” seperti Yesus (ayat 5), hal itu bisa terasa susah dan tidak nyaman bagi kita. Tapi, itu juga memerdekakan kita. Ketika kita bersedia memiliki kerendahan hati, kita bisa keluar dari jerat perlombaan mengejar kekuasaan, kejayaan, dan kekayaan yang dunia agung-agungkan. Kita bisa mengaku bahwa kita memang terbatas, tapi ada Satu yang tidak terbatas. Kita dapat menundukkan diri kepada rencana Tuhan, meskipun itu tidak masuk akal bagi dunia sekitar kita. Pemahaman inilah yang mengubah cara kita berhubungan dengan anggota lain dalam keluarga Tuhan—gereja. Hidup dengan kerendahan hati memungkinkan kita untuk menjadi “sepemikiran, memiliki kasih yang sama, dan menjadi satu dalam roh dan satu dalam pikiran” (ayat 2).

Jadi, bagaimana cara kita mengikuti kerendahan hati Yesus dalam keseharian kita? Mungkin kita tidak dipanggil untuk memanggul salib dengan cara disiksa sampai berdarah-darah, tetapi kita bisa mencari cara untuk memakai hak istimewa kita untuk memberkati orang lain, bukan untuk keuntungan kita sendiri. Alih-alih mengejar posisi yang tinggi, kita bisa mulai melayani dari posisi bawah. Alih-alih berusaha tampil sempurna, kita bisa menerima dan menghargai keterbatasan kita. Dan, kita pun bisa dengan rendah hati menerima apa yang Tuhan telah berikan kepada kita sebagai bagian dari rancangan indah-Nya.— Karen Pimpo, Amerika Serikat.

Handlettering oleh Gerardine Eunike

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Bagaimana kamu dapat meniru kerendahan hati Kristus dalam keseharianmu?

2. Bagaimana kamu dapat “memiliki pola pikir yang sama seperti Kristus” dalam hubunganmu dengan sesama?

3. Adakah seseorang yang dapat kamu layani dengan rendah hati hari ini?

4. Hal-hal apa yang sulit kamu lepaskan? Bagaimana teladan Kristus dapat mendorongmu untuk melakukannya?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Karen Pimpo, Amerika Serikat | Karen menyukai musik, bertemu orang-orang, dan makan camilan sebanyak mungkin. Karen juga suka mencari dan menemukan kebenaran di dalam Alkitab.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Ayah, Terima Kasih untuk Teladanmu

Oleh Bintang Lony Vera, Jakarta

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mazmur 103:13)

“Bapak”, demikian aku memanggilnya. Ia adalah pria berkulit terang yang suka memancing dan bernyanyi, pribadi yang sederhana dan penuh kasih. Dia begitu mengasihiku, adik-adikku, dan penolongnya yang sepadan yaitu Mama.

Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai yang paling utama. Suatu pagi, langit tiba-tiba mendung ketika aku sedang diantar Bapak ke sekolah. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Sayangnya, kami tidak membawa jas hujan. Bapak segera memberikan jaket yang dipakainya kepadaku, lalu kembali melanjutkan perjalanan karena jam masuk sekolah sudah hampir tiba. Bapak bertanya apakah keadaanku baik-baik saja, padahal kondisi Bapaklah yang perlu dikhawatirkan karena ia mengendarai motor di tengah hujan tanpa jaket. Tetapi, ia lebih mementingkan kesehatanku daripada dirinya sendiri.

Bapak selalu memberikanku dukungan dan penghiburan di saat aku membutuhkannya. Saat aku ujian masuk perguruan tinggi, Bapak yang mengantarkanku. Bapak pula yang memberikan pelukan hangat untuk menenangkanku di malam pengumuman saat aku dinyatakan tidak diterima di pilihan pertamaku.

Bapak menunjukkan kasihnya dengan cara yang sederhana. Biasanya, Bapak akan mampir ke pasar sepulang kerja untuk membeli buah. Sesampainya di rumah, dari ambang pintu ia berkata, “Bapak pulang. Ini ada buah, ayo kupas dan kita makan”. Selain bekerja sebagai seorang karyawan swasta, Bapak juga menjual tas. Bapak telah mengusahakan banyak hal untuk aku dan adik-adikku agar kami dapat menikmati pendidikan dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.

Bertemu dengan Bapak dan berbicara dengannya pada sore hari sepulang kerja adalah hal yang kunantikan setiap hari. Aku senang jika suara motornya sudah terdengar dari dalam rumah. Kami dapat berbincang tentang apapun. Aku merasa bebas lepas saat berbicara dengan Bapak. Kedekatan ini membuatku semakin mengenal dan memahami Bapak. Aku sudah tahu Bapak sedang memikirkan sesuatu sebelum Bapak menceritakannya. Bapak juga tahu apa yang kualami sebelum aku menceritakannya. Meski begitu, tidak jarang kami berbeda pendapat. Aku sering membuatnya kecewa, begitupun sebaliknya. Kadang kebijakan-kebijakan Bapak dapat membuatku bersedih hati. Namun aku tahu, keputusan yang dibuat Bapak adalah untuk kebaikanku.

Cinta yang Bapak berikan mengingatkanku akan cinta kasih Bapa surgawi. Bapa begitu mencintai anak-anak-Nya sehingga Ia memberikan Putra-Nya yang tunggal bagi dunia. Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia, dan rela mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.

Kedekatan dengan Bapak membuatku rindu untuk lebih dekat dengan Bapa yang mengenalku lebih dari siapapun dan telah mengasihiku lebih dulu. Kini saatnya aku belajar semakin mengenal dan mengasihi-Nya melalui hubungan yang dibangun setiap hari lewat doa dan saat teduh. Bercermin dari hubunganku dengan Bapak, aku percaya bahwa setelah mengenal dan mengasihi Bapa Surgawi, aku akan semakin memahami apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku belajar untuk menghayati bahwa semua yang terjadi di dalam hidup ini juga seturut dengan kehendak-Nya dan bertujuan untuk mendatangkan kebaikan, sekalipun dalam kedukaan.

Setiap kali aku menghabiskan waktu dengan Bapak, aku selalu teringat untuk meluangkan waktu berbincang dengan Bapa Surgawi—Pribadi yang menerimaku sepenuhnya, mengenalku sampai ke bagian yang terdalam, dan mengasihiku lebih dari siapapun.

Baca Juga:

Tentang Benda-benda Langit yang Mengingatkanku akan Kebesaran Allah

Melalui hari yang panas terik, aku menyadari bahwa Tuhan kembali menyatakan diri-Nya dengan mengingatkanku akan karya ciptaan-Nya yang luar biasa.

Anthonius Gunawan Agung: Teladan Hidup dari Sang Pahlawan di Tengah Bencana

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Bencana alam menyisakan tangis dan pilu. Namun, kadang di balik kisah pilunya, lahir pula kisah-kisah teladan yang mengetuk pintu hati kita.

Ketika gempa bumi melanda kawasan Palu, Donggala, dan Mamuju di Sulawesi Tengah, Anthonius Gunawan Agung (22) sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang Air Traffic Controller (ATC) alias pemandu penerbangan pesawat di Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri, Palu. Kala itu Antonius bertugas memandu Kapten Ricosetta Mafella yang menerbangkan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6231 menuju Makassar.

Pukul 17:55 pintu pesawat telah ditutup. Pukul 18:02 Anthonius mengizinkan pesawat untuk lepas landas. Tapi, belum sempat pesawat itu mengangkasa, gempa bumi berkekuatan 7,7 skala richter mengguncang. Orang-orang segera bergegas menyelamatkan diri, tapi Anthonius bergeming meski sudah diteriaki untuk segera turun dari menara pengawas. Anthonius tidak menghiraukan guncangan gempa yang terjadi, dia fokus dengan tanggung jawabnya memandu pesawat hingga mengudara dengan sempurna.

Safe flight Batik Air, take care,” ucap Antonius untuk menutup komunikasinya dengan Kapten Mafella yang saat itu sudah dalam posisi aman di udara.

Namun, kemalangan pun menimpa Anthonius. Kalimat itu jugalah yang rupanya menjadi kalimat perpisahannya. Sejurus kemudian atap menara tempatnya bertugas ambruk. Anthonius tak punya lagi waktu menyelamatkan diri. Dia gugur dalam tugasnya sebagai seorang ATC.

Apa yang dilakukan oleh Anthonius Agung adalah tindakan yang heroik. Dedikasi Anthonius kala gempa terjadi memberikan kesempatan hidup kepada seluruh penumpang dan awak dalam pesawat. Dalam ungkapan dukacitanya kepada Anthonius, Kapten Mafella menuliskan, “Thank you for keeping me and guarding me till I’m safety airborne… Wing of honor for Anthonius Gunawan Agung as my guardian angel at Palu. Rest peacefully my wing man. God be with you.” Tak terbayangkan apabila saat itu Anthonius memilih lari menyelamatkan diri di saat roda pesawat masih berada di landasan, mungkin Kapten Mafella beserta seluruh awak dan penumpangnya tidak akan sampai mengudara dengan selamat.

Kisah Anthonius ini adalah sekelumit dari kisah-kisah heroik lainnya yang mengetuk pintu hati kita. Pun, kisah ini mengingatkan kita akan dedikasi dan pengorbanan yang juga dilakukan oleh Tuhan Yesus. Kematian Yesus di kayu salib memberikan kesempatan hidup tak hanya bagi satu jiwa, melainkan bagi semua manusia yang mau menerima Dia sebagai Tuhan. Sebagai anak Allah yang mengambil rupa manusia seutuhnya, Yesus bisa saja lari dari panggilan-Nya. Yesus mungkin takut akan apa yang harus Dia hadapi. Tapi, di taman Getsemani, Dia memilih untuk berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

Yesus memilih taat pada Bapa. Yesus tidak melarikan diri dari panggilan-Nya kendati Dia tahu ada penderitaan besar yang harus Dia hadapi. Hingga akhirnya, melalui kematian Yesus kita pun dibayar lunas dari dosa-dosa kita dan melalui kebangkitan-Nya, kita dan orang-orang yang percaya kepada-Nya beroleh jaminan keselamatan berupa kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Anthonius telah mengakhiri pertandingan imannya dengan baik. Dan bagi kita yang masih diberi kesempatan di dunia, inilah waktunya untuk kita menghidupi kehidupan dengan sebaik-sebaiknya, dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab sampai tiba waktunya ketika Tuhan memanggil kita pulang kembali kepada-Nya.

Selamat jalan Anthonius, kisah kepahlawananmu adalah setetes madu yang manis di tengah getirnya bencana.

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Aku Menunggu

Ketika segalanya menjadi lebih cepat, kita cenderung menganggap menunggu itu sebagai sebuah proses yang berat. Namun, bukankah sesungguhnya dalam hidup ini kita selalu menunggu sesuatu?

Nenekku dan Seorang Perempuan Nepal

Oleh Eugene Seah, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Nepali Lady And My Grandmother

Ketika kami duduk mengelilingi api unggun untuk menghangatkan diri dari dinginnya udara pagi di Nepal, temanku yang adalah seorang Nepal membagikan kabar Injil kepada seorang perempuan yang menyiapkan sarapan kami.

Perempuan itu menjawab, “Kalau dengan percaya kepada Tuhanmu aku bisa tidak bekerja, aku akan percaya!”

Bagaimana kamu merespons jawaban itu? Secara pribadi, waktu itu aku tidak bisa meresponsnya dengan jawaban yang tepat. Tapi sekarang, seiring aku mengingat kembali kesaksian nenekku, aku menemukan jawabannya.

Di dekade 1960-an, banyak orang Tionghoa di Singapura lebih memilih untuk punya anak lelaki daripada perempuan. Hasilnya, nenekku sering mendapat perlakuan kejam—secara fisik dan verbal—oleh ayah mertuanya karena dia tidak melahirkan anak laki-laki. Nenekku dikaruniai tiga anak perempuan. Mertuanya pernah meminta suami nenekku untuk mengambil istri lain. Untungnya dia menolak usulan itu. Saat nenekku mengandung anak keempat dan masih terus mengalami penyiksaan fisik, dia didesak oleh tetangganya untuk bunuh diri saja. Namun, dia menolak, dia tidak ingin anak-anaknya tumbuh tanpa seorang ibu.

Suatu ketika, saat dia sedang dalam perjalanan ke toko daging di mana suaminya bekerja, dia berpapasan dengan kegiatan penginjilan yang dilakukan oleh orang Kristen. Dia bergumam, “Kalau Engkau Tuhan yang bisa menyelamatkanku dari segala sakit hatiku dan menjagai anak-anakku, aku akan percaya kepada-Mu!”

Sekarang, nenekku adalah ibu yang luar biasa dari enam anak (tiga anak perempuan dan kemudian dia dikaruniai tiga anak lelaki), dan sangat dicintai oleh hampir selusin cucunya.

Tuhan telah menempatkan harapan di dalam hatinya dan menopangnya melalui tahun-tahun penuh badai. Tuhan kita yang Mahabesar mendengar tangisnya dari surga dan menjawab (Mazmur 55:17)!

Sebagai tanggapan, nenekku menjadikan doa sebagai gaya hidupnya. Dia menceritakan pada Tuhan tentang perjuangannya dan bersyukur kepada Tuhan atas segalanya. Selain itu, dia juga melaksanakan Amanat Agung untuk mencari domba-domba yang hilang dengan membagikan Injil kepada saudara-saudarinya dan orang-orang lain yang belum percaya. Nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Kristus! Meskipun Nenek tidak bisa membaca, tapi Tuhan memakai dirinya untuk membawa banyak orang kepada keselamatan.

Nenekku sungguh-sungguh ingin memahami Alkitab lebih baik. Dia pun belajar bagaimana membaca Alkitab dalam bahasa Mandarin dan mengikuti seminar-seminar rohani untuk belajar semakin mengenal Tuhan. Semangat nenekku itu membuatku merasa malu, sebab kurasa aku belum pernah sesemangat itu.

Tahun lalu, dia didiagnosis menderita kanker. Seharusnya dia merasa kecewa dan khawatir karena kabar itu. Tapi, keluargaku bisa melihat bahwa saat-saat sedih itu berlalu dengan cepat dan nenekku pun kembali bersukacita.

Seperti yang telah dilakukannya sebelumnya, nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Injil, kesetiaan Tuhan, dan kebaikan Tuhan, bahkan saat dia bergumul dengan kanker! Memang, Tuhan adalah Tuhan atas segala musim kehidupan kita, kita pun seharusnya menyembah-Nya dalam setiap musim kehidupan kita.

Kembali ke pertanyaan yang diberikan oleh seorang perempuan Nepal tadi, bagaimana aku menjawabnya sekarang?

Menjadi seorang pengikut Kristus tidak berarti bahwa kita bisa berhenti bekerja. Malah, akan ada banyak hal yang harus kita lakukan. Namun, yang jadi pembedanya adalah sekarang kita bekerja dengan jaminan penuh bahwa semua ada dalam kendali Tuhan dan segala jerih payah kita tidak sia-sia.

Melalui kehidupan nenekku, aku melihat kebesaran dan kesetiaan Tuhan. Dia memberikan sukacita yang nyata kepada semua anak-anak-Nya. Kita juga bisa mendapatkan penghiburan dalam pengetahuan bahwa anak-anak-Nya akan menerima upah yang kekal, yang tidak akan rusak ataupun hilang (Wahyu 22:12).

Memang, penyakit dan kesulitan dapat membuat tubuh kita lelah. Namun sebagai anak-anak Tuhan, meskipun dari luar kita terlihat rapuh, tapi di dalam batin kita dibaharui dari hari ke hari. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan.

Jika Tuhan berkehendak, aku berharap bisa kembali ke Nepal dan memberi tahu perempuan itu tentang kebaikan Tuhan kita. Kiranya kasih-Nya yang teguh dalam kehidupan nenekku, yang sedang berjuang untuk pulih, menjadi dorongan yang nyata untuk perempuan itu! Aku akan berbicara tentang kebaikan Tuhan di mana pun Dia menempatkanku. Ayo, kita bersama-sama menyatakan pujian kepada Tuhan ke manapun kita pergi.

Baca Juga:

Aku Gagal Masuk SMA Favorit, Tapi Aku Belajar untuk Tidak Larut dalam Kekecewaan

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,” firman ini menegurku yang merasa kecewa karena impianku masuk ke SMA favorit tidak terwujud. Melalui proses yang Tuhan izinkan terjadi, aku belajar untuk memahami bahwa rancangan yang Tuhan beri padaku adalah yang terbaik.