Posts

Kata Diri Sendiri vs Kata Tuhan

Mengawali tahun baru, yuk kita hidup seturut dengan apa kata Tuhan buat kita. Bersama-Nya, kita akan bertumbuh dan berbuah.

Artspace ini dibuat oleh @kaylaspalette dan diterjemahkan dari @ymi_today

3 Perenungan untuk Menyambut Natal

Oleh Yohanes Bensohur

Wah! Gak terasa sudah mau Natalan dan tahun baru lagi.

Rasanya baru kemarin, tetapi sekarang kita sudah akan memasuki tahun ketiga hidup bersama pandemi.

Teringat masa-masa di awal ketika orang-orang panik—memborong stok makanan, harga masker, sampai jahe pun jadi melangit. Ibadah dan persekutuan berubah menjadi online, semua berdoa agar pandemi berlalu.

Namun, kenyataan tidak demikian. Pertengahan tahun 2020, jumlah orang yang terpapar COVID semakin melonjak. Segala harapan untuk keadaan membaik seolah tampak sirna. Beberapa orang mungkin berpikir kenapa begitu lama pandemi ini terjadi, kenapa Tuhan mengizinkan hal ini, bahkan ekstremnya ada orang yang mempertanyakan tentang kebaikan Tuhan: jika Tuhan baik dan berkuasa mengapa mengizinkan kesulitan dan pandemi ini terjadi?

Sebaliknya, ada sebagian orang yang menanti kondisi terus membaik, melihat bagaimana Tuhan tetap berkuasa dan bekerja di dalam dan melalui pandemi. Memasuki tahun 2021 keadaan pun tidak lebih baik dari sebelumnya, peningkatan juga terus melonjak, ditambah dengan munculnya jenis varian baru. Kita semua menghadapi gelombang kedua yang membuat rumah sakit dan petugas medis kelabakan dalam mencari tempat dan merawat pasien, kita seperti terjebak di rumah, banyak orang di PHK, tidak bisa kerja, dsb.

Sekarang, 2021 hendak kita tutup dan tahun yang baru segera datang. Aku mengajakmu untuk berefleksi sejenak ke dalam diri melalui tiga pertanyaan ini:

1. Masih setiakah kita berdoa?

Ketika awal-awal pandemi, kita semua takut. Bersama komunitas gereja, persekutuan, atau secara pribadi kita berdoa memohon Tuhan memulihkan keadaan.

Namun, ketika pandemi tak juga kunjung usai, masih setiakah kita berdoa?

Doa-doa yang kita naikkan mungkin tidak akan mengubah keadaan dalam sekejap, tetapi ketika berdoa, kita sedang mengizinkan agar damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran kita (Filipi 4:7). Dan, janganlah kiranya kita pun lupa, bahwa doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16).

2. Apakah kita bertumbuh?

Sebelum pandemi, dinamika kehidupan kita pun ada naik-turunnya. Lalu, pandemi hadir dan rasanya membuat dinamika naik turun itu semakin parah. Tetapi, ibarat grafik denyut jantung yang naik turun, demikian jugalah kehidupan.

Naik dan turun adalah tanda bahwa kita hidup. Pertumbuhan apa yang nampak dalam diri kita? Apakah kita bertumbuh semakin serupa dengan Kristus?

3. Bagaimana kita memaknai Natal tahun ini?

Perasaan seperti apa yang sedang kita rasakan dalam menantikan Natal? Sedang biasa saja? Merasa lelah? Tidak begitu bersemangat? Apa yang sebenarnya menjadi kerinduan kita dalam natal dan tahun baru ini?

Natal kali ini, Kita dapat melatih hati kita untuk melihat kebesaran karya Allah. Dia, yang Mahabesar hadir dalam rupa bayi yang kecil dan rapuh, tapi dari sosok bayi inilah hadir pula dampak yang begitu besar terhadap dunia.

Raja Herodes khawatir apabila ada sosok yang akan mengganggu kekuasaanya sehingga ingin membunuh seluruh bayi di bawah dua tahun. Para Gembala menjadi orang-orang terpilih untuk menjumpai bayi dibungkus lampin seperti yang dijanjikan malaikat. Orang Majusi jauh dari timur mencari dan menemui Yesus melalui petunjuk bintang serta memberikan persembahan kepada-Nya.

Kiranya Natal tahun ini kita boleh kembali menata hati kita, mempertanyakan kembali di manakah posisi kita saat ini dihadapan Tuhan, sehingga kita tidak melewati Natal dan tahun baru ini begitu saja.

We wish you merry Christmas and Happy New Year. Kiranya yang menjadi kerinduan kita akan Natal dan tahun baru ini bukanlah suatu hal yang rendah dan tak bernilai, tapi Kristuslah yang boleh menjadi kerinduan terbesar kita, Dia yang benar-benar kita nantikan, kita muliakan dan kita juga rindu agar orang-orang boleh memiliki kerinduan yang besar pula akan Dia.

3 Janji akan Harapan di Tengah Ketidakpastian

Oleh Ruth Lawrence
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Verses That Give Me Hope Amidst Uncertainty

Rasanya tidaklah berlebihan jika kita berkata tahun 2020 itu mengerikan. Jutaan orang di seluruh dunia merasakan dampak dari pandemi, entah mereka terinfeksi atau mengalami efek domino lainnya yang diakibatkan kebijakan-kebijakan untuk meredam laju penyebaran virus.

Kita semua pun mungkin sepakat bahwa tahun 2020 sangat tidak biasa—tahun yang dipenuhi dengan banyak kesulitan! Namun, jika seandainya pandemi Covid-19 tidak terjadi pun, kita tetap akan mengalami hari-hari yang buruk—rencana yang gagal, kehilangan, sakit, juga kesedihan.

Terlepas dari kesulitan yang mendera kita, satu hal lain yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Tidak ada yang tahu akan apa yang terjadi besok, sebagaimana kita pun tak tahu di Januari 2020 akan seperti apa pandemi ini merebak.

Ketidakpastian bukanlah keadaan yang nyaman. Aku tak suka mengalami kejutan. Aku ingin bisa mengendalikan sesuatu dan memprediksi keadaan. Tapi faktanya, aku tidak piawai dalam mengendalikan situasi yang tak terduga. Aku malah berpura-pura seolah itu tak pernah terjadi, seolah hidupku baik-baik saja. Tapi, aku mendapati bahwa itu bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi ketidakpastian.

Seiring aku merefleksikan bagaimana caraku menanggapi dunia yang penuh ketidakpastian, aku menemukan tiga ayat yang mengandung janji Allah, yang menolong kita menemukan kedamaian dari-Nya:

1. Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Tahun lalu, ketika aku sedang mempelajari Injil Yohanes, aku tersentak oleh diskusi antara Yesus dengan murid-murid-Nya menjelang waktu penyaliban. Yesus akan segera mengalami penderitaan yang tak terkatakan, tapi Dia masih meluangkan waktu untuk meyakinkan para murid dengan kata-kata-Nya yang penuh belas kasih.

Yesus tidak berkata kalau hidup para murid akan mudah. Faktanya, Yesus berkata bahwa mereka (juga kita) akan menghadapi kesengsaraan. Hal-hal buruk terjadi sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup, dan sebagai orang Kristen, kita telah diberi tahu bahwa kita akan mengalaminya. Namun, kita punya alasan untuk berharap karena Yesus berkata, “kuatkanlah hatimu”. Ketika hati kita menjadi kelu karena kita merasa tak mampu menghadapi penderitaan—entah itu kesepian, kesakitan, atau kehilangan—Yesus berkata, “Jangan patah arang, kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.

Dengan Yesus di sisi kita, kita dapat berdiri teguh meskipun gelombang besar mendera kita. Yesus adalah kawan yang tidak sekadar berjalan di samping kita, Dia turut merasakan apa yang kita rasakan. Dia bukanlah Allah yang jauh, yang tak mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang sahabat atau dikhianati. Dia turun ke dunia dan menghidupi kehidupan yang dipenuhi sukacita sekaligus juga kesakitan. Yesus mengerti keadaan kita karena Dia sendiri telah melaluinya sebelum kita.

Kadang, ketika kita menghadapi masa-masa yang tidak pasti, emosi kita—takut, khawatir, bingung—bisa menenggelamkan kita dan membuat kita sulit berdoa. Ketika aku kehilangan kata-kata untuk berdoa pada Allah, aku bisa memulainya dengan mengakui keadaan yang tengah kulalui. Jujur di hadapan Allah menolongku untuk melihat keadaanku dalam terang yang baru—aku bisa mengarungi lautan yang bergelora karena Bapa Surgawi menyertaiku.

2. Jangan kamu menjadi lemah dan putus asa

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa” (Ibrani 12:3).

Ketika Yesus mendekati momen-momen penyaliban-Nya, Dia tidak menganggap remeh apa yang akan dilalui-Nya. Dia berkata jujur akan betapa hati-Nya pedih. Tapi, lebih dari itu, Dia juga berbicara akan hal-hal baik yang akan terjadi setelah kematian-Nya. Dia memberitahu para murid bahwa Dia akan pergi tetapi datang kembali agar mereka mendapatkan sukacita yang kekal. Kepergian-Nya berarti Roh Kudus akan datang dan menolong, dan terutama, dari kematian-Nya kita dapat didamaikan dengan Allah.

Aku mendapati Ibrani 12 itu menarik dan menguatkan karena pasal tersebut menceritakan alasan mengapa Yesus menderita bagi kita. Kita diundang untuk melihat kehidupan Yesus dan bagaimana Dia membawa kita pada Allah Bapa, agar kita tidak tawar hati.

Sebagai manusia kita cenderung berfokus pada hal-hal negatif yang tampak di depan kita. Ketakutanku akan virus Covid-19 dan aturan pembatasan sosial adalah nyata. Tapi, kita bisa memilih agar ketakutan itu tidak jadi fokus pikiran kita. Kita bisa melihat hal-hal baik lainnya yang mendorong kita mengucap syukur.

Satu aktivitas yang memberi dampak positif bagiku adalah sebelum hari berakhir, aku akan mengingat kembali setidaknya tiga kebaikan yang terjadi sepanjang hari itu. Aku lalu mengucap syukur kepada Allah. Ketika aku melakukan ini, aku mendapati ternyata aku punya lebih dari tiga hal untuk kusyukuri. Tujuanku adalah agar fokusku bergeser, dari pikiran tentang “seandainya Tuhan berbuat ini dan itu”, menjadi kepada berkat-berkat apa saja yang Dia telah berikan dan janjikan bagiku.

3. Bedakan antara mana yang baik dan buruk

“Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan’. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (1 Korintus 10:23).

Ayat terakhir yang kutemukan ini lebih dari sekadar pengingat. Di suratnya, Paulus menulis kepada jemaat Korintus tentang sikap mereka terhadap satu sama lain. Paulus mengingatkan, meskipun mereka tidak lagi terpisah oleh sekat aturan makan orang Yahudi, bertindak semena-mena untuk melakukan apa pun mereka yang inginkan bukanlah hal yang terbaik untuk dilakukan bagi saudara seiman.

Ayat ini membuatku berpikir bagaimana aku menyikapi orang lain ketika aku sedang bertemu teman-temanku. Saat ini, ketika pembatasan sosial gencar dilakukan, mungkin banyak orang akan menerima perintah ini. Tetapi, ketika kebijakan ini dilonggarkan, aku perlu berpikir matang bagaimana tindakanku nanti dapat berdampak bagi orang-orang di sekitarku. Aku mungkin tidak masalah untuk menjumpai teman-temanku secara tatap muka, tapi bagaimana jika tindakanku itu membuat orang lain khawatir? Aku perlu memikirkannya dengan bijak. Atau, semisal ketika aku berbelanja di supermarket, aku perlu memberi jarak fisik antara aku dengan antrean di depanku. Meskipun aku bukan termasuk orang yang parno, tetapi tidak dengan orang lain. Aku perlu juga menghargai mereka.

Aku perlu mengerjakan apa yang baik bagiku dan menghindari apa yang membawa keburukan. Bukan hanya untuk kesehatan mentalku, tetapi juga bagi perjalanan imanku. Apakah menghabiskan waktu bermedia sosial selalu lebih baik daripada membaca firman-Nya? Bagaimana jika aku menyerahkan kekhawatiranku kepada Tuhan daripada terus-menerus melihat tayangan berita?

Seiring aku berusaha mengubah kebiasaanku, aku terdorong untuk menyadari hal-hal kecil yang patut disyukuri, dan aku pun merasa diriku lebih positif.

Kesulitan dan ketidakpastian adalah bagian dari hidup setiap orang. Menyadari bahwa hal buruk terjadi dan kita merasa sedih karenanya adalah sikap yang wajar, tetapi kita juga bisa melihat pada hal-hal baik yang Tuhan izinkan terjadi. Tidak selalu mudah untuk mengubah pikiran kita kepada kasih dan berkat dari Allah, tetapi ketika kita bisa melakukannya, kita menemukan penghiburan dan harapan yang kekal.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Memaafkan yang Tak Termaafkan

Memaafkan adalah sebuah tindakan yang melibatkan proses rumit, yang untuk mengucapkannya kita perlu mengorek kembali segala memori dan luka hati. Lantas, bagaimana bisa kita memaafkan orang yang rasanya tidak termaafkan?

Lupakan Resolusi, Tentukan Tujuan Hidupmu!

Setiap tahun baru kita sering membuat resolusi tapi gagal memenuhinya. Kita lantas merasa gagal atau kecewa seiring waktu yang terus berjalan. Tapi… bagaimana jika kita coba lupakan tentang membuat resolusi dan mulai menetapkan tujuan hidup kita supaya kita bisa menghidupi hari-hari secara maksimal?

Jika kamu bingung mau memulai dari mana, Efesus 5:15-21 adalah bacaan yang baik untuk mulai membangun tujuan hidup kita. Perikop itu memberi kita hikmat yang dapat menolong kita untuk memanjat tangga pertumbuhan rohani dan mengidentifikasi bagian-bagian licin manakah yang perlu kita hindari supaya kita bisa mengakhiri perjalanan kita dengan baik.

Artspace ini dibuat oleh YMI Today.

Tumpaslah Kemalasan, Sebelum Itu Menghancurkan Kita

Oleh Fandri Entiman Nae, Manado

Kesempatan adalah sesuatu yang tidak selalu ada. Beberapa dari kita berupaya mencarinya, mungkin mati-matian, lalu pada saat kita mendapatkannya, kita “melahapnya”. Namun anehnya, pola seperti itu tidak selalu terjadi. Ada momen ketika sejumlah kesempatanlah yang terlihat menawarkan diri kepada kita. Beberapa kesempatan bahkan hadir secara tiba-tiba, tanpa perlu diawali dengan butir-butir keringat. Tapi, bukannya menyambutnya dengan antusias, kita malah mengambil kesempatan-kesempatan itu dan menyimpannya di saku kita, berharap mereka aman di sana, lalu perlahan mulai menyadari saku kita telah kosong. Intinya adalah kita senang menunda-nunda sesuatu.

Ada kasus yang dimulai dengan berkata santai “nanti saja”, lalu pada akhirnya disusul dengan kepanikan mengejar deadline. Ada pula kasus lain yang diawali dengan kalimat “sebentar lagi” dan berakhir dengan nada penyesalan berbunyi “coba kalau aku sedikit lebih cepat”. Mari renungkan sejenak, berapa kali dalam hidup ini kita kehilangan hal berharga yang tidak kita jaga dengan baik karena sikap suka menunda-nunda? Seberapa sering kita menganggap enteng peluang-peluang positif yang tepat berada di depan mata kita dan menunda untuk memanfaatkannya, lalu akhirnya menangis hingga mengutuki diri sendiri?

Tentu untuk menyelesaikan masalah yang serius ini, kita patut mencari akar permasalahannya. Akan tetapi, sebisa mungkin kita tetap harus berusaha bersikap adil agar tidak terjebak pada oversimplifikasi (sikap yang terlalu menyederhanakan masalah). Yang aku maksud adalah kita harus mengakui bahwa tindakan menunda tidak selalu buruk. Ada masa di mana kita tidak boleh terburu-buru. Malahan pada banyak situasi pula kita harus berpikir bijaksana dengan menunda sesuatu dan lain hal. Jadi amat penting untuk kita menganalisa dengan cermat alasan di balik sikap menunda-nunda seseorang, apalagi pada saat kita berbicara tentang seorang yang mengidap Procrastination (Penyakit Psikologis Suka Menunda). Karena faktanya alasan orang menunda-nunda pekerjaan bisa bersumber dari beraneka ragam alasan, misalnya ketakutan berlebih pada kegagalan akibat trauma masa lalu, atau mungkin kurangnya motivasi orang-orang sekitar. Apabila pembahasannya seluas ini, maka itu memerlukan ruang yang besar, bahkan pengalaman dan keahlian dari seorang psikolog tentu akan sangat membantu dalam melihat kasus per kasus secara spesifik.

Maka dari itu, dalam tulisanku ini kita hanya akan membahas sebuah sikap suka menunda-nunda yang bersumber dari kemalasan. Dengan kata lain, seperti yang kusinggung sebelumya, kita akan membahas apa yang menjadi akar permasalahannya. Sehingga di sini, sikap malas yang menjadi penyebab dari sikap suka menunda-nunda akan menjadi apa yang kita bedah secara serius.

Sebagai langkah awal kita harus bertanya tentang bagaimana sikap Firman Tuhan dalam memandang kemalasan. Pertanyaan itu amat mendesak karena sangat disayangkan ada sebagian dari kita yang beranggapan bahwa masalah kemalasan ini adalah masalah sepele. Bahkan, mungkin kita telah menghapus kemalasan dari daftar dosa di hadapan Allah. Aku pernah mendengarkan tanggapan dari seorang teman atas sikap teman lain yang berbunyi, “dia orang yang sangat baik tapi sayang sekali dia orang yang malas”. Apakah benar seorang dapat menjadi sangat baik tetapi juga pemalas?

Dalam perumpamaan yang diberikan oleh Yesus tentang talenta (Matius 25:14-30) digambarkan ada 3 orang yang diberikan kepercayaan oleh tuannya untuk dikelola. Dua hamba yang diberi 5 dan 2 talenta mengerjakan bagian mereka dengan serius dan mendapatkan pujian/apresiasi dari sang tuan (padahal pada masa itu seorang hamba, serajin apapun dia, sama sekali tidak punya hak, termasuk hak untuk dipuji oleh tuannya). Sedangkan hamba terakhir yang mendapat 1 talenta, benar-benar mengecewakan tuannya dengan menguburkan uang yang telah dipercayakan kepadanya. Kemudian seperti yang kita tahu, atas apa yang dilakukan oleh hamba terakhir itu, sang tuan yang marah besar lantas berkata “Hai kamu hamba yang jahat dan malas”.

Coba membaca nats itu dengan lengkap dan kita akan mendapati kerasnya rangkaian kata dari sang tuan beserta konsekuensi yang harus ditanggung hamba yang malas itu. Dalam perumpamaan itu kita sama sekali tidak diizinkan oleh Yesus untuk menganggap kemalasan sebagai hal yang biasa-biasa saja. Kemalasan adalah kejahatan. Menunda-nunda apa yang mampu kita lakukan secepatnya berarti mengizinkan kemalasan untuk masuk dan mendapatkan ruang di hati kita. Dan itu adalah kekejian di mata Allah.

Setiap kesempatan yang baik adalah pemberian Allah. Meremehkan dan menunda memanfaatkannya sama saja dengan menghina Sang Pemberinya. Sekali lagi, kita tidak diajar untuk menjadi orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan bertindak. Menjadi ceroboh adalah hal lain. Tetapi menjadi pemalas yang suka menunda-nunda adalah hal yang lain pula. Kemalasan membawa dampak yang berbahaya, baik secara internal maupun eksternal. Ia dapat menghancurkan kita bersamaan dengan semua yang ada di sekitar kita. Mungkin tidak bersifat instan, tetapi bersifat pasti.

Di suatu malam yang larut seorang teman lama menghubungiku dan meminta waktu untuk bercerita secara serius. Dalam pembicaraan kami melalui telepon genggam, ia menyodorkanku sejumlah pertanyaan yang sungguh-sungguh menguras emosi. Aku menduga, dan amat yakin, deretan pertanyaan itu lahir dari sebuah penyesalan yang amat dalam. Sambil menangis temanku mengisahkan bagaimana ia harus kehilangan seorang adik yang sangat dikasihinya tanpa pernah bertemu secara langsung ketika adiknya itu dirawat di rumah sakit. Berkali-kali sang adik menelepon dan memintanya sedikit waktu saja untuk bertemu. Temanku itu terus mengiyakan, mencoba “mengumpulkan niat”, dan akhirnya kembali menunda kunjungannya. Ia selalu menenangkan dan meyakinkan dirinya dengan berkata “masih ada hari esok”. Dan dia benar, hari esok masih ada, tapi adiknya telah pergi. Dimulailah tuduhan pada diri sendiri, berharap waktu dapat diputar kembali. Bahkan untuk menghibur hatinya yang diliputi perasaan tertuduh itu aku akhirnya memutuskan untuk bertemu langsung dan berbicara dengan dia meski di tengah-tengah kesibukanku.

Bukankah ini yang terjadi banyak dari kita? Beberapa orang secara keliru menjadi terlalu yakin bahwa mereka akan selalu baik-baik saja. Kita menunda untuk memulai hidup yang sehat, makan sembarangan, mengabaikan olahraga, lalu petaka datang dan akhirnya kita menangis bagai anak kecil yang permennya dirampas orang. Berkali-kali seperti itu. Kita bisa saja mencari ratusan contoh lain untuk masalah serupa, tetapi biarkan aku mengatakan salah satu kalimat angkuh yang paling sering kudengar dari mulut seseorang: “Biarkan aku menikmati hidupku dengan memuaskan semua nafsuku di masa muda, lalu aku akan bertobat di masa tua dan mati dengan tenang”. Entah dari mana dia tahu bahwa dia akan hidup sampai pada masa senja. Tanpa bermaksud memprediksi usia seseorang, tetapi atas dasar apa kita menjadi sangat yakin bahwa kesempatan akan selalu tersedia bagi kita? Betapa kagetnya setiap kali mendengarkan kabar pilu dari teman dan anggota keluarga yang terlihat sangat sehat, tetapi malah meninggal secara tiba-tiba di usia yang masih sangat muda. Tubuh kekar dan karier gemilang memang membanggakan, tapi jangan lupa, hidup penuh dengan kejutan!

Mari kita pikirkan sesuatu yang lebih dalam tentang semua ini. Sungguh tidak terbayangkan apa jadinya jika para rasul Kristus adalah sekumpulan pemalas yang menunda-nunda pengabaran Injil. Semakin dalam lagi, apa yang akan terjadi dengan kita jika Tuhan Yesus yang kita sembah adalah pribadi yang tidak tahu bekerja? Tetapi sungguh aku terpesona dengan-Nya. Semakin aku mengenal-Nya, semakin hatiku bergelora. Dia yang kukenal adalah Tuhan yang tidak takut “meninggalkan” kenyamanan takhta-Nya dan mengambil rupa seorang hamba yang dianiaya dengan kejam. Ia punya kuasa, tapi tidak sekalipun Ia memeras Petrus agar memberi-Nya ikan setiap kali Ia lapar, lalu setelah kenyang naik ke atas keledai, dan jalan-jalan menikmati pemandangan sore di Galilea. Tidak!

Tanpa menunda-nunda, pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Ia menyusuri jalan berbatu di bawah panas terik dan berteriak sana sini agar manusia kembali bersekutu dengan Allah. Ia menempuh perjalanan jauh dari Surga yang mulia ke Betlehem yang kotor dengan hati yang tulus. Dengan punggung yang robek serta pelipis yang tertancap duri jerami Ia menempuh jalan Via Dolorosa yang berkelok-kelok. Dengan keringat, darah, dan (kuyakin) air mata, Ia lalu mati di Golgota untukku dan untukmu.

Dia tidak menunda-nunda apa yang telah dijanjikan-Nya melalu para nabi-Nya. Ia sudah menepatinya, tepat dua ribu yang tahun lampau. Saat ini adalah waktumu dan waktuku. Berjuanglah dan jangan membuang-buang waktu. Setiap kali kemalasan datang menggodamu, berdoalah dan mintalah semangat, hikmat, dan kekuatan dari Allah. Renungkanlah salib itu. Di sana pernah tergantung Kristus, sang pejuang yang bijaksana. Ikutlah teladan-Nya. Lakukan apa yang masih bisa dilakukan. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki. Hargai setiap kesempatan dan manfaatkanlah dengan sebaik mungkin. Hormati semua pemberian-Nya. Bergegaslah untuk kemuliaan Tuhan. Jangan menunda-nunda!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menikmati Allah di Segala Musim

Menikmati Tuhan di segala keadaan adalah hal terbaik. Sebuah sukacita ketika kita bisa merasakan pimpinan-Nya saat bekerja maupun saat kita beristirahat.

Menikmati Allah di Segala Musim

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku sempat merasakan kekosongan di masa-masa menjelang Natal beberapa tahun terakhir ini. Aku terlibat di berbagai acara gereja, tetapi yang kurasa bukan sukacita. Aku bosan menjadi panitia, pemusik, mengiringi paduan suara dan segudang aktivitas lainnya. Momen Natal yang seharusnya menjadi saat-saat reflektif malah jadi terasa hambar.

Pada Natal tahun 2020 kemarin, ada hal lain yang juga menyita kesibukanku, yaitu pekerjaan. Saat ini aku bekerja di perusahaan start-up yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Menapaki pekerjaan di bidang start-up tentu banyak tantangannya: belum ada sistem yang terbentuk, struktur sumber daya manusia (SDM) pun belum kokoh, dan kami yang bekerja di dalamnya masih seperti berjalan di hutan rimba; menerka-nerka apa yang baik untuk keberlangsungan bisnis ini juga untuk setiap pegawai yang bekerja di dalamnya. Bahkan masing-masing kami masih harus melakoni dua hingga tiga jabatan sekaligus untuk beberapa proyek pekerjaan.

Di Desember kemarin aku dan rekan-rekan kerjaku memiliki beberapa proyek pekerjaan besar, mulai dari pembukaan outlet kafe baru, hingga mengirim parsel Natal ke berbagai pihak yang mendukung keberlangsungan perusahaan ini. Di suatu pagi ketika aku sedang menempuh perjalanan ke kantor, aku mengeluh di dalam doaku pada Tuhan.

“Tuhan, aku capek banget! Masa Desember gini kerjanya abis-abisan sih? Aku ingin menikmati momen Natal tanpa diganggu pekerjaan-pekerjaan yang super banyak ini! Aku ingin liburan.”

Aku mengeluh. Di samping memang tubuh dan pikiranku sedang letih, aku merasa seperti menolak kondisi dan tidak menikmati pekerjaan yang tengah kujalani di kantor. Namun ketika aku mendoakan keluhan itu, aku teringat akan doaku di tahun 2019 yang lalu: bahwa aku ingin menikmati Natal dengan cara tidak sekadar ritual dan pelayanan. Aku lantas merenung: pekerjaan yang kulakukan sekarang sesungguhnya adalah pemberian dari Tuhan. Aku pernah menuliskan proses perjalanan berkarierku dan menemukan bahwa ini adalah tempat terbaik untukku bekerja, setidaknya hingga saat ini. Mengingat proses bagaimana Tuhan tempatkan aku di perusahaan start-up, aku pun kembali mengingat-ingat ternyata banyak sekali hal baik yang Tuhan lakukan buatku, tapi aku sering tidak menyadarinya. Dan parahnya, aku masih saja sering mengeluh, mengasihani diri, dan kurang bersyukur.

Menyadari keberdosaanku, aku meminta ampun pada Tuhan karena tidak sadar akan hadirnya Pribadi yang selalu memimpin langkahku—si manusia yang sesat seperti domba dan mengambil jalannya sendiri (Yesaya 53:6). Dalam anugerah Tuhan, aku akhirnya menyadari dan menemukan sebuah jawaban dari rasa bosanku mengerjakan kegiatan atau aktivitas Natal selama bertahun-tahun: aku fokus pada aktivitas dan kegiatannya, bukan pada Kristusnya. Aku fokus pada berbagai macam pelayanan, kegiatan, perayaan, ritual, tradisi, tapi lupa pada Satu Pribadi yang merupakan fokus utama dari keberadaan Natal sesungguhnya. Aku tidak menikmati berbagai kegiatan yang berlangsung di penghujung tahun karena aku sulit menyadari kehadiran Kristus yang senantiasa memimpin hari-hariku.

Menikmati Allah Ketika Sibuk dan Tidak Sibuk

Lalu apakah salah jika dalam momen Natal kemarin yang seharusnya dilalui dengan refleksi aku malah sibuk bekerja di kantor? Pertanyaan refleksi ini aku tanyakan pada diri sendiri, dan mungkin bisa berlaku juga untuk kita semua. Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Judah Smith dalam bukunya yang berjudul “How’s Your Soul? – Why Everything That Matters Starts with The Inside You” menuliskan ada empat lingkungan kondusif yang Tuhan sediakan bagi kesehatan jiwa kita, salah satunya adalah Responsibility atau tanggung jawab. Tuhan menciptakan manusia untuk bekerja bukan sebagai bentuk hukuman. Konsep bekerja bahkan sudah ada sejak zaman Adam di taman Eden (Kejadian 2:15). “God created humans to bear responsibility. (Tuhan menciptakan manusia untuk memikul tanggung jawab.)”—dan ini adalah kondisi yang sehat yang Tuhan ciptakan untuk kita.

Bagian dari buku yang tengah kubaca tersebut mengingatkanku kembali bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita juga merupakan pelayanan bagi Tuhan, meskipun kelihatannya sulit meluangkan waktu untuk melakukan refleksi Natal secara pribadi. Apalagi jika kembali mengingat bagaimana cara Tuhan menempatkanku di kantor ini, aku kembali mengingatkan diri sendiri untuk mengurangi keluhan yang menghambat ucapan syukur. Sambil terus belajar bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harusnya kulakukan dengan sekuat tenaga dan dengan segenap hatiku seperti untuk Tuhan (Pengkhotbah 9:10; Kolose 3:23).

Sibuk bekerja dengan penuh tanggung jawab tentu bukan berarti tidak ada istirahat. Masih berasal dari buku yang sama, elemen berikutnya yang menyehatkan jiwa kita adalah Rest atau beristirahat. Terus menjaga dan menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati langit biru sambil diterpa angin sepoi-sepoi merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati makanan, waktu bersama teman dan orang tersayang, dan hal-hal yang disediakan Tuhan untuk kita merupakan bentuk istirahat bagi jiwa kita. Fokus pada kesibukan seringkali malah membuat kita lelah luar dalam; lelah bagi tubuh, lelah bagi jiwa. Akhirnya, momen yang kupilih menjadi waktu terbaik untuk merefleksikan makna Natal secara pribadi adalah ketika aku tengah menempuh perjalanan pergi dan pulang kantor menggunakan ojek daring, sambil mendengarkan lagu-lagu Natal dan diterpa angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

“A restless soul is a soul that thinks it is in control and needs to take care of everything. If we do not rest, we are trying to be our own God. (Jiwa yang gelisah adalah jiwa yang berpikir bahwa dirinyalah yang mengatur dan perlu mengendalikan segalanya. Jika kita tidak beristirahat, kita sedang mencoba menjadi tuhan atas diri kita sendiri)”.–Judah Smith dalam buku “How’s Your Soul?”

Imanuel: Natal yang Sesungguhnya Setiap Hari

Dari perenungan pribadiku, aku belajar bahwa menikmati hadirat dan pimpinan Tuhan dalam segala aktivitas, kegiatan, dan kesibukan merupakan hal terbaik yang bisa kunikmati. Sebuah sukacita bagi jiwa ketika bisa menikmati dan merasakan pimpinan Tuhan baik ketika sedang bekerja, maupun ketika sedang beristirahat sambil menghirup wanginya air hujan yang jatuh ke tanah.

Natal tahun 2020 telah berlalu dan kini aku belajar bahwa makna Natal yang sesungguhnya tidak berfokus pada jenis kegiatan atau aktivitas yang kita lakukan pada bulan Desember, melainkan pada: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5). Dan Anak yang telah lahir itu ada bersama-sama dengan kita setiap hari, terlepas dari sibuk atau tidaknya kita. Mengapa? Karena Ia adalah Imanuel: Allah menyertai kita (Matius 1:23). Kelahiran-Nya ke dunia membawa kabar sukacita terbaik yang pernah ada, yaitu menyelamatkan umat manusia dari belenggu hukuman dosa dan memberikan kehidupan sejati karena kasih Allah yang begitu besar buat teman-teman dan juga aku; supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Natal selalu berbicara tentang tentang Tuhan Yesus Kristus yang lahir dan berkenan untuk dikenal (Yesaya 55:6). Dia menyertai kita di sepanjang tahun 2021 ini, dan kita bisa minta tolong pada-Nya supaya bisa menikmati Dia setiap hari, dalam setiap kegiatan apapun yang kita kerjakan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Pahamilah Arti Kasih yang Sejati

Sedikit tindakan kasih yang kita lakukan tentulah tidak sebanding dengan apa yang Allah telah berikan pada kita, tetapi tindakan kasih itulah yang menunjukkan pada dunia bahwa kita telah dikasihi lebih dulu oleh Allah.

Jika Awalnya Saja Sudah Buruk, Sungguhkah Nanti Lebih Baik?

Oleh Chia Poh Fang, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Such A Bad Start To 2020?

“Kuharap tahun barumu dimulai dengan baik.”

Sepenggal kalimat itu mengisi sebuah email yang dikirimkan kepadaku, sebuah ucapan yang tulus.

Namun, serentetan kabar buruk yang kubaca dan tonton di media belakangan ini telah mempengaruhi orang-orang yang kukenal sampai ke tataran kehidupan pribadi mereka.

Di hari pertama 2020, hujan lebat di sekitar Jakarta membuat debit air meninggi dan banjir di mana-mana. Seorang temanku sampai terpisah dari anak-anaknya selama beberapa hari karena mereka harus mengungsi di rumah sang nenek. Temanku yang lain, seharusnya terbang ke Malaysia untuk rapat, tapi dia tidak bisa pulang mengambil barang bawaannya karena banjir. Dia harus membeli baju baru di Malaysia.

Kemudian, kita juga mendengar berita tentang gunung meletus di Filipina. Lima relawan penerjemah dari kantor kami tinggal di dekat lokasi bencana tersebut. Rumah mereka ditutupi abu vulkanik. Tiga dari mereka sesak nafas karena debu yang terlampau tebal, dan mereka hidup tanpa air dan listrik selama tiga hari.

Sementara itu, di Australia, kebakaran hutan merambat dengan masif. Seorang temanku yang sedang dalam penerbangan pulang ke Canberra tak dapat mendarat karena asap yang terlampau pekat. Penerbangannya dialihkan dan membuatnya meratap ingin segera pulang ke rumah.

Kabar buruk masih belum berhenti. Berita terbaru yang kita dengar dan menghiasi media di seluruh dunia adalah kabar tentang penyebaran virus Corona yang telah merenggut lebih dari 427 nyawa sejak penyebarannya yang pertama pada 31 Desember 2019.

Meski secara pribadi aku tidak kenal siapa pun yang tertular virus tersebut, namun aku bisa sedikit merasakan bagaimana pedihnya kehilangan. Dalam 17 hari pertama tahun ini, ada tiga kematian yang terjadi di antara orang-orang dekatku. Ada seorang sepupuku yang meninggalkan istrinya selamanya, seorang pria yang kehilangan teman hidupnya selama 40 tahun lebih, dan seorang ibu yang harus meninggalkan anaknya yang berusia lima tahun.

Mengatakan bahwa tahun ini tidak diawali dengan baik rasanya bukanlah pernyataan yang berlebihan.

Mungkin ada di antara kita yang kehidupannya terdampak oleh salah satu dari sekian banyak kabar buruk di atas, diliputi ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, atau kesedihan. Jika ya, bolehkah aku mengatakan hal ini kepadamu?

Tidak apa-apa untuk mengatakan kamu sedang tidak baik-baik saja

Adalah wajar untuk marah karena kematian yang merenggut orang yang kamu kasihi. Kamu mungkin merasa takut atau pun panik akan perubahan iklim yang mengakibatkan banjir dan kebakaran hutan, atau mungkin pula khawatir karena penyebaran virus Corona.

Aku berduka karena kematian sepupuku, dan bertanya-tanya mengapa kehidupan seseorang yang masih muda direnggut begitu cepat. Aku dan teman-temanku pun berduka atas penderitaan yang harus dihadapi orang-orang yang berjuang pulang karena kebakaran hutan, atau mereka yang harus bekerja ekstra membersihkan rumah mereka pasca banjir dan letusan gunung berapi.

Jika kita membuka Alkitab kita, kita melihat Yesus pun menunjukkan gejolak emosinya saat berada di pemakaman. Ketika dia mendapati Maria yang saudara laki-lakinya, Lazarus, meningal dunia, “hati-Nya sedih, dan Ia tampak terharu sekali” (Yohanes 11:33 BIS)

Mengapa Yesus bersedih? Mungkin, Yesus kecewa dan marah karena dosa dan konsekuensi yang diakibatkannya. Allah tidak menjadikan dunia supaya dipenuhi dengan kesakitan, penderitaan, dan maut, tapi dosa memasuki dunia dan menodai rencana mulia Allah.

Ketika keadaan tidak baik, ketahuilah ini bukanlah akhir

Ada banyak pertanyaan tentang kesakitan dan penderitaan yang belum kutemukan jawabannya yang paling memuaskan. Namun, ketika aku bergumul dengan keraguan, aku ingat bahwa Yesus hadir ke dunia dua ribu tahun silam dan menunjukkan pada kita bagaimana Allah sesungguhnya.

Tangan-Nya menyentuh yang sakit kusta (Markus 1:41); Pandangan-Nya tertuju kepada janda yang sakit di Nain (Lukas 7:11-17). Dia tersakiti ketika kita merasa sakit. Kita memiliki Juruselamat yang peduli dan menderita bersama kita. Namun, lebih daripada itu semua, Yesus mati dan bangkit dari maut. Dialah satu-satunya Pribadi yang mati, bangkit, dan tidak pernah mati kembali! Dia telah mengalahkan maut. Kita punya harapan yang hidup dalam Yesus, sebab Juruselamat kita adalah Tuhan yang hidup.

Dan, Yesus pun berjanji kelak akan tiba waktunya di mana segala kesakitan akan berakhir (Wahyu 21:4). Ketika kita tak dapat menghentikan kesakitan dan dosa menggerogoti tubuh kita yang fana saat ini, sebagai anak-anak-Nya, kita kelak akan menerima tubuh yang baru dan mulia (1 Korintus 15:42-43). Inilah kisah akhir dari sejarah manusia yang teristimewa dapat kita ketahui saat ini.

Apakah hari-harimu di tahun ini juga dimulai dengan kisah getir? Teguhkanlah hatimu sebab ini bukanlah akhir. Allah sedang bekerja untuk memulihkan; Allah bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya (Roma 8:28).

Seiring 2020 terus berlanjut, kita mungkin akan masuk ke dalam situasi yang mengharuskan kita hanya dapat bergantung dan percaya pada-Nya. Bersediakah kamu bersama-sama denganku untuk memusatkan pandanganmu kepada Yesus? Harapan kita hanya di dalam-Nya, dan bersama-Nya segala sesuatu dapat kita lalui.

Baca Juga:

Di Balik Hambatan yang Kita Alami, Tuhan Sedang Merenda Kebaikan

Meski kamu melalui jalan yang berbelok-belok, atau bahkan berbatu-batu, dan meski seringkali kamu menemukan dirimu tidak memahami maksud Tuhan dalam hidupmu, tetaplah percaya kepada-Nya. Bila Tuhan yang menyertaimu, Dia pasti akan memberikan pertolongan dan tuntunan-Nya dalam segala sesuatu yang kamu kerjakan.

Tuhan, Kapan Aku Harus Memulai?

Oleh Ezra A. Hayvito, Tangerang Selatan

Tuhan, Kapan Aku Harus Memulai?

Mengawali tahun 2020, aku diingatkan tentang beberapa ide dan mimpi yang sudah cukup lama aku tunda. Cukup lama terkubur karena kesibukan, akhirnya muncul pertanyaan ini dalam doaku, “Tuhan, kapan aku harus memulai?”

Kalau kamu merasa pertanyaan ini juga tidak asing buat kamu, izinkan aku membagikan sedikit ceritaku dalam tulisan ini.

Maret 2019, aku diberikan undangan untuk menulis artikel rohani oleh salah satu sahabatku. Tawaran itu begitu menarik bagiku karena saat itu aku memang sedang giat menulis catatan dari renungan pribadiku. Namun bagiku menulis artikel rohani adalah sebuah area baru yang belum siap untuk aku masuki sehingga tawaran itu hanya kusimpan sebagai mimpi dan terkubur dalam kesibukanku yang lain.

Waktu berlalu dan pada Desember 2019, tawaran itu datang kembali. Seketika, aku mendapat keyakinan untuk mengiyakan undangan itu. Tidak ada keraguan dan itu cukup aneh bagiku.

Aku percaya keyakinan itu berasal dari Tuhan. Aku meyakini jika itu memang kehendak Tuhan, pasti ada dorongan yang kuat yang bisa kita hindari dan Tuhan pasti memberikan damai sejahtera ketika hal itu dilakukan.

Berkaca dari pengalaman ini, aku mencoba menyelami pikiranku untuk melihat proses pembelajaran apa saja yang aku alami mulai dari aku mendapat tawaran menulis hingga akhirnya aku mulai menulis. Berikut ini adalah proses yang aku pelajari tentang kapan dan bagaimana harus mulai melaksanakan sesuatu.

1. Cari Tahu Kehendak Tuhan

Salah satu pelajaran berharga yang aku dapatkan adalah melakukan hal yang menurut kita baik belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk itu penting sekali bagi kita untuk mencari tahu apakah ide dan mimpi kita ini sesuai dengan kehendak-Nya.

Awalnya aku tidak dapat memahami bagaimana aku bisa mengetahui apakah hal ini sesuai dengan kehendak Allah atau tidak. Inilah yang aku lakukan. Aku membuang semua kebingungan dari pikiranku, aku menolak segala ketakutan dan keraguan, lalu aku mulai berdoa dan bersyukur.

Aku berdoa sambil memuji dan menyembah hingga segala ketakutan dan keraguan itu hilang. Aku percaya, Tuhan bertakhta di atas pujianku. Ketika aku datang berdoa dan bersyukur dengan hati yang tulus, aku yakin Ia dan Kerajaan-Nya datang dan aku ada dalam hadirat-Nya.

Aku tahu, Tuhan juga ingin berbicara kepadaku. Ia bukan allah yang tidak bisa berbicara kepada umatnya. Dia Allah yang mau memiliki relasi dengan kita. Seperti komunikasi pada umumnya, ini harus berlangsung dua arah. Dalam doa dan penyembahanku, aku telah berbicara kepada Tuhan. Sekarang giliran Tuhan menyampaikan isi hati-Nya.

Biasanya aku akan mulai dengan membaca Alkitab dengan meminta hikmat dari Tuhan. Aku percaya Alkitab adalah kebenaran dan Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran akan menuntun kita kepada segala kebenaran.

Dalam 1 Korintus 2:10-12, Rasul Paulus juga menyampaikan tidak ada yang mengetahui isi pikiran (kehendak) seseorang selain rohnya, begitu pula dengan Allah, tidak ada yang mengetahui kehendak-Nya selain Roh Allah atau Roh Kudus.

Sehingga dapat aku simpulkan sebelum memulai melaksanakan ide dan mimpi, aku harus terlebih dahulu memastikan itu adalah kehendak Tuhan. Hal ini aku lakukan dengan bersekutu selalu dengan Roh Kudus dan peka terhadap suara-Nya.

2. Buat Perencanaan

Dalam Amsal 24:6 dikatakan kita hanya dapat berperang dengan perencanaan dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak. Aku ingat pesan seorang teman yang berkata jika kita berperang tanpa rencana artinya kita sedang berencana untuk kalah. Ini membuat ku yakin aku harus menuliskan rencanaku sebelum memulai menjalankan ide dan mimpi itu.

Namun dalam menyusun rencana ini, nasihat siapa yang harus kuminta? Aku berpikir dan teringat salah satu lagu pada ibadah Natal.

“… dan Nama-Nya pun disebut orang. Penasihat Ajaib. Allah yang Perkasa. Bapa yang Kekal. Raja Damai.”

“Nama-Nya akan disebut sebagai Penasihat Ajaib.” Ini yang membuatku yakin bahwa aku harus membuat rencana sebelum aku berperang dan aku sudah memiliki Penasihat yang bukan sembarang penasihat, Ia adalah Penasihat Ajaib yang adalah Yesus sendiri.

Dalam perencanaanku aku melibatkan Tuhan dan ini yang aku pelajari. Aku harus membuat target dalam jangka waktu tertentu karena aku termasuk orang yang akan menunda pekerjaan apabila tidak ada tenggat waktu yang diberikan.

Tuhan memberiku inspirasi untuk bangun setiap pagi dan menentukan progress apa yang mau aku capai di hari itu, bagaimana prioritasnya terhadap aktivitasku yang lain, dan menentukan berapa lama durasi yang mau aku luangkan untuk mengerjakan hal tersebut.

Aku menemukan hal ini efektif bagiku. Kalau menurutmu cara ini tepat bagimu untuk kamu lakukan, coba lakukan itu. Pastikan kamu menyediakan waktu khusus untuk menulis rencana dan berdoalah sebelumnya untuk meminta hikmat dari Tuhan.

3. Laksanakan Rencana

Tahap pelaksanaan sering menjadi bagian yang sulit untuk aku lakukan. Aku menyadari hal ini disebabkan karena ketika aku berusaha menggenapi kehendak Tuhan, Iblis pun akan berusaha membuatku gagal dalam menggenapi rencana Tuhan.

Distraksi adalah salah satu musuh besar yang harus aku lawan. Tanpa aku sadari, ketika aku lengah dan mengizinkan diriku untuk bersantai di Instagram, Youtube, atau media sosial lainnya, aku perlahan-lahan sedang di jerat Iblis untuk tidak produktif selama berjam-jam dan berujung pada dosa.

Mengatasi hal ini, Roh Kudus mengingatkanku untuk setia terhadap perkara yang kecil. Melawan kemalasan dan distraksi dengan kesetiaan dan ketaatan. Ini aku terapkan dengan bangun pagi, merapikan tempat tidur, bersaat teduh, dan membuat rencana aktivitasku untuk hari itu. Ketika aku memiliki to-do-list yang jelas dan target untuk dicapai, aku menjadi tidak mudah terdistraksi.

Aku yang sedang giat dalam menyelesaikan pekerjaan bertemu dengan masalah baru. Keasyikan bekerja membuatku menyampingkan waktu istirahat dan tidak jarang aku lalai dalam doa pribadiku. Tanpa sadar aku masuk dalam jerat lain si Iblis dengan menjadikan pekerjaanku sebagai berhala.

Tuhan menegurku. Aku tidak merasakan damai sejahtera dan kreativitasku menjadi terbatas. Di momen inilah aku sadar, aku harus taat terhadap rencana waktu yang sudah kutentukan sebelumnya, termasuk taat apabila tiba waktu untukku beristirahat dan berdoa.

Selanjutnya adalah pikiran yang berkata aku tidak sanggup, perasaan jenuh, dan rasa ingin menyerah. Ini adalah contoh selanjut yang sering menjadi penghambatku dalam mengerjakan apa yang aku kerjakan. Di saat seperti ini, Roh Kudus mengingatkanku terhadap alasan aku melakukan semua ini. Dan jawabannya sesederhana karena ini adalah kehendak Tuhan dan di dalam Dia terletak kekuatanku untuk terus berjuang.

Kunci yang aku pelajari untuk taat dan setia adalah untuk menjadikan perjalanan kita sebagai penyembahan kita kepada Tuhan. Ketaatan dan kesetiaan yang sejati lahir dari luapan kasihku kepada Tuhan.

Lebih dari sekadar mengikuti peraturan, kasihku kepada Tuhan seharusnya pendorong untuk aku berani melangkah lebih jauh. Aku percaya, dengan mengasihi Tuhan aku dimampukan untuk melakukan apapun yang Tuhan perintahkan, termasuk untuk taat dan setia.

***

Bagiku, ini adalah salah satu kehendak Tuhan yang berhasil aku mulai dalam hidupku. Aku bersyukur untuk setiap proses yang Tuhan ajarkan hingga akhirnya aku dapat menuangkannya dalam tulisan ini. Aku berdoa agar dalam segala keterbatasan tulisanku, Roh Kudus menyempurnakan setiap tulisan ini dalam hatimu. Haleluya!

Immanuel, God with us!

Baca Juga:

Mengapresiasi Diri, Resolusi Tahun Baru

Aku pernah merasa hidupku penuh cela, lapuk, atau pun tidak berguna, tapi Allah memandangku bernilai. Tahun ini, aku belajar untuk menghargai diriku sendiri. Inilah resolusiku.

Resolusiku: Belajar Mengapresiasi Diri

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Novita, terima kasih sudah tampil perkasa di dalam menjalani dan mengakhiri tahun 2019.
Terima kasih boleh tetap kuat dan teguh dalam menjalani setiap peran yang Dia percayakan.
Terima kasih sudah mau berjuang melawan kebobrokan-kebobrokanmu yang terus terulang.
Terima kasih Novita, sampai bertemu di tahun 2020.
Tetaplah menjadi Novita yang mau berjuang!

Pernyataan di atas adalah pernyataan yang sering aku katakan kepada diriku akhir-akhir ini. Mungkin bagi beberapa orang pernyataan di atas seperti sedang membanggakan diri sendiri, merasa bahwa apa yang telah terjadi di 2019 atas hidupku karena kekuatanku sendiri.

Tapi, tentu bukan itu yang dimaksud. Menyatakan hal-hal di atas tujuannya bukan untuk membanggakan diriku yang ada bisa tiba sampai di titik ini. Bagiku sendiri ungkapan di atas tentunya bukan hal yang mudah untuk aku katakan di awal. Melihat perjalanan selama 2019, banyak hal yang telah gagal aku lakukan untuk menyenangkan hati-Nya, banyak pergumulan yang aku coba selesaikan sendiri, banyak dosa yang aku toleransi. Sungguh sebenarnya di tahun 2019 seperti tahun yang sangat berat bagiku.

Aku berani untuk menyatakan hal-hal di atas ketika Tuhan menyapaku lewat saat teduhku di suatu pagi.

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1 Korintus 6:20).

Di buku renungan itu disampaikan, mungkin saat ini aku merasa hidupku penuh cela, lapuk, tua, atau tidak berguna lagi. Tapi, Allah tetap memandang diriku bernilai. Sang Pencipta alam semesta ini menginginkanku—bukan karena pikiran, tubuh, pakaian, pencapaian, kepandaian, atau kepribadianku, melainkan karena diriku sendiri. Dia rela menempuh apa pun dan membayar harga berapa pun untuk mendapatkanku.

Tuhan sungguh telah melakukannya. Dari surga, Dia datang ke dunia untuk menebusku dengan darah-Nya sendiri (Roma 5:6,8-9). Sedemikian besar keinginan-Nya untuk memilikiku. Aku sungguh berharga di mata-Nya, dan Dia mengasihiku.

Saat teduhku pagi itu menyapaku sangat tajam dan meneguhkan aku kembali, bahwa aku sangat berharga bagi-Nya. Mungkin saat itu banyak hal yang aku lakukan mendukakan hati-Nya, tetapi Dia tidak membiarkan aku begitu saja. Dia tetap menganggap aku berharga di mata-Nya, Dia tetap mengasihiku. Itulah yang membuat aku pun harus mengasihi diriku.

Saat itu hal yang aku pilih untuk mengasihi diriku adalah dengan mengatakan hal-hal di awal tadi. Bagiku, dengan menyatakannya aku sedang mengapresiasi diriku sendiri. Sederhana dan menguatkan.

Dengan mengapresiasi diriku yang telah dibayar lunas dan berharga di mata-Nya, itu memudahkanku untuk mengucap syukur kepada Allah atas orang-orang yang sudah hadir di dalam kehidupanku.

Orang-orang yang hadir di dalam kehidupanku tentu sangat beragam dan mereka pun sama berharganya di mata Allah. Apa pun latar belakang, kondisi, karakter mereka, mereka punya porsinya masing-masing memberi peran di dalam hidupku. Sehingga ketika aku pun dikecewakan oleh mereka, aku juga harus sadar bahwa aku pun pernah mengecewakan mereka bahkan Allah sendiri.

Sahabat, memulai tahun yang baru ini, sudahkah kamu mengapresiasi dirimu yang sudah dimampukan Tuhan untuk tangguh melewati tahun yang telah berlalu? Atau kamu sedang sibuk menyalahkan dirimu untuk kesalahan-kesalahan yang telah kamu lakukan di tahun yang lalu?

Mari bersama memilih untuk mengapresiasi diri sendiri sebagai rasa ungkapan syukur kita kepada Allah sehingga kita juga dimampukan untuk mengapresiasi orang disekitar kita.

“Engkau berharga di mata-Ku, Aku menghargai dan mengasihi engkau” (Yesaya 43:4a, BIS).

Baca Juga:

Bukan Resolusi Kembang Api

Semangat memulai sesuatu yang baru sering mirip kembang api. Heboh dan meriah, tapi cuma sesaat. Lantas, bagaimana supaya resolusi tahun baru bisa terlaksana?