Posts

Imperfect: Menjadi Sempurna dalam Ketidaksempurnaan

Oleh Tabita Davinia Utomo, Jakarta
Gambar diambil dari official trailer

Film besutan Ernest Prakasa dan istrinya, Meira Anastasia yang tayang perdana di akhir 2019 lalu mungkin menjadi film yang dinantikan banyak orang. Film ini mengangkat isu yang hangat di masyarakat saat ini: insecurity.

Sesuai judul bukunya, Imperfect menceritakan tentang keadaan para wanita yang merasa insecure (tidak aman) dengan ketidaksempurnaan diri mereka. Secara khusus, film ini menyoroti kehidupan Rara yang bermasalah dengan kegemukan, Lulu yang kurus tapi dibilang chubby oleh pasangannya, empat penghuni kos ibu Dika, dan kekasih Rara. Mereka harus siap dicibir orang lain karena tidak memenuhi standar kecantikan yang berlaku di masyarakat zaman ini: tubuh langsing, pipi tirus, berkulit putih, berwajah manis, dan bisa berdandan atau up to date terhadap fashion. Namun, perlahan-lahan mereka bisa bangkit dan menunjukkan bahwa kecantikan tidak selalu harus bersumber dari kecantikan fisik semata. Di akhir film, Rara yang diperankan oleh Jessica Mila mengatakan, “Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk bahagia.”

Sebagai orang yang sering merasa insecure dengan penampilan fisik, aku merasa tertohok dengan film ini. Meskipun terlahir sebagai orang Kristen yang sangat tidak asing dengan frasa “kamu berharga di mata Tuhan”, aku masih bergumul dengan perasaan minder karena kondisi tubuhku yang kelewat kurus berdasarkan standar body mass index. Banyak orang berkata kalau aku kurang makan. Tidak sedikit juga yang “menyalahkan” orang tuaku yang sama-sama berperawakan kurus. Akibatnya, kalau kesal, aku sering memendamnya dengan makan (terutama makan coklat)…namun ini tidak juga menambah berat badanku.

Selain itu, aku juga memiliki bekas jerawat di wajahku yang sulit hilang, ditambah lagi kedua mataku yang minusnya tinggi. Aku jadi sulit melihat jauh jika tanpa kacamata. Plus, aku juga termasuk orang yang terlambat belajar cara make-up dan memadupadankan pakaian di saat teman-temanku sudah melakukannya lebih dulu. Ini semua menambah perasaan minderku.

Tapi…meskipun dunia mungkin melihatku berdasar penampilan fisikku dan orang-orang melakukan body shaming terhadapku, Tuhan tidaklah demikian. Tuhan tidak menilaiku dengan cara seperti itu.

Kita diciptakan dengan amat baik

Ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya sampai di hari kelima, Alkitab mencatat metode penciptaan-Nya, yaitu dengan berfirman. Ya, hanya dengan berfirman, Allah menciptakan segala sesuatu—kecuali manusia. Di hari keenam, barulah Allah menciptakan manusia, ciptaan Allah yang paling mulia. Allah tak hanya berfirman (Kejadian 1:26), tapi juga membentuk manusia dengan tangan-Nya sendiri serupa dengan gambaran-Nya, imago Dei (Kejadian 1:27), diberi-Nya nafas kehidupan, dan diberikan pula mandat budaya (Kejadian 1:28). Penciptaan manusia terlihat kontras dari ciptaan-ciptaan yang lain, bukan?

Namun, ironisnya, gambar Allah yang mulia itu rusak karena dosa (Kejadian 3). Akibatnya, manusia mengalami keterpisahan dari Sang Pencipta…sekaligus harus bergumul dengan dosa. Tidak heran jika semakin lama dosa muncul dalam berbagai bentuk—termasuk insecurity atas bentuk fisik yang Tuhan berikan. Mungkin, kita pun termasuk salah satu di antara banyak orang yang terjebak dalam masalah ini.
Meski kita terjebak, bukan berarti tidak ada jalan keluar.

Allah mengetahui kerapuhan kita, karena itulah Dia memberikan Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosa-dosa kita dan menjadi jembatan bagi relasi kita dengan Bapa. Yang lebih indah lagi, Yesus juga membaharui citra diri kita yang rusak dengan memberikan status yang baru bagi kita orang percaya sebagai anak-anak Allah. Ada dua bagian dari firman Tuhan yang membuktikan ini:

1. Mazmur 139 yang menjelaskan bagaimana Allah menciptakan setiap orang dengan detail dan dengan keunikannya masing-masing. Sekalipun kita tidaklah sempurna, tetapi Allah tetap mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, karena kita adalah kepunyaan-Nya.

2. Doa Bapa Kami. Yesus meneladani kita untuk menyebut “Bapa” sebagai fokus doa kita. Artinya, bagaimana pun orang lain menilai kita, kita memiliki Bapa di surga yang setia mendengarkan doa-doa kita…bahkan “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26).

3. Bukan kita yang membuat diri kita masing-masing bisa tetap kuat hingga detik ini, tapi karena Tuhan sendiri. Bahkan, tokoh sekaliber Paulus juga bergumul dengan “duri” dalam dirinya, sampai dia berdoa tiga kali agar Tuhan mengangkat “duri” itu. Bukannya mengabulkan doa Paulus, Tuhan justru berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

Mungkin dua poin di atas terasa klise di saat kita sedang bergumul dengan kondisi fisik yang tidak sesuai dengan pandangan orang pada umumnya; cita-cita yang kandas karena faktor yang tidak bisa dikendalikan; rasa minder karena merasa tidak memiliki potensi diri sebanyak teman-teman lainnya; merasa tidak mampu menghasilkan uang seperti saudara kita, atau teman yang sudah beriwirausaha di saat kita masih ditolong secara finansial dari orang tua; dan hal-hal lainnya yang menjadi pergumulanmu.

Aku pun bergumul dengan salah satu dari banyak pergumulan di atas. Temanku, kita tidak sendirian. Apa pun keadaanmu saat ini, kamu tetaplah berharga di mata Tuhan. Tidak apa-apa jika saat ini kita ingin marah kepada Tuhan untuk ketidaksesuaian dengan apa yang kita harapkan, karena toh Tuhan menciptakan marah sebagai respons emosi yang baik. Namun, jangan sampai kita hanya berkubang dalam kemarahan itu, lalu pasrah terhadap keadaan yang tidak bisa diubah. It’s okay to be fragile, but don’t cry alone. Bersamamu, ada orang-orang yang juga bergumul akan hal yang sama. Mengutip lagu “Pelukku untuk Pelikmu”, Fiersa Besari berkata, “Kita perlu untuk kecewa untuk tahu bahagia. Bukankah luka menjadikan kita saling menguatkan?”

Luka yang diserahkan pada Tuhan harus diobati, dan itu pedih. Namun, ketika kita mulai pulih, kita dimampukan-Nya untuk menerima keadaan untuk bersyukur, bahkan bisa menjadi teman bagi mereka yang bergumul dengan keadaan serupa.

Menutup tulisan ini, aku ingin membagikan sebuah lagu dari SAAT Youth Camp 2019 yang berjudul Kar’na Cinta-Mu, Tuhan. Kiranya lagu ini menjadi pengingat kita bahwa hidup kita bukan untuk menemukan kepuasan dari dunia ini, tetapi justru dari Tuhan sendiri.

Saat ‘ku melangkah dan ‘ku pandang dunia, banyak hal yang ditawarkan yang memberi bahagia
Saat ‘ku terima semua dari dunia, namun yang kudapatkan hanya bahagia yang fana
‘ku rasakan hidupku hampa dan tak berarti, menjalani hidup yang tak pasti
Namun Engkau, Tuhan, yang selalu ada, menerangiku dan b’riku harapan
Kar’na cinta-Mu yang selamatkanku dan kasih-Mu yang telah menyadarkanku
Dunia tak dapat memuaskanku, tak dapat bahagiakanku, namun Kau Yesus jawaban hidupku
‘ku ingin setia cintai Firman-Mu yang akan menjadi kebenaran hidupku
dan kuterima kebahagiaan yang sejati hanya di dalam-Mu, oh Yesus Tuhanku.

Cheers!

Baca Juga:

Penyertaan Tuhan Melampaui Segala Ketakutanku

Sejak aku percaya pada Kristus empat tahun lalu, hubunganku dengan ibuku menjadi sangat tidak baik. Penolakan dari orang terdekatku sempat membuatku ragu, sungguhkah Tuhan menyertaiku?

Lempar Balik Menjelang Akhir Tahun

Oleh Tabita Davinia Utomo, Solo

Setiap akhir tahun, kita pasti memiliki harapan atau sekadar keinginan yang ingin kita wujudkan di tahun depan. Kita juga mungkin merefleksikan kembali hal-hal apa saja yang belum tercapai di tahun ini dan bagaimana mewujudkannya di tahun dengan. Yap, inilah yang disebut sebagai resolusi. Sama seperti kebanyakan orang, aku pun memiliki resolusi dan daftar keinginan yang ingin kulakukan nanti. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Aku ingin bisa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di luar pulau Jawa
  2.  Mendapatkan judul skripsi yang tepat di semester enam dan mencari data di semester tujuh
  3. Memiliki pekerjaan tetap setelah lulus kuliah, atau melanjutkan studi pasca-sarjana
  4. Menulis sebuah buku dan menerbitkannya
  5. Membuat lebih banyak portofolio untuk usaha desain grafisku

Aku bersyukur pada Tuhan karena ada banyak hal yang telah aku lakukan di sepanjang tahun 2017, dan aku percaya tahun depan pun akan ada hal-hal menarik, yang walaupun belum kuketahui, tapi pasti akan membuatku semakin dekat dengan Tuhan. Tapi, aku sadar bahwa segala pencapaianku di tahun ini terjadi bukan karena kekuatanku sendiri atau sekadar keberuntungan. Semua pencapaian tersebut, baik yang terjadi di tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya adalah karena Tuhan.

Saat berefleksi di dan menyusun resolusi, ada sebuah ayat yang terus mengingatkanku tentang pentingnya bersyukur atas hari-hari yang kulalui:

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).

Waktu aku menuliskan tulisan ini, aku teringat dengan resolusi yang pernah kutulis dulu. Di akhir tahun 2013, aku mengikuti sebuah camp di salah satu seminari Alkitab di Malang. Pada tanggal 31 Desember malam, aku dan para peserta camp diminta untuk menuliskan kesan sepanjang tahun 2013 dan resolusi untuk tahun 2014 di atas sebuah kertas. Kertas itu kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam sebuah botol. Dan, ketika saat ini aku membuka kembali kertas resolusi itu, ada satu bagian yang membuatku terkagum:

“Ya Bapa, aku berdoa agar di tahun 2014 nanti aku dapat belajar lebih banyak tentang-Mu. Bantu aku, Roh Kudus, agar aku dapat lebih peka terhadap kehendak Tuhan bagi keluarga, sekolah, gereja, dan masa depanku. Dan tuntun aku, agar di (akhir) tahun 2014 nanti, aku juga dapat bersyukur atas tahun itu, sama seperti saat aku bersyukur untuk tahun 2013.”

Sebuah doa yang tertulis di resolusi itu adalah doa yang sederhana. Tapi, itulah yang waktu itu aku doakan, dan Tuhan berkenan melakukannya untukku. Bahkan, sampai detik ini, setelah hampir empat tahun meninggalkan tahun 2013, Tuhan tetap setia menuntun langkah hidupku. Ketika aku berdoa supaya bisa lebih mengenal-Nya, Tuhan memberiku kesempatan untuk bergabung dengan sebuah kelompok Bible Reading. Awalnya aku ragu dengan kelompok ini karena kebanyakan anggotanya adalah para wanita yang sudah bekerja atau berkeluarga. Tapi, lambat laun dari kelompok ini aku malah jadi belajar bahwa penting sekali untuk bisa membagi waktu antara keluarga, studi atau pekerjaan, dan pelayanan. Inilah yang kemudian kucoba terapkan dalam kehidupanku juga.

Di tengah jadwal kuliah dan pelayanan yang begitu padat, aku sempat berpikir untuk mundur saja dari pelayanan supaya bisa lebih fokus membagi waktuku. Rasanya sulit berkomitmen untuk melayani Tuhan di tengah rutinitas yang sangat padat. Namun, rekan pelayanan dan kekasihku malah menegurku bahwa rencana itu bukan yang terbaik. Karena itu, aku jadi belajar untuk menerapkan manajemen waktu yang efektif dan produktif. Sejak saat itu, aku melihat ada banyak kesempatan yang Tuhan bukakan agar aku lebih memaksimalkan potensiku; dua di antaranya adalah melalui menulis buku dan menggambar.

Tahun 2018 sudah di depan mata. Melalui tulisan ini, aku mengajak teman-teman untuk terus belajar percaya dan taat pada kehendak-Nya. Aku belajar untuk terus menuliskan pengalaman-pengalamanku, baik itu di buku, atau di media online supaya aku tidak lupa akan kebaikan-kebaikan yang Tuhan sudah lakukan untuk hidupku. Di kala aku merasa terpuruk, tulisan-tulisan itu menolongku untuk tidak lupa akan kebaikan Tuhan, sekalipun ada masalah yang menerpa, dan tentunya agar aku tetap semangat menjalani hari-hariku.

Akhir kata, selamat menyongosong tahun 2018, kawan! Tetap semangat!

Baca Juga:

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Bayi Yesus?

Natal buatku adalah peristiwa yang sulit dimengerti. Katanya Yesus adalah Raja yang menyelamatkan dunia, tapi mengapa Dia malah datang dalam rupa seorang bayi mungil yang tak berdaya? Mengapa Dia memilih cara seperti ini?